Menguping

Malam itu Bakugo Katsuki tidak menyangka akan kedatangan tamu. Dibukanya pintu dengan ogah-ogahan lantaran si tamu tak diundang itu terus-menerus menggedor pintu kamarnya. Walaupun ia sudah melemparkan tatapan judes setajam silet, rupanya itu tidak mempengaruhi si tamu tak diundang. Tanpa permisi si tamu tak diundang itu melangkahkan kaki ke kamarnya.

"JANGAN MASUK KE KAMAR ORANG SEMBARANGAN!" masih diambang pintu, Bakugo berteriak keras tidak peduli jika waktu sudah menunjukan pukul 9 malam.

"APA YANG KAU LAKUKAN SIALAN?" kembali teriakan dilontarkan untuk si tamu tak diundang. Todoroki Shouto. Pria dengan quirk api dan es itu seolah tidak peduli dengan teriakan Bakugo yang mungkin dapat membuat ibu hamil langsung melahirkan saking kagetnya –oke lupakan.

Todoroki tidak peduli, ia duduk di pinggir kasur Bakugo yang tentunya membuat si empunya kasur ingin meledakannya sekarang juga. "Aku lapar," ucapnya polos sepolos pantat bayi yang baru lahir.

"HAH? AKU BUKAN IBUMU, BODOH!"

"Tapi kau calon ibu dari anak-anakku." tanpa malu Todoroki menjawab pernyataan Bakugo, yang tentu saja membuat si bocah meledak makin emosi.

Ibu dari anak-anak apanya?! Memangnya ini fanfic omegaverse?

"AKU LAKI-LAKI DAN TIDAK BISA HAMIL, BODOH!" urat-urat nadi sepertinya sangat senang menyembul dari kulit-kulit mulus Bakugo. Terimakasih untuk gen yang diturunkan dari ibunya, ia memiliki kulit yang sangat mulus dan halus bahkan tanpa perawatan yang membuat banyak perempuan iri padanya.

"Katsuki, makan…" tidak peduli dengan kekesalan Bakugo, Todoroki justru kembali meminta Bakugo untuk memasakan makanan untuknya. Wajahnya yang polos dan puppy eyes itu benar-benar membuat Bakugo kehilangan akal sehat. Bagaimana bisa kekasihnya itu sangat menggemaskan? Bakugo tidak habis pikir, ingin sekali rasanya Ia menghujani si half-half itu dengan ciuman bertubi-tubi di wajahnya, tapi Ia tahan. Mau ditaruh di mana mukanya kalau Ia yang lebih dulu menunjukan afeksi? Dasar tsundere.

"Dammit! Tunggu di sini," jawabnnya masih dengan umpatan, namun tidak ada teriakan lagi. Ia berbalik, menutup pintu kamarnya kemudian berlalu ke lantai 1 tempat dapur bersama milik asrama mereka.

Bakugo merasa sangat beruntung pasalnya tidak terlihat siapapun di lantai 1 yang artinya ia bisa menggunakan dapur dengan bebas tanpa adanya komentar-komentar nista dari teman-teman sekelasnya. Sepertinya semua memilih untuk beristirahat sebelum besok dikejutkan lagi dengan pelajaran yang selalu unbelieveable. Baru saja Bakugo memotong sayuran, suara-suara ribut terdengar dari tangga. Holy sh*t. Umpatnya dalam hati. Urat-urat nadinya seperti sudah bersiap-siap untuk disummon.

"Ohh, kau masak apa? Buatkan aku juga!" Kirishima, bocah keras itu menghampirinya dengan wajah penasaran.

"Aku ragu dia sedang memasak makanan," komentar Sero yang juga datang berbarengan dengan Kirishima.

"Apa penggorengannya tidak akan meledak?" kali ini Kaminari ikut berkomentar atau lebih tepatnya bertanya dengan nada mengejek.

Bakugo seolah tidak terganggu, ia fokus memotong sayuran padahal urat-urat nadinya sudah keluar sejak tadi, quirknya sudah meronta meminta untuk digunakan, dan suaranya sangat siap untuk dikeluarkan dengan oktaf tertinggi sekalipun. Bakugo siap untuk marah. Sangat siap, namun ditahannya, ia tidak ingin ada adegan berdarah di asrama, sekarang ia tengah memegang pisau yang ia yakin sudah sangat panas karena quirknya.

"Ohh Bakugo sedang masak! Teman-teman kemari!" muncul lagi satu orang yang berisik di sana, Ashido Mina.

