Sakura menggigit roti lapis di depannya dan mengerutkan kening. Tidak aneh bila rasanya seburuk ini, roti lapis tersebut didapatkannya hanya dengan seratus yen saja. Sakura menghela nafas dan berusaha untuk memaksa roti lapis itu masuk ke dalam perutnya.

Sudah seminggu lebih ini Kakashi benar-benar membuatnya kesal tanpa henti. Di setiap kesempatan, ketika ia, Mei, dan Kakashi berada dalam ruangan dan waktu yang sama, Kakashi akan dengan sengaja menunjukkan kasih sayangnya kepada Mei. Awalnya Sakura tidak terlalu peduli pada semua itu, tapi lama kelamaan ia tidak tahan disuguhi film roman-picisan-menjurus-porno yang terus-terusan ia lihat.

"Ugh, Kakashi bodoh." Ujarnya sambil membanting plastik pembungkus roti lapis ke dalam tong sampah di dekatnya. Ia beranjak dari koridor tersebut dan berjalan menuju lorong lantai dua dimana teman-temannya sudah menunggunya.

Sakura tersenyum sekenanya dan menyandarkan kepalanya ke bahu Ino sesegera ia duduk di atas kursi. Hinata menatapnya dengan khawatir, ia mengusap tangan Sakura beberapa kali dan memijatnya perlahan.

"Kau mau aku membersihkan auramu?" tanya Hinata pelan.

Sakura tersenyum kecil. "Tidak… terima kasih."

"Kau harus mencobanya, Sakura. Hinata membersihkan auraku kemarin dan Ayahku menaikkan limit kartu kreditku." Ujar Ino, lalu mengangkat kedua bahunya. "Jangan tanya padaku apa hubungannya. Aku tidak sepintar Sai."

"Aku ingin sekali pulang… apakah kalian mau menemaniku bolos?"

"Sangat tidak bijaksana, Sakura. Kelompok kita belum maju presentasi, kau ingat?" Hinata berujar sambil memainkan ponselnya. "Aku rasa minggu ini urutan kita."

Hinata benar. Satu jam kemudian, mereka berada di depan kelas besar dan dengan cukup gugup mempersiapkan materi presentasi. Kakashi duduk dengan kedua tangan terlipat—sangat mengintimidasi, terima kasih—tidak jauh dari bangku terdepan. Beberapa mahasiswi memperhatikannya secara terang-terangan semenjak pria itu melangkahkan kaki ke dalam kelas. Bagiamana tidak?

Kakashi mengubah penampilannya selama beberapa hari terakhir ini. Ia memakai celana jeans. Kacamata baca yang biasanya ia simpan rapi di dalam kotak kini ia selipkan di ujung kemeja. Rambutnyapun juga sudah tidak tersisir rapi seperti biasanya, Sakura pikir ia dengan sengaja mengacak-acak rambut itu agar ia terlihat…

…seperti model.

Sakura menggelengkan kepala ketika menyadari kalau ia juga memandangi Kakashi selama beberapa saat. Gadis itu duduk di balik layar laptop, bersiap menjadi operator bagi Ino yang akan menjelaskan materi terlebih dahulu sambil membaca materi bagiannya.

"…konteks sosial yang bisa kita lihat disini dipengaruhi oleh individu di sekitar, status para pelaku, latar waktu…"

Mata gadis itu memicing, mendapati Kakashi tidak memperhatikan ucapan Ino dan malah asyik berbicara dengan Tenten. Oh, ayolah, Kakashi… kau bisa melakukan lebih baik dari ini.

Kakashi menangkap tatapan gadis itu dan melengos, sebuah senyuman kecil terpatri di bibir pria itu. Ia mencondongkan tubuh ke arah Tenten, membisikkan sesuatu ke telinga gadis itu, yang disambut oleh rona merah instan di kedua pipinya.

"Sakura!"

Bisikan Hinata mengagetkannya. Sakura berdiri dengan sedikit gelagapan—iapun segera mengambil tempat Ino sebelumnya dan berdeham pelan.

"Berikut adalah contoh dari penjelasan yang telah—"

"Louder."

Sakura mengangkat kepalanya. Matanya bertemua kedua mata Kakashi yang sekarang menatapnya dengan tajam.

"—dijelaskan oleh Ino." Lanjut Sakura, dengan suara yang lebih keras. "Aku akan menjelaskan analisa teks secara keseluruhan… kelompok kami mendapat teks dari koran The New York Times, tahun 2020."

Sakura memberikan kode pada Hinata lewat lirikan mata sementara tangannya menekan pointer yang ada di genggaman.

