CHAPTER 4

Entah ini adalah keputusan yang tepat atau tidak.

Sambil menggenggam erat tali tasnya, Aerith berjalan melewati ranjang-ranjang rumah sakit yang ditutupi tirai. Meski sudah beberapa jam berselang semenjak para polisi itu dirawat di ruang gawat darurat, namun ketegangan itu masih terasa, Aerith berharap di dalam hatinya semoga mereka baik-baik saja. Aerith terus melangkahkan kakinya, sampai ketika dia melewati ranjang keempat, tiba-tiba sosok seorang dokter pria berambut hitam panjang menyibakkan tirai dan muncul tepat di hadapan Aerith. Tanda di dahi membuat Aerith langsung mengenali sosoknya.

"Oh," kata Aerith. "Anda … Dokter Tseng?"

Pria yang dipanggil Tseng itu menoleh, lalu menyunggingkan senyum. Tseng adalah salah satu dokter yang terkenal di rumah sakit ini. Tidak hanya memiliki paras yang rupawan, Tseng juga memiliki otak yang cemerlang. Di usianya yang tahun ini menginjak 32 tahun, Tseng sudah terpilih sebagai kepala bedah trauma di rumah sakit ini, menggantikan posisi kepala sebelumnya yang memutuskan untuk pensiun. Pandangannya yang tajam, gerakan tangannya yang cekatan, cara berpikir yang cepat namun cerdas, konon faktor-faktor itulah yang membuatnya terpilih.

"Ah, ya, salam kenal Dokter … Aerith," jawab Tseng dengan pandangan yang mengarah ke nametag Aerith. "Anda ada perlu di sini?"

"Em, kebetulan saya..."

Sebelum Aerith sempat menyelesaikan ucapannya, tiba-tiba ada seorang perawat yang menghampiri Tseng dari belakang dan membisikkan sesuatu. Tanpa basa-basi, Tseng segera mengangguk dan meninggalkan Aerith dengan sedikit berlari, ternyata perawat itu mengarahkan Tseng ke pasien yang tepat berada di samping pintu keluar ruang gawat darurat. Tidak lama setelah Tseng masuk, suara rintihan kesakitan terdengar dari sana.

"Padahal tadi mau sekalian bertanya sebentar," gumam Aerith.

Menghembuskan napas, Aerith memutuskan untuk kembali menelusuri ruangan. Dia membuka tirai itu satu-persatu dan mengintip, hampir semuanya adalah anggota polisi, namun dia masih belum menemukan Zack.

Masih mengikuti rasa penasarannya, Aerith melirik ke tirai-tirai lain dan membukanya satu persatu. Satu hal yang Aerith sadari adalah rata-rata anggota-anggota polisi memiliki luka yang sama beratnya. Aerith menelan ludah, teroris macam apa yang mereka hadapi tadi? Bagaimana mungkin ada kelompok yang bisa memiliki akses untuk memiliki senjata yang begitu berbahaya?

"Rasanya menyeramkan," gumam Aerith dalam hati.

Tirai demi tirai dia buka, namun Aerith masih belum menemukan Zack. Tiba-tiba, pintu ruang gawat darurat terbuka, menampilkan sosok dokter dan perawat yang tengah menarik ranjang pasien. Spontan, Aerith mundur beberapa langkah untuk memberikan jalan. Ketika mereka berjalan melewatinya, kedua mata Aerith menangkap sosok yang tengah berbaring dan tidak sadarkan diri itu. Seorang pria berambut hitam dengan perban yang membalut tubuhnya, serta masker oksigen yang membantunya bernapas.

"…Zack?"

Para tenaga medis membawa ranjang itu ke satu-satunya tempat yang masih kosong, lalu langsung menutup tirai. Dari dalam, Aerith samar-samar bisa mendengar suara dokter dan perawat yang tengah membicarakan sesuatu, sambil sesekali terdengar bunyi 'bip' dari mesin. Aerith—yang masih berdiri membatu—menggenggam erat kedua tangannya, kedua pandangannya terus terfokus tanpa berkedip.

