Be Happy For Me and Us
Disclaimer: Asagiri Kafka & Harukawa Sango.
Warning: OOC, typo, dll.
Author tidak mengambil keuntungan apa pun dari fanfic ini, dan semata-mata dibuat demi kesenangan pribadi.
Happy Birthday, Izumi Kyouka! (04/11/2020)
Bintang dari Agensi Detektif Bersenjata untuk hari ini adalah Izumi Kyouka, karena ia menjadi lima belas meninggalkan umur empat belas dengan gaun tea-length di atas lutut tanpa lengan. Berwarna violet dihias mutiara-mutiara pada sekitar pinggang. Sementara rambutnya diikat model odango buns ditambah hiasan berupa mahkota bunga.
Pelangi dalam bentuk kado-kado menumpuk di atas meja. Makanan-makanan yang tersaji pun memiliki harum semangat untuk berpesta. Tak ketinggalan aneka kelinci yang bukan sekadar mejikuhibiniu menghias kantor agensi. Satu per satu harapan sudah menyelamatinya jua, dan yang paling spesial tentu saja dari Nakajima Atsushi. Meskipun ia membawa doa yang sama seperti lainnya, tetapi hanya Atsushi yang mempunyai rona merah di pipi.
Semburat itu tidak menyembur tanpa alasan. Dengan sebuah keisengan yang bodoh saja–Dazai Osamu berkata semoga suatu hari nanti, aku (dalam konteks ini adalah Atsushi) bisa menikahi Kyouka-chan–ia akan malu hingga pinggangnya ikut dibakar oleh merah.
Hari ini Atsushi begitu manis dan teman-temannya menyenangkan. Kyouka jelas-jelas paling pantas, menyebut dirinya sebagai orang terbahagia. Namun, ketika Kyouka teringat menyebut nama Dazai Osamu, pandangannya langsung teralihkan dari daging panggang di piringnya. Pemuda jangkung itu menyendiri dengan bersandar pada jendela. Memperhatikan jalanan Yokohama yang semakin sibuk dan terlena dalam kefanaan.
"Kyouka-chan mau menambah daging?" Tawaran dari Tanizaki Naomi terlambat diindahkan. Kyouka hanya menghabiskan makanannya, lalu menyerahkan piring tanpa melihat Naomi.
"Sudah ke–?"
Penjelasan yang tidak sedikit pun Kyouka berikan membuat Naomi kebingungan. Atsushi yang asyik mencomot kue tart melihat Kyouka menghampiri Dazai. Hal serupa Miyazawa Kenji perbuat juga. Pemandangan yang imut pun tercipta, di mana Kenji dan Atsushi melahap bahkan menelan kudapannya berbarengan.
"Tumben sekali, ya?" Pertanyaan Tanizaki Juunichiro bertanya kepada siapa pun yang mendengarnya, dan merasa demikian. Kemungkinan besar Kunikida Doppo sudah menulikan diri dari dunia luar. Semua salah Yosano Akiko, sampai-sampai detektif perfeksionis tersebut tepar gara-gara alkohol.
"Atsushi enggak cemburu, 'kan?" goda Naomi membuat Atsushi terperanjat. Gelengannya tampak kacau. Tawa kecil yang gemas lolos dari bibir Naomi.
"Te-tentu saja tidak. Lagi pula Dazai-san enggak suka gadis remaja, 'kan?"
"Hati-hati, lho. Begitu-begitu seniormu buaya. Asalkan wanita bakal Dazai lahap." Jari-jari lentik Yosano menekuk menyiratkan gestur menerkam. Senyum canggung Atsushi pasang. Malah tawa yang bisu yang cenderung mendominasi, memperhatikan cara Yosano cegukan usai menakut-nakuti sedemikian rupa.
Lebih anehnya lagi usai menghampiri Dazai, gadis lima belas tahun itu malah mematung tanpa kata sapaan atau apa pun. Dazai hanya terus-terusan mesem. Semakin ditatap oleh keheranan Dazai, kedua tangan Kyouka kian mengepal hingga buku-buku jarinya memutih.
