Inspired by: Criminal Minds

Attack on Titan Fanfiction

Cover Image merupakan gambar saya sendiri, meskipun gambarnya jelek, tidak boleh mengambil tanpa seijin saya.

Original Story only created by Hajime Isayama, I only borrowed his characters. No commercial purpose, entertain only.

Title: The Profiler

Latin Enemy

Genre: Action, Crime, Drama, Adventure

Rated: M

Warning: Mengandung adegan kekerasan dan kata-kata kasar.

Enjoy the Story!


Part 2

Flash back on, 2 hari sebelum kematian Jason Clark...

Malam itu, malam kamis, tepatnya pukul 12.00 dini hari, sang Team Leader, Levi Ackerman masih berada di kantornya untuk menyelesaikan sebuah laporan tentang kasus yang ia dan tim nya telah selesaikan kemarin. Levi hanya sendirian di ruanganya saat itu.

Tak lama kemudian...

Waktu sudah menunjukkan pukul 2 dini hari. Levi memijit pelipisnya, ia sudah cukup lelah, hampir 12 jam ia terus berhadapan dengan laptop yang dianggapnya bodoh. Berkas-berkas di mejanya ia rapikan dan ia banting. Levi beranjak dari tempat duduknya, untuk membongkar map-map di kontainer kecil minimalis 5 susun di samping meja kerjanya, ia membukanya satu persatu. Tak sengaja di sela-sela salah 1 map berisi dokumen kasus penyiksaan anak dibawah umur yang ia tangani bersama timnya setahun yang lalu, terselip sebuah foto seorang wanita berambut seleher berwarna caramel, bermata besar indah seperti madu memakai dress pink muda selutut bermotif dedaunan dengan high heel berwarna sama dengan warna rambutnya, di telinganya memakai giwang rose berwarna pink sesuai dengan warna dress yang ia pakai, sangat cantik dan elegan. Levi mencoba mengingat-ingat kapan foto itu diambil.

Backsound on: Charlie Puth ft Selena Gomez – We don't Talk Anymore

Hmm...kalau tidak salah ini foto sekitar 3 tahun yang lalu, tepat saat ulang tahunku.

We don't talk anymore

We don't talk anymore

We don't talk anymore

Like we used to do

Levi terus memandangi foto itu dan menggeser tubuhnya ke jendela, ia menikmati pemandangan kelap kelip lampu perkotaan yang indah malam itu, sambil sesekali melihat foto yang ia pegang.

I just heard you found the one you've been looking

You've been looking for

I wish I would have known that wasn't me

Levi merenung, kemudian tersenyum, memiringkan bibirnya, menyeringai sambil tetap memandangi foto itu... "Apa kau puas sudah mendiamkanku selama setahun, hmm?! Kurasa kau menikmatinya..."

Don't wanna know

What kind of dress you're wearing tonight

If he's holding onto you so tight

The way I did before

Levi menaruh foto itu kembali. Kemudian ia membereskan mejanya, men shut down laptopnya, menutup dan menaruhnya ke dalam tas. Ia segera keluar dari ruanganya.

Ah ada yang lupa.

Every now and then I think you

Might want me to come show up at your door

But I'm just too afraid that I'll be wrong

Foto yang barusan ia pandangi, dimasukkan ke dalam tasnya. Lalu pergi.

We don't talk anymore

We don't talk anymore

We don't talk anymore

Like we used to do

Backsound off.

Dalam perjalanan pulang ke apartemen dengan Black Suburban Chevroletnya, Levi merasa ada yang membututinya. Ia tetap terlihat tenang dan memasang wajah datar sama seperti biasanya, sambil menambah kecepatan mobilnya. Selama kurang lebih setengah jam Levi berputar-putar menggitari beberapa jalan, yang sebenarnya apartemen tempat ia tinggal sudah lewat sekitar 2 km. Ia bermaksud untuk membuat orang yang mengikutinya itu bingung dan sedikit berpetualang di jalan raya yang sudah sepi. Levi mengambil sebuah Glock Gun 9mm dari sakunya, menarik slide agar recoil springnya ikut tetarik mendorong peluru yang ada di dalam magazine keatas, dengan mulutnya, pistolnya ia pegang dengan tangan kananya. Hal ini ia lakukan, agar ia bisa langsung melesatkan timah panas jika dalam keadaan darurat. Pistol ia taruh di kursi penumpang sebelah kanannya, dan sebilah pisau lipat 2 buah tersedia di sakunya.

Si brengsek ini tidak menyerah rupanya. Baiklah!

Levi memperhatikan orang yang mengikutinya dari jauh melalui kaca tengah di mobilnya. Orang itu menggunakan mobil Ford New Everest silver. Dan memutuskan untuk berhenti di sebuah bangunan bekas toko alat perkakas rumah yang sudah tidak terpakai, pistol ia ambil dan dimasukkan ke dalam pistol holster di pinggangnya. Levi keluar dari mobilnya dan menutup pintu mobil dengan sangat tenang, memperhatikan sekelilingnya dengan memutar matanya, lalu ia berjalan masuk ke dalam bangunan itu.

Akan kuberikan sebuah kejutan pada orang itu, aku tidak mau mengotori apartemenku.

Pria yang mengikutinya dari tadi melihat mobil Levi terparkir di depan bangunan usang itu kemudian memarkirkanya. Ia membawa pistol yang sama dengan yang digunakan Levi, memegangnya dengan kedua tangannya untuk bersedia menembakkanya kapanpun yang ia mau, berjalan masuk ke bangunan itu menelusuri setiap sudutnya dengan mode siaga. Orang itu sudah tau kalau Levi sepertinya menyadari bahwa ia mengikutinya, namun jujur saja ia sama sekali tidak tahu orang seperti apa yang akan dia incar ini. Ia malah beranggapan Levi hanyalah agen federal bodoh yang bekerja memecahkan berbagai kasus supaya dikenal banyak orang dan dicap sebagai pahlawan. Dan akibat ketidaktahuanya akan orang yang menjadi targetnya ini, maka:

"Buak!" seketika Levi muncul dari balik tembok dan menendang tangan pria itu dengan sekali tendangan, pistolnya jatuh terseret sekitar 10 meter. Levi melancarkan tendangan 360o nya ke wajah pria itu. Pria itu mencoba memukulnya berkali-kali namun Levi selalu berhasil menghindarinya, sepertinya pria ini memang pecundang yang tidak bisa berkelahi sama sekali dan percobaan pukulan yang terakhir, Levi menahan tangan pria itu, menariknya, dan membantingkanya ke lantai. Merasa belum kalah, pria itu bangkit berdiri dan melihat sebuah balok kayu bersender di dinding, ia buru-buru mengambilnya. Sementara Levi tetap memakai tangan kosong. Pria itu mencoba memukul Levi dengan balok kayu yang dia ambil, Levi berhasil menghindarinya, sekali, dua kali, bahkan tiga kali. Dan yang terakhir, balok kayu itu hampir mengenai kepala Levi, namun pria itu tertipu, balok kayunya mengenai sasaran yang salah yaitu sebuah tembok di belakang Levi sebelumnya, alhasil balok kayu itu hancur, pria ini ternyata tenaganya sangat kuat. Levi menjauhi pria itu dan berjarak sekitar 1 meter, pria itu mengejarnya, namun Levi memukul perutnya dan memukul kepalanya dengan lutunya hingga tersungkur, Levi kembali menjauh, dan kali ini Levi lengah. Tanpa ia sadari, pria itu berada di dekat pistolnya yang jatuh tadi, ia mengambilnya dan langsung menembak. Beruntung Levi dapat berlari menghindarinya dan bersembunyi di balik tembok. Pria itu langsung kabur setelah gagal mengincarnya. Larinya sangat kencang, ia langsung menuju mobilnya dan memacunya dengan sangat cepat.

