Inspired by: Criminal Minds

Attack on Titan Fanfiction

Cover Image merupakan gambar saya sendiri, meskipun gambarnya jelek, tidak boleh mengambil tanpa seijin saya.

Original Story only created by Hajime Isayama, I only borrowed his characters. No commercial purpose, entertain only.

Title: The Profiler

Latin Enemy

Genre: Action, Crime, Drama, Adventure

Rated: M

Characters:

Levi Ackerman and Team: Erd Ginn, Gunther Schultz, Auruo Bossard, Moses Braun, Nifa, Eren Jaeger

Petra Ral, Hange Zoe, and OC

Narrator: Petra Ral

Summary: Seorang agen federal (FBI) tentunya mempunyai tugas yang berat sebagai seorang penegak hukum yang kastanya paling disegani di negara Amerika. Kasus yang rumit disertai dengan hal-hal mengerikan adalah makanan mereka sehari-hari. Dan hal itu membuat para agen federal harus pintar-pintar menggunakan otaknya dengan baik dalam memecahkanya. Terkadang nyawa pun harus menjadi taruhanya.

Warning: Mengandung adegan kekerasan dan kata-kata kasar.

Beberapa nama tempat, jalan, posisi, dll hanya berdasarkan imajinasi/fiktif alias suka-suka, bukan berdasarkan kenyataan, tapi ada juga yang sesuai fakta. Dan banyak OC kayak nama-nama korban dan tersangka.

Karena sedang ingin berkhayal, maka terciptalah fanfict aneh ini.

This is the first my action fanfict, semoga tidak mengecewakan.

Enjoy the Story!


Part 1

Aku adalah seorang Profiler. Namaku Petra Ral. Aku bekerja di bagian penyelidikan pidana FBI. Aku adalah seorang warga negara Amerika keturunan Jerman dari ibuku dan ayahku orang Amerika, namun aku besar di Amerika. Aku tinggal di sebuah apartemen yang terletak di Hamilton di tengah Kota New York. Jarak antara apartemen dengan kantorku (Federal Plaza) hanya sekitar 1 km. Kedua orang tuaku berpisah waktu aku masih berumur 5 tahun, dan aku tinggal bersama ibuku di Amerika, namun ibuku telah meninggal pada saat aku berumur 17 tahun. Dan sampai sekarang aku tak tahu dimana ayahku. Lulus SMA aku melanjutkan ke Massachussets Institute of Technology selama 4 tahun, dan masuk ke Akademi FBI di Quantico, Virginia. Dengan andalan beasiswa lah aku dapat meneruskan sekolahku.

Jam beker di samping tempat tidurku berdering, menunjukan pukul 07.00 pagi, kemudian aku langsung bersiap-siap untuk melanjutkan pekerjaanku di kantor yang tertunda kemarin. Yeah, ada sebuah kasus perampokan bank, dan uang yang dirampok tidak sedikit. Total sekitar 1 Milyar USD, sebab mereka tidak melakukan perampokan sekali saja, namun sampai sekarang perampok-perampok tersebut masih misterius, dan itu sudah menjadi tugasku untuk menangkap mereka. Entah kenapa sang Director Erwin Smith menyerahkan kasus ini hanya kepadaku seorang, hukuman mungkin.

Rekanku, Moblit memberitahuku bahwa perampok-perampok itu beraksi lagi. "Sial!", kenapa bisa terjadi lagi. Perampok-perampok itu membuatku semakin jengkel. "Disinyalir bahwa perampok-perampok itu berjumlah 4 orang, dan mereka semua adalah pria, bersenjata, dan cerdik" jelas Letnan Neil dari NYPD (New York Police Department). "Huh! Secerdik apa sih mereka itu? Kita tidak boleh lengah, mereka tidak akan bisa mempermainkan para penegak hukum!". Aku tahu, mungkin ini adalah sesuatu yang tidak boleh dianggap remeh. Mereka sudah merampok 3 bank, dan ini sudah yang keempat. Dan satu hal lagi yang masih menjadi misteri, atas dasar apa mereka merampok bank berulang kali? Apakah perampok-perampok ini gila dengan uang? Atau karena suatu latar belakang yang mengharuskan mereka untuk merampok? Ataukah mereka sekumpulan gangster yang selalu melakukan bisnis haram?

Di suatu malam aku pergi ke Avenue Cafe untuk minum teh hangat. Aku bertemu seorang pria yang posturnya mirip sekali dengan salah seorang perampok bank yang selama ini aku cari. Aku mengetahuinya dari rekaman camera CCTV, sebelum akhirnya para perampok itu menembakan 4 kali tembakan jitu ke empat kamera CCTV yang ada di bank. Dia keliatan begitu mencurigakan, menggunakan jas berwarna hitam panjang, memakai topi, dan kaca mata hitam. Selang beberapa menit, dia keluar dari café dan aku langsung mengikutinya dari belakang dengan Black Suburban Chevrolet, mobil dinasku. Dia mengendarai mobilnya kencang sekali, sepertinya dia tahu kalau aku ikuti. Namun aku berusaha untuk mengelabuhinya. Selama beberapa menit kami berkejar-kejaran, lumayan seru. Dia begitu gesit mengendarai mobilnya, sehingga aku pun juga kwalahan mengejarnnya, dan akhirnya aku kehilangan jejaknya. "Ah, damn it!" aku mengumpat dalam hati. Malam itu membuatku sangat kelelahan karena seharian bekerja dengan kasus perampokan yang rumit ini dan menguras otak. Sampailah aku di apartemenku, dan aku langsung berbaring. Aku masih penasaran dengan pria yang aku kejar tadi. Apakah benar orang itu pelakunya? Ataukah hanya rasa curigaku yang terlalu berlebihan. Namun firasatku mengatakan bahwa orang itulah salah satu pelakunya, entah anak buah atau otak dari segalanya. Tak lama aku tertidur pulas juga.

Kebetulan hari ini adalah hari sabtu. Akhir pekan yang dimana semua orang bermalas-malasan di rumah, atau pergi ke luar kota dengan keluarga dan teman-teman. Tapi tidak begitu denganku. Aku duduk di ruang TV, dan menyalakanya. Berita mengejutkan terjadi. Orang yang bernama Jason Clark ditemukan tewas dengan luka tusukan di mobilnya. Aku melihat jelas platnya. Dan dia adalah pria yang tadi malam aku kejar namun gagal. Langsung aku bergegas dan pergi ke tempat kejadian perkara. Tak lama aku pun mendapat telepon dari Letnan Neil untuk segera ke TKP.

