"Kakashi," panggil gadis itu pelan.

Kakashi tidak menjawab, tidak juga berpura-pura tidur. Matanya yang sudah sedikit mengantuk memandang lurus ke arah Sakura. Gadis itu membetulkan posisi tidurnya dan meraih tangan Kakashi dalam genggaman.

"Kenapa kau melakukan ini?"

Suara Sakura terdengar sangat lirih. Hal tersebut tidak terlalu menjadi masalah karena gadis itu kemudian mendekatkan kepalanya sehingga hidung mereka hanya berjarak beberapa senti saja. Kakashi bergeming sementara matanya tidak lepas dari kedua emerald hijau di depannya.

"Apa yang harus aku lakukan?" tanya Sakura lagi. Ia menutup mata sekilas, dan Kakashi bisa bersumpah kalau ia melihat genangan air dari sepasang mata yang sedang ditatapnya lekat-lekat. "Apa yang harus kita lakukan?"

"Ssshh…" Kakashi mendekatkan tubuhnya dan menarik Sakura dalam dekapan. "Jangan terlalu dipikirkan."

"Tidak bisa." Jawab Sakura pelan. Ia menghirup dalam-dalam aroma parfum earthy yang menguar dari balik kaos tipis pria itu. "Aku terus-terus mendengar apa yang kau pikirkan… dan jantungku berdebar karenanya…"

Kakashi terdiam. "Kau bisa membaca pikiranku?"

"Begitulah." Gumam Sakura. "Kau terus-terusan memikirkanku, 'kan?"

Kening mereka bertemu. Sakura memejamkan matanya, masih memegangi tangan Kakashi seolah tangan itu bisa kabur kapanpun ia melepasnya.

"Benar."

Kali ini jantung Sakura benar-benar berdebar tidak karuan. Tentu saja ia tidak bisa membaca pikiran pria itu. Sakura dengan susah payah mengatur nafasnya saat ibu jari Kakashi mulai bergerak pelahan untuk membelai pipinya. Ia bisa tidur kapan saja, namun ia memutuskan untuk kembali membuka mata.

"Bukankah ini aneh," gumam Sakura. "…kita."

"Ya."

"Aku merasa malu pada diriku sendiri karena ada disini bersamamu, Kakashi…" bisik Sakura lirih. "Sementara aku tahu kalau sebenarnya aku tidak berhak sama sekali karena aku tahu betapa kau sangat menyayangi Mei-nee—"

Kakashi berdecak pelan. "Sakura…"

"Itulah kenapa aku memutuskan untuk tidak pulang hari ini, Kakashi." Lanjut Sakura. "Aku tidak tahan harus bersama kalian sepanjang waktu. Ini baru seminggu—bagaimana seterusnya? Bagaimana aku harus bersikap?"

"Lalu apa yang kau inginkan?" tanya Kakashi. "Kau mau… bersamaku?"

Sakura tidak menjawab. Ia menyamankan diri dalam pelukan Kakashi. Untungnya saat ini Kakashi tidak dapat lagi melihat wajahnya, jadi Sakura bisa mengeluarkan air matanya dengan bebas.

"Tidak." Jawab Sakura akhirnya. "Aku yakin kita seperti ini hanya karena kita bertemu dalam kondisi baru yang benar-benar berbeda. Kau tahu, adik-kakak, teman-teman, dan sekarang… pasangan."

Kakashi meletakkan dagunya pada pucuk kepala di depannya. Ia tidak memberikan komentar apapun.

"Kakashi?" panggil Sakura setelah beberapa saat tanpa suara. "Kau tidur?"

"Belum." Jawab Kakashi. Nadanya lembut, berbeda dari biasanya.

"Apa kau pernah menyesal?"

Kakashi mengerutkan kening. Ia menatap Sakura yang sekarang sudah menjauhkan kepalanya dari dekapan pria itu. "Maksudmu?"'

"Maksudku," gumam Sakura pelan. "Karena memilihku?"

