Kiyoshi tidak punya pilihan lain selain mengejar Hanamiya. Oh tentu saja ke rumahnya. Meski identitas si bocah nakal itu terkesan misterius, bukan hal yang sulit bagi Kiyoshi untuk menemukan di mana si bocah nakal itu tinggal. Meski terkesan abai dan selalu tersenyum bodoh, pikiran Kiyoshi itu tak bisa dibodohi. Ia tahu apa yang harus ia lakukan, termasuk dalam kasus ini, dirinya dan Hanamiya yang hingga saat ini masih saja bermasalah.
Berbeda dengan Kiseki no Sedai yang dulunya adalah rekan, Mukan no Gosho sejak awal adalah rival. Dan hingga waktu terus berlalu pun, hubungan kelimanya tak pernah baik. Mereka semua memiliki harga diri yang tinggi. Memliki determinasi untuk selalu menjadi yang terhebat. Meski begitu sampai sekarang Kiyoshi masih tidak paham mengapa ia termasuk dalam kumpulan Mukan no Gosho. Ia tidak memiliki aura intimidatif seperti keempatnya, ia tak memiliki determinasi untuk menjadi sosok nomor satu. Baginya, bermain dengan bahagia bersama teman-temannya adalah yang utama. Dan bukankah Hanamiya juga memiliki tujuannya sendiri selain menjadi yang nomor satu? Ia juga sama-sama tak pernah mempedulikan gelar apapun. Bahkan meski kemampuannya juga sama-sama disandingkan dengan Kiseki no Sedai. Keduanya sama, memiliki tujuan sendiri dalam bermain basket.
Kiyoshi menghela napas, mengusap wajahnya kasar. "Astaga, apa yang ku lakukan sebenarnya?" gumamnya pelan sembari berlari.
Kiyoshi benar-benar menyusul Hanamiya ke rumahnya. Pemuda eboni itu tinggal di salah satu apartemen yang cukup mewah berdua dengan Ibunya. Kiyoshi tidak mengulik lebih dalam soal keluarga Hanamiya karena itu tidak sopan. Ibunya seorang pekerja kantoran yang sering pergi ke luar negeri. Pokoknya Hanamiya lebih sering sendirian di tempat tinggalnya. Itu juga alasan mengapa kapten Kirisaki Daiichi itu lebih sering menghabiskan waktunya di klub basket. Lagipula, ia adalah kapten dan pelatihnya, tidak akan ada yang membantah titahnya di klub. Kiyoshi tersenyum miris, ia jadi teringat dengan mantan kapten Kiseki no Sedai.
Kiyoshi menekan bel apatemen itu dan hanya selang beberapa detik hingga Hanamiya membukanya. Kedua bola mata pemuda itu melebar dan nyaris secara instan hendak menutup pintu. Beruntung, Kiyoshi adalah manusia dengan reflek cepat. Ia langsung menahan daun pintu dengan kakinya dan mencekal pergelangan tangan Hanamiya yang berusaha menekan pintu.
"Lepaskan! Untuk apa kau kemari, HAH?"
"Kita harus bicara, Hanamiya."
Hanamiya mengernyit. "Kau gila atau apa? Sejak kapan kita punya urusan untuk saling bicara?"
"Setidaknya sekarang ada."
"Kau gila."
Kiyoshi meringis, dengan peluh menetes di pelipisnya. Ngomong-ngomong, betisnya terasa ngilu karena Hanamiya terus menekan daun pintu sekuat tenaga.
"Ugh, Hanamiya, berdamailah sebentar denganku dan ayo bicara. Okay?"
"Tidak."
Seharusnya Kiyoshi tahu jika Hanamiya bukanlah jenis orang yang dengan gampang dibujuk, apalagi olehnya yang selalu dianggap musuh oleh Hanamiya. Mana mungkin Hanamiya akan menyetujuinya begitu saja. Tak kehabisan akal, tangan kiri Kiyoshi menggenggam tangan Hanamiya yang bebas dan menariknya dengan paksa, membuat dua pemuda SMA itu terjatuh dengan saling menindih.
Kiyoshi merasakan punggung dan betisnya yang nyeri, apalagi dengan tambahan beban tubuh Hanamiya di dadanya.
Hanamiya merengut, menjambak surai coklat madu Kiyoshi. "Kau! Dasar beruang gila! Berani-beraninya kau menarikku!" serunya marah.
Kiyoshi tertawa hambar, berusaha menahan pergerakan jari-jari Hanamiya yang terus menarik-narik rambutnya, karena astaga tarikan Hanamiya sakit sekali. Tapi Kiyoshi mungkin titisan malaikat sejati. Dia hanya bisa menahan dengan cengiran aneh dan tatapan nanar sembari berusaha menahan pergerakan Hanamiya tanpa balas menyakitinya.
"Maaf, maaf. Aku tidak bisa memintamu secara baik-baik. Jadi yah…."
"Apa hah? Tidak sopan dengan menarikku secara paksa? Di mana tata kramamu Seirin!"
