"Membeli baju. Ya. Tidak, mereka perempuan. Ya."
Ino memutar matanya. Sakura dan Hinata tertawa kecil—mereka sibuk melahap chinese food yang dipesan setengah jam lalu sambil memperhatikan Ino.
"Memangnya kenapa kalau limit?" tanya Ino malas. "Ya, lain kali aku akan memakai kartu kredit Ibu… kenapa? Ibu tidak pernah marah kalau aku memakainya."
"Karena kalian berdua sangat mirip. Dan—"
"Ayah, ada Sakura dan Hinata disini."
"Selamat sore, Paman…" ujar mereka kompak.
"Selamat sore Sakura, Hinata… bagaimana kabar kalian? Semoga baik. Ino, tolong matikan mode loudspeaker-mu." Inoichi berujar tenang. "Tapi ya sudah, karena semua sudah terjadi. Kau benar-benar akan pulang akhir minggu nanti? Apa Ayah bisa minta tolong belikan kue beras?"
Ino mendengus. "Ayah pikir aku apa? Tukang antar makanan?"
"Tenang saja, Paman, Ino akan membawanya akhir minggu nanti." Ujar Sakura riang. Tangannya mencubit lengan Ino sekilas, lalu memberikan pandangan 'kau-harus-menghormati-ayahmu-bodoh'.
"Tolong bantuannya, Sakura." Kata Inoichi, disusul tawa ringannya. "Kalau begitu kalian bersenang-senanglah. Aku masih harus pergi mengantar istriku—"
"Kukira kalian akan bercerai?"
"Sampai jumpa lagi, Sakura… Hinata… dan Ino, uang jajanmu akan Ayah potong setengahnya."
Sambungan telepon dimatikan. Sakura tertawa kecil sementara Hinata menatap Ino penasaran.
"Ayah dan Ibumu memang akan bercerai, Ino?"
"Oh, jangan dengarkan dia. Kedua orangtuanya sangat-sangat mencintai satu sama lain." Gumam Sakura dengan mulut penuh. Ia memasukkan lagi sepotong telur gulung ke dalam mulutnya dan menggunakan sumpitnya untuk menunjuk Ino. "Anak ini hanya tidak tahan dengan kedua orang tuanya. Terkadang aku bingung, kenapa pasangan seserasi itu bisa melahirkan anak seperti Ino."
Hinata menghela nafas pelan. "Pasti enak sekali menjadi anak tunggal. Aku memiliki seorang adik yang benar-benar mengikuti semua hal yang kulakukan," ujar Hinata kesal. "Gaya rambut, pakaian, selera musik… rasanya aku benar-benar ingin mengurungnya di kloset sendirian."
"Hinata, bukankah adikmu berumur 10 tahun?"
Hinata menoleh dan mengangguk tanpa ekspresi. "Ya."
"Oke, ingatkan aku untuk jangan pernah membuat orang ini marah." Ujar Ino tidak habis pikir sambil merebut kotak berisi pangsit dari tangan Sakura.
"Omong-omong," ujar Sakura, bangkit berdiri dan meletakkan sebuah tas belanja besar di atas tempat tidur. "Bukankah ini waktunya kita membuka hasil buruan siang tadi?"
"Betul sekali!"
Hinata tersenyum kesal. Sementara teman-temannya dengan bersemangat membuka tas belanja di sekitar situ satu persatu, ia dengan sabar membereskan kotak-kotak makanan mereka dan meletakkannya di atas meja yang terletak tidak jauh dari sana. Berbeda dengan Ino dan Sakura yang bisa tidur berlumuran saus udang, gadis itu benar-benar tidak tahan dengan suasana kotor disekitarnya.
"Ohhh… lihat ini, cocok sekali untukmu!" jerit Ino senang. Ia melemparkan sebuah gaun ke arah Hinata dan mengedipkan sebelah mata.
"Bra?" pekik Hinata kaget. "Ino, kapan kau membelinya?"
"Waktu kau sedang sibuk merapikan lipatan kemeja display di ujung konter." Jawab Sakura sambil tersenyum manis. "Tapi kurasa Ino ada benarnya, Hinata. Bukankah akan lucu sekali kalau kita bertiga mempunyai bra yang sama?"
"Kurasa… setelah dilihat-lihat, ini manis juga…" gumam Hinata.
Ino melemparkan tas belanjaan kosong dan tersenyum. "Baiklah, lain kali kita melakukan shopping, mari beli pakaian dalam yang seragam."
