CHAPTER 6
Tseng ternyata memang sudah menyiapkan segalanya.
Setelah mereka tiba di kebun bunga, Tseng berjalan ke bagasi mobil untuk mengambil beberapa barang, yang ternyata adalah karpet dan sekotak sandwich. Tseng mengajak Aerith berjalan ke tengah-tengah kebun bunga, ke sebuah spot yang memang diperuntukkan untuk piknik, lalu menggelar karpet dan berberes. Aerith juga membantu meski tidak banyak, dia merasa tidak enak karena Tseng sudah rela repot-repot seperti ini demi dirinya. Oh ya, ternyata Tseng juga membawa payung, mungkin untuk berjaga-jaga.
Cuaca saat ini begitu bagus, langit begitu cerah dengan awan-awan putih yang menghiasinya. Angin bertiup sepoi-sepoi, menyejukkan Tseng dan Aerith yang tengah beristirahat karena lelah sepanjang perjalanan. Menit-menit pertama piknik entah mengapa membuatnya teringat akan menit-menit pertama mereka naik mobil, mereka sama-sama diam. Tseng meletakkan kotak sandwich di tengah-tengah mereka, tetapi baik Tseng ataupun Aerith belum ada yang mengambil.
Yah, Aerith sungguh tidak tahu harus bagaimana memulai percakapan, apalagi … setelah kejadian tadi.
Karena aku ingin lebih sering melihat senyummu.
Perempuan mana yang tidak tersipu malu ketika ada seorang pria tampan yang mengucapkan itu padamu? Rasanya Aerith seperti tokoh-tokoh wanita dalam novel atau komik romantis, yang rata-rata ceritanya terasa terlalu indah untuk menjadi kenyataan.
Setelah hampir lima menit saling duduk terdiam, Aerith akhirnya meraih salah satu sandwich dan memakannya. Sandwich yang dia makan adalah sandwich telur, makanan rumahan yang cukup umum, dan rasanya enak. Aerith melirik ke arah Tseng, dan benar saja, ternyata Tseng juga tengah melihat ke arahnya sambil tersenyum. Aerith langsung buru-buru mengalihkan pandangannya lagi karena dia merasa wajahnya memanas.
"Enak?" tanya Tseng, yang dijawab dengan anggukan. "Makanlah lagi kalau begitu."
"Tidak apa-apa, aku … masih agak kenyang, kan, belum lama ini makan pasta."
"Ah, iya juga, ya," jawab Tseng.
Angin tiba-tiba mulai bertiup lagi, dan mungkin karena merasa tidak nyaman, Tseng akhirnya memutuskan untuk membuka ikat rambutnya dan membiarkan angin bermain dengan rambut hitam panjangnya. Namun tidak disangka, gestur tubuh Tseng justru menjadi pemandangan yang begitu memanjakan mata Aerith.
Aerith bergumam 'wow' di dalam hatinya. Kok, bisa ada ya manusia yang begitu mempesona seperti ini?
"Memang lebih nyaman seperti ini," kata Tseng. "Tidakkah kau pikir begitu, Aerith?"
"…iya," jawab Aerith. "Tseng, mengapa kau memanjangkan rambutmu? Memang hobi-kah?"
Tseng tertawa. "Hobi, ya? Mungkin bisa dibilang begitu, anggap saja memang hobiku memanjangkan rambut."
Aerith merespon dengan ikut tertawa kecil, tetapi ternyata ucapan Tseng belum selesai sampai disitu.
"Aerith."
"Ya?"
"…kau cantik sekali."
Dalam sehari, rayuan dari Tseng datang berkali-kali, membuat Aerith menjadi salah tingkah. Aerith bingung harus memberikan respon apa, apakah dia harus mengucapkan 'terima kasih' atau diam saja? Dan akhirnya, pilihan kedua-lah yang diambil Aerith, sambil mengunyah sandwichnya.
Sayangnya, kencan piknik mereka tidak bisa berlangsung lebih lama. Langit biru cerah tiba-tiba berubah mendung dengan suara guntur yang mulai terdengar bergemuruh. Merasa akan turun hujan, Tseng akhirnya mengajak Aerith untuk bangkit berdiri untuk berberes dan kembali ke mobil. Benar saja, tidak sampai sepuluh menit setelahnya, hujan pun turun menyapu daratan.