"Hei, tunggu!" Levi mengejarnya dan berteriak, mengeluarkan pistolnya dan menembaki mobil pria itu, namun pria itu sudah terlanjur jauh, hanya kaca belakangnya yang pecah terkena pelurunya, dan plat mobilnya ia tutup dengan kertas atau lakban hitam, sehingga tidak terlihat.

"Shit!" Levi mengumpat.

Yah, pria itu adalah Jason Clark, yang tewas 2 hari setelahnya, dan sempat berkejar-kejaran dengan Petra. Pagi-pagi sekali Levi kembali ke kantornya dan melaporkan pada atasan dan timnya bahwa ia habis diserang seseorang tak dikenal.

Flashback off...


Hari ke-10 penyelidikan...

[Rumah Golder Sean]

"FBI!" Levi mendobrak pintu rumah Golder Sean. Tidak ada batang hidungnya sama sekali. Auruo dan Moses menelusuri tiap ruangan di rumah itu.

"Clear!"

"Clear!"

"Disini, clear!" Levi yang terakhir.

Tim SFPD:

"All clear!"

Tepat di sebrang rumah Golder Sean, terdapat sebuah danau kecil, Levi dan Moses bersama 2 orang police officers berjalan keluar rumah, sekitar 100 meter. Terlihat seorang anak kecil menangis karena bonekanya jatuh ke danau itu. Moses tak sengaja melihatnya dan segera menghampirinya. Intinya anak kecil yang berjenis kelamin perempuan itu ingin bonekanya kembali ke pelukanya. Sementara Levi yang membawa sub machine gun jenis MP5 tetap bersiaga, senjata yang selalu ia gunakan saat memburu tersangka berbahaya. Jenis senjata sub machine gun yang digunakan pasukan elit Jerman KSK Kommando Spezialkrafte.

"Baiklah gadis kecil, aku akan mengambilkanya untukmu!" Moses segera melepas rompi anti pelurunya dan menenggelamkan kakinya untuk mengambil boneka itu. Anak itu berterima kasih padanya dan segera berlari, sampai ia benar-benar hilang. Namun saat Moses ingin menggunakan kembali rompinya...

"Doorr...doooor...dooooor..." terdengar suara tembakan bertubi-tubi dari jenis machine gun, mengarah ke Moses dan 2 police officers. Sebelum Moses mengeluarkan pistolnya, tubuhnya telah terlanjur dihujani banyak peluru, ia tersungkur seketika, dan 2 police officers berhasil selamat karena masih menggunakan rompi anti peluru dan juga bersembunyi di balik mobil polisi.

"Moses..." Levi berteriak.

Kemudian ia menembakkan machine gun nya ke arah seseorang yang melakukan penembakan tiba-tiba itu, Levi berhasil mengenai tangan orang itu hingga terluka mengeluarkan darah sehingga senjatanya terjatuh. Levi berlari mendekatinya dan memukulkan senjatanya pada kepala orang itu hingga pingsan. Dan ternyata dia adalah Golder Sean. Levi membiarkan ia tergeletak sementara, lalu segera berlari menuju tubuh Moses yang tergeletak. Moses masih bernapas, tersenggal-sengal, menahan sakit yang teramat sangat, darah keluar dari mulutnya. Levi mengambil sebuah sapu tangan dari sakunya dan mengelap darah yang keluar dari mulut Moses.

"Moses! Bertahanlah! Kau akan baik-baik saja! Kau bersamaku!"

Levi segera menekan headset yang menempel di telinganya sebagai sambungan HT (radio 2 arah), alat wajib agen FBI saat bertugas.

"Tolong segera kirimkan tim medis, seorang agen federal terluka parah! Aku ulangi! Tolong segera kirimkan tim medis, seorang agen federal terluka parah! Secepatnya!"

"Moses lihatlah aku!"

"Moses..."

"Moses..."

"A...ak...ti..dak bi...sa, so...sorry!" kata-kata terakhir dari Moses.

Sementara itu saat Levi sibuk memberikan motivasi bertahan hidup pada Moses...

Muncul seorang lagi membawa machine gun dengan peredam yang segera bergegas keluar dari semak-semak tempat persembunyianya menuju ke arah rumah, dan menembakkan tanpa henti rumah milik Golder Sean tersebut, alhasil semua kaca-kaca pecah berkeping-keping. Auruo beserta 3 police officers sisanya, berlarian untuk mencari tempat perlindungan. Setelah sekitar 6 menit machine gun itu menembaki mereka semua, akhirnya keadaan kembali sunyi.

2 police officers yang tadi bersembunyi di belakang mobil polisi dipukul pundaknya dengan sebuah tongkat bisbol hingga pingsan oleh seseorang yang tiba-tiba muncul dari belakang, dan 3 police officers yang berada di dalam rumah, masing-masing dipukul dengan 3 balok kayu oleh 3 orang. Auruo yang saat itu ingin menyusul Levi, seketika diserang dengan semacam gas tidur hingga ia menjadi setengah sadar, dan saat itu seseorang menghajarnya bertubi-tubi hingga tulang rusuknya patah. Auruo tidak bisa melawan karena ia mulai tak sadarkan diri, sehingga akhirnya dia tumbang, beruntung ia tidak mati.

Moses akhirnya tewas setelah beberapa menit berjuang melawan kesakitan akibat banyak peluru menancap di tubuhnya yang tidak menggunakan rompi anti peluru. Hampir seluruh organ-organ pentingnya terkena peluru. Levi tercekat, serasa ada yang mencekik lehernya dengan kuat, jantungnya berdetak tak karuan, kepalanya pening, nafasnya tidak terkendali, ia yang biasanya tenang, menjadi seperti orang tolol yang tidak bisa melindungi rekan-rekanya dan hanya bisa meratapi kepergian salah 1 anggotanya. Sangking sedihnya, ia sampai tidak bisa mengeluarkan air mata setetes pun. Ia kemudian berlari menuju ke dalam rumah, untuk melihat keadaan, namun saat ia masuk, dia terkejut melihat semuanya tergeletak tak sadarkan diri. Levi lalu menghampiri Auruo yang terluka parah, ia pegang lehernya, masih bernafas, ia lega. Dan melihat police officers lainya, mereka hanya pingsan.

