Author's Note : maaf jika adegana ction di chapter kurang bagus atau masih terkesan kaku, I've tried my best. Tapi tentu saja, saya sangat menerima kritik dan saran, terima kasih!

CHAPTER 3

"Konsentrasi, ayo," pikir Zack.

Setelah melakukan briefing singkat, akhirnya Zack memutuskan untuk masuk melalui pintu belakang bersama dengan Kunsel dan lima orang anggota polisi yang lain. Mengapa hanya lima orang? Karena Zack merasa jika membawa terlalu banyak orang, maka akan memperlambat gerakan dan mungkin bisa menarik perhatian yang—tentu saja—tidak bagus untuk mereka. Selain itu, Zack juga memerintahkan seorang sniper bersiaga di atap bangunan di samping Prosperity Bank.

Pintu belakang ini sebenarnya sudah lama sekali tidak digunakan, dan karena alasan itulah, Zack memutuskan untuk melalui rute ini. Melalui diagram, Zack bisa melihat bahwa pintu belakang ini terhubung ke gudang yang sudah lama tidak terpakai, dan gudang tersebut ternyata terhubung ke ruang kecil berisi peralatan-peralatan kebersihan yang biasa digunakan oleh cleaning service. Untuk membuka pintu tersebut, cukup dengan teknik mencungkil yang nyaris tidak menimbulkan suara asalkan hati-hati.

Kedua mata Zack melihat sekeliling, dan setelahnya dia memberikan isyarat kepada anggota di belakangnya bahwa situasi aman dan mereka bisa bergerak maju. Gudang tempat mereka berada gelap sekali dan menurut informasi yang Zack terima, lampu di sini memang sudah lama rusak, dan tidak pernah diperbaiki karena gudang ini tidak pernah digunakan lagi. Menggunakan senter, Zack dan anggota lain mencari-cari pintu keluar, dan tidak butuh waktu lama bagi mereka untuk menemukan pintu satu daun berwarna cokelat yang berada tidak jauh di depan mereka.

Zack berjalan duluan, lalu mendekatkan telinganya ke pintu, sepi. Setelahnya, Zack memberikan isyarat kepada Kunsel untuk mecungkil kunci pintu, yang tidak sampai semenit langsung selesai.

"Biar aku duluan yang keluar," bisik Zack. "Kunsel, kembalilah ke belakang."

Kunsel mengangguk dan berjalan pelan ke belakang Zack setelahnya. Dengan sangat pelan dan berhati-hati, Zack memutar kenop dan menarik pintu itu, sementara anggota polisi yang lain bersiap dengan senjata mereka.

Dan ternyata sesuai dengan peta, di balik pintu ini adalah ruangan kecil tempat menaruh peralatan kebersihan seperti sapu dan kain pel.

Zack menyentuh earphone di telinga kanannya. "Sniper, apakah lorong di depan peralatan kebersihan aman?"

"Saat ini aman, tetapi berhati-hatilah, di ujung lorong itu terdapat salah satu kawanan bersenjata yang mengawasi, dia terlihat berjalan menyusuri lorong berulang kali."

"Hmm," Zack bergumam sebentar. "Aha, Sniper, aku akan keluar dari sini , jadi bisakah kau bantu alihkan perhatian orang itu? Kau bisa tembak kaca atau apalah, sisanya biar aku yang urus."

"Siap."

Zack mengalihkan kepalanya ke Kunsel dan yang lain. "Kunsel dan kalian semua, tunggu di sini sampai kuberi aba-aba."

Ucapan Zack dijawab dengan anggukan. Zack menarik napas, dan membuka pintu itu dengan agak kencang, yang secara kebetulan menubruk salah satu kawanan bersenjata yang sedang lewat. Namun, sebelum dia sempat berteriak memanggil bantuan, sniper itu melepaskan peluru yang memecahkan kaca di samping hingga menarik perhatian si kawanan bersenjata. Menggambil kesempatan itu, Zack segera meninju pria itu dengan gaya upper-cut dan kemudian mencekiknya dari belakang hingga tidak sadarkan diri.

"Oke, kalian boleh keluar," kata Zack di dekat pintu, sambil menenteng si penjahat yang tengah tidak sadarkan diri. "Borgol dan ikat dia, lalu ikut aku."

Beruntung lorong itu hanya dijaga oleh satu orang. Setelahnya, mereka bergerak dengan hati-hati ke ujung lorong, lalu mengintip dan melihat para sandera dengan kelompok bersenjata yang berjumlah sekitar lima sampai tujuh orang. Kedua mata Zack menyipit ketika melihat jumlah yang menurutnya terbilang … sedikit, meski mereka semua bersenjata.

"Flash Grenade," bisik Zack, "dalam hitungan satu, dua…"

Zack mengangguk sebagai ganti kata 'tiga', dan setelahnya flash grenade dilempar. Bunyi granat yang membentur lantai menarik perhatian kelompok bersenjata itu, dan ketika granat tersebut meledak, Zack beserta anggotanya segera mengenakan pelindung mata dan bergerak cepat untuk menyelamatkan sandera selagi para kawanan bersenjata tersebut panik karena kesilauan.

