Blue(s)
Busujima Mason Riou x Samatoki Aohitsugi
ABO Dynamic -Universe
WARNING! YAOI!18+!Mpreg- OC included
©King Records, IDEA FACTORY, Evil Line, Otomate. Saya hanya meminjam karakternya.
Ini hanya FIKSI.
Enjoy!~ ^^
000
Terdengar alunan melodi di dalam mobil. Tiga orang yang sedang duduk semuanya bungkam, tidak ada niat untuk bicara. Kedua mata berlapis kaca tengah berkonsentrasi menyusuri jalanan Yokohama yang lembab setelah terguyur hujan cukup lama. Iruma Jyuto memegang kemudi, di sampingnya Samatoki sedang memandang keluar kaca. Terakhir, di kursi belakang ada Busujima Mason Riou yang terlelap.
Setelah pertandingan rap antar divisi telah usai, bukan berarti menjadi babak akhir. Buktinya mereka masih saling berkomunikasi dan berkumpul untuk sekadar menukar kabar. Hubungan ketiga orang ini bisa dibilang cukup unik, dimulai dari Jyuto dan Samatoki yang selalu berselisih, kemudian tumbuhnya pohon simbiosis mutualisme antara Jyuto dan Riou, mereka cukup akrab mungkin karena berasal dari bidang hampir sama. Terakhir, Samatoki dan Riou, mereka tidak terlalu sering berbincang; Samatoki bahkan sering melupakan nama pria besar itu. Meski demikian, Samatoki tidak pernah merendahkan kedua anggota timnya. Sama sekali.
Seperti biasa, mereka bertemu sekitar seminggu yang lalu. Mereka awalnya bicara tentang pengaturan kembali mekanisme pemerintahan menuju normal, mengulas pertandingan rap hingga Jyuto tiba-tiba menyinggung soal kedudukan atau hirearki dalam masyarakat. Ia amat terkejut mengetahui kedua rekannya tidak menjalani tes khusus penempatan kedudukan tersebut, yang mana sangat lumrah dilakukan pada usia 17 tahun. Akhirnya, Jyuto putuskan untuk mengajak lebih tepatnya memaksa mereka untuk mengikuti tes.
Hari ini hasil tes keluar, kedua rekannya mendapat surat keterangan yang tipis berbalut amplop putih. Jyuto melirik Samatoki dari spion tengah, ia tidak heran kalau Samatoki mendapat predikat Alpha. Akan tetapi pandangannya berubah menuju Riou yang masih menutup mata, Jyuto mengerutkan dahi, seakan tidak percaya kalau Riou memiliki predikat sebagai Omega. Jujur, dia kesulitan menemukan aspek yang cocok.
"Hey, lampu hijau…" tegur Samatoki membuyarkan pemikiran Jyuto.
"Mikirin apa?" sambung Samatoki menatap Jyuto penuh tanya.
Jyuto menggaruk pipi kirinya sembari menjawab, "Aku cuma kaget…"
"Aku tidak menyangka kalau Riou-… omega." Kemudian terdengar tawa canggung. Samatoki mengangguk setuju.
Laki-laki berkulit putih pucat itu kembali memandang jalanan yang diterangi lampu temaram. Ia tidak bisa menahan helaan napas, Jyuto bahkan bisa mendengar gerutunya. Sejak dari awal Samatoki enggan mengikuti semua prosedur tes, dia hanya menganggap sebagai hal sepele. Bersikeras dengan pemikirannya, persetan dengan secunder-sex, katanya dalam hati. Yang lucu adalah ketika Samatoki merasa sedikit bangga karena predikat seorang Alpha, ya setidaknya tetap memegang sebuah kuasa tertinggi.
"Antarkan sampai kantor saja." Ucap Samatoki.
Jyuto mengalihkan pandangan, "Tumben?"
"Aku capek." Katanya sambil memijat batang hidung.
"Tidak enak badan?" Samatoki mengangguk.
Samatoki membuka mulutnya lagi, "Baumu membuatku muak." Keluhnya.
Jyuto tertawa kecil, "Mana ada, aku tidak sekuat itu. Maksudku …" ia melirik Riou, tepat sekali bidik masalah yang dimaksud Samatoki. Entah kenapa setelah pembagian hasil tes itu dia menjadi lebih peka terhadap hal kecil, yang kadang membuatnya lebih repot. Lehernya selalu meremang dan perutnya seperti terguncang sesuatu ketika berada di dekat Riou. Ugh, hawa seorang omega begitu menjengkelkan.
Jyuto mengurangi kecepatan ketika hampir sampai di kantor Samatoki. Mobil berangsur melambat, dan akhirnya berhenti. Dia segera turun, sengaja meninggalkan hasil tes di dashboard mobil. Jyuto yang melihatnya lantas memanggil Samatoki,
"Hey!"
"Aku sudah tahu hasilnya, simpan saja kertas bodoh itu."
"Ini alasan kenapa aku membencimu, Samatoki." timpal Jyuto sedikit berseru.
Samatoki hanya melambaikan tangan sambil berjalan menjauh. Di setiap langkahnya ia merasakan sebuah kelegaan, badannya menjadi lebih ringan dan pikirannya jernih kembali. Rasa panas di belakang lehernya mulai reda, bahkan hilang. Sedikit aneh, tapi ya sudahlah.
Kalau pun ini karena omega, Samatoki hanya perlu menghindari Riou untuk sementara.
Masalah terselesaikan.
000
Sama sekali belum terselesaikan.
Genap dua hari Samatoki tidak bisa tidur. Ia terus mengubah posisi, berganti tempat dan berakhir sia-sia. Kedua matanya terjaga, nafsu makan menghilang, suhu badan yang tiba-tiba meningkat dalam kurun waktu 48 jam, tentu ada yang tidak beres. Samatoki bingung, ada cairan yang terus keluar dari bagian bawah tubuhnya; ia harus mengganti celana berkali-kali. Kulitnya menjadi lebih cerah dan terkesan licin. Hal itu malah membuat Samatoki cemas.
