the happiness she wants.
by - Lucifonne
.
.
Naruto © Masashi Kishimoto
.
.
.
Sepasang pengantin baru berdiri di depan pintu rumah teman mereka. Pintu kayu bercat coklat tua seperti daun kering di musim gugur. Tak lama kemudian pintu tersebut dibuka dari dalam menampakkan sang pemilik rumah. Lelaki berambut kuning cerah dengan guratan kumis rubah di wajahnya.
"Oi, Sakura-chan! Sasuke!" sang tuan rumah berseru kegirangan, "kupikir kalian tidak akan datang karena masih mau menikmati cuti pernikahan berduaan saja. Ternyata kalian muncul juga yah."
"Awalnya memang Sasuke-kun mau menikmati hari libur di rumah saja," jawab perempuan berambut pink seindah musim semi, "tapi karena ini hari jadi pernikahanmu dan Hinata yang pertama, aku memintanya untuk menemaniku datang ke sini."
"Kalau bukan karena Sakura, aku tidak akan datang."
"Dasar, Teme! Tega sekali kau begitu padaku!"
"Eh, Sasuke-kun jangan begitu," ucap Sakura Haruno—yang kini sudah berubah menjadi Sakura Uchiha setelah resmi menikah dengan Sasuke Uchiha tiga hari yang lalu. "Saat Naruto menikah kau tidak bisa hadir 'kan? Setidaknya di hari yang spesial ini kau harus ada karena kau adalah teman baiknya."
Suami Sakura—Sasuke—hanya menghela napas, "Kau benar," ucapnya singkat.
Naruto mengernyit kesal melihat tingkah sahabat di depannya ini. Masih menyebalkan seperti biasanya. "Sudah setua ini pun kau tidak berubah ya, Sasuke? Untung saja Sakura tetap menerimamu apa adanya. Kalau aku sih sudah pasti tidak mauuu~" ucap Naruto seraya mengibas-ngibaskan tangan kanannya.
"Siapa juga yang mau denganmu," timpal Sasuke.
"TEMEEE—!"
"Wah, Sakura-chan dan Sasuke-san sudah datang ya?"
Hinata Uzumaki, perempuan yang sudah genap setahun menjadi istri dari Naruto Uzumaki tampak menghampiri mereka bertiga di depan pintu masuk.
"Kenapa tidak diajak masuk, Naruto-kun?" tanya Hinata keheranan.
"Eh, Iya—iya, ini mau kusuruh masuk. Ehehehe," jawab Naruto sambil menggaruk bagian belakang kepalanya.
"Ayo masuk, Sakura-chan dan Sasuke-san," ajak Hinata.
"Terima kasih," ucap Sakura sambil berjalan masuk ke dalam kediaman keluarga Uzumaki. Di belakangnya ia diikuti oleh Suaminya yang kini tengah disikut oleh Naruto.
"Jadi bagaimana malam pertamamu, Teme? Sukses?" bisik Naruto seraya menaik-naikan alis kuningnya untuk menggoda Sasuke.
Sasuke yang tengah memperhatikan bagian belakang tubuh istrinya lalu mendesah malas. "Tentu saja." Ia lalu menghentikan langkahnya—Naruto pun turut berhenti di samping Sasuke. Sakura dan Hinata sudah bergabung dengan teman-teman mereka yang lain mengelilingi meja besar yang dipenuhi makanan di atasnya. "Kepuasan Sakura adalah tanggung jawabku. Kau tak perlu meragukan itu," ucap Sasuke sambil menepuk bahu Naruto dan segera menyusul Sakura—mengambil posisi duduk tepat di samping istrinya.
"Tidak kusangka kau akan datang juga, Sasuke." Lelaki berkulit putih pucat di sisi lain meja berkomentar sesaat setelah Sasuke ikut bergabung bersama mereka. Senyum manis selalu melekat di wajahnya. Entah senyum sungguhan atau hanya senyuman palsu semata.