Tanpa menunggu aba-aba, tiga anggota selain Zack dan Kunsel langsung bergerak cepat dengan menolong para sandera. Zack bergerak di tengah kepanikan, dan ketika salah satu penjahat itu lengah, Zack menggunakan senjatanya untuk memukul tepat di titik yang membuat penjahat itu kehilangan kesadaran. Sementara Kunsel, dia menembak kaki dua orang penjahat yang masih terlihat kebingungan, lalu menggunakan teknik bela diri untuk menendang senjata dari kedua tangan mereka sehingga lebih mudah dilumpuhkan.

"Tim, apakah para sandera sudah selamat?!" ucap Zack.

"Para sandera sudah berada di luar dan diamankan oleh polisi yang lain!"

"Bagus, sekarang kalian kembali ke sini dan bantu ka—"

DUAR!

Tiba-tiba saja di dekat Zack terdapat ledakan yang membuatnya terpental hingga membentur salah satu pilar raksasa dalam gedung, membuatnya meringih kesakitan. Dibalik asap yang dihasilkan ledakan, terdapat sosok tiga orang penjahat yang penampilannya berbeda dari yang lain. Sosok yang menarik perhatian Zack adalah seorang pria berambut merah pendek yang mengenakan masker berwarna hitam dengan senjata berukuran besar—sepertinya semacam rocket launcher—terganting di punggungnya. Tangan kanannya memegang remot, yang Zack tebak adalah pemicu bom. Selain pria berambut pendek merah tadi, terdapat dua orang yang berdiri di sisi kanan dan kirinya seperti seorang pengawal, sosok yang berbadan besar berdiri di sebelah kanan, sementara sebelah kiri memiliki postur tubuh yang lebih langsing.

Kunsel berdiri terlebih dulu, dan setelahnya membalas dengan menembak. Namun usahanya sia-sia, karena ternyata mereka bertiga memakai rompi anti peluru. Sosok di sebelah kanan yang berbadan besar langsung berlari ke arah Kunsel, dan kemudian meninjunya dengan sekuat tenaga hingga Kunsel terpental lumayan jauh.

"Ini buruk," pikir Zack.

Zack memundurkan dirinya perlahan, sebisa mungkin agar tidak ketahuan, lalu menggunakan walkie talkie-nya untuk meminta bantuan.

"Kantor Pusat, kami butuh bantuan segera di Prosperity Bank. Kuulangi, kami butuh bantuan segera di Prosperity Bank," kata Zack, berusaha dengan suara sekecil mungkin. "Kelompok bersenjata menggunakan senjata berat dan alat peledak, kami khawatir jumlah kami saat ini tidak mampu mengatasi mereka."

Saat Zack masih meminta bantuan, tiba-tiba terdengar suara lagi dari belakang. Ketika Zack menoleh, ternyata anggota-nya yang barusan menyelamatkan sandera sudah kembali dan mereka memberikan serangan balasan kepada anggota teroris itu. Kali ini yang bergerak adalah sosok yang berdiri di sebelah kiri, meski memakai topeng, namun dari bentuk tubuhnya Zack sangat yakin bahwa dia adalah seorang perempuan. Dengan gerakan lincahnya, dia mengambil sebilah pedang dari sarung yang tergantung di belakangnya dan berlari menuju anggota kepolisian.

Zack hanya bisa melongo melihat teknik yang diperlihatkan, apalagi ketika melihat satu persatu anggotanya dilumpuhkan dengan begitu mudah. Bahkan ada yang terluka cukup parah di bagian leher. Seumur-umur Zack menjadi polisi, baru kali ini dia melihat kelompok penjahat atau teroris yang begitu … 'cakap'.

Sebelum keadaan menjadi lebih parah, Zack segera bangun dan menembakkan pelurunya ke arah pedang sebelum pedang tersebut menusuk perut anggota polisi lain yang tengah terkapar. Zack terus menembak hingga akhirnya pedang itu terpental. Belum selesai, kedua mata Zack juga menangkap granat-granat yang tergantung di pinggang sosok bertubuh besar. Tidak mau meyia-nyiakan kesempatan, Zack segera menembak granat itu secara bertubi-tubi.

Hingga ledakan besar pun tercipta kembali, dan kepulan asap ledakan memenuhi ruangan.

"Berhasil-kah?" gumam Zack.

Ketika Zack berjalan menghampiri anggotanya, tiba-tiba saja ada sebilah tombak yang muncul mengarungi asap, dan tombak itu menusuk hingga menembus pundak kanan Zack. Semuanya terjadi begitu cepat, bahkan Zack tidak sempat berteriak, hingga akhirnya dia terjatuh dengan pundak yang berlumuran darah. Dan sebelum kesadarannya menghilang, hal yang Zack ingat hanyalah suara tembakan beruntun yang terdengar dari pintu masuk.

