CHAPTER 2
"Baiklah, saya sudah menghubungi apoteker agar mereka bisa menyiapkan obatnya," kata Aerith sembari mengetik di komputer. "Cukup perlihatkan saja print resep itu, ya."
Pasien itu mengangguk, dan setelah mengucapkan terima kasih, pasien yang merupakan seorang wanita paruh baya itu berjalan keluar ruangan didampingi Leslie.
"Dokter, pasien yang tadi sepertinya sering datang ke sini, ya?" tanya Leslie sambil menutup pintu. "Siapa namanya, Elvyra?"
"Elmyra," jawab Aerith mengoreksi, tanpa mengalihkan pandangannya dari layar komputer. "Elmyra sebelumnya terkena kanker, dan meski sudah tiga bulan semenjak dinyatakan sembuh, tetapi Elmyra tetap rajin melakukan check up setiap minggunya."
Mendengar itu, Leslie menganggukkan kepalanya. "Baiklah, Dok, saya akan memanggil pasien selanjutnya."
Aerith menganggukkan kepalanya, dan tepat ketika pasien berikutnya masuk, dia langsung mengganti wajah seriusnya dengan seutas senyum. Apalagi, pasien berikutnya adalah sepasang ibu dan anak perempuan yang terus menangis karena—dugaan Aerith—takut untuk bertemu dokter. Setelah dirayu oleh Aerith dan dibantu Leslie, anak itu akhirnya mau diperiksa. Pemeriksaan berlangsung selama dua puluh menit dengan influenza sebagai diagnosis akhir.
"Baiklah, sudah saatnya waktu istirahat, Dokter," kata Leslie setelah mengantar pasien keluar ruangan. "Aku akan memasang tanda."
"Ah, sudah jam segini, ya?" jawab Aerith sambil melihat ke jam tangannya. "Apakah banyak pasien di luar?"
"Kebetulan belum ada lagi, Dokter."
Lagi, Aerith mengangukkan kepalanya, dan kemudian dia menguap lebar.
"Anda kurang tidur semalam, Dok?" tanya Leslie setelah memasang tanda 'Sedang Isitirahat' di pintu.
"Kurang tidur? Yah, kira-kira begitulah, banyak yang terjadi semalam ha ha ha."
Leslie menatap Aerith heran, dan memang selain kepada mama-nya, Aerith memang belum menceritakan kejadian semalam kepada yang lain. Ketika dia lembur, bertemu dengan pasien gejala stroke ringan di dalam kereta, hingga akhirnya seorang polisi tampan bernama Zack Fair membantunya mengurus segala hal bahkan sampai mengantarnya pulang.
Tunggu dulu, tampan? Rasanya Aerith tidak sampai memikirkan itu sebelumnya, tetapi jika dipikir-pikir lagi, Zack memang tampan. Mungkin itu juga alasan mengapa dia begitu percaya diri, dasar.
"Dokter, kenapa Anda senyum-senyum?" tanya Leslie.
"Hm? Apa maksudmu?"
"Kulihat Anda daritadi senyum-senyum sendiri," kata Leslie. "Apakah ada hal yang menyenangkan?"
"Ah, biasa saja, kok," jawab Aerith. "Omong-omong, Leslie, kau punya pacar?"
Kedua mata Leslie langsung melotot. "Kenapa Dokter menanyakan itu?"
"Yah, bagaimana ya?" jawab Aerith lagi sambil menopang dagu. "Kau, kan, salah satu perawat yang terkenal di sini. Banyak, lho, yang jadi penggemarmu baik dari pasien maupun perawat lain."
Leslie hanye menjawab dengan memasang wajah 'ya ampun'. Ya, tidak dapat dipungkiri bahwa Leslie adalah salah satu idola di Rumah Sakit Midgar. Wajahnya yang berparas 'cantik', kedua matanya yang berwarna emas, kulitnya yang begitu putih, dan semua itu dipadu dengan rambut silver pendeknya, membuat penampilan Leslie menjadi begitu stand out. Aerith bahkan sempat berpikir, jangan-jangan hampir dari semua pasien yang datang kepadanya itu karena mereka ingin melihat Leslie, bukan karena benar-benar sakit.
Kantin Rumah Sakit berjarak cukup jauh, letaknya berada di lantai satu, sementara Aerith praktek di lantai tiga. Selain itu, dia harus melewati meja resepsionis, yang di dekatnya juga terdapat ruang IGD. Rumit? Ya, tetapi Aerith cepat terbiasa. Kebiasaannya jalan kaki dan naik kendaraan umum juga menguatkan kedua kakinya.