"Pasti Sasuke-kun dipaksa oleh Sakura 'kaaann?" sambung perempuan cantik berambut pirang, yang tak lain adalah Ino Yamanaka, sahabat karib Sakura yang dulu juga sempat menyukai Sasuke di masa kecil mereka delapan tahun lalu.
Sakura menggeleng pelan. "Aku tidak memaksanya, Ino, aku hanya menawarkannya untuk menemaniku datang ke sini," jelas Sakura, "dan Sasuke-kun dengan senang hati melakukannya untukku. Bukan begitu, Sayang?" Sakura lalu menoleh pada suami di samping kirinya.
Sasuke merespon dengan anggukan pelan.
"Sasuke adalah contoh suami yang baik," ucap lelaki dengan masker yang menutupi sebagian besar wajahnya. "Mau menyenangkan istri dimulai dari hal-hal kecil. Kau harus banyak belajar darinya, Naruto."
"Oi, Kakashi-sensei, apa maksudmu!" seru Naruto tak terima, "Harusnya Sasuke yang belajar dari aku! Dia baru saja berstatus jadi suami tiga hari yang lalu, sedangkan aku sudah setahun! Tentu saja aku yang lebih pengalaman!"
"Sudah, sudah, kalian jangan ribut terus," potong Sakura, "ngomong-ngomong, kapan kau akan menyusul tiga muridmu yang kini sudah menikah, Kakashi-sensei?" tanya Sakura sambil menunjukkan senyum untuk meledek sang guru. "Apa kau tidak kesepian karena sekarang para muridmu sudah punya keluarga masing-masing?"
"Err... Naruto, Hinata, apa aku sudah boleh makan sekarang? Aku sudah kelaparan dari tadi menunggu kedatangan sepasang pengantin baru kita ini," ucap Kakashi yang sengaja mengalihkan pembicaraan agar tidak lagi dicecar dengan pertanyaan 'kapan kawin?' yang hampir tiap hari didengarnya.
"Ah iya, silakan dimakan," ucap Hinata. "Mohon maaf apabila rasanya kurang enak karena aku masih belajar."
"Makananmu sudah pasti sangat enak, Hinata-chan!" puji Naruto.
"Terima kasih, Naruto-kun."
"Ah, kau sengaja bilang begitu karena takut Hinata marah dan berhenti memasakkanmu makanan lagi 'kan?" ledek Ino.
"Kau harus banyak bersyukur ada yang mau menyiapkanmu makan, Naruto," sambung Sai, "karena kalau harus masak sendiri, sudah pasti kau tidak akan bisa. Masak air saja hangus."
"Memangnya kau bisa masak?" tanya Naruto. "Hinata juga tidak akan marah. Dia tidak seperti Sakura-chan yang suka marah-marah—"
"Maksudmu aku ini galak, huh?!" Sakura mulai terpancing emosi dan berniat menyerang Naruto dengan kepalan tangannya.
"Eh tidak tidak! Aku hanya becanda, Sakura-chan! Maafkan aku!" Ucap Naruto ketakutan.
"Biarkan saja. Jangan sampai menghancurkan rumah orang," ucap Sasuke menenangkan Sakura, dengan tangan kanannya ia menyapu pelan pinggang sang istri.
"Hihihihi," Sakura tertawa pelan, "aku juga tidak serius akan memukulnya, kasian kan kalau Naruto babak belur di hari jadi pernikahannya yang pertama?" Ucap Sakura yang kemudian disambut gelak tawa oleh semua yang ada di ruang makan keluarga Uzumaki ini.
Malam terus berjalan. Satu per satu makanan di meja sudah mulai habis digantikan dengan rasa kenyang di perut masing-masing. Sebagai tuan rumah, Naruto dan Hinata bekerja sama untuk membereskan meja yang berantakan. Awalnya Sakura dan Ino ingin membantu, tapi ditolak karena menurut Hinata hal tersebut tidak perlu dilakukan oleh tamu yang mereka undang untuk datang ke rumah mereka.