"Seorang agen federal terluka parah dan 5 police officers pingsan! Aku ulangi Seorang agen federal terluka parah dan 5 police officers pingsan!".

Ia melanjutkan... "1 agen federal wafat saat bertugas!" Levi berbicara lewat headset HTnya dengan tatapan kosong dan suara seperti orang yang putus asa. Tak sengaja ia melihat 4 orang berlarian untuk kabur menuju ke mobil yang sudah ada seorang supir di dalamnya, Levi tidak tinggal diam, ia segera menembakkan MP5 nya ke arah mereka, 1 orang terkena di bagian lenganya, 1 orang terkena di bagian kakinya, 2 orang itu tersungkur. Dan 2 orang lainya berhasil masuk mobil dan kabur dengan kecepatan tinggi. 3 orang yang berada di mobil langsung mengambil machine gun dan menembakkanya berkali-kali ke arah Levi, beruntung Levi segera berlari melompat ke dalam rumah, tiarap dan bersembunyi di bawah jendela yang tertutup tembok. Selang beberapa menit setelah mereka berhasil kabur, tim bantuan datang termasuk tim medis. 3 orang berhasil tertangkap, termasuk Golder Sean.


Keesokan harinya...

Suasana haru menyelimuti pemakaman Moses siang itu. Ia dimakamkan dengan hormat. Para agen FBI berkumpul di kota San Fransisco untuk menghormati sang mendiang. Sejumlah karangan bunga mengelilingi peti jenazah serta bau anyelir yang semerbak kemana-mana. Sang pendeta memulai kebaktianya dan berpidato menjelaskan tentang kematian manusia dan sebagainya. Levi berdiri di barisan paling depan tepat di samping makam, bersama anggota timnya Erd, Gunther, Nifa, dan Eren, tanpa Auruo yang sedang dirawat di rumah sakit. Nifa tak henti-hentinya menangis di pelukan Gunther, sementara yang memeluk hanya diam murung. Erd menundukkan kepalanya, Eren sedikit mengeluarkan air mata, ia terlihat menahan kesedihan, sedangkan Levi, wajahnya pucat, dan hanya melihat makam Moses dengan tatapan kosong.

Sementara itu...

Tanpa Levi dan tim nya ketahui, Petra sudah berada di Pemakaman Moses saat itu, namun di barisan tengah, tapi ia tetap dapat melihat peti jenazah beserta pendeta yang memimpin kebaktian. Ia baru saja tiba di San Fransisco 3 jam yang lalu. Saat mendengar Moses tewas, ia lantas langsung menuju ke pemakaman. Bulir-bulir air mata keluar sedikit demi sedikit dari kedua mata Petra, berkali-kali ia usap dengan tanganya, tapi terus saja keluar. Bagaimana tidak, Moses rekan 1 timnya dulu, dia adalah pria yang hangat, tidak banyak bicara, dan sangat sopan saat berbicara. Meskipun begitu dia adalah agen yang hebat, cerdas dan juga tenang dalam bertindak. Bahkan Moses adalah orang pertama yang mengingat hari ulang tahunya setahun lalu, dan langsung memberikanya ucapan beserta kado sebuah jam tangan. Mengingat hal itu, lantas air mata Petra mengalir lebih deras.

Tak lama kemudian...setelah 2 jam melalui prosesi pemakaman...

Semua orang-orang yang menghadiri pemakaman Moses mulai meninggalkan pemakaman sedikit demi sedikit. Tak sengaja Petra melihat Levi yang sedang tertunduk dari sebrang tempat dirinya berdiri. Petra melihatnya dengan penuh kekhawatiran, karena baru kali ini Levi terlihat kacau. Saat itu ingin sekali ia datang dan memeluknya, namun keadaan hubunganya dengan Levi, menjadikan tindakanya itu mustahil. Beberapa detik kemudian Levi berjalan cepat meninggalkan pemakaman tanpa menghiraukan teman-temanya, ia berjalan menuju mobilnya dengan mengepalkan kedua tanganya seperti ingin balas dendam dan segera memacunya dengan kecepatan tinggi. Erd, Gunther, Nifa dan Eren yang masih ada di situ, hanya melihat Team Leadernya berlalu. Begitu juga dengan Petra yang masih memperhatikanya dengan wajah penuh kecemasan dari kejauhan.

Petra segera berlari dengan maksud menyusul Levi, namun langkahnya terhenti seketika karena Nifa memanggil namanya.

"Petra!"

Petra menoleh...

"Nifa!" mereka berpelukan, sambil menangis.

Erd, Gunther dan Eren bergantian memeluknya. Dan Levi masih tidak tahu keberadaan Petra di San Fransisco.


Golder Sean duduk di sebuah kursi, di sel bawah tanah, tahanan khusus untuk kriminal kelas kakap. Seorang sipir mengajaknya ke luar menuju ruang penyiksaan. Tubuhnya diikat pada kursi tempat ia duduk dengan rantai. Posisi kedua tanganya, berada di paha.

Tak lama kemudian...

Levi datang dengan membawa sebuah tang, kain tebal dan pisau lipat yang senantiasa berada di saku celananya. Ia masih mengenakan kemeja hitam long sleeves yang lenganya ia gulung dan celana hitam, pakaian berkabung. Levi memukul kepala Sean, sangat keras hingga giginya lepas, beruntung kepalanya tidak hancur.

"Katakan! Dimana Esteban Alejandro berada?" mendengar pertanyaan Levi, Sean malah tertawa. Levi langsung mengambil tang dan memotong jempol tangan kirinya.

"Aaaarrrrggggh..." teriakan Sean terdengar hingga keluar. Levi menarik rambutnya dan mendekatkan wajahnya.

"Dimana Esteban Alejandro berada?"

"Hosh...hosh...hosh...Agent Ackerman, huh?! Hidupmu tidak akan lama!" menyeringai. Mendengar perkataan Sean, Levi memotong jari telunjuk tangan kirinya. Sekarang Sean kehilangan 2 jarinya. Ia kembali berteriak.

"Hei bajingan! Aku tidak segan-segan untuk membunuhmu lho! Jadi...segera katakan, dimana si brengsek tua bangka itu berada?" Levi menggertak dengan wajah datar namun penuh emosi.

"Hosh...hosh...hosh..." nafas Sean mulai tersengal.

Diam sejenak...

"Bagaimana menyaksikan...rekanmu mati di depan mata? Sementara kau hanya seperti orang tolol yang tidak bisa berbuat apa-apa? Apakah menyenangkan, huh Agent Ackerman?!", seketika itu Levi langsung memasukkan sebuah kain tebal yang ia bentuk bola, lalu memasukkanya pada mulut Sean. Levi menekanya dengan kuat seolah-olah bola kain itu dipaksa untuk ditelan. Kemudian Levi melanjutkan memotong jari tengah Sean sambil mulutnya disumpal dengan bola kain.

