Enjoy~

.

.


Hanamiya menghela napas panjang, menatap bungkusan plastik hitam di samping tasnya. Isinya sudah jelas, jaket Kiyoshi yang terbawa pulang olehnya kemarin. Hara merecokinya dengan beragam pertanyaan. Karena… ayolah, bungkusan itu tampak rapi, lebih mirip kado yang sengaja disembunyikannya dalam plastik hitam alih-alih jaket bekas pakai. Tentu saja Hanamiya sudah mencucinya, dengan beragam umpatan kesal dan geraman marah.

Hanamiya berencana mengembalikan jaket itu nanti, usai Seirin selesai dalam pertandingannya dengan Kaijo. Hanamiya tak berharap mereka akan menang dengan mudah, tapi ia juga tak berharap mereka kalah, hm… mungkin? Hanamiya mengacak surai eboni miliknya, yang konstan menimbulkan beragam pertanyaan dalam benak teman-temannya. Inginnya sih bertanya, tapi mereka enggan karena tidak mau mendapat umpatan super spesial dari si kapten sadis.

"Hanamiya, memangnya siapa yang lagi ulang tahun?" Hara, si maniak permen karet mencolek-colek bungkusan plastik hitam itu.

Hanamiya menepis tangan Hara dan memelototinya. "Jangan sentuh!"

"Heeee pelit. Jadi, siapa yang lagi ulang tahun?"

"Ulang tahun apanya? Tidak ada yang ulang tahun."

"Jadi, kado itu untuk siapa?" Furuhashi yang terkenal paling kalem bahkan ikut penasaran. Hanamiya cukup terkejut meski jelas ia menyembunyikannya.

Hanamiya mengalungkan tasnya dan segera meraih bungkusan itu. Lama-lama ia sakit kepala jika harus melayani pertanyaan-pertanyaan mereka. Meski di lapangan mereka semua terkenal sadis karen permainan kotornya, Hanamiya bersumpah mereka adalah manusia-manusia konyol yang pernah ia temui. Jujur saja, Hanamiya merasa paling waras di antara mereka.

"Oi! Mau kemana Hanamiya?"

Hanamiya melirik sinis. "Memangnya kalian tidak ingin menonton pertandingan mereka?"

"Ha! Benar juga. Aku ingin melihat Seirin dibantai oleh SMA Kaijo." Seru Yamazaki girang. Ia segera mengemasi barang-barangnya, mengekor Hanamiya yang berjalan duluan.

Melihat Seirin dibantai Kaijo? Hanamiya menarik seulas senyum. Sudah pasti seluruh timnya masih tak terima dengan kekalahan mereka tempo hari. Padahal mereka sudah sangat yakin akan melaju ke semifinal Winter Cup. Well, tujuan mereka memang bukan kemenangan, tapi melihat lawan tersiksa di lapangan. Hanamiya mengakuinya. Lagipula, penderitaan orang lain memang terasa semanis madu.

Hanamiya menggeleng kencang, memikirkan pertandingan di saat timnya sudah kalah rasanya tak penting. Itu hanya akan membawa perasaan Hanamiya semakin kesal.

"Hanamiya, kau kenapa?" Tanya Seto bingung. Ngomong-ngomong anggota tim Hanamiya selalu saja menyadari gerakan kecil kapten mereka. seperti gelengan barusan.

Hanamiya berdeham pelan, berusaha keras membuat ekspresinya terlihat seperti biasa. "Tidak ada." Jawabnya datar.

Keempat temannya saling berpandangan. Sejujurnya, mereka sendiri bingung dengan keadaan Hanamiya. Usai kekalahan kemarin, dia langsung berlari pergi. Hara bahkan harus bertanggung jawab membawakan barang-barang sang kapten karena Hanamiya meninggalkannya begitu saja. Inginnya sih tak peduli, tapi Hara masih sayang nyawa. Lalu sekarang, Hanamiya membawa bungkusan plastik hitam dan melindunginya seperti itu. Memangnya itu apa? Jangan bilang Hanamiya sangat kesal hingga membuatnya merakit bom untuk mengacaukan semifinal Winter Cup.