"Yang pertama, kata kerja kolektif. Kami menemukan setidaknya lima—"

"Use English."

Kakashi kembali menginterupsinya. Kali ini wajah Sakura memerah karena menahan amarah, dan seisi kelas sepertinya mengetahuinya. Beberapa anak yang bergosip di belakang kelas sampai menghentikan percakapan mereka.

"…please." Lanjut Kakashi dengan nada yang teramat sopan.

Sakura menarik nafas dalam-dalam. Sabar, Sakura. Kau tahu betul kenapa laki-laki setengah iblis itu melakukan ini padamu, dan kau tidak dapat membiarkannya menang.

"We found at least five collective nouns from the source provided," ujar Sakura sambil menunjuk beberapa lingkaran merah yang muncul di layar presentasi. "Three modified nouns, pre and post, and one subjective portraying."

"You found no indirect quotation, then?" tanya Kakashi.

Sakura mengangkat kepalanya. Sebuah senyuman lebar berhasil dipaksanya.

"I'm not finished…" ujar Sakura, menelan ludah. "Sir."

Gadis itu membalikkan tubuh dan membaca layar selama beberapa saat sekaligus menyembunyikan matanya yang berair. Serius, Kakashi? Kau berusaha untuk mempermalukanku dihadapan semua orang seperti ini? Benar-benar dewasa, ujar Sakura pada dirinya dalam hati. Setelah merasa siap, Sakura kembali menatap seisi kelas dengan senyuman terpaksa.

"There were three indirect quotations… right there." Sakura berkata pelan sambil menunjuk lingkaran merah yang muncul mengiringi ucapannya. "Several ambiguities were also portrayed from the source. So if you let me, I'll start explaining each of the point I've stated before. The first collective noun we found is 'the residents'. It refers to the people who lived near the crime scene, namely the victim's neighbours. So the residents are these people who lived in Green Orchid Estate, California. While the next collective noun is the boys. The boys refers to—"

"Sakura."

Sialan. Apa lagi kali ini?

"Yes, Sir." Jawab Sakura pelan.

"Your explanation is boring." Kata Kakashi tanpa ampun. "It's very, very… shallow. Even my dog analyzes the text better than you."

Ino melirik temannya dengan takut. Ia bertukar pandang dengan Hinata, sama-sama bingung tentang apa yang terjadi diantara dua orang di depannya. Kakashi tidak pernah berbicara seofensif ini sebelumnya, dan ia merasa penjelasan Sakura tidaklah dangkal. Kenapa dua orang itu terlihat bisa saling membunuh kapan saja.

"Really, Sir?" tanya Sakura sambil tersenyum. "I thought you have no dog."

"In a matter of fact, I do."

"I wonder where you found him, Sir… say, the mirror?"

Seisi kelas menahan nafas secara bersamaan, tidak terkecuali Hinata dan Ino yang sekarang benar-benar lemas. Mereka tidak tahu harus membela Sakura atau tidak, karena harga diri Sakura benar-benar diinjak oleh Kakashi selama beberapa belas menit terakhir sementara nilai mereka berada di tangan Kakashi. Hanya detik jarum jam yang jauh belakang mereka terdengar memenuhi ruangan.

Kakashi bangun dari tempat duduknya dan tersenyum.

"Interesting. You kiss your boyfriend with that mouth?"

"Yeah. He kinda likes it, though."

"That's it. Haruno, laboratorium komputer. Sekarang."

Sakura memutar matanya dengan kesal dan tersenyum sekilas ke arah Ino dan Hinata yang memucat. Ia berjalan ke arah tempat duduknya dan menarik tas—ia merasa ia tidak harus berada di dalam kelas lagi setelah Kakashi memanggilnya seperti ini—lalu mengikuti Kakashi yang sekarang sudah berada jauh di depannya.

Sakura sama sekali tidak merasa takut. Ia tidak mendapati kesalahan apapun pada dirinya, setidaknya sebelum ia mengatai Kakashi secara tidak langsung tadi. Ada sembilan belas pasang mata yang menjadi saksi mereka tadi dan Sakura yakin mereka semua akan mengatakan bahwa Kakashi-lah yang menyulut api di antara mereka. Sakura masuk ke dalam laboratorium Kakashi dan mendapati Kakashi berada di salah satu kursi, melipat kedua tangannya di depan dada.

"Apa maumu?"

"Apa maumu?" balas Sakura kesal. "Kenapa kau memperlakukanku seperti itu?"

"Penjelasanmu benar-benar dangkal. Aku hanya berbicara fakta."

"Aku juga berbicara fakta kalau begitu."

