Haikyuu belong tu Furudate Haruichi
Pair ini dan fic ini punya saya.
Tsukishima x Nishinoya
Segala bentuk typo dan kawan-kawannya harap dimaklumi. Saya frustasi pengen publish. Itua aja. Ha ha ha
Happy Ready ~
Apa yang membuat Nishinoya bersikeras menjauhi Tsukishima?
Jawabannya hanya satu ...
.
.
.
Gejala 'sakit' ini muncul setelah masa sekolahnya di Karasuno tinggal satu tahun. Nishinoya mendapat banyak apresiasi dari junior tahun pertama dan para gadis yang mulai menaruh perhatian. Impiannya untuk menjadi senpai yang populer pun terwujud. Tapi sayang ... ia mulai 'sakit' sejak saat itu.
"Nn ... Noya san, apa kau baik-baik saja? Kita ke ruang kesehatan ya?" Tanaka membimbing kawan seperjuangannya untuk mendapatkan hati Kiyoko sang bidadari sekolah yang tahun ini sudah menjadi alumni, membimbing langkah Nishinoya ke ruang kesehatan.
Mereka baru kembali dari kantin dan hendak menuju toilet, lalu si jangkung kelas dua berlalu sambil mengucapkan kata-kata sarkasmenya. Sepeninggal juniornya itu Nishinoya mulai sesak napas. Ia tersengal-sengal dan berkeringat dingin.
"Kau punya riwayat asma?" tanya perawat sekolah pada Nishinoya
"Tidak sensei," jawab Tanaka dengan lantang.
'bletak'
Sebuah map mendarat mulus di kepala Tanaka. "Aku bertanya padanya. Bukan padamu. Jangan jawab dengan yakin begitu."
Nishinoya tampak tidak menggubris keributan yang terjadi di sebelahnya. Sorot matanya kosong dan tangannya menggenggam selimut hingga urat-uratnya terlihat.
"Aku sudah baikan. Terimakasih sensei."
Nishinoya bangkit dari tempat ia berbaring sejenak tadi. Tanaka dan perawat sekolah berhenti berdebat.
"Ah baiklah. Kalau ada apa-apa kau bisa datang lagi untuk istirahat."
Sang perawat melambai tanpa balasan. Nishinoya tidak bicara sepatah kata sepanjang jalannya menuju ke kelas. Sampai di kelas ia hanya duduk dan meletakkan kepala di atas meja sambil terus menerus menghela napas.
Tanaka yang menyadari situasi menjadi tidak nyaman memilih untuk kembali ke bangkunya. Ia berpikir untuk tidak menanyakan apapun pada Nishinoya saat ini.
Gejala berikutnya adalah saat seperti ini. Dimana ada hanya Nishinoya fan Tsukishima. Ia sadar bahwa sebab dari 'sakit' ini adalah juniornya yang tingginya hampir dua meter. Berbanding terbalik dengan Nishinoya. Karenanya ia mati-matian menghindari sosok Tsukishima. Ia tidak mau merasa 'sakit' setiap saat.
"Haha, tidak sia-sia aku menunggu semua murid keluar dari kelamu. Mencicit seperti tikus eh?"
Tsukishima menutup satu-satunya akses keluar dari kelas. Setelah semua pulang dan hanya ada mereka berdua di dalam kelas, 'sakit' itu kambuh. Tsukishima cukup keras kepala kali ini. Menutup dan mengunci pintu. Tidak ingin ada yang menggangu.
Nishinoya panik, kalau saja ia cukup berani untuk melompat dari jendela akan ia lakukan. Sayang tidak, tidak untuk saat ini.
"Ada apa senpai? Ketakutan seperti itu eh?"
Perlahan, Tsukishima semakin mendekat. Nishinoya mencari tempat untuk menjaga jarak dengan sang junior yang sorot matanya tampak begitu mengerikan saat ini.
Untuk seseorang yang penuh energi dan menjadi sumber positif bagi semua orang, adalah hal yang tidak wajar begitu mudahnya diserang panik dan ketakutan. Wajahnya memerah, detak jantungnya tidak karuan, tubuhnya gemetar.