Keempatnya spontan menggeleng. Kadang-kadang mereka sendiri bingung, pikiran mereka selalu tersambung saat memikirkan kemungkinan mengerikan mengenai sang kapten.

"Kalian berempat kenapa diam saja hah?" bentak Hanamiya.

Hara yang paling cekatan dan langsung mensejajarkan langkahnya dengan sang kapten. Omong-omong, si maniak permen karet itu juga yang paling peka dengan mood Hanamiya.

Hanamiya meremat bungkusannya, yang tentu saja gerakan itu tak luput dari pengamatan Hara. Ada untungnya juga punya rambut sampai menutupi mata, orang lain jadi tak sadar ketika Hara meliriknya.

Hara berdoa dalam hati, semoga bungkusan hitam itu bukan benar-benar bom.


Hanamiya menutupi wajahnya. Apa ini mungkin? Seirin menang melawan Kaijo? Antara kesal dan lega, meski ia sendiri bingung lega karena apa, Hanamiya bingung ada apa dengan pasangan cahaya—bayangan Seirin yang baru itu. Pemain kelas dua memang cukup bagus, tapi kembali mengalahkan salah satu Kiseki no Sedai? Prestasi Seirin benar-benar meningkat pesat.

"Kalian semua pulang saja duluan, aku masih ada urusan." Seru Hanamiya.

"Hm… kenapa? Tidak biasanya kau pergi sendirian, Hanamiya?"

Hanamiya mendecih,menatap Seto yang tanpa sadar sudah mundur di belakang tubuh Furuhashi. "Menurut atau ku gandakan latihanmu menjadi berkali-kali lipat?"

"Siap!" seru keempatnya bersamaan kemudian segera pergi sebelum Hanamiya semakin marah.

Hanamiya menghela napas, ia meremat ujung bungkusan plastik yang sejak tadi dibawanya. Sebersit rasa ragu tiba-tiba menyerang. Tapi Hanamiya enggan menyimpan barang milik orang lain yang dibencinya.

"Lakukan, Makoto!" gumam Hanamiya pada dirinya sendiri. Seandainya kawan-kawan Kirisaki Daiichinya tahu kalau Hanamiya bisa gugup, Hara mungkin akan tertawa paling keras.

Meski berat, Hanamiya memaksakan kakinya melangkah. Ia tahu dimana ruang ganti Seirin. Ia akan ke sana, segera mengembalikan jaket Kiyoshi dan langsung pergi.

Niatnya, Hanamiya ingin masuk dan langsung melemparkan saja jaket itu ke wajah Kiyoshi kemudian pergi. Tapi ketika sampai di depan pintu ruang ganti dan mendengar suara ramai mereka, Hanamiya jadi urung melakukannya. Dia sedang sendirian sekarang, bukan apa-apa, Hanamiya yakin sepenuhnya Seirin sangat membencinya. Bisa jadi mereka akan mengeroyok Hanamiya? Meski kemungkinannya kecil, Hanamiya tetap tak mau ambil risiko. Jadi di sinilah ia sekarang, bersandar pada dinding di depan ruang ganti. Ia tak mau repot-repot menanggapi jika nanti anak-anak Seirin sewot kepadanya. Lagian keperluannya hanya mengembalikan jaket Kiyoshi kok.

Saat pintu ruang ganti dibuka, Hanamiya reflek meremat ujung pakaiannya. Yang keluar pertama adalah si kapten kacamata, dan seperti yang sudah diprediksi Hanamiya sebelumnya, pemuda itu kontan menatap sengit kepadanya.

"Sialan! Apa yang kau lakukan di sini? Kau mau mencelakai kami lagi ya?" Seru Hyuga keras.

Hanamiya meliriknya malas. "Aku tidak ada urusan denganmu."

Kagami, sebagai adik kelas baik namun agar temperamen langsung maju dan menarik kerah Hanamiya, membuat Hanamiya mau tak mau harus berjin jit mengimbangi tarikan Kagami.

"Teme!"

Hanamiya mendengus. Ia meremat bungkusan plastik di lengannya. Ketika Kiyoshi keluar dan menanyakan mengapa mereka ribut, kedua bola matanya melebar melihat Kagami bersikap kasar kepada Hanamiya.

