CHAPTER 1
"Terima kasih untuk kerja kerasnya, Dok."
Seorang perawat pria membungkukkan tubuhnya kepada seorang dokter wanita berambut cokelat panjang, kedua matanya yang berwarna hijau agak menyipit karena tersenyum. Pandangannya kali ini terarah ke jam dinding, ternyata sudah jam 9 malam, padahal seharusnya dia sudah bisa pulang dari jam 7 malam, tetapi hari ini pasien bisa dibilang membludak dengan rata-rata terserang diare, penyakit yang umum dijumpai saat musim hujan.
"Sama-sama," jawab Sang dokter sambil menyenderkan tubuhnya, lalu menghembuskan napas. "Rasanya hari ini lelah sekali, bukankah begitu, Leslie?"
Perawat yang bernama Leslie itu tersenyum sambil melihat tumpukan rekam medik pasien di depannya. "Ada banyak penyakit yang bermunculan saat musim hujan, dan kita memang sudah seharusnya mengantisipasi hal itu."
"Aw, perawat pria tapi cantik-ku ini memang luar biasa," jawab Sang dokter lagi. "Omong-omong, benar-benar sudah tidak ada pasien lagi, kan?"
"Sebentar," jawab Leslie yang setelahnya membuka pintu. "Tidak, ibu dan anak tadi adalah pasien terakhir, Dokter Aerith."
Mendengar itu, rasa lelah yang dirasakannya barusan tiba-tiba saja menguap, lalu Aerith tiba-tiba beranjak dari kursi dengan kedua tangan yang dikepalkan.
"Yesss!" katanya, "oke, saatnya beberes dan segera istirahat di rumah. Kau juga, Leslie, cepatlah beristirahat, apalagi cuacanya sedang jelek seperti ini."
Leslie hanya menjawab dengan tawa kecil, sembari menatap Aerith yang tengah membereskan barang-barangnya dengan begitu bersemangat. Sekitar setengah jam kemudian, baik Aerith maupun Leslie akhirnya bisa pulang, dan mereka saling membungkukkan badan sebagai tanda perpisahan sebelum menuju arah yang berbeda.
Aerith Gainsborough, seorang dokter umum berusia 25 tahun yang menjalankan praktek di Rumah Sakit Umum Midgar. Dia baru bekerja di sana selama setahun, namun reputasinya sebagai dokter umum sudah sangat baik. Aerith dikenal sebagai sosok yang ceria, ramah, dan bersahabat, sehingga dia mudah akrab dengan pasien-pasiennya, baik yang masih bayi maupun yang sudah lanjut usia.
Dengan langkah yang sedikit dipercepat, Aerith masuk ke dalam stasiun kereta bawah tanah setelah melakukan tap pada mesin tiket. Setiap hari dia menaiki transportasi umum untuk bekerja, dan karena sudah hampir jam kereta terakhir, maka dia tidak boleh sampai tertinggal. Untungnya, suasana kereta jauh lebih sepi karena sekarang sudah malam. Untungnya lagi, kereta yang dia tunggu-tunggu tiba tidak lama setelah dia memasuki gerbang. Langkah-nya pun kembali dipercepat sampai akhirnya dia memasuki salah gerbong, napasnya sedikit terengah-engah karena dia baru saja berlari kecil.
"Nyaris saja," pikir Aerith.
Pintu kereta menutup, tanda bahwa kereta akan berjalan tidak lama setelahnya. Stasiun tujuan Aerith berjarak 8 stasiun dari sini, cukup jauh mengingat rumahnya berada di sektor 7, yang juga adalah pinggiran kota. Inilah sebabnya Aerith lebih memilih untuk menggunakan transportasi umum, karena kalau naik taksi pasti sangat mahal.