Kakashi menatap Sakura yang ada di depannya. Meskipun gadis itu berdiri dan ia duduk, ia sama sekali tidak merasa terintimidasi.

"Kau mempermalukanku didepan kelas, Kakashi." Ujar Sakura marah, ia mencengkram meja Kakashi sampai buku-buku tangannya memutih. "Aku tahu apa yang kukerjakan, aku tahu kalau aku tidak salah dalam menjelaskan materi yang kau berikan padaku. Kau sebut dirimu profesional?"

Kakashi terdiam selama beberapa saat. Sakura melepaskan cengkramannya dan membalikkan badan, duduk di salah satu kursi yang ada di depan Kakashi. Ia menopang kepalanya dengan satu tangan dan menatap Kakashi masih dengan tatapan tidak sukanya.

"Aku tahu. Aku hanya sangat merindukanmu." Ujar pria itu akhirnya, angkat suara.

Sakura tertegun mendengar kata-kata tersebut. Meskipun wajah Kakashi masih sangat menyebalkan, tatapan tajamnya telah berangsur-angsur melembut dan menghangat seperti biasa. Sakura menghela nafasnya dan menggelengkan kepala.

"Sungguh? Kau tahu, kalau kau sangat kekanakan?"

"Hei, jangan salahkan aku. Kau bahkan tidak melirikku sama sekali." Ujar Kakashi defensif. "Apa kau puas menyiksaku seperti ini?"

"Aku sama sekali tidak berniat untuk… hei!"

Sakura tersentak ketika Kakashi dengan mudah menariknya mendekat—jiu jitsu itu bukan main, Kakashi menjadi sangat kuat hanya dalam beberapa minggu saja—. Meja tanam mereka tumpang tindih secara paksa sementara Sakura mengerjapkan matanya kaget.

"Aku akan mengakhiri hubunganku dengan Mei." Ujar Kakashi lirih. "Berjanjilah untuk jangan pernah mengabaikanku."

Sakura terdiam selama beberapa saat sebelum akhirnya mengangguk.

"Semudah itu?" tanya Sakura bingung. Ia menghela nafas ketika Kakashi mengangguk dengan sungguh-sungguh. "Baiklah…"

"Juga maafkan aku untuk tadi. Aku keterlaluan…"

"Bagus kalau kau menyadarinya." Gumam Sakura pelan.

"Aku benar-benar takut, Ino… bagaimana kalau Sakura mendapat surat peringatan? Bagaimana kalau Sakura di keluarkan dari kampus?" tanya Hinata panik. Ia mencengkram lengan gadis pirang di depannya sambil berusaha menahan tangis meskipun air matanya sudah merangsek keluar. "Ada apa sebenarnya dengan Sakura dan Hatake sensei? Kenapa mereka begitu membenci satu sama lain?"

"Entahlah, aku juga bingung…"

"Sepertinya Sakura memang akan dikeluarkan. Setelah selama ini mereka belum kembali, mungkin Sakura sekarang sedang dibawa ke kantor kepala jurusan untuk diberikan detensi."

"Ummh!"

Sakura tersentak ketika Kakashi dengan mudah mengangkat dan mendudukkannya di atas meja operator yang berada di ujung kelas. Punggungnya menabrak dinding cukup keras, untungnya Kakashi sempat menyelipkan tangannya diantara punggung gadis itu dan dinding untuk mengurangi rasa sakitnya. Kedua tangan Sakura dengan tidak sabar menarik rambut Kakashi—yang sebenarnya sudah ingin ia lakukan sejak Kakashi memperlakukannya tadi, hanya saja tidak seperti ini—sementara bibir pria itu masih dengan lapar menciuminya.

"Ka… kashi…" ujar Sakura saat Kakashi mulai berpindah ke lehernya. "Hentikan… hei, hei!"

Kakashi berhenti dan kembali memandang Sakura dengan tatapan yang sama ketika mereka menonton film Titanic beberapa hari lalu. Pria itu mengembalikan kontrol dirinya kembali, lalu mengangguk-anggukkan kepala.

"Baiklah." Ujarnya sambil merapikan kemeja. "Aku akan menahan diri disini."

"Apa maksudnya kata-katamu itu? Kau lupa kau memiliki Mei-nee di apartment?"

"Aku tidak lupa… bukan berarti aku tidak bisa melakukannya dengan dia di apartment."

Wajah Sakura memerah. Ia memukul punggung pria itu dengan kesal. "Kau benar-benar tidak punya malu!"

.

.

Sakura melepaskan sepatunya dan memasukkan kakinya ke dalam sandal rumah. Ia melemparkan tas selempangnya secara asal ke dalam kamar dan berjalan menuju dapur untuk mangambil sekaleng kola dingin.

