Mei mengalungkan lengannya ke leher Kakashi dan menenggelamkan dirinya pada pelukan pria itu. "Oh, aku sangat takut kau sudah pindah dari sini karena kau tidak datang juga… untung saja kau sudah datang." Ujarnya lalu mencium pipi Kakashi sekilas. "Lihat dirimu… benar-benar tampan. Aku benar-benar merindukanmu."
Kakashi masih memandang pacarnya itu dengan tidak percaya sebelum sebuah memori menghantam pikirannya.
"Sepertinya aku akan pergi ke Jepang beberapa minggu lagi…"
Sial, pikir Kakashi dalam hati. Ia melihat Sakura di sebelahnya dan anehnya gadis itu tersenyum manis ke arah Mei. Ia bahkan membalas pelukan Mei dan menanyakan kabar perempuan itu, sebelum akhirnya mereka masuk ke dalam apartment bersama.
"Sakura, benar tidak apa-apa, 'kan, kalau nee tinggal disini?"
Sakura tersenyum dan mengangguk. "Tentu saja tidak apa-apa, Mei-nee…" ujar Sakura. Kakashi menyadari suara gadis itu yang sedikit bergetar, namun ia tidak bisa melakukan apa-apa. "Aku ingin mandi dan tidur, hari ini aku merasa sangat lelah. Jadi aku permisi dulu."
Kalau hanya ada mereka berdua, tentu saja Kakashi tidak akan melepaskan Sakura begitu saja setelah ciuman yang mereka lakukan. Tapi disebelahnya sekarang ada Mei—pacarnya—yang baru saja melakukan perjalanan udara selama sepuluh jam dan tentunya lebih membutuhkan perhatiannya dibanding Sakura.
Sepertinya.
"Kashi, kenapa kau diam saja?" tanya Mei sedih. "Apa kau tidak senang melihatku?"
"Tentu saja aku senang." Jawab Kakashi sambil tersenyum. "Bagaimana penerbangannya?"
"Sempat mengalami turbulensi beberapa kali… tapi," ujar Mei, mengangkat kedua bahunya. "Well, here I am!"
Kakashi tersenyum dan memperhatikan wanita di depannya yang sedang membereskan isi tas tangannya.
Mei adalah kekasihnya sejak mereka duduk di tahun kedua sekolah menengah. Ia adalah teman baik Kurenai, ratu pesta dansa angkatan mereka, dan selalu terpilih menjadi kapten tim olah raga apapun itu, kapanpun itu. Mei pergi ke Los Angeles enam bulan yang lalu dan bekerja untuk Judith Evans—desainer ternama yang pergi ke Jepang beberapa bulan sebelumnya untuk mengadakan special couture.
Kakashi dan Mei memang sudah beberapa kali membicarakan rencana pernikahan mereka, namun tawaran pekerjaan dari Judith tiba-tiba dan mereka berdua setuju untuk menunda pernikahan. Sayangnya, Kakashi sudah terlanjut berkata pada orang tuanya kalau ia akan melamar seorang gadis dan ekspektasi orang tuanya sudah melambung begitu tinggi… sampai pada akhirnya pria itu memutar otak dengan keras dan menemukan jalan keluarnya.
Menikahi Sakura.
"Oh, aku membawakan ini untukmu." Ujar Mei riang sambil mengeluarkan sekantung camilan ringan. "Kesukaanmu."
"Almond madu… kau benar-benar yang terbaik."
Mei tersenyum dan menepuk-nepuk kopernya. "Aku tidak membawa banyak baju, mungkin aku hanya tinggal seminggu disini. Judith akan melakukan pameran beberapa bulan lagi dan kami sedang berada dipeak season."
"Kau pasti sangat lelah."
"Sangat…" keluh Mei. "Kashi, kau tidak tahu betapa aku sangat merindukanmu…"
Kakashi memaksakan sebuah senyuman dan menarik Mei dalam dekapan. Sampai sebelum Sakura bertemu dengan Kiba, ia yakin bahwa Mei-lah satu-satunya wanita yang ia sayangi. Saat melihat Sakura dan Kiba bersama, perasaannya mulai bercabang, namun Kakashi masih tetap meyakinkan dirinya sendiri kalau dirinya hanya cemburu karena Sakura memiliki orang lain, sementara dirinya sendiri harus pergi ke benua lain untuk menemui pacarnya.