Kakashi memperhatikan Sakura selama beberapa saat dan tersenyum. "Tidak tahu."

"Hah?"

"Baiklah…" ujar Kakashi saat gadis itu mulai terlihat tersulut emosi. "Aku memang menyesal."

Sakura terdiam. Ia mengutuki hatinya yang dengan mudah menyukai Kakashi meskipun ia tahu pria itu hanya menganggapnya sebagai teman—bahkan adiknya sejak lama. Sakura memaksakan sebuah senyuman yang entah bisa dilihat atau tidak oleh pria itu, dan ia mengangguk-angguk.

"Anehnya perkataanmu membuat perasaanku menjadi lebih tenang." Gumam Sakura sambil mengembalikan tangan Kakashi ke tempatnya. "Baiklah kalau begitu… dasar menyebalkan."

Sakura mengapit gulingnya di antara kedua kaki dan membalikkan tubuh menghadap dinding. Perasaannya benar-benar tak karuan sekarang. Kalau saja ia benar-benar bisa mengatur dirinya sendiri untuk tidak menyukai Kakashi, pasti mereka berdua tidak akan menjadi seperti sekarang.

Apa yang kulakukan? Kenapa aku menggodanya yang jelas-jelas sudah memiliki pacar? Pikir Sakura sedih. Aku…

Pikirannya berhenti saat sebuah lengan meraihnya dalam pelukan. Nafas Kakashi terasa hangat di punggungnya, sementara rambut pria itu menggelitik tengkuknya. Setelah menyembunyikan wajah dipunggung Sakura selama beberapa saat, ia meletakkan kepalanya tepat di belakang kepala Sakura dan memejamkan mata.

"Uh, Kakashi?" panggil Sakura pelan. "Apa yang kau lakukan?"

"Aku belum selesai menjawab pertanyaanmu."

Seluruh rambut di tubuhnya berdiri saat Kakashi mengecup tengkuknya perlahan. Sakura memejamkan mata, ia benar-benar tidak menyangka akan bisa merasakan hal seperti ini bersama Kakashi sebelumnya.

"Aku melakukan perhitungan singkat sebelum melamarmu," ujar Kakashi lirih tepat ditelinga gadis itu. "Anko, Konan, Ran… bahkan Hanare." Lanjutnya, entah kenapa nadanya terdengar sedikit malu. "Namun semuanya sangat mungkin untuk menyukaiku dan hal tersebut akan sangat susah untuk diurus kemudian hari…"

"Karena kau akan bersama Mei-nee pada akhirnya." Gumam Sakura.

"Ya." Jawab pria itu singkat. "…ternyata perhitunganku salah."

Sakura tersenyum kecut. "Aku mengerti. Maafkan aku karena menyukaimu."

"Salah total, sebenarnya." Kakashi mengeratkan pelukannya pada gadis itu. "Aku hanya menghitung seberapa besar kerusakan yang terjadi kalau istriku nantinya benar-benar menyukaiku, tapi aku tidak pernah benar-benar memikirkan apa yang akan terjadi kalau ternyata aku juga menyukainya."

Sakura bersumpah bahwa jantungnya berhenti berdetak selama beberapa saat.

"… bahkan kurasa… melebihi Mei. Yang mana adalah sumber dari segala kerumitan ini."

Lagi-lagi Sakura merinding saat bibir hangat pria itu mengenai punggungnya. Kakashi mengecupnya sebanyak tiga kali, sebelum akhirnya kembali merapatkan pelukan mereka.

Sakura terdiam saat rasa sesuatu menghantam punggungnya dengan lembut berkali-kali. Keningnya berkerut.

Apa itu detak jantung Kakashi?

Sakura tidak bisa melihatnya, tapi kedua telinga pria itu merah padam sekarang. Pernyataan cintanya memang cukup aneh malam ini. Ia hanya bisa menyembunyikan wajah malunya diantara rambut gadis itu, bersyukur karena Sakura membelakanginya seperti ini.

