Enjoy^^
.
.
"Hei, lepaskan aku sialan!" Bentak Hanamiya keras. Ia menyentak tangan Kiyoshi yang menggenggam erat pergelangan tangannya. "Kau ini apa-apaan sih?"
Kiyoshi terkekeh, menggaruk tengkuknya. "Maaf, maaf."
Hanamiya mendecih. Sejak pertemuan mereka dia halte tempo hari, Kiyoshi seolah terus muncul di hadapannya. Memang tidak heran kalau mereka bertemu karena memang Hanamiya datang untuk menonton pertandingan Winter Cup dan mengembalikan jaket milik Kiyoshi. Hanya saja, kenapa pula Kiyoshi harus menemuinya lagi? Mereka sudah tidak ada urusan lagipula, dan juga mereka bukan teman kalau mungkin lupa.
Hanamiya mengeratkan jaketnya dan berbalik pergi. Tidak ada untungnya berbicara dengan Kiyoshi, dan tidak ada perlunya juga.
"Hanamiya tunggu!"
Hanamiya menulikan kupingnya, mengabaikan Kiyoshi seolah pemuda itu tidak ada. Tapi sebagaimana Kiyoshi biasanya yang tidak akan pernah menyerah, dia terus dan terus saja mengejar Hanamiya, mengajaknya bicara meski jelas-jelas Hanamiya tak merespon.
Apa sih yang dipikirkan center Seirin itu? Manusia normal akan membencinya dengan segenap jiwa usai berhadapan dengan Hanamiya, tapi bukannya menyemburnya dengan sumpah serapah seperti yang dilakukan Hyuga, Kiyoshi malah terus-terusan berusaha mendekatinya, mengajaknya bicara.
Hari itu, ketika Hanamiya merasakan kemarahan dan sesak yang membaur di dadanya usai kekalahan Kirisaki Daiichi dengan Seirin, Kiyoshi masih dengan senyum malaikatnya mengatakan "Ayo main lagi." Hanamiya marah bukan main, tapi lebih dari itu, dia benar-benar terluka. Entahlah terluka karena apa, karena ia kalah? Atau karena dia tidak berhasil menghancurkan Kiyoshi?
Apa ia benar-benar menginginkan kehancuran Kiyoshi?
Mereka tak akan pernah berhadapan lagi. Tahun ini adalah tahun terakhir Kiyoshi bisa bermain, dan ia tidak akan diizinkan lagi mengikuti turnamen basket atau ia akan melumpuhkan kakinya sendiri. Insiden tahun lalu benar-benar menghancurkan kakinya. Bahkan usai permainan sebelumnya, Hanamiya yakin kalau Kiyoshi membebani kakinya lebih banyak untuk melindungi timnya.
"Cih!" Hanamiya mengusap wajahnya. Kenapa pula Kiyoshi harus bersikap seperti itu? Melindungi orang lain dengan mengorbankan dirinya sendiri? Apa syiknya? Membuat orang lain terus bergantung padanya, memangnya ia tidak terbebani. Harusnya Hanamiya lumpuhkan saja kakinya supaya Seirin tidak terus-terusan bergantung padanya. Menjijikkan.
"Hanamiya?"
Hanamiya mengedip beberapa kali. Ia terlalu larut dengan lamunannya hingga lupa bahwa sejak tadi objek yang ia lamunkan masih ada di sini, berdiri di hadapannya.
"Kau baik, Hanamiya?" Tanya Kiyoshi lagi.
Hanamiya menghela napas. "Pulang sana, kau mengganggu pandanganku."
"Ayo pulang bersama."
Ceria, seolah tidak pernah terjadi apa-apa di antara mereka. Hanamiya benci melihatnya. Kenapa Kiyoshi tidak menunjukkan kebenciannya? Kenapa dia selalu bersembunyi di balik topeng sebagai orang baik?
"Kakimu, apa rehabilitasinya lancar?"
Kiyoshi melebarkan matanya, tidak menyangka Hanamiya akan menanyakan kondisinya.
Kiyoshi tersenyum lebar. "Tentu! Ya, meski usai turnamen ini aku harus rehabilitasi lagi sih."
"Oh…"
"Tapi ya tidak masalah kok, yang penting sekarang aku masih punya kesempatan bermain dengan anak-anak Seirin. Usai Winter Cup, Alex-san akan membawaku untuk rehabilitasi di Amerika. Uwaa… aku pasti akan merindukan semua orang."
Amerika? Hanamiya tidak pernah mendengar soal itu? Ya lagipula dia bukan siapa-siapa. Dan siapa itu Alex-san? Jadi benar, tahun ini adalah tahun terakhirnya. Pantas saja dia berkorban sebanyak itu untuk kemenangan timnya.
"Kau harus mendukungku, Hanamiya! Seirin harus maju sampai ke final." Serunya antusias.