Tapi sekarang, Kakashi tidak lagi yakin akan perasaannya sendiri.
.
.
"Kau yakin, Sakura?"
Sakura menganggukkan kepalanya sendiri. "Aku hanya merasa salah."
"Sayang sekali, kupikir kalian berdua sangat serasi." Ujar Ino sambil mengusap pundak temannya itu. "Tapi Kiba akan menerimanya dengan baik… dia, 'kan, sudah besar."
Sakura tersenyum sekenanya. Ia menyesap teh dingin di depannya dan mengangguk.
Hinata datang ke meja mereka dan gadis itu terlihat sedikit kebingungan. Ia meletakkan setumpuk kertas ke atas meja dan duduk.
"Aneh sekali, aku tidak bisa menemukan Hatake sensei dimana-mana." Keluhnya kesal. "Padahal setauku Hatake sensei ada jadwal mengajar hari ini…"
Ia pergi bersama pacarnya yang cantik itu, jawab Sakura dalam hati.
"Kau sudah pergi ke ruang dosen?"
Hinata mengangguk. "Nihil. Mungkin aku harus menemuinya besok saja."
"Kenapa tidak kau letakkan saja di loker sensei?"
"Aku diminta untuk langsung memberikannya."
Sakura tidak terlalu memperhatikan percakapan kedua temannya. Entah sudah keberapa kalinya ia mengaduk teh dingin di depannya. Pandangannya tidak terlalu fokus—pikirannya sedang melayang ke peristiwa tadi pagi.
Sakura selesai menyisir rambutnya dan bersiap untuk pergi ke kampus. Langkahnya terhenti tepat di depan pintu saat melihat Mei tersenyum manis di depannya.
"Kau harus belajar dengan rajin, Sakura!" ujarnya riang, memberikan kotak bekal yang sudah terisi ke arah Sakura. "Jangan pulang terlalu malam, ya?"
"Terima kasih, nee." Ujar Sakura manis.
Sakura menutup pintu unit dari luar dan menghela nafasnya. Ada banyak hal yang dibencinya saat ini. Ia benci karena telah membiarkan perasaan sesaatnya pada Kakashi membawa mereka sampai ke fase canggung ini, ia benci karena makanan di tangannya ini terlihat enak, ia benci karena Mei terlihat sangat cantik dan sempurna bahkan sehabis bangun tidur seperti itu…
Ia benci karena seberapa keras ia mencoba, ia tidak akan pernah bisa membenci Mei.
Sakura mengeluarkan kotak makannya dari tas dan membuka tutupnya. Ino dan Hinata sontak menoleh, mata mereka berbinar melihat makanan di depan mereka.
"Rajin sekali hari ini, Sakura? Susunannya sangat rapi." Ujar Hinata.
"Ini bukan buatanku." Gumam Sakura malas. "Kakak iparku membuatnya."
"Kau punya kakak ipar?" tanya Ino bingung. "Oh, suami kakakmu?"
Sakura hanya menganggukkan kepala dan membiarkan teman-temannya bergantian mencicipi berbagai jenis makanan yang disusun Mei dengan rapi di dalam kotak itu. Ia memandang malas ke arah langit, mengingat apa saja yang harus dilakukannya hari ini.
Menemui Kiba, mencari tempat intern baru, dan menghindari Kakashi.
"Hei, lihat ini."
Sakura menoleh ke arah Ino dan menatap ponsel gadis itu. Ada sebuah pesan panjang dari Sai—si ketua jurusan—tentang rencana liburan bersama yang akan dilakukan akhir bulan ini. Sakura masih baru membaca setengahnya ketika Hinata bertepuk tangan dengan senang.
"Menyenangkan sekali! Aku tidak bisa ikut tahun kemarin karena ayahku tidak mengijinkan." Ujar gadis itu. "Sekarang aku akan mempersiapkan semuanya matang-matang dan membawa inhalerku."
"Ummm, tapi bukankah ini sehari sebelum ujian?" tanya Sakura.
Ino tertawa kecil. "Ya. Ide yang bagus! Kita bisa melepas ketegangan sedikit sebelum dihabisi ujian-ujian itu."
"Aku tidak tahu…"
"Oh, ayolah, Sakura… kau bahkan sudah sangat pintar. Dua malam saja tidak akan membuatmu goyah, 'kan?"