Setelah beres merapikan semuanya, Naruto dan Hinata kembali bergabung dengan Sakura, Sasuke, Sai, Ino dan Kakashi yang tampak asyik berbincang-bincang. Mulai dari pembahasan saat Kakashi masih sibuk menjadi guru untuk Tim 7, hingga kesibukannya yang kini menjabat sebagai Hokage di Konoha.
"Mumpung kalian ada di sini, aku dan Sai akan mengumumkan sesuatu yang penting!" Ino tak bisa menyembunyikan raut bahagia di wajah cantiknya. "Ada yang bisa menebaknya?"
"Ayahmu akhirnya memberikanmu restu?" tebak Sakura.
Ino menggeleng pelan. "Lebih dari itu!"
"Lagipula siapa yang bilang kalau ayah Ino tidak merestui kami, huh?" protes Sai, tapi tetap dengan senyuman di wajahnya.
"Aku kan cuma menebak saja."
"Jangan bilang kalau kalian akan bertunangan?" tanya Naruto.
Ino tertawa kecil, "Kami akan menikah bulan depan!" seru Ino kegirangan,
"Selamat ya, Ino-chan, aku ikut berbahagia," ucap Hinata.
"Terima kasih banyak, Hinata. Hihihi."
"Kau jadi cepat-cepat mau menikah begini apa karena melihat aku dan Sasuke-kun sudah menikah duluan?" tanya Sakura.
"Tidak Juga," bantah Ino, "Kurasa memang sudah saatnya aku dan Sai menikah. Siapa tahu anak kita nanti bisa seumuran juga?"
"Benar juga ya!" Sakura langsung membayangkan sosok anak kecil yang mirip dengan Sasuke tengah berlarian di lorong rumahnya dan berteriak 'mama! Papa!', senyum indah pun mengembang di bibirnya.
"Aku jadi tidak sabar untuk menggendong cucu-cucuku kelak," ujar Kakashi. "Sepertinya aku tidak perlu khawatir akan kesepian meski nanti tidak menikah."
"Tapi sebentar lagi kau akan kesepian, Sensei. Aku dan Sasuke-kun rencananya akan pergi meninggalkan desa dalam waktu dekat ini."
"Eh? APA?!" pekik Naruto dan Ino bersamaan.
"Bagaimana dengan pernikahanku?! Pokoknya kau harus datang, Sakura!"
"Kau mau kabur dari Konoha seperti yang pernah Teme lakukan dulu!?"
"Kami tetap akan pulang," ujar Sasuke dengan ekspresi datar di wajahnya. "Kami hanya butuh lebih banyak waktu untuk berdua saja setelah banyaknya peristiwa yang telah dilalui. Kami ingin membangun semuanya dari awal."
Naruto dan yang lainnya langsung terpana mendengar penjelasan singkat Sasuke.
"Ada yang salah dengan ucapanku?"
Naruto dan Ino menggeleng pelan bersamaan, ditambah dengan kondisi mulut yang masih ternganga.
"Tentu saja tidak, Sayaaang," respon Sakura sambil memeluk erat tubuh tegap sang suami di sampingnya. "Banyak hal sulit yang sudah kita lewati bersama hingga akhirnya kita berada di titik ini." Sakura menyesap wangi tubuh Sasuke, memejamkan matanya—terbuai akan aroma dari pria yang sangat ia cintai sejak dulu. "Aku juga ingin sekali menjelajahi dunia bersama suamiku yang sangat tampan ini."
"Kalian berdua tidak akan melupakanku 'kan? Huhuhu..."
"Tidak, Naruto. Itu tidak mungkin terjadi. Kami akan pulang jika waktunya sudah pas." Sakura melepaskan pelukannya dari Sasuke. "Ke mana pun kami pergi, desa ini akan jadi tempat kami pulang."
"Tapi di luar sana pasti terasa asing," ujar Ino yang tampak cemas. "Mungkin Sasuke-kun sudah terbiasa, tapi bagaimana denganmu, Sakura? Kau siap menghadapi semua itu? Jauh dari keluargamu, jauh dari sahabatmu. Jauh dari junior-juniormu di rumah sakit. Kau akan merindukan semua itu 'kan?"