"Seharusnya aku yang bertanya, Sakura," ujar Kakashi lirih. "Apa yang harus aku lakukan?"

Sakura tidak menjawab.

Iapun tidak tahu harus menjawab apa.

Kedua kelopak mata pria itu hampir saja tertutup kalau saja tangan Sakura tidak berbalik dan menyentuh keningnya. Kakashi kembali memfokuskan penglihatan dan tersenyum kecil ke arah gadis itu.

"Apa…" gumam Sakura ragu-ragu. "Apa kau menyukaiku?"

Kakashi tertawa dengan sisa-sisa tenaganya. "Kenapa tiba-tiba bertanya seperti itu?"

"Semenjak… kau tahu, kejadian di Odaiba," ujar Sakura pelan. "Aku merasa kalau kau mulai memperlakukanku berbeda, Kakashi. Kau menjadi lebih baik dan mementingkan perasaanku… dan aku merasa perbedaan yang besar menerima perlakuanmu itu. Tentu saja, ini ada hubungannya dengan kedatangan Mei-nee."

"Lalu?"

"Aku hanya merasa kau mulai menyukaiku sedikiiiit lebih banyak lagi." Kata Sakura lirih. "…dan aku menyukainya."

Kakashi tersenyum melihat senyuman manis gadis di depannya. Tangan Sakura masih bermain-main di kening dan pelipisnya, dan ia menikmati suara lirih serta setiap sentuhan kecil yang diberikan oleh Sakura saat ini. Kakashi menarik nafas dalam-dalam dan mengangguk-anggukan kepala.

"Aku tidak tahu sampai kapan aku—kita akan seperti ini, tapi kuakui aku cukup menikmatinya." Lanjut Sakura.

Kakashi terdiam sebentar. Ada sebuah konflik yang terjadi di dalam pikirannya, tentang janji yang ia buat bertahun-tahun lalu pada seseorang. Pria itu pada akhirnya kembali menatap Sakura lekat-lekat, seolah-olah mencari jawaban yang mungkin saja tersembunyi disana…

Dorongan dirinya untuk menyimpan isi pikirannya saat ini menang dan Kakashi memutuskan untuk bungkam. Sakura menarik tangannya dan menyembunyikannya di balik selimut.

"Perlu kunaikkan suhunya?" tanya Kakashi.

"Tidak." Sakura menggeleng.

"Apa?" tanya Kakashi pelan saat Sakura masih terus memandanginya. "Ada yang ingin kau tanyakan padaku?"

Sakura terdiam selama beberapa saat dan menikmati wajah tampan di depannya. Ia menarik nafas dan tersenyum ke arah Kakashi.

"Kau ingat pernikahanku dulu?" tanya Sakura pelan.

Kening Kakashi berkerut. "Kau sudah pernah menikah?"

Sakura hanya mengangguk-angguk dan tersenyum lemah. Rasa kantuknya makin menjadi-jadi, namun entah kenapa ia masih ingin berbicara dengan Kakashi saat ini. "Ya. Aku mengundang semua anak di perumahan kita saat itu—kau juga kuundang. Undangannya kutulis sendiri dengan tangan, dan mempelai laki-lakinya adalah—"

"Naruto." Kakashi tertawa kecil.

"Ya… Naruto," ujar Sakura sambil sedikit menerawang. "Aku ingat sekali Naruto tidak datang saat itu dan aku menangis seharian. Bahkan tidak ada tamu undangan yang datang, hanya Shizune dan Naori yang menenangkanku saat itu. Kurasa kalau mereka tidak kuminta menjadi pendamping mempelai wanita saat itu, aku yakin mereka tidak akan datang."

Kakashi tersenyum. Ia menikmati suara Sakura seperti ia menikmati lantunan lagu pengantar tidur.