Sakura menatap kedua temannya dengan perasaan tidak enak. Ia memang tidak terlalu menyukai terjebak di suatu tempat bersama orang dalam waktu yang lama, tapi ia rasa ia memang membutuhkan liburan sekarang.
"Baiklah." Ujar Sakura akhirnya. "Aku akan ikut.
"Yaaa!"
.
.
"Wow. Aku memang sudah memprediksikannya, tapi aku tidak menyangka secepat ini."
Sakura mengangkat kepalanya bingung. "Hah? Kau sudah tahu kalau aku akan mengakhiri hubungan?"
Kiba menatap gadis itu dan tersenyum pahit. Ia menganggukkan kepala setelahnya. "Saat aku pertama kali mengantarmu pulang, aku sangat senang, kau tahu?" ujarnya pelan. "Tapi saat melihat Kakashi sensei disana… entah kenapa aku mempunyai perasaan ini. Sepertinya kita tidak akan bertahan lama."
"Kenapa begitu?" tanya Sakura, merasa bersalah.
"Tidak tahu, Sakura, aku hanya," Kiba menghentikan perkataannya, mengambil kedua tangan Sakura dalam genggaman. "Aku benar-benar menyukaimu, kau tahu? Aku juga akan melakukan apapun untuk mempertahankan hubungan kita, tapi aku merasa sedikit terbebani kalau harus masuk ke dalam situasi serumit ini."
Sakura mengerutkan keningnya. "Apa aku membuatmu kesulitan?"
"Tidak." Ujar Kiba. "Tapi aku tahu, Sakura, kalau kita bertahan lebih lama lagi, semuanya akan lebih rumit, 'kan?"
Sakura tidak bisa mengatakan apa-apa. Semua yang dikatakan Kiba benar dan ia tidak bisa menyangkalnya. Sakura mengeratkan genggamannya pada tangan Kiba, dan tersenyum bersalah.
"Maafkan aku."
"Jangan…" ujar Kiba lirih. "…meminta maaf."
Sakura hanya terdiam ketika laki-laki itu membawanya dalam pelukan. Walaupun rasanya sedih harus melepaskan laki-laki sebaik Kiba, ia merasa kesal karena alasan utamanya mengakhiri hubungan dengannya adalah Kakashi. Ia benar-benar merasa tidak ingin menyukai siapapun saat ini, dan mempertahankan hubungan dengan Kiba hanya akan membuatnya dan Kiba sama-sama tersiksa.
"Boleh aku minta sesuatu?" tanya Sakura.
"Apa?"
"Apakah kau mau menemaniku," ujar Sakura pelan. "Sampai pagi nanti?"
Wajah Kiba bersemu. Melihat perubahan laki-laki di depannya, Sakura segera menggelengkan kepala.
"Bukan yang seperti itu! Maksudku," gadis itu tertawa canggung. "Mencari musik-musik jalan seperti yang lalu… dan membeli taiyaki…"
"Tentu saja. Memang kau pikir apa yang kupikirkan?"
Kali ini Sakura tertawa lepas. Kiba mengulurkan tangan, membantunya naik ke atas sepeda motor besar pria itu dan mereka berjalan lurus ke Barat. Sepasang kekasih-menjadi teman itu tertawa sepanjang perjalanan, menantang matahari yang sekarang sudah bersiap pergi untuk tidur.
.
.
Sakura memeluk Kiba dan tersenyum. Ia tentu saja akan merindukan pria itu.
"Aku akan sangat merindukanmu." Ujar Sakura, menyuarakan pikirannya.
"Kenapa seperti itu? Tentu saja kau tetap bisa menemuiku kapan saja." Gumam Kiba halus. Tangannya bergerak untuk mengusap kepala Sakura sebelum akhirnya pria itu melepaskan pelukan mereka. "Aku benar-benar harus pulang sekarang. Aku belum memberi makan anjingku."
"Baiklah… hati-hati."
Sakura masuk ke dalam gedung dan masuk ke dalam lift yang berada di depannya. Pukul empat lewat dua puluh. Kakinya kemudian berjalan keluar dan berhenti di depan unit apartmentnya dan Kakashi.
"Semoga Kakashi sudah tidur… semoga Kakashi sudah tidur…"
Klik.
"Ternyata kau pulang."
