Hanamiya lupa, sejak kapan ia menyukai bermain basket. Ia juga lupa, bagaimana girangnya ia ketika berhasil memasukkan bola oranye itu ke dalam ring. Kesenangan yang mampu membuat tubuhnya bergetar dan kulitnya terasa panas telah sirna, entah sejak kapan. Sekarang, yang ia rasakan hanyalah kepuasan ketika ia berhasil memutus asa sang lawan. Membuat orang lain cedera dan menatapnya dalam pandangan putus asa. Ia telah berubah, menjadi penyihir jahat yang menggagalkan impian orang-orang.

Hanamiya tidak mengerti kenapa ia berubah. Yang jelas, ia jijik melihat orang-orang saling bergantung satu sama lain. Ia tidak suka melihat orang lain berdiri tanpa kemampuannya sendiri. Memanfaatkan orang lain dengan dalih kerja sama tim. Bullshit, tidak ada yang namanya kerja sama tim jika yang berkorban banyak hanyalah satu orang.

Lalu ia melihat permainan orang itu. Seorang pemuda tinggi besar dan selalu tersenyum bodoh. Permainannya bagus, sangat bagus malahan. Kemampuannya luar biasa, dan sama sepertinya, dia adalah generasi yang tertutup bayang-bayang Kiseki no Sedai.

Tak seperti yang lainnya, dia selalu saja tersenyum, mengorbankan dirinya untuk keselamatan anggota tim, menjadi tameng untuk timnya, dan semua itu ia namakan kerja sama tim. Hanamiya ingin sekali meninju wajahnya, mengatakan padanya bahwa dirinya hanyalah berkorban. Tidak ada kerja sama tim di mana satu orang yang berkorban sementara yang lain hanya meneriakkan semangat. Tapi dia tetap menganggapnya sebuah 'Kerja sama'.

Hanamiya berpikir lama, mencaritahu bagaimana hal seperti itu masih bisa disebut kerja sama, dan ia tak pernah menemukan jawabannya. Yang ia tahu, kerja sama adalah dimana semua orang melakukan sesuatu, bukannya melimpahkan tanggung jawab pada satu orang sementara yang lain hanya bertepuk tangan memberi semangat. Tidak, itu sama saja dengan memperalat seseorang. Hanamiya tidak bisa ditipu. Ia adalah manusia yang selalu bergantung pada dirinya sendiri, karena itulah dia tahu bagaimana kerja sama yang sebenarnya. Kerja sama yang ideal, yang tidak membebankan sesuatu kepada satu pihak.

Kiyoshi Teppei. Hanamiya bertanya-tanya sampai kapan pemuda itu akan bertahan dengan idealismenya dalam sebuah kerja sama. Sampai kapan dia akan tahan terus-terusan menjadi tameng kawan-kawannya. Hanamiya kira tak akan lama, tapi ia salah. Dia bertahan jauh lebih lama dari apa yang Hanamiya pikiran, dan lebih dari itu, dia bahkan melakukannya dengan senang hati, bebas dan tanpa beban.

Hanamiya tak bisa melepaskan pandangannya dari Kiyoshi setelahnya. Hari-hari terus berlalu dan ia semakin kesal melihat Kiyoshi bertingkah. Ia ingin sekali meneriaki Kiyoshi dan kebodohannya, tapi nyatanya tak ia lakukan. Yang Hanamiya lakukan hanya diam, melihat, lalu kesal dengan dirinya sendiri.

Hingga ide ekstrem itu muncul di kepalanya. Jika kawan setim Kiyoshi selalu memperalatnya sebagai tameng karena ia kuat, bagaimana jika Kiyoshi melemah dan tak mampu lagi melindungi yang lain?

Gila. Hanamiya menyadari dirinya terlalu gila untuk ide itu. Tapi Hanamiya juga memiliki idealismenya sendiri. Ia memiliki keyakinan sendiri, dan inilah saatnya ia menunjukkan keyakinannya itu.

Cidera yang diderita Kiyoshi karena perbuatannya bukan tanpa alasan. Hanamiya ingin menunjukkan, bahwa kebaikan hati Kiyoshi tak selalu berguna di segala situasi. Setelah semua ini, wajah asli kawan-kawannya akan terlihat. Kiyoshi tak perlu lagi melindungi mereka, dan mereka harus bergantung pada dirinya sendiri.

Ya, harusnya memang seperti itu.

Tapi semuanya tak sesuai dengan perkiraan Hanamiya. Kiyoshi menghilang selama setahun penuh—yang Hanamiya yakini tengah melakukan rehabilitasi untuk kakinya. Kawan-kawan setimnya benar-benar payah tanpa Kiyoshi, mereka tak bisa apa-apa.

Lalu ketika Kiyoshi datang, semuanya kembali lagi seperti dulu. Ia yang selalu mengorbankan diri untuk melindungi, dan orang lain yang menggunakannya sebagai tameng.


"Hanamiya? Oi?"

Hanamiya mengedip bingung. "Hm? Apa?"

"Kau melamun, apa ada masalah?"

Hanamiya mendecih, ia lupa orang yang tengah ia pikirkan ada di sampingnya, masih memegangi pergelangan tangannya.

"Masalahnya adalah kau yang mengikutiku terus, lepas!"