Tubuhnya menegang saat leher dan pinggangnya tidak sengaja tersentuh oleh tangan atau benda di sekitar. Samatoki mulai gelisah dengan reaksi berlebihan tubuhnya. Ini bukan kali pertama, saat ia menginjak bangku SMA hal yang sama terjadi tapi Samatoki bisa mengatasinya dengan mudah. Namun demam ini memburuk tiap tahunnya.
Apa ini disebut Rut?
Samatoki tidak menemukan gejala yang mengarah pada fase itu. Dia sama sekali tidak menghirup aroma omega. Tidak ada satu pun omega di apartemennya, alih-alih untuk mengamuk; kemarin Samatoki bahkan tidak bisa bangun dari ranjang. Dengan tangan gemetar, Samatoki mencoba bangun, ia melihat sekitar kamar. Pandangannya enggan fokus, tetapi ia masih bisa melihat celana dan ranjang yang kembali basah.
"Ugh.. apa yang terjadi?" geram Samatoki berjalan pelan.
Apa ada obat untuk reaksi ini? Pikirnya kemudian. Dia akui selama gejala ini muncul, Samatoki akan mengunci diri untuk 3 sampai 5 hari. Selebihnya, ia akan kembali normal dan bisa beraktivitas. Namun ini adalah puncaknya, hampir semua bagian tubuhnya menjadi lebih sensitif.
Samatoki melepas pakaian, pantulan diri dari cermin menjadi perhartian. Kedua mata ruby itu mengulas pandangan dari atas ke bawah, memindai keberadaan titik yang membuatnya seperti orang tolol. Ia mendekat, mulai memegang bagian-bagian yang terasa nyeri. Tengkuk, punggung, pusar dan…
"Ngh!" Samatoki membungkam mulutnya seketika. Kedua matanya melebar tidak percaya. Apa-apaan itu? Bagaimana bisa ia mengeluarkan suara yang menjijikkan saat memegang bagian dada?
Samatoki menggeleng cepat. Tidak. Tidak ada Alpha yang meragukan jati dirinya.
Samatoki beranjak untuk memakai pakaian baru. Di tengah kepeningan, Samatoki mencari surat tipis dari rumah sakit. Siapa tahu di sana tertera keterangan yang belum sempat ia baca. Setidaknya bisa sedikit membantu meluruskan semua. Namun, hanya erangan frustrasi yang terdengar, ia baru sadar kalau surat bodoh itu dipegang oleh Jyuto.
Satu tarikan napas panjang Samatoki lakukan, di samping untuk menjaga kesadaran juga menjernihkan isi kepalanya. Seorang Alpha memiliki kedudukan teratas, hal bodoh seperti Rut- apapun istilahnya tidak akan menghalangi. Alpha adalah seorang pemimpin, minimal bagi dirinya sendiri. Dengan keyakinan itu Samatoki mulai mengambil kunci mobil. Pria berusia 25 tahun ini akan pergi ke rumah sakit demi jawaban atas keadaannya yang kacau.
Mobil melaju mulus beradu dengan suara gesekan dedaunan lebat. Dia tidak tahu apa yang tengah dilakukan. Pikirannya tertuju pada jalur utama menuju rumah sakit sedangkan anggota tubuhnya; mereka berbelok dengan kurang ajar menuju persimpangan jalan kecil yang familier. Samatoki merasakan hawa panas di sekitar wajah, napasnya memburu seperti dikejar sesuatu. Selama perjalanan ia merasa diperhatikan, bahkan ada segerombol orang yang mencoba mengetuk kaca mobil, tetapi dengan cepat ia pergi. Samatoki tidak menyangka jika scent miliknya begitu kuat.
Mobil itu berhenti tepat di pinggir jalan, ia melihat sebuah tanda buatan berupa tumpukan batu berbentuk aneh yang diselimuti lumut hijau. Mengapa dia sampai di sini? Ia tidak tahu. Indera pembauan Samatoki menangkap scent di sekitar batu tersebut, ia pun mendekat. Benar, itu esens omega milik Riou. Tubuhnya kembali bereaksi, tanpa pikir panjang Samatoki berlari memasuki hutan, ada sesuatu yang menariknya.
Esens Riou semakin tajam dan mendominasi hampir seluruh wilayah. Sudah menjadi satu insting Alpha untuk cakap menyusurinya. Samatoki sempat tersenyum hanya dengan memikirkan keunggulan dalam diri. Semakin dekat dengan tujuan, kedua mata Samatoki semakin jelas melihat esens Riou yang ternyata berwarna biru. Warna itu menjadi penunjuk arah yang akurat.
"Apa-apaan ini?" ia terhenyak, sebuah pertanyaan terlontar manakala Samatoki menginjakkan kaki di tempat tinggal Riou.
Samatoki mematung beberapa saat, pandangannya menyapu tempat ini secara menyeluruh. Tempat ini seperti kapal pecah. Kabin tua yang berantakan, kayu bakar berserakan di sisi utara, begitu juga peralatan berburu, sisa daging hewan yang dikerumuni oleh lalat membuat suasana menjadi mengerikan. Punggung tangannya terangkat, menutup hidung akibat daya pikat feromon yang menyengat.
Ia benci ini.
Lagi-lagi tubuhnya bergerak tanpa dikehendaki. Kaki yang gemetar itu melangkah maju menembus feromon pekat berwarna biru. Insting Alpha Samatoki mendadak tumpul, sekeras apapun ia berusaha melihat, belum berhasil menemukan Riou.
"Ha-…" ia menahan napas, Samatoki menyadari cairan itu keluar lagi, mengalir melalui paha dalamnya.