Sakura mematung di tempat. Kakashi pasti menarik salah satu kursi makan ke lorong masuk apartment mereka, karena pria itu sekarang sedang duduk disana dengan satu kaki tertopang kaki lainnya. Beberapa detik setelahnya Sakura berhasil mengeluarkan sebuah seringai kecil. Ia menutup pintu dengan gerakan sangat perlahan, lalu meletakkan sepatunya di atas rak.
"Selamat pagi, sensei…" gumamnya sambil mengatupkan kedua tangan.
Kakashi tersenyum jengkel. Ia berjalan mendekat ke arah Sakura dan tangannya terulur untuk menarik telinga gadis itu.
"Darimana saja, hah?!" bisik Kakashi kesal. "Ini pukul setengah lima, demi Tuhan!"
"Sakit! Lepaskan! Kau pikir aku anak kecil?!" balas Sakura kesal. Ia berusaha untuk melepaskan tangan Kakashi, namun pria itu tidak bergeming sama sekali pada semua tindakan yang ia lakukan. Kakashi berhasil menarik Sakura sampai ke ruang tengah dan mendorong gadis itu ke sofa.
"Sekarang katakan," ujar Kakashi dengan kedua tangan terlipat di depan dada. "Kenapa kau baru pulang sekarang?"
Sakura mendengus. Ia merapikan rambutnya, lalu membuang wajah. Tidak mau menjawab.
"Aku tidak akan segan-segan menarik telingamu lagi—"
"Aku hanya keliling-keliling Shinjuku!" jawab Sakura akhirnya. Mereka berdua sama-sama tersulut emosi sekarang, namun keduanya sanggup untuk mengatur nada bicara agar tidak terlalu tinggi. Bukan hanya ada Mei sekarang yang tertidur disitu, tapi suara mereka juga pastinya akan terdengar sampai ke unit tetangga.
Kakashi tersenyum kecil. "Bohong."
"Memangnya apa yang kau pikir, hah?" tanya Sakura. Gadis itu meletakkan tas tote-nya dengan kasar dan bangkit berdiri. "Aku tahu apa yang kau pikirkan, tapi aku tidak melakukan itu. Aku juga pulang subuh seperti ini supaya aku tidak perlu melihat ataupun mendengar semua yang kalian lakukan."
"Kau bicara omong kosong. Memangnya apa yang aku lakukan disini?"
"Oh, ayolah! Kemarin malam aku sampai harus mendengarkan lagu rock dengan headset dan menutup kepalaku dengan selimut!"
Kakashi berdeham pelan. Lipatan tangannya masih terlihat angkuh meskipun Sakura sudah berada di depannya sekarang.
"Kenapa kau tidak memberitahuku kalau kau akan pulang subuh?"
"Karena kau akan melarangku."
"Kenapa kau pikir aku akan melarangmu?"
"Karena kau laki-laki pengecut… yang mencium orang lain, sementara kau sendiri masih memiliki pacar."
Kali ini telinga Kakashi memerah sempurna. Ia kehilangan kata-kata selama beberapa saat.
"A… aku—"
"Oh, Kakashi, berhenti bicara!"
Sakura mendesis kesal dan melompat—ya, melompat, ia menaiki sofa abu-abu mereka dan menghantamkan dirinya ke atas Kakashi sampai-sampai pria itu terhuyung—ke arah Kakashi dan menarik rambut pria itu kesal. Semenjak melihat Mei duduk seperti itu di depan unit mereka, Sakura sudah ingin sekali menghabisi Kakashi. Ia menyesal karena membiarkan perasaan sesaatnya mempengaruhi hubungannya dengan Kiba, dan terlebih lagi, ia menyesal karena telah mencium Kakashi…
Tiga kali, demi Tuhan.
"Seharusnya aku yang marah karena kau menciumku duluan!" ujar Kakashi kesusahan. Ia berusaha menahan tangan Sakura yang sekarang sedang menarik-narik kedua telinganya, membalaskan dendam terhadap hal yang dilakukannya beberapa waktu tadi.
Sakura tidak menjawab. Ia menahan lengan Kakashi dengan sikunya dan memasukkan kedua ibu jarinya ke lubang hidung pria itu.
"Sekarang Mei-nee sudah disini, jangan pernah menggangguku lagi. Jangan pula campuri urusanku." Desis Sakura dengan nada berbahaya. "Saat itu tidak pernah ada. Kalau kau berani-berani membahasnya lagi… aku akan menghabisimu. Sungguh."
