"Kau selalu tertawa sinis dan memandang rendah kepadaku…"

"…Tapi mengapa aku melihatnya bahwa kau sedang menutupi tangismu?"

.

.

PRESTIGE

.

Kuroko no Basuke belongs to Fujimaki Tadatoshi

This fanfiction is purely private property.

.


Kiyoshi memegangi lengannya, sengatan rasa sakit masih terasa di sana, namun ia begitu pandai menutupi. Pertandingan Seirin melawan Kirisaki Dai Ichi baru selesai, seluruh tim Seirin bersorak senang karena mereka lolos ke semi final Winter Cup. Impian mereka akhirnya tercapai. Selisih skor mereka benar-benar tipis, hanya terpaut satu angka saja. Setidaknya, semua perjuangan dan rasa sakit yang mereka tanggung mendapatkan hadiah yang membanggakan.

Kiyoshi izin untuk keluar sebentar sementara anggota tim basketnya harus berganti pakaian. Ia duduk di depan gedung tempat dilaksanakannya pertandingan Winter Cup, menikmati semilir angin yang membelai kulit berkeringatnya. Kedua bola matanya awas, memandangi sekitar

"Eh? Itu kan…"

Kiyoshi bangkit, meninggalkan jaket Seirin miliknya dan segera melangkah pelan-pelan mengikuti sosok yang menarik perhatiannya.

"Hanamiya?" gumamnya pelan. Kiyoshi berdiri di balik dinding, mengintip kapten tim basket yang baru saja mereka kalahkan. Hanamiya berjalan sendirian, dengan kepala menunduk dan rambut sedikit acak-acakan. Kulit ricottanya tampak lebih pucat.

Hanamiya bersandar pada dinding di hadapannya. Lengan kanannya terulur, meremat pakaiannya di depan dada. Kiyoshi juga melihat lawannya itu menggigit bibir kuat-kuat. Kiyoshi hampir-hampir merasa hilang akal karena melihat hal itu. Selama ini, ia melihat Hanamiya dengan wajah sinis dan kata-kata kasar. Jangankan menangis, melihatnya sedih rasanya tak mungkin. Kiyoshi mengakui bahwa mungkin, ia sendiri tak menganggap Hanamiya seperti seseorang pada umunya saking jahatnya pemuda itu.

"Siapa di sana?"

Kiyoshi seketika menarik dirinya, ia memegangi dadanya, jantungnya berdetak cepat karena terkejut. Suara langkah Hanamiya yang semakin mendekat membuatnya semakin was-was. Bagaimana kalau Hanamiya melihatnya?

"Kiyoshi?"

'Kan…

Kiyoshi nyengir canggung, ia menggaruk surai coklatnya saking bingungnya harus bersikap bagaimana ketika akhirnya Hanamiya melihatnya. Semoga saja pemuda dengan surai eboni itu tidak marah karena mendapati dirinya menguntit. Soalnya Kiyoshi juga tidak sengaja melakukannya.

"Ah, hai Hanamiya, bagaimana kabar mu?"

Ekspresi Hanamiya berubah datar, benar-benar berbeda dengan yang Kiyoshi lihat sebelumnya, juga ekspresi-ekspresi yang biasanya ia gunakan. Dalam jarak sedekat ini, Kiyoshi bisa melihat bekas jejak air mata di pipi ricotta pemuda itu. Hanamiya tak mengatakan apapun dan langsung berbalik pergi.

Kiyoshi dibuat menganga karena hal itu. Seharusnya Hanamiya memandang rendah padanya, mengata-ngatainya dengan segala perkataan kasar yang ia punya. Sekarang, ketika Hanamiya hanya berwajah datar dan tak mengatakan apapun membuat Kiyoshi terganggu entah karena apa.

"Hanamiya, tunggu!" Kiyoshi menahan pergelangan tangan Hanamiya yang membuatnya menyadari betapa kecil lengan pemuda di hadapannya jika dibanding dengan miliknya sendiri.

Hanamiya berhenti dan ia langsung menarik paksa tangannya sendiri. kedua bola matanya membelalak kaget. Reaksi Hanamiya jelas tidak biasa. Pemuda itu tampak sangat berbeda daripada biasanya dan reaksinya sungguh di luar perkiraan.

"Ah, maafkan aku. Kau mau kemana?"

Hanamiya memalingkan wajahnya. "Bukan urusanmu." Jawabnya lemah.

Hanamiya kembali berjalan meninggalkan Kiyoshi, dan lagi-lagi pemuda besar itu mengikuti Hanamiya karena penasaran dengan keadaannya. Kiyoshi mengerti mungkin yang dilakukannya sebenarnya tidak perlu. Untuk apa mengkhawatirkan seseorang yang baru saja menyakitinya? Tapi Kiyoshi hanya mengikuti instingnya. Ia tetap mengikuti kemana Hanamiya melangkah.

"Apa kau bosan hidup? Pergi dan jangan mengikuti ku!" seru Hanamiya lebih keras, tapi tetap saja tekanannya terdengar berbeda daripada Hanamiya yang biasanya.

Kiyoshi memperlebar langkahnya, menjangkau Hanamiya dan mencegatnya. "Kau kenapa Hanamiya?"

Hanamiya mendongak, memandang wajah Kiyoshi lekat-lekat. "Sudah ku bilang bukan urusanmu! Pergi!" dan ia mendorong tubuh Kiyoshi.

"Aduh!" Kiyoshi tidak jatuh tentu saja, lagipula kekuatannya jelas lebih besar daripada Hanamiya. Ia hanya tersentak ketika Hanamiya mendorongnya dan tak sengaja menyentuh memar bekas permainan basket tadi.