Feromon biru menembus saluran pernapasan Samatoki. Tangan yang semula menutup hidung kini berpindah menekan dadanya. Ia menepuk dada beberapa kali agar sisa feromon Riou keluar. Terheran-heran, kenapa ia sangat sulit bernapas di tempat seluas ini? Kurangnya asupan udara membuat kepalanya pusing, dan menutup mata hanya akan memperburuk keadaan.
"Mitsuketa…" suara baritone memaksa kedua mata Samatoki terbuka.
Riou muncul dari samping kabin dengan keadaan sama berantakan. Samatoki beringsut mundur, tiba-tiba merasa takut. Dalam pandangannya, Riou tengah dikelilingi warna biru yang serupa. Sesungguhnya yang membuat Samatoki takut adalah pertanda ancaman di balik warna itu. Samatoki terus mundur, ia menyadari ada beberapa luka gores di wajah dan lengan Riou yang terlihat masih baru.
Ia merangkum kejadian sebelum memvonis dirinya tolol. Sebuah kesalahan besar yang ia lakukan adalah mengubah tujuan awal. Barangkali keadaan akan lebih baik jika Samatoki berada di rumah sakit, konsultasi, mungkin ada beberapa injeksi atau obat yang harus diminum kemudian kembali ke apartemen tanpa beban. Akan tetapi tidak, faktanya dia malah menghampiri sumber masalah. Riou berjalan mendekatinya dengan ekspresi yang asing. Belum pernah Samatoki melihat ekspresi itu, bahkan saat bertarung dalam pertandingan rap.
Ingin sekali Samatoki berlari menjauh, namun kedua lututnya melemah dengan sendirinya. Tidak habis pikir, Riou memiliki daya pikat sekuat ini. Tunggu, bukankah ini sangat aneh? Seharusnya ia lebih mendominasi, dia Alpha yang berkuasa atas kedudukan. Aneh, Samatoki sama sekali tidak memiliki keinginan untuk menyerang Riou. Entah karena efek feromon Riou yang sudah mempengaruhi separuh tubuhnya atau dia terlalu sibuk menafsirkan ketidaksesuaian ini.
Samatoki terlalu keras berpikir hingga tidak menyadari jika Riou sudah berada di hadapannya. Badan yang condong ke depan serta tatapan laparnya membuat Samatoki menelan ludah. Tengkuknya kembali nyeri, dan ... sejak kapan celananya terasa lebih sempit?
"Samatoki.." panggilan keparat itu terdengar menjijikkan di telinga. Riou hanya menyebut namanya, tapi sanggup membuat cairan itu mengalir deras. Ia berusaha menutupi celananya. Tubuh Samatoki menegang tidak terima.
Sosok Samatoki yang berdiri ketakutan membuat Riou tersenyum kecil. Dia senang sudah menemukan bau manis yang mengusiknya. Suhu tubuhnya meningkat ketika berdekatan dengan sang pemimpin. Tangannya terangkat, menyentuh tangan Samatoki. Menggenggamnya erat, sang pemilik hanya menautkan alis menuntut penjelasan.
Ia menarik tangannya paksa. Samatoki menatap tajam Omega di depannya, "Mitsuketa.." ucap Riou lagi.
Setengah percaya, Samatoki bisa melihat kedua mata Riou berubah menjadi gelap.
000
Kelopak mata Samatoki terasa berat.
Saat kedua mata terbuka, pandangannya tertuju pada seragam militer yang tergantung rapi di dinding kayu. Suasana temaram dengan penerangan lentera dan 5 buah lilin yang tersebar di setiap sudut ruangan. Samatoki tidak ingat apa yang terjadi sebelumnya tapi yang pasti sekarang tangannya terikat di atas kepala, pakaiannya hilang entah ke mana, dan tengah dalam dekapan seseorang. Riou menghirup lehernya, sesekali menggesekkan hidung pada rahang bawah Samatoki. Veteran ini menggigit kecil di semua bagian. Aroma Samatoki terlalu harum, menguras kesadaran dirinya.
Samatoki melenguh ketika tubuh mereka bergesekan. Putingnya mengeras, salah satu dari mereka tengah diremas tanpa ampun. Belum selesai sampai di situ, Riou menambah stimulan pada selangkangan laki-laki di depannya. Jari yang besar itu menembus Samatoki, ia mendongak terkejut atas kedatangannya. Mulai dari gerakan memijat kemudian memutar, perlahan Riou memasukkan jari ketiga; maju kemudian mundur seakan mencari titik khusus yang bisa membuat Samatoki mengejang beberapa kali.
"Ngh!" dia bersumpah jika tidak akan pernah mendesah di depan orang lain. Ini terlalu menjijikkan.
Terdengar tawa kecil yang berasal dari Riou. Gerakan maju mundur itu semakin cepat, Riou mendorong jarinya sangat dalam hingga Samatoki gemetar. Tidak hanya berfokus pada rektum Samatoki, ia sempat melihat penis Samatoki yang mulai memerah dan basah. Di tambah kedua puting yang membengkak dan keras.
Sumbatan dalam dirinya dicabut. Lenguhan kecewa Samatoki lolos begitu saja, "Jangan… berhenti.." lirihnya dengan wajah bersemu.
Aroma manis itu menebal, bercampur dengan feromonnya di atas udara dan memenuhi ruangan sempit kabin. Riou tidak bisa menahannya lagi, ia melepas ikatan tangan Samatoki. Badan yang lemas itu dipaksa tengkurap, Riou mengangkat pinggang Samatoki tinggi menghadap tepat depan penisnya yang tengah ereksi. Samatoki memiringkan wajah sambil berharap agar ranjang kayu ini tidak akan rubuh.
"Ah!" ia merasakan lidah Riou menyapu punggungnya. Beberapa kecupan mendarat untuk menenangkannya. Tapi itu sia-sia, yang ada rektum Samatoki berkedut lebih kencang.
Riou suka menggoda Samatoki. Penis yang tegang itu tengah diremas dan dipijat dengan gerakan konstan bertempo cepat, Samatoki menggeleng gusar, rangsangan itu sangat menyiksa. Ia tidak mau datang tanpa penis Riou di dalam tubuhnya.