"Sayang sekali, ya," ucap Tseng. "Maaf karena aku mengajakmu ke sini, ternyata semuanya tidak berjalan sesuai rencana."
"Oh, tidak apa-apa! Aku sangat senang, kok! Apalagi, aku sangat suka semua hal yang berkaitan dengan bunga!"
"Begitukah?" tanya Tseng, yang setelahnya menyandarkan tubuhnya di kursi. "Kalau begitu aku akan mengajakmu lagi lain waktu."
"…eh?"
"Aku akan menyusun rencana kencan yang lebih baik, agar kita—tidak, kamu—tidak perlu lagi kehujanan seperti ini."
Tseng mengelus wajah Aerith, dan setelahnya mengendarai mobil meninggalkan tempat itu untuk mengantar Aerith pulang. Sementara Aerith, dia hanya membatu dengan wajah yang sudah ke sekian kalinya memerah.
…
Sesampainya di rumah, energi Aerith rasanya hilang begitu saja. Tseng benar-benar mengantarnya sampai rumah, dan dengan sopannya menunggu Aerith masuk ke dalam rumah, baru setelahnya dia pergi. Di dalam, Ivalna sudah menanti dengan wajahnya yang begitu sumringah, dan dia membanjiri Aerith dengan pertanyaan-pertanyaan yang Aerith bisa duga.
Bagaimana kencannya?
Siapa namanya? Kabarnya dia bekerja di rumah sakit yang sama denganmu?
Apakah dia tampan? Dan sepertinya dia mapan, ya? Tadi dia mengantarmu dengan mobil, kan?
Kotak apa yang kamu bawa?
Jepitan itu juga hadiah dari dia?
Semua pertanyaan hanya dijawab dengan 1 kalimat pendek.
"Nanti, ya, Ma."
Aerith masuk ke dalam kamarnya, melemparkan tas dan kotak berisi sisa sandwich ke atas kasur, hingga akhirnya dia sendiri juga berbaring. Padahal malam belum tiba, tetapi hujan yang terus turun dengan lebat dengan awan mendung membuat seolah sekarang sudah jam 8 atau 9 malam. Rasanya dia benar-benar lelah, bukan lelah karena perjalanan, tetapi lelah karena perasaannya dibuat naik turun selama pertemuan tadi.
Tidak ingin membuat Ivalna menunggu lebih lama, Aerith bangkit berdiri lagi, menghapus riasan wajah, lalu mandi secepatnya. Selesai mandi, Ivalna ternyata sudah menunggu di meja makan dengan macam ragam lauk yang masih hangat. Aerith memeluk dan mencium Ivalna lebih dulu sebelum duduk di kursinya sendiri.
"Jadi, bagaimana?" tanya Ivalna.
"Ternyata kami bekerja di rumah sakit yang sama," jawab Aerith sambil mengambil beberapa lauk. "Namanya Tseng, seorang dokter bedah trauma yang terkenal."
"Berarti dia mapan?"
"Seharusnya, tadi dia punya mobil yang cukup mewah," jawab Aerith lagi setelah menelan.
"Mapan, ya? Tapi kenapa dia lebih memilih menumpang ke rumah saudara, dan tidak menyewa apartemen sendiri, ya?"
Kali ini, Aerith hanya menjawab dengan mengangkat bahu, dia juga tidak mungkin menanyakan hal itu pada Tseng.
"Dia baik padamu?"
"Sangat baik, Ma!" jawab Aerith sambil mengangguk. "Dia membawaku ke kebun bunga lili yang luas dan indah sekali! Sayang, sih, tiba-tiba turun hujan, padahal tadinya kalau tidak hujan, kami akan piknik di sana berdua."
"Hoo…" jawab Ivalna yang kemudian bertopang dagu. "Seumur-umur, Mama jarang mendengarmu memuji pria lain, tetapi sepertinya Tseng ini berbeda, ya?"
Aerith terhenti sejenak. "Ah, masa, sih?"
Ivalna menjawab dengan mengangkat kedua alisnya. "Kapan-kapan kau boleh mengajaknya makan di sini, Aerith."
Oh, Gaia, Tseng sepertinya berhasil merebut hati Ivalna bahkan sebelum mereka berdua sempat bertatap muka.
