Toothy smile
.
.
.
Chapter 2
.
.
.
Seisi pekarangan Seimei seakan gempar ketika melihat penampakan tidak biasa yang tiba-tiba saja muncul dari jalanan depan rumah. Terlihat Hiromasa tersedak sake yang baru didapatkannya dari Ootengu. Dirinya melirik ke arah Seimei yang tersenyum dengan makna 'sudah-kuduga'.
"Bagaimana kau bisa tahu, Seimei?"
"Well, kalau aku bilang asal muasal Yasha kemungkinan kau tidak akan percaya."
"Ha?"
"Nah kan? Kau sudah memasang muka model seperti itu."
"Au ah gelap. Aku paling tidak suka sama teka-teki," ujar Hiromasa sambil meneruskan minumnya. Beberapa shiki di sebelahnya malah penasaran bagaimana anak keturunan bangsawan satu ini bisa 'bertahan' di lingkungan politik yang keras dengan pemikiran begitu.
"A! Seimei-sama!"
Perbincangan pun berhenti ketika si mungil yang berada di gendongan Yasha memberikan gesture seperti meraih sesuatu ke arah Seimei. Tangan chubby-nya seperti menggenggam dan meraih ke arah Seimei. Yasha hanya mendengus kesal. Situ kira sini 'gojek' apa?
"Itu… situ…" ujar Aobozu sambil menarik-narik surai ungu milik Yasha. Lalu tiba-tiba saja melompat-lompat tidak jelas di lengan Yasha. Jujur, kalau Yasha tidak memiliki reflek yang bagus bisa-bisa nih shiki kecil sudah jatuh mencium tanah. Beberapa shiki normal sibuk menahan tawa ketika si kecil sudah model-model bak ulat kepanasan di gendongan Yasha. Sedangkan Yasha sendiri malah bak orang mabuk akibat harus menyeimbangkan beban yang hiperaktif.
Seimei pun segera bangkit dan menghampiri dua orang yang menjadi tontonan model film komedi oleh para shiki yang lain. Dengan perlahan diangkatnya kedua tangannya dengan gesture untuk berpindah dari Yasha. Aobozu pun segera memahami dan segera melompat ke lengan Seimei. Yasha sendiri mundur beberapa langkah akibat menjadi batu lompatan Aobozu.
Masalahnya Aobozu masih belum bisa memperkirakan jarak yang diperlukan.
Dan langsung dengan tidak elitnya mencium tanah alias jatuh muka duluan. Topi yang sering digunakan pun menggelinding dengan tidak elitnya di pangkuan Hiromasa. Seimei dan Yasha pun segera berjongkok dan menemukan Aobozu yang sibuk mengusap-usap dahinya. Matanya sudah memerah karena menahan tangis.
"O-Oi…"
"Hik… aku tidak apa-apa…"
Yasha hanya bisa ber-sweatdrop ria ketika melihat aura-aura mewek dari si kecil. Tidak apa-apanya bagaimana? Orang jatuhnya terjun bebas begitu. Seimei pun menyamakan posisinya agar bisa sejajar dengan Aobozu dan meraih ujung kimononya untuk membersihkan pipi Aobozu yang belepotan debu.
Hiro yang sudah paham model anak kecil yang begituan (well, he's a big brother after all) segera menghitung mundur dalam hati.
"Be-beneran?" ujar Seimei was-was. Di belakangnya Hiro sudah bangkit dari tatami dan berjalan ke arah 3 orang tadi.
"Beneran… enggak sakit?"
Yang ditanyai menahan mewek.
"OI! Kau jatuh terjun bebas begitu mana ada yang enggak sakit! Orang benjol begitu!" ujar Yasha merusak suasana.
Dan seketika tangisan pecah di pekarangan Seimei. Para shiki lain sibuk mendekat namun tidak jadi mengingat mereka memiliki pengalaman yang sangat minim tentang anak kecil. Hiro pun mendekat dan mendecih.