"Mason.." panggil Samatoki sebagai isyarat agar lebih cekatan.
Riou sempat tidak percaya jika seorang pria yang sedang tengkurap itu adalah pemimpin kejam dan kompetitif Mad Trigger Crew. Citra yakuza luntur sudah di matanya, ia bertanya-tanya apakah Samatoki juga menunjukkan sisi ini pada orang lain? Dia harap tidak.
Riou tertegun, kenapa dia tiba-tiba menjadi sedikit posesif?
Samatoki terbelalak melirik ukuran Riou yang begitu besar tengah berdiri tegak. Matilah, pikirnya. Riou melumuri miliknya dengan lubrikasi alami Samatoki agar penetrasi lebih mudah. Ia berdecak kesal karena persediaan kondomnya telah habis sekitar 6 bulan lalu. Baginya, berburu dan memasak adalah hal yang lebih menarik daripada seks. Kalau pun ia ingin melakukannya, dia hanya perlu pergi ke kota dan memakai jasa tertentu. Namun, ketika dia bertemu dengan leader tim perhatiannya mulai teralihkan. Riou sering memperhatikan Samatoki diam-diam, Kirei, panggilan yang tidak pernah ia ucapkan.
Pria berdarah Amerika ini kembali condong ke depan, menekan bawah tubuhnya agar bisa menyatu dengan Samatoki. Terdengar geraman Samatoki menahan sakit akibat ukuran penis Riou yang memaksa masuk. Riou tidak tinggal diam, diberikannya afeksi dengan cara mengulum telinga Samatoki, meminta agar lebih rileks.
"Nghh.. ahh…" desah panjang mengalun tatkala Riou sudah berhasil menenggelamkan diri. Tubuh Samatoki sedikit gemetar, maksudku dengan ukuran sebesar itu Riou dengan mudah bisa mengisi ruang lebih dari cukup; dan itu artinya dia bisa menggempur titik vital Samatoki kapan saja.
Riou mulai bergerak pelan-pelan menyesuaikan diri. Asens manis Samatoki bercampur dengan shampoo yang biasanya digunakan membuat Riou semakin serakah. Dadanya melesak ke depan bersamaan dengan dorongan Riou, benci mengakui tapi Samatoki mulai hanyut.
Napas Riou menjadi berat, gerakan pinggulnya juga menjadi lebih cepat. Dinding Samatoki merapat, memberikan pijatan pada penis Riou, perutnya bergejolak membantu mengumpulkan cairan orgasme. Gigitan kecil diberikan pada setiap bagian tubuh Samatoki, tapi Riou menyimpan tengkuknya untuk pertunjukan terakhir. Riou melihat kaki Samatoki berjengit, pinggangnya meninggi tanpa diminta, ia ingin merasakan sensasi lebih dari ini.
Lalu Riou menarik dirinya, menempatkan ujung kemaluan di depan Samatoki secara presisi.
"Ughh!" Tanpa aba-aba Riou melesak masuk, hal itu membuat tubuh Samatoki berguncang. Dadanya membusur, kepalanya mendongak dengan mata terbelalak. Kedua tangan yang sedari tadi bebas kini tengah mengunci penisnya sendiri agar tidak ejakulasi, namun tetap gagal. Cairan berwarna putih nan kental keluar disusul dengan urine membasahi dirinya sendiri dan ranjang.
Dengan tubuh yang mengejang Samatoki berusaha menoleh ke arah Riou, memamerkan ekspresi yang sudah terjebak dalam ekstasi.
"Nghh…laku.. kan la..gi.." pinta Samatoki terbata. Wajahnya merah padam dengan hiasan senyuman. Rambut yang berantakan, tubuh mengkilap penuh peluh dan rektum yang sempit adalah kombinasi sempurna.
Sesuai permintaan leader, Riou mengulanginya lagi dan lagi. Cairan itu mengucur tanpa henti, bagian dalam Samatoki tengah dijejali oleh daging yang bertambah besar di setiap dorongan. Pandangan Samatoki berputar, tekanan yang dalam itu meruntuhkan fakta-fakta seorang Alpha dalam pikirannya.
Alpha? Samatoki sudah lupa.
"Ungh..." Riou membalik tubuh Samatoki, mereka kini saling berhadapan. Samatoki meringis merasakan linu di bagian bawah. Pahanya dibuka lebar-lebar, Riou mulai bergerak dengan kasar seakan tidak memberi ruang Samatoki untuk bernapas.
Ibu jarinya berada di dada Samatoki, menekan dan sesekali memilin hingga berwarna kemerahan. Samatoki hanya bisa meracau dengan kedua tangan meremas rambutnya sendiri. Tangan itu kemudian terulur, menarik kepala Riou. Dia membuka mulut, membiarkan lidah Samatoki memasuki rongga dan langit-langitnya. Ciuman itu begitu panas dan basah, mereka juga terhubung dengan benang saliva tipis, setipis bibir Samatoki. Riou sedikit frustrasi karena tidak bisa melahapnya dengan mudah.
Tes.
Cairan berwarna merah menetes di permukaan dadanya. Cairan itu berasal dari kedua lubang hidung Riou, adrenalinnya terlampau tinggi sehingga tekanan darah ikut naik. Samatoki mengusapnya, namun darah itu masih mengalir hingga dagu. Tangannya bergerak bimbang, kemudian perlahan menarik wajah Riou kembali. Samatoki membersihkannya dengan mulut, mengecup sesekali menjilat hidungnya.
Riou tampak baru sadar, pria ini lantas mengusap atas bibirnya kasar, "Maaf, Samatoki.." katanya refleks.
"Bodoh.." desis Samatoki dengan bercak darah di bibir.