"Kau masih tidak mau menjawab huh?" menarik rambut Sean dengan kasar sambil menatap matanya tajam. Sean diam saja.

Beberapa detik kemudian...

"Ok, kau tidak mau menjawabnya ya?!" Levi segera mengambil pisau dari sakunya dan mengasah pada tanganya.

"Kalau tidak salah kau telah mengambil penis 3 orang pria yang kau bunuh kan?!"

"Maka...kau akan merasakanya juga, brengsek!" Levi segera membuka celana pria itu namun tiba-tiba...

"Tidaaaaaakkk...tidaaaaakkkk...jangaaaan!" Sean berteriak.

"Jangan potong penisku, kumohon! Jangan! Itu sangat berharga bagiku!"

Levi menarik rambutnya lagi... "Kalau gitu segera katakan padaku!"

"Baiklah...baiklah...akan...kukatakan...akan kukatakan!"

"Esteban Alejandro berada di sebuah gedung bertingkat bertuliskan ES besar di gedungnya, di Jalan Emerson, di pinggiran California. Jarak dari sini ke tempat itu sekitar 1 jam. Sebaiknya kau berhati-hati jika pergi kesana, banyak anak buahnya dan semua bersenjata. Kau akan mengalami kesulitan untuk keluar hidup-hidup...hosh...hosh...hosh..."

Levi terdiam sejenak sambil menatap Sean tajam...

"Itu yang terjadi jika orang macam kau yang pergi kesana!" Levi mendorong kepala Sean dengan kasar, lalu segera membuka pintu sel, berjalan untuk keluar meninggalkan Sean begitu saja dengan maksud menuju tempat yang Sean maksud. Namun tiba-tiba:

"Petra Ral!"

Levi menghentikan langkahnya, mendengar nama Petra disebut oleh penjahat brengsek di dalam sel.

"Pacarmu yang cantik itu akan menjadi korban Esteban selanjutnya!" mendengar perkataan Sean, Levi berbalik dan mendekati Sean lalu menarik rambutnya.

"Berani-beraninya mulut kotormu menyebutkan nama itu, huh?! Dasar bajingan!" ia memukul Sean lagi dengan tatapan mengerikan.

"Apa maksud perkataanmu? Cepat katakan! Atau aku potong penismu!"

"Jangan...jangan...please! Yah Esteban akan menculik Agent Ral, dan akan membunuhnya. Sejam yang lalu ia mengabariku kalau pacarmu itu berada di tengah kota setelah menghadiri pemakaman rekanmu yang mati!"

"Petra ada di sini?"

"Yes..."

Levi segera meninggalkan Sean seorang diri, dengan langkah terburu-buru.

"Sipir! Potong penis orang itu! Dan lakukan apa yang kau suka!" kata Levi sambil berlalu. Si sipir menyeringai lebar.

"Tidaaaaakkk...jangaaaaaannnnnnnnnn!—"


[Saat di mobil]

"Halo Hanji, apa benar Petra sedang ada di San Fransisco sekarang?" tanya Levi.

Hanji menjawab telepon Levi dengan nada terisak. Ia habis menangis parah, karena mendengar Moses tewas. Dan yang membuatnya semakin sedih, ia tidak dapat menghadiri pemakaman Moses.

"Ya, Levi...oh iya, yes...yes...betul! Petra berangkat sekitar 6 jam yang lalu..." mengambil tisu untuk mengeluarkan ingusnya.

"Berapa kode Suburban yang ia pakai di San Fransisco?"

Masih terisak...

"1254SA, memangnya ada apa Levi?" sebelum mendapat jawaban yang jelas, Levi langsung menutup teleponya, ia segera menyetting GPS mobilnya. Dan memacu kecepatan mobilnya sampai kecepatan maksimal.

"Huaaaaaa..." Hanji menangis lagi.


Petra memacu mobilnya dengan tidak tenang. Wajahnya terlihat cemas. Ia sangat mengkhawatirkan keadaan Levi, terlebih lagi ia baru saja mengetahui kalau Levi adalah target sebenarnya dari otak kasus ini, Esteban Alejandro. Ia memutuskan untuk ke kantor SFPD, namun hasilnya nihil. Ia tidak menemukan Levi, para police officers bilang 2 jam yang lalu Levi baru saja dari sini untuk melakukan interogasi sekaligus penyiksaan terhadap Golder Sean. Petra segera keluar dari kantor SFPD, GPS mobilnya tiba-tiba mengalami kerusakan, ponsel serta tabletnya ketinggalan di tasnya yang ia titipkan Nifa saat di pemakaman, karena otaknya hanya dipenuhi kekhawatirannya terhadap Levi, ia jadi lupa segalanya. Saat Petra berada di sebuah perempatan jalan yang sepi, ia melihat seorang pria tua memakai tongkat tepat di depanya seperti sedang kesusahan berjalan dengan maksud menyebrang. Petra keluar dari mobilnya dan segera membantu kakek itu, dan setelah berhasil menyebrang kakek itu mengeluarkan sebuah gas penidur yang ditaruh di botol parfum Dolce&Gabbana yang sengaja ia arahkan tepat ke hidung Petra, alhasil Petra mulai mengantuk dan akhirnya tertidur pulas. Kakek itu segera membuka penyamaranya, yang ternyata adalah Robert Jeans. Ia mengikat tangan Petra ke belakang dan melakban mulutnya, lalu membawanya masuk ke mobil untuk mengajaknya ke markas besarnya. Ajaib GPS di mobil Petra kembali seperti semula.

Sementara itu...

Beruntung sekitar 15 menit GPS mobil Levi menangkap sinyal keberadaan Petra yang pada akhirnya sinyal menjadi hilang sama sekali.

"Sial!" Levi tetap pada kecepatan 160 km/jam.

Selang 15 menit...GPS Petra kembali memancarkan sinyal dan jarak mobil Petra hanya 1 km dari Levi. Tak lama kemudian Levi sampai di perempatan jalan yang Petra lintasi sebelumnya, ia segera keluar dari mobilnya, sayangnya ia hanya menemukan mobil yang Petra kendarai. Wajah Levi terlihat sangat kecewa dan khawatir mengetahui bahwa dia terlambat menemukan Petra, ia meremas kepalanya. Tiba-tiba ia menerima telepon dari hidden number.

"Halo Agent Ackerman!"

"Siapa ini?" tanya Levi datar namun dengan nada khawatir.

"Tak kusangka orang sepertimu ternyata mempunyai selera yang bagus. Betapa senangnya aku melihat pacarmu yang cantik itu ketakutan!"

"Jangan coba-coba kau menyentuhnya dengan tangan kotormu itu atau akan kupotong kepalamu!"

"Hahaha...kau sadis sekali ternyata".

