Inspired by: Criminal Minds
Attack on Titan Fanfiction
Cover Image merupakan gambar saya sendiri, meskipun gambarnya jelek, tidak boleh mengambil tanpa seijin saya.
Original Story only created by Hajime Isayama, I only borrowed his characters. No commercial purpose, entertain only.
Title: The Profiler
Sniper to the Traitors
Genre: Action, Crime, Drama, Adventure
Rated: M
Characters:
Levi Ackerman and Team: Erd Ginn and Eren Jaeger
Mike Zacharius and Team: Petra Ral, Nanaba, Gelgar, Henning, and Lynne
Zeke Jaeger, Eren Kroeger, Hange Zoe, Mikasa Ackerman and OC
Narrator: Petra Ral
Summary: Kasus baru yang lebih menantang terjadi lagi. Kali ini melibatkan tim Mike yang harus menghadapi seorang sniper yang jejaknya sulit dilacak. Karena hal itu, tim Levi harus ikut bergabung dalam menemukan jejak pelaku. Dari kasus ini, pembunuh ayah Eren pun ikut terungkap. Siapa sebenarnya sniper yang menjadi incaran BAU Team? Dan apa hubunganya dengan Eren dan ayahnya? Cekidot!
Warning: Mengandung adegan kekerasan dan kata-kata kasar.
Beberapa nama tempat, jalan, posisi, dll hanya berdasarkan imajinasi/fiktif alias suka-suka, bukan berdasarkan kenyataan, tapi ada juga yang sesuai fakta. Dan banyak OC.
Enjoy the Story!
Part 1
6 bulan telah berlalu setelah kasus pembunuhan brutal dan perampokan bank dengan tersangka utama Esteban Alejandro yang akan dieksekusi mati 10 tahun ke depan. Kabar terakhir ia menjadi salah satu kelinci percobaan oleh seorang ilmuwan University of California yang sedang menjalani penelitian mengenai virus difteri. Entah apa yang terjadi pada Esteban selanjutnya aku tidak tahu. Dan sudah 7 bulan berlalu, aku bersama tim ku pindah tugas ke Chicago, karena di Chicago tim BAU (Behavioural Analysist Unit) mengalami rotasi, sehingga mereka mengambil penggantinya dari New York. Mike langsung menyetujuinya karena kebetulan Chicago adalah kota kelahiranya dan sedari kecil ia sudah sangat familiar dengan kota ini. Aku yang hanya anggotanya pun juga harus mengikuti sang team leader berlabuh, karena kami adalah tim dan tidak terpisahkan, begitulah semboyan kami, yang sebenarnya dari lubuk hatiku yang terdalam hal ini sangatlah berat. Berat karena aku harus meninggalkan hal-hal yang aku cintai di New York. Dan sudah 7 bulan juga aku tidak bertemu dengan Levi. Kami hanya saling komunikasi lewat video call dan whatsapp. Namun dalam 2 bulan terakhir ini, kami jarang berkomunikasi karena kesibukanku dalam menangani kasus penembakan oleh seorang sniper yang masih menjadi misteri hingga saat ini. Levi juga mengalami hal yang serupa denganku, ia sedang berada di Las Vegas karena kasus pedofilia yang sedang ia tangani bersama timnya. Bahkan sudah 2 minggu ini kami lost contact.
Waktu telah menunjukkan pukul 02.00 dini hari, hanya aku yang masih berada di kantor, tepatnya di Roosevelt Road, Illinois. Sedangkan Mike dan Nanaba sudah pulang sejam yang lalu. Karena bagiku bekerja atau di apartemen tidak ada bedanya. Aku membuka file foto-foto para korban sniper itu beserta data diri mereka. Sampai saat ini korban berjumlah 4 orang, dan keempat-empatnya ditembak dari jarak kurang lebih 1 km dari gedung tinggi yang berada di sekitar TKP. Para korban random, tidak tergantung jenis kelamin, umur, ataupun profesi. Tim ku berspekulasi bahwa si sniper adalah seseorang berlatar belakang militer, dan Gelgar juga mengatakan bahwa tersangka kemungkinan adalah seorang US Marines (angkatan laut). Yeah, Gelgar adalah seorang sniper di tim ku. Ia adalah veteran prajurit elit anti teroris Delta Force. Bahkan ia berhasil menembak tepat sasaran sebanyak 10x dari jarak sekitar 1,5 km. Maka tidak heran dengan melihat peluru yang tertancap di dahi para korban ia sudah dapat menerka bahwa jenis senapan yang dipakai tersangka adalah jenis CheyTac M200, jenis senapan mematikan dan hanya digunakan oleh angkatan laut Amerika. Hal yang mengherankan adalah dari mana tersangka bisa mendapatkan senapan itu dengan mudah? Kemungkinan dia mencuri atau bekerja sama dengan seorang tentara yang masih aktif dan melakukan bisnis senjata illegal. Kalau dugaanku ini benar, bisa jadi ia adalah pemasok utama senapan CheyTac M200. 1 hal lagi, dia pasti memegang sebuah jabatan di kemiliteran.