"Tentu saja," respon Sakura singkat. "Tapi aku juga ingin memulai hidup baru bersama suamiku."
"Kau sudah siap dengan segala kesulitan dan ancaman bahaya di luar sana? Apalagi kalian hanya berdua," timpal Sai. Mata hitamnya menatap serius pada Sasuke.
"Semua akan baik-baik saja," giliran Sasuke yang mengeluarkan suaranya. "Lagipula—" ia lalu menggapai jemari Sakura yang tersembunyi di bawah meja—Menggenggamnya erat seraya berkata, "istriku bukanlah wanita yang lemah."
Seisi ruangan seketika terdiam tak mampu merespon kalimat Sasuke barusan.
Sementara itu, Sakura begitu terkesima karena tak menyangka bahwa suaminya berpikir demikian tentang dirinya. Bertahun-tahun ia berusaha untuk menjadi lebih kuat—menjadi sosok perempuan lebih tangguh dibanding dirinya di masa genin dulu, agar tak selalu menjadi beban bagi Sasuke, Naruto dan Kakashi. Ia tak menyangka akan tiba saatnya di mana Sasuke bisa melihat potensi luar biasa dalam dirinya, tidak lagi memandangnya sebagai perempuan rapuh yang selalu mengganggu. Semuanya bagaikan mimpi indah yang menjadi nyata.
"Selama ada aku di sampingnya, aku akan berusaha melindunginya. Aku suaminya, itu adalah kewajibanku juga."
Sakura yakin wajahnya saat ini sudah memerah bak tomat segar yang sangat digemari Sasuke. Mendengar semua kalimat manis sang suami barusan—ditambah genggaman jemari Sasuke yang terasa begitu lembut dan hangat, Sakura pun sadar bahwa inilah kebahagiaan yang ia inginkan.
Sebuah hal sederhana yang mampu membuat dadanya begitu lega dan perasaan berat dipundaknya mendadak hilang.
Mampu melenyapkan segala keraguan dalam hatinya.
Membuatnya semakin jatuh cinta pada Sasuke Uchiha—sosok lelaki nyaris sempurna yang pernah Sakura kenal dalam hidupnya.
Bulan purnama tampak terang menghiasi langit malam Konoha. Baru pukul sembilan malam, tapi jalan yang dilalui pasangan Uchiha ini sudah mulai sepi. Tak terdengar suara apapun selain suara langkah kaki mereka berdua dan nyanyian serangga yang aktif di malam hari. Sejak berpisah dengan yang lainnya di kediaman Uzumaki tadi, Sasuke dan Sakura hanya berjalan dalam sunyi sambil bergandengan tangan. Belum ada satu pun dari mereka yang memulai untuk berbicara di perjalanan pulang menuju rumah.
"Kau kenapa?"
Pada akhirnya, Sasuke yang penasaran melihat tingkah aneh Sakura yang sejak tadi tersenyum sendiri pun memecah keheningan di antara mereka.
Sakura menggeleng pelan sambil mengayun-ayunkan tangan mereka yang bertautan. "Aku hanya masih kepikiran dengan semua ucapanmu tadi."
"Yang mana?"
"Saat kau bilang kalau aku bukanlah wanita yang lemah."
"Memang benar 'kan?"
"Dibandingkan dengan yang dulu, kurasa memang aku sudah jadi lebih kuat. Hanya saja—," Sakura menghentikan langkahnya, Sasuke pun ikut melakukan hal yang sama, "—mendengar semua itu keluar dari bibirmu, aku jadi merasa sangat senang dan merasa sangat dihargai." Mata mereka saling menatap begitu dalam. Sinar rembulan yang memancar serta angin yang berhembus pelan menambah efek dramatis pada situasi yang sedang dialami pasangan suami istri ini. "Sasuke-kun mengakui kemampuanku. Aku tak pernah membayangkan bahwa hal ini akan benar-benar jadi nyata. Terima kasih banyak."
Sakura kini menenggelamkan tubuhnya dalam dekapan Sasuke. "Terima kasih karena sudah mengizinkanku masuk ke dalam hidupmu lebih jauh. Aku akan selalu berusaha untuk jadi istri yang lebih baik lagi untukmu."
