Kuroko no Basket belongs to Fujimaki Tadatoshi
This fanfiction is purely private property
.
Enjoy!
Hanamiya mengumpat kesal. Rentetan kata-kata kotor telah ia ucapkan sejak tadi seolah sedang mengucapkan mantra. Ia mengutuk hari ini. Hari di mana seluruh kesialan menumpuk menjadi satu, membuat Hanamiya bergidik ngeri.
Dimulaid dari kekalahannya menghadapi Seirin, Kiyoshi yang terus saja melindungi teman-teman setimnya, yah… tentu yang dilakukan Kiyoshi tidak salah, hanya saja Hanamiya kesal, dan jijik melihatnya. Kenapa harus berkorban sebanyak itu untuk orang lain? Benar-benar menjijikkan.
Hanamiya meremat kaus di bagian dadanya. Terlalu banyak memikirkan hal-hal merepotkan membuatnya sesak napas dan lelah. Hanamiya selalu saja seperti ini. Tertekan selalu saja meruntuhkan pertahanannya, menunjukkan sisi lemahnya tanpa bisa dicegah, yang sialnya hari ini malah dilihat oleh Kiyoshi; musuh bebuyutannya sendiri.
Sial.
Sial.
Sial.
Hanamiya membenturkan kepalanya berulang kali pada tiang halte bus. Seorang wanita tua menahannya dan menatap prihatin kea rah Hanamiya. Hanamiya tersenyum paksa, mengatakan dia baik-baik saja dan hanya sedikit stress. Bahkan ia lupa, kalau ia sekarang berada di tempat umum. Beruntung, wanita tua itu segera naik bus yang datang tak lama kemudian, sehingga Hanamiya hanya sendirian di halte menunggu bus yang mengarah ke rumahnya.
"Ah! Ketemu!"
Hanamiya menoleh patah-patah. Rasanya benar-benar ingin lari, tapi hujan deras dan berangin di hadapan membuatnya urung untuk melakukan itu. Hanamiya tidak mau menanggung risiko demam dan batal latihan besok hanya krena menghindari Kiyoshi. Meskipun sudah tidak ada lagi harapan untuk Kirisaki Daiichi di Winter Cup tahun ini, Hanamiya tidak akan menyerah dan tetap akan mengikuti turnamen basket SMA tahun depan. Apalagi tahun depan adalah tahun terakhirnya.
"Hanamiya, kau tidak pakai jaket ya?"
Terlalu lama berkutat dengan pikirannya sendiri membuat Hanamiya tak sadar bahwa Kiyoshi sudah berada di sampingnya, berdiri menjulang menghalangi pandangannya.
"Urus dirimu sendiri!" Serunya ketus.
Kiyoshi hanya tertawa. Ia mengusap tengkuknya. Hanamiya melirik melalui ekor matanya. Tubuh Kiyoshi basah kuyup, jauh lebih parah daripada Hanamiya sendiri yang hanya sekadar terciprat karena angin yang berembus, tetapi pemuda besar itu malah cengengesan dan menanyai keadaan dirinya. Benar-benar idiot.
Kiyoshi membuka tas selempang besarnya, mengeluarkan jaket tebal yang Hanamiya sendiri bingung mengapa pemuda tinggi besar itu malah menyimpannya dan bukannya memakai untuk dirinya sendiri.
"Nih, biar Hanamiya nggak kedinginan." Kiyoshi dengan sengaja langsung memakaikan jaket itu melewati kepala Hanamiya.
"Eh? Hoi, kau ngapain sih? Lepas!" Hanamiya menahan tangan Kiyoshi yang berusaha memakaikan jaketnya.
"Sudahlah diam saja Hanamiya, nanti kau sakit."
"Urus dirimu sendiri, baka!"
Tapi Kiyoshi benar-benar tak menyerah. Ia terus memaksa Hanamiya menggunakan jaketnya hingga Hanamiya sendiri menyerah karena kalah adu kuatan dengan si center Seirin.
"Nah, begitu dong. Kau manis kalau menurut, tau."
Sebuah perempatan imajiner bertenger di pelipis Hanamiya. Benar-benar, Kiyoshi tidak bisa melihat situasi. Hanamiya menarik kerah pakaian Kiyoshi, meski itu artinya dia harus berjinjit karena perbedaan tinggi badan yang sangat ketara.
"Kau mau mati hah, Hati Besi?"
Kiyoshi mengangkat kedua tangannya tanda menyerah. Lagipula ia kemari bukan untuk berkelahi, apalagi dengan Hanamiya. Tubuhnya sudah cukup babak belur karena pertandingan tadi, lalu dengan nekatnya Kiyoshi bilang ingin pulang sendiri karena dalam hati ia ingin mencari Hanamiya. Kiyoshi tidak bisa menghilangkan bayangan wajah Hanamiya yang bersedih dari kepalanya. Meski ia sendiri tak yakin apakah ekspresi itu benar seperti yang dilihat Kiyoshi. Hanya saja, Kiyoshi merasa ada yang salah, dan sesuatu yang salah harus segera diperbaiki.