"Kalau kau ingin bertemu denganya, silahkan datang ke istanaku, dalam waktu 1 jam jika kau terlambat, maka kau akan melihat tubuh Agent Ral hancur! Karena...saat ini ia berada di ketinggian 50 meter"

"Oh dan 1 lagi, kalau kau ingin pacarmu selamat, jangan ada bau-bau agen federal ataupun polisi di sekitar rumahku! Dan jangan membawa senjata apapun, aku ingin melihat kemampuanmu!" langsung menutup teleponya.

"Halo! Halo!" telepon terlanjur ditutup.

"Brengsek!"

Astaga, Petra kan takut ketinggian.

Levi segera berlari masuk ke mobilnya dan memacunya dengan kecepatan tinggi.


Petra ketakutan setengah mati. Tubuhnya diikat di sebuah plat besi berlubang sebagai penghubung tali pengikat dengan tinggi sekitar 2 meter dan ketebalan 1 cm yang dihubungkan dengan perancah bangunan besi yang dapat digerakkan dengan sebuah tombol yang tersimpan di ruang multimedia. Nafasnya tersendat-sendat, tubuhnya berkeringat dingin, air matanya mengalir tanpa henti, jantungnya berdetak cepat, ia sangat phobia ketinggian. Ia berada di gedung lantai paling atas, dan tubuhnya diletakkan di ketinggian 50 meter yang seketika akan langung mati saat dia jatuh. Banyak kendaraan melintas di bawahnya namun tidak terlalu ramai, karena tempat ini berada di pinggiran kota. Esteban yang sedang duduk menikmati vodka Circo ditemani oleh 2 wanita penghibur berpakaian sexy di kantor pribadinya yang mewah, melihat Petra dari balik kaca ruanganya. Ia sangat terhibur melihat tubuh mungil Petra yang gemetaran berkeringat dingin. Sesekali ia tertawa terbahak-bahak jika membayangkan wajah musuh besarnya melihat orang yang dicintainya mati mengenaskan. 2 wanita penghibur itu asyik berbincang dengan Esteban.

Beberapa menit kemudian...

Levi memarkirkan mobilnya sekitar 100 meter dari gedung itu. Ia mengendap-ngendap memperhatikanya dari kejauhan. Banyak anak buah Esteban sedang berjaga diluar dengan membawa pedang. Ia berjalan pelan-pelan bersembunyi di setiap pilar-pilar yang ada di depan markas Esteban. Ada sekitar 4 orang, yang 2 di bagian depan, 2 lagi di belakang. 2 orang di depan sedang santai sepertinya, melihat hal itu Levi tidak menyia-nyiakan kesempatan. Ia memberikanya sebuah kejutan dari belakang, dengan menarik lehernya dan memukul tengkuknya dengan tenang tanpa menimbulkan suara, hingga pingsan. Kemudian Levi melakukan hal yang sama dengan orang yang di sebelah kiri, ia mengambil pedangnya dan memukul wajahnya dengan pedang terbalik hingga pingsan. Begitu juga 2 orang di belakang gedung, tak perlu waktu lama bagi Levi untuk menghabisinya. 4 orang tumbang. Levi membawa 2 buah pedang di tangan kanan dan kirinya yang dia ambil dari salah 2 orang dari mereka.

Kemudian Levi berjalan masuk ke dalam, tidak ada seorang pun. Gedung itu kosong, walaupun dari luar terlihat mewah, hanya terdiri dari pilar-pilar berjumlah 4, dan tangga-tangga untuk menuju ke lantai berikutnya, tidak ada lift, beruntung gedung itu bersih. Levi segera menaiki tangga dengan berlari agar ia bisa segera menuju tempat Petra berada. Dan tidak ada yang berbeda dari setiap lantai, semuanya sama, hanya pilar dan tangga. Namun saat di lantai 3, kejutan datang.

Anak buah Esteban berjumlah sekitar 10 orang tiba-tiba muncul, dan mendekati Levi perlahan dengan wajah menyeringai membawa balok kayu. Levi menatap mereka satu persatu dengan mata tajamnya sambil mundur perlahan, bersiaga dengan 2 pedangnya jika sewaktu-waktu salah 1 dari mereka menyerang.

Tiba-tiba...

10 orang itu langsung menyerang bersamaan. Dan Levi langsung memutar tubuhnya 360o untuk balik menyerang mereka 1 persatu.

"Slash!" 1 orang mati, kepalanya putus.

"Slash!" 1 orang lagi tanganya putus.

"Slash!" 2 orang sekaligus tubuhnya terbelah 2.

Darah berceceran dimana-mana, termasuk di tangan Levi, wajah, dan kemejanya.

Tch! Shit!.

Sisanya...Levi memanfaatkan tubuh mereka sebagai tameng.

1 orang mencoba memukul, 1 orang Levi tarik tubuhnya, untuk melindunginya. Sehingga mereka saling memukul satu sama lain. Begitu seterusnya.

"Brak!" 3 orang saling melemparkan balok yang sebenarnya diarahkan ke Levi. Tapi Levi menangkisnya dengan memanfaatkan tubuh teman mereka sendiri.

"Slash!" 1 orang urat nadi di lehernya putus, Levi memotongnya dari belakang.

"Slash! Slash! Slash!" 2 orang Levi cabik-cabik tubuhnya, hingga mati.

10 menit kemudian...

Dan yang terakhir, terlihat tergeletak namun belum mati. Levi lalu menancapkan pedangnya ke tubuh orang itu.

"Crattt!"

Yup, 10 orang mati dalam waktu yang singkat.

Merepotkan saja, brengsek!

Tanpa Levi ketahui, ada sekitar 20 orang anak buah Esteban bersembunyi di balik dinding-dinding di lantai 3. Saat Levi menaikki tangga menuju lantai 4, mereka semua keluar secara bersamaan dengan wajah yang sebenarnya agak ketakutan karena melihat keganasan Levi dalam membunuh 10 orang dalam waktu 10 menit tanpa luka sedikitpun. Levi berbalik dan kembali turun ke lantai 3. Anak buah Esteban yang berjumlah 20 masih memasang mode siaga dengan sebuah balok di tangan masing-masing menggitari Levi yang seorang diri. Levi menatap wajah mereka satu persatu dengan mata tajamnya, dan hanya memegang 1 pedang.

"Ternyata kalian semua pengecut ya! Beraninya main kroyok!" kata Levi.

"Ayo maju!" lanjut Levi.

5 orang maju...

"Slash! Slash! Slash!" Levi memotong tangan 5 orang itu sekaligus, kali ini dia melakukan gerakan straight/lurus, hanya membalik-balikkan tubuhnya. Karena ia hanya memakai 1 pedang.

Sial! Pedangku sudah tumpul!

Levi mengambil 2 buah balok dari salah 2 orang yang sudah mati. Ia kembali melancarkan serangan 360o nya ke 10 orang sekaligus, Levi memukulnya dengan 2 balok di tanganya hingga leher mereka patah, karena Levi mengincar tulang leher. Yap, 15 orang mati.

15 menit...

Tinggal 5 orang lagi!