"Sarung bantal yang kupakai sebagai tudung saat itu sudah tidak karuan karena air mata dan lipstick Ibu yang kupakai diam-diam… sampai akhirnya—"

"Datang seorang pahlawan yang menyelamatkan sisa hari."

Sakura mengerjapkan matanya dan mencibir pelan. "Pahlawan? Kau tidak ingat kau menertawaiku selama lebih dari dua menit saat itu?"

"Tapi kau tetap menikah, 'kan?" tanya Kakashi lembut. "Setidaknya kau tidak perlu malu di depan dua anak lainnya."

"Ya… terima kasih." Kata Sakura pada akhirnya. "Saat melihatmu seperti ini, aku tidak menyangka kalau kita benar-benar akan menikah suatu hari nanti. Aku juga tidak menyangka semuanya akan menjadi serumit ini… bahkan salah satu langkah saja kita bisa menghancurkan semua yang sudah kita lalui sejak awal."

Kakashi terdiam. Tangan Sakura kembali terulur dari dalam selimut dan merapikan beberapa anak rambut pria itu yang terjatuh ke dahi. Ia mengusap alis Kakashi dari ujung ke ujung, menikmati pemandangan di depannya yang nyaris sempurna.

"Seharusnya jangan minta tolong padaku sejak awal…" bisik Sakura. "Terlalu banyak orang yang terlanjur bahagia karena kita menikah."

"Sakura…"

"Jangan diam, Kakashi. Kalau kau diam aku akan jadi lebih sentimentil." Sakura menyadarkan dirinya lagi, tidak membiarkan kesedihan hadir di antara mereka berdua. "Aku lebih menyukai rambutmu yang seperti ini. Kau terlihat sama seperti Kakashi yang kukenal semenjak aku kecil dulu."

"Apa aku terlihat jelek kalau memakai gel?" tanya Kakashi.

"Hmm… bukan itu yang kukatakan…"

Mereka tertawa bersama selama beberapa menit. Meskipun terkadang ia membenci Kakashi habis-habisan, tidak pernah sekalipun dirinya menyangkal kesempurnaan wajah pria itu. Sejak masih di sekolah menengah pertama saja, waktu kunjungannya ke rumah Kakashi sering terinterupsi oleh hadirnya teman-teman perempuan Kakashi yang sibuk mendekatkan diri dengan keluarga pria itu. Sakura menghentikannya dan tanpa sadar melirik jam.

"Setengah satu pagi," gumam Sakura. "Karena aku masih bangun, aku akan pergi ke ruang tengah untuk menonton film, ya? Aku sudah ingin sekali menontonnya sejak lama dan kebetulan filmnya akan ditayangkan…"

Gadis itu bangkit dari tidurnya dan duduk sebentar di atas kasur, menyesuaikan tubuhnya yang sudah cukup lama terbaring. Ia baru saja menginjak karpet halus Kakashi dengan kedua kaki saat tangannya ditahan oleh pria itu.

"Kau tidak mengajakku?" tanya Kakashi.

"Entahlah, Kakashi, ini film roman picisan yang pastinya tidak kau sukai." Gumam Sakura.

"Tapi aku masih ingin bersama—"

"Baiklah." Tukas Sakura cepat-cepat, menarik tangan pria itu untuk mengikutinya ke ruang tengah.

Mereka menarik bantalan yang berada di dalam sofa dengan sangat perlahan dan naik ke atas sana dengan sangat perlahan pula. Sofa ini adalah sofa lama Kakashi yang sangat disukai Sakura karena benda itu bisa berfungsi sebagai sofa sekaligus tempat tidur. Hanya sofa inilah yang dipertahankan Sakura saat orang tua mereka dengan paksa menyingkirkan barang-barang miliki Kakashi sebelum mereka tinggal bersama.

"Titanic?" tanya Kakashi tidak habis pikir. "Sungguh?"

"Ssshhh—"

"Sakura, kau sudah menonton film ini selama—aku tidak tahu—tiga puluh?"