[Sesampainya di TKP]

"Agent Ral! Terdapat luka tusukan tepat di jantung korban. Dilihat dari tubuh korban diperkirakan ia telah tewas 4 jam yang lalu" jelas Letnan Neil.

"Apa ada luka bekas penganiayaan pak?" tanyaku.

"Ada! Wajahnya! Coba lihat! Banyak luka memar. Barang-barang korban pun tidak ada yang hilang, hanya uangnya saja yang hilang".

Yah, dan lagi-lagi si perampok ini mengincar uang. Dan yang membuatku bingung ia atau mereka merampok dan membunuh temanya sendiri, mungkin si Jason ini melakukan pengkhianatan atau tidak bisa menjalankan tugas kriminalnya. Kali ini analisaku agak berbelok dari sebelumnya. Aku melihat secara detail mayat Jason Clark ini, dan segera menelepon Hanji, seorang pakar telematika dan sangat jenius dalam bidang komputer di FBI, dia adalah rekanku juga namun kami beda tim.

"Yes Hanji Zoe disini, tak ada masalah yang tak bisa aku selesaikan, bahkan virus tercanggih di dunia ini pun tidak bisa—"

"Ya, ya, i know it! Hanji aku butuh bantuanmu. Tolong carikan informasi sedetail-detailnya mengenai orang bernama Jason Clark. Rekam jejaknya, kehidupanya, dimana dia tinggal dan lain-lain".

"Petra?! Apa itu kau! Oh, Gosh! Sudah lama kau tidak menghubungiku lho, sejak kau pindah ke tim Mike kita jadi jarang mengobrol. Apa kau sudah teguran lagi dengan Le—"

"Hanji! Tolong jangan bicarakan itu sekarang ya, please?!". Entah mengapa kepalaku jadi sedikit pusing jika membahas itu.

Hanji segera mengutak utik keyboard laptop Apple seri terbarunya bahkan hanya 5 unit dijual di dunia. Tidak butuh waktu lama untuk menemukan data-data seseorang bagi seorang Hanji, bisa dibilang dia itu Wikipedia portable. Didapatkan bahwa Jason Clark adalah mantan narapidana, ia pernah 2x melakukan perampokan dan 5x pembunuhan sekaligus perampokan. Jason Clark berkali-kali keluar masuk penjara. Ia belum menikah, dan tinggal di suatu apartemen minimalis dekat Jalan Castro. Dan ternyata ia pernah 2x memalsukan identitasnya untuk menghindari kejaran para penegak hukum.

"Okay Petra! Aku sudah mengirimkannya ke tabletmu!"

"Okay! Terima kasih Hanji, i love you!"

"Petra, wait—". Yah dan Petra telah mematikan sambungan.

Petra dan tim NYPD bergegas menuju apartemen Jason Clark di Jalan Castro.


[Sementara itu...di tempat yang berbeda, di lantai 6 Federal Plaza]

Di ruangan meeting sudah berkumpul para SA (Special Agent) berjumlah 6 orang. Mereka adalah Erd Ginn, Gunther Schultz, Auruo Bossard, Nifa, Moses Braun dan seorang anggota baru yang baru lulus dari akademi dialah Eren Jaeger. Tak lama kemudian datang seseorang yang merupakan atasan mereka atau lebih dikenal sebagai Team Leader, Levi Ackerman, seseorang paling sarkastik dan berwajah paling datar di dunia, sebenarnya banyak yang mengidolakanya, karena wajahnya tampan dan dia sangat cool walaupun dia pendek, tetapi...ah sudahlah—, berbarengan dengan si jenius Hanji yang mengikutinya dari belakang.

Laptop sudah disetting sedemikian rupa bersama proyektor yang memancarkan gambar-gambar mengerikan di papan putih, dan merupakan pemandangan indah sehari-hari bagi seorang agen federal.

"5x pembunuhan, 3 pria, dan 2 wanita. Mereka dibunuh dengan cara yang brutal. Dipukul berkali-kali dengan benda tumpul hingga wajah mereka tidak bisa dikenali" jelas Hanji.

"Wow orang ini sepertinya agak sinting!" kata Auruo.

"Sebegitu frustasinya kah dia sampai-sampai wajah korbanya dibuat amburadul, dia punya kelainan jiwa?" tambah Erd.

"Atau korbanya melihat ia melakukan tindakan kriminal, dan langsung membunuhnya agar tidak ketahuan!" kata Gunther. Sementara Eren hanya menatap mereka satu persatu tanda mengiyakan sambil tetap menyimak penjelasan Hanji.

Hanji menjelaskan...

"Korban pertama seorang pria 21 tahun, Erick Marley, ia dibunuh saat baru pulang bekerja. Ia bekerja sebagai bartender di Lias Bar" Hanji melanjutkan persentasinya ke foto demi foto satu per satu.

"Korban kedua seorang wanita 19 tahun, Monica Sanders, dibunuh saat baru pulang kuliah. Mayatnya ditemukan di mobilnya sendiri, berjarak hanya 100 m dari kampusnya"

Levi melihat berkas-berkas yang ada di mejanya.

"Korban ketiga seorang wanita 35 tahun, Siti Nurjannah, ia seorang warga negara Indonesia yang bekerja sebagai TKW di Amerika. Dibunuh saat rumah majikanya dalam keadaan kosong dan hanya dia satu-satunya di rumah. Anehnya...barang-barang berharga milik majikanya dicuri. Total harta yang dicuri sekitar USD 5.000.000—"

"What the hell! Dia merampok juga rupanya!" kata Auruo. Moses yang sedikit pendiam hanya terlihat bingung.

Hanji melanjutkan….

"Korban keempat, Johnny Jack 50 tahun. Satu-satunya korban tertua yang dibunuh saat ia sedang memperbaiki mobil di depan rumahnya."

"Dan yang terakhir, Jordan Black 23 tahun. Ia dibunuh saat sedang pesta miras di Pandora Bar, tidak jauh dari kampus korban kedua Monica"

"Terlalu beresiko kalau si pelaku berani membunuh korban terakhir saat pesta berlangsung, bisa-bisa dia ketahuan!" jelas Erd.

"Jordan Black dibunuh di kamar mandi. Orang ini pembunuh professional sepertinya. Oh iya, setiap bar selalu ada CCTV nya bukan?!" tambah Gunther.

"Dia psikopat gila! Kalian tau, mayat 2 pria ini kehilangan penisnya, tapi mayat wanitanya utuh, hanya wajahnya saja yang hancur akibat pukulan, aneh kan?! Eeww.." kata Hanji.