"Astaga, ini adalah gaun tercantik yang pernah aku lihat."
Ino dan Hinata menoleh. Sakura membentang sebuah gaun berwarna nude dan langsung memeluknya kembali.
"Apa aku boleh memakainya?"
"Tentu saja, kenapa tidak?" tanya Ino sambil tersenyum kecil. "Tapi itu tidak akan terlalu cocok dipakai untuk pergi ke Lux…"
"Ya. Gaun itu tidak seksi. Gaun itu terlalu…" ujar Hinata pelan, mencari-cari kata yang tepat untuk digunakan. "Manis."
"Polos?"
"Ya. Manis dan polos." Hinata mengangguk-angguk.
Sakura mendengus dan memutar matanya. "Kalau memang niat awalnya adalah untuk membuat diri sendiri menjadi lebih baik, tentu saja aku dapat memakai apapun yang kuinginkan, 'kan?"
Hinata dan Ino saling tatap selama beberapa saat. Mereka tertawa kecil saat Ino berdeham.
"Ya, anak ini ada benarnya." Ujar Ino. "Kau boleh memakai apapun yang kau mau, Sakura. Bahkan celana bahan dan blazzer merah juga tidak apa-apa…"
"Hei! Jangan mengejekku!"
Sakura melempar boneka penguin milik Hinata ke arah Ino dan tertawa. Setidaknya saat ini, ia bisa melupakan Kakashi dan Mei.
.
.
"Kashi?"
Kakashi mengangkat kepalanya. Mei berdiri di depannya, lengkap dengan jaket dan tas.
"Kau akan pergi?" tanya Kakashi sambil melepas kacamatanya.
"Ya… aku akan mengunjungi seorang teman." Gumam Mei pelan lalu mengecup pipi kanan Kakashi. "Aku tidak tahu akan pulang jam berapa, tapi aku akan menghubungimu. Sakura belum pulang?"
Kakashi menggeleng. "Belum. Aku juga tidak melihatnya di kampus tadi."
"Pasti enak sekali bisa melihatmu selama itu…" ujar Mei sembil tersenyum. "Baiklah, aku akan pergi—"
"Perlu kuantar?"
"Tidak," tolak Mei halus. "Aku sudah memesan taksi."
Kakashi mengangguk dan tersenyum. Mei menghilang dari pandangannya diikuti dengan bunyi klik pada pintu apartment tersebut.
Kakinya melangkah ke arah dapur dan mengambil sekaleng bir di kulkas. Pekerjaannya belum selesai, namun tubuhnya sudah meraung, meminta istirahat, dan Kakashi tentu saja lebih memilih untuk menyaksikan tayangan sepak bola kesukaannya dibandingkan harus mengerjakan pekerjaannya.
Tidak terasa satu setengah jam sudah ia habiskan duduk dan bermalas-malasan di depan televisi tanpa melakukan apapun. Baru saja ia ingin bangkit dan mengambil kaleng birnya yang keuda, ponselnya berdering dengan nyaring.
"Ya?" jawab Kakashi.
"Tuan Kakashi Hatake?" ujar sebuah suara asing dari seberang sana. "Aku menelepon dari Rumah Sakit Genki Shinjuku… apa benar anda adalah wali dari Sakura Haruno?"
Jantung Kakashi seakan mencelos Pria itu berdeham beberapa kali saat merasa tenggorokannya kering dan berusaha untuk kembali berbicara. "Ya…"
"Nona Haruno saat ini sedang berada dalam perawatan rumah sakit untuk penanganan atas reaksi alerginya yang cukup parah," ujar wanita itu dengan suara tenang. "Wali sangat diharapkan untuk mengurus adminsitrasi—"
"Baik, aku akan segera sampai."
Kakashi menarik jaket dan kunci mobilnya. Ia berjalan dengan perasaan tidak karuan sambil meraba-raba saku celananya, memastikan kalau dompetnya sudah berada disana sekarang. Entah apa yang dilakukan gadis itu sampai-sampai ia bisa masuk rumah sakit seperti ini.
"Asparagus, remis, buah persik." Ujar Kakashi pada dirinya sendiri, mengingat-ingat makanan yang bisa saja memicu reaksi alergi pada Sakura. "Anak itu. Merepotkan saja."