"Halah… kalian ini seperti tidak paham saja. Here, hold my wine glass," ujar Hiro dengan aura swag-nya sambil memberikan gelas sake-nya kepada Seimei. Seimei menerima gelas sake itu secara spontan sambil menaikkan sebelah alis sedangkan Yasha hanya bisa mangap tidak jelas.
Dengan sekali 'sapu', Hiro menggendong Aobozu dan dengan perlahan mengguncang-guncang tubuh mungil itu. Lalu diarahkannya wajah Aobozu ke tengkuknya dengan menggunakan telapak tangannya sambil mengucapkan kata-kata tidak jelas seperti 'ara-ara,shush, yochi yochi'.
"Ayok kita jalan-jalan… tuh lihat, disana ada ikan koi… mau lihat koi? Oh aku punya makanannya! Eh apa itu?! Tuh-tuh!"
Seisi pekarangan melongo berat. Kohaku bahkan tidak percaya dengan apa yang dilihatnya. Di sebelahnya Hakuro sudah menonton dengan aura lope-lope model-model 'UwU'. Ketika sampai di kolam, Hiro masih saja berbicara dengan 'bahasa bayi' model alien yang agak dipanjang-panjangkan. Aobozu pun sedikit tenang dan mencoba untuk melirik ke arah ikan koi dari leher Hiro.
"Uwaaaa… ada Koi beneran!" ujar Hiro dengan aura main-main sambil menunjuk shiki wanita berkimono oranye. Yang ditunjuk hanya bisa berekspresi aneh.
"Hiromasa-sama!" ujar Koi dengan nada agak sedikit tersinggung.
Hiromasa yang memahami Koi yang masih belum paham segera memberikan gesture mengenai sosok yang digendongnya. Mulutnya dengan perlahan membentuk kalimat 'bikin gelembung'.
"OH! OK! Sini lihat Onee-san…"
"Tuh, lihat Koi-neesan mau ngapain."
"Bubble shield!"
"Woohoo…. Lihat tuh… wah… Mau pegang?"
Dengan malu-malu telunjuk kecil mencoba untuk menyentuh gelembung yang melayang di depan mereka. Matanya melebar ketika gelembung itu hanya memantulkan sentuhannya. Hiromasa tersenyum. Tentu saja gelembung yang dibuat Koi bukan gelembung biasa. Gelembung itu berkali-kali menyelamatkan dirinya berserta Onmyoji yang lain dalam menghadapi lawan sebelum Seimei memanggil Ichimokuren untuk bertarung bersamanya.
"Ara… kok mantul-mantul?" ujar Koi sambil ikut-ikutan berpura-pura untuk ingin tahu mengapa gelembungnya tidak pecah. Mata yang awalnya melebar kini menyipit ketika senyuman si kecil muncul. Lalu dengan menggunakan telapak tangannya dipukul-pukullah gelembung itu.
Namun yang ada gelembung yang dipukul-pukul hanya melengkung dan kembali ke bentuk semula. Si kecil sudah mulai senang sambil menunjuk-nunjuk gelembung itu dengan arah tatapan menuju ke Hiromasa. Hiromasa segera memasang wajah pura-pura heran. Dan air mata yang awalnya tadi membuat pipinya basah kini diusap oleh ujung pakaian Hiromasa.
"Tehe! Itu! Itu!" ujar Aobozu sambil mulai mantul-mantul di gendongan Hiromasa. Mulai sudah kelakuannya seperti waktu digendong oleh Yasha. Namun Hiromasa hanya perlu mengalihkan gendongannya sehingga ke posisi yang mudah. Sekali lagi penonton hanya bisa mangap tidak percaya.
'Model begini mah mudah aja. Dulu sering jadi tukang jaga Kagura jadinya paham model beginian,' ujar Hiromasa dengan aura swag-nya lagi ke arah Yasha yang menunjuk-nunjuk ke arahnya sambil berekspresi tidak percaya. Namun ekspresinya segera fokus ke arah Aobozu kecil yang mulai sibuk meraih gelembung yang melayang menjauh.