Entah berapa lama dia berdiri di sana, namun akhirnya dokter dan perawat itu muncul dari balik tirai dengan menghembuskan napas (Aerith harap itu adalah hembusan napas lega). Mereka berjalan melewati Aerith, dan sosok mereka akhirnya menghilang dari balik pintu gawat darurat. Setelah memastikan dokter dan perawat itu tidak kembali dalam waktu dekat, Aerith akhirnya memberanikan diri untuk membuka tirai itu.

Dan ketika tirai dibuka, air mata Aerith tiba-tiba menetes.

Sosok Zack yang babak belur, yang saat ini harus ditopang oleh beberapa mesin agar bisa bertahan hidup. Rasanya belum lama ini dia menolongnya dengan begitu ceria, lengkap dengan senyum lebar yang memperlihatkan giginya. Namun kini dia terbaring begitu tidak berdaya. Meski mereka belum begitu saling mengenal, tetapi hatinya seperti disayat-sayat oleh benda tajam. Siapa yang tega melakukan ini?

Aerith langsung menutup wajahnya dengan sebelah tangan, sementara tangan yang satu-nya lagi berusaha merogoh tisu dari tasnya. Namun, mengambil barang dengan sebelah tangan memang lebih sulit, dan entah kebetulan atau apa, tiba-tiba ada tangan yang menawarkan saputangan padanya.

"Kau masih di sini?"

Dan ternyata, yang menawarkannya saputangan adalah Tseng, yang memasang ekspresi khawatir karena melihat Aerith menangis.

"Ah, Dr Tseng, Anda sudah kembali?" kata Aerith yang masih menyeka airmata-nya. "Saya tidak menyangka Anda kembali begitu cepat?"

"Dr Aerith, Anda kenal polisi ini?"

"I—iya, begitulah," jawab Aerith. "Zack … sempat membantuku belum lama ini."

"Zack? Oh, nama polisi ini, ya?" tanya Tseng, yang dijawab dengan anggukan Aerith. "Lukanya paling parah diantara yang lain, apalagi dengan tombak yang menembus pundaknya. Untungnya, pria ini tangguh, dan meski berat, tetapi operasi berhasil menyelamatkan nyawanya."

Mendengar itu, Aerith merasa lega, meski air matanya masih saja mengalir. "Kira-kira berapa lama dia akan dirawat, Dokter?"

"Melihat lukanya, mungkin bisa makan waktu berbulan-bulan bagi mereka untuk bisa pulih," kata Tseng sambil melipat kedua tangannya. "Lain lagi ceritanya kalau mereka menggunakan cairan mako yang sedang viral itu."

"Cairan mako? Maksud dokter, cairan super yang rumornya saat ini masih dikembangkan pemerintah? Memangnya sudah masuk ke rumah sakit?"

Mendengar itu, Tseng tiba-tiba tertawa.

"Ya ampun, Dokter Aerith, aku hanya bercanda!" kata Tseng. "Obat seperti itu, entah tenaga medis seperti kita bisa menerimanya atau tidak. Karena dibalik efek instan yang menggiurkan, pasti ada efek samping yang tidak kalah berbahaya."

Aerith hanya menjawab dengan mengangguk sambil mempertahankan senyumnya.

"Para polisi ini mungkin tidak akan siuman dalam waktu dekat," kata Tseng lagi. "Jika memang Anda menunggu mereka, saya sarankan Anda untuk kembali lagi besok."

"O—oh, begitukah?"

Kali ini Tseng yang menjawab dengan anggukan. "Mereka butuh istirahat, Dokter Aerith. Mereka bisa sembuh, tetapi butuh istirahat yang cukup lama."

"…kurasa ucapan Anda ada benarnya," jawab Aerith, lalu membungkukkan tubuhnya. "Terima kasih banyak, Dokter Tseng, kalau begitu saya pulang dulu."

"Baiklah, hati-hati di jalan, apalagi sekarang sudah malam."

Aerith menjawab 'terima kasih', dan kembali menatap Zack sesaat sebelum akhirnya dia meninggalkan ruangan.

