CHAPTER 7

Aerith bergumam 'hmmm' di depan rak yang berisi macam ragam souvenir. Sekarang sebenarnya masih jam 8 pagi, dan jam besuk rumah sakit dimulai satu jam setelahnya. Tetapi Aerith merasa dia harus datang lebih pagi untuk membeli oleh-oleh, apalagi rencananya begitu mendadak. Menurut Ivalna, buah adalah pilihan terbaik untuk dibawa ketika membesuk, tetapi mengingat kondisi para polisi yang fisiknya terluka parah, dan mereka pasti tidak bebas untuk makan atau mengupas buah sendiri, Aerith akhirnya mempertimbangkan untuk membeli oleh-oleh lain.

Berbalut dress kasual selutut berwarna kuning pastel, Aerith kini tengah berada di toko souvenir yang jaraknya hanya satu stasiun dari Rumah Sakit. Tetapi meski dia sudah mondar mandir ke beberapa rak selama 10 menit, Aerith masih belum menemukan oleh-oleh yang cocok. Benar-benar kacau balau.

Seolah menyadari kegalauan Aerith, seorang pramuniaga yang tengah berjaga berinisiatif datang menghampirinya.

"Maaf, Nona, apa ada yang bisa saya bantu? Saya lihat Anda sepertinya kebingungan."

"Ah, iya, saya ingin mencari souvenir untuk membesuk orang sakit, kalau bisa selain makanan."

Pramuniaga itu menganggukkan kepalanya. "Saya sepertinya ada rekomendasi, silahkan ikuti saya."

Pramuniaga itu membawa Aerith ke bagian lain seperti kartu ucapan, boneka beraneka bentuk dan ragam, serta souvenir-souvenir unik lainnya. Tetapi meski sudah dibantu, Aerith masih belum merasa 'klop'. Menyerah, akhirnya Aerith memilih untuk membeli tiga keranjang buah saja. Nanti Aerith akan memberi pesan kepada perawat untuk membantu jika para polisi itu ingin makan.

Aerith membayar dan kemudian berjalan keluar dari toko, dengan seorang pramuniaga yang ikut membantu membawa belanjaan Aerith. Karena barang bawaannya banyak dan berat, Aerith memilih untuk naik taksi daripada kereta. Aerith berjalan ke pinggir jalan dan melambaikan sebelah tangannya, tidak lama kemudian sebuah taksi berwarna kuning datang. Aerith mengucapkan terima kasih pada pramuniaga yang membantunya mengangkat barang.

"Tolong antar ke Rumah Sakit Midgar," kata Aerith setelah menutup pintu.

Supir taksi mengangguk dan kemudian mobil mulai berjalan ke tujuan. Aerith tidak pernah ke Rumah Sakit diluar shift kerjanya, jadi sepertinya kunjungannya ke rumah sakit hari ini akan terasa agak aneh. Tetapi ya sudahlah, toh, dia hanya ingin pergi membesuk.

Karena jaraknya yang terbilang dekat, Aerith sudah sampai tujuan hanya dalam waktu 15 menit. Aerith mengucapkan terima kasih dan membayar tarif perjalanan sebesar 500 gil. Melihat barang bawaan Aerith yang banyak, supir taksi berbaik hati meminggirkan kendaraannya dan membantu Aerith membawakan barang hingga pintu depan, yang dibalas dengan ucapan terima kasih. Aerith menyesal mengenakan sandal hak rendah untuk kunjungan kali ini, harusnya tadi dia pakai jeans dan sneakers saja.

"Dokter Aerith, Anda ada shift hari ini?" tanya petugas keamanan di samping pintu.

"Ah, bukan begitu, saya hanya ingin membesuk beberapa teman," jawab Aerith. "Bisa bantu saya bawa barang-barang ini?"

"Tentu saja, Dokter!"

Aerith bernapas lega, dan setelah petugas keamanan, kini resepsionis yang juga terkejut melihat kedatangan Aerith. Aerith kembali memberikan jawaban yang sama ketika ditanya.

"Aku ingin mengunjungi pasien bernama Zack Fair, boleh beritahu berapa nomor kamarnya?"

"Zack Fair, sebentar…" kata resepsionis yang matanya mulai menyaring data di layar komputer. "Zack Fair berada di kamar 517, Dok. Silahkan menaiki elevator yang ada di sana."

Seolah Aerith masih harus diberitahu elevator ada dimana, tetapi mungkin memang seperti itu SOP resepsionis rumah sakit. Aerith menganggukkan kepalanya sebagai ganti kata 'terima kasih', lalu bersama petugas kemanan berjalan cepat ke elevator yang pintunya hampir menutup. Untung ada seorang wanita paruh baya yang berbaik hati menahan pintu.

Elevator berhenti di lantai 3 terlebih dulu sebelum tiba di tujuan. Beberapa perawat yang berada di meja jaga langsung mengenali sosok Aerith, mereka tampak terkejut dan heran.