What the hell! What a bad traitor!
Aku sudah cukup kelelahan memikirkan dugaan-dugaan dan membuat profile mengenai si pelaku, dan memutuskan untuk memperhatikan layar Apple di hadapanku untuk membuka Skype. Kebanyakan kontak teman-temanku sudah offline. Aku memandang sejenak nama seorang kontak "Damnyou" yang sudah tidak pernah aktif selama 2 bulan, yeah dia adalah Levi. Dengan harapan siapa tahu ia kebetulan online, tapi ternyata harapanku hanyalah mimpi belaka. Aku menggeser cursor ke bawah dan menemukan nama ErenJaeger yang kebetulan saat itu ia sedang online. Aku memutuskan untuk mengajaknya ngobrol. Eren yang saat ini berada di Las Vegas bersama Levi dan yang lainya, ternyata sedang menggarap laporan yang harus ia serahkan pada Levi. Ia dan timnya telah berhasil menyelesaikan kasus pedofilia dan akan segera kembali ke New York besok. Lalu kami mengobrol sampai pagi hingga akhirnya aku tidak membalas chatnya karena aku tertidur pulas di meja pukul 05.00 pagi.
Mike Zacharius mendapat telepon bahwa terjadi penembakan lagi, seorang pria ditemukan tewas dengan jarak penembakan sama seperti sebelumnya yaitu 1 km. Kali ini waktu penembakan menjadi semakin dekat, yang biasanya 2-3 minggu sekali, ini terjadi 2 hari setelah penembakan yang terakhir/keempat. Tim Mike segera bergegas ke TKP.
"Agent Zacharius, kami menemukan sebuah jaket bermerk Parallel tergeletak di gedung itu!" Detective Dennis menunjuk sebuah gedung bertingkat yang merupakan apartemen minimalis berjarak 1 km dari TKP, yang diduga tempat si tersangka membidik.
"Parallel? Setauku jaket ini hanya dijual di negara bagian Virginia, bukan?!" tanya Mike pada anggota timnya.
"Yes kau benar. Apa jaket ini milik pelaku?" tanya Henning.
"Sepertinya begitu" jawab Detective Dennis singkat.
"Petra dan Gelgar, kalian pergilah ke apartemen Louise, lacak jejak pelaku lewat rekaman CCTV dan interogasi para pekerja yang mungkin melihatnya. Henning dan Lynne kalian pergilah ke RS forensic kepolisian Chicago untuk melihat mayat korban. Aku dan Nanaba akan tetap berada disini!" kata Mike.
"Okay bos!" semua menjawab serentak dan berpencar.
Mike membongkar-bongkar isi jaket bermerk Parallel yang ditemukan kepolisian Chicago tersebut. Betapa terkejutnya ia, karena sebuah foto berukuran 4x6 terjatuh dari saku dalam jaket itu, yang ternyata adalah foto Eren Jaeger.
"Hei, bukankah dia, salah satu anggota dari tim Levi?" tanya Mike pada Nanaba yang langsung menyambar foto itu.
"Oh, ya benar. Namanya Eren Jaeger!" kata Nanaba.
"Jadi, apakah Eren Jaeger terlibat dalam penembakan ini?" sambung Nanaba.
Hening sejenak...
"Tidak. Dia tidak terlibat. Tapi, kemungkinan dia bisa menjadi sasaran berikutnya!" kata Mike.
"What? Bukankah sebelumnya si tersangka membunuh korban secara random? Tapi kenapa tiba-tiba ia mengincar Eren?" tanya Nanaba
"Bagaimana kalau ternyata si sniper mengenal Eren Jaeger. Bahkan sangat mengenalnya, karena ia sampai menyimpan foto Eren di dalam saku jaket di dalamnya. Yang artinya foto Eren sangat penting bagi si pelaku!" kata Mike.