Kiyoshi hanya tertawa hambar, membiarkan Hanamiya memuaskan diri dengan melampiaskan rasa kesalnya kepada Kiyoshi. Mungkin ini akan sepadan mengingat Kiyoshi memang akhir-akhir ini secara paksa terus menempeli Hanamiya. Mau bagaimana lagi, ia sudah terlanjur penasaran soalnya.
Tak lama, dan Hanamiya melepaskan jambakannya. Ia berpegangan pada dada Kiyoshi untuk mengatur keseimbangannya dan segera bangun. Raut wajahnya kembali datar—sangat datar malahan. Mendengus pelan dan hendak kembali masuk ke rumahnya, Kiyoshi tak kalah cepat. Refleknya bagus dan ia kembali menahan pergelangan tangan Hanamiya, membuat pemuda yang akrab dengan raut wajah bengis itu semakin menunjukkan raut bengisnya.
"Hanamiya?"
Kiyoshi mendengar helaan napas pelan dari pemuda yang berdiri membelakanginya.
"Kau mau bicara? Oke, kita bicara. Tapi setelah itu, jangan pernah menggangguku."
Kedua bola mata Kiyoshi berbinar cerah. "Yah… baiklah—aku tidak janji sih." Kalimat terakhir hanya diucapkan dalam hati tentunya. Hanamiya tidak akan segan-segan untuk langsung menarik perkataannya andai ia mendengar apa yang dikatakan oleh Kiyoshi.
Hanamiya berjalan lebih dahulu, meninggalkan Kiyoshi yang masih berdiri diam di belakangnya sembari menatap punggung Hanamiya yang terus menjauh.
"Kenapa diam saja? Jadi bicara atau tidak?" seru Hanamiya kesal.
"Eh? Oh! Tentu!"
Hanamiya berjalan dan mengajak Kiyoshi ke sebuah taman di area apartemennya. Taman itu sangat sepi, padahal menurut Kiyoshi cukup indah dan nyaman untuk tempat bersantai.
Hanamiya duduk sembari menyilangkan kaki pada salah satu kursi taman. Sedari tadi alisnya terus-terusan menukik tajam dan memandang Kiyoshi dengan aura super gelap. Jelas, Kiyoshi paham bahwa situasi ini tidak diinginkan oleh Hanamiya.
"Apa yang mau kau bicarakan?"
Diam-diam, Kiyoshi menghela napas. Astaga, bisa-bisanya dia gugup hanya karena Hanamiya. Bisa duduk berdampingan seperti ini dengan Hanamiya sama sekali tak pernah dibayangkan oleh Kiyoshi.
"Ano, sebelumnya aku mau bertanya padamu. Waktu itu, saat kita bertemu di belakang gedung usai pertandingan, kau…. Menangis?"
Kiyoshi bersumpah ia melihat raut terkejut di wajah Hanamiya meski terasa samar. Kedua bola matanya melebar sebentar, juga kedua belah bibirnya yang sedikit terbuka.
"Idiot, mana mungkin 'kan?"
Tapi wajah Hanamiya tak menunjukkan ekspresi yang seharusnya. Meski kalimatnya kasar, intonasinya benar-benar lemah. Seolah bukan Hanamiya yang ia tahu yang sedang berbicara.
"Aku melihatmu." Kiyoshi menghela napas. "Aku tidak langsung menemuimu waktu itu, aku sudah ada di sana cukup lama. Um… setidaknya cukup untuk aku tahu kalau kau benar-benar menangis."
Hanamiya meremat ujung pakaiannya. "Aku baru tahu kau suka menguntit." Sindirnya tajam.
"Tidak, sebelumnya tidak. Tapi karena yang ku lihat adalah kau, aku tidak bisa begitu saja pergi dan berpura-pura tidak melihat apapun."
Hanamiya terkekeh. "Lalu? Kau ingin menyebarkannya? Menceritakan soal itu kepada teman-teman Seirinmu?"
Kiyoshi menggeleng cepat. "Mana mungkin!"
"Lalu untuk apa? Aku tahu kau tidak akan menanyakan hal ini jika tidak ada maksud apapun. Katakan, apa yang sebenarnya kau inginkan dariku?"
Kiyoshi menggaruk surai coklat madu miliknya. "Ano, aku tidak berniat meminta apapun sih sebenarnya. Jadi benar 'kan waktu itu kau menangis? Rasanya sampai sekarang aku masih tidak percaya kalau yang menangis adalah kau, Hanamiya!" Kiyoshi menepuk-nepuk puncak kepala Hanamiya. "Aku tahu, kau tetap memiliki sisi rapuhmu sendiri."
Hanamiya tidak mengerti mengapa Kiyoshi mengatakan hal itu, ia juga tidak tahu mengapa dirinya sendiri harus terdiam tanpa mampu menjawab sebagaimana dirinya yang biasa. Yang Hanamiya yakini, ada rasa cubitan kecil di dadanya. Seolah kalimat Kiyoshi telah menyentuh sisi terlarang dalam dirinya secara tidak langsung.
Bodoh, iya 'kan?
OooO
A/N: Aku langsung up 3 chapter.