"Dimana saya harus taruh barang-barang ini, Dok?"

"Taruh di meja ini saja, terima kasih, ya."

"Dokter, tumben Anda datang ke rumah sakit hari Minggu?" tanya salah seorang perawat. "Ada pasien darurat?"

"Aduh, aku di sini, kan, hanya sebagai dokter umum, apanya yang pasien darurat?" jawab Aerith. "Aku barusan beli keranjang buah ini, tolong bantu bagikan kepada para polisi itu ya."

"Para polisi? Maksud Anda para polisi yang tengah dirawat itu? Ternyata Anda kenal mereka, Dok?"

"Yah, bisa dibilang begitu. Tolong, ya, nanti kubelikan kalian makan siang."

"Siap, Dokter!" jawab si perawat dengan ceria.

Aerith memberikan gestur 'kiss-bye' pada perawat, lalu menghela napas panjang. Oke, kali ini dia harus mencari kamar nomor 517.

Sesuai dengan pesan Leslie semalam, hampir semua kamar di lorong ini dihuni oleh polisi yang terluka karena serangan teroris beberapa hari lalu. Tadinya Aerith ingin mengunjungi mereka satu persatu, tetapi ternyata hampir semua polisi tersebut tengah dikunjungi keluarga dan kerabat, sehingga Aerith mengurungkan niatnya. Mereka semua menangis, reaksi yang sangat wajar ketika melihat anggota keluarganya nyaris tewas karena serangan yang mengerikan itu.

Aerith menonton berita mengenai perkembangan kasus itu diam-diam. Meski sudah beberapa hari berlalu semenjak kasus terorisme itu terjadi, tetapi polisi masih belum bisa menangkap atau mengungkap dalangnya. Kamera pengawas tidak banyak membantu, karena para teroris itu mengenakan pelindung wajah, dan ketika mereka mulai masuk, hal pertama yang mereka lakukan adalah menembak semua CCTV. Melihat teroris yang seolah sudah hapal dengan letak CCTV, polisi menduga teroris itu sudah mengenal denah bank dengan baik, atau mungkin saja ada bantuan orang dalam.

Karena teroris belum tertangkap, satu-satunya cara yang bisa dilakukan polisi adalah meningkatkan keamanan di Midgar, terutama di tempat-tempat umum termasuk Rumah Sakit. Kalau tidak salah, di gerbang Rumah Sakit memang ada sekitar lima orang polisi yang berjaga lengkap dengan helm, rompi anti peluru, dan senjata api. Kehadiran mereka memang untuk menjaga keamanan di sekitar tempat ini, tetapi siapa juga yang bisa tenang melihat polisi bersenjata api mengawasi tempatmu bekerja?

Saking khawatirnya, Aerith bahkan berpikir mungkin ada baiknya dia membeli semprotan lada untuk melindungi diri dari penjahat, tetapi ide itu sepertinya terdengar konyol.

Setelah berjalan melewati pintu demi pintu, Aerith akhirnya tiba di kamar 517. Berbeda dengan kamar lain yang terdengar agak ramai, tidak ada suara sama sekali dari dalam kamar 517. Menelan ludah, Aerith akhirnya memberanikan diri untuk membuka pintu dan masuk ke dalam.

Seluruh kamar di lantai ini masing-masing berkapasitas 6 kasur, dan di kamar-kamar yang Aerith lalui hampir semua kasurnya tengah ditiduri pasien. Tetapi anehnya, kamar 517 ini justru sepi. Kasur-kasurnya masih tampak rapi dan belum tersentuh, kecuali … satu kasur di samping kamar mandi yang tengah ditutupi tirai. Posisi kasur itu entah mengapa mengingatkan Aerith saat dia berkunjung ke ruang gawat darurat.

"Mungkin Zack dirawat di sana," gumam Aerith sambil melangkahkan kaki, dan tiba-tiba terdengar suara yang mengagetkannya.

BRAK!

Suara itu terdengar seperti ada sesuatu yang jatuh, membuat Aerith menduga-duga didalam hatinya. Khawatir terjadi sesuatu, Aerith mempercepat langkahnya dan segera membuka tirai.

"Zack, kau tidak a—kyaaaa!"

Dan Aerith pun disambut Zack yang tengah bertelanjang dada, dengan baju yang tidak terpasang dengan benar.

"Ah! Do—dokter Aerith, kenapa Anda ada di sini?!" kata Zack setengah berteriak dan menutup tubuhnya, meski usahanya sia-sia.

"Pakai bajumu dulu, Zack!" ucap Aerith sambil menutup wajahnya.

"A—aku sudah berusaha, tetapi dengan keadaan seperti ini…"

Keadaan seperti ini? Aerith menurunkan kedua tangannya, dan dia melihat perban yang melilit dari pundak hingga sepanjang tangan kanannya. Dengan keadaan seperti itu, pastinya akan sulit untuk berganti baju sendiri.