"Kau yang sekarang sudah sangat cukup untukku, Sakura." Sasuke mengeratkan tangannya yang melingkar di pinggang sang istri. "Aku yang berterima kasih karena kau masih memberiku kesempatan untuk jadi pendampingmu. Terima kasih telah memaafkanku."
"Kau bahagia?" tanya Sakura spontan.
"Tentu saja."
"Kupikir hanya aku saja yang bahagia."
Sasuke mendaratkan wajahnya di kening Sakura sambil berbisik, "Aku bahagia, semua itu berkat dirimu."
Sakura tersenyum lagi. Rasanya seperti melayang di udara. Kini ia tahu bahwa ini bukan sekedar kebahagiaan yang dirinya inginkan. Tapi rasa bahagia ini juga dirasakan oleh Sasuke—ini adalah kebahagiaan yang pantas mereka berdua dapatkan.
Kebahagiaan yang memang seharusnya Sasuke dan Sakura terima.
"Aku boleh minta sesuatu?"
"Katakan saja."
"Cium aku."
"Hn!?" Sasuke terkejut dengan permintaan istrinya ini, ia lalu menoleh ke kiri dan ke kanan memperhatikan kondisi di sekitarnya.
"Kenapa? Bukankah kau sudah biasa melakukannya?" tanya Sakura dengan wajah cemberut.
"Tidak enak jika dilihat orang lain," jawab Sasuke sambil membelai pipi Sakura dengan ibu jarinya, "apalagi kalau yang melihat kita masih belum memiliki pasangan."
"Hihihi, ternyata suamiku benar-benar orang yang baik ya." Sakura tertawa kecil, "atau sebenernya itu hanya alasanmu saja? Jangan-jangan kau memang tidak mau menciumku!?"
"Sakura," Kini jemari Sasuke mendarat di dagu oval Sakura, "Kau tidak akan mengerti betapa sulitnya aku mengendalikan diri untuk tidak menyerangmu saat ini."
DEG!
Jantung Sakura berdegup makin kencang, dirinya langsung paham apa yang suaminya maksud dengan 'menyerangnya'.
Sasuke memendekkan jarak di antara wajah mereka. "Kau mungkin tidak akan tahu sebesar apa rasa inginku terhadapmu."
Sakura hendak membuka mulutnya—namun gagal karena bibir Sasuke telah menguncinya erat tak memberikan akses sesenti pun untuknya melawan. Malam semakin dingin, tapi yang bisa Sakura rasakan hanya hangat napas dan sentuhan Sasuke di tubuhnya yang begitu memabukkan.
Tiap liukan lidah Sasuke seakan menghisap seluruh tenaga Sakura, lalu menggantinya dengan sensasi nikmat luar biasa yang tak mungkin dapat ia tolak.
"Hah... hah...hah..." Sakura melepas tautan bibir mereka untuk mendapat pasokan oksigen. Namun saat ia ingin mencium lagi bibir Sasuke yang tampak begitu menggoda, sang suami malah menggeleng pelan.
"Kita lanjutkan di rumah saja," ucap Sasuke sambil menyeringai tipis.
"Eh?!" Sakura tak bisa menyembunyikan rasa malunya meski yang menggodanya saat ini adalah suaminya sendiri.
"Ayo pulang." Sasuke meraih tangan Sakura lalu menggandengnya erat.
"Ayo!" respon Sakura bersemangat. Dalam hatinya ia sudah tak sabar untuk melanjutkan aktivitas yang terpaksa mereka hentikan barusan.
Keduanya pun kembali meneruskan perjalanan mereka menuju pulang ke rumah. Tempat di mana mereka memulai kehidupan baru sebagai suami istri, titik awal lembaran baru petualangan mereka yang akan segera dimulai.
- selesai -
happy canonversary sayangggggg
silakan bayangkan sendiri lanjutan kegiatan mereka di rumah wakakaka
terima kasih sudah membaca ;)