Decak bunyi erotis menggema diselingi desahan dari masing-masing diri. Riou lepas kendali, gerakan itu menjadi lebih brutal dan terkesan gegabah. Samatoki tidak sungkan untuk menggerakkan pinggulnya sendiri, jantungnya berdegub kencang, lalu dadanya mulai membusung. Semua stimulan sialan yang Riou berikan terkumpul di kemaluannya. Ia hanya membutuhkan beberapa kali sentakan untuk mencapai klimaks.
Ada satu waktu saat Riou mengulas rambutnya ke belakang untuk menghalau keringat. Kedua mata Samatoki terpaku, wajah maskulin Riou terbayang di benaknya. Samatoki menggigit bibir bawah, dia pikir itu cukup seksi.
"Jangan di sana.. ja- nghh…" rintih Samatoki menahan air mata. Rasa sakit luar biasa ia terima saat tangan Riou mulai memanjakan penisnya. Bermain-main pada bagian kepala, kukunya menancap di lubang urine Samatoki. Mengusap dengan kasar sesekali menekannya.
Pinggangnya terangkat, kedua kaki gemetar saat menopang beban tubuh. Samatoki bergerak gelisah sementara Rio terus menyentuh titik penting tepat sasaran. Tidak lama kemudian Samatoki menggeram keras, ia mencapai klimaks kedua. Dengan posisi yang sama, kakinya mengejang hebat, Riou mendesah merasakan himpitan Samatoki. Cairan yang lebih banyak itu menyebar di perut dan dagu Riou. Tubuh Samatoki menegang, napasnya putus-putus, bola matanya bergulir ke belakang dengan mulut yang menganga.
Tubuh Samatoki terhempas cukup keras.
Ia terkulai lemas, tenggelam dalam kenikmatan. Sudut bibirnya saling menarik membentuk senyum puas. Riou merendah, memandang intens Samatoki yang masih sibuk mencari udara. Riou mencium bibirnya cukup lama sambil sesekali menggerakkan pinggul.
"Hey, Samatoki.." bisik Riou seduktif.
Kemudian ia tersenyum. Senyum yang membentuk seringai menakutkan.
"Kita belum selesai."
Riou memeluknya dari belakang, masih tetap menghujam dengan tempo konstan. Riou sengaja menangkupkan kaki Samatoki, mempersempit gerakan. Ia tidak protes, pria berusia 25 tahun ini bergerak pasrah, suara desahannya pun perlahan menghilang, mulutnya hanya mengeluarkan karbondioksida. Gelenyar menyenangkan menyebar ke seluruh aliran darah, tubuh mereka masih terpaut tetap bertumbukkan secara dinamis.
"Mason -mngh.." bukan berarti Riou benci ketika nama tengahnnya diucap, melainkan ia hanya takut jika hal itu bisa membuatnya meledak dan menyakiti Samatoki secara tidak sadar. Kemudian dia bungkam mulut itu dengan tiga jari. Rongga mulut Samatoki sama hangatnya dengan bagian bawah sana, jarinya dihisap kuat-kuat; ia menerka jika pria ini berimajinasi tentang mengulum penisnya.
Hentakkan itu tedengar jelas, menghantam otak Samatoki, melumpuhkan saraf untuk sementara. Sekali lagi tidak protes, ia sungguh menyukainya. Tubuh Samatoki terlapisi sperma yang gagal tertampung dalam perut. Geraman Riou menjadi pertanda bahwa sebentar lagi dia akan datang untuk kelima kalinya. Jika benar Riou akan orgasme lagi, habislah Samatoki. Dia akan benar-benar mati.
Senyum licik Samatoki mengembang bersama kaki yang sengaja disilangkan. Ia menjebak Riou, memaksa datang lebih cepat. Riou mencengkram bahunya keras, ia meringis kesakitan.
Sempat mengumpat, Riou akhirnya datang dengan volume yang banyak, lagi-lagi perut Samatoki tidak bisa menampung semua. Tubuh Samatoki menggelinjang sebagai reaksi, ia tidak percaya akan datang setelah Riou.
Tiba-tiba lehernya ditarik ke belakang. Berbenturan dengan mulut Riou.
Kedua matanya melebar saat gigi tajam Riou menancap sempurna di tengkuknya.
Kemudian dia tidak sadarkan diri.
Dia sudah ditandai.
000
Kabin sederhana itu tidak sepenuhnya kedap suara. Terdengar samar-samar suara dua orang tengah berbincang di luar. Tidur Samatoki terusik dengan bunyi pintu yang terbuka. Ia berdecak kesal pada desain kabin yang menghadap ke arah matahari terbit. Derap kaki begitu tenang seakan tidak mau membangunkan Samatoki. Terlambat, dia sudah bangun.
"Sudah bangun?" tanya Riou ketika melihat Samatoki berusaha duduk. Samatoki hanya mengangguk pelan. Badannya remuk, ia merasa tidak nyaman. Ingin rasanya segera mandi karena aroma tubuhnya seperti keju parmesan.
Samatoki menyentuh jaket militer Riou yang melekat pada tubuhnya, padahal terakhir kali jaket ini masih menggantung rapi di dinding.
"Maaf Samatoki, aku tidak bisa mengendalikannya." Ucap Riou sembari memberikan segelas teh herbal.
Samatoki mengusap tanda yang terukir ditengkuknya. Semua reaksi tubuh yang memberontak sudah menghilang, tidak ada lagi kegelisahan. Riou mengayunkan tangan, meletakkannya di tempat yang sama. Tangan mereka saling menaut, namun Riou memperlihatkan ekspresi khawatir.
"Kau kenapa?" tanya Samatoki sambil menuntun tangan Riou untuk turun.
"Bagaimana keadaanmu?"
Samatoki mengangkat sudut bibir, "Hampir mati." Mendengar itu Riou lantas menunduk merasa bersalah.
Samatoki meminum tehnya dengan hati-hati. Sungguh malam yang gila, pikirnya. Dalam diam Samatoki memandangi ruangan sempit itu, dia mencoba menata ulang bagian-bagian yang menurutnya tidak teratur.
