CHAPTER 8
Dua hari yang lalu, saat Aerith bersama Tseng…
Karena aku ingin lebih sering melihat senyummu.
Lalu kemarin, saat Aerith bersama Zack…
Karena aku suka melihat sosokmu yang bermandikan cahaya matahari, Aerith. Begitu indah dan anggun, seperti melihat bidadari yang turun dari langit.
Aerith menutup wajah dengan kedua tangannya. Demi Gaia, sebenarnya apa yang terjadi padanya? Kok, bisa-bisanya dia dirayu oleh 2 pria tampan selama 2 hari berturut-turut? Apakah dia memang sebegitu mempesona-nya, atau memang mereka saja yang bermulut manis? Gara-gara mereka, Aerith selalu pulang ke rumah dalam keadaan tersipu malu. Dan sialnya, perasaan itu tidak bisa langsung hilang hanya dalam 1-2 hari, bahkan saat dia bekerja!
Menepuk-nepuk wajahnya, Aerith mempersilahkan Leslie untuk memanggil pasien selanjutnya, yang ternyata adalah seorang anak berusia 5 tahun yang diantar oleh ibunya. Anak itu tengah sakit batuk karena terlalu sering makan makanan manis, penyakit yang sering dijumpai pada anak kecil. Dan anak tersebut juga langsung merengek ketika diberitahu harus stop makan dan minum manis dulu, dan yah, ini juga reaksi yang sering Aerith jumpai. Untungnya, Aerith selalu punya jurus jitu untuk menenangkan anak-anak.
"Baiklah, terima kasih dan semoga cepat sembuh," ucap Leslie yang setelahnya menutup pintu, lalu dengan langkah cepat menghampiri Aerith. "Dokter, ceritakan, dong, pengalamannya."
"Penga—hei, kita masih ada pasien, lho. Nanti saja baru dibicarakan."
"Sebentar saja, Dok. Ayolah, cerita!"
"Leslie."
Aerith mencoba untuk bersikap tegas, tetapi Leslie tampak begitu memelas. Aerith akhirnya menghela napas sebagai tanda bahwa dia menyerah.
"Yah, dua-duanya benar-benar tidak terlupakan."
Leslie memiringkan kepalanya. "Dua? Oh … jadi mengunjungi polisi itu juga termasuk kencan, ya?"
Wajah Aerith tiba-tiba memerah. "Bukan kencan, sih, tetapi entah mengapa suasana-nya terasa seperti itu."
"Wow, jadi Anda didekati dua pria sekaligus, Dok? Begitu maksudnya?"
Wajah Aerith makin memerah mendengarnya, sementara senyum Leslie semakin lebar. Oh, ini sungguh tidak bagus.
"Leslie! Lebih baik kita urus pasien dulu, ya, nanti baru kita bicarakan lagi."
Leslie tertawa usil, lalu kembali ke pintu depan untuk memanggil pasien berikutnya. Sial, gara-gara ucapan Leslie tadi, Aerith jadi makin sulit berkonsentrasi. Tetapi Aerith langsung menunjukkan senyumnya tepat ketika pasien berikutnya datang.
Fokus, Aerith. Fokus!
"Silahkan duduk, apa keluhan Anda kali ini?"
Jam makan siang akhirnya tiba juga, dan seperti biasa Leslie menemani Aerith ke kafetaria untuk makan bersama. Ketika Aerith beranjak dari meja, tiba-tiba saja telepon yang ada di meja kerjanya berdering. Aerith memberi isyarat pada Leslie untuk keluar ruangan terlebih dulu, baru setelahnya dia mengangkat telepon.
"Halo?"
"Halo, apakah ini Dokter Aerith?"
"Iya, betul. Ada apa, ya?"
"Maaf, apakah Dokter nanti malam bisa membantu untuk mengontrol pasien di lantai 5? Dokter yang ditunjuk ada urusan mendadak, dan menurut jadwal hanya Anda yang jadwalnya sesuai."
Aerith mengerutkan kening. "Apakah ini termasuk lembur? Hanya hari ini, kan?"
"Iya, betul, Dok."
Orang di telepon (Aerith tebak adalah staf HR) kemudian menjelaskan sebentar, dan kemudian telepon berakhir sekitar 5 menit kemudian. Aerith menghela napas lalu menyusul Leslie yang masih menunggu di luar.
"Siapa, Dok?" tanya Leslie sambil berjalan.
"Staf HR sepertinya, mereka memintaku untuk lembur hari ini, menggantikan dokter yang berjaga di lantai 5."
Leslie melebarkan matanya. "Berarti Dokter akan shift malam di sini?"
Aerith mengangguk. "Tapi aku dengan tegas mengatakan tidak boleh melewati jam 10 malam, karena besok masih ada praktek. Hari ini, kan, kebetulan kita praktek sampai jam 3 sore."