"Hai!"

Gadis itu tersentak dan hampir saja menjerit. Ia dengan cepat tersenyum ke arah Mei yang berdiri di depannya, hanya dengan kemeja besar Kakashi—tanpa bawahan—sambil mengulurkan sekotak churros yang entah didapatnya darimana.

"Churros?"

"Tidak, terima kasih." Ujar Sakura sambil mengacungkan kaleng kola yang dipegangnya. "Apa yang sedang kau lakukan, Mei-nee?"

"Aku merasa sangat lapar… entahlah, sudah seminggu belakangan aku tiba-tiba lapar seperti ini."' ujar Mei bingung. Ia mendudukkan diri pada kursi makan putih di dapur tersebut dan tersenyum ke arah Sakura yang sekarang ikut duduk di dekatnya. "Bagaimana kuliahmu? Kau lelah? Kau terlihat cukup… bersemu."

Sakura refleks memegang pipinya sendiri dan menggelengkan kepalanya dengan gugup. "Tidak… udara hanya sedang cukup panas hari ini."

Mei terdiam sebentar sebelum akhirnya ia tersenyum lebar.

"Kau sedang menyukai seseorang ya?"

"Apa?!"

"Sakura, saat ini musim gugur." Ujar Mei lembut. "Saat yang tepat untuk memakai jaket bulu."

Sial, saat-saat seperti ini kemampuan mengarang bebasku berhenti bekerja, umpat Sakura dalam hati. Ia hanya tersenyum sekenanya sambil memandangi kaleng kolanya yang sekarang sudah tinggal setengah dan menikmati kesunyian yang hinggap diantara mereka berdua.

Pintu apartment terbuka dan langkah berat Kakashi yang familiar terdengar oleh kedua perempuan itu. Berbeda dengan Mei yang langsung bergerak menyambutnya, Sakura berjalan gontai menuju kamarnya sendiri, berusaha menghindari pria itu. Ia hanya tidak bsia menerima kenyataan bahwa Kakashi adalah laki-laki yang sangat berbeda ketika Mei berada di dekatnya.

Sakura mengerutkan keningnya saat melihat beberapa barangnya telah berubah posisi. Gadis itu memperhatikan laci mejanya yang bahkan tidak tertutup rapat dan juga buku-bukunya yang terlihat sedikit berantakan.

"Mei-nee?" panggil Sakura pelan, mendapati gadis itu tengah menyandar manja ke dada Kakashi di ruang tengah. "Ehm… apa kau masuk ke kamarku?"

"Kamarmu? Tentu tidak, honey." Ujar Mei lembut.

"Apa kau tahu kenapa barang-barang di kamarku berantakan?"

"Ah, aku lupa memberitahumu, pacarmu tadi datang kesini." Ujar Mei sambil tersenyum. Kakashi dan Sakura sontak bertukar pandang, bingung akan perkataan Mei. "Kau tahu, laki-laki tinggi dengan rambut merah menyala? Alis tipis dan sangat imut?"

Sakura merasa nafasnya tercekat dan lututnya lemas seketika. "Gaara-nii…?"

"Gaara! Tentu saja, bagaimana aku bisa melupakan nama unik itu." Ujar Mei. "Ada barang yang tertinggal di kamarmu, katanya… aku membiarkannya masuk dan memintanya untuk mencarinya sendiri. Kau ternyata nakal juga, Sakura! Apa yang kau lakukan…"

Sakura tidak dapat mendengarkan lanjutan kata-kata Mei ketika ia menyadari kalau ia mungkin saja berada dalam masalah besar sekarang. Ia membalikkan tubuh dan masuk ke kamar, jatuh terduduk di atas tempat tidur, dan memejamkan matanya.

Ia tersentak pelan ketika ponselnya bergetar dua kali. Sakura melirik ponselnya harap-harap cemas, lalu ia memejamkan kedua matanya dengan kesal. Nama kontak Gaara yang dilihatnya di layar ponsel sudah cukup membuat tubuhnya menjadi panas dingin seperti ini. Seseorang kemudian masuk ke kamarnya, menutup pintu dan berlutut dengan satu kaki di depannya. Sakura membuka mata—mendapati Kakashi tengah menatapnya tidak kalah panik.

"Gaara-nii," ujar Sakura lemas, setengah melempar ponsel itu ke arah Kakashi. Kakashi dengan mudah menangkapnya dan membuka kunci layar Sakura—yang tidak pernah digantinya semenjak ia mendapatkan ponsel pertamanya—lalu menelan ludah setelah selesai membaca pesan yang dikirimkan oleh Gaara.