"Tadi siapa?" tanya Samatoki memecah keheningan. Riou berpaling, kemudian beranjak mengambil dua amplop putih dan satu kotak suppressant.
"Jyuto. Dia bilang hasil tes kita tertukar-"
Samatoki menoleh cepat, "Apa?"
"Hasil tes kita tertukar. Jadi dia memberiku ini…" kata Riou dengan suratnya.
Samatoki mengambil dua surat tersebut dan buru-buru membukanya. Dia membaca keterangan dengan teliti, tidak lupa membandingkan hasil tes keduanya. Predikat mereka berubah. Riou adalah seorang Alpha, sebaliknya Samatoki merupakan seorang Omega. Titik-titik mulai tersambung menjadi sebuah garis panjang. Samatoki kini paham atas gejala yang dialami selama ini. Inilah jawaban ketidaknyamanan yang mengurungnya selama bertahun-tahun. Baginya ini sangat konyol, bisa-bisanya hasil tes itu keliru. Untungnya tidak sampai menyebabkan urusan yang lebih kompleks.
Samatoki mengedipkan mata saat berpikir tentang urusan yang lebih kompleks.
Jantungnya kembali terpacu ketika membaca keterangan tentang prosentase kehamilan yang terjadi antara Alpha dan Omega. Sialnya prosentase itu akan semakin tinggi jika mating dilakukan dalam masa heat. Ia memandang Riou yang tengah sibuk membuka suppressant. Wajahnya serius membolak-balik kotak itu.
"Fuck.." umpat Samatoki kesal.
Mereka sudah melakukan kesalahan cukup fatal. Pikirannya mengelakar ke mana-mana, membentuk kemungkinan yang bisa terjadi. Samatoki tidak bisa langsung mengecek, dibutuhkan paling cepat satu minggu hingga satu bulan untuk mengetahuinya. Lalu jika hasilnya memang positif? Pikiran Samatoki menghitam, belum menemukan titik terang. Ada satu solusi, Samatoki bisa mengilangkannya dengan cara apapun, tapi apa itu akan beresiko? Alisnya menaut, perasaannya bimbang.
"Tenang, Samatoki." kata Riou selesai membaca hasil tes. Seakan mengerti tentang pikirannya.
"Brengsek, bagaimana aku bisa tenang, huh?!"
"Kalau bukan karena heat sialan ini, aku tidak akan-… Menurutmu kenapa aku di sini? Kau pikir karena aku mau?" Samatoki menggeleng, menyalahkan diri sendiri.
"Samatoki."
"Aku bahkan tidak menyukaimu." Sambungnya. Mereka berdua diam, udara sekitar mendingin padahal matahari bersiap untuk meninggi.
"Ini salah kita berdua, akan kupikirkan jalan keluarnya." Ucap Riou mencoba tenang walau napasnya sempat tertahan beberapa detik ketika Samatoki bilang jika ia tidak memiliki perasaan padanya, tapi bukankah itu sangat jelas?
Samatoki memandangnya tajam, "Semudah itu? Kau pikir aku akan setuju?" katanya dengan amarah.
"Aku tidak pernah bilang itu mudah. Tapi kalau benar terjadi, aku tidak akan pergi."
Samatoki mendecih, "Itu yang kau sebut solusi?" Riou menghela napas. Ia paham akan kondisi mental Samatoki yang sama sekali belum siap.
Meski dengan badan yang remuk Samatoki tetap mencoba bangkit. Ia melepas jaket militer Riou, dan mulai mengenakan pakaiannya sendiri. Tidak dipungkiri kalau dia sedikit kesusahan, tapi karena ini seperti bertaruh harga diri, ia harus bertahan. Dia merasa kesal dengan perkataan Riou, entah kenapa terkesan seperti meremehkan dirinya. Hal itu membuat dia semakin yakin untuk melepasnya jika hal terburuk terjadi.
"Dengar, Riou."
Samatoki selesai memakai jaket kulitnya, "Melepaskan atau merawatnya itu keputusanku. Jangan ikut campur."
"Tentu aku harus ikut campur."
Samatoki mengadahkan kepala, kehilangan kesabaran. Dia tidak perlu dikasihani, dia akan membuktikan bahwa bisa mengatasi ini sendiri tanpa bantuan siapa pun, termasuk Riou. Meski dengan menelan segala resiko. Terkesan egois, tapi itu adalah hal yang melekat pada semua manusia. Mungkin ia akan berhenti dari pekerjaannya, mungkin tidak ada lagi divisi bernama Mad Trigger Crew. Mungkin ini memang sebuah akhir.
"Artinya kau mau melakukan apa saja?" tanya Samatoki kemudian.
Riou mengangguk, dia tidak mungkin membiarkan Samatoki berusaha mati-matian sendiri. Samatoki juga harus tahu tentang keseriusannya. Loyal adalah naluri alami seorang prajurit. Dia tidak harus menjadi Alpha untuk membuktikannya.
"Kalau begitu jangan ganggu aku."
"Apa?" ada dorongan dalam tubuh Riou, membuat punggungnya tegak.
"Aku bisa mengurusnya sendiri."
Tangan Riou perlahan mengepal, baru permulaan tapi kenapa sudah serumit ini? Dan apa maksud dari perkataan Samatoki? Tidak masuk akal.
"Aku pikir itu bukan solusi." Katanya.
"Sejak kapan kita bahas solusi? Sudah aku bilang keputusannya ada di tanganku." Samatoki sudah enggan membuang waktu.
"Apa kau … takut?" rahang Samatoki mengencang, emosi yang susah payah ia redam kini meluap ketika Riou mengatakan pertanyaan bodoh. Tentu saja ia memilih untuk tidak menjawab. Mengingat resiko ini sepenuhnya menjadi tanggungjawab Samatoki. Bukankah sudah sewajarnya jika ia sedikit… khawatir?