Mobilnya melaju dengan kecepatan tinggi dan sampai hanya dalam waktu beberapa menit saja di Rumah Sakit Genki. Kakashi setengah berlari menuju resepsionis dan segera berjalan lebar-lebar ke lorong kiri, menuju sebuah ruangan dengan pintu besar berlabelkan IGD di atasnya.
Matanya mencari-cari sosok gadis berambut merah muda itu dan berhenti di ujung ruangan. Sakura disana, ditemani seorang perawat, sedang memberikan senyuman tidak enaknya ke arah Kakashi.
"Kau…"
"Sssttt, ada kakak perawat disini." Ujar Sakura. "Terima kasih, Kak…"
"Sama-sama, Sakura. Permisi."
Kakashi menarik nafas panjang-panjang dan berusaha menenangkan dirinya. Jantungnya masih berdebar tidak karuan, sementara gadis di depannya tampak baik-baik saja dan terlihat tidak bersalah sama sekali.
"Kenapa tidak kau sendiri yang meneleponku?" tanya Kakashi kesal.
"Tadi aku pingsan…" ujar Sakura pelan. "Jadi, begitulah."
"Apa yang kau makan sampai bisa seperti ini?"
"Pie buah." Jawab Sakura. "Ada strawberry, blueberry, jeruk, anggur, persik—"
"Kau alergi buah persik." Potong Kakashi cepat.
Sakura mendengus, tidak terlalu suka dipotong. "Apel, kiwi—"
"Astaga," potong Kakashi lagi. "Kau juga alergi kiwi! Apa kau sudah gila? Kau hampir mati!"
"Betul, tenggorokanku tertutup, ada seribu semut yang naik ke kerongkonganku dan aku tidak bisa bernafas selama nyaris lima menit tadi!" balas Sakura kesal. "Kau tahu kalau aku seperti ini, kenapa malah datang dan memarahiku? Kau bahkan tidak khawatir sama sekali padaku!"
Kakashi mengusap wajahnya kasar. "Aku—"
"Kau bahkan tidak meminta maaf setelah memarahiku!" ujar Sakura. "Kalau tahu seperti itu, lebih baik aku mengganti kontak daruratku dengan nomor telepon Ayah saja. Ayah tidak akan memarahiku seperti ini—"
Perkataan Sakura terhenti saat kedua tangan Kakashi menggenggam tangan kanannya. Gadis itu mengerutkan kening bingung.
"Aku salah." Ujar Kakashi menyesal. "Maafkan aku."
Sakura terdiam sesaat saat menyadari penampilan pria di depannya yang cukup berantakan. Ia merasa sedikit bersalah karena malah balik memarahi Kakashi seperti tadi.
"Hei," panggil Sakura pelan. "Tidak apa-apa."
Kakashi terduduk lemas di kursi yang berada di dekat situ. Sakura duduk dan mengusap kepala pria itu yang terletak lemas di pinggir kasur.
"Ada apa?" tanya Sakura.
"Kepalaku sakit…" gumam Kakashi. "Sebelum pergi ke sini aku sedang minum bir."
Sakura menghela nafasnya dan melanjutkan usapannya pada kepala Kakashi. Pria itu sepertinya menikmatinya. Ia hanya duduk terdiam, memandangi meja kecil yang berada di samping tempat tidur Sakura dengan pandangan kosong. Kepalanya berputar-putar sekarang karena ia berlari-lari cukup lama sehabis minum bir.
"Kalau sudah lebih baik, kau pulang saja. Aku akan meminta Hinata dan Ino untuk datang."
"Kau… marah padaku?"
Sakura tertegun dan sejenak usapannya pada tangan Kakashi terhenti.
"… tidak." Gumam gadis itu dengan nada halus.
"Kenapa kau tidak juga pulang?"
Karena aku merasa tidak nyaman harus melihat Mei-nee terus-terusan setiap waktu, jawab Sakura dalam hati. Sayangnya lidah gadis itu membeku. Hanya tangannya yang kembali bergerak, mengusap kepala Kakashi tanpa memberikan jawaban.
"Baiklah, aku akan pulang." Ujar Kakashi setelah beberapa saat. Ia mengangkat kepala dan tersenyum kecil ke arah Sakura. "Ayo keluar bersama. Aku akan mengurus administrasinya di ruang depan, sementara kau bisa langsung pergi dengan Yamanaka dan Hyuuga."
Sakura mengangguk. "Baiklah..."
