Author: Ritsuya gum
Katekyo Hitman Reborn milik Akira Amano-sensei
Warning: Mungkin ada typo karena author terlalu malas membaca ulang, OOC
.
.
.
Chapter 5
Tsuna sudah membeli bahan makanan dan tidak terasa sekarang sudah malam. Ternyata Tsuna terlalu lama membeli bahan makanan.
"Ahh.. apa aku akan dimarahi Reborn-san ya?" kata Tsuna sambil menatap langit yang sudah gelap.
Tsuna ingat seharusnya dia menghubungi Reborn dulu. Tsuna mengambil handphone nya yang ditaruh disaku nya dan menyalakan handphone nya.
Tapi handphone Tsuna tidak menyala.
"Ck, aku lupa mengisi handphone ku lagi"
Tsuna masih belum terbiasa dengan alat elektronik bernama handphone ini karena dia tidak pernah memakainya sebelumnya. Bahkan sudah beberapa kali Tsuna membawa handphone mati ke sekolah karena dia lupa mengisi daya handphone nya.
Padahal Reborn sudah sering memberitahu Tsuna agar selalu mengisi daya handphone tersebut jadi Reborn mudah untuk menghubungi Tsuna.
"Yasudahlah lebih baik aku bergegas kembali" walaupun Tsuna mengatakan seperti itu, tetap saja dia berjalan seperti biasa tanpa merasa tergesa-gesa sama sekali.
Tsuna sudah sudah hampir sampai dirumah nya, dijalan sepi sekali seolah-olah orang-orang sudah bersiap untuk tidur, padahal jam masih menunjukkan pukul 7 malam.
"Oii~ dame-Tsuna~"
Tsuna tau betul suara siapa itu, itu adalah suara Hiro.
Ketika Tsuna menengok kebelakang benar saja itu Hiro. Tapi bedanya sekarang hanya ada dia sendiri. Mungkin karena sekarang sedang hari libur jadi dia tidak bersama dua temannya yang lain.
"Sedang apa kau disini dame-Tsuna? Aku kebetulan sedang berjalan-jalan dan beruntung sekali bertemu dengan mu" seringai Hiro.
"Aku tidak punya uang sekarang" kata Tsuna dingin.
Hiro berdengus "Karena kau sudah membeli bahan makanan ditangan mu itu?"
Tsuna hanya diam tidak menjawab.
"Kenapa kau ada disini Tsuna? Bukannya panti tempat mu tinggal itu bukan disini?" kata Hiro sambil mendekat kearah Tsuna.
"Ohh aku tau, jadi perkataan ku waktu itu benar ya kalau kau menjual dirimu sendiri, itulah sebab nya kau bisa membeli barang-barang mahal itu" ejek Hiro.
Tsuna mengepalkan tangannya menahan emosi, ingin sekali dia meninju muka Hiro.
Hiro terkekeh "Apa sekarang kau mau merayu salah satu pelanggan mu ini dengan membuatkan dia makanan? Apa kau akan berpakaian yang membuat orang itu tergoda dengan mu dame-Tsuna"
Kesabaran Tsuna sudah habis, dia melancarkan tinju nya kearah muka Hiro. Tapi Hiro lebih cepat. Dia memegang tangan Tsuna.
"Oh? Apa kau baru saja ingin memukul ku dame-Tsuna?" kata Hiro dengan nada yang dingin.
Seketika muka Tsuna menjadi pucat, secara fisik sudah jelas dia kalah dengan Hiro, dan karena Tsuna terbawa emosi dia jadi memukul Hiro yang tentu saja bisa dengan mudah dia tangkis.
Hiro menyeringai dan langsung memukul muka Tsuna dan Tsuna langsung tersungkur ke aspal.
"Boleh juga kau dame-Tsuna sudah berani melawan ku" kata Hiro sambil menendang Tsuna berkali-kali.
Hiro terus memukuli Tsuna sampai babak belur. Situasi Tsuna juga tidak mendukung karena jalanan yang dilewatinya benar-benar sepi sehingga tidak akan ada orang yang menolong nya.
Setelah Hiro puas memukul Tsuna, dia pun berhenti.
"Sudahlah, sudah tidak seru karena kau tidak melawan seperti tadi"
Hiro pun beranjak pergi, tapi sebelum itu dia melihat kantong belanjaan tersebut dan menginjak-injak isinya.
Melihat itu Tsuna langsung memegang kaki Hiro dengan susah payah karena tubuh nya sudah penuh lebam.
Hiro pun melihat kearah kaki nya yang dipegang Tsuna lalu melihat kearah Tsuna.
"Jangan… kumohon ja..ngann…" kata Tsuna susah payah.
"Ck" Hiro pun langsung menjauhkan tangan Tsuna dari kaki nya dengan menendang Tsuna lagi.
"Akhh.." Tsuna semakin merasakan nyeri yang ada di perut nya. Kepalanya sudah pusing dan mulut nya sudah mengeluarkan darah segar.
Dia melihat Hiro sudah pergi menjauh, Tsuna sudah merasa aman sekarang. Yang Tsuna pikirkan sekarang adalah bagaimana Tsuna akan menjelaskan kepada Reborn nanti.
