CHAPTER 5

"Mohon maaf telah lama menunggu, ini pesanan Anda, Nona."

Aerith mengangguk sambil membiarkan seorang pelayan pria meletakkan segelas milk shake stroberi di depannya. Dia mengangkat tangan kanannya untuk melihat jam tangan, masih ada waktu lima menit sampai waktu yang dijanjikan. Hatinya sungguh tegang, dan berkali-kali dia menoleh ke cermin untuk memastikan riasannya sudah pas.

Entah bagaimana, Aerith pada akhirnya menyetujui hal ini.

Beberapa hari sebelumnya…

"Apa, Anda ada kencan akhir pekan ini?!"

"Ssst, Leslie!" jawab Aerith sambil menempelkan telunjuk kirinya ke bibir. "Jangan keras-keras, nanti kedengaran staf rumah sakit dan pasien!"

Leslie reflek menutup mulutnya dengan sebelah tangan, saat ini adalah waktu istirahat, dan mereka tengah makan di kafetaria rumah sakit. Beberapa orang sempat menoleh mendengar suara Leslie yang agak keras, tetapi untungnya hanya sebentar saja sampai akhirnya mereka makan kembali.

"Siapa orang yang dijodohkan ke Anda, Dok?" tanya Leslie penasaran.

"Entah, Mama hanya memintaku bertemu, tetapi bahkan foto pria itu tidak ada," jawab Aerith sambil memutar-mutar mie-nya dengan garpu. "Mama-ku hanya bilang bahwa dia adalah seorang pria matang."

"Hmm," Leslie bergumam sambil melipat kedua tangannya. "Mungkin dia adalah seseorang duda?"

Aerith menjawab dengan ekspresi 'ya ampun' sambil melambaikan tangannya. Aerith bukannya benci duda, tetapi masa iya mama-nya langsung menjodohkannya dengan seorang duda?

"Pokoknya, aku akan tahu sendiri ketika melihatnya akhir minggu ini," jawab Aerith. "Meski sejujurnya aku penasaran setengah mati."

Mendengar itu, Leslie tersenyum lalu mencondongkan tubuhnya dan berbisik. "Minggu depan jangan lupa beritahu detil-nya, ya, Dok."

"Iya, iya, sudah cepat makan sana!" jawab Aerith yang tersipu malu. "Jam istirahat sudah mau habis, dan masih banyak pasien yang harus kita tanganin nanti."

Kembali ke hari ini…

Begitulah ceritanya hingga akhirnya kedua belah pihak (Ivalna dan Elmyra) memutuskan bahwa Aerith dan 'pria matang' itu akan bertemu di salah satu kafe yang terletak di pusat kota ini. Untuk penampilan, Aerith memutuskan untuk mengenakan gaun tanpa lengan berwarna merah muda yang dibordir di bagian dada dan rok. Sebagai pelengkap, Aerith juga mengenakan ikat pinggang berwarna merah maroon dan sepatu hak berwarna merah muda.

Selagi Aerith masih gelisah menunggu, sosok seorang pria tiba-tiba masuk ke dalam kafe. Wajahnya yang tampan menarik perhatian orang-orang di sekitarnya, baik pelayan kafe maupun pengunjung. Dia melihat ke kanan dan ke kiri, namun ketika melihat sosok wanita berpakaian merah muda tengah duduk membelakanginya, bibirnya langsung menyunggingkan senyum. Kedua kakinya melangkah, dan Aerith juga mendengar suara langkah kaki yang perlahan mendekatinya. Aerith menelan ludah, dan entah bagaimana, dia punya firasat bahwa suara langkah kaki itu adalah milik pria yang hendak dipertemukan dengannya hari ini. Saking tegangnya, Aerith malah berdiri ketimbang membalikkan tubuhnya.

"Lama menunggu, ya?"