"Aku pulang."

Sepanjang jalan, Aerith rasanya tidak tenang. Tidak tenang karena mengkhawatirkan Zack, dan tidak tenang juga dengan kondisi keamanan di Midgar pasca serangan teroris tadi siang. Karena itulah, dia menjadi sangat was was, sambil berharap semoga dia bisa cepat sampai di dalam hati. Saking cemasnya, dia bahkan terus menggenggam erat tasnya seolah ada perampok yang mengincar.

"Hei, akhirnya pulang juga, ya?" jawab Ivalna. "Aerith, omong-omong kau dengar berita tadi siang? Tentang teroris yang—"

"Iya, Ma, aku tahu, kok," jawab Aerith sambil merapikan sepatunya. "Dan lagi, para polisi itu dirawat di rumah sakit tempatku bekerja."

Ivalna mengangguk-anggukkan kepalanya. "Kau sudah makan? Kalau belum, Mama panaskan dulu."

"Boleh, Ma, tapi aku man—eh, sudah jam segini?" jawab Aerith sambil menatap jam dinding rumahnya. "Sepertinya aku tidak usah makan malam, Ma, sudah jam 9."

"Ma—kan," kata Ivalna. "Jangan sama sekali tidak makan, dong. Makan sedikit saja, kan, tidak masalah, daripada nanti kamu sakit, kan?"

Menurut, Aerith mandi secepatnya dan setelahnya langsung berjalan ke meja makan. Di sana, Ivalna sudah menghidangkan semangkuk nasi dengan dua jenis lauk pauk. Ivalna sendiri tengah duduk di salah satu kursi dengan pandangan yang mengarah ke televisi.

"Hei, Aerith."

"Hm?" jawab Aerith sambil mengunyah.

"Mulai besok, Mama akan kembali bekerja di apoteker dekat rumah."

Mendengar itu, Aerith entah mengapa tidak terkejut. Dulu, Ivalna memang bekerja di bidang farmasi, namun memutuskan untuk berhenti semenjak dia mengandung Aerith. Sementara Ayah Aerith, Gast Faremis, juga adalah seorang dokter, namun ditugaskan di Junon, sebuah kota pinggir laut yang jaraknya begitu jauh dari Midgar. Mereka sesekali berhubungan dengan sambungan video, namun tidak bisa terlalu lama karena Gast yang begitu sibuk.

Karena itulah, Aerith merasa ide Ivalna untuk kembali bekerja merupakan ide yang baik untuk mengusir kebosanan. Apalagi, Ivalna baru berusia 40-an tahun, masih termasuk usia yang produktif.

"Kalau begitu, kita bisa berangkat bersama, kan, Ma?" tanya Aerith setelah selesai mengunyah. "Kebetulan searah dengan stasiun."

"Pastinya, dasar anak manja," jawab Ivalna, yang disambut tawa kecil Aerith. "Ah ya, Aerith, ada satu hal lagi."

"…ya?"

"Kau sudah punya pacar?"

Mendengar itu, Aerith yang tengah menyesap sup langsung tersedak. Belum sempat menjawab, Ivalna sudah bicara lagi.

"Belum lama ini Mama mengobrol dengan teman, kau tahu Elmyra yang membuka toko bunga di dekat sini, kan?" tanya Ivalna. "Belum lama ini dia bilang, keponakannya yang tinggal di kota seberang memutuskan untuk tinggal sementara di rumahnya, seorang pria matang dengan pekerjaan stabil, katanya."

Aerith hanya diam sambil terus menyantap. Entah mengapa, dia sepertinya tahu percakapan ini akan dibawa kemana.

"Aerith, akhir minggu ini kau ada waktu?" tanya Ivalna lagi. "Mungkin kau bisa mencoba berkenalan dengannya."

Tuh kan.

A/N : Maaf untuk chapter yang agak pendek, dan maaf juga jika saya update-nya lama, karena saya juga sambil bekerja. Terima kasih buat kalian semua yang bersedia baca, follow, fav, dan review, saya sangat mengapresiasi semua itu. Stay safe and healthy!