Samatoki berjalan menuju pintu, kepalanya menoleh hanya ingin mengatakan sesuatu, "Aku akan menemuimu, kalau sudah waktunya."
Kemudian ia berjalan memakai sisa tenaga, tertatih dengan rasa sakit yang menyerang ketika tubuh itu dipaksa bergerak. Ia tidak peduli. Dia perlu banyak waktu.
Asap dari teh herbal masih mengepul.
Samatoki benar-benar pergi.
Riou hanya duduk, terlajur menyanggupi permintaan Samatoki.
000
Hari Sabtu bukanlah hari yang buruk untuk keluar rumah. Kecuali jika kau bersama anak buah yang memiliki tampang sangar namun payah dan tidak bisa diandalkan. Di sinilah Samatoki, terlalu lama duduk dengan posisi tidak nyaman pada hari yang mendung.
"Tidak ada, Kashira!" kata seorang pria berusia 30 tahun dengan napas terengah. Dia berdiri tepat di samping mobil berwarna hitam. Kaca mobil mulai terbuka, Samatoki memandang malas salah satu anak buahnya. Bibirnya sibuk menjaga keseimbangan rokok yang tinggal setengah bagian.
Pintu dibuka kasar, membuat anak buahnya terjungkal. Dengan cepat ia kembali berdiri tegak menghormati sang bos.
"Tidak berguna." vonisnya sambil membuang sisa rokok.
Samatoki berjalan santai menuju lapangan yang dipenuhi dengan permainan anak-anak. Langit jingga yang perlahan tertutup mendung menjadi temannya. Hari hampir gelap tapi ia belum berhasil menemukan sesuatu, atau lebih tepatnya seseorang. Tangannya mengulas rambut, mengikatnya sembarang agar pandangannya tidak terhalang poni.
"Ryuu!" panggil Samatoki cukup keras. Langkahnya belum berhenti, sesekali mengecek dalam terowongan dan balok-balok besar yang tersusun seperti istana.
Awan bergerak lebih cepat, langit jingga sudah tertutup mendung dengan sempurna. Suara gemuruh mengundangnya untuk menatap langit. Itu menjadi pertanda jika Samatoki harus segera menemukan Ryuu. Dia berlari ke perbatasan taman, menoleh ke kanan dan kiri kemudian menatap lurus ke depan di mana pohon-pohon besar berdiri. Apa mungkin dia masuk ke sana? Pikir Samatoki.
"Papa.." pemikiran Samatoki terpecah. Sebuah suara muncul dari belakang tubuhnya.
Di sana sudah berdiri seorang anak laki-laki hampir berusia 5 tahun. Ryuujin, Samatoki lebih suka memanggilnya Ryuu. Anak itu sangat mirip Samatoki, namun ia memiliki sorot mata yang tajam, dan berwarna biru. Kepribadiannya dingin, pendiam dan asyik dengan dunianya sendiri. Walau pendiam, Ryuu suka berpetualang sampai lupa waktu pulang. Sama seperti saat ini.
Samatoki memang tidak terlalu ketat dalam mendidik anaknya, dia bebas melakukan apapun selagi dalam batas wajar. Dengan embel-embel putra dari seorang yakuza tidak membuat Ryuu segan untuk bermain keluar lingkungan. Jika ada yang bertanya tentang cita-citanya, Ryuu pasti akan menjawab menjadi yakuza. Dia terlalu menyayangi Papa.
"Dari mana saja.. hmm?" tanya Samatoki dengan senyuman kecil. Dia membawa Ryuu ke dalam pelukan. Ryuu terkekeh, hanya menyandarkan kepala di dadanya.
"Sudah sore, ayo kita pulang dan mandi. Lihat kau begitu-" Samatoki berhenti, ia melihat sesuatu yang mengkilap di leher Ryuu. Seingatnya dia tidak memakai aksesoris apapun selain topi.
Tangan Samatoki menyibak bajunya, Ryuu memakai sebuah military tag necklace bertuliskan nama yang sangat dikenali.
Busujima Mason Riou.
Napas Samatoki tertahan, dilihatnya kembali anak itu. Samatoki terkejut pada Ryuu yang tengah terselimuti warna biru pekat yang ia lihat bertahun-tahun lalu. Aroma ini membuat Samatoki dejavu. Wajahnya memucat, feromon itu membangkitkan sesuatu di dalam tubuh Samatoki, membuka memori yang sudah tersimpan terlalu lama.
"Kashira!" Samatoki tersadar dari lamunannya.
"Siapa yang memberimu ini?" tanya Samatoki sambil menggendong Ryuu. Lagi-lagi mengacuhkan anak buahnya.
Samatoki memeriksa tubuh Ryuu, anak itu hanya tertawa mengira sang ayah sedang menggelitiknya. Tidak ada luka, kata Samatoki dalam hati.
"Riou. namanya Riou."
Dengan senyum ia bercerita, "Kita main seharian. Dia juga bisa memasak seperti Papa, Ryuu suka makanannya.." satu alis terangkat, pria ini tidak percaya jika anaknya menyukai makanan yang bisa dibilang ekstrem. Well, kekuatan gen.
Ryuu melanjutkan ceritanya, "Riou bilang kalau Ryuu tidak boleh pilih-pilih makanan, soalnya nanti Papa pasti sedih."
"Dia bilang apalagi?"
"Papa harus makan wortel."
Samatoki tidak bisa menahan senyuman. Pernah, sekali dia berkata bahwa wortel adalah sayuran terburuk. Rasanya aneh dan warnanya membuat Samatoki jengkel setengah mati. Hanya sekali dia bilang, tapi Riou bisa mengingatnya dengan baik.
"Oh iya…"
"Masih ada lagi?" Samatoki penasaran.
"Riou kangen Papa.."
Lalu hening.
Saat itu juga kelopak matanya terbuka lebar. Pijakannya terasa mengambang kehilangan beban.