"Eren keluarganya? Atau siapanya?" tanya Nanaba.
"Keluarganya! Yeah, si sniper adalah salah satu anggota keluarga Eren! Ayahnya! Mungkin ayahnya atau saudaranya!" jelas Mike.
"Kalau tidak salah, ayah Eren adalah seorang Letnan dari kepolisian militer Chicago, dan sudah lama meninggal. Eren sama sepertimu Mike, Chicago adalah kota kelahiranya. Jadi apa mungkin saudaranya?" tanya Nanaba dengan wajah serius.
"Probably!" jawab Mike singkat.
"Kali ini ia sangat ceroboh karena meninggalkan jaket dengan foto Eren di dalamnya. Apa mungkin ia sengaja meninggalkan jejak agar kita bisa menangkapnya?" Nanaba mengeluarkan analisisnya.
"Menurutku dia malah mau mempermainkan kita" kata Mike.
Nanaba lalu mengajak Mike ke tempat yang agak jauh, menghindari para polisi dan CSI yang sedang memeriksa TKP untuk berbicara serius.
"Mike, aku khawatir kalau ternyata Eren terlibat dalam penembakan ini. Bisa saja dia adalah mata-mata dari si pelaku, mengingat bahwa Eren adalah seorang agen federal yang mengetahui banyak hal kegelapan di negara ini!" kata Nanaba.
"Hei kenapa kau jadi negative thinking terhadap Eren! Untuk mengetahui hal ini kita harus membawa Eren kemari dan menginterogasinya, bukan?!" kata Mike.
"Aku bukan negative thinking, Mike. Tapi kau tau kan apa yang akan terjadi pada seorang agen federal yang mempunyai hubungan dengan kriminal?! Secara sadar atau tidak sadar Eren bisa saja dimanfaatkan untuk menggali segala informasi untuk pelaku dalam mencari korban selanjutnya. Dan jika hal itu benar terjadi, gelar Eren sebagai seorang Special Agent akan dicabut secara permanen dan diberhentikan secara tidak hormat! Karir Eren seketika akan hancur" kata Nanaba.
"Itu kan kalau dia bekerja sama dengan tersangka, kalau tidak?"
"Aku bilang kan sadar atau tidak sadar. Dan nama belakangnya! Kau harus ingat itu!" jawab Nanaba.
Berpikir sejenak...
"Aku akan meminta tim Levi kemari. Kita akan membentuk tim gabungan untuk menangani kasus ini!" kata Mike.
"Yeah, sebaiknya begitu. Levi harus terlibat dalam penyelidikan ini!" sambung Nanaba.
Sementara itu...
Petra dan Gelgar sedang melihat rekaman CCTV yang mereka dapatkan. Tidak ada gerak-gerik yang mencurigakan selama beberapa menit. Kamera CCTV itu terletak di lantai 12 tempat si tersangka melesatkan peluru senapanya. Selang 1 jam, seorang laki-laki dengan tinggi badan sekitar 180 cm memasuki salah satu kamar apartemen dengan nomor 280. Jika benar pria itu menembak dari kamar bernomor 280 itu, maka dugaan menembak dari jarak 1 km adalah tepat. Ia memakai pakaian yang sangat tertutup, wajahnya tertutup sama sekali dengan cap yang ia pakai dan memakai kacamata hitam. Setelah penembakan terjadi, pria itu langsung keluar terburu-buru dari kamar, dan tak sengaja menjatuhkan jaket yang ia taruh di tas slempang besar yang diduga berisi senapan CheyTac nya. Petra langsung menuju resepsionis untuk menanyakan siapa orang yang menginap di kamar itu.
"Namanya Zeke, nona!" kata si resepsionis, yang seorang pria.
"Zeke?! Hmm...bagaimana ciri-ciri orang itu? Apa anda bisa menggambarkanya?" tanya Petra.
"Dia tinggi, mungkin hampir 2 meter. Berjanggut putih, rambutnya juga putih, memakai kacamata hitam dan sepertinya minus, topi hitam, jas hitam. Yeah, hanya itu yang aku ingat nona. Ia check out kemarin sore"
"Oh, jadi dia orang tua ya?!"
"Ah tidak. Dia masih muda. Mungkin sekitar 30an!"
Oh, itu adalah usia produktif sebagai seorang pembunuh, terutama pembunuhan yang memerlukan insting yang kuat seperti sniper!