Sakura mengangkat bahu. "Mungkin betul… tapi aku berhenti menghitung saat menontonnya untuk ke dua puluh dua."

"Aku masih sangat ingat saat Karui menangis membaca analisa milikmu," ujar Kakashi sambil menggelengkan kepala. "Kau membuat analisa sebanyak empat lembar, demi Tuhan… depan-belakang. Aku yakin ia menangis karena harus membaca analisamu yang panjang—"

"Ssshh, Kakashi? Kurangi bicara, perbanyak menonton saja." Ujar Sakura sambil mencubit lengan pria itu.

Sakura meraih selimut merah di lengan sofa dan membentangkannya di atas kaki mereka. Ia menyamankan diri di atas bantal lalu berkonsentrasi menyaksikan adegan demi adegan di depannya.

Yang benar saja, ujar Kakashi dalam hati. Sekarang ia benar-benar mengacuhkanku.

Seorang wanita tua dengan rambut putih seluruhnya terlihat di layar televisi. Kakashi melirik Sakura sekilas dan mau tidak mau ia tersenyum. Setidaknya sudah empat kali ia berhasil terjebak dan menonton film ini lagi dan lagi bersama gadis itu, tapi ekspresi yang ditunjukkannya selalu sama.

Kakashi mengatur posisinya sehingga kepalanya sedikit lebih tinggi dari pundak orang disebelahnya. Ia menyandarkan kepalanya secara kasual beberapa saat kemudian, berharap mendapat respon dari Sakura.

Nihil.

Pria itu kemudian meraih tangan Sakura yang tersembunyi di balik selimut dan membawanya ke depan bibir.

"Aa—hei!"

Sakura mendesis kesal, menarik tangannya yang digigit oleh Kakashi barusan. "Yang benar saja… kau pikir kau anak kecil?"

Kakashi menggerakkan bibirnya tidak karuan—mencemooh kata-kata yang Sakura lontarkan tadi. Gadis itu tersenyum jengkel dan menempelkan punggung tangannya yang sekarang terlumuri air liur pria itu ke hidung Kakashi.

Kedua mata pria itu membelalak, namun Sakura tidak mengendurkan tangannya sama sekali.

"Cium sendiri bau liurmu…" bisik Sakura lirih dengan nada berbahaya. "Kau pikir air liurmu wanginya seperti apa? Buah-buahan? Dasar, bahkan kau baru saja menghabiskan sekaleng bir sebelum menemuiku tadi."

Kakashi pada akhirnya berhasil melepaskan tangan Sakura dan ia segera mengusap hidungnya dengan cepat.

Sakura menoleh sekilas ketika menyadari Kakashi terdiam beberapa saat setelahnya, lalu mengalungkan tangannya dan menggaruk-garuk pipi pria itu dengan pelan.

"Aku bukan anak kecil."

"Oh, tapi kau menyukainya."

Kakashi tersenyum kecil dan mengambil tangan Sakura dalam genggamannya. Pada akhirnya, ia harus berpuas dengan tangan gadis itu saja saat ini.

"Mungkin ini alasan utama kenapa kau tidak pernah suka menaiki kapal, Sakura."

Sakura menoleh sekilas dan tersenyum. "Kau benar-benar tidak bisa diacuhkan ternyata…"

"Aku harus jujur, dari sekian banyak perempuan yang pernah duduk berdampingan denganku seperti ini, tidak ada satupun yang pernah mendiamkanku lebih dari dua menit." Ujar Kakashi. "Kau membuat harga diriku sedikit terluka."

"Mungkin kalau kau bisa terlihat sedikiiiit saja seperti dia…" ujar Sakura, menunjuk Leonardo DiCaprio yang sedang berlari-lari menuju kapal Titanic. "Aku bisa memberi perhatianku padamu."

Sakura mencubit pipi Kakashi pelan dan pria itu tidak menanggapi. Ia memutuskan untuk mengalah dan mencoba menikmati film yang sudah ditontonnya selama beberapa kali itu. Tangannya meraih tangan Sakura dan menggenggamnya cukup erat, sambil sesekali memainkan jari-jari gadis itu.