Koi yang memahami kesulitan Hiromasa segera menangkupkan kedua tangannya dan membentuk sebuah gelembung yang lebih kuat namun berukuran sebesar telapak tangannya. Lalu gelembung mungil itu diberikan kepada kedua tangan chubby yang masih begitu antusias meraih bola transparan itu.
"Ayigatow, Koi-neechan!"
"Aduh… sopannya…" ujar Koi sambil menjawil pipi kanan model cimol itu. Yang dijawil malah sibuk menekan-nekan gelembung yang mengikuti bentuk tangannya.
"Aaarrgghhhh…. Aku tak kuat…" ujar Ubume yang langsung berlari dari rumah tetangga tempatnya bekerja menuju ke arah Hiro dan Ao. Tangannya segera meraih si kecil yang sibuk bermain gelembung. Merasa diperhatikan, Aobozu segera meminta untuk turun dan memperlihatkan gelembung yang didapatkannya ke arah Ubume. Ubume pun langsung menggendongnya dan menimang-nimang bocah yang sibuk dengan gelembung air.
Hiromasa pun meraih gelas sake yang 'dijaga' oleh Seimei. Dengan santainya dia duduk sambil menikmati sake hadiah dari sang penguasa Tengu. Menyadari tatapan dari para penghuni pekarangan, Hiromasa menyombongkan diri.
"Kenapa? Biasa aja kali."
Yang lain malah ber-sweatdrop berkelanjutan.
.
.
Yasha yang masih duduk berpangk tangan tiba-tiba dijawil oleh si penghuni baru courtyard. Sambil melirik si pemilik tangan, Yasha mencoba meraih tangan yang sibuk menarik-narik ujung sarungnya.
"Napa?"
"Temenin nonton kirin."
"HA?!"
"Ikut nonton kirin. Kirin petir buat evo."
Yasha menghela napas. Kirain 'nonton' kirin guild yang suka dilibas bareng-bareng demi dapet medali. Ternyata malah nonton Ubume yang sedang farming material.
Sebentar…
Evo?
"Aku mau evo biar kuat kaya shiki yang lain~" ujar Aobozu sambil muter-muter tidak jelas. Si kecil jade 2 ini memang sesuatu. Yasha hanya bisa mengikuti cerita si kecil hijau ini tentang para shiki hebat yang pernah dilihatnya. Ternyata selain menaruh Aobozu di bangku penonton, Onikiri sering mengajak Aobozu untuk berlatih melawan Menreiki di tahap terakhir.
"Memang kalau udah evo mau ngapain?"
Aobozu terdiam sejenak. Lalu muncul ekspresi bak anak yang baru menemukan mainan baru.
"Kalau udah bisa evo, mau ikut orochi 11!"
"Pfffftttt!"
Si krucil ini?
Ikutan farming di orochi putih?
Bukankah dulu pernah sekali diikutkan melawan Himiko ujung-ujungnya penyet kena cahaya Mbak Himiko yang enggak bisa dihilangkan itu?
Spontan Yasha tertawa tebahak-bahak mengingat kejadian ketika Himiko mengeluarkan skill time prison-nya yang terkenal itu. Bukannya tersegel dengan posisi tertunduk justru si kecil itu terjatuh dengan posisi muka duluan. Untuk menambah unsur yang menggelikan, cahaya segel tersebut jatuh mengenai belakang kepala si kecil dan sukses membuatnya menjadi bahan tertawaan 3 youkai warna-warni bawahan Himiko.
Sudah penyet kena Himiko dan sekarang mau ikutan Orochi? Disundul sedikit sama kepala ular saja mungkin sudah mental.
Merasa sebal ditertawakan terus, Aobozu menendang betis Yasha dengan sekuat tenaga. Namun apalah daya dirinya hanya shiki jade 2 melawan shiki jade 6.
"Yasha jelek! Buluk! Enggak pernah pakek baju! Huweeeeee!"
"Woy! Mau kemana kau youkai kecil?! OI AWAS NYEMPLUNG KOLAM!"
.
.
.
To be continued
.
.
Ooooffff
Udah berapa lama enggak update. Well, here you go and I hope you can enjoy it. See ya in the next chapter ~~~
.
.
.