Berhubung tidak begitu banyak penumpang di dalam gerbong, Aerith bisa dengan mudah menemukan kursi yang kosong. Ah, rasanya nyaman sekali, meskipun kursinya terbuat dari plastik dan tidak empuk, namun cukup untuknya beristirahat sembari menunggu hingga dia tiba di tujuan. Aerith kembali melihat jam, dan ternyata sudah jam sepuluh kurang lima menit, dan ketika dia melihat ponselnya, Sang mama, Ivalna, berkali-kali mengirim pesan kepadanya, bertanya mengapa dia belum pulang. Aerith segera mengirim pesan balasan dengan cepat.
Maaf, Ma, aku barusan lembur. Sekarang sedang dalam perjalanan pulang, ditunggu, ya. Makan malam tidak usah dipanaskan, untuk sarapan besok saja.
"Dan … kirim," gumam Aerith yang setelahnya memasukkan ponselnya ke dalam tas. "Oke, sekarang hanya tinggal menunggu."
Suasana di dalam kereta sepi, karena biasanya orang-orang tidak akan saling berbicara kepada orang asing, Aerith pun begitu. Karena itulah sepanjang perjalanan, dia hanya diam sambil menatap ke kanan dan ke kiri.
Sepanjang perjalanan, ternyata jumlah orang yang menaiki kereta semakin banyak, hingga akhirnya seluruh tempat duduk di dalam sudah terisi penuh. Ketika hanya tersisa tersisa tiga stasiun sampai Aerith tiba di tujuan, tiba-tiba terlihat sosok pekerja kantoran—usianya mungkin sekitar lima puluh—masuk ke dalam. Dia melihat sekeliling untuk mencari tempat duduk, namun sayang semuanya sudah terisi, sehingga dia terpaksa berdiri. Tergerak oleh rasa iba, Aerith pun segera berdiri sambil memberikan isyarat untuk pria itu.
"Silahkan, Paman," kata Aerith sambil tersenyum. "Duduklah."
"Ah iya, terima kasih."
Ketika pria itu berjalan, tiba-tiba saja langkahnya goyah dan terjatuh, membuat Aerith refleks menangkapnya. Tubuh pria itu agak gemetaran.
"Astaga! Paman, Anda baik-baik saja?" tanya Aerith.
"Tidak apa-apa," jawab pria itu. "Kepalaku hanya … pusing"
Aerith tidak begitu yakin, dan benar saja, tidak lama setelah berkata begitu, si pekerja kantoran tiba-tiba tidak sadarkan diri, membuat seisi kereta panik.
"Astaga, Paman, Anda bisa mendengarku?!" kata Aerith, namun pria itu tidak merespon.
Aerith mencoba untuk mengukur denyut nadi pria itu, dan denyut nadinya terasa cepat. Kemudian dia membuka tasnya untuk meraih alat pengukur tekanan darah portabel yang selalu dibawanya, dengan cepat dia pasangkan alat itu di bagian lengan.
"Tekanan darahnya seratus delapan puluh, tinggi sekali," gumam Aerith setelah hasilnya keluar. "Maaf, bisakah seseorang membantuku memanggil petugas? Pria ini butuh penanganan medis sesegera mungkin! Aku juga butuh bantuan untuk membopongnya di stasiun berikut!"
Aerith agak panik, wajar, karena pertama kalinya dia menemukan 'pasien' di luar rumah sakit. Aerith juga khawatir jika pria yang tengah diperiksa ini mengalami gejala stroke, sehingga dia harus segera dibawa ke rumah sakit untuk pemeriksaan lebih lanjut. Tetapi, dari sekian banyak orang di dalam, sebagian besar dari mereka hanya menatap satu sama lain, tidak bergerak dari tempat mereka duduk dan berdiri, membuat Aerith menjadi kesal.
Ketika Aerith hendak berteriak lagi, tiba-tiba saja seorang pria bangkit dari tempat duduknya. Seorang pria berambut hitam runcing dengan beberapa poni yang membingkai wajahnya, kedua matanya berwarna biru langit, dan dia mengenakan pakaian seperti seragam yang dilapisi dengan jaket. Dia menekan tombol darurat di dinding kereta sebelum berjongkok di samping Aerith.