"Atsushi-kun! Pacarmu nyasar, nih. Dijemput, dong, ha–" Kaki kiri Dazai diinjak tanpa ampun. Teriakan malangnya sesaat membana yang dibandingkan mengagetkan, justru membikin seisi agensi pura-pura tidak lihat.
"Aku hanya ingin bertanya, kau menikmati pestanya atau tidak?"
"Kupikir ada apaan. Pertanyaan seperti itu seharusnya tidak sulit untuk ditanyakan, bukan?"
Karena pertama-tama Kyouka menelaah Dazai dari ujung kepala sampai kaki-lah ia jadi tertahan, tetapi alasan tersebut tak Kyouka utarakan, entah mengapa. Anggukan Dazai beri sebagai jawaban. Seolah-olah belum cukup Dazai mengangguk lagi yang kali ini sambil tersenyum. Di percobaan ketiga Dazai lebih melebarkan garis lengkungnya, hanya Kyouka masih kurang puas.
"Senang, kok. Banyak makanan enak dan semuanya juga bergembira." Lebih-lebih Edogawa Ranpo yang bersukaria semenjak dikelilingi permen-permen. Pesta ini sangatlah komplet dan mereka yang bersama-sama saling melengkapi. Walau diam-diam Dazai membuat pengecualian untuk diri sendiri.
"Terus, kenapa tidak bergabung dengan yang lain?"
"Sedang tidak ingin saja. Aku enggak apa-apa, kok." Tengkuk yang tak gatal Dazai garuk. Alasannya pasti terdengar dangkal yang justru semakin mempersulitnya, tetapi melihat Kyouka pergi mungkin Dazai bisa lega.
Meskipun ternyata terlalu cepat, karena perginya Kyouka disambung dengan dirinya yang kembali untuk membawakan semangkuk tahu rebus. Ikhlas atau terpaksa Dazai harus menerimanya. Kini mereka sama-sama menatapi aspal Yokohama yang sebenarnya, pemandangan tersebut hanya memiliki debu-debu yang membosankan serta matahari terlampau terik.
"Makanlah. Aku membuatnya sendiri. Masih banyak juga hidangan yang lain."
"Tidakkah dengan kehadiranku saja seharusnya Kyouka-chan sudah puas?" Kuah bening dari tahu rebus merefleksikan wajah Dazai. Daripada menjadi korban teror, Dazai mencoba menyendok tahu paling kecil. Menggigitnya yang saking lembutnya, langsung hancur ketika dikunyah dan menghangatkan mulut.
"Rasanya enak. Kyouka-chan adalah istri yang baik untuk Atsushi-kun. Perutnya akan kenyang dalam kebahagiaan setiap hari."
"Tunggu sebentar. Akan kuambilkan kue."
Kue cokelat dua tingkat yang juga bertema kelinci Kyouka potong menggunakan pisau plastik. Porsinya begitu besar, dan Kyouka menaruh banyak ceri di atasnya. Pertama-tama Dazai merasa tak yakin untuk menghabiskannya. Lalu kedua, bukankah pujian Dazai terlalu sederhana untuk dihadiahkan lebih banyak kebaikan? Tofu yang kandas sudah sangat cukup menurutnya.
"Dibandingkan yang lain makanmu paling sedikit. Atsushi dan lainnya sudah bersusah payah menyiapkan semua ini. Harusnya kau makan yang banyak."
"Omong-omong pertanyaanku belum dijawab, lho~"
Berhasil menghadirkan Dazai di sini adalah pencapaian yang luar biasa, ketika Dazai bahkan absen dari pesta ulang tahunnya sendiri, yang juga direncanakan oleh rekan-rekan agensi. Kyouka ingat yang Dazai maksud. Menarik napas terlebih dahulu, seolah-olah mempersiapkan diri agar lebih tidak merasa bersalah, ketika berbasa-basi seperti sekarang.
"Apa artinya hanya membuatmu hadir, tetapi kau malah kelaparan dan sendirian?"