"Kagami! Hentikan itu." Seru Kiyoshi panik.

"Tapi, senpai…"

Hanamiya menghela napas. "Sudah ku katakan aku tidak ada urusan dengan kalian." Ia kemudian menatap Kiyoshi dan melemparkan bungkusan itu. "Ini ku kembalikan."

Semuanya sukses melongo. Hanamiya menarik paksa dirinya hingga terlepas dari genggaman Kagami dan berbalik pergi.

"Hanamiya tunggu!"

Kan.

Hanamiya menggigit bibirnya. Kiyoshi tak akan semudah itu melepaskannya. Hanamiya bisa mendengar anak-anak Seirin menanyakan apa isi bungkusan itu dan hubungannya dengan Hanamiya. Ia tak peduli, lagipula tujuannya hanya mengembalikan jaket Kiyoshi.

"Tunggu, Hanamiya." Kiyoshi menahan pergelangan tangannya.

"Cih, apa yang kau lakukan, bodoh! Lepaskan aku!"

Kiyoshi tersenyum canggung. "Maaf, janji nggak akan pergi kalau ku lepaskan?"

"Haaa? Memangnya kau siapa berani memerintahku?"

"Aku tidak memerintah, lho. Aku meminta, eh memohon."

Hanamiya tak menjawab, ia menyentak pegangan Kiyoshi meski hasilnya nihil.

"Terimakasih, Hanamiya!" Seru Kiyoshi riang.

"Tidak perlu, tidak butuh. Lagian itu jaketmu."

Kiyoshi berkedip polos. "Bukan jaket kok, tidak kau kembalikan juga tidak apa-apa. Tapi terimakasih karena repot-repot kemari, apalagi menonton pertandingannya."

Wajah Hanamiya merah padam. "Apa sih? Percaya diri sekali aku menontonmu!"

"Eh? Bukan ya? Memangnya ada pemain Kaijo yang kau kenal?"

Sungguh, Hanamiya ingin sekali kabur andai tangan besar Kiyoshi tidak menahannya sejak tadi. Ditarik pun percuma. Mendadak, Hanamiya mengutuk ukuran tubuh Kiyoshi yang besar itu.

"Cih, lepaskan aku idiot! Aku mau pulang."

"Ayo pulang bersama!"

"Haaah? Kau gila? Meninggalkan timmu dan mengajakku pulang bersama?"

Kiyoshi mengangguk antusias. "Mereka sudah biasa jalan bersamaku kok, kalau dengan Hanamiya 'kan tidak pernah."

"Tidak mau! Lepaskan aku!"

Kiyoshi menatapnya memelas. "Hanamiya jahat!"

"Sudah tau! Makanya lepaskan, kau gila ha? Mengajak orang jahat pulang bersama?" Hanamiya menyentak keras sekalian sarkas. Lagian Hanamiya bingung, reputasi bad boy nya sudah terkenal apalagi untuk anak-anak Seirin, dan beruang idiot ini masih mau mengajaknya pulang bersama? Memangnya Kiyoshi tidak takut kalau dirinya akan kembali dilukai?

"Eh maaf Hanamiya, kau tidak jahat kok."

Hanamiya teringat dengan pertemuannya bersama Kiyoshi tempo hari di halte saat hujan turun. Bukankah dia mengakuinya kalau dia membenci Hanamiya, tapi kenapa dia sekarang bersikap seperti ini?

"Tidak usah pura-pura, berhenti memakai topeng orang baikmu di hadapanku." Hanamiya menunduk, hingga matanya tertutupi oleh surai eboninya.

"Eh?"

Dalam kesempatan ini, Hanamiya menarik tangannya dan segera berlari. Ia tak peduli meski terlihat melarikan diri ketika ada anak-anak Seirin yang menatapnya berinteraksi dengan Kiyoshi. Memangnya apa pedulinya? Tidak ada.

"Hanamiya! Oy…" Kiyoshi menghela napas dan memeluk bungkusan plastik hitam itu kemudian kembali pada rekan setimnya.

"Mungkin lain kali." Gumamnya pelan.

OooO


A/N: Sumpah aku lupa kalau belum update padahal aku dah punya stok sampai chapter 10. Sorry :)