"Tidak terlalu buruk, Sakura." Ujar Kakashi menenangkan sambil mengacungkan ponsel tersebut ke arahnya. "Baca ini."

Sakura memicingkan matanya, berusaha memfokuskan pandangannya yang sedikit kabur.

From: Gaara

Aku tidak tahu bagaimana harus mengatakan ini padamu, Sakura, tapi apa kau yakin Kakashi tidak mempunyai perempuan simpanan?

Kedua mata Sakura membelalak kaget. "Apa maksudmu tidak terlalu buruk? Ini bahkan jauh lebih parah!" desis Sakura panik, berusaha membalas pesan Gaara secepat mungkin kalau saja Kakashi tidak merebut ponselnya. "Kembalikan! Kalau kita membiarkan Gaara-nii salah paham seperti ini, bisa-bisa—"

"Sakura."

Sakura terdiam memandang pria di depannya. Kakashi tersenyum menenangkan, kedua tangannya terasa hangat di atas kedua tangan Sakura sekarang.

"Biarkan seperti ini dulu. Tidak apa-apa kalau memang Gaara membenciku sekarang." Ujar Kakashi lembut. Gemuruh jantung Sakura melambat selama beberapa saat, apalagi saat ibu jari Kakashi mengusap punggung tangannya dengan halus. "Aku akan menyelesaikan urusanku dulu dengan Mei, setelah itu kita bicara padanya. Kau jangan khawatir, mengerti?"

Sakura menggigit bibirnya. Tidak tahu harus berkata apa.

"Hei," panggil Kakashi pelan, menyentuh bibir gadis di depannya. "Nanti terluka."

Sakura mengangguk lesu dan hanya terdiam ketika Kakashi bergerak untuk mengecup keningnya. Baru saja ia memejamkan mata saat melihat Kakashi mendekat, ketukan di pintu mengagetkan mereka berdua.

"Kashi?" panggil Mei dari luar. "Kau berjanji untuk menemaniku hari ini, 'kan? Apa aku pergi sendiri saja?"

"Ah… ya—ya! Aku keluar sebentar lagi." Ujar Kakashi sedikit gelagapan. Pria itu mengusap pucuk kepala Sakura beberapa kali dan menghilang di balik pintu. Sakura kembali menghela nafas, ia merebahkan tubuhnya dengan sedikit kasar di atas kasur. Tangan kanannya mengangkat ponsel dan membanting ponsel tersebut beberapa saat kemudian.

Perasaan sialan…

Sakura membuka mata ketika menyadari ada orang lain di kamarnya saat itu. Mei tersenyum ke arahnya, duduk tanpa mengeluarkan suara sedikitpun di tepi kasur dan menarik tangan Sakura dalam genggaman.

"Aku tidak sempat memasak hari ini… tapi aku sudah memesankan pizza untukmu." Ujar Mei lembut. "Jangan tidur, ya? Kalau kau tidak makan, bisa-bisa perutmu sakit."

Bagus. Bagaimana aku bisa membenci wanita sebaik ini? pikir Sakura kesal. Senyuman lebar muncul diwajah gadis itu, ia mengangguk patuh ke arah Mei. Matanya melirik sekilas ke arah Kakashi yang sekarang berdiri di depan pintu—memperhatikan mereka berdua. Ugh, dasar laki-laki.

"Kunci pintunya, Sakura!" ujar Mei.

Sakura mengangguk-angguk malas dan mengganti bajunya. "Pintunya, 'kan, akan otomatis terkunci," ujarnya pada diri sendiri. Ia berjalan ke arah lemari tersembunyi di kiri lorong dan memasukkan bajunya tadi ke dalam mesin cuci.

Entah sudah berapa lama ia tidak sendirian di dalam apartment seperti ini. Sakura tersenyum senang, menjatuhkan dirinya di atas sofa.

"Salon sepertinya menyenangkan…"

.

.

Kakashi dan Mei turun dari dalam mobil dan beriringan masuk ke dalam gedung rumah sakit di depan mereka. Mei tampak sudah hafal dengan rumah sakit tersebut—beberapa perawat bahkan menyapanya selama perjalanan menuju ke kamar rawat. Mereka masuk ke dalam sebuah kamar di lantai lima dan terdiam setelahnya.

"Ayah…"

Mei memposisikan diri di samping tempat tidur dan menggenggam tangan kiri ayahnya dengan kedua tangan. Kakashi membungkukkan tubuhnya sekilas, lalu pria itu duduk di tas sofa dan membiarkan Mei menikmati momennya saat ini.