"Selamat malam, Nona," katanya sambil tersenyum, "bisakah Anda jelaskan apa yang terjadi dengan pria ini?"
"Ah, iya, dia tiba-tiba tidak sadarkan diri dan tekanan darahnya tinggi sekali," jawab Aerith. "Saya khawatir dia terkena gejala stroke, sehingga dia harus dibawa ke rumah sakit untuk pemeriksaan lebih lanjut."
"Anda Dokter?"
"I—iya, benar, saya baru saja pulang praktek dari Rumah Sakit Midgar."
Pria itu menganggukkan kepalanya, "sebenarnya aku sudah memanggil petugas, tetapi sepertinya akan makan waktu lama jika menunggu mereka memanggil ambulans lagi."
Aerith menjadi semakin panik. "Ya ampun, maaf tapi … apakah tidak ada cara lain? Karena ini benar-benar situasi genting."
Pria itu menoleh ke peta stasiun, dan setelahnya dia berbicara melalui radio yang ada di pundak kirinya. Dia seorang polisi?
"Kunsel, di mana lokasimu sekarang?" katanya, "Oke, bawa mobilmu ke stasiun sektor 5, ada situasi darurat, secepatnya."
Sambungan radio selesai, dan setelahnya pria itu kembali tersenyum.
"Aku sudah memanggil bantuan," katanya, "Tapi, Dokter, Anda tidak keberatan ikut dengan kami ke Rumah Sakit?"
Entah mengapa, senyum pria ini mampu menenangkan hatinya yang sebelumnya begitu panik. Aerith menganggukkan kepalanya, dan setibanya di stasiun, ternyata sudah ada petugas yang mempersiapkan kursi roda untuk mempermudah perpindahan pasien. Di luar, sudah ada seorang polisi lain yang sudah bersiap dengan mobil patroli. Aerith tidak pernah naik mobil patroli sebelumnya, tetapi masa bodoh dengan itu, karena dia harus terus memperhatikan kondisi si pekerja kantoran yang masih tidak sadarkan diri, bahkan di tengah perjalanan, Aerith terus berkutat dengan stetoskopnya.
Untungnya, kondisi pekerja kantoran itu bisa terselamatkan. Menurut petugas IGD rumah sakit terdekat, dia terkena gejala stroke ringan dan sudah mulai sadarkan diri setelah diberikan pertolongan. Dua orang polisi itu dengan sabar menanyainya, dan kemudian membantunya menghubungi keluarga si pekerja kantoran. Sementara Aerith, dia duduk di depan IGD, dan dia sangat sangat lelah. Tidak disangka banyak hal yang terjadi hari ini.
"Ah, iya, aku harus menghubungi mama."
Kali ini, Aerith memutuskan untuk langsung menelepon saja daripada berkirim pesan, dan hanya butuh dua nada dering sampai akhirnya telepon itu diangkat.
"Halo, Ma."
"Aerith, kenapa kau belum pulang? Sudah jam 10 lewat, lho!"
"Maaf, Ma, tadi ada orang yang tiba-tiba pingsan, jadi aku menolong dan mengantarnya ke Rumah Sakit," jawab Aerith. "Aku anak yang baik dan suka menolong, iya, kan, Ma?"
"Kamu mengantarnya juga?"
"Em, sebenarnya yang mengantar adalah polisi yang kebetulan satu gerbong denganku."
"Polisi? Ya ampun," jawab Ivalna. "Terus, bagaimana kamu pulang nanti? Kereta yang kamu naiki tadi kereta terakhir, kan?"
Ah, iya juga, gumam Aerith. Namun, dia berusaha tetap ceria agar Ivalna tidak semakin cemas.
"Tenang, Mama, aku pasti akan pulang, kok!" jawab Aerith. "Oh, sepertinya polisi yang tadi sudah selesai, sudah dulu, ya, Ma."
"Ada-ada saja kamu ini. Ya sudah, hati-hati, ya."
Aerith memasukkan ponselnya, dan dua orang polisi itu berjalan menghampiri Aerith sambil berbincang, membuat Aerith berdiri dari kursinya.