Jika sekadar menjadikan eksistensinya sebagai manekin–pelengkap semata–untuk apa Kyouka repot-repot menunggui Dazai sejak matahari masih buta? Sebelum berpesta pora seperti ini, segenap agensi sempat bermain petak umpet yang menegangkan; adu kegeniusan antar Ranpo dan Dazai. Kyouka berhasil menangkap Dazai berkat Ranpo juga. Selain disenangkan manisan, Ranpo pun bahagia telah membalas kekalahannya beberapa hari lalu.
Kebanggaan tidak berhenti hanya sampai di sana. Sebagai hukumannya pula Naomi menata rambut Dazai menggunakan minyak rambut, dan disisir rapi. Seperti di konflik Dead Apple ketika kabut menyelimuti Yokohama. Mata seorang wanita seharusnya tak melewatkan ini–Naomi yang secara tidak langsung mengakui Dazai tampan.
"Baik sekali~ Kyouka-chan benar-benar ingin pesta ulang tahunmu dinikmati semuanya, ya."
"Saat itu kau sudah absen sekali, makanya aku ingin membuatmu hadir sekarang."
Sebuah proses panjang, sulit, dan melelahkan yang Kyouka rangkai untuk bergabung dengan agensi, akhirnya dibalas oleh kesuksesan yang menyegarkan, membuat agensi mengadakan pesta penyambutan. Dazai mengangguk-angguk paham. Memang ia pergi begitu saja, tetapi siapa sangka Kyouka mau peduli.
"Boleh aku tahu kenapa saat itu kau tidak hadir?"
"Hmmm, ya ... anggaplah bertemu teman lama." Tofu segera dihabiskan. Kelesuan samar-samar melatari tatapan Dazai, mendapati ia memegang piring ini yang berarti, masih harus memasukkan kue yang juga enggan bersahabat dengan Dazai.
"Siapa dia? Orang di Port Mafia? Bolehkah aku tahu?" Posisi Dazai sebagai mantan eksekutif pada organisasi bawah tanah itu adalah rahasia umum. Kendatipun Kyouka menyematkan kata "boleh" yang berarti Dazai berhak diam, Dazai sangat sadar Kyouka menginginkan kejelasan.
"Hirotsu-san. Pasti kamu tahu."
"Kalian dekat, ya, ternyata."
"Enggak juga~ Tidak sekalian Kyouka-chan bertanya apa yang kami bicarakan, sampai-sampai aku absen?"
"Pasti penting. Perinciannya tidak akan kutanyakan. Tenang saja."
Justru tawaran agar Dazai mencicip makanan lain semakin membanjiri. Daging iris, sandwich, salad, semuanya ditumpuk di satu piring oleh Kyouka, lalu flash mengucapkan permisi selayang pandang. Selembar foto langsung terlihat. Kenji tercengang bengang mendapati wajah mereka seolah-olah ditelan cahaya. Tanizaki tertawa ringan bahwa seharusnya Kenji mematikan flash, bahkan sekalian saja Tanizaki mengajari caranya.
"Tadi Kenji-kun memotret kami?" Mata Dazai mengerjap-ngerjap. Dari Kyouka yang menurut Dazai tiba-tiba menghampirinya, kemudian Kenji menjadi paparazi yang mengambil foto diam-diam, tingkah laku teman-temannya meninggalkan kesan aneh yang gagal Dazai ikuti.
"Hehehe ... begitulah. Ini pakai gawai Naomi-chan. Lihat, deh, keren banget." Benda yang dimaksud Kenji perlihatkan. Entah mengapa Kyouka langsung mengambil pose "V". Tangannya yang kanan mempererat peluk pada boneka kelinci kesayangan, juga mendekat ke arah Dazai memangkas sedikit jarak yang sempat tercipta.
"Di hitungan ketiga aku potret, ya. Tiga ... dua ..."
"Eh ...?! Jadi kita benar-benar fo–"
Protes terlambat melayangkan keterkejutannya. Sewaktu melihat hasilnya di mana bibir Dazai membentuk "O" yang lebar, tangannya penuh dengan dua piring yang di kiri adalah tumpukan makanan, di kanan merupakan potongan raksasa kue cokelat, sedangkan wajah Kyouka kikuk macam benang kusut yang mencari dirinya di dalam dirinya sendiri, Kyouka tetap mengacungkan jempol ke arah Kenji tanpa mengharapkan difoto ulang.