Sakura turun dari tempat tidur tersebut dan berjalan bersisian dengan Kakashi menuju lobi utama rumah sakit. Pasti ada ratusan pesan dari dua temannya itu, tapi Sakura belum terlalu ingin membuka ponselnya saat ini. Setelah melambaikan tangan sekilas pada Kakashi, ia berjalan menuju halaman muka gedung tersebut dan mengeluarkan ponselnya.
Kedua alisnya bertaut. "Gaara-nii?"
Ada sekitar lima panggilan tak terjawab dari Gaara yang dikirimkan secara bertahap sejak beberapa jam yang lalu. Selebihnya, ponselnya dipenuhi oleh pesan-pesan dan panggilan tidak terjawab dari Hinata dan Ino—yang seharusnya ia temui di Lux dua jam yang lalu.
Sakura menekan nomor Gaara dan mendekatkan ponselnya ke telinga.
"Huh? Sibuk?" gumamnya pada diri sendiri.
Sakura akhirnya mengangkat bahu dan menekan nomor Ino.
"Haruno, kau berusaha untuk kabur diam-diam, ya?!" cecar Ino tanpa ampun. "Hinata sudah mulai mabuk dan aku sudah mendapatkan enam nomor telepon sampai saat ini! Dimana kau sekarang? Jangan bilang kau tidak jadi datang! Ugh, harusnya aku tidak membiarkanmu pergi ke toko kue itu—"
"Aku akan datang… Aku sedang berada di rumah sakit sekarang." Ujar Sakura. "Aku—"
"Hah? Aku tidak bisa mendengarmu!" Ino sedikit berteriak di sela-sela musik yang berdentum. "Kirimkan pesan saja!"
Sakura memutar matanya dan mematikan sambungan tersebut. Baru saja ia ingin mengirimkan pesan pada Ino, sebuah tangan menyentuh pundaknya.
Sakura tersentak kaget. Detak jantungnya berangsur normal saat melihat Kakashi di belakangnya.
"Ada apa?" tanya Sakura bingung.
"Gaara," ujar Kakashi pelan. "Dia menunggu kita di lobi apartment."
.
.
"Kakashi-nii!"
Kakashi tersenyum dan memeluk Gaara sekilas. "Maafkan aku, ponselku sempat mati tadi."
"Tidak apa-apa… aku yang minta maaf karena merepotkanmu malam-malam begini." Ujar Gaara. "Aku baru saja melakukan wawancara di perusahaan Ayahmu—terimakasih omong-omong karena sudah memasukkan CV-ku kesana. Tapi sudah terlalu malam sekarang dan aku tidak terlalu ingin untuk—"
Kakashi menepuk pundak pria itu sambil tersenyum. "Tidak apa-apa. Malam ini tidur dulu saja disini."
Gaara tersenyum kecil. "Terima kasih, Kakashi-nii."
"Tapi sebelum itu, apa kau mau minum kopi dulu? Café disini terkenal sekali…"
Sementara itu, Sakura sedang membereskan segala barang milik Mei yang ada di apartment mereka. Bukannya bagaimana, Gaara dan Sasori sudah seperti kakak kandungnya sendiri sampai-sampai mereka akan mengerti kalau jaket bulu berwarna pink cerah yang tergantung di kloset depan bukanlah miliknya, ataupun sepatu hak tinggi bermotif kulit ular kobra yang ada di rak sepatu sebelah pintu.
"Ya Tuhan… Mei-nee baru sampai disini seminggu yang lalu tapi barang-barangnya bahkan lebih banyak dari barang-barangku." Ujar Sakura tidak habis pikir sambil meletakkan barang-barang yang ditemuinya di lemari kamar mandi ke dalam sebuah kotak berukuran besar. "Shampoo, conditioner, masker rambut… apa ini, shampoo lagi? Untuk rambut berwarna—oh, sadarlah Sakura."
Sakura memasukkan sikat gigi wanita tersebut ke dalam kotak dan berjalan ke ruang tengah. Ia mengganti selimut bulu berwarna putih Mei dengan selimut merah kotak-kotak lamanya sambil menggelengkan kepala.
"Ada apa dengan Mei-nee dan bulu-bulu?" gumamnya bingung.
"… memang, tapi hal itu sebetulnya cukup menarik karena…"
Sakura menoleh panik ketika mendengar suara Kakashi di depan pintu. Ia melirik interkom, mendapati Gaara ada disana, dan cepat-cepat berlari ke kamar Kakashi untuk menyembunyikan kotak besar tersebut.
"Sakura?" panggil Kakashi dari depan. "Aku datang bersama Gaara."