Aerith dan Leslie menuruni satu demi satu eskalator, hingga akhirnya mereka tiba di lantai satu. Namun baru saja, mereka menapakkan kaki, tiba-tiba saja pintu otomatis terbuka dan petugas medis berlarian sambil membawa pasien yang tengah berbaring di atas ranjang beroda.
"Minggir, minggir!" teriak petugas medis itu. "Di belakang masih ada lagi!"
Sontak, semua mata tertuju pada mereka, tidak terkecuali Aerith dan Leslie. Hampir semua pasien yang dibawa menderita luka, skala-nya mulai dari sedang sampai berat. Ada juga yang dipakaikan gips, sepertinya patah tulang, bahkan ada yang lukanya di leher sampai harus dibalut perban yang begitu tebal.
"Ada apa ini?" tanya Aerith pelan. "Apa yang terjadi?"
"Sepertinya ada kasus kejahatan entah dimana, karena dari yang saya lihat, rata-rata dari korban adalah polisi."
Aerith menatap Leslie. "Polisi?"
"Minggir, panggil dokter untuk segera bersiap! Pasien ini butuh penanganan segera!"
Pandangan Aerith teralih lagi, dan pasien kali ini memiliki luka yang … amat serius. Ada sebilah tombak yang tertusuk hingga menembus pundaknya. Luka itu tampak menyeramkan, namun yang membuat kedua mata Aerith terbelalak adalah ketika dia mengenali sosok polisi yang tertusuk tombak itu.
"Zack?!"
Dua jam sebelumnya
Zack Fair, seorang polisi yang bertugas di kantor pusat kepolisian Midgar. Seperti polisi pada umumnya, tugas Zack adalah menangkap penjahat, melindungi rakyat jelata, memastikan aturan berjalan dengan semestinya, sampai membantu lansia menyeberang jalan juga pernah dia jalani. Zack tahun ini berusia dua puluh tujuh tahun, dan di usia yang terbilang muda, dia bisa dibilang adalah salah satu polisi terbaik di sini.
"Yo, Kunsel," sapa Zack pada Kunsel yang tengah melihat-lihat dokumen. "Sedang apa kau?"
"Melihat laporan-laporan kasus yang belum lama masuk," jawab Kunsel sambil melihat beberapa lembar kertas di tangannya. "Rata-rata dipenuhi kasus perampokan, bukti bahwa kriminalitas di Midgar tengah meningkat."
"Perampokan, ya, hm…" gumam Zack sambil ikut melihat-lihat. "Sepertinya kita bisa memberikan usulan ke atasan untuk membentuk tim khusus patroli keliling, sekaligus memberikan sosialisasi untuk masyarakat juga."
Kunsel mengangguk sebagai tanda bahwa dia setuju, lalu dia meletakkan kertas itu di atas meja dan mulai mengutak-atik komputernya. Zack menepuk pundak Kunsel, lalu dia duduk di meja kerja dengan papan nama bertuliskan 'Zack Fair' di atasnya. Baru saja dia hendak memasuki sistem kantor, alarm tanda bahaya tiba-tiba saja berbunyi.
Kepada seluruh anggota polisi, sinyal darurat baru saja diterima dari Prosperity Bank di pusat Kota Midgar. Kami ulangi, sinyal darurat baru saja diterima dari Prosperity Bank di pusat Kota Midgar.
Mendengar alarm darurat dan pengumuman itu, para anggota polisi langsung refleks berlari dan berkumpul di ruang rapat berukuran besar dengan teknologi canggih. Di dalam ruangan tersebut terdapat monitor berukuran raksasa yang terhubung dengan CCTV di berbagai tempat, termasuk bank dan badan-badan milik pemerintah. Masing-masing dari tempat btersebut wajib dipasangi alarm darurat dan kamera CCTV, sehingga ketika alarm ditekan, gambar akan langsung terhubung ke kantor polisi pusat dan terdekat.
Di tengah-tengah, terdapat atasan mereka yang juga merupakan inspektur kepolisian Midgar, seorang pria paruh baya bernama Angeal. Secara fisik dia terlihat mirip dengan Zack, mereka sama-sama memiliki rambut hiram sebahu dan bola mata berwarna biru, namun Angeal mrmiliki postur tubuh yang lebih tinggi dan gagah.
"Perhatian untuk semuanya," kata Angeal memulai pertemuan. "Kita baru saja menerima sinyal darurat dari Prosperity Bank, dan ini-lah gambar yang ditampilkan CCTV."