Akhirnya, Aerith memutuskan untuk mengesampingkan rasa malunya dan membantu Zack untuk berganti baju. Sebenarnya dia bisa tinggal memencet bel perawat, tetapi ya sudahlah. Aerith membantu Zack menggerakkan tangan kanannya perlahan, sambil memberitahu Zack bahwa ini akan sakit sedikit. Zack untungnya menurut, sehingga tidak butuh waktu lama bagi kaus itu untuk terpasang dengan benar ditubuhnya. Ketika membantu, Aerith melihat kotak pertolongan pertama yang jatuh di lantai, yang Aerith tebak adalah sumber suara tadi.

"Zack, kusarankan kau mengenakan baju yang berkancing, karena akan lebih mudah dipakai dengan kondisi pundakmu yang seperti ini," kata Aerith. "Dan lagi, kenapa kau tidak memanggil perawat untuk membantumu berganti baju?"

"Iya, Dok—"

"Aerith," potong Aerith. "Panggil aku Aerith saja, dan satu lagi, kau tidak perlu bersikap begitu formal padaku, Zack."

"Oh, baiklah, Aerith, sebelumnya terima kasih sekali karena sudah membantuku," kata Zack. "Aku tidak memanggil perawat karena sudah terbiasa melakukan apapun sendirian, makanya…"

"Ya ampun, Zack, kau tidak perlu sungkan memanggil mereka. Kau, kan, sedang terluka cukup parah," jawab Aerith. "Bagaimana keadaanmu?"

"Sudah jauh lebih baik, tetapi Dokter bilang butuh waktu beberapa bulan sampai akhirnya pulih," jawab Zack. "Pasti akan sangat membosankan hanya tidur-tiduran di sini."

"Hei, jangan bilang begitu. Ini, kan, demi kebaikanmu juga," kata Aerith, yang kemudian melihat dua butir apel di atas rak kecil samping ranjang. "Aku potongkan buah untukmu, ya."

"Buah? Ah iya, tadi memang ada perawat yang membawakannya ke sini saat jam makan siang. Tetapi mereka tidak seperti kau yang berinisiatif memotongnya untukku."

"Mereka, kan, harus mengurus pasien lain, Zack," kata Aerith, yang tidak butuh waktu lama untuk memotong buah. "Yuk, makan."

Ketika Aerith berkata 'Yuk, makan', Zack mengira dia akan makan sendiri. Tetapi ternyata tidak, tangan Aerith sudah bersiap untuk menyuapinya, membuat Zack tidak dapat menyembunyikan rasa terkejutnya.

"Kenapa, kau tidak mau?" tanya Aerith.

Zack tiba-tiba tersadar. "Oh, mau, tentu saja aku mau!"

Seperti anak anjing, Zack langsung melahap potongan buah yang berada tidak jauh di depannya, lalu mengunyah dengan girang seperti anak kecil yang baru diberi permen. Sisi kekanakan Zack membuat bibir Aerith menyunggingkan senyum, dan setelahnya dia kembali menyuapi Zack.

"Enak, ya?"

"Sangat," jawab Zack. "Apalagi yang tengah menyuapi adalah seorang gadis yang sangat cantik."

Kalimat terakhir Zack seolah menjadi serangan telak untuk Aerith. Dia bisa merasakan wajahnya memanas.

"B—bicara apa, sih, kamu ini?" kata Aerith sambil menyuapi lagi. "Aku tidak cantik, tahu."

"Hmm," Zack bergumam. "Koreksi kalau begitu, kau memang tidak cantik."

"E—eh? Kok…"

"Tapi kau adalah calon istri idaman semua orang, termasuk aku."

Serangan beruntun kedua itu membuat wajah Aerith semakin memanas, dan yang menyebalkan adalah Zack bisa mengatakan itu dengan senyum yang begitu lebar. Aerith memalingkan wajahnya, tidak mau Zack melihat wajahnya yang pasti sudah semerah tomat.

"Hei, kenapa kau memalingkan wajah, Aerith?"

"Ti—tidak apa-apa, omong-omong cahaya mataharinya silau sekali, ya! Biar aku tutup kordennya," jawab Aerith yang hendak bangkit berdiri.

"Jangan," sela Zack. "Jangan tutup kordennya."

"Lho, kenapa?"

Zack kembali menyunggingkan senyum lebar. "Karena aku suka melihat sosokmu yang bermandikan cahaya matahari, Aerith. Begitu indah dan anggun, seperti melihat bidadari yang turun dari langit."

Dan datanglah serangan beruntun ketiga. Aerith reflek menutupi wajahnya dengan korden, rasanya dia ingin sekali kabur ke kamar mandi saking malunya. Sementara Zack, dia—lagi-lagi—memperlihatkan senyum lebarnya, seolah puas dengan reaksi Aerith.