Dua puluh menit berlalu tanpa suara diantara mereka—yang merupakan saat-saat terdamai bagi Sakura untuk menyaksikan film kesukaannya—sampai lagi-lagi Kakashi membuka mulutnya kembali.

"Sakura, aku benar-benar tidak tahan kalau harus menghabiskan pagiku dengan film ini, lagi-lagi." Gumam Kakashi sambil melepaskan tangan gadis itu. Ia menegakkan tubuh, lalu menyingkap selimut dari atas kakinya. "Jadi aku akan pergi ke kamar, mengerjakan pekerjaanku karena besok adalah hari Sabtu, dan kau akan masuk nanti tanpa menimbulkan suara karena aku akan terbangun."

Sakura mengerutkan keningnya dan menahan Kakashi untuk pergi. "Kau tidak akan meninggalkanku sendirian disini, 'kan? Kau secara tidak langsung memintaku untuk menjaga apartment ini sendirian."

"Kau bisa tidur bersamaku." Kakashi tersenyum, menepuk tangan Sakura dua kali.

"Kenapa tidak kau kerjakan disini saja?" tanya Sakura. Bibirnya mulai mengerut.

"Karena… aku akan lebih tertarik melihat Jack dan Rose disana dibandingkan berkutat dengan statistika." Jawab Kakashi lembut. Ia mencoba untuk melepaskan tangan Sakura, namun genggaman gadis itu menguat.

"Temani aku disini."

"Tidak."

"Temaniiiii…"

"Aku harus bekerja."

"Kakashi…"

Kakashi tertegun sejenak masih dengan Sakura dalam tatapannya. Beberapa saat kemudian pria itu merendahkan tubuhnya, menarik Sakura mendekat dan membawa gadis itu dalam ciuman.

"Kakashi—"

Sakura merebahkan tubuhnya saat berat Kakashi berada diatasnya seutuhnya. Gadis itu mengerjapkan matanya beberapa kali sebelum akhirnya menutup keduanya. Otaknya masih berusaha mencerna apa yang dilakukannya sampai-sampai Kakashi memperlakukannya seperti ini, sampai ketika ia teringat sesuatu.

"Kakashi… Kakashi!" Sakura pada akhirnya berhasil mendorong dada pria itu dan menjauhkan tubuhnya, menatap kedua mata Kakashi yang terlihat sedikit… berbahaya. "Maafkan aku. Aku tidak akan memanggilmu begitu lagi."

"Aku memang sudah ingin melakukannya sejak tadi." Bisik Kakashi lirih sambil memberikan beberapa ciuman singkat ke bibir dan pipi gadis itu. "Kenapa kau harus meminta maaf?"

"Karena… aku memanggilmu seperti tadi?"

Kakashi mengerutkan keningnya. "Lalu?"

"… kukira kau tidak menyukainya."

"Terdengar cukup aneh ditelingaku saat kau mengucapkannya, tapi aku mulai menyukainya." Gumam Kakashi lirih. "Aku mulai menyukainya…"

Pria itu kembali menutup jarak dan mencium Sakura. Gadis itu kembali gelagapan dan berusaha menjauhkan Kakashi dari dirinya.

"Kakashi," bisik Sakura setengah terengah-engah. "Gaaraa-nii bisa keluar kapan saja…"

"Kau ingin pindah ke kamar?"

Sakura menggelengkan kepalanya kuat-kuat. "Bukan itu maksudku… demi Tuhan. Kontrol dirimu sendiri, Kakashi."

"Ya, benar. Kata-kata mutiaramu terlambat beberapa minggu Sakura."

"Ugh, kau… laki-laki pendendam…"

"Apa yang bisa kulakukan? Memoriku kuat seperti gajah."

