Enjoy Reading~
.
.
Hanamiya menekuk wajahnya, kerutan di dahinya semakin dan semakin tebal saja, menciptakan perpaduan pemandangan yang benar-benar mengerikan. Hanamiya dan tingkah buruk adalah pasangan sejati, jadi tak heran jika seluruh wajahnya seolah mendukung untuk menampilkan ekspresi seperti itu. Malahan, akan sangat aneh kalau saja Hanamiya berjalan santai dengan senyum cerah ceria. Padahal wajahnya tidak seram, kapten tim Shuutoku malah lebih sangar wajahnya macam bos mafia. Tapi aura Hanamiya yang benar-benar gelap itu membuatnya kelihatan seram. Alis tebal yang sering menukik tajam, dan bibir yang selalu melengkung ke bawah.
Hanamiya menghela napas. Setidaknya ia lega sudah mengembalikan barang sampah milik Kiyoshi.
"Oi! Hanamiya!"
"Kalian kenapa masih di sini?"
Hara cengengesan, ia melemparkan sebotol minuman dingin. Aneh memang, memberikan minuman dingin di tengah musim dingin. Tentu hanya si konyol Hara lah pelakunya. "Hanamiya, kami tau kok kalau kau tadi mampir ke Seirin. Jadi bagaimana?"
"Hah?"
"Itu lho, kadomu untuk Kiyoshi."
Yamazaki membekap mulut Hara, mencegah kawannya yang suka sekali asal bicara untuk melanjutkannya. Sejak Hara mengungkit soal Kiyoshi, aura-aura hitam menguar di balik tubuh Hanamiya, membuat teman-temannya minus Hara merinding disko. Soalnya kalau Hanamiya marah, yang kena imbasnya mereka semua.
"Haha, nggak kok Hanamiya. Kita tadi memang sengaja menunggumu soalnya di luar sudah gelap." Seto menepuk-nepuk bahu sang kapten.
"Kalian ini kenapa sih?"
Furuhashi berdehem pelan. "Malam hari sangat berbahaya, kami khawatir seseorang menculikmu."
Yamazaki merinding disko, permen karet Hara pecah, Seto sudah beringsut ke belakang Hara. Bisa-bisanya si mata ikan mati itu bicara sembarangan. Iya sih, mereka memang khawatir Hanamiya kenapa-kenapa, meski rasanya tidak mungkin seseorang seperti Hanamiya akan diculik atau semacamnya. Terkutuklah Furuhashi dan mulut licinnya itu. Bisa-bisanya dia mengatakan hal itu dengan wajah datar seperti itu. Dasar tidak peka!
"Haaah? Kalian menghinaku?" desis Hanamiya kesal. Mood-nya sudah cukup buruk sejak bertemu Seirin, dan sekarang ia harus mendengar kenyataan bahwa rekan satu timnya memperlakukan ia seperti seorang gadis lemah. Kurang ajar!
Seto menggeleng panik. "Bu-bukan seperti itu kok, Hanamiya. Furuhashi hanya bercanda. Iya 'kan Furuhashi!"
Furuhashi hanya menelengkan kepalanya bingung. benar 'kan! Dasar tidak peka keadaan.
"Ma… Ma… Le-Lebih baik kita pulang saja, okay?" Yamazaki menepuk pelan bahu Hanamiya dengan tangannya yang bergetar. Jika pembicaraan mereka diteruskan, bisa-bisa Furuhashi akan semakin mengatakan hal-hal aneh dan berimbas pada latihan mereka yang dilipatgandakan. Ayolah, mereka sudah kalah sebelum sampai ke semifinal, rasanya sia-sia saja latihan berkali-kali lipat kalau mereka baru bisa bertanding lagi tahun depan. Tapi Hanamiya dan temperamennya memang berbahaya. Dia itu benar-benar licik dan kejam. Jadi jangan harap bisa lari dari perintahnya.
Hanamiya mendecih,ia menampik telapak tangan Yamazaki yang masih bertengger di bahunya dan melangkah lebih dulu.
Keempat anak-anak Kirisaki Daiichi bernapas lega. Setidaknya sang kapten sama sekali tidak mengancam mereka dengan latihan neraka.
"Kiyoshi! Apa yang kau lakukan hah? Menemui anak nakal itu?"
Kiyoshi tersenyum polos. "Ma… Hyuga, tenang saja. Aku hanya menyapanya kok."
"Apa-apaan itu? Kau gila? Menyapa orang yang melukaimu!"
Riko mengusap bahu Hyuga. "Sudahlah Hyuga-kun, yang penting Teppei sudah kembali."
"Memangnya senpai tidak marah? Melihat wajahnya saja membuatku ingin sekali menghancurkannya!" Kagami mengepalkan telapak tangannya dengan aura berapi-api.
Kiyoshi menepuk kepala Kagami, menenangkan kouhai-nya yang sudah pasti memiliki dendam mendalam dengan Kirisaki Daiichi.