"Bagaimana kau bisa memotong serapi ini?" Kini Yaoyorozu Momo pun ikut bertanya dengan kalimat yang menunjukan kekagumannya.

"Bakugo akan menjadi ibu rumah tangga yang baik," komentar Jiro.

"Ini dia si mister perfeksionis," Sero ikut menimpali dengan kagum melihat betapa rapinya potongan sayur Bakugo sudah seperti chef asli. Ia jadi bertanya-tanya sebenarnya apa yang tidak bisa dilakukan Bakugo? Laki-laki itu hampir mendekati sempurna, pintar, quirk yang luar biasa, kulit mulus, tampan dan jago urusan dapur atau urusan ranjang? Seperti kata pepatah tidak ada manusia yang sempurna, Bakugo banyak kelebihannya, tapi sayang kepribadiannya buruk.

"Hei, sebaiknya kalian juga belajar memasak dari Bakugo," Kaminari memberi nasihat pada calon ibu-ibu di ruangan itu yang diangguki setuju oleh para calon bapak-bapak.

"Tidak, lebih baik menikah dengan Bakugo masalah perut pasti terjamin. Bakugo menikahlah dengan ku!"

"PERGI KALIAN MANUSIA-MANUSIA SIALAN!" Ups. Urat kesabaran Bakugo sudah putus.

-oo-

Setelah terusir dengan tidak bersahabat oleh Bakugo, manusia-manusia pengganggu itu berkumpul di ruang tengah. Membicarakan hal-hal konyol seperti apakah Pak Eraser Head pernah menatap cermin lalu tidak sengaja terkena quirknya sendiri? Atau seperti apa penampilan guru dengan suara keras mereka jika rambutnya direbonding lurus ke bawah? Dan jangan lupakan Kaminari yang menjadi colokan listrik dadakan untuk mengisi daya di handphone Jiro. Keadaan menjadi hening ketika Bakugo melintas di ruang tengah kemudian menghilang dibalik lift.

"Apa kalian tidak penasaran Bakugo masak untuk siapa?" Kirishima membuka suara untuk pertama kali setelah mereka terdiam cukup lama.

"Tentu untuk dirinya sendiri." Uraraka menjawab setengah tidak yakin, karena ia sendiri juga melihat Bakugo sudah makan malam.

"Tidak, tidak, dia sudah makan dengan kami tadi." Sero melemparkan fakta yang menguatkan pertanyaan Kirishima.

"Mungkin dia lapar lagi?" Yaoyorozu ikut menimpali. Kembali hening, semuanya mengerutkan alis bingung dan penasaran. Bakugo tidak terlihat seperti laki-laki berperut karung yang doyan makan. Tidak mungkin kan dia sedang ngidam?

"Dia pasti memasak untuk seseorang!" Kaminari bangkit, menoleh pada Jiro berharap perempuan itu mengerti maksudnya.

"Baiklah! Ayo kita intai dia dengan quirk ku!" Oh, dia mengerti.

"Uwooooo! Ide bagus!" Sero, Kirishima, dan Ashido yang memang manusia perusuh tidak mengerti privasi dan suka mencampuri urusan orang bangkit dengan bersemangat. Mereka menyukai ide ini.

"Aku rasa ini bukan ide bagus mencampuri privasi orang lain," Yaoyorozu Momo, seorang putri yang lahir di keluarga elit, sangat mengerti sopan santun sehingga ragu dengan ide teman-temannya ini. Ya, terlihatlah perbedaan rakyat jelata dan tuan putri.

"Ayolah, sangat jarang kita mendapatkan kesempatan untuk mencari kelemahannya." Si Selotip berusaha mempengaruhi tuan putri kaya itu agar setuju dengan rencana mereka.

"Benar, apa kau tidak penasaran si bocah peledak itu sedang dekat dengan siapa?" sangat sahabat yang pengertian, Kirishima.

"Aku sangat penasaran!" Ashido Mina menjawab dengan semangat membara.

Tuan putri kaya menatap teman-temannya ragu kemudian menjawab, "Eng.. sedikit."

"Berarti sudah diputuskan! Let's goooooo!" Ashido memimpin ekspedisi itu lalu berlari kecil menuju lift.