"Kau bicara seperti itu, seolah-olah kau tidak aneh!" kata sang Team Leader, Levi dengan wajah datarnya. Hanji melongos...

Hening sejenak...

"Mungkin dia menganut aliran tertentu, dan digunakan untuk suatu persembahan magis?!" kata Nifa.

"Hmm...atau mungkin dia punya kelainan kepribadian, seperti Nekrofilia atau Homoseksual?! Sehingga dengan mengambil penis korbanya, bisa memuaskan hasrat seksualnya" sambung Moses.

"Pelaku membunuh korbanya secara random, tidak tergantung usia dan jenis kelamin. Dia itu pecundang homoseksual yang tidak mempunyai organ reproduksi, mungkin dia mandul atau testisnya kelainan tapi mempunyai hasrat sex yang maniak, karena itu alat vital dari para korban pria, dia ambil dengan cara yang tidak manusiawi!" tidak diragukan lagi omongan dengan nada sedikit menghina itu dilontarkan oleh siapa.

Tak lama kemudian...

Sang Team Leader segera membereskan berkas-berkas dan berdiri, berjalan cepat keluar ruangan sambil berkata: "Pesawat akan berangkat setengah jam lagi! Bersiaplah dari sekarang!" dengan tenang dan tanpa ekspresi. Diikuti oleh semua anggota tim.

Selama perjalanan menuju kota San Fransisco mereka berdiskusi mengenai kasus pembunuhan brutal ini. Team Levi saling berargumen dan mengeluarkan analisisnya mengenai tersangka. Pelakunya diperkirakan adalah seorang psikopat yang tidak mempunyai rasa penyesalan terhadap tindakanya. Diduga karena masa lalu yang kelam membuatnya menjadi seseorang yang brutal tanpa belas kasihan. Muncul juga dugaan yang menyatakan bahwa tersangka menganut aliran agama yang sesat, penyembah iblis, atau semacamnya. Mungkin juga ia gunakan untuk membuat sesuatu yang berbeda, atau bisa juga bagian tubuh korbanya diawetkan untuk dijadikan koleksinya. Dan yang paling memungkinkan pelaku menderita Nekrofilia/Homoseksual, mengingat hanya alat vital korban pria yang hilang. Jangan lupakan juga, si pelaku sudah sangat professional dalam membunuh namun labil.

Hanji baru saja mengirimkan rekaman camera CCTV dari Pandora Bar bertepatan dengan waktu pembunuhan. Team Levi memperhatikan dengan sangat serius rekaman CCTV itu di tablet masing-masing. Terlihat bahwa si tersangka sangat tenang saat memasuki Pandora Bar, tak satupun orang merasa curiga dengan gerak-geriknya bahkan setelah si korban Jordan Black mati. Levi melihat gaya menguntitnya seperti seorang prajurit militer terlatih.

Di tengah-tengah keadaan serius itu...

"Eh dengar-dengar Petra sedang menangani kasus perampokan 4 bank yang salah satu pelakunya ditemukan tewas. Erwin menyerahkan kasus itu hanya kepada Petra lho, bukan seluruh tim Mike. Bukankah itu luar biasa?!" kata Gunther.

Levi mengalihkan pandanganya dari tablet yang ia lihat ke wajah Gunther.

"Ehm...menurutku Nona Petra sanggup memecahkannya sendiri. Dia hebat!" kata Eren yang duduk di samping Gunther menambahkan.

Erd, Gunther, Nifa, Auruo, Moses dan Eren langsung mengalihkan pandanganya ke arah Levi dengan tatapan "Sebenarnya ada apa dengan kalian berdua?!"

"Kenapa kalian melihatku seperti itu, huh?!" tanya Levi sambil menatap anggotanya satu persatu dengan tatapan tajamnya. Mereka berlima langsung kembali menyibukkan dirinya masing-masing dan berpura-pura tidak pernah memulai percakapan sebelumnya.


Saat Petra dan tim NYPD memeriksa apartemen Jason Clark, tiba-tiba seorang pria datang, dan terkejut melihat banyak polisi di apartemen Jason. Lantas ia langsung pergi melarikan diri, dan Petra langsung mengejarnya.

"Hei, berhenti!" teriak Petra pada pria itu dan tentu saja tidak digubris sambil terus berkejar-kejaran. Sebagai seorang agen FBI yang pernah merasakan beratnya menjalani pendidikan di akademi FBI, latihan fisik gila yang tak pernah terbayangkan sebelumnya, hanya dalam waktu 15 menit mengejar pria itu, walaupun mungil, Petra berhasil menangkapnya dengan melompat ke tubuh pria itu, beruntung pria itu tidak terlalu kuat berlari dan ia kelelahan. Petra memeteng leher pria itu dan menahan tangannya ke belakang, seorang police officer yang mengikuti Petra sedari tadi langsung memborgolnya untuk segera dibawa ke kantor NYPD.

Diketahui pria ini bernama Diaz Bay. Ia adalah salah satu dari 4 perampok bank yang Petra selidiki selama ini. Data menunjukkan bahwa ia spesialis perampok bank paling dicari di San Fransisco, sekaligus pemilik tempat prostitusi bernama MW dipinggiran kota New York. Namun jejaknya tidak diketahui, hingga akhirnya Petra berhasil meringkusnya dengan mudah. Sangat kebetulan memang.

Diaz Bay telah duduk dengan posisi tangan terborgol di belakang di ruang interogasi, lalu Petra memasuki ruangan tersebut untuk menanya-nanyainya sekaligus menganalisa perilaku si tersangka.

"Baiklah Tuan Bay!" Petra menarik kursinya dan duduk bersebrangan dengan Diaz Bay dibatasi meja kecil di tengahnya, melepas jas kerjanya yang berwarna hitam yang ia taruh di kursi, sehingga ia hanya memakai kaos berlengan tanggung berwarna abu-abu dan menaruh beberapa berkas di meja.

"Apa tujuanmu datang ke apartemen Jason Clark?" tanya Petra.

Diam sesaat...

"Kau cantik nona!" jawab Diaz singkat tanpa menjawab pertanyaan Petra.

"Oh, terima kasih. Jadi...kau tidak keberatan menjawab pertanyaanku kan?!"

Diam sesaat...

"Seharusnya kau tidak perlu menjadi seorang agen federal bodoh seperti ini nona. Kau cantik! Hargamu pasti sangat mahal, bahkan 5x lipat dari gajimu di FBI, jika kau bisa menjual kecantikanmu, dan tentunya tubuhmu" kata Diaz dengan senyuman liciknya. Mendengar perkataan Diaz, telinga Petra panas, ia merasa tersinggung namun ia bisa mengendalikan emosinya. Dia sudah terbiasa mendengar beribu-ribu penggertak bahkan yang mengancam nyawanya sekalipun.