Sepuluh menit berlalu tanpa suara ketika akhirnya pintu ruangan terbuka. Seorang dokter paruh baya masuk ke dalam—senyumnya ia berikan pada Kakashi dan Mei yang masing-masing segera berdiri ketika ia masuk. Setelah melakukan pengecekan singkat pada pasiennya, dokter tersebut memutar tubuhnya menghadap Mei.

"Nona Terumi?" panggilnya lembut. "Apa kau ada waktu untuk ikut aku ke kantor? Ada beberapa progres yang ingin aku sampaikan padamu…"

"Ah, tentu saja, dokter." Ujar Mei sambil tersenyum. Ia berjalan pelan ke arah Kakashi dan menepuk bahu pria itu pelan. "Aku pergi dulu."

"Ya."

Kakashi bangkit dan duduk di tempat Mei tadi. Ia tersenyum sedih ke arah Kaito Terumi. Sebelum terbaring tidak berdaya seperti ini, Kaito adalah salah satu pebisnis paling sukses seantero Jepang dan kekayaannya tidak perlu diragukan lagi. Ia mengalami kebrangkutan beberapa tahun lalu yang membuatnya harus menjual seluruh kekayaannya, dan mnempatkan putri semata wayangnya pada posisi sulit selama bertahun-tahun. Berbeda dengan Sakumo Hatake yang tidak terlalu tertarik untuk berteman dengannya, Kakashi benar-benar mengagumi sosok Kaito dan bahkan mendatangi beberapa seminar besar yang mengundang Kaito sebagai pembicaranya. Sebelum memutuskan untuk menjadi dosen, cita-citanya adalah menjadi seseorang sesukses Kaito.

Saat pertama kali berkencan dengan Mei, sebenarnya Kakashi sama sekali tidak mengetahui kalau ia adalah putri Kaito. Yang Kakashi ketahui adalah, ia menyukai gadis yang merupakan teman dekat Kurenai saat itu, kapten tim voli andalan sekolah, dan juga gadis tercantik di angkatan mereka. Pada saat pergi ke rumah Mei untuk pertama kalinya, kebahagiaan Kakashi sangatlah besar sampai-sampai ia yakin kalau ia memang ditakdirkan untuk bersama gadis itu.

Namun sekarang perasaannya bercabang. Kakashi menatap Kaito dengan perasaan bersalah dan menyadari ada perasaan tidak enak menjalari hatinya.

"Aku harus bagaimana, Paman?" tanya Kakashi lirih.

Lamunannya terhenti ketika dering ponsel yang tidak terlalu nyaring terdengar. Kakashi mendekatkan ponsel tersebut ke telinganya.

"Ya?"

"Kashi, apa kau mau menemaniku mencari teh gingseng?" tanya Mei di seberang sana. "Dokter bilang Ayah bisa sadar kapan saja, dan kurasa akan sangat baik untuk menyambutnya dengan teh gingseng kesukaannya… itupun kalau kau mau…?"

"Apa yang kau katakan, tentu saja aku mau." Ujar Kakashi sambil sedikit terkekeh. Ia berjalan keluar dari kamar dan berbelok menuju lorong tempat lift berada. "Dimana aku bisa menemuimu?"

"Lobi lantai satu? Aku akan ke kamar mandi sebentar dan menyusul setelahnya."

"Baiklah."

Kakashi sampai di lantai satu beberapa saat kemudian dan melangkahkan kakinya menuju lobi utama. Tidak banyak orang yang memenuhi tempat duduk di ruangan itu, beberapa perawatpun tampak tidak terlalu kerepotan di sudut ruangan. Ia berjalan menuju konter utama administrasi dan melemparkan senyumannya pada seorang pegawai di balik sana.

"Ada yang bisa kubantu, Tuan?"

"Ah, ya, aku hanya ingin bertanya… apakah masih ada tagihan administrasi untuk kamar 505?" tanya Kakashi. Belum pernah ia sekalipun membantu Mei untuk biaya perawatan Kaito, dan pria itu merasa inilah saatnya untuk membantu Mei mengingat situasi ekonominya yang sudah stabil sekarang.

"Baik, mohon tunggu sebentar."

Pegawai tersebut mengamati komputernya selama beberapa saat lalu kembali menatap Kakashi.

"Seperti biasa, Tuan, tagihan untuk kamar 505 sudah dibayar tepat tanggal 15." Ujarnya sopan.

"Tanggal 15?" tanya Kakashi. Keningnya berkerut.

"Benar."