Hanamiya mendecih. Bisa-bisanya dia meminta dukungan kepada musuhnya.
"Baka! Tidak sudi." Seru Hanamiya keras, tapi ia tidak memungkiri ada setitik rasa aneh di dadanya ketika Kiyoshi mengatakannya. Hanamiya tidak mengerti, ia selalu dan selalu menyakiti Kiyoshi. Membuatnya terluka adalah prioritas, meski ia sendiri tak benar-benar mengerti; mengapa ia melakukannya?
Kiyoshi tersenyum maklum, seolah kalimat Hanamiya sama sekali tidak berefek padanya. Ia hampir-hampir selalu menggunakan kalimat kasar, cacian, dan hal-hal buruk lainnya. Hanamiya secara instan akan membuat orang lain menjauhinya secara pasti, dan harusnya Kiyoshi juga begitu.
"Tahun depan timmu harus menang, atau setidaknya harus berhadapan dengan Seirin lagi meski aku tidak ada. Aku akan menonton kalian, oh ya kau harus merubah cara mainmu dan berhenti menyakiti orang lain. Skill mu sudah sangat mumpuni tanpa trik kotor apapun. Kau akan semakin dibenci jika terus melakukan itu."
Hanamiya terkekeh. Seolah ia peduli saja dengan penilaian orang lain. Hanamiya sudah terbiasa dibenci orang lain, dan itu bukan masalah besar baginya. Manusia lahir dan mati sendirian, jadi mengapa harus mempermasalahkan hubungan dengan orang lain. Ia tak seperti Kiyoshi dan Seirin yang memiliki hubungan sentimental kuat. Ia dan timnya adalah formalitas. Kemenangan hanya akan membawa rasa lega, dan kekalahan tak membuat mereka saling menguatkan. Harusnya Kiyoshi tahu itu. Dunianya tidak akan hancur meski ia tidak punya teman, dan ia adalah jenis manusia yang selalu bergantung pada dirinya sendiri. itulah mengapa segala hal tentang Seirin membuatnya jijik. Orang-orang yang selalu bergantung kepada yang lainnya.
"Aku tidak peduli, dibenci atau tidak bukan urusanmu. Kita tidak sedekat itu untuk saling membicarakan hal pribadi." Ketus dan tajam, seharusnya Kiyoshi tahu bahwa Hanamiya tidak suka seseorang mengungkit soal cara hidupnya. Masing-masing orang memiliki standar, dan mereka berdua jelas berdiri pada pijakan yang berlawanan.
Kiyoshi tertawa, mengusap rambut Hanamiya pelan yang tentu saja langsung ditepis dengan keras oleh si pemilik.
"Oh? Aku baru tahu rambutmu benar-benar lembut. Tiap kali kau berlari, rambutmu tidak pernah kusut, hebat!"
Hah?
Hanamiya mendengus. Tiba-tiba membicarakan kehidupannya, tiba-tiba membahas rambut. Memangnya dia sebegitu tidak ada kerjaannya kah sampai harus mengikuti musuhnya sendiri?
"Aku tidak butuh pujianmu." Benar. Hanamiya memang menyukai rambutnya, merawatnya dengan sepenuh hati. Seandainya ia sudah lulus, mungkin ia akan memanjangkan rambutnya.
"Hanamiya jangan galak-galak dong, senyumlah sedikit, kau pasti manis saat melakukannya."
Bullshit. Manusia sehat mana yang mengatakan Hanamiya manis? Daripada pujian, Hanamiya malah merasa itu seperti ejekan tak langsung, membuatnya reflek mengeratkan genggaman tangannya.
"Aku pergi." Hanamiya mengeratkan jaketnya. Udara terasa semakin dingin, bibirnya benar-benar kering. Ia bahkan berkali-kali menjilat bibirnya sendiri hanya untuk membuatnya lembab.
"Tunggu." Kiyoshi kembali menggenggam pergelangan tangan Hanamiya, membuatnya terbelalak dan reflek menyentaknya.
"Lepaskan aku!"
"Hanamiya kedinginan."
"Bukan urusanmu, idiot!"
Kiyoshi tak mendengarnya dan tetap memegangi pergelangan tangan Hanamiya. Ia tak mengerti, kenapa Kiyoshi melakukan itu? Sejak pertemuan tak sengaja mereka di halte kala itu, sikap Kiyoshi berubah kepadanya. Bukan berarti sebelumnya ia kasar, hanya saja seperti halnya orang lain. Tak ada yang mau repot-repot mendekatinya karena reputasi buruk Hanamiya.
Lalu, kenapa Kiyoshi melakukannya?
OooO
A/N: Sorry telat update mulu, kuliah daring benar-benar melelahkan. Ngadep layar terus-terusan lebih bikin lelah daripada jalan masuk ke kelas. Huhu, semoga corona segera berakhir.