Hanamiya melepaskan genggamannya, membuang muka ke arah lain. "Kenapa daritadi kau terus menemuiku? Kau ingin balas dendam, heh? Satu lawan satu?"
"Eh? Kenapa kau berpikir begitu?"
Hanamiya tertawa sarkas. "Sudahlah Kiyoshu, tidak perlu menutupi semuanya dengan topeng ceriamu. Kau membenciku, katakan saja. Kau ingin balas dendam, jujur saja. Aku bukan anak-anak Seirin yang bisa dengan mudah kau tipu dengan wajahmu itu.
Kiyoshi terdiam. Raut wajah cerianya seketika sirna berganti dengan sorot mata dingin dan menusuk. Ia tidak menatap Hanamiya sama sekali, hanya diam menghadap depan dalam waktu yang cukup lama. Detik-detik tiada percakapan di antara mereka, hanya suara hujan yang semakin deras. Hanamiya tidak terlalu suka bicara, tapi ia sendiri benci dengan kondisi akward semacam ini. Namun ia sendiri tak mau memulai pembicaraan karena ia merasa tak perlu.
"Ya aku membencimu."
Kedua mata Hanamiya melebar. Ia harusnya sudah tidak terkejut dengan hal itu. Ya, seharusnya begitu. Ia yang memulai segalanya, ia yang sedari dulu melukai Kiyoshi. Bukankah wajar jika Kiyoshi membencinya? mengalami cidera parah sampai harus rehabilitasi dan meninggalkan basket untuk sementara waktu. Bahkan, Hanamiya yakin sekali setelah Winter Cup usai, Kiyoshi akan kembali melakukan rehabilitasi untuk kakinya. Lalu, kenapa ia harus merasa terkejut ketika Kiyoshi mengungkapkannya?
"Oh…"
Tak ada respon apapun yang sesuai dengan karakter Hanamiya seperti biasa. Seluruh koleksi umpatan dan cacian yang selalu ia lontarkan kepada siapa saja yang tak ia sukai seakan tertahan di tenggorokan. Hanamiya tidak bisa mengucapkannya. Atau sebenarnya ia tak mau?
"Tapi aku—"
Kiyoshi tak menyelesaikan perkataannya karena Hanamiya sudah buru-buru berlari pergi menerjang hujan.
"Eh? Hanamiya!" Kiyoshi menghela napas. "Padahal aku memberinya jaket agar tak kedinginan selama menunggu hujan reda, tapi pada akhirnya dia malah menerobos juga."
Hanamiya berlari hingga ke halte bus berikutnya. Memang jaraknya cukup jauh, tapi masih cukup bisa dijangkau dengan jalan kaki. Ya sebenarnya sejak tadi Hanamiya berlari. Ia duduk di kursi halte sendirian, dengan seluruh tubuh basah kuyup dan rasa dingin yang terus menjalar ke seluruh tubuh. Hanamiya lupa jika ia tak tahan dengan hujan deras. Lagipula apa sih yang dia lakukan? Kenapa pula ia harus buru-buru pergi? Padahal sejak tadi ia sudah sabar menunggu hujan reda. Sekarang, tak ada bedanya dengan ia menerjang hujan sejak awal.
"Tapi aku—" Hanamiya tertawa, menirukan kalimat terakhir Kiyoshi sebelum ia memutuskan untuk pergi. "Tapi apa? Ingin mematahkan kakiku juga? Agar sama dengan milikmu? Ya? Kiyoshi?" Hanamiya tertawa terbahak dengan pikirannya sendiri. tapi lagi-lagi, semua tawa itu tidak jelas karena apa. Karena ia merasa lucu mengenai Kiyoshi? Karena ia menertawakan penderitaan Kiyoshi? Atau karena dirinya sendiri terkejut dengan pengakuan Kiyoshi padahal segalanya sudah jelas sejak awal?
Hnamiya bingung dengan dirinya sendiri. Ia melingkarkan lengan, memeluk dirinya sendiri. Berusaha mengurangi hawa dingin yang terus menusuk kulitnya.
Hujan mulai cukup reda satu jam kemudian. Seluruh tubuh Hanamiya masih basah, dan ia sampai ke rumah dalam keadaan agak pusing. Ia melempar jaket Kiyoshi pada keranjang pakaian dan segera membersihkan diri sebelum ia benar-benar demam.
"Jadi, bagaimana caraku mengembalikan jaket sampah ini?" gumamnya kesal pada diri sendiri.
.
.
OooO
A/N: Mind to review?