Petra berdehem..."Tuan Bay! Anda...tahu tidak kondisi penjara di sini?! Terutama penjara yang berada di lantai paling bawah?!" Petra berkata dengan sangat tenang dan santai, yang pernah ia pelajari dari seseorang.

"Penjara yang paling bawah disini, tidak ada WC, tidak ada makanan, dan seminggu sekali seorang napi yang berada di penjara paling bawah, akan dipotong jari tanganya, mulai dari yang jempol hingga kelingking, dari tangan yang kiri dulu, hingga akhirnya sampai ke kaki".

Diam sejenak...

"Dan...setiap tahunya selalu ada ilmuwan gila dari negara kita yang melakukan penelitian tidak manusiawi, dan menjadikan narapidana sebagai objeknya. Ada yang testisnya ditukar, ada yang diinjeksi kanker, ada juga yang diinjeksi sifilis sampai-sampai napi mengalami serangan jantung, buta, gila, bahkan mati. Dan parahnya ada juga napi yang dipaksa untuk tidak tidur selama sebulan, sehingga mereka mengalami gangguan seperti merobek perut mereka sendiri dan memakan ususnya, meminum air seni dan memakan feses mereka sendiri, atau memakan kecoak yang lewat. Well..."

"Dan kau tau siapa yang menjadi napi di lantai terbawah tersebut dan objek penelitian ilmuwan gila itu?! Orang-orang sepertimu!" Petra menekankan kata-katanya sambil menyilangkan kedua tanganya di meja dan menatap tajam pada si tersangka.

Diam sejenak...

Diaz Bay menatap Petra dengan wajah yang sedikit ketakutan, sepertinya si Bay ini pengecut kelas kakap.

"Aku hanya ingin mengajaknya kabur" jawab Bay.

"Kemana?" tanya Petra

"Prancis. Tapi...sepertinya aku terlambat. Ia sudah terlanjur dibunuh oleh bajingan itu!"

"Siapa bajingan yang kau maksud?"

"Aku tidak tahu, Nona Ral! Aku hanya diajak Jason merampok".

"Apa kau tau sebabnya kenapa Jason Clark dibunuh?"

"Jason pernah mengatakan padaku, ia disuruh untuk membunuh seseorang, dan jika gagal, dia akan diberikan pelajaran mungkin maksudnya dibunuh. Mungkin dia gagal membunuh target yang dimaksud bajingan yang aku bilang sebelumnya".

"Sebenarnya hal yang mudah bagi Jason untuk membunuh, mengingat ia punya latar belakang sebagai pembunuh. Tapi target yang dia incar ini bukan orang sembarangan" sambung Bay.

"Kau tahu siapa target yang bukan orang sembarangan ini?" tanya Petra.

"Aku tidak tahu, sama sekali, serious! Jason hanya bilang targetnya ini memilik latar belakang militer".

Diam sejenak...Petra mengedipkan matanya...

Petra menunjukkan sebuah foto tattoo dari si korban Jason Clark yang terletak di leher belakang. Tattoo itu bergambar wajah kartun bertanduk merah, seperti sebuah logo gangster/kelompok di leher belakang.

"San Fransisco!"

"Apanya?"

"Sebuah kelompok yang berpusat di San Fransisco! Selain itu aku tidak tahu lagi! Jason adalah salah 1 anggotanya. Dia disuruh untuk mengumpulkan uang sebesar 1 Milyar USD, dan dia berhasil berkat aku juga. Tapi dia gagal membunuh..."

"Kalian berempat kan?"

"Yes, betul!"

"Kedua temanmu yang lain, siapa nama dan dimana keberadaan mereka?"

"Mereka berdua bukan temanku. Bahkan aku tidak tahu nama mereka, wajahnya pun aku lupa. Aku hanya berteman dengan Jason"

"Kalian sudah merampok 4 bank, dan kau tidak tahu nama rekanmu sendiri?! Lucu sekali! Apakah omonganmu bisa dipercaya, huh?!"

"Terserah padamu Nona Ral, yang jelas aku hanya bisa memberikan informasi berdasarkan yang aku tahu. Aku suka merampok. Mencuri dan merampok adalah hobiku".

Sepertinya orang ini Claptomania.

Hening sejenak...

"Ah aku hampir lupa, salah 1 dari rekan merampokku itu adalah seorang penyuka sesama jenis alias gay. Aku bahkan pernah digodanya, mungkin karena aku tampan! Hahaha..." kata Bay tertawa licik.

Dan pria narsis yang menjijikkan.

Berpikir sejenak...

"Okay. Kupastikan kau akan mendapatkan hukuman ringan, karena membantu penyelidikanku!" Petra bergegas meninggalkan ruang interogasi.

"Nona Ral!"

"Hmm?!" Petra menoleh.

"Pertama kali melihatmu aku sudah tertarik dengan matamu yang indah seperti madu. Bahkan para PSK ku tidak ada yang sepertimu! Apa kau sudah menikah?"

Petra tersenyum, "Belum..." jawabnya singkat. Petra keluar dari ruang interogasi. Ia segera pergi dari kantor NYPD dengan Black Suburban Chevrolet nya menuju Federal Plaza.


Sepertinya 4 tersangka perampok bank ini tidak memiliki hubungan yang baik, mengingat Bay tidak mengenal 2 diantaranya, dan bertindak apatis karena hanya peduli dengan keuntungan dirinya sendiri. Terbukti tidak ada perampokan bank lagi setelahnya, yang biasanya selang waktu 3 hari para pelaku langsung beraksi lagi. Clark tewas, Bay tertangkap, dan 2 lainnya masih belum ditemukan. Hal ini membuat Petra memutar-mutar otaknya. Hanji menemukan aktivitas Jason Clark terakhir sebelum kematiannya. Ia memakai nama Dumbbell untuk membeli sebuah Glock Gun jenis 9mm (jenis senjata yang sama persis dengan yang digunakan agen federal) di situs Dark Web, yang diduga akan digunakanya untuk membunuh seseorang, mungkin si "target bukan orang sembarangan" yang dimaksud Bay.