Nafas Levi sudah mulai tersengal berlomba-lomba dengan detak jantungnya yang tidak kalah cepatnya. Ia segera mengambil 2 buah pisau dari sakunya dan melempar ke arah leher 2 diantara 5 orang tersisa yang berdiri di hadapanya.

"Crattt!" tepat mengenai urat nadi, dan mati.

Sebelum 3 orang lain yang tersisa menyadarinya, Levi dengan cepatnya memukul kepala mereka dengan sebuah balok yang ia pegang dengan gerakan yang sama saat ia bertarung menggunakan 1 pedang. 3 orang itu tersungkur, beruntung mereka tidak mati. Levi memutuskan untuk tidak membunuhnya, karena ia sudah menghabiskan banyak waktu.

Lanjut ke lantai 4...

Karena terlihat kosong, Levi meneruskan ke lantai 5, yaitu lantai terakhir. Dan di bagian atap paling atas, disitulah Petra berada. Namun saat Levi menaiki tangga menuju ke lantai 5...

Hosh...hosh...hosh...Levi bernafas agak tersengal...

Suara tepuk tangan...

"Agent Ackerman! Kau...luar biasa sekali!" Levi berjalan mundur menuruni kembali tangga itu ke lantai 4. Levi menatap mata orang itu dengan tatapan pembunuh. Dan orang itu ternyata adalah Robert Jeans, ia hanya sendirian.

"Ternyata memang betul kau bukan orang sembarangan. Makanya si idiot Jason itu tidak mampu membunuhmu" sambil terus bertatap mata.

"Aku ingin buat perjanjian denganmu!"

"Bergabunglah dengan kami! Esteban akan membayarmu dengan bayaran yang sangat tinggi, bahkan mengalahkan gajimu sebagai agen federal!"

Diam sejenak...

"Kalau aku tidak mau?"

"Oh ayolah Ackerman! Ini kesempatan yang bagus untukmu. Kau akan diistimewakan oleh Esteban jika kau mau bekerja untuknya. Kau akan mendapatkan rumah mewah, mobil mewah, uang banyak, disegani banyak orang, dan tentunya wanita-wanita cantik".

Mendengar perkataan Jeans, telinga Levi menjadi panas.

"Kau itu ngomong apa? Telingaku jadi sakit mendengarnya!" kata Levi.

"Asal kau tau, aku tidak akan pernah mau bekerja dengan orang-orang kotor seperti kalian! Kalian hanya sekumpulan babi bermulut besar, berotak keledai!"

Jeans tertawa...

"Begitu ya?!" Jeans mengambil tabletnya dan menunjukkan live video Petra yang sedang terikat dengan wajah ketakutan. Levi melebarkan matanya.

"Bajingan!" Levi mengumpat.

"Apa kau tidak sadar hmm?! Kau sudah membuang waktu sekitar setengah jam untuk menghadapi bawahan-bawahan bodohku?!"

"Karena kau tidak mau membuat perjanjian denganku, maka kau harus melawanku disini. Dan jika dalam waktu 15 menit kau tidak berhasil melawanku, pacarmu ini akan segera mati!"

Levi memasang mode siap bertarung, mengepalkan kedua tanganya.

"Aku akan mengalahkanmu, brengsek!" Levi menekankan kata-katanya dengan wajah tenang dan tatapan siap menerkam mangsa.

"Aku akan melayanimu dengan tangan kosong, Ackerman!"

Perkelahian mereka berlangsung sangat cepat. Memukul, menendang, menangkis, sama-sama cepat, sama-sama akurat, dan sama-sama kuat. Keduanya sama-sama memiliki kemampuan berkelahi diatas rata-rata. Dan yang paling penting, Levi dan Jeans sama-sama mantan pasukan khusus paling ditakuti di dunia. Suara gaduh mendominasi pertarungan 1 lawan 1 itu. Jeans, orang pertama yang terjatuh, sebab Levi memukul punggung atasnya dengan sikut kirinya. Stamina Levi tetap terjaga walaupun sebelumnya ia sudah banyak menghabiskan tenaganya untuk menghabisi anak buah Esteban. Perbedaan tinggi 20 cm pun tidak masalah bagi Levi.

"Ayo bangun!"

Jeans melihat Levi, lalu bangkit berdiri.

"Heyaaahh..."

Jeans melancarkan pukulan demi pukulan, tendangan demi tendangan, dan Levi dapat menangkisnya balik. Namun kemudian, Jeans berhasil memukul wajah Levi dan menendangnya hingga Levi jatuh terduduk. Darah mengalir dari mulut Levi, lalu langsung dihapus menggunakan tanganya dan meludah.

"Tch!"

Jeans menyeringai...

Levi berdiri kembali, kepala dan kedua tanganya melakukan stretch siap untuk bertarung kembali.

5 menit...

10 menit...

Keduanya saling menendang hingga sama-sama tersungkur, karena terkena tendangan di perut, Jeans muntah darah, sementara Levi terdapat banyak luka di wajahnya, dan giginya berdarah.

Sial! Aku harus cepat mengalahkan si brengsek ini! Kalau tidak Petra akan...

Levi berusaha sekuat tenaga untuk bangkit, yang diingatnya hanya Petra, walaupun tubuhnya sempoyongan, ia akhirnya berhasil berdiri sempurna. Dan ternyata Jeans juga sama.

Ritme pertarungan agak melambat, karena tubuh keduanya sudah mulai tumbang.

12 menit...

Jeans melingkarkan tangan kananya ke leher Levi, ia mencekiknya. Levi kesulitan bernafas selama beberapa detik.

13 menit...

Levi segera menahan tangan Jeans dan membalikkan tubuhnya ke lantai. Jeans tersungkur.

14 menit...

Jeans tersungkur dengan posisi terlentang, dan Levi tidak menyia-nyiakan kesempatan ini. Ia langsung melingkarkan tangan kirinya ke leher Jeans, dan tangan kananya di kepala Jeans. Lalu...

"Krak!"

Levi mematahkan lehernya. Jeans pun akhirnya tewas. Levi segera berlari ke atap paling atas, ia harus menguatkan dirinya yang sebenarnya sudah lelah. Akhirnya ia menemukan Petra. Levi mengetahui bahwa besi-besi yang menopang tubuh Petra dapat digerakkan dengan mesin, sayangnya Levi tidak tahu dimana tombol-tombol tempat untuk menggerak-gerakkan besi itu. Lalu ia memutuskan untuk mendekati Petra yang masih tergantung, untuk memberikan sebuah pertolongan pertama/semacam dorongan psikologi. Ia naik ke dinding pembatas.

"Petra!"

Petra menoleh, dengan wajah pucat, pipinya basah karena air mata yang terus mengalir akibat ketakutanya.

"Levi...aku takut..."

"Petra dengarkan aku baik-baik, okay?! Tetaplah menatapku!" Petra mengangguk.

"Jangan sekalipun kau melihat kebawah! Aku ulangi, jangan sekalipun kau melihat ke bawah!"

"Kau adalah wanita yang kuat. Kau harus bisa melawan ketakutanmu itu!