Kiyoshi sekali lagi tersenyum bodoh. Hanamiya benar-benar kesal. Ia maju dan menarik paksa pergelangan tangannya. Kiyoshi lebih tinggi darinya, ia menarik bahu Kiyoshi hingga pemuda itu merendahkan wajahnya, dan tanpa mengatakan apapun Hanamiya meremas kedua pipi Kiyoshi dengan seluruh emosi yang terkumpul di hatinya.

"Ha-Hanamiya apwah yang kau lwakugan…?"

Seolah menyadari apa yang tengah ia lakukan, Hanamiya menarik dirinya dan segera pergi. Kiyoshi, lagi-lagi mengejarnya. Beruang satu itu tidak pernah bosan mengintilinya bahkan meski Hanamiya sudah berulang kali melontarkan sumpah serapah dan cacian menyakitkan.

"Hanamiya, kau ada masalah ya?"

Masalahnya itu KAU!

Ingin sekali Hanamiya berteriak seperti itu di hadapan wajah Hanamiya. Tapi lagi-lagi ia hanya menahannya dalam hati. Kiyoshi akan semakin penasaran dan kembali merecokinya lagi dan lagi. Hanamiya ingin menghindarinya, ia ingin sekali pergi. Tapi kebetulan memang selalu menjadi musuh abadinya. Setelah hari itu, mereka selalu dan selalu saja bertemu.

Hanamiya menghela napas, ia berbalik dan menatap kedua bola mata Kiyoshi lekat-lekat. "Kiyoshi, sebenarnya…."

"Hm?"

Hanamiya menggigit bibir bawahnya, yang tentu saja disadari Kiyoshi. Sejak Kiyoshi melihat Hanamiya menangis usai kekalahannya di penyisihan Winter Cup beberapa waktu lalu, Kiyoshi tergerak untuk mencari tahu. Ia sendiri tidak mengerti tujuan sebenarnya apa, yang jelas Kiyoshi ingin tahu. Dia sadar, ada sisi lain dari diri Hanamiya yang tertutup bayang-bayang sosok bad boy nya.

Hanamiya menggeleng. "Tidak ada, sudahlah aku pulang."

"Tunggu dulu." Kiyoshi menahan pergelangan tangan Hanamiya, membuat pemuda yang lebih kecil darinya berhenti dengan wajah masam. Yah, Kiyoshi sadar sebenarnya yang ia lakukan agak menyebalkan, tapi ia tak bisa mengabaikan begitu saja dan pura-pura tidak pernah melihat bahwa Hanamiya menangis waktu itu.

"Kau ini—"

"Hanamiya, biasakan untuk mengatakan sesuatu secara jelas."

"Memangnya penting? Aku mengatakan sesuatu atau tidak adalah hakku. Kau mengatakan hal seperti itu tak lebih hanya karena ingin tahu."

Kiyoshi mengangguk. "Benar, memangnya apa tujuan orang lain bertanya jika bukan karena ingin tahu? Tapi aku akan membantumu jika diperlukan."

Hanamiya melambaikan sebelah tangannya, gestur yang menunjukkan bahwa ia tidak butuh bantuan apapun. "Sudah, aku pulang."

"Oke, aku antar!"

Hanamiya menggeram marah. "Kau gila ya? Kenapa kau selalu mengikutiku hah? Urus urusanmu sendiri dan berhenti bersikap seolah-olah kita saling kenal!"

"Eh? Tapi kita memang saling kenal 'kan, Hanamiya?"

Hanamiya meremat ujung jaketnya, ia benar-benar tidak tahan dengan keberadaan Kiyoshi. Ia ingin sekali mengatakan apa yang sebenarnya ia pendam sejak lama mengenainya, tapi ia merasa itu tidak perlu. Tahun demi tahun berlalu dan Kiyoshi tetap seperti itu. Bahkan meski Hanamiya telah membuat kakinya cidera. Itu tandanya, Kiyoshi tak akan pernah berubah. Idealismenya yang benar-benar bertentangan dengan Hanamiya. Hanamiya perlahan sadar, tidak ada satu pun dari mereka berdua yang bisa dicocokkan, dengan kata lain mereka berdua memang tidak seharusnya berjalan beriringan.

"Lihat! Siapa yang ada di hadapanmu! Lihatlah, aku Hanamiya Makoto, orang yang telah menghancurkan lututmu, ingat itu dan tetap bencilah aku seperti sebelumnya."

"Tapi aku sama sekali tidak—"

Kiyoshi menghela napas. lagi-lagi Hanamiya berlari pergi meninggalkan beragam pertanyaan yang bercokol di kepalanya. Ia selalu dan selalu menegaskan dirinya sebagai penyebab cidera Kiyoshi, menyalahkan dirinya sendiri seolah-olah memang ia yang melakukannya. Tapi Kiyoshi masih tak menerima itu. Katakan saja dia gila, tapi Hanamiya tak pernah benar-benar menyentuhnya. Setidaknya, itulah yang ia percayai bahwa insiden kala itu bukan murni hanya untuk mencelakainya.

"Kau selalu saja tidak jujur, Hanamiya. Benar-benar berbanding terbalik dengan makna namamu."

OooO


A/N: double update nih biar nggak lupa-lupa.