Angeal mengalihkan pandangannya kepada salah satu staf IT, dan setelahnya layar raksasa di depan mereka menayangkan gambar dari CCTV, membuat semua pandangan anggota polisi langsung terfokus ke sana.
Gambar tersebut menunjukkan sekelompok bersenjata yang mengenakan helm untuk menutup identitas mereka, langkah yang sudah bisa ditebak. Salah satu dari mereka memberikan tembakan peringatan, yang membuat nasabah dan pegawai bank ketakutan hingga menunduk sambil melindungi kepala. Zack juga melihat petugas-petugas keamanan bank yang disandera, selain kalah jumlah, mereka juga sudah pasti kalah dalam hal senjata.
"Saat ini, polisi dari lokasi terdekat sudah dikerahkan menuju ke lokasi, namun mereka tidak bisa masuk karena kelompok bersenjata itu dilengkapi dengan persenjataan canggih, ditambah lagi mereka juga menyandera sekitar seratus orang di dalam," lanjut Angeal. "Melihat kondisinya, negosiasi juga tidak memungkinkan."
"Inspektur," sela Zack sambil mengangkat tangan kanannya. "Apakah ada kemungkinan mereka menggunakan bom?"
Angeal menggelengkan kepalanya. "Sejauh pengamatan pada gambar di CCTV, kelompok bersenjata itu tidak membawa alat-alat semacam bom, tetapi kita juga akan mengirim tim penjinak bom ke sana untuk berjaga-jaga."
Kemudian, anggota polisi lain juga ada yang mengangkat kepalanya.
"Inspektur, apakah ini berarti kami akan diberikan izin untuk membawa senjata yang lebih canggih?"
Mendengar itu, Angeal terdiam sejenak sebelum akhirnya menjawab. "Melihat situasi yang genting, maka jawabanku adalah … ya, aku akan memberikan izin untuk membawa senjata 'itu'. Tidak lupa, karena kali ini kalian berurusan dengan kelompok bersenjata, kalian semua DIWAJIBKAN untuk mengenakan pelindung berupa helm dan baju anti peluru yang kalian sudah tahu ambil dimana. Zack Fair, kutunjuk kau untuk memimpin operasi ini."
"SIAP!"
"Baiklah, semua bubar!"
Semua anggota polisi segera mengambil perlengkapan yang dibutuhkan dengan cepat, dan setelahnya menaiki mobil patroli menuju ke Prosperity Bank. Zack satu mobil dengan Kunsel dan tiga polisi lain, dan sepanjang perjalanan, Zack tidak henti-hentinya memeriksa perlengkapan sambil terus berkoordinasi dengan anggota yang lain via walkie talkie. Karena yang mereka hadapi adalah kelompok bersenjata, maka persiapan mereka tidak boleh main-main.
Sesampainya mereka di Prosperity Bank, sudah ada banyak polisi lain yang berkumpul. Selain polisi, ada media dan rakyat jelata yang melihat, namun mereka tidak boleh berdiri melewati garis polisi. Zack turun dari mobil dan menghampiri salah satu polisi yang sudah berada di lokasi daritadi.
"Selamat siang, saya Zack dari kantor pusat," kata Zack sambil memberikan hormat. "Bisa Anda jelaskan mengenai situasi di sini?"
"Siap, Pak! Belum lama ini, ada kelompok kriminal bersenjata yang melakukan perampokan di Prosperity Bank! Meski belum ada korban jiwa, namun para petugas keamanan bank diduga terluka dan ikut disandera di dalam."
Zack menganggukkan kepalanya. "Apakah ada tuntutan dari kelompok itu, seperti uang tebusan?"
Polisi itu menggelengkan kepalanya. "Sejauh ini mereka tidak meminta uang tebusan, tetapi kami masih ragu dalam menentukan strategi untuk masuk ke dalam, sehingga sejauh ini kami hanya mengawasi dari depan sambil terus siaga."
"Dimana mereka menahan sandera?"
"Tepat di ruang tengah tempat pegawai melayani nasabah, dan menurut salah satu polisi yang mengintai, mereka juga menyuruh salah satu pegawa untuk membuka brankas."
Zack menganggukkan kepalanya lagi. "Baik, terima kasih untuk informasinya. "
Zack membalikkan tubuhnya dan menghadap para polisi lain.
"Baiklah, semuanya dengarkan" kata Zack. "Aku akan menyampaikan strategi dan pembagian tim untuk operasi kali ini."