"Jangan mendekat!!" seru Nishinoya dengan lantang. "Kubilang jangan mendekat!!" Nishinoya mengulang seruannya. Ia berharap ada sosok di koridor sekolah yang kebetulan lewat dan menyelamatkannya dari situasi ini.
"Kenapa senpai? Aku tidak melakukan apa-apa? Lihat, tidak ada apa-apa di tanganku." Tsukishima mengangkat kedua telapak tangannya. Senyumnya justru semakin terkembang saat melihat Nishinoya semakin tersudut.
Semakin ia mendekat semakin nyalang mata Nishinoya mencari celah untuk keluar.
'set'
Nishinoya merasa prediksinya tepat, dengan gesit ia melewati sosok Tsukishima dengan sedikit menunduk. Memanfaatkan postur tubuhnya yang kecil. Namun, sia-sia. Tsukishima bisa menebak gerakan itu. Cukup dengan mencekal satu tangan Nishinoya, pemuda itu tidak lagi bisa bergerak kemana-mana.
"Jangan lari ...," kata Tsukishima lirih. Tapi Nishinoya masih memberontak untuk melepaskan diri.
"KUBILANG JANGAN LARI LAGI YU!!"
Bentakan itu sukses membuat Nishinoya terpaku. Ketakutannya semakin menjadi-jadi. Dalam satu tarikan Tsukishima mengungkung seniornya diantara dinding dan dirinya. Mengunci tubuh mungil itu agar tidak kemana-mana.
"Tsukishima ... "
"Maaf-"
Hening, kepala Tsukishima menunduk begitu dalam sampai Nishinoya tidak dapat melihat mata di balik kacamatanya. Ucapan maaf dari sang junior membuatnya membungkam mulut dari apa yang ingin ia katakan. 'Sakit'nya berangsur hilang. Nishinoya menarik dan menghela napas perlahan dan berulang. Itu berhasil meredakan panik.
"Maaf juga, Tsukishima. Aku ... sangat tidak bertanggung jawab."
Tsukishima mendongakkan kepalanya, tersenyum miris sambil menatap wajah seniornya. "Huh? Sudah berani menatapku sekarang? Untuk apa kau menghindariku selama ini? Malu atau ... ah~ senpai membenciku bukan? Setelah aku bilang-"
"Cukup!! Apa yang kau katakan di depak umum waktu itu memang sangat memalukan sampai aku ingin mati rasanya. Tapi ada yang membuatku lebih malu lagi ... yaitu jawaban yang harus aku berikan."
"Apa?" Tsukishima membungkukkam padannya, membuat wajahnya sejajar dengan sang senior. Begitu dekat jarak kedua wajah mereka sampai napas Nishinoya yang masih sedikit tersengal itu bisa ia rasakan.
"Aku ingin menjawabnya, tapi setiap kali aku membuka mulut rasanya gugup. Sejak saat itu setiap kali aku melihatmu atau bertemu denganmu tubuhku terasa tidak nyaman. Jantungku berdetak begitu cepat ... "
"Jawabannya?"
"Aku merasa sakit. Seperti orang demam tapi sesaat kemudian aku baik-baik saja ... "
"Lalu jawabannya, senpai?"
"Jawaban?"
Sengaja, Tsukishima mendengus dan menghantarkan hangat napasnya ke wajag Nishinoya.
"Oh- umm jawabannya y-ya!!"
'cup'
Tsukishima tidak butuk kata yang lain. Setelahnya ia cukup membungkap omong kosong Nishinoya dengan ciuman. Menahannya dalam posisi tersebut dengan menahan diri untuk tidak memagut cukup berat bagi Tsukishima, tapi dalam sepuluh detik kecupan saja sang senior tak sadarkan diri.
"Well, aku merasa begitu dicintai. Bagaimana kalau malam ini menginap di kamarku senpai?"
Nishinoya tidak bisa menjawab, Tsukishima tidak butuh jawaban. Ia cukup menggendong kekasihnya dan mengejutkannya saat ia terbangun nanti.
Tamat