-oo-

Bakugo memberikan semangkuk soba dingin kepada kekasih backstreetnya dengan wajah cuek. Hubungan mereka memang dirahasiakan atau lebih tepatnya Bakugo yang meminta seperti itu. Todoroki sebenarnya tidak masalah kalau ada yang tahu, malah dia akan senang kalau seluruh sekolah tahu Bakugo hanya miliknya. Namun, lain lagi dengan Bakugo dia sudah hapal kelakuan teman-temannya yang kekurangan akhlak. Mereka pasti dengan senang hati menggoda Bakugo sampai mampus.

"Arigato," ucap Todoroki senang. Melihat makanan favoritenya jelas membuat mata lelaki dengan dua jenis quirk itu berbinar terang seperti anak SD yang mendapatkan hadiah sepeda dari pak presiden. Cuma 1 mangkuk, tatapannya beralih pada laki-laki berambut spike di hadapannya.

"Apa kau lihat-lihat?!"

"Tidak, kau tidak makan?"

"Jangan sok perhatian, sialan! Aku sudah makan tadi," memang Bakugo itu tsundere. Dia memalingkan wajah dari tatapan Todoroki padahal sebenarnya wajahnya memerah karena senang dengan perhatian kekasihnya.

"Begitu? Aku makan ya, ittadakimasu."

"Hmm.. enak. Katsuki mau coba?"

"Tidak, aku sudah tahu makanan ku pasti enak," jawab Bakugo sombong.

"Katsuki sudah cocok menjadi istriku."

"Siapa juga yang mau menjadi istrimu, sialan?!"

"Jadi kau tidak mau menikah dengan ku?"

"B-bukan begitu, bodoh!" sialan, sialan, sialan. Todoroki sialan! Bisa-bisanya dia bertanya begitu? Apa pula mulut sialannya malah gagap menjawab pertanyaan Todoroki. Ia memalingkan wajahnya yang sudah pasti semerah kepiting rebus sekarang.

"So, Is It a yes?"

"Kau sedang melamar ku?"

"Latihan melamar sebelum melamar mu benaran. Jadi, bagaimana?" desak Todoroki ingin tahu jawaban Bakugo.

"Aku mau jadi suamimu."

Todoroki terdiam lalu wajahnya memerah tidak menyangka dengan jawaban kekasihnya. Bakugo yang melihatnya ikut memerah malu. Astaga percakapan memalukan apa ini? Rasanya Ia ingin mengubur diri dalam-dalam.

"Katsuki, can I kiss you?" dia hanya bertanya, nyatanya tanpa menunggu jawaban, Todoroki mencium laki-laki dihadapannya. Menyalurkan perasaannya dengan satu ciuman itu. Bukan sebuah ciuman yang menggebu atau penuh hasrat, hanya ciuman lembut yang hangat.

-oo-

Sementara itu, di luar pintu kamar Bakugo nampaklah manusia-manusia haus ghibahan yang sedang menjalankan misi –mari menguping kegiatan Bakugo— dengan Jiro sebagai tonggak utama perjuangan mereka.

"Hei hei apa yang kau dengar?" tanya Kaminari penasaran sambil berbisik, posisinya Ia sudah menempelkan telinga di daun pintu, namun belum juga cukup jelas untuk mendengar percakapan insan di balik pintu itu.

"Kenapa wajahmu merah begitu?" Momo yang awalnya ragu untuk menguping ikut penasaran setelah melihat ekspresi Jiro.

Tergagap, Jiro menjawab pertanyaan kedua temannya itu, "M-mereka… mereka..."

"Apa? Apa?" desak semua yang di sana kepada Jiro.

"Todoroki meminta Bakugo menjadi istrinya." Sebenarnya Ia ingin bilang Todoroki minta cium, tapi rasanya itu terlalu privasi. Ini Jiro dia masih punya hati untuk tidak membeberkan kehidupan asmara temannya.

"APAAA?!" Satu kalimat dari Jiro sukses membuat mereka berteriak dan melupakan fakta bahwa mereka sedang dalam misi menguping.

BRAAKKK

Pintu terbuka dengan kasar lalu memunculkan sosok Bakugo dengan wajah garangnya. "URUSAI!"

Bisa-bisanya mereka mengganggu waktu bermesraan Bakugo dengan kekasihnya. Sumpah demi celana dalam merah jambu spongebob Ia sangat ingin meledakan teman-temannya itu satu persatu.

Lain dengan Bakugo yang sudah memasang tampang garang dan siap membuat adegan berdarah di sana, teman-temannya masih bisa memasang tampang santuy boss, malah Kirishima dan Mina menyapanya seperti tidak berdosa. "Osu Bakugo!" gak ada tukads-tukadsnya memang mereka.