Sakura tersenyum jengkel dan menjauhkan dirinya dari Kakashi. Ia secara refleks memeluk bantal putih di dekat mereka, menggelengkan kepala dan memelototi Kakashi ketika pria itu kembali berusaha menutup jarak.

"Kakashi," bisik Sakura kesal. "Kau harus memikirkan Mei-nee juga, kau tahu? Apa kau masih mengingatnya? Pacarmu?"

Kakashi terdiam. Ia mengerjapkan matanya beberapa kali dan tampak tersadar kalau ia memang masih mempunyai pacar.

"Ya… kurasa kau benar." Kakashi menganggukkan kepala pada akhirnya, lalu tersenyum bersalah. "Bagaimana bisa aku menyentuhmu padahal ada Mei disampingku?"

Kali ini Sakura hanya bisa mengulum senyumnya dan menahan diri untuk tidak menjambak pria yang sekarang sudah memusatkan perhatiannya kembali pada film Titanic di depan mereka. Oh, betapa cibiran yang dilontarkan Kakashi barusan membuatnya naik darah. Sakura menghela nafasnya, lalu kembali menatap layar televisi mereka dengan seksama.

Nafas Sakura tertahan selama beberapa detik saat kapal besar tersebut menabrak gunung es kokoh yang terlambat terlihat. Sakura meremas bantal dalam dekapannya dan menghela nafasnya… menyadari bagian yang paling dibencinya akan segera datang.

"Aku biasanya akan berhenti menonton saat kapalnya sudah menabrak gunung es, tapi kali ini aku akan menontonnya sampai habis." Ujar Sakura pelan. "Hei, Kakashi?"

Pria itu tidak menyahut. Sakura menolek sekilas dan darahnya terasa mulai memanas di dalam kepala. Kakashi sudah dengan santai melipat kedua tangan di belakang kepala dengan mata terpejam. Ada dengkuran halus yang terdengar dari bibir pria itu—membuat Sakura benar-benar kesal sekarang.

"Orang tua ini, dengkurannya bahkan lebih besar dibanding gergaji besi." Ujar Sakura kesal. "Kalau kau ingin membuatku kesal, kau salah besar, Kakashi… karena aku sama sekali tidak merasa terganggu dengan perbuatanmu ini."

Kakashi menggumam tidak jelas. Ia membalikkan tubuh dan memunggungi Sakura.

"Oh, yang benar saja." Kata Sakura sambil tertawa menahan amarah. Sakura berusaha membalikkan tubuh Kakashi, namun pria itu dengan pintar bisa menahan dirinya sendiri agar tidak berbalik. Setelah beberapa saat berusaha Sakurapun mulai lelah dan menyerah. Ia mematikan televisi, beranjak dari atas sofa, menendang tulang kering Kakashi, dan masuk ke dalam kamar.

Kakashi masuk beberapa saat kemudian. Ia sedikit membanting tubuhnya ke kasur dan berhasil membuat Sakura tersentak kaget. Sakura menghela nafas dan menahan diri untuk tidak marah. Bagaimanapun juga ia sedang berada di kamar pria itu sekarang.

Beberapa puluh menit setelahnya adalah neraka bagi Sakura. Dengan sengaja, Kakashi mendorongnya hingga terpepet ke dinding dan kesusahan bergerak. Ia juga meletakkan kakinya di atas pinggang Sakura—pria itu memang tidak tahu diri, kakinya sangat berat oleh otot yang diperolehnya karena jiu jitsu beberapa minggu belakangan—, membuat-buat dengkuran besar, sampai bergerak-gerak tidak jelas di atas kasur.

Sakura bahkan tidak dapat mengeluarkan tangannya untuk menjambak Kakashi karena tangannnya sekarang terhimpit di dalam selimut. Ia berusaha untuk pasrah dan mencoba tertidur saat sebuah suara cukup keras diikuti dengan bau belerang kuat membuat kedua matanya terbuka.

"KA-KA-SHI!"

.

.