Sakura merapikan rambutnya dan pada akhirnya melangkahkan kaki keluar dari kamar itu.
"Gaara-nii!" ujarnya senang. "Senang sekali melihatmu lagi!"
Gaara tersenyum dan memeluk Sakura sekilas. Ia sedikit membungkuk saat memberikan jaketnya ke arah Kakashi yang mengulurkan tangan, dan berjalan bersama Sakura menuju ruang tengah mereka.
"Nii sampai kapan disini?" tanya Sakura.
"Hanya sampai besok… karena aku tidak bisa menyetir lagi malam ini. Aku sangat lelah." Ujar Gaara pelan. "Aku harap aku tidak mengganggu kalian."
Sakura menggeleng dan menerima uluran piring dari Kakashi. "Tentu saja tidak! Ini, nii pasti lapar." Ujar Sakura. "Setelah ini nii langsung istirahat saja… aku akan membawakan handuk baru dan nii bisa langsung tidur setelah mandi. Besok pagi kita akan makan bersama."
"Kau benar-benar sudah dewasa sekarang." Ujar Gaara sambil tersenyum kecil. "Terima kasih."
Sakura balas tersenyum dan berjalan menuju kamarnya. Ia menarik selembar handuk putih bersih dari rak terbawah lemarinya, lalu masuk kembali ke kamar Kakashi untuk mengambil sepasang pakaian dan memberikannya kepada Gaara.
"Kurasa aku akan mandi sekarang." Ujar Gaara. "Terima kasih atas makanannya."
Sakura mengangguk-angguk. Sesegera setelah Gaara menutup pintu kamar mandi, tubuh gadis itu seakan mencair dan terhempas di sofa.
"Lelah, huh?"
"Jangan salahkan aku, barang-barang pacarmu banyak sekali." Gumam Sakura sambil memejamkan matanya. "Aku masih harus minum obat lagi setelah ini, kukira suhu tubuhku akan kembali tinggi karena terburu-buru tadi."
Kakashi menatap Sakura dalam diam, lalu tanpa sadar mengulurkan tangan dan menyentuh pipi gadis itu.
Mata Sakura terbuka serempak dan mendelik ke arah Kakashi. "Apa yang kau lakukan?!"
"Me… ngecek suhumu." Jawab Kakashi terbata-bata, kembali menarik tangannya. "Kalau begitu lebih baik kau segera beristirahat, aku akan disini sampai Gaara masuk kamar."
Sakura mengangguk dan bangkit berdiri. Ia baru saja akan berbelok ke kamarnya saat tangan Kakashi menahannya.
"Apa?" tanya Sakura malas.
"Apa yang kau lakukan?" Kakashi balik bertanya. "Tentu saja kita tidur di kamarku."
Sakura menggelengkan kepalanya tidak habis pikir. "Kau sudah gila ya?"
"Kau pikir apa yang akan dipikirkan Gaara saat tahu kita tidak tidur bersama?"
Percakapan mereka terhenti saat mendengar bunyi pintu kamar mandi yang terbuka. Gaara keluar dari kamar mandi dan memperhatikan mereka berdua dengan bingung.
"Apa ada masalah?" tanya Gaara.
"Tidak." Jawab Kakashi cepat. "Kami baru saja ingin tidur. Kau bisa tidur di kamar ini," lanjut Kakashi sambil melebarkan pintu kamar Sakura.
Gaara masuk beberapa langkah dan kembali mengerutkan kening. "Apakah kalian tidur di kamar yang berbeda?"
"Tidak," kali ini Sakura angkat suara. "Itu hanya kamar yang kupakai untuk belajar dan tidur siang… nii tahu, karena Kakashi adalah dosenku, dan aku juga tidak ingin mengganggunya saat aku belajar sambil mendengarkan lagu."
Gaara sepertinya percaya karena pria itu hanya menganggukkan kepala. Pada akhirnya ia tersenyum, dan menunjuk kamar tersebut dengan kepala.
"Baiklah. Selamat tidur, kalau begitu."
Sakura dan Kakashi menganggukkan kepala bersamaan dan menghela nafas saat Gaara menutup pintu. Mereka berdua berjalan dengan gontai ke kamar Kakashi, lalu terduduk di atas kasur dengan perasaan gusar.
"Apa kau mau tidur di sofa?" tanya Sakura pelan.
"Apa? Tentu saja tidak mau." Balas Kakashi sedikit kesal. "Apa masalahnya kalau kita berdua tidur di kasur?"