"Dokter Aerith, Anda baik-baik saja?"

Suara Leslie membuat Aerith terperanjat, dan Aerith baru sadar bahwa ternyata dia melamun sambil menempelkan stetoskop di dada pasien. Aerith langsung menggelengkan kepala dan memaksakan senyum di wajahnya.

"A—ah ya, maaf sekali," kata Aerith sambil menggantungkan stetoskopnya di leher. "Kondisi Anda sudah membaik, tetapi Anda tetap harus minum obat setidaknya sampai satu minggu ke depan, saya akan segera menyiapkan resep."

Setelah mengetik diagnosa dan resep di komputer, Leslie segera mengantar pasien tersebut keluar. Aerith menghela napas, akhirnya selesai juga. Tidak biasanya dia melamun seperti tadi, yah setidaknya setelah dia melihat kondisi Zack dan polisi lain yang terluka begitu parah, Aerith jadi tidak seperti biasanya.

"Dokter Aerith, saya akan memanggil pasien selanjutnya," kata Leslie, yang dijawab dengan anggukan.

Jika sebelumnya pasien yang datang adalah lansia, kini pasien yang datang adalah seorang wanita muda. Pasien tersebut datang dengan keluhan bahwa penyakit asma bawaannya akhir-akhir ini sulit dikendalikan, baik dengan obat maupun dengan alat bantu napas. Setelah melalui pemeriksaan dan beberapa sesi tanya jawab, ternyata penyebabnya adalah stres. Apalagi, ternyata pasien tersebut adalah mahasiswi tingkat akhir yang tengah mempersiapkan tugas akhir, dengan segala tekanan dan kesibukan, rasanya tidak heran hal itu bisa terjadi.

Satu hari kerja berlalu begitu saja dengan pasien-pasien yang datang silih berganti, hingga akhirnya sudah waktunya bagi Aerith dan Leslie untuk pulang.

"Baiklah, saya pulang dulu, Dokter Aerith," kata Leslie sambil membungkukkan badannya. "Terima kasih atas kerja kerasnya."

Aerith menjawab dengan mengangguk, entah mengapa dia menjadi lebih pendiam hari ini, dan bahkan lebih sering menjawab Leslie dengan gestur tubuh saja. Semoga saja Leslie tidak merasa tersinggung.

Sejujurnya, Aerith juga tidak mengerti mengapa dia bisa seperti ini, rasanya ada suatu perasaan yang sulit untuk dijelaskan pada awalnya. Namun jika dipikir-pikir lagi, sepertinya Aerith merasa … khawatir? Tetapi apa yang dia khawatirkan seharian sampai-sampai begitu menyita perhatiannya?

Zack.

Zack? Zack-kah penyebab dia khawatir seharian ini? Tetapi mengapa bisa? Memang luka yang dialami Zack kelewat parah, tetapi Aerith dan Zack belum lama saling mengenal. Selain kemarin—hari saat mereka mengantar pasien yang mengalami gejala stroke ringan—mereka belum pernah bertemu apalagi berbicara.

"Ah, apa-apaan, sih, Aerith?!" gumam Aerith sambil menepuk-nepuk kedua pipinya. "Sudahlah, aku harus segera pulang, takut mama khawatir lagi."

Setelah memastikan tidak ada barang yang tertinggal, Aerith berjalan keluar dari ruang prakteknya dan tidak lupa mengunci pintu sebelumnya. Lorong rumah sakit saat malam selalu sepi, hanya ada beberapa perawat dan petugas kebersihan saja yang terlihat berlalu lalang. Aerith sesekali mengangguk pada mereka, lalu berjalan menuruni eskalator ke lantai satu.

Ketika Aerith berjalan mendekati pintu otomatis, tiba-tiba saja kedua kakinya berhenti melangkah. Kedua matanya perlahan menatap ke samping, ke arah pintu dua daun dengan tulisan 'RUANG GAWAT DARURAT' di atasnya. Aerith tidak tahu apakah Zack dan yang lain sudah dipindahkan ke ruang rawat biasa atau belum, tetapi dengan luka seperti itu, Aerith rasa mereka semua masih di dalam.

Haruskah aku masuk ke dalam?

Untungnya di meja saat ini tidak ada resepsionis, karena jika ada, mungkin dia akan dicap aneh karena berdiri melamun di depan ruang gawat darurat. Aerith menggenggam tali tasnya dengan erat, dan setelah 'galau' memilih ingin masuk atau tidak, Aerith akhirnya menghela napas, lalu berjalan menuju ruang gawat darurat. Aerith berharap situasi di dalam sudah berangsur normal, sehingga dia tidak mengganggu dokter dan perawat yang bertugas di dalam.

Dan tentunya, Aerith berharap Zack beserta jajaran kepolisian yang terluka lainnya bisa baik-baik saja.