"Apa. Yang. Kalian. Lakukan. Di. Sini?" geram Bakugo.

"Kami sedang menguping hehe." Satu lagi jawaban polos tak berdosa dari Kaminari Denki.

"HAHHH?!" teriak Bakugo tidak habis pikir dengan kelakuan teman-temannya.

Seolah tidak peduli dengan kemarahan Bakugo yang tercetak jelas di wajahnya, Sero menambahkan "Selamat Bakugo masa depanmu sudah pasti menjadi istri orang."

"Tapi, apa mereka akan menikah secepat itu?" tanya Jiro skeptis, tidak mungkin mereka menikah saat masih duduk dibangku sekolah kan? Memangnya mau dua garis biru? Eh, tapi Bakugo juga tidak akan hamil.

"Sepertinya." Jawab Kaminari, asal.

"Ada yang lebih penting… KALIAN PACARAN?" tanya Uraraka kaget.

"Benar juga, sejak kapan?" Tsuyu dan Hagakure bertanya berbarengan.

"Iya kami pacaran sudah beberapa bulan, dan akan menikah setelah lulus sekolah." Kemunculan Todoroki dan jawabannya sangat tidak membantu Bakugo terlepas dari situasi ambigay itu. Lihatlah sekarang teman-teman mereka menunjukan ekspresi kaget dengan rahang yang seperti akan terlepas dari tempatnya. Sebenarnya tidak terlalu kaget juga karena mereka terlihat sangat dekat atau lebih tepatnya Todoroki yang tidak bisa mengontrol diri untuk menunjukan afeksinya pada Bakugo di depan umum.

"APA YANG KAU KATAKAN SIALAN?!" Bakugo melotot galak pada lelaki yang telah menjadi kekasih backstreetnya selama beberapa bulan itu.

"Tidak! Bakugo jadilah suamiku!" Mina rupanya belum menyerah menjadikan Bakugo suaminya atau mungkin tukang masak pribadinya?

"Dia akan jadi istriku." Kembali Todoroki, si manusia tidak tahu situasi itu menjawab dengan tenang. Entah, dia hanya ingin memanfaatkan situasi itu untuk mengumumkan bahwa Bakugo hanya miliknya dan selamanya hanya miliknya. Todoroki belum menyerah untuk menyematkan status calon istri pada Bakugo walaupun laki-laki itu sudah jelas ingin menjadi suami.

"SIAPA YANG AKAN JADI ISTRIMU HAHH?!"

BLAAARRR

Si blonde meledakan quirknya tepat di depan wajah Todoroki yang dengan lihai bisa dihindari olehnya. Keributan tidak berfaedah ditengah malam itu mau tidak mau mengganggu ketenangan pemilik kamar lainnya terlebih yang satu lantai dengan Bakugo. Shouji yang berada satu lantai terlihat menghampiri mereka ingin tahu keributan apa yang terjadi. Namun, sepertinya tidak hanya mereka yang terganggu anak-anak lain pun ikut menghampiri TKP.

"Apa yang kalian lakukan malam-malam? Cepat pergi tidur!" Ketua kelas muncul sembari memberi perintah pada teman-temannya dengan gerakan robot khas dirinya. Sebagai ketua kelas yang baik dan disiplin dia harus mampu mengontrol teman-temannya yang luar biasa sinting atau mereka akan berurusan lagi dengan Eraser Head.

"Kau harus mendengar ini! Todoroki dan Bakugo akan menikah!" Ashido seperti penyebar gossip memberitakan hal itu dengan antusiasnya tidak peduli walaupun itu hoax atau fakta.

"Benarkah? Tapi, kalian harus fokus pada sekolah sebelum menikah."

"Selamat, Kacchan."

Anak-anak laknat itu mulai menggoda Bakugo dengan kata-kata selamat, ternyata ada juga yang mau menikahi Bakugo, cinta tidak memandang jenis kelamin dan sebagainya yang membuat kuping si bocah peledak itu memerah. Wajahnya turut memerah menahan amarah, tubuhnya bergetar menahan kekesalan yang sudah merasuk ke jiwanya. Jika saja ini bukan di asrama mungkin dia sudah menerbangkan teman-temannya itu ke luar galaksi satu persatu, tapi dia cukup tau diri untuk tidak membuat masalah lagi dan merepotkan Eraser Head seperti kejadian sebelum-sebelumnya. Ia mencoba sabar. Sabar, sabar, sabar, sab—

BLAAAAAAARRRR

"PERGI KALIAN SEMUA, SIALAN!"

FIN