Diam sejenak...

"Sekarang menghadaplah ke depan, dan pejamkan matamu!" Petra menuruti perkataan Levi.

"Bayangkan kau sedang berada di taman bunga yang indah bersamaku. Kau ingat kan dulu aku sering mengajakmu ke taman The Highline untuk menikmati tanaman-tanaman cantik disana".

Petra memejamkan matanya, sambil mengingat-ngingat kenangan-kenanganya bersama Levi.

"Pertama kali kita bertemu di SMA Manhattan Bridges, kau adalah siswa yang tidak pernah menerima kekalahan dariku. Aku selalu rangking 1, diatasmu"

"Saat kita berpacaran dulu kita sering makan di Eisenberg's Classic berdua, sering berlibur bersama ke Maldives, menjemputku saat aku pulang untuk berlibur dari training militer dan mengajakku menaiki kereta gantung di Roosevelt Island, dan apakah kau masih ingat tempat pertama kali kita kencan?!"

Petra mulai tersenyum...

Baguslah! Ia mulai tenang.

"Brooklyn Bridge Park!" Petra melanjutkan.

"Yes, dan 1 hal lagi yang harus kau tau, Petra!"

Diam sejenak...

"Aku masih mencintaimu".

"Mencintaimu, selamanya. Sampai salah 1 dari kita mati—".

Tiba-tiba Esteban muncul mengarahkan sebuah pistol ke arah Levi. Ia berdiri di belakangnya.

"Turun kau dari situ!"

Levi mengangkat kedua tanganya, dan perlahan menuruni tembok pembatas. Dan sekarang posisinya berhadapan dengan Esteban. Pistol mengarah ke kepala Levi, jaraknya hanya sekitar 1 cm.

"Levi..." Petra memanggil namanya.

"Petra, tolong tunggu sebentar lagi. Tetaplah seperti itu, okay?! Percayalah padaku!"

Petra mengangguk, matanya masih terpejam.

"Jadi, sebenarnya apa yang kau inginkan dariku?"

"Aku hanya ingin membuatmu merasakan kehilangan seseorang yang kau sayang!"

Levi menatap Esteban dengan tatapan tajam, sambil sesekali menggerakkan matanya ke sekelilingnya, alih-alih untuk mencari ide untuk menyerang Esteban tiba-tiba.

"Lepaskan Petra! Aku sudah ada disini!"

"Kau terlambat 5 menit!"

Plat besi yang mengikat Petra tiba-tiba bergerak perlahan.

"Oh, my God...Levi, help me!"

"Petra, tetaplah tenang, okay?! Jangan merasa takut sedikitpun, okay?!"

Beberapa detik kemudian...

"FBI! Put the gun down!"

Tim Levi, tim SFPD, dan tim SWAT dengan senjata lengkap dan rompi anti peluru telah mengepung istana milik Esteban. Sekitar 5 police officers gabungan telah mengarahkan pistolnya ke kepala Esteban, Erd salah satunya. Sementara police officers yang lainya termasuk Team Levi, Eren, Nifa, dan Gunther meringkus anak-anak buah Esteban yang bersembunyi dan masih hidup.

Yup, tepat pada waktunya teman-teman!

Levi langsung menahan tangan Esteban, menjatuhkan senjatanya, lalu mencengkram kepalanya, dan menghantamkan kepalanya ke dinding pembatas, hingga pingsan.

Tim SFPD menemukan ruang multimedia tempat tombol-tombol berada yang salah satunya untuk menggerakkan perancah yang menjadi penyangga besi tempat Petra diikat. Mereka lalu menurunkanya perlahan, dan melepas ikatan pada tubuh Petra. Levi menuntunya untuk turun. Kedua tangan Petra menggenggam lengan kekar Levi. Mereka berdua masih berdiri di atas tembok pembatas.

"Kau tidak apa-apa?" tanya Levi.

"Hmm...bagaimana denganmu?"

"Aku—"

"Oh my Gosh, wajahmu terluka Lev...dan banyak luka lebam..." Petra menyentuh wajah Levi dan melihatnya dengan seksama.

"Dan gigimu...berdarah..." Petra menggerak-gerakan gigi taring Levi yang goyang akibat pukulan. Levi menggenggam tangan Petra, dan menurunkanya.

"Kau jangan berlebihan bodoh! Ini tidak seberapa..." Petra memandangnya dengan wajah cemas. Saat itu Petra masih menggunakan kemeja hitam dan celana hitam warnanya sama dengan Levi, dan sepatu high heel hitam. Tiba-tiba Petra memeluk Levi dengan sangat erat. "Aku juga mencintaimu! Sangat!" katanya.

Erd berdehem... "Kalian berdua, tidak apa-apa kan?"

Mereka melepaskan pelukanya.

Levi melebarkan kedua tanganya... "Well, seperti yang kau lihat..."

Akhirnya Esteban dan beberapa anak buahnya yang masih hidup berhasil diringkus oleh tim kepolisian gabungan. Mereka dijebloskan ke penjara bawah tanah, penjara untuk tempat para kriminal paling berbahaya di San Fransisco. Esteban dijatuhi hukuman mati, sedangkan anak-anak buahnya dihukum 20 tahun penjara. Bisnis-bisnis haram Esteban dibubarkan, anak-anak buahnya yang ada di lain kota, semua ditangkap tanpa terkecuali, uang-uang yang pernah ia dan anak buahnya curi diperuntukkan untuk menolong korban-korban di Suriah. Dan gedung bekas markas Esteban dibeli pemerintah untuk dibangun rumah sakit khusus penderita HIV AIDS.

CASE CLOSED


Seminggu kemudian...

Keadaan Auruo di rumah sakit sudah mulai membaik, sebelumnya ia berada di RS San Fransisco. Namun kemudian keluarganya meminta supaya ia dipindahkan ke New York. Ia sudah bisa berjalan walaupun masih harus menggunakan tongkat. Levi dan timnya bergantian menjaganya di rumah sakit, membawakanya makanan-makanan enak, dan bernyanyi bersama menyanyikan lagu kesukaanya.

Sementara itu...

Pagi itu suara burung-burung saling bersaut-sautan satu sama lain, matahari mulai menampakkan dirinya dari jendela apartemen mewah lantai 5, rasanya hanya ingin bermalas-malasan saja di tempat tidur, tidak ingin bangkit. Entah mengapa sepertinya aku merasakan ada sesuatu yang kurang, tanganku meraba-raba sekitar tempat aku berbaring. Merasa tidak mendapatkan sesuatu, aku membelakkan mataku.

Oh, dimana ini.

Petra terkejut, karena pemandangan kamar apartemenya kelihatan sangat berbeda dari biasanya. Dan dia baru ingat.

Astaga, ini apartemen Levi. Bodohnya aku!