Kali ini Leslie menganggukkan kepalanya. "Ah, tapi Dokter akan ke lantai 5, kan? Kalau Dokter bertemu dengan polisi itu lagi, kurasa jam 10 malam juga tidak cukup."
Aerith menoleh, lalu dia memukul lengan Leslie yang tertawa puas. Dia baru berhenti ketika Leslie berkata 'Ampun, Dok' berkali-kali.
"Dok, janji, ya. Nanti saat makan Anda harus menceritakan pengalaman kencan Anda dengan Dokter Tseng dan polisi itu."
"Kok, kamu sepertinya tertarik sekali dengan hal seperti ini? Kamu sendiri bagaimana, sudah punya teman kencan?" tanya Aerith sambil menyipitkan kedua matanya.
"Tsk, tsk", Leslie menggoyangkan jari telunjuknya. "Dokter, Anda terlalu meremehkan saya. Sejauh ini saya sudah pernah berkencan dengan tiga wanita berbeda, meski belum ada satupun yang mampu membuat saya benar-benar jatuh hati."
Mulut Aerith membentuk huruf 'O' lebar. Wow, Leslie pernah berkencan dengan tiga wanita berbeda sebelumnya? Dia tidak menyangka bahwa perawatnya yang satu ini ternyata tidak hanya tampan, tetapi juga adalah seorang 'womanizer'.
"Dok, Anda mau makan burger? Menu itu ada di lauk hari ini."
"Boleh, kau ambil burger, dan aku ambil ramen. Kau mau ramen, kan?" tanya Aerith, yang dijawab dengan anggukan oleh Leslie.
Waktu ternyata berjalan begitu cepat, tanpa disadari jam 3 sore sudah tiba. Sepuluh menit sebelumnya Aerith sudah mengabari Ifalna bahwa dia akan lembur hari ini, jadi Ifalna tidak perlu menunggunya dan membuatkan Aerith makan malam, karena besar kemungkinan Aerith akan makan di kantin rumah sakit. Leslie pamit pulang lebih dulu, sementara Aerith masih harus membereskan barang-barang dan pekerjaannya.
Selesai, Aerith dengan langkah cepat bergerak menuju lantai lima. Di sana ada seorang perawat yang tengah menunggunya, dia tengah membawa tumpukan file-file yang cukup banyak yang Aerith duga adalah data-data pasien yang akan dia tangani nanti.
"Maaf, Dok, dokter yang biasanya menangani tiba-tiba ada urusan keluarga," kata si perawat sambil menyerahkan file.
"Tidak apa-apa, jadi kita mulai dari mana?"
Perawat itu mengangguk, lalu mengajak Aerith untuk mulai berkeliling memeriksa pasien. Aerith menghela napas mengingat pasien di lantai 5 yang jumlahnya didominasi polisi, dan jumlahnya juga tidak sedikit, hari ini sepertinya akan menjadi hari yang sangat melelahkan untuknya.
Tetapi ternyata kenyataannya tidak seburuk yang Aerith duga.
Para polisi itu memang masih terluka, tetapi diluar dugaan, mereka juga pulih lebih cepat dari biasanya. Jika Aerith membandingkan kondisi mereka saat pertama dibawa ke sini dengan kondisi sekarang, mereka bisa dibilang mengalami kemajuan yang pesat. Aerith mengangguk-anggukkan kepalanya sambil terus mengungkit hal itu kepada mereka, sebagai dorongan dan motivasi agar para polisi itu bisa semakin bersemangat untuk cepat sembuh.
Hal lain yang menarik perhatian Aerith adalah adanya psikoterapi yang juga dijadwalkan untuk mereka. Menurut pemeriksaan, kejadian terorisme yang mereka hadapi sebelumnya berpotensi menjadi peristiwa traumatis yang bisa memberi dampak pada kondisi psikologis. Meskipun dari luar para polisi itu tampak baik-baik saja, tetapi pihak rumah sakit tetap menjadwalkan psikoterapi untuk memastikan para polisi itu dapat sembuh tidak hanya dari segi fisik, melainkan juga mental mereka.
Selain itu, Aerith juga melihat petinggi kepolisian juga datang membesuk, dan menurut perawat yang berjaga, mereka datang ke sini hampir setiap hari. Meski sebenarnya jam besuk sudah lewat, tetapi rumah sakit memberikan pengecualian dengan syarat tidak mengganggu kenyamanan pasien lain, terutama kamar bersalin dan kamar bayi (Aerith baru tahu ada dua kamar itu di lantai 5). Aerith mengangguk dan tersenyum pada mereka, sebelum mulai memeriksa seorang polisi yang tengah terbaring dengan tangan digips.
Sejauh ini tidak ada masalah berarti yang muncul saat pemeriksaan, dan Aerith juga sudah memberikan catatan-catatan tambahan meski tidak banyak. Setelah memeriksa pasien demi pasien, Aerith dan perawat yang menemaninya akhirnya tiba di ruangan terakhir, ruangan yang juga merupakan tempat Zack dirawat.