Suara itu membuat Aerith menoleh, dan dia melihat sosok seorang pria yang mengenakan kemeja lengan panjang berwarna abu tua—kancingnya dibuka satu—yang dipadu dengan celana chino berwarna hitam dan sneaker biru tua. Rambutnya ditata ala man-bun, tanda bahwa dia memiliki rambut yang panjang. Wajahnya … tampan, namun Aerith entah mengapa Aerith tidak merasa asing. Dan dugaannya itu terbukti ketika kedua matanya melihat tanda di dahi yang khas itu.

Kalau saja Aerith tidak bisa menahan diri, mungkin dia sudah berteriak.

"Dokter … Tseng?"

Yap, siapa sangka bahwa sosok 'pria matang dengan pekerjaan stabil' yang diceritakan mamanya saat itu ternyata adalah Tseng? Kaki Aerith rasanya lemas, otaknya masih sulit mencerna segala hal yang tengah terjadi, bahkan dia tampak linglung ketika Tseng hanya mempersilahkannya untuk duduk.

"Kau tampak pangling," kata Tseng. "Apakah penampilanku sungguh berbeda drastis dibandingkan dengan saat di rumah sakit?"

Aerith menjawab dengan tawa canggung, yah … jika dibandingkan dengan saat mereka bertemu di ruang gawat darurat, penampilan Tseng saat ini jelas jauh berbeda, dia tampak seperti pria biasa pada umumnya.

Eh, tidak, sepertinya Aerith tidak bisa mengatakan Tseng seperti pria biasa dengan wajah yang super tampan dan mempesona itu. Baju yang dikenakannya juga membuatnya makin terlihat bersinar. Ketika Aerith menoleh, sebagian besar pandangan pengunjung terfokus pada Tseng, terpesona oleh dirinya yang begitu rupawan. Hebatnya, Tseng sepertinya tidak merasa terganggu ditatap dan dibisiki oleh orang sebanyak itu.

Tseng mengangkat tangannya untuk memesan, dan seorang pelayan perempuan datang dengan begitu kegirangan ke meja mereka. Wajahnya memerah ketika mendengar sembari mencatat pesanan Tseng, membuat Aerith menggelengkan kepalanya. Untuk makan siang, Tseng memesan dua porsi pasta untuk mereka berdua.

"Um, Dokter Tseng?"

"Tseng saja," jawab Tseng. "Kita tidak sedang di rumah sakit, jadi tidak perlu memanggilku dokter."

"O—oh, baiklah," jawab Aerith. "…Tseng."

"Dan … bolehkah aku memanggilmu Aerith?"

"Eh? Em, te—tentu saja boleh."

Tseng tersenyum. "Senang bisa berkenalan denganmu, Aerith."

Aerith tersipu malu, lalu mengalihkan perhatiannya dengan menyantap pasta yang ada di hadapannya. Aerith tidak menyangka sosok dokter yang terkesan serius itu ternyata pandai membuat hati wanita berdebar-debar hanya dengan pertanyaan dan pernyataan.

Aerith dan Tseng melanjutkan obrolan mereka setelah makan. Tseng bercerita bahwa dia sebenarnya berasal dari Junon, dan menempuh pendidikan kedokteran di sana. Setelah lulus dan memenuhi persyaratan lain untuk menjadi dokter, Tseng akhirnya memutuskan untuk pindah ke Midgar, menjadi dokter spesialis di sana. Selama dia bekerja di Rumah Sakit Midgar, Tseng sendiri juga tidak menyangka bahwa karirnya akan berjalan begitu mulus.

Ketika topik beralih ke keluarga, Tseng bercerita bahwa dia adalah anak tunggal dan yatim piatu. Ibunya meninggal saat melahirkannya, sementara ayahnya meninggal lima tahun lalu karena sakit. Keadaan keluarga yang sulit memaksanya untuk bekerja lebih keras untuk menopang hidupnya, apalagi Tseng tidak mau bergantung pada orang lain, sebisa mungkin.

Terdengar seperti kisah orang sukses pada umumnya, ya kan? Yah, Aerith juga bukannya tidak percaya, sih.