"Tenanglah, Kagami. Aku 'kan hanya menyapa kawan lama."
"KAWAN?! Dasar bodoh! Dia itu yang menghancurkan lututmu!" seru Hyuga emosi.
Kiyoshi menghela napas. "Hei Hyuga, dan kalian semua. Ku harap kalian tidak mengungkit soal itu, yang terjadi biarlah terjadi. Lagipula, Hanamiya tidak pernah benar-benar menyakitiku."
"HAH?!"
"Sejak tahun lalu, Hanamiya sama sekali tak menyentuhku di lapangan. Rasanya tidak adil melihat kalian terus dan terus menyalahkannya atas musibah yang ku alami."
"Tapi dia yang memerintahkan teman-temannya!" Hyuga sudah berada pada ujung kesabarannya. Dia tahu kalau Kiyoshi itu seseorang yang baik, tapi membela orang lain yang dengan sengaja melukai? Dimana otak Kiyoshi sebenarnya?
Kiyoshi mengangkat bahu. "Yah, aku tidak memungkiri untuk yang itu. Tapi fakta kalau Hanamiya tidak pernah benar-benar menyentuhku di pertandingan membuatku sadar, bahwa tidak seharusnya kalian memperlakukan dia seperti kriminal begitu. Kasihan lho, lihat saja wajahnya yang murung itu. Masa kau tega membentaknya sih?"
Hyuga memijat kepalanya. Pusing mendengar ceramah Kiyoshi yang lebih terdengar seperti ucapan orang tidak waras. Hanamiya? Murung? Hyuga tidak pernah melihat ekspresi lain di wajah Hanamiya selain raut licik dan semacamnya, dan apa-apaan itu dengan nada bicara Kiyoshi? Seolah ia sedang membicarakan gadis manis dari sekolah tetangga saja.
"Duh, terserah kalian deh. Pokoknya kalau terjadi apa-apa kami akan menghajar si alis tebal itu!" Hyuga menyerah. Meski Kiyoshi itu baik, dia adalah manusia bebal sejati. Kalau dari awal dia terus membela Hanamiya, mau pembicaraan mereka sampai besok pun ya tetap akan membela Hanamiya.
Kiyoshi tersenyum senang. "Kalian baik sekali denganku. Jadi, kalau begitu aku pulang sendiri ya! Sampai jumpa besok!"
"Hah? Eh? Lho Kiyoshi?" Riko sejak tadi sibuk menepuk-nepuk bahu kaptennya hingga tak sadar kalau si beruang besar dari timnya sudah berlari pergi.
"Ano, kenapa Kiyoshi-senpai pulang sendiri? Biasanya kita pulang bersama 'kan?" Tanya Kagami akhirnya. Sejak tadi para anak kelas satu hanya diam melihat perdebatan Kiyoshi dan Hyuga perihal kapten sekolah lawan.
Riko menggeleng. "Terserahlah." Jawabnya asal.
"Oh! Masih sempat! Oi Hanamiya!" Seru Kiyoshi ceria.
Hara, Yamazaki, Seto, dan Furuhashi reflek maju dan membuat Hanamiya tertutupi tubuh mereka.
"Mau apa dia kemari?" desis Hara tak suka
Yamazaki mengangkat bahu. "Bosan hidup?"
"Tch, kenapa kalian mengelilingiku hah?" Seru Hanamiya kesal. Derita menjadi yang paling pendek di antara kawan-kawannya. Lagipula, Hanamiya bukan anak gadis, astaga! Perlindungan seperti itu tidak dibutuhkan!
Seto menepuk-nepuk bahu Hanamiya. "Ma… Ma… Tenang saja Hanamiya, biar kami urus dia. Kau tenang saja."
"Oh? Ternyata kalian semua menonton pertandingannya ya!" Seru Kiyoshi heboh. Ia mendekat dan membuat mereka reflek merapatkan diri untuk menutupi Hanamiya. "Terimakasih!"
"Kami menonton pertandingan bukan karena kami menontonmu!" Pekik Seto kesal.
"Ya tapi 'kan ada aku. Jadi, kenapa kalian menghalangiku dari Hanamiya?"
"Pergi! Jangan dekat-dekat!" Seru Yamazaki mengusir.
"Eh? Itukan…." Hara menunjuk bungkusan plastik hitam yang ditenteng Kiyoshi. Ia menoleh kepada Hanamiya, menatapnya lekat.
"Minggir kalian!" Hanamiya mendorong Hara yang berada di hadapannya, membuat si maniak permen karet itu terhuyung ke samping.
Kiyoshi tersenyum cerah. "Ayo pergi denganku, Hanamiya! Kita harus bicara." Kiyoshi meraih pergelangan tangan kanan Hanamiya dan menariknya berlari. Keempat tim Kirisaki Daiichi yang lain diam membeku,mencerna apa yang baru saja terjadi.
KAPTEN MEREKA DIBAWA LARI OLEH KIYOSHI TEPPEI?! Mampus.
OooO
A/N: Mind to review?