"Piring di tanganmu penuh banget. Sini kubantu bawa, tetapi sebagai gantinya nanti belikan ramune."
Membantu membawakan, sekalian menghabiskan ceri yang bertaburan yang, maksud Ranpo. Sebagai gantinya Ranpo meletakkan sebutir permen stroberi di atas meja. Kursi bahkan Kyouka tarik agar Dazai bisa duduk. Kenji memuji Dazai yang akhirnya tidak malu-malu makan banyak. Sementara keibaan mendorong Tanizaki memperlihatkan foto yang barusan Kenji jepret. Siapa tahu Dazai mau mengulang.
"Pasti kau lemas karena belum minum-minum." Bahu Dazai dirangkul Yosano. Nihonsu yang masih penuh dibuka segelnya. Diteguk langsung dari botolnya menunjukkan antusiasme Yosano yang selalu nyala.
"Wajahmu sudah merah, Yosano-sensei."
"Ah ... jadi Tanizaki yang selanjutnya akan menantangku minum? Majulah."
"Bukan begitu, Sensei! Lagi pula niatku adalah bertanya pada Dazai-san, apa dia mau foto ulang atau tidak?" Walaupun belum digubris, karena mereka dapat melihat kesadaran Dazai berderai-derai ke mana-mana, ketika tubuhnya yang tertinggal membiarkan pikirannya berlarian tanpa ditontonnya.
"Tangkap Dazai ... jangan biarkan dia lolos ..." Masih dalam posisi terkapar nelangsa di atas sofa, tampaknya Kunikida memimpikan petak umpet barusan yang campur baur dengan cara kejar-kejaran. Sekilas Dazai menengok. Padahal Kunikida selalu marah-marah setiap kedudukannya adalah pengejar.
"Fotonya sudah bagus, kok." Dibandingkan berkata-kata sesuai kenyataan, Kyouka pun sadar cenderung memaksa Tanizaki agar se-iya sekata. Dazai dan Kyouka tidak dekat. Kecanggungan Kyouka juga meronta-ronta melihat Dazai yang lain dari biasanya, makanya jika harus berfoto lagi ... Kyouka kurang yakin terhadap diri sendiri. Ditambah lagi ia sempat bimbang, apakah interupsinya memang berharga untuk membuat Dazai baik-baik saja?
"Mungkinkah Dazai-san sakit?"
Seluruh pandang tertuju pada Atsushi. Kesadaran yang terlambat pulang menyebabkan Dazai tersentak, mendapati kosong matanya dicemaskan. Bagaimana bilangnya bahwa mereka tak usah khawatir? Ini konyol sebenar-benarnya. Dazai yang pandai menyesuaikan ekspresinya itu dalam situasi apa pun, kini merasa canggung mengingat ia tak pernah memeriahkan satu pun pesta ulang tahun kawan-kawannya.
Wajarnya mereka mengoceh bahwa Dazai itu parah. Marah, karena demi menyeretnya sampai-sampai harus membuang-buang tenaga, atau sekalian saja tak tanggung-tanggung menganggapnya sombong–mesti dikejar-kejar dahulu baru memutuskan menyerah.
Oleh karena itu Dazai hanya mencoba tahu diri. Membiarkan canggungnya menguasainya saja, daripada bersikap seolah-olah tiada ada apa-apa yang terkesan jahat.
Kenapa pula Dazai selalu menghindar setiap diundang? Pada akhirnya mungkin Dazai itu sendiri kurang memahami suasana pesta ulang tahun. Rasa syukur begitu ramai dan bersorak-sorai atas bertambahnya umur seseorang. Berterima kasih karena yang bertambah tua masih bertahan bersama mereka, ketika Dazai saja mengingini kematian.
Tentu bukan berarti Dazai benci apabila rekan-rekannya yang berulang tahun mengadakan pesta. Jadi, ya ... jadi Dazai kabur, karena ia takut ... juga–
"Daging bagus untuk menambah tenaga." Irisannya yang kecokelat-cokelatan usai dipanggang Kyouka masukkan tanpa izin, ke mulut Dazai. Ia terus menyuapi Dazai, hingga akhirnya Dazai menggeleng-geleng kapok merasakan tenggorokannya tersedak.