"Aerith, kau masih ada waktu setelah ini?"

"Setelah ini? Ya, saya kosong, kok, seharian ini."

"Kalau begitu," kata Tseng sambil tersenyum. "Mau temani aku? Ada tempat yang ingin kutunjukkan padamu."

Aerith memiringkan kepalanya sebagai tanda bahwa dia penasaran, sementara Tseng, dia hanya terus menyunggingkan senyum tanpa berkata apa-apa lagi.

Tidak lama setelahnya, Tseng bangkit berdiri untuk membayar semua makanan dan minuman yang dipesan dengan selembar kartu, menghalangi Aerith yang sebelumnya berniat memanggil pelayan untuk meminta tagihan. Selesai membayar, Tseng mengajak Aerith keluar menuju ke lapangan parkir, tepatnya ke sebuah mobil sport mewah berwarna hitam yang terlihat begitu mencolok.

"Wow, itu mobilmu, Tseng?"

"Yep," jawab Tseng sambil mengeluarkan kunci dari kantongnya. "Masuklah, tidak perlu segan."

Tidak segan, sih, hanya saja baru pertama kali-nya Aerith naik mobil semewah ini. Apalagi, terakhir kalinya dia naik mobil adalah ketika naik mobil patroli bersama Zack.

Ah iya, Zack, entah bagaimana keadaannya sekarang. Beberapa hari ini pasien bertambah banyak, memaksa Aerith untuk lembur hingga jam 10-11 malam. Aerith tidak enak jika berkunjung saat waktu sudah begitu larut. Namun, menurut informasi yang didengar dari Leslie, para polisi yang sebelumnya berada di ruang gawat darurat sudah dipindahkan ke ruangan biasa, hanya saja dia tidak tahu mereka dirawat di lantai berapa.

Tiba-tiba saja Aerith tersentak dari lamunannya. Astaga kok, bisa-bisanya dia teringat pria lain ketika dia sedang berduaan dengan Tseng? Mereka memang bukan sepasang kekasih (Atau BELUM menjadi sepasang kekasih), tetapi bukankah perbuatan itu terasa tidak etis, setidaknya menurut Aerith?

"Aerith?" tanya Tseng yang tengah menyalakan mobil. "Kau tidak apa-apa? Kenapa wajahmu memerah?"

"Hah? Oh, mungkin karena cuaca panas hahaha," jawab Aerith sambil berpura-pura mengibaskan wajah dengan sebelah tangannya.

Tseng nampak tidak percaya, namun dia memutuskan untuk tidak menanyakan lebih lanjut. "Perjalanan kita tidak akan makan waktu lama, mungkin hanya makan waktu 15-20 menit jika tidak macet."

Aerith mengangguk, dan setelahnya Tseng mengendarai mobil keluar dari tempat parkir.

Tseng tidak banyak bicara selama perjalanan, dan karena itulah Aerith juga tidak berani membuka mulutnya. Aerith hanya menatap pemandangan luar, melihat mobil yang ditumpanginya melewati satu demi satu kendaraan lain, melewati jalan baik yang familiar maupun yang terasa asing bagi matanya. Aerith menggenggam erat kedua tangan yang terpangku di atas kakinya, sepertinya perjalanan ini akan terasa lama.

Mobil terus melaju hingga akhirnya berhenti di sebuah perempatan karena lampu merah. Tseng memandang Aerith, dan kedua matanya langsung tertuju pada kedua tangan Aerith yang terletak begitu kaku di pangkuannya, tanda bahwa dia merasa tidak nyaman.

"Aerith."

"Y—ya?"

"Kau tidak perlu begitu tegang," kata Tseng sambil memiringkan kepalanya. "Toh, aku juga bukannya sedang menculikmu."

"Ah hahaha, iya tentu saja … Tseng," jawab Aerith, meski dia tahu tawa-nya pasti terdengar aneh. "Aku hanya merasa tidak familiar dengan daerah ini, itu saja."