"Bagaimana keadaannya?" tanya Aerith.
"Sudah membaik, dan keluarganya juga akan datang menjemput nanti," jawab polisi yang berambut hitam. "Omong-omong, Dokter, bolehkah saya tahu nama Anda?"
"Aerith, namaku Aerith."
Polisi berambut hitam itu menganggukkan kepalanya. "Oke, Dokter Aerith, di mana Anda tinggal?"
"Cukup panggil saya Aerith saja, saya tinggal di sektor 7, masih dua stasiun dari sini. Tetapi karena kereta sudah tidak ada, sepertinya saya naik naik taksi saja."
"Eits, tunggu dulu. Bagaimana jika kuantar? Rasanya tidak aman bagi wanita untuk jalan sendirian."
Aerith heran dengan sikap polisi ini yang sepertinya jadi berubah drastis, dia jadi tampak lebih … akrab?
"Anu, apakah tidak apa-apa? Lagipula, bagaimana dengan rekan Anda?"
Mendengar itu, polisi berambut hitam itu memandang ke polisi yang lain, dan kemudian kembali memandang Aerith sambil tersenyum.
"Ah, tidak apa-apa, Kunsel tinggal di dekat sini, makanya dia tadi bisa menjemput kita dengan cepat," jawabnya lagi. "Mari, kuantar Anda, Aerith."
Meski ragu, tetapi akhirnya Aerith menurut, toh, dia juga sebenarnya membutuhkan tumpangan. Kedua polisi itu kembali berbincang sebentar sampai akhirnya polisi berambut hitam itu mendampinginya masuk ke dalam mobil. Aerith baru bisa mengetahui nama polisi tersebut dari nama yang terbordir di seragamnya, Zack Fair.
"Zack … Fair."
"Ya?"
"Itu nama Anda, kan? Zack Fair."
Polisi bernama Zack Fair itu menganggukkan kepalanya sambil tersenyum, seperti seseorang yang sedang menikmati musik yang tengah didengar. "Yap, akhirnya Anda melihatnya juga, ya?"
"Iya, begitulah, karena tadi tertutup jaket juga."
Lagi-lagi, Zack hanya mengangguk sambil tersenyum. Sepanjang perjalanan, Zack terus mengajaknya bicara, mengenai apapun, seolah mencoba untuk menenangkan suasana hatinya. Dia orang yang ceria, mirip seperti dirinya, perbedaannya adalah Zack memiliki rasa percaya diri yang tinggi, bukan dalam arti yang buruk tentunya. Zack terus mengajak berbicara sambil sesekali menatap Aerith, dan tanpa disadari, mereka sudah tiba di sektor 7. Aerith memutuskan untuk turun tepat di depan portal yang dijaga oleh petugas.
"Terima kasih sudah mengantar saya malam-malam begini," kata Aerith.
"Yo, sama-sama," jawab Zack. "Hei, Aerith."
"Ya?"
"Mungkin terdengar aneh, tetapi sebenarnya kau tidak perlu bersikap begitu formal padaku, oke?" kata Zack. "Kami bukan robot, kok."
"….hah?"
"Maksudku, hmm … bagaimana, ya?" lanjut Zack sambil bergumam, lalu tiba-tiba dia seperti berkata 'ah!' tanpa suara. "Bolehkah aku minta nomormu?"
"….hah? Untuk apa, ya?"
"Ups, tidak boleh, tidak boleh, benar-benar kebiasaan buruk," gumam Zack lagi, kali ini sambil menepuk keningnya. "Baiklah, kalau begitu aku pergi dulu, ya, sampai jumpa lagi, Aerith!"
Reaksi Aerith hanya melongo, bahkan setelah Zack menutup kaca pintu penumpang dan pergi meninggalkannya. Butuh waktu sekitar sepuluh menit sampai akhirnya Aerith bisa melangkahkan kakinya lagi. Sambil tersenyum, dia menggelengkan kepalanya dan bergumam.
"Ada-ada saja."