Kakashi mengucapkan terima kasih singkat dan membalikkan tubuhnya. Ia dan Mei benar-benar saling terbuka satu sama lain dan ia sangat tahu kalau Mei bilang padanya saat itu ia akan mendapatkan bayaran setiap akhir bulan. Logikanya, ia pasti akan langsung melunasinya karena akan banyak sekali pengeluaran yang dilakukan setelah itu.

Kakashi memutuskan untuk kembali lagi ke konter tersebut dan tersenyum kecil.

"Boleh aku tahu siapa yang melakukan pelunasan tagihan tersebut?"

"Tentu saja, tunggu sebentar." Ujar wanita itu. Ia menatap layar komputernya selama beberapa saat dan menatap Kakashi beberapa saat kemudian. "Selalu orang yang sama, Tuan. Danzo Shimura."

"Danzo Shimura?"

Dimana aku pernah mendengar nama itu? Pikir Kakashi bingung. Ia yakin Mei tidak memiliki kerabat yang dengan senang hati membantunya karena Kaito memiliki utang yang sangatlah banyak, lalu siapa Danzo Shimura itu? Meskipun tidak yakin pada pikirannya sendiri, entah kenapa nama itu sangatlah tidak asing baginya.

"Danzo Shimura…" gumam Kakashi pada dirinya sendiri sambil berjalan menuju salah satu kursi yang berada tidak jauh dari sana. Ia menarik ponsel dan membuka dapat ia gunakan untuk mencari tahu siapa itu Danzo Shimura.

"Shimura… Shimu—Souta?"

Keningnya berkerut. Ada sebuah kontak di ponselnya dengan nama Souta Shimura. Kakashi mencoba mengingat-ingat lagi siapa itu Souta Shimura dan kenapa ia memiliki nama belakang yang sama dengan orang yang melunasi biaya perawatan ayah Mei, namun pada akhirnya Kakashi tidak dapat menemukan petunjuk apapun.

Tiba-tiba saja sesuatu masuk ke dalam pikirannya. Kakashi membuka grup chat angkatannya dulu dan melihat beberapa foto yang dibagikan oleh teman-temannya dulu di dalam grup tersebut. Ia membuka salah satu foto, dan matanya langsung saja terpaku pada seorang laki-laki berambut hitam yang berdiri tidak jauh darinya saat itu.

"Hah… yang benar saja."

"Kashi!"

Mei melambaikan tangan ke arahnya dan Kakashi memandang gadis itu selama beberapa saat. Pikirannya berkecamuk dan saling melawan satu sama lain, namun Kakashi berhasil memaksakan sebuah senyuman palsu dan berjalan ke arah gadis itu dengan gerakan tenang. Mereka berjalan bergandengan ke area parkiran dan masuk ke dalam mobil.

Mei memasang sabuk pengamannya dan menatap pantulan wajahnya sendiri lewat kaca yang selalu ia bawa di dalam tas, lalu menyadari kalau Kakashi tidak juga menjalankan mobilnya.

"Kashi?" panggil Mei pelan. "Apa ada masalah?"

Kakashi melirik gadis itu sekilas dan tersenyum kecil. "Aku hanya ingin bertanya, kau tahu… pertanyaan tidak terlalu penting."

"Mmm, ya. Tentu saja."

Kakashi melirik ponsel di dasbor mobil dan Mei bergantian. Ia menghela nafas singkat dan memejamkan matanya sebelum akhirnya angkat suara.

"Kau masih berhubungan dengan Souta Shimura?"

Mei berhenti memperhatikan hidungnya sendiri dan meletakkan cermin tadi ke dalam tas dengan gerakan lambat. Sebuah senyuman canggung ia berikan ke arah Kakashi dan ia mengangkat kedua bahunya.

"Tentu tidak… maksudku, aku benar-benar mengakhiri hubungan dengannya beberapa bulan sebelum kita mulai berkencan." Ujar Mei lembut. "Aku juga sudah tidak pernah lagi mendengar kabar apapun darinya, kecuali lewat grup angkatan."

"Bagaimana dengan ayahnya?"

Nafas gadis itu tercekat. Kakashi menyadarinya, dan pada saat itu juga sebuah senyuman pahit tercetak di wajah pria itu. Ia melepaskan sabuk pengamannya dan memutar tubuh menghadap Mei. Kedua pandangannya dingin—bibirnya bahkan membentuk satu garis kaku sebagai salah satu upayanya agar tidak terlalu terbawa emosi.

"A-aku…" Mei gelagapan, merapikan rambutnya yang sama sekali tidak berantakan. "A-ap… apa maksudmu, K-kashi?"

"Apa maksudmu, Mei?"