"Tidak apa-apa, kau akan terbiasa nanti, dan lagi seperti yang kukatakan barusan, tujuan kita tidak begitu jauh, kok."

Lampu merah akhirnya berganti menjadi hijau, dan Tseng tiba-tiba tancap gas, membuat tubuh Aerith tersentak sedikit ke depan.

"Maafkan aku, sepertinya aku terlalu cepat. Kau tidak apa-apa?" tanya Tseng yang kemudian memperlambat kecepatannya.

"Ti—tidak apa-apa, lagipula aku pakai seatbelt."

"Maaf, tidak seharusnya aku berbuat seperti itu, aku akan lebih berhati-hati lagi."

Tiba-tiba saja, Tseng meletakkan sebelah tangannya di atas Aerith, mencoba untuk menenangkannya. Namun alih-alih menenangkan, tangan Tseng yang menggenggam tangannya membuat hatinya mulai terasa berdebar. Dan lagi, Tseng hebat sekali bisa menyetir hanya dengan mengandalkan satu tangan saja, meski mobil sedang tidak dalam kecepatan tinggi.

"Apa dia akan seperti ini terus sepanjang perjalanan?" bisik Aerith dalam hati.

Dan ternyata, Tseng benar-benar menggenggam tangan Aerith sampai mereka sampai ke tujuan.

Setelah 15 menit yang terasa lebih lama dari biasanya, mobil yang mereka naiki akhirnya berhenti. Aerith yang daritadi menunduk langsung mengangkat kepalanya, dan kedua matanya langsung menangkap pemandangan yang membuat mulutnya menganga lebar.

Ternyata Tseng membawanya ke kebun bunga lili.

Kebun bunga lili yang begitu luas dan berwarna-warni, namun semua warna itu bisa saling berdampingan dalam harmoni, membentuk sebuah keindahan yang begitu memanjakan mata.

Aerith begitu takjub, sangat takjub, sampai dia reflek keluar dari mobil dan berjalan mendekati kebun itu. Melihat reaksi Aerith, Tseng pun langsung menyunggingkan senyum puas.

"Wow," kata Aerith. "Ini sungguh luar biasa."

Tseng berjalan keluar dari mobil, lalu berdiri di samping Aerith. "Kebun bunga ini adalah tempat umum, sebuah organisasi non profit membeli tanah di sini dan menanam bunga lili dalam jumlah besar, dengan tujuan sebagai destinasi relaksasi untuk banyak orang yang bisa dinikmati secara gratis."

"Tempat umum?" tanya Aerith. "Tetapi sepertinya tidak ada orang lain di sini."

"Karena aku membuat permintaan khusus pada pengelola tempat ini," jawab Tseng. "Aku ingin membuat kejutan untukmu."

"Kejutan … untukku?" tanya Aerith lagi, kali ini wajahnya menatap Tseng. "Kenapa?"

"Itu karena…"

Sebelum menyelesaikan ucapannya, Tseng merogoh sesuatu dari kantung celananya, lalu dia memasangkannya di rambut Aerith. Sebuah jepitan bunga lili berwarna putih yang mirip seperti aslinya.

"Karena aku ingin lebih sering melihat senyummu."

Aerith bisa merasakan wajahnya memanas dan jantungnya mulai berdegup kencang, apalagi ketika tangan Tseng membelai wajahnya dengan lembut.

Harus diakui, Aerith bukan tipe yang mudah jatuh cinta, namun di pertemuan yang bahkan belum sampai setengah hari ini, Tseng sepertinya bisa mengubah pandangan itu.

A/N : Terima kasih untuk kalian semua yang masih setia dengan cerita ini. FYI, dress yang dikenakan Aerith sama persis dengan dress pink Aerith yang ada FF7 remake, sementara outfit Tseng bisa kalian bayangkan sendiri hehe. Keep reading, stay safe and healthy!