Tangan Hanamiya menggantung di udara, dan yang lebih mengejutkan adalah tubuh pemuda itu bergetar dengan wajah ketakutan. Kiyoshi tidak mengerti, apakah yang di hadapannya ini benar-benar Hanamiya? Hanamiya Makoto yang sepanjang mengenalnya selalu merendahkan dirinya? Kenapa pemuda itu terus bertingkah berbeda.

"Pergi dari hadapan ku!" Hanamiya kembali pergi, kali ini ia berlari seolah berusaha keras menghindari Kiyoshi. Namun tetap saja, bukan Kiyoshi namanya jika ia menyerah begitu saja. Jika Hanamiya berlari, maka dia sendiri mengejarnya mengabaikan sengatan ngilu di seluruh tubuhnya pasca pertandingan tadi. Kiyoshi hanya ingin memastikan keadaan Hanamiya, itu saja.

"Berhenti mengejarku, idiot!"

Kiyoshi terus berlari. "Kalau bergitu berhentilah menghindari ku."

Hanamiya berhenti, bahunya naik turun dan napasnya terdengar lelah. Ia sama sekali tak memandang Kiyoshi dan tetap membelakanginya.

"Akhirnya kau berhenti juga, hei Hanamiya kau ini kenapa sebenarnya?" Kiyoshi menyentuh bahu pemuda di depannya yang seketika membuat Hanamiya berjengit kaget. Tau karena Hanamiya akan berlari, Kiyoshi menahannya dengan melingkarkan lengan besarnya pada perut Hanamiya.

"Hei! Lepaskan aku bodoh! Apa yang kau lakukan!?"

"Tidak mau, kau terus saja berlari dari tadi, jadi aku harus menahan mu."

Hanamiya terus memberontak, membuat Kiyoshi kepayahan menahannya. Bagaimana pun, tubuhnya sendiri sedang tak baik-baik saja.

"Kau tidak perlu mengurusiku, sana kembali ke tim mu!"

Kiyoshi menggeleng tegas, ia menarik Hanamiya, masih dengan lengannya yang melingkari perut Hanamiya membawanya ke bawah pohon di samping gedung pelaksanaan Winter Cup.

Kiyoshi terus saja memegangi pergelangan tangan kanan Hanamiya, menahan pemuda itu melarikan diri. "Jadi, ada apa denganmu, Hanamiya?"

Hanamiya enggan menatap Kiyoshi, ia tetap diam meski merasa aneh karena Kiyoshi terus memeganginya. "Berhenti mengurusi kehidupan ku dan kembalilah ke habitatmu!"

"Tidak, aku 'kan sudah bilang kalau aku mau bertemu denganmu."

"HAH?"

"Ayolah, dari tadi kita hanya membicarakan hal-hal tak perlu, mari serius."

Hanamiya menyentak tangannya meski tentu saja gagal karena genggaman Kiyoshi sangat erat tanpa menyakiti Hanamiya sedikit pun.

"Itu karena kau terus saja mengejarku, memangnya apa yang kau butuhkan dariku? Kau mau ku lukai lebih lagi?"

Wajah Kiyoshi mendadak murung. "Ternyata kau masih tak menyukai ku ya."

"Heh, memangnya siapa yang sudi menyukai mu? Aku? Sana kembali ke pelatih datarmu dan segera pacaran."

Kiyoshi menggeleng. "Riko sudah putus dengan ku kok, sekarang Hyuga sedang mendekatinya, mana mungkin aku nyelonong di antara mereka."

"Bukan urusanku, idiot! Lepaskan aku! Aku mau pulang."

Kiyoshi menarik Hanamiya. "Oke, ayo pulang bersama!" serunya ceria.

Kedua mata Hanamiya melebar, kenapa Kiyoshi bersikap seperti ini? seharusnya dia tidak perlu mengurusinya, atau seperti yang ada dalam pikiran Hanamiya, harusnya Kiyoshi mengumpatinya, memusuhinya karena semua yang telah ia perbuat. Tapi apa yang sekarang dia lakukan?

"Apa kau gila? Lepaskan aku!" teriak Hanamiya makin keras.

"Tidak mau, ayo pulang bersama."

Hanamiya menarik tangannya, menggigit telapak tangan Kiyoshi keras-keras sehingga Kiyoshi kesakitan dan lengah. Saat Kiyoshi mengerang kesakitan dan melepaskannya, Hanamiya langsung berlari pergi meninggalkan Kiyoshi.

"Hanamiya! Oi!"

Kiyoshi menghela napas, bekas gigitan Hanamiya memerah di kulitnya. Hanamiya sudah hilang, dan ia sendiri tak mungkin mencarinya. Rasanya mengganjal melihat Hanamiya seperti itu, dan fakta bahwa Hanamiya seolah terus menghindarinya. Baiklah, hubungannya dengan Hanamiya memang selalu buruk, dan sangat wajar jika Hanamiya tak mau berdekatan dengannya. Hanya saja, tetap saja ada hal lain yang membuat sikap pemuda itu terasa berbeda.

"Hanamiya, sebenarnya ada apa denganmu?" bisik Kiyoshi pada dirinya sendiri.

.tbc.


A/N: Informasi bagi yang sebelumnya main di akun wattpad Ms-Akashi. Aku sudah kehilangan akses di akun itu sehingga sudah tidak lagi ku gunakan. Jika ada yang ingin membaca lewat Wattpad, bisa mengunjungi akun baruku Kururinrin Thank you