Di Federal Plaza...Petra telah berdiri di depan lift untuk menunggunya berhenti, karena ia harus ke ruangan Erwin di lantai 3 untuk minta izin terbang menuju San Fransisco. Yeah, dia harus minta izin kepada sang Director, tidak biasanya memang. Biasanya Team Leader saja sudah cukup berwenang untuk berangkat ke kota tempat sebuah kasus terjadi tanpa harus minta izin pada Director. Namun kasus ini bukan kasus untuk 1 tim, tapi perorangan.

Tak lama kemudian...

Lift berhenti, dan keluar dari lift itu seorang wanita tinggi, lebih tinggi dari Petra, berkaca mata dan sedikit aneh.

"Hanji!"

"Petraaa..." mereka berpelukan.

"Sudah 3 bulan kita tidak bertemu lho. Kau kemana saja sih?" tanya Hanji. Petra dan Hanji selama ini hanya berkomunikasi lewat telepon.

"Kau tidak pernah sekalipun mampir ke lantai 6 yah. Apa kau sudah melupakan kami semua ya Petra?"

"Maafkan aku Hanji. Aku sibuk sekali akhir-akhir ini. Erwin menugasiku untuk menangani sebuah kasus sendirian. Kupikir kau telah mengetahuinya, tidak ada rahasia yang tidak terbongkar di kantor federal bukan?!"

"Aku tidak melupakan kalian kok. Jangan beranggapan seperti itu Hanji!" sambung Petra.

"Bagaimana kalau kita minum kopi sebentar di ruanganku, hmm?!" kata Hanji.

"Tapi aku harus ke ruangan Erwin—"

"Ayolah Petra, sebentar saja..."

Berpikir sejenak...

"Baiklah."

Petra memandangi kantornya yang lama, tidak ada yang berubah sedikitpun, kecuali 1 ruangan yang kosong, tak ada sedikitpun barang di sana, itu ruanganya dahulu sebelum keluar dari Team Levi. "Huh, Levi lagi!" katanya dalam hati. Ia memasuki ruangan Hanji yang sangat khas. Sebuah mesin kopi berwarna silver digunakan untuk membuat kopi dilengkapi dengan penyaring ramah lingkungan yang hanya ada di ruangan Hanji, di lantai 6, kantor khusus Team Levi berada. Kopinya pun bukan kopi sembarangan. Itu adalah kopi racikanya sendiri yang sudah lumayan terkenal di kalangan para agen. Rasanya berbeda dari kopi lainya, harum, sedap dan menenangkan. Matahari sore memperlihatkan kilauan cahayanya dari jendela ruangan hanji yang ia buka lebar gordenya, tidak dengan jendelanya karena ruanganya ber-AC. Petra duduk di sofa dan melihatnya sambil menikmati kopi yang telah dibuatkan Hanji. Ia ingat sekali dulu saat masih berada di Team Levi, dia, Hanji, dan Nifa sering sekali menghabiskan malam mereka di ruangan Hanji, Just the Ladies! Tertawa bersama, saling berbagi suka duka menceritakan masalah-masalah yang hanya dialami perempuan, dan tempat sejenak untuk melupakan kasus rumit yang ada, namun sejak kepindahanya ke Team Mike setahun yang lalu, ia jadi jarang kemari, bukan...bahkan tidak pernah sekalipun ia menginjakkan kakinya di lantai 6. Petra pun bingung sebenarnya apa yang terjadi denganya, terutama masalahnya dengan Levi yang sebenarnya tidak jelas entah karena ego masing-masing atau karena kesibukan mereka menangani berbagai kasus yang menjadi santapan mereka sehari-hari, entahlah!

"Your coffee always taste great Hanji! Tidak pernah berubah, bahkan semakin enak!"

Tanpa menghiraukan pujian dari Petra...Hanji segera duduk di samping Petra.

"Petra, sebenarnya kau ada masalah apa sih dengan Levi? Sampai-sampai kau harus keluar dari tim nya"

"Aku tidak tahu Hanji. Jangan menanyakan hal itu, okay?!" Petra menyeruput kopinya

"I...iya...tapi bukankah kalian berpacaran bahkan saat kau masih kuliah. Lalu kok tiba-tiba jadi tidak saling menegur sih, sudah setahun lho! Levi kalau kutanya, dia diam saja. Menyebalkan—"

"Hanji, kepalaku jadi pusing jika kau membahasnya..." dengan wajah memelas.

"Petra! Tolong ceritakan padaku! Aku kan sahabatmu, honey?! Apa kau tidak ingat perjanjian kita dulu, bersama Nifa juga, kalau kita akan saling terbuka satu sama lain kan, kau lupa hmm?! Kali ini saja, lupakan sejenak kasusmu, okay?! Kau terlihat semakin kurus lho. Dan matamu...sudah seperti mata panda!"

Hening...

Yeah, memang benar aku dan Levi pernah berpacaran selama 7 tahun. Kami sempat menjalani LDR selama 4 tahun, aku kuliah, sementara Levi menjalani pendidikan militer SAS (Special Air Service), pasukan khusus elit milik Inggris. Sejak kami lulus akademi dan resmi menjadi agen, hubungan kami tidak pernah berjalan mulus, selalu putus...nyambung...putus...nyambung lagi. Hingga akhirnya aku merasa bosan dengan keadaan kami yang seperti ini, dan segera keluar dari tim nya untuk pindah ke tim lain. Hal ini sengaja aku lakukan karena aku ingin fokus pada pekerjaanku dan melupakanya.

"Petra?!"

"Ah, iya...Hanji..." Petra tersadar dari lamunanya.

"Hanji, sebenarnya aku juga bingung dengan keadaan ini!"

Petra bercerita panjang lebar dengan Hanji, tidak terasa waktu telah menunjukkan pukul 20.00.

"Kau masih mencintainya?"

Petra memiringkan bibirnya, "Pertanyaanmu itu...apakah aku harus menjawabnya. Itu tidak penting tahu!"

"Petra, hal ini memang sifatnya pribadi, tapi sangat mempengaruhi pekerjaan dan karirmu ke depanya. Kau harus berbicara empat mata dengan Levi dan segera menyelesaikan masalah kalian!"

Hening sejenak...

"Ehm...Hanji...kalau boleh tau...bagaimana keadaan Levi? Apakah dia masih suka minum vodka saat stress? Lalu apakah makanya teratur? Dan dia masih suka nge gym kan?!"

"Nah, kau masih memperhatikanya kan?! Berarti kau masih mencintainya?" wajah Petra blush seketika dan menggaruk belakang telinganya.

Yah sepertinya begitu.

"Dia baik kok, tapi akhir-akhir ini dia pemarah, mungkin ia terlalu banyak mengkonsumsi garam. Hmm...dia rutin nge gym, berlatih karate, dan pedang". Petra tersenyum.