"Namanya hanya Zeke? Tidak ada nama belakang, gelar, atau semacamnya?" tanya Petra.
"Tidak! Dia hanya memberi tahu bahwa namanya Zeke, tanpa nama belakang. Dan maaf Nona Ral, saya tidak bertanya hal-hal mendetail mengenai dirinya, karena ia adalah pelanggan, jadi saya tidak berani bertanya hal-hal yang bersifat privacy" jelas si resepsionis.
"No problem. Anda sudah sangat membantu tuan. Terima kasih!" Petra tersenyum lalu pergi meninggalkan meja resepsionis.
Petra segera menghubungi Hanji saat itu juga. Hanji menemukan nama Zeke sekitar 350 orang yang ada di seluruh Amerika.
"Hanji, tolong persempit lagi. Cari orang bernama Zeke yang memiliki latar belakang militer"
"Wow, masih 50 orang Petra sayang. Apakah tidak ada yang lebih spesifik lagi, nama belakang?"
"Dia tidak memiliki nama belakang, Hanji. Bagaimana dengan Zeke yang ada di Chicago?"
"Nihil! Beberapa dari Virginia, Massachussets, New York, dan lain-lain. Yang jelas Chicago tidak ada"
"Oh, God!" Petra menghela nafas sambil mengusap dahinya.
"Okay, aku akan menghubungimu lagi nanti" Petra langsung mematikan sambungan ponselnya.
"Ha...halo...Petra! Ya ampun, sudah dimatikan. Dasar Petra!" kata Hanji bergumam.
Henning dan Lynne pergi menuju laboratorium forensic milik Chicago PD. Korban yang baru ini bernama Sylvester Branch, yang merupakan seorang konglomerat pemilik perusahaan elektronik, Electric Clear. Kali ini si tersangka menembak seseorang yang lumayan terkenal di Amerika. Analisis mengenai pelaku menjadi sedikit berbeda dari sebelumnya. Lubang peluru tepat berada di samping kanan kepala Tuan Branch dengan kedalaman 8mm, tepat mengenai otaknya. Well, tidak mengherankan karena memang pelaku ini sniper terlatih yang telah memenuhi semboyan One shot! One kill! Namun kali ini posisi luka berbeda dari korban-korban sebelumnya, karena terdapat grains powder bertebaran di baju dan celana korban, artinya korban sedang berjalan terburu-buru saat tertembak atau bahkan berlari. Henning berpendapat bahwa Tuan Branch menyadari bahwa dia diincar, mungkin tersangka sudah mengancamnya terlebih dahulu. Tapi kenapa? Apa sebabnya? Mungkinkah persaingan bisnis? Hal itu membuahkan tanda tanya yang besar bagi Henning dan Lynne. Tuan Branch berdomilisi di Randolph Street, pinggiran Kota Chicago, di sebuah rumah besar mengalahkan istana ratu Inggris, dengan peternakan seluas 12 hektar.
Keesokan harinya...
Mike mengumpulkan timnya dalam satu ruangan untuk memberitahukan bahwa tersangka mempunyai hubungan dengan Eren Jaeger, pengganti Petra yang telah keluar dari tim Levi, yang baru 3 hari yang lalu ia chatting denganya. Walaupun Petra belum sempat 1 tim dengan Eren, tapi ia mengenal Eren dengan baik. Maka Petra berkesimpulan bahwa Zeke mempunyai nama belakang Jaeger, Zeke Jaeger. Saat itu pula ia menghubungi Hanji dengan mode loudspeaker agar seluruh tim mendengarnya. Dan yeah, tentu saja dugaanya benar. Didapatkan data-data mengenai Zeke Jaeger dengan ciri-ciri fisik sesuai dengan yang digambarkan si resepsionis di apartemen dekat TKP. Dia adalah sniper dari US Marines, dan telah dipensiunkan dini dari kemiliteran karena ia menderita suatu penyakit yang dinamakan kepribadian ganda (Multiple Personality Disorder). Beberapa kali ia melakukan percobaan pembunuhan terhadap kawan satu angkatanya saat menjadi kadet, dan juga terkadang ia melukai dirinya sendiri seperti menyileti tanganya. Ia berdomilisi di Virginia dan selalu berpindah-pindah dari 1 kota ke kota lainya. Hanji menemukan aktivitas terakhirnya, bahwa ia menginap di sebuah hotel mewah Hilton bernomor 23, kali ini ia memakai identitas asli dan saat itu pula timMike langsung bergegas menuju hotel.