Selesai makan malam dan quality time berdua dengan Ivalna, mulut Aerith tiba-tiba menguap lebar. Kembali mencium Sang Mama, Aerith berjalan kembali ke kamarnya dan di dalam dia langsung membenamkan wajahnya ke bantal, teringat kembali akan momen kencan mereka berdua yang meski terbilang singkat namun memberikan kesan yang begitu dalam. Apakah dia benar-benar tengah jatuh cinta? Tapi, masa secepat itu dia jatuh hati kepada seorang pria?
"Rasanya aku mulai gila," kata Aerith.
Selagi Aerith berguling-guling sendiri, ponselnya yang sedaritadi diletakkan di samping bantal tiba-tiba berbunyi, memunculkan notifikasi adanya pesan masuk. Dengan malas Aerith mengulurkan tangannya, dan ketika dia melihat nama 'Leslie' sebagai pengirim pesan, Aerith langsung membangkitkan separuh badannya untuk duduk. Mau apa Leslie mengirim pesan untuknya malam-malam begini? Jangan-jangan dia mau menggoda-nya juga mengenai kencan hari ini.
Dokter Aerith, Anda sudah tidur?
Baru mau tidur, kenapa?
Ingin menyampaikan sesuatu saja, aku mendengar kabar mengenai dimana polisi-polisi itu dirawat.
Melihat itu, kedua mata Aerith langsung melotot.
Kau dengar darimana?
Hari ini saat aku keluar membeli minuman, aku bertemu dengan salah seorang respsionis di rumah sakit. Kita mengobrol sebentar, dan tiba-tiba saja dia mengucapkan hal yang sebenarnya tidak boleh dia ucapkan.
Astaga … lalu dimana mereka dirawat?
Kalau kuberitahu, apakah dokter mau menjenguk mereka?
Apa-apaan emoji itu? Begitulah pikir Aerith sambil mengetik balasan.
Memangnya salah kalau aku menjenguk mereka? Polisi-polisi itu, kan, sempat membantuku sebelumnya. Besok juga kita tidak ada jadwal praktek.
Ooooh, jadi Anda akan benar-benar menjenguk mereka, Dok?
Iya, iya! Ah, sudahlah lebih baik besok tanya sendiri ke resepsionis.
Oke, oke, jangan marah. Para polisi itu semuanya dirawat di lantai 5, dan karena jumlah yang terluka cukup banyak, hampir separuh kamar di lantai 5 dihuni oleh mereka.
Ketika Aerith hendak membalas lagi, tiba-tiba Leslie kembali mengirimkan pesan.
Oh ya, dia juga bilang bahwa seorang polisi bernama Zack dirawat di kamar yang berbeda sendiri, karena luka yang dideritanya paling parah. Meski sudah membaik, tetapi dokter dan perawat tetap harus waspada.
Hei, kenapa kau tiba-tiba mengungkit nama Zack?
Lho, dia polisi yang membantu Dokter sebelumnya, kan? Jadi kupikir tidak ada salahnya beritahu Dokter.
"Urgh, Leslie ada benarnya juga, sih," gumam Aerith.
Mengakhiri pembicaraan, Aerith mengirim pesan 'Baiklah, terima kasih, ya, aku tidur dulu' kepada Leslie, dan setelahnya kembali berbaring. Sialnya, kali ini kedua matanya malah merasa segar, padahal belum ini dia sudah menguap lebar. Aerith berbaring ke sisi kanan, dan kemudian menimbang-nimbang apakah dia harus pergi besok untuk menjenguk. Sebelumnya saat dia berkunjung, mereka semua masih tidak sadarkan diri. Namun, menurut info dari Leslie mereka semua sekarang sudah membaik, jadi seharusnya tidak apa-apa, kan, jika dia berkunjung lagi?
Aerith membenamkan wajahnya ke bantal, dan setelah berpikir selama beberapa saat, akhirnya Aerith memutuskan untuk pergi besok.
"Besok pagi-pagi harus mencari oleh-oleh untuk mereka."
A/N : Sekali lagi, terima kasih untuk kalian semua yang masih setia dengan fanfic ini. Saya sangat mengapresiasi setiap kritik, saran dan cinta yang kalian berikan, meski fandom FF7 di Indonesia sudah sangat sepi. Stay safe, stay healthy, ya.