"Tapi...kalau soal minum vodka dan jadwal makanya, aku kan bukan pacar atau istrinya, jadi tidak tahu deh, sorry Petra". Petra sedikit kecewa.

"Oh iya, dia dan yang lainnya sedang menangani kasus pembunuhan brutal di San Fransisco.

"Apa? Me...mereka ada di sana juga?!"

"Juga?" tiba-tiba ponsel Hanji berdering...

"Hello, jadi ada yang bisa kubantu, wahai Tuan Team Leader yang terhormat?!" Hanji mengedipkan sebelah matanya pada Petra.

"Shhh...shh...jangan bilang-bilang kalau aku ada disini" kata Petra dengan gugup sambil berbisik

"Woi mata empat! Aku baru saja mengirimkan sebuah logo gangster ke tabletmu!"

"Siap bos!"

Click...click...click...

"Levi, logonya tidak terdeteksi! Sepertinya gangster ini adalah kelompok yang sangat rahasia, tidak ada rekam jejaknya sama sekali!" gambar logo itu muncul di layar Apple milik Hanji.

Lho logo ini kan?! Petra terkejut bukan kepalang karena ternyata logo yang ia lihat di hadapanya sama dengan tattoo yang terlukis di bagian belakang leher Jason Clark, si perampok bank yang tewas.

"Hei Levi, korban pertama Erick Marley, Monica Sanders, Johnny Jack, dan Jordan Black, mereka berempat pernah dihubungi oleh seseorang bernama Golder Sean, 30 tahun!"

"Siapa Golder Sean?"

"Dia seorang pekerja serabutan, dan punya sertifikat Mechanic. Dia juga pernah menjalani pendidikan militer Navy Seal, tapi karena dia pernah mencoba melakukan pelecehan seksual terhadap teman sependidikanya yang juga seorang pria, ia langsung dikeluarkan dengan tidak hormat!"

"Bagaimana dengan Siti Nurjannah?"

Click...click...click...

"Siti Nurjannah hanya orang biasa yang tidak terlibat dengan mereka, ia hanya seorang pembantu. Majikanya bernama Gerald Gear, yang sepertinya diincar pembunuhnya. Gerald Gear mempunyai seorang anak bernama Austin Gear, seorang mahasiswa di University of California. Atau mungkin anaknya yang diincar"

"Aku sudah lihat rekaman CCTV di Pandora Bar saat kejadian. Si pelaku memakai jacket baseball MLB. Tolong carikan orang yang pernah bertransaksi di seluruh toko olah raga khusus baseball di San Fransisco!"

"Ada banyak Lev, rata-rata masih muda berumur 35 tahun kebawah"

"Ok. Persempit lagi, cari hanya daerah Savange Street, dan sekitarnya. Maksimal 5 km dari Pandora Bar. Karena si pelaku sialan ini terlihat berjalan kaki menuju Pandora, yang artinya jarak tempat tinggal/kantornya tidak jauh dari Bar".

"Ia memakai sepatu safety yang menjijikkan, karena banyak oli bekas menempel di sepatunya. Itu berarti sehari-harinya ia berkutat dengan mesin kendaraan. Cari orang yang bekerja di bengkel dengan jarak maksimal 5 km dari Pandora, yang pernah membeli jacket MLB".

"Ah, dan 1 lagi...sepertinya pelaku memiliki latar belakang militer, dilihat dari cara ia menguntit Jordan Black. Jadi cari orang dengan latar belakang militer, seorang mekanik bengkel, yang pernah bertransaksi di toko olahraga untuk membeli sebuah jaket MLB".

"Ehm...ada 2 orang Lev, Dereck Ash dan yang satunya...Golder Sean, orang yang tadi aku bilang pernah menghubungi 4 korban. Aku lihat catatan teleponya ia sering berkomunikasi dengan seorang pria 32 tahun bernama Robert Jeans, dan semuanya setiap sebelum keempat korban mati. Sehari sebelum Jason Clark mati, dan Siti pembantu tuan Gear mati, mereka juga berkomunikasi, bahkan check in di hotel yang sama di Pasific Hotel, New York"

"Jason Clark?"

"Ah...iya, dia salah seorang perampok bank yang tewas ditusuk di jantungnya, kasus perampokan bank yang sedang ditangani Petra".

"Hooo...Levi...berarti kasus perampokan bank dan pembunuhan brutal ini...saling berhubungan!" jelas Hanji.

Diam sejenak...

"Dimana kedua orang brengsek itu tinggal?"

"Yup, sudah aku kirimkan alamatnya ke tabletmu!" Petra mengerutkan alisnya sambil mendengarkan percakapan Levi dan Hanji yang sengaja di loudspeaker. Namun saat Levi ingin memutus teleponya...

"Ahaa...Levi...ada Petra di sebelahku, kau tidak ingin bicara denganya?!"

Petra terkejut... "Hanji! Kan sudah kubilang jangan bilang ke dia kalau aku di sini!"

Levi mendengarkan kehebohan mereka...

"Tutup teleponya Hanji!"

"Kalau aku tidak mau, bagaimana?"

"Kubanting ponselmu sekarang! Matikan!"

Hanji malah mendekatkan ponselnya ke telinga Petra, sementara Petra masih berusaha keras meraih ponsel Hanji, bahkan mereka berkejar-kejaran mengelilingi sofa seperti anak kecil.

Levi masih mendengarkan...ia tersenyum tipis, tak ada yang tahu...

"Levi, kau tau Petra masih menyukaimu lho...dia tadi menanyakan apakah kau masih suka minum vodka saat stress? Lalu makanmu teratur tidak?"

"Hanji, hentikan! Atau laptopmu kuinjak!" Petra berteriak malu sambil ancang-ancang mengambil laptop Hanji.

"Katanya...jaga dirimu disana ya, aku merindukanmu Levi...muach...muach..."

Petra berhasil mendapatkan ponsel Hanji, dan langsung memutuskan sambungan teleponya. Wajahnya blush parah.

Levi melihat layar ponsel Applenya "Call Ended", ia masih tersenyum samar, lalu segera pergi dari lokasi tempat ia menghubungi Hanji.

"Kau tau, aku juga akan pergi ke San Fransisco!" kata Petra sambil menepuk jidatnya, Hanji tertawa.

Bagus kalau begitu.

Dan izin tugas baru keluar seminggu, disebabkan ada gangguan.


Sementara itu...Team Levi...

Seminggu setelahnya...