Tubuhnya tidak terbalut benang sedikitpun, hanya sebuah selimut lebar dan tebal bermotif macan yang menutupinya. Ia baru ingat semalam dia dan Levi meminum sebotol Budweiser bersama, dan mengakhirinya dengan sebuah "permainan" di atas tempat tidur Levi. Petra bangkit duduk mencari sesosok pria berambut hitam legam, namun tidak ketemu. Tepat di sebelah ranjang berukuran besar dan empuk itu, ada sebuah kemeja lengan panjang putih yang sengaja diletakkan di atas sebuah lemari pendek minimalis berbahan jati, terlipat rapi. Petra segera meraihnya dan menutupi tubuhnya dengan kemeja itu, panjangnya hanya sepaha. Kemudian Petra keluar kamar dan mendapati Levi yang sedang memasak sesuatu di dapur yang di ujungnya terdapat meja makan atau biasa disebut mini bar, bersih, tanpa debu sedikitpun. Saat itu Levi mengenakan kaos lengan panjang berwarna putih dan celana jeans hitam.

"Oh, hai pemalas. Sudah bangun rupanya." Levi menoleh sebentar lalu memasak lagi.

Petra memanyunkan bibirnya, lalu berjalan perlahan menduduki salah satu kursi mini bar. Ia meletakan kedua tanganya di dagu.

"Aku membuatkanmu sup asparagus dengan daging kepiting di dalamnya"

Tak lama kemudian...

Levi meletakkan panci berisi sup asparagus yang sudah matang di meja, dan mengambil 2 buah mangkuk, lalu menuangkan sup itu hanya ke satu mangkuk yang ia maksudkan untuk Petra. Ia duduk di sebelah Petra.

"Ini, makanlah!"

"Kau tidak makan?"

"Kau saja duluan. Aku masih ingin minum teh" kata Levi sambil menyeruput teh hitam favoritnya.

Petra menyendokkan sup itu ke mulutnya, tanpa sengaja kuah sup tumpah sedikit mengenai dadanya. Lalu kancing bajunya yang paling atas ia buka agar bisa ia bersihkan dan tidak menutupnya kembali. Melihat pemandangan itu, mata Levi tidak berkedip sedikitpun. Apalagi ditambah dengan kaki kanan Petra yang disilangkan keatas kaki kirinya yang membuat kemejanya tersingkap, sehingga terlihat pahanya yang putih mulus. Terbukti bahwa Petra sangat menjaga kecantikan kulitnya ditengah kesibukanya menjadi agen federal. Entah kenapa bagi Levi, Petra yang baru bangun tidur itu terlihat lebih menggoda.

"Kenapa kau melihatku seperti itu?" tanya Petra.

Levi mengalihkan tatapanya ke arah lain sambil menyeruput tehnya...

Diam sejenak...

"Kau sudah mendiamkanku selama setahun, apa kau tidak ingin minta maaf?"

"Oh tidak, bahkan sudah lewat beberapa bulan" Levi melanjutkan.

Petra terdiam, merenungi keadaanya saat itu.

"Kau tahu, betapa tersiksanya aku saat kau mendiamkan—"

"Aku minta maaf!"

"Aku minta maaf, aku terlalu egois..." Petra menghentikan makanya. Levi menaikkan alisnya sebelah. Levi menghadapkan tubuhnya ke arah Petra, dan menatapnya.

"Terus?!" sambil menyeruput tehnya kembali.

"Itu karena kau melupakan ulang tahunku. Kau mengingkari janjimu untuk mengajakku ke Hawaii!"

"Jadi kau mendiamkanku selama setahun lebih, hanya karena itu?"

"Hanya karena itu? Levi, kau tau tidak aku sampai menangis seminggu sekaligus tidak tidur hanya karena meratapi hal bodoh itu! Memangnya kau pikir kau saja yang tersiksa, aku juga tersiksa!"

"Dan kau tidak membicarakanya baik-baik denganku? Lalu tiba-tiba kau keluar dari tim ku tanpa memberitahuku?! Seperti anak SMA saja!"

"Dengar ya Petra, umurmu itu sudah hampir 30 tahun, tapi tingkahmu masih seperti anak kecil. Terutama dalam menangani masalah seperti ini"

Mendengar perkataan Levi, Petra mengerutkan alisnya, ia ngambek.

"Dasar tidak peka!" Petra mengalihkan pandanganya ke kanan. Levi tersenyum memiringkan bibirnya ke kanan.

Diam sejenak...

"Kau tahu...sebenarnya aku sama sekali tidak melupakan ulang tahunmu. Tapi aku memang sengaja untuk tidak mengucapkanya. Karena aku ingin memberikanmu sebuah kejutan, kejutan yang memang aku rencanakan bukan di tanggal saat kau ulang tahun"

Petra menggerakkan kepalanya sedikit.

"Aku berencana untuk melamarmu waktu itu...di Hawaii"

Petra terkejut, matanya melebar, dan mulutnya ia tutup dengan tanganya. Ia langsung menatap Levi.

"Wha...what? Ap...apa kau serius?

"Apa kau pikir aku pernah bercanda, terutama hal yang menyangkut dirimu, hmm?!"

Entah kenapa bulir-bulir air mata langsung keluar begitu saja dari kedua mata madu yang indah itu. Petra langsung mengambil tubuh Levi, dan langsung mendekapnya erat.

"I'm sorry...I'm so sorry..." Petra terisak secara tiba-tiba. Pada intinya, itulah yang paling diharapkan Petra selama ini.

Levi membalas pelukanya menggenggam punggung Petra erat. Ia tersenyum.

"Berhentilah menangis, dasar bocah!"

Mereka masih berpelukan...

"Lalu...apa yang harus aku lakukan untuk menebus kesalahanku?" tanya Petra. Levi melepas pelukanya, mendekatkan wajahnya pada Petra dan menghapus air matanya.

"Kau mau tau?" Petra mengangguk.

Levi langsung mendekatkan bibirnya dan mencium bibir Petra. Sebuah frenchkiss dan lumayan panas. Tangan Levi meraba setiap lekuk tubuh Petra yang "hanya" dibalut dengan kemeja putih milik Levi, sehingga kemeja itu tersingkap sedikit. Petra melepaskan ciumanya, mendorong pelan dada bidang Levi yang terbalut kaos putih lengan panjang.

"Jadi...maksudnya apa Lev..." wajah mereka masih berdekatan, hidung mereka bersentuhan. Levi langsung turun dari kursinya dan menggendong Petra dengan tangan kananya sehingga posisi kepala Petra terbalik di punggung Levi, dan Levi memegang paha atasnya. Petra terkejut.

"Levi! Turunkan aku! Kau mau membawaku kemana? Tadi malam kan kita sudah melakukanya—"

"Kita akan mandi bersama!" Levi berjalan menuju kamar mandi. Ada bathtub besar di dalamnya.

"Dan aku yang akan menguasai permainan!" Levi menyeringai.

"Eh?! Kyaaaaaaa—" Levi mendobrak pintu kamar mandi. Petra blushing setengah mati. Karena sebelumnya mereka tidak pernah 1 kamar mandi.

END