"Oh, ya, lebih baik kau kecilkan suaramu karena bisikan sekecil apapun yang tercipta disini bisa terdengar jelas di kamarku." Ujar Sakura dengan nada sarkastik.
Kakashi terdiam sebentar dan mengusap wajahnya dengan kasar. Ia mengerti apa maksud Sakura, sehingga ia langsung bangkit berdiri, membuka lemari bajunya, dan melempar satu set sprei serta sarung bantal dan guling ke atas kasur.
"Ya, mengganti segalanya tentu saja akan membuatnya menjadi lebih baik."
"Berhentilah, Sakura. Setidaknya aku pria normal." Tukas Kakashi sambil membuka sarung bantalnya. "Lagipula Mei adalah pacarku. Tentu saja hal tersebut wajar."
Sakura tidak menjawab. Ia menendang Kakashi hingga jatuh terduduk di lantai dan menarik sprei di depannya tanpa ekspresi. Gerakan tangannya teramat cepat dan cekatan mengganti sprei tersebut karena dua hal; ia sudah ingin sekali tidur dan Kakashi terus-terusan membuatnya kesal tanpa alasan.
Keduanya memasukkan sprei kotor tadi ke dalam wadah baju kotor milik Kakashi yang terletak di ujung kamar dan merebahkan diri ke atas kasur. Kakashi menopang kepalanya dengan satu lengan dan melirik Sakura sekilas.
"Apa lampunya bisa dimatikan sekarang?"
"Ya…" gumam Sakura lirih. "Aku sudah mengantuk."
Kakashi bangkit berdiri dan menekan saklar di ujung ruangan, lalu kembali merebahkan dirinya di atas kasur. Sakura seperti biasa sudah meletakkan guling Kakashi di tengah-tengah tempat tidur, memberikan batas di antara mereka, namun Kakashi tidak tahu apakah gadis itu sudah terlelap atau belum.
Perkataan Sakura ternyata ada benarnya. Lantunan lagu miliki Oasis terdengar cukup jelas dari kamar Sakura. Rasa bersalah dan tidak enak segera saja merebak di dalam hati Kakashi—pasti gadis itu sangat terganggu akan apapun yang ia dan Mei lakukan malam-malam sebelumnya.
Gadis itu bergerak lagi. Kakashi menoleh dan menyadari kalau guling yang tadi di ada di tengah-tengah mereka kini telah bergeser karena Sakura memeluknya. Ia baru saja ingin kembali menatap langit-langit kamar saat mendengar hela nafas teratur dari gadis di sebelahnya.
Kenapa sampai sekarang ia masih mengencani Mei juga sering terlintas dibenaknya. Mei bahkan sudah jauh berbeda dari gadis yang dulu dikencaninya semasa SMA. Terlalu banyak rahasia yang disimpan oleh gadis itu, meskipun belaian tangannya pada pipi Kakashi dan suaranya masih terdengar sama lembutnya. Tapi ketika bersama Sakura seperti ini, sering kali hatinya bercabang di dua tempat yang berbeda.
Apa aku salah, tetap bersama Mei walaupun aku mulai sadar kalau aku menyukaimu? Tanya Kakashi pada Sakura dalam hati. Gadis itu tidak menjawab—tentu saja.
Kakashi menekuk lengan kanannya sebagai bantal dan kembali memandangi Sakura dalam gelap. Meski samar, ia bisa melihat kedua mata gadis itu yang sudah menutup dan bahunya yang naik turun. Bibirnya tersenyum singkat.
Aku tidak ingat kapan kau mulai menjadi secantik ini, Sakura. Terakhir kali aku melihatmu, kau adalah anak kecil yang masih sering mengikutiku kemana-mana. Tapi kenapa sekarang kau terlihat begitu mengagumkan seperti ini? Bahkan saat mataku tidak bisa mengetahui dengan jelas mana mata, mana hidung, dan mana bibirmu, kau benar-benar terlihat sempurna.
Kakashi tanpa sadar mengangkat tangannya dan menyelipkan anak rambut gadis itu yang turun menutupi kening. Dengan gerakan sangat perlahan dan hati-hati ia menguncinya di belakang telinga, sampai akhirnya tangannya terhenti di pipi halus Sakura.
Pria itu tersentak kaget saat tangan Sakura memegangi matanya. Kedua mata gadis itu terbuka, memandanginya dalam kegelapan tanpa suara.