"Sekarang minumlah. Sachou juga ingin bersulang denganmu."
Seribu sayang Kunikida masih teler. Gelas kaca berukuran super mungil Yosano isi dengan nihonshu. Ketiganya membenturkan bibir gelas yang sewaktu Dazai meneguknya, ia tahu sebuah rasa yang mahal dan mewah membasuh kerongkongannya–enak sekali, mengingat yang selama ini Dazai minum hanyalah sake murahan.
"Kelihatannya kau lebih baik, ya." Fukuzawa yang sedari tadi bergeming akhirnya bicara. Mereka semua mengikuti alur milik Kyouka. Apa pun yang terlihat dari Dazai, meskipun buruk atau amat mengkhawatirkan, Dazai tetaplah Dazai yang mereka kenal, dan kepada Dazai tak apa-apa untuk sedikit linglung.
"Akan kupanggang daging yang lain."
Sebelum Atsushi memanggang daging, tiba-tiba pula tawa Dazai pecah yang menyatukan dan mengumpulkan seluruh kesadarannya yang sempat bercecer. Dazai mengisi gelasnya sendiri. Mengangkatnya ke arah Yosano serta Fukuzawa, bahwa mantan eksekutif mafia tersebut menantang keduanya bertanding hingga kalah.
"Begini-begini aku kuat, lho. Jangan sampai menyesal, Dazai."
Menemukan Yosano berapi-api Fukuzawa memutuskan ikutan. Ketika Kyouka menghampiri Atsushi, kepalanya ditepuk dengan lembut. Samar-samar pula Dazai melemparkan rasa terima kasih yang tersirat dalam sebentuk senyuman. Kyouka benar-benar bintang yang menerangi sudut terkecil sekalipun.
"Syukurlah, ya, Dazai-san baik-baik saja sekarang." Mungkin karena Atsushi lega Kyouka turut merasa demikian, meski Atsushi tahu bukan seperti itu yang terjadi. Untuk melibatkan Dazai ke dalam pesta Kyouk tak serta-merta berpikir demi Atsushi. Secercah kedewasaan yang membahagiakan Atsushi, sebab Kyouka bisa lebih peduli mengikuti lubuk hatinya.
Mereka pun semakin berpesta agar kehidupan tidak memikirkan kematiannya. Dazai yang sudah sehat sekarang ini menggerutu mengenai fotonya dengan Kyouka. Paling jelek di antara yang lain, kata Dazai, sehingga Kenji mengacungkan tangan agar dia lagi yang memotret–tak tega melihatnya kegembiraannya membara, jadilah diiyakan saja.
"Pada hitungan ketiga aku potret, ya. Satu ... dua ... ti ... ga!"
Dazai berdiri di belakang Kyouka dan memeluknya. Tersenyum selebar yang Dazai mampu tanpa perlu mengalahkan langit, dan Kyouka juga melengkungkan garis di bibirnya walau sedikit. Tetap membentuk V dengan jari tengah serta telunjuk, selagi tangan kanannya memeluk boneka kelinci.
Jauh lebih baik daripada sebelumnya, apalagi ketika Dazai dikatai bodoh oleh Ranpo, karena Dazai terlalu memikirkan banyak hal di hadapan remaja seperti Kyouka yang masih polos.
Tamat.
A/N: Sekali lagi HBD kyouka. akhirnya juga dibandingkan bikin DaKyou yang full DaKyou, aku lebih milih cerita ini dicampur sama anak2 ADA lain. awalnya kurang yakin pas bikin, karena ya ... maknanya kurang dalem (?). tapi karena emang fokusnya juga biar dazai nyaman di pesta ultah kyouka, kurasa ini masih bisa ditoleransi. jadi lebih ditekankan ke kyouka mau bikin dazai seneng di pestanya juga, dan yang penting fluff udah wkwkw.
Thx buat yang udah baca, fav, follow, review, atau numpang lewat doang. tahun depan moga aku bisa bikin lagi buat DaKyou.