"Di mana dia sekarang?" tanya Samatoki dengan cepat, ia membiarkan Ryuu berangsur turun. Ryuu menunjuk ke arah utara tempat mereka berpisah. Di sana hanya ada gang kecil yang lumayan gelap karena mendung.
Saatnya untuk menepati janji.
"Bawa Ryuu pulang.." Perintah Samatoki tanpa menunggu jawaban anak buahnya. Kakinya melangkah menyusuri arah yang ditunjuk Ryuu, esens biru itu muncul kembali. Mereka menjadi penunjuk arah Samatoki untuk kedua kali.
Rintik hujan yang turun tidak melunturkan esens itu. Aroma yang kental menarik tubuh Samatoki hingga masuk dalam gang. Kanan dan kiri hanya berjajar rumah tradisional yang entah ada penghuninya atau tidak. Warna itu masih menunggu, Samatoki lantas berlari. Kemudian sampai akhirnya berhenti. Feromon yang ia kenali berakhir di tepi pantai, pagar beton berdiri kokoh tampak mengecewakan.
Esens itu hilang. Lenyap tertiup angin.
Alisnya menaut menolak keadaan. Padahal tinggal sedikit lagi dia akan bertemu dengan Riou. Tidak bertele-tele, ia hanya ingin sekadar berterima kasih atas kebaikan kecil yang dikatakan tapi berdampak besar untuk dirinya. Umpatannya terucap seiring dengan hujan yang semakin deras, kepalanya terbentur butir-butir air yang cukup tajam.
Mengapa ia menyesal? Bukankah dia sendiri yang bilang kalau tidak menyukai pria itu?
Empat tahun berlalu tanpa bayangan apapun. Setelah mengetahui hasilnya positif, Samatoki mengasingkan diri. Dengan teliti mempersiapkan semuanya, hati-hati, tidak boleh ada celah. Awalnya Samatoki ingin melepaskan Ryuu, namun dia malah membuang semua obat-obatan itu ke dalam kloset. Ia tidak bisa menelannya, tapi anehnya dia tidak menyesal. Tahun pertama memang paling berat, dia kadang meminta Nemu untuk mengurus Ryuu. Dengan senang hati Nemu melakukannya, namun tetap saja, rasa bersalah malah melekat dalam diri Samatoki. Berkali-kali menghakimi diri sendiri. Tapi di sisi lain, dia sukses melupakan Riou. Dia tidak akan menyebut Riou Alpha-nya, itu sungguh memalukan.
Namun lihat sekarang, Ryuu sudah bertemu Riou lebih dahulu daripada dia. Kurasa Ryuu lebih beruntung.
Pakaian Samatoki menyerap air hujan, membuatnya lebih berat.
Samatoki mengangkat wajah, hanya perasaannya atau hujan tiba-tiba berhenti?
Belum. Samatoki bisa melihat deburan ombak yang menghantam beton itu dengan ganas. Terkoyak bersama hujan dan angin, awan mendung memutih artinya hujan pasti akan bertahan lama. Samatoki mulai mendongak, di atas kepala ada sesuatu yang berperan sebagai perisai. Sebuah payung hitam melindunginya dari hujan, meskipun sia-sia; dia sudah basah kuyup.
"Kenapa kau sangat lama?" suara baritone yang dibenci terdengar amat dekat.
Samatoki enggan menoleh, ia tahu persis siapa pemilik suara itu.
Samatoki melepas feromonnya, entah bagaimana esens biru itu terlihat kembali. Bergabung dengan miliknya, terjalin membentuk visualisasi benang kusut DNA. Bersatu semakin pekat, tanda di tengkuknya terasa panas, sama seperti pertama kali mendapatkannya. Samatoki ingin menghindar dari suasana menjengkelkan ini.
Dadanya melonggar perlahan, rasanya pas, tidak lebih tidak kurang. Dia tersenyum sekilas, kemudian menenggelamkannya kembali. Samatoki benar-benar lega sudah menemukan pemilik esens ini. Berdiri tegak, tanpa mempedulikan penampilan atau wajah yang dia tunjukkan.
"Bodoh.." desisnya.
"Aku tidak akan pernah mau… memakannya." Kata Samatoki seraya menatap Riou.
Dia tertegun, kemudian melepas tawa singkat.
Riou memang tipe yang jarang bicara, mengalir dalam arusnya sendiri, dan terkadang lalai dengan kejadian di sekitarnya. Hal itu membuatnya menjadi sosok arkais yang sederhana. Tubuh Riou merespon perintah yang berasal dari otak, pandangannya merendah mencoba sejajar dengan Samatoki. Matanya terpejam, pun Samatoki. Jarak mereka mulai menipis hingga kedua ujung bibir itu bertemu.
Ini hanya ciuman sederhana. Bergerak apa adanya.
Riou melepas payung, membasahi dirinya dengan air hujan agar keadaan menjadi seimbang, Samatoki adalah orang yang kompetitif, bukan?
Banyak hal yang ingin keduanya sampaikan. Kata-kata yang berputar di kepala disimpan untuk sementara. Mereka menjaga agar suasana ini tetap sama, meski hujan reda. Semoga ada sisa waktu. Sedikit saja.
Bibir Samatoki melengkung membentuk senyuman, ia baru saja menyadari sesuatu.
Riou akan tetap berdiri ketika kedua matanya terbuka.
Meski begitu, Samatoki tetap tidak menyukainya.
Tidak akan menyukai perasaan yang memaksa untuk senantiasa menerima.
Oh iya, dalam waktu dekat Samatoki akan mengubah nama depan Ryuu menjadi yang semestinya.
000
The End.
Saya nulis apa sih :""
Random banget astaga ;_;
FF kilat yang dibuat pas lagi sibuk-sibuknya. Padahal masih banyak draft yang belum kesentuh :""
/malah curhat/
Silakan tinggalkan jejak & review ^^
arigatooo gozaimasuuu~~