"Aku tidak mengerti apa yang kau katakan!" ujar Mei sedikit histeris, kedua matanya melebar saking kagetnya. "Apa yang sebenarnya ingin kau katakan padaku? Kenapa tiba-tiba kau bertanya begitu padaku, dengan nada menuduh?!"

Kakashi menghela nafas. Ia mengulurkan tangan untuk membawa tangan gadis itu dalam genggaman, namun Mei menepis tangannya.

"Aku tidak menggunakan nada menuduh atau apapun itu." Ujar Kakashi pelan. "Aku hanya menanyakan hubunganmu dengan Souta dan Danzo Shimura. Kau tidak perlu emosi seperti ini kalau memang tidak ada apa-apa."

Mei tidak menanggapi dan kali ini sudah menangis sejadi-jadinya di dalam mobil. Kakashi terdiam dan tidak tahu harus melakukan apa. Ayahnya dulu pernah bilang, kalau ada seorang perempuan yang menangis di dekatnya, ia harus segera menghiburnya dan sebisa mungkin membuatnya tidak bersedih lagi. Tapi apa yang harus ia lakukan sekarang, kalau ternyata perasaannya lebih sakit dibandingkan perempuan yang menangis itu?

Sikap defensif Mei dengan jelas menamparnya dengan kenyataan bahwa pacarnya telah mengkhianatinya selama ini. pantas saja Mei tidak pernah mengeluhkan biaya rumah sakit ayahnya, ternyata selama ini ada Danzo yang selalu membantunya…

"Apa kau merasa jijik padaku sekarang, Kakashi?" tanya Mei dengan nada marah. Rasa bersalah yang terlalu menumpuk membuat emosinya meninggi saat ini. "Apa kau ingin mengakhiri hubungamu denganku? Ya, aku memang mengencani Danzo! Aku juga tahu kalau ia seumuran dengan ayahku! Tapi apa yang bisa kulakukan? Aku tidak punya apa-apa, Kakashi!"

"Kau punya aku."

Mei menoleh dan tertegun selama beberapa saat. Kali ini ia membiarkan Kakashi meraih kedua tangannya dan membawanya dalam genggaman.

"Kau selalu punya aku, Mei." Ujar Kakashi lembut. "Kau juga selalu bisa mengandalkan aku. Kenapa kau masih harus menghubungi orang lain?"

Gadis itu pada akhirnya menggelengkan kepala dan tersenyum getir ke arah Kakashi.

"Tidak, Kashi…" ujarnya lirih. "Aku tidak pernah memilikimu, aku bahkan bukan prioritasmu. Kau bersamaku sampai sekarang juga bukan karena kau menyayangiku, Kashi… dan aku tidak tahu apa alasanmu melakukan itu. Jangan berbicara dan menatapku seperti itu lagi, Kashi. Kau tidak pernah kumiliki barang seharipun."

"Apa maksudmu?"

"Kita berdua tahu jelas apa maksudku!" Mei nyaris berteriak, tiba-tiba saja emosinya kembali naik. "Kau pikir aku tidak tahu kalau kau sebenarnya memiliki perasaan khusus untuk Sakura?!"

"Jangan bawa Sakura dalam masalah kita, Mei…"

"Oh, kurasa Sakura adalah sumber masalah kita, Kakashi." Ujar Mei sinis. "Bukan saja anak itu merecoki kita sejak awal kita berkencan, tapi ia jugalah yang kau pilih menjadi istrimu! Dan jangan mulai dengan memberikan alasan pernikahan pura-pura atau pernikahan kontrak. Aku tahu kau menikmatinya."

Kakashi berusaha mengontrol emosinya. Jangan ikut terbawa, Kakashi, Mei memang akan bersikap seperti ini kalau ia sedang marah, ujarnya dalam hati.

"Kehilangan kata-kata, huh? Kurasa aku mengencani pria paruh baya tidak terlalu menyeramkan, eh, mengetahui kau juga menyukai Sakura diam-diam?"

"Mei…"

"Aku tidak tahu apa yang harus kulakukan, Kakashi! Aku sangat kebingungan! Saat itu kau juga menolak tawaran ayahmu untuk bekerja di perusahaannya, dan malah memilih untuk menjadi dosen, sialan! Apa yang harus—"

"Mei."

Mei menghentikan perkataannya ketika nada berbahaya Kakashi terdengar. Pria itu menatapnya dengan tajam dan Mei bersumpah ia belum pernah melihat Kakashi seperti ini sebelumnya.

"Kau melewati batas." Ujar Kakashi lirih, namun sangat jelas terdengar di telinga gadis itu. "Mau sampai kapan kau menyalahkan aku seperti ini?"