Tsuna berusaha bangun dengan susah payah dengan berpegangan kepada dinding yang ada di dekatnya. Dia melihat kearah bahan makanan yang sekarang sudah tidak layak lagi untuk dimasak.
"Habis lah aku" batin Tsuna. Dia berusaha memungut bahan makanan itu dengan susah payah karena perut nya yang nyeri ketika dia bergerak.
Setelah membuang bahan makanan itu Tsuna berjalan terhuyung-huyung menuju kerumah.
Sesampai nya disana dia membuka pintu rumah tapi ternyata terkunci.
"Apa Reborn-san sudah tidur?" Tsuna merogoh kantong celana nya mencari-cari kunci rumah.
Tidak ada.
Tsuna ingat tadi dia tidak membawa kunci karena Tsuna kira dia akan pergi sebentar saja.
"Kenapa kesialan selalu mendatangi ku terus menerus" miris Tsuna kepada dirinya sendiri.
Tsuna memutuskan untuk duduk di depan pintu rumah nya sambil bersandar karena kaki nya sudah lemas.
"Aku tidak masalah kalau kali ini Reborn-san memarahi ku atau bahkan mengusirku. Aku hanyalah beban untuk nya. Mengisi daya handphone ku saja aku tidak melakukannya, padahal Reborn-san sering memberitahu ku"
Tsuna terdiam, lalu tiba-tiba tertawa "Lihatlah dirimu dame-Tsuna, sekarang kau menjadi banyak bicara dan terlalu banyak berfikir hanya karena khawatir akan dibuang oleh Reborn-san"
Tsuna teringat semenjak dia diadopsi oleh Reborn dia belum pernah sekali pun memanggil nya dengan sebutan ayah.
"Kalau aku masih diberi kesempatan untuk tinggal disini haruskah aku memanggil nya dengan sebutann ayah?" oceh Tsuna kepada dirinya sendiri.
Kesadaran Tsuna sudah semakin menipis, nafas nya juga semakin berat. Terlebih lagi perut nya terasa sangat nyeri. Hiro benar-benar memukul nya habis-habisan.
Ketika Tsuna sudah sampai pada batasnya dia mendengar suara pagar terbuka dan samar melihat orang berlari kearah nya.
"Ayah…"
Tsuna pun kehilangan kesadarannya.
Reborn POV
"Sudah jam 5, haruskah aku menelefon nya?"
Reborn berusaha menghubungi Tsuna tapi ternyata handphone Tsuna mati.
Reborn berdengus "Pasti dia lupa mengisi daya handphone nya lagi"
Akhirnya Reborn membiarkan saja Tsuna mengingat dia bersama dengan Gokudera.
Sekarang sudah jam 6 tapi tidak ada tanda-tanda Tsuna akan pulang kerumah. Reborn pun menghubungi Gokudera karena percuma saja menghubungi Tsuna.
"Halo Reborn-san" kata Gokudera ketika sambungan terhubung.
"Ini sudah hampir malam, suruh Tsuna pulang" kata Reborn tegas.
"Eh tapi aku sudah tidak bersama Tsuna, Reborn-san" kata Gokudera bingung.
"Apa maksud mu?"
"Aku dan Tsuna sudah pulang sekitar jam 5 tadi dan kami berpisah saat sudah hampir sampai dirumah Tsuna" jelas Gokudera.
"Cepat cari Tsuna, aku akan membunuh mu kalau Tsuna sampai terluka Gokudera Hayato"
Reborn langsung mematikan telfon nya dan keluar rumah dengan terburu-buru.
"Apapun kemungkinannya jangan sampai bocah itu diculik oleh 'mereka'"
Sudah satu jam Reborn mencari Tsuna tapi hasil nya nihil.
Reborn menelefon Gokudera untuk kesekian kalinya.
"Apa kau belum juga menemukannya?!" bentak Reborn.
"Belum Reborn-san. Tadi aku bertanya ketempat sushi kami makan tadi tapi katanya Tsuna tidak datang kesana"
Reborn berdecih dan mematikan handphone nya. Dia kembali kerumahnya karena ingin mengambil beberapa barang.
Ketika membuka pagar rumah dia terkejut karena ada orang yang terduduk di depan pintu rumahnya. Dia lebih terkejut lagi karena orang itu adalah Tsuna.
Dia langsung menghampiri Tsuna, Tsuna melihat kearah nya sebelum kesadarannya semakin menipis.
"Ayah…"
Reborn terkejut karena Tsuna memanggil nya dengan sebutan ayah untuk pertama kalinya. Tapi dia lebih terkejut lagi ketika melihat banyak luka memar di sekujur tubuh Tsuna dan mulut nya ada bekas darah yang sudah mengering.
Tsuna pun kehilangan kesadarannya.
Normal POV
Reborn langsung bergerak cepat tapi hati-hati menggendong Tsuna kedalam. Ketika tau luka-luka tersebut lebih parah berada di perut Tsuna, Reborn langsung geram. Siapa yang berani-berani nya melakukan ini.
Tapi Reborn saat ini harus fokus dulu kepada Tsuna, luka-luka nya harus diobati terlebih dahulu.
.
.
.
TBC