Ditemukan sebuah mayat lagi, bernama Stuart Cullen, 21 tahun di depan gudang penyimpanan limbah B3 di San Fransisco. Ia mati dengan 1 tusukan tepat di jantungnya, sama dengan Jason Clark.

Erd dan Gunther menuju ke apartemen Robert Jeans siang itu, memakai rompi anti peluru bertuliskan FBI bewarna biru tua, mendobrak pintu apartemen mewahnya dengan mencondongkan senjata berjalan menelusuri semua ruang. Tidak ditemukan batang hidungnya sama sekali.

"Clear! Bagaimana denganmu Erd?"

"Clear!"

Tapi di kamarnya terdapat foto-foto para korban yang telah tewas sebelumnya. Total 5 orang yang sudah tewas, ditandai dengan tanda silang merah besar, dan diantara 6 target, hanya satu yang selamat yaitu Austin Gear, anak dari Gerald Gear, tapi pembantunya yang bernama Siti Nurjannah lah yang mati.

Tak lama kemudian...

Betapa terkejutnya Gunther, ia menemukan foto Levi di kamar Robert Jeans, foto yang dipisahkan sendiri dari foto-foto korban lainnya dan terdapat sebuah dart arrow di bagian kepala foto Levi.

"Erd, lihat ini!" Erd segera menghampiri Gunther.

"Levi?! Jadi...apa Levi salah satu targetnya?"

Erd segera menghubungi Hanji.

"Hallo tampan, Hanji di sini apakah sebegitu kangenya kau pada—" sapaan Hanji pada Erd, sapaan khusus darinya.

"Hanji...Hanji dengarkan aku! Bisakah kau mencari informasi hubungan Robert Jeans dengan Levi?"

"Levi? Maksudmu Levi Team Leader kita yang pendek itu?"

"Yeah, Levi Ackerman, siapa lagi?!"

Click...click...click...

"Ehm...tidak ada sama sekali Erd! Kecuali mereka sama-sama memiliki latar belakang militer".

"Apa?"

Erd berpikir sejenak...

"Kalau begitu, tolong cari informasi mengenai hubungan antara Austin Gear dengan kelima korban tewas, Erick, Monica, Johnny, Jordan dan Cullen!"

Click...click...click...

"Nihil!"

"Ok. Bagaimana dengan salah seorang anggota keluarga mereka? Atau orang tua?"

"Ah aku hampir lupa memberi tahu kalian soal itu, ayah dari Erick, Monica, Austin, Johnny, Jordan, dan Cullen adalah alumni dari Georgio High School, San Fransisco, dari tahun 1990-1993. Gerald Gear berangkat ke San Fransisco 2 hari sebelum pembantunya, Siti dibunuh, lalu mendengar berita kalau Siti dibunuh, ia lantas langsung kembali ke New York. Ehm...dan sekarang dia ada di San Fransisco lagi, karena dia membeli tiket 3 hari yang lalu" jelas Hanji.

"Oh iya, Nifa dan Eren sudah ke rumah Tuan Gear yang ada di San Fransisco 2 hari yang lalu, kau bisa komunikasi dengan mereka mengenai informasinya"

"Ok, thank you honey" kata Erd memutus teleponya.

"No problem, handsome!" balas Hanji

Diam sejenak...

"Hei Gunther, menurutmu bagaimana bisa foto Levi ada disini ya?" tanya Erd

Berpikir sejenak...

"Apa dia pernah terlibat masalah dengan seseorang, kenalan si Robert Jeans maybe?!"

"Entahlah..."

Hening...mereka segera pergi dari tempat itu.

Di dalam perjalanan dengan Black Suburban Chevrolet...

"Aku baru ingat, Levi pernah menembak mati seorang ketua gangster yang memiliki bisnis prostitusi, narkoba, sekaligus seorang pembunuh berantai 2 tahun lalu...disini...di kota ini...San Fransisco!" kata Gunther.

"Saat itu kau masih bertugas di Las Vegas, Erd" sambung Gunther.

"Kau ingat siapa orang itu?" tanya Erd.

Mencoba mengingat-ingat...

"Ah siapa ya, aku lupa namanya...2 tahun yang lalu Levi berada di tim Keith Sadis. Mungkin ini kasus yang ditangani oleh timnya, termasuk Levi" kata Gunther. Sebentar, akan kutelpon Levi...

Tak lama kemudian...car mobile loudspeaker on...

"Halo..." suara Levi datar.

"Hei Levi, siapa nama orang yang kau tembak mati 2 tahun lalu ya? Saat kau masih di tim Keith Sadis?" tanya Gunther

"Aku sudah tahu. Dia Luis Alejandro, ayah dari Esteban Alejandro. Dialah otak segalanya dari kasus ini. Sisanya serahkan padaku! Kalian cukup menunggu sambil makan pizza, tunggu aku kirimkan perintah baru kalian bertindak!" kata Levi sarkastik.


2 hari sebelumnya...

Eren dan Nifa sedang menuju ke apartemen Gerald Gear, ayah dari Austin Gear, satu-satunya target yang selamat untuk memberikan beberapa pertanyaan. Mengingat bahwa Gerald Gear dan orang tua dari kelima korban tewas merupakan satu alumni dari Giorgio High School, di San Fransisco, ini artinya bahwa pelaku mungkin menyimpan dendam lama saat masih bersekolah dulu dengan orang tua dari keenam target. Mungkin persaingan bisnis atau pernah mengalami bullying.

"Tuan Gear, apakah anda pernah terlibat masalah dengan seseorang saat di SMA?" tanya Nifa.

Mencoba mengingat-ingat...

"Tidak pernah!"

"Apa anda yakin?" tanya Eren.

"Yah, sangat yakin" sepertinya Gerald Gear adalah orang yang tidak terlalu ramah.

Kemudian Nifa memperlihatkan foto-foto dari ayah kelima korban tewas, diantaranya John Marley (ayah korban 1), Andrea Sanders (ayah korban 2), Johnny Jack (korban 3, salah 1 alumni), Peter Black (ayah korban 4), dan Patrick Cullen (ayah korban 5).

"Mereka teman-teman anda bukan?!" tanya Nifa.

"Yeah, mereka teman-temanku..." ia mengambil foto Johnny Jack.

"Johnny Jack tewas?!"

Eren dan Nifa mengangguk.

"Ia dibunuh dengan cara dipukul bertubi-tubi dengan benda tumpul hingga wajahnya sulit dikenali" kata Nifa.

Hening sejenak...

"Kami...pernah membully seorang adik kelas, karena wajahnya terlihat lebih tua dari umurnya" kata Gear menjelaskan.