Sakura melepaskan ibu jarinya dan segera membersihkannya dengan ujung piyama Kakashi. Ia mencubit pipi kanan Kakashi untuk terakhir kalinya—hari itu—dan menarik tasnya. Beberapa saat kemudian gadis itu sudah masuk ke kamar, mengunci pintunya dua kali dan berpura-pura tidak tahu apa-apa.
Mei keluar beberapa menit kemudian. Ia masih berusaha menyesuaikan pandangannya saat mendapati Kakashi berbaring di lantai dalam keadaan kelelahan.
"Ada apa, Kashi?" tanyanya, suaranya masih berat.
Kakashi membuka mata. Pria itu kemudian menggeleng dan tersenyum. "Tadi aku mendengar suara gaduh, jadi aku pergi untuk memeriksanya. Ternyata ada seekor tikus gemuk menyebalkan diujung sana."
Kakashi menunjuk konter ujung dapur mereka.
"Astaga… apakah kau sudah mengusirnya?" tanya Mei takut.
"Sudah. Tapi…" Kakashi bangkit, mengusap kedua pipinya. "Aku dicakar habis-habisan."
"Kau harus segera ke dokter, Kakashi. Bagaimana kalau kau terkena penyakit pes?"
Kakashi tersenyum masam. Ia menatap pintu Sakura sekilas dan akhirnya mengajak Mei untuk kembali masuk ke kamar.
.
.
"Kudengar-dengar ada panda yang kabur dari kebun binatang kota."
Hinata menoleh tidak percaya. "Benarkah? Apakah sudah ada kabar baru tentang dimana dia sekarang?"
"Ya. Disini!"
Ino menunjuk Sakura dengan kesal. Ketika Hinata kebingungan, jari-jari Ino kembali menunjuk kedua kantung mata Sakura yang sekarang sudah kehitaman.
"Aku tidak bisa tidur… sudah seminggu ini…" keluh Sakura. Suaranya benar-benar terdengar lemas.
"Kasihan sekali." Ujar Hinata prihatin. Kedua tangan gadis itu memijat pundak Sakura pelan. "Kenapa bisa begitu?"
Sakura menghela nafas. Ia membiarkan Ino mengoleskan concealer pada kantung matanya dan kembali bersuara. "Ka—Koharu dan paca… suaminya, tinggal bersamaku sudah seminggu belakangan ini."
"Ah, aku mengerti. Mereka pasti sangat berisik." Ujar Ino khawatir.
Sakura mengangguk. Ia benar-benar ingin menginap di tempat lain, tapi Mei pasti akan langsung merasa bersalah dan ia akan merasa lebih bersalah lagi karenanya. Sakura menutup mata dan berusaha menggunakan jam kosong ini untuk mengembalikan tidurnya walaupun sebenarnya tidak mungkin bisa setimpal dengan malam-malam yang sudah ia lewati sambil mendengarkan musik rock sepanjang waktu.
"Hei, hei, apa ini?"
Hinata dan Sakura menoleh ke arah Ino. Gadis itu membaca ponselnya selama beberapa saat dengan raut pandang khawatir, lalu segera menunjukkan benda itu ke dua orang temannya.
"Tidak jadi, berarti?" tanya Hinata pelan.
"…jika tidak mendapat pengawasan dari dosen jurusan? Apa-apaan ini, apa kita anak SMA?!" keluh Ino kesal. "Kenapa sampai harus melibatkan dosen? Bukankah tahun-tahun sebelumnya makrab bisa diadakan dengan mudah?"
"Kurasa karena panitianya mengajukan proposal ke jurusan dan berniat untuk mengunggah foto-foto acara ke laman resmi universitas, jurusan tidak mau sampai ada hal aneh yang terjadi." Gumam Sakura. "Anehnya ini masuk akal."
"Aaaaaah, ketika akhirnya aku bisa pergi, acaranya malah tidak jadi!"
Ino tidak menanggapi kedua temannya karena chatroom tersebut terus-terusan menunjukkan pesan-pesan baru. Banyak anak—tidak, seluruh anak angkatan mereka sibuk mengeluh dan mencari cara untuk tetap melaksanakan acara tersebut.
Sakura dan Hinata akhirnya menatap ponsel mereka dan ikut membaca pesan-pesan tersebut.
"Tidak…" gumam Sakura pelan. "Ino, kau sudah gila, ya?!"