"Baik, Dok, ini pasien terakhir. Anda sudah bekerja begitu keras, Dok!"
Aerith tersenyum. "Terima kasih, ya. Aku sendiri tidak menyangka jumlah polisi yang dirawat akan begitu banyak."
"Memang, sih, tetapi setidaknya kondisi mereka membaik begitu cepat. Dan mereka juga bisa dibilang tidak rewel, kadang malah masih bisa menggoda kami."
Aerith memberikan ekspresi 'Oh, masa?' kepada perawat itu, lalu mereka tertawa.
Ketika mereka tengah bersenda gurau, tiba-tiba dari arah berlawanan terdengar suara langkah yang berjalan mendekati mereka. Aerith menoleh ketika suara langkah itu semakin mendekat, dan kedua matanya melebar ketika mengetahui ternyata suara langkah kaki itu berasal dari pria yang mengajaknya kencan Sabtu lalu.
Tseng.
Dunia—eh, rumah sakit ini memang kecil, ya.
"Oh, Dokter Aerith!" ucap Tseng sambil tersenyum dan menghampiri mereka berdua, Aerith bisa merasakan perawat di sampingnya begitu kegirangan melihat Tseng. "Saya baru tahu Anda juga bertugas di lantai ini."
Aerith tertawa dengan canggung, dan penyebabnya adalah otaknya tiba-tiba memutar kembali momen kencan mereka berdua, terutama saat Tseng berkata…
"O—oh, saya hanya menggantikan dokter yang berjaga di sini, karena tiba-tiba ada urusan," jawab Aerith sebelum mulai berpikir macam-macam.
"Ah, ternyata begitu, ya," Tseng menjawab sambil menganggukkan kepalanya. "Dan kutebak, kau akan pergi ke ruangan itu?"
Aerith menganggukkan kepalanya. "Dokter Tseng, Anda juga memiliki keperluan di ruangan ini?"
"Bisa dibilang begitu, salah seorang polisi yang tengah dirawat di sini adalah kenalanku, dan aku menyempatkan diri untuk menjenguk dia hari ini. Kebetulan hari ini jadwalku tidak begitu sibuk."
Aerith kembali menganggukkan kepalanya, dan Tseng tiba-tiba melihat jam tangannya yang berwarna hitam.
"Ups, aku tidak bisa berlama-lama di sini," ucap Tseng. "Baiklah, sampai jumpa lagi, ya, Dokter Aerith. Anda juga, Perawat."
Aerith dan perawat itu sama-sama menganggukkan kepalanya, lalu dia menghembuskan napas lega. Tetapi kelegaan itu tidak bertahan lama, karena Tseng tiba-tiba menghentikan langkahnya tepat di samping Aerith, lalu dia mendekatkan bibirnya ke telinga Aerith untuk berbisik.
"Aku tidak sabar menunggu kencan kita selanjutnya."
Bisikan itu membuat Aerith tersentak, dan file-file yang dipegangnya mungkin akan langsung jatuh berserakan jika dia tidak reflek memeluknya. Bahkan perawat yang mendampingi Aerith langsung menutup mulut karena kaget dan kegirangan. Tseng tertawa kecil melihat reaksi Aerith, lalu dia kali ini benar-benar berjalan pergi meninggalkan mereka berdua. Si perawat langsung menghampiri Aerith dengan begitu bersemangat.
"Dokter Aerith! Anda berpacaran dengan Dokter Tseng yang tampan dan terkenal itu?!"
"Hus! Jangan bicara sembarangan, ah! Kami saat ini hanya berteman, kok!" jawab Aerith dengan wajah yang memanas. "A—ayo kita ke ruangan terakhir, masih ada satu pasien terakhir sebelum akhirnya kita bisa beristirahat."
Aerith masuk duluan meninggalkan perawat yang masih tertawa menggodanya. Di dalam ruangan ternyata masih sepi, dan ketika Aerith melangkah masuk ke dalam, dia dikejutkan dengan sosok perempuan berambut oranye sebahu yang berada di samping ranjang Zack, Aerith tidak bisa melihat wajahnya dengan jelas karena posisi wanita itu yang tengah memunggunginya. Tetapi bukan itu yang mengejutkan Aerith, yang mengejutkan Aerith adalah…
Wanita itu tengah mencium kening Zack yang tengah tertidur.
A/N : Terima kasih kepada kalian yang masih mau membaca dan mengikuti cerita ini, saya sangat mengapresiasi. Mohon read, review, lalu follow & favorite ya! Dan mohon maaf juga karena mungkin saya tidak bisa update dengan cepat, karena selain bekerja, saya juga tengah mengerjakan project orific berbahasa inggris. Stay safe and healthy, ya! Semoga pandemi ini bisa segera membaik!