"Bisa kau beritahu kami siapa nama orang yang anda dan teman-teman anda bully itu?" tanya Nifa.

"Esteban Alejandro"

"Bully yang seperti apa yang anda dan teman-teman anda lakukan padanya?" tanya Eren.

Ia mencoba mengingat-ingat hal yang sebenarnya tidak ingin dia ingat...

"Kami pernah menelanjanginya di depan para siswa, menghinanya dengan kata-kata kotor yang tidak pantas, menyebutnya anak haram karena ia tidak memiliki ibu, menjulukinya sebagai anak seorang gigolo. Kami juga pernah menyembunyikan celana olah raganya sehingga ia terpaksa mengikuti pelajaran olahraga tanpa celana. Entah mengapa...aku dan teman-temanku sangat membenci wajahnya. Meskipun begitu ia adalah siswa yang cerdas. Dan kami membullynya hingga lulus SMA"

"Tapi kelima korban tewas ini bukan orang itu yang membunuh. Erick, Monica, Johnny, Jordan dibunuh oleh orang yang bernama Golder Sean. Sementara itu korban tewas bernama Jason, Siti dan Stuart dibunuh oleh orang bernama Robert Sean. Cara membunuh mereka pun berbeda. Terlihat kalau Robert Jeans lebih tenang dalam membunuh dan akurat, tidak seperti Golder Sean yang terkesan terburu-buru dan penuh emosi. Apa kau mengenal mereka berdua?" tanya Nifa.

"Tidak! Tapi menurutku Esteban pasti mempunyai kaki tangan!"

Gear melanjutkan...

"Esteban adalah jenis orang yang tidak suka mengotori tanganya. Ia pandai menyuruh orang lain untuk melakukan segala perintahnya untuk keamanan dirinya sendiri, terbukti saat kelulusan, ia membawa sekumpulan anak muda diatas 17 tahun untuk mengepungku dan teman-temanku. Kami dipukuli, jumlah mereka banyak mungkin sekitar 10 orang. Beruntung kami tidak mati, mungkin mereka sengaja membiarkan kami tetap hidup. Lalu dia bilang, tunggu pembalasanku! Kalian akan menderita! Dan akan hidup sebagai daging busuk!"

"Perkataannya saat itu menjadi mimpi buruk yang menghantui kami setelahnya. Apalagi saat mendengar bahwa ayahnya, Luis Alejandro adalah ketua gangster berbahaya yang sangat ditakuti sekaligus seorang pembunuh berantai yang tidak segan-segan membunuh orang-orang yang berani cari masalah denganya".

"Dengar-dengar Luis Alejandro ditembak mati oleh seorang agen federal, mungkin kalian mengenalnya!" Eren dan Nifa saling pandang.

"Ah dan 1 lagi...logo dari gangster ayahnya berupa gambar kartun dengan tanduk merah di kepalanya! Namun sepak terjangnya tidak tercium para penegak hukum"

Dalam perjalanan menuju kantor...

"Levi yang menembak ayah Esteban!" kata Nifa

Nifa dan Eren menyimpulkan dan membenarkan keterangan Tuan Gear kalau Robert Jeans dan Golder Sean adalah kaki tangan Esteban Alejandro, pelaku sebenarnya yang merupakan otak dari kasus pembunuhan brutal dan perampokan bank di New York. Terlihat di rekaman CCTV Pandora Bar, secara samar-samar ada tattoo di leher belakang Golder Sean, si pelaku, tattoo itu sama persis dengan tattoo Jason Clark. Pada intinya Esteban Alejandro adalah tipikal orang yang pandai berdiplomat atau semacamnya sehingga orang yang mendengarkanya menjadi kagum seketika. Dia orang yang tidak mau mengotori tanganya dengan darah atau dengan hal-hal yang berbau kriminal, sehingga ia memanfaatkan banyak orang untuk melakukan pekerjaan kotornya, mengingat ayahnya Luis Alejandro adalah ketua gangster yang berbahaya, ditakuti orang-orang awam, dan bakat ayahnya menurun pada anaknya, si Esteban Alejandro. Betul bahwa Esteban telah memenuhi janjinya untuk membuat para pembully nya semasa SMA menjadi menderita dan seperti daging busuk, terbukti ayah-ayah dari para korban menjadi stress, 1 diantaranya, Andrea Sanders (ayah dari Monica Sanders) ditemukan bunuh diri, bisnis milik Peter Black (ayah dari Jordan Black) mengalami kebangkrutan, John Marley (ayah Erick Marley) dipecat dari pekerjaannya, ditambah lagi mereka harus kehilangan seorang anak yang dicintai. Patrick Cullen (ayah dari Stuart Cullen) belum bisa move on karena kehilangan anak semata wayangnya. Johnny Jack salah satu pembully terpaksa kehilangan nyawa. Gerald Gear, hanya dia satu-satunya yang beruntung, ya hanya dia. Dan ia berjanji untuk menebus kesalahanya, entah dengan cara apa.

"Kalau Levi yang menembak Luis Alejandro 2 tahun lalu?! Ehm..." Nifa berpikir.

"Nona Hanji bilang salah 1 pelaku perampok bank di New York, Jason Clark yang tewas, ia pernah melakukan percobaan pembunuhan dengan seorang target namun gagal, dan target itu bukan orang sembarangan!" kata Eren.

"Dia juga memiliki tattoo di belakang lehernya sama dengan logo gangster keluarga Alejandro, kartun dengan tanduk merah di kepala! Itu berarti dia salah 1 anak buah Esteban Alejandro" Eren dan Nifa saling memandang.

"Kalau tidak salah Levi sempat diserang oleh seseorang yang tak dikenal kan? Emm..." Nifa melihat-lihat data di tabletnya, tiba-tiba ia terkejut.

"Kondisi mayat Jason Clark, terdapat luka memar di wajahnya. Levi bilang ia sempat menendang wajah orang yang mengincarnya itu" sambung Nifa.

Jason Clark adalah salah 1 anak buah Esteban Alejandro. Dia begitu mengagumi Esteban dan bersedia menjalankan segala perintahnya. Namun naas, dia hanya jadi bonekanya Esteban, sehingga ia harus kehilangan nyawanya juga. Dan lagi-lagi Esteban tidak mau menodai tanganya. Robert Jeans yang mengeksekusinya.

"Jangan-jangan..." kata Eren.

"Target yang bukan orang sembarangan itu..." kata Nifa.

Eren yang menyetir mobil, segera memacu kecepatan mobilnya hingga 100 km/jam.

TO BE CONTINUED