"Kenapa? Itu, 'kan, ide bagus!"
"Cepat hapus pesanmu!"
Ino dan Sakura sempat bertengkar merebutkan ponsel sebelum akhirnya Sakura berhasil mengambilnya dan menghapus pesan terakhir Ino. Sayangnya, beberapa orang yang sempat membaca selanjutnya tampak merespon ucapan Ino dengan positif.
"Apa yang kalian permasalahkan? Aku belum sempat melihat pesan Ino…"
"Aku hanya bilang, kalau misalnya memang harus ada dosen pendamping, lebih baik kita minta tolong Hatake sensei saja." Ujar Ino. "Aduh, kenapa kau mencubitku, Sakura?!"
Sakura mendengus. Ia tahu ia benar-benar bersikap tidak masuk akal sekarang. Sakura mengusap-usap lengan Ino yang ia cubit tadi dan menenggelamkan wajahnya dalam telapak tangan. Sial. Kalau sampai benar mereka meminta Kakashi untuk mendampingi acara itu, lebih baik aku tidak usah ikut saja.
"Aku sedih sekali melihatmu sekarang, Sakura." Ujar Hinata lirih sambil mengusap kepala Sakura. "Bagaimana kalau kau dan Ino menginap di apartment-ku sampai akhir minggu? Kita bisa pergi ke mall besok, membeli banyak makanan…"
"Sake mahal!" pekik Ino girang.
"Terima kasih, tapi suami Koharu akan merasa tidak enak dan—"
"Kau hanya menginap sampai akhir minggu, Sakura. Tidak seterusnya, 'kan?" tanya Ino. "Ayolah, sudah lama kita tidak menginap bersama seperti ini. Sejak kau tidak masuk selama seminggu itu, kita belum pernah lagi menginap bersama."
Sakura tersenyum kecil. Ia tahu benar kenapa waktu itu ia tidak masuk kuliah selama seminggu.
"Baiklah…"
Ino menariknya ke dalam pelukan. "Nikmatilah hidupmu, Sakura! Aku yakin kau juga sudah lama sekali tidak pergi keLux, 'kan?"
"Aku tidak terlalu suka tempat seperti itu." Ujar Sakura malas.
"Itu dia point-nya. Tidak ada yang suka pergi ke tempat seperti itu." Ino menggerakkan tangannya untuk memberi visualisasi semu di depan mereka. "Tapi tidak ada salahnya kita sekali-kali pergi ke sana, kau tahu?"
Hinata tersenyum kecil. "Kurasa Ino benar, Sakura." Ujar gadis itu lembut. "Tapi kalau kau memang tidak terlalu suka pergi ke club, kita bisa menonton drama semalaman."
Sakura balas tersenyum dan mengangguk. "Baiklah… ada satu masalah lagi."
"Apa itu?"
"Kurasa Koharu tidak akan mengizinkanku kalau aku harus pulang dulu untuk mengambil pakaian—"
"Sakura. Kau berbicara seperti orang yang tidak punya teman saja."
Kabar baik datang ke kelas mereka beberapa menit setelahnya. Dosen mata kuliah selanjutnyapun tidak bisa datang hari ini dan mereka bisa pulang lebih awal. Tiga sekawan itu segera keluar dan berjalan gembira ke parkiran mobil. Ino membuka pintu mobilnya, membereskan beberapa barang yang ada disana, dan mengizinkan teman-temannya untuk masuk.
"Kau tahu, aku sangat merindukan pergi ke rumahmu, Ino." Ujar Sakura.
"Tentu saja. Aku akan mengundang kalian begitu perceraian orangtuaku sudah final." Gumam Ino tidak terlalu jelas. Pandangannya terfokus ke monitor kecil di dasbor. Ia sudah tiga kali menabrak mobil mahasiswa lain bulan ini, dan ia sudah kehabisan uang untuk mengganti reparasi mobil lainnya jika ia harus menabrak.
Hinata menekan tombol radio dan lagu pop rock Barat mengalun dari audio speaker mobil tersebut.
"Hei, bagaimana kalau kita belanja dulu?" tanya Ino.
"Aku tidak tahu, Ino… aku masih harus menabung untuk membeli pelurus rambut."
Ino mendengus pelan. "Aku yang traktir. Semoga saja pin kartu kredit ayahku masih sama."
.
.