Saat penggrebekan...
Gelgar mendobrak pintu kamar hotel, dan menelusuri seluruh ruangan yang ada di kamar nomor 23 tersebut, diikuti oleh Mike, Petra, Nanaba, Lynne, dan Henning dengan mode siaga sambil menodongkan pistolnya ke depan agar mereka dapat langsung melesatkan tembakan jika ternyata tersangka muncul tiba-tiba. Namun hasilnya nihil.
"Clear!" seluruh tim Mike masing-masing berteriak, menandakan bahwa tak ada hal yang mencurigakan. Mereka lalu membongkar seluruh isi lemari, laci, tempat tidur, dan lain-lain. Resepsionis hotel bilang bahwa penghuni hotel ini belum checkout, artinya Zeke sewaktu-waktu akan kembali ke kamar ini. Kali ini pula Zeke tidak memilih kamar di lantai yang tinggi, karena kamarnya terletak di lantai 2, entah apa tujuanya memilih kamar rendah seperti ini. Di laci sebelah ranjang ditemukan beberapa identitas palsu dengan foto wajah yang berbeda-beda, ada sekitar 5 KTP.
"Oh, jadi dia mempunyai banyak nama!" kata Nanaba singkat.
Petra menghubungi Hanji untuk melakukan pengecekan terhadap 5 nama palsu yang tim Mike temukan di kamar hotel. Diantara 5 identitas palsu itu, hanya yang namanya Paul Mccarthy yang terekam jejaknya. Ia pernah melakukan transaksi menggunakan Ripple dengan nilai transaksi 5,000 US Dollar, nilai itu sesuai dengan harga senapan CheyTac dan bertransaksi dengan orang yang bernama Eren Kroeger. Data menunjukkan Eren Kroeger adalah seorang Kolonel US Army, di batalyon perektruitan tentara baru, Chicago.
Sebuah surat kabar dengan headline mengenai penembakan oleh sniper yang terjadi di New Orleans setahun lalu juga ada di laci itu. Korbanya adalah seorang marinir angkatan laut, bernama Theo Magath. Kasus itu ditangani oleh NCIS (Naval Criminal Investigative Service), badan penegak hukum yang khusus menangani kasus para marinir angkatan laut. Namun kasus itu ditutup, karena bukti-bukti tidak cukup kuat untuk memenjarakan tersangka. Tim Mike jadi menarik kesimpulan bahwa sniper yang menembak marinir itu adalah Zeke. Jadi sejauh ini korban dari Zeke menjadi 6 orang.
Gelgar memperhatikan gedung-gedung bertingkat yang ada di sekeliling hotel mewah itu dari jendela, tak sengaja ia melihat sebuah cahaya dan seseorang sedang membidik ke arahnya, kebetulan ada Lynne di sampingnya, dan sepertinya arah bidikan berpindah ke Lynne, dari lantai 21 di gedung sebelah hotel itu. Ia seketika langsung berteriak.
"Get down!" Gelgar langsung menarik tubuh Lynne dan menjatuhkan tubuhnya dan tubuh Lynne ke lantai.
"Jraatt!" tembakan gagal dan hanya mengenai jendela yang langsung meninggalkan lubang peluru. Henning, Lynne dan Gelgar yang berada di dekat jendela langsung berlindung di balik meja, sofa, dan dinding. Sementara Mike, Petra dan Nanaba yang berada di ruang berbeda langsung tiarap di balik tempat tidur, antisipasi untuk menghindari tembakan yang bisa saja mengenai mereka, karena setelahnya orang tersebut menembaki mereka bertubi-tubi dan berlangsung beberapa menit.
"Jraatt!"
"Jraatt!"
"Jraatt!"
Terdapat banyak lubang peluru di jendela, sofa, dan kaca meja pun pecah berantakan.
Tim Mike tidak tinggal diam, mereka langsung berlari menuju gedung sebelah hotel guna meringkus si pelaku. Gelgar pun menuju lantai 22 dengan lift, dan langsung mengeluarkan senapan M110 (Knight's Armament) miliknya untuk mencari keberadaan si sniper dengan cara membidiknya. Si sniper (yang diduga Zeke) langsung cepat-cepat membereskan senapanya dan segera berlari dari tempat itu karena menyadari bahwa semua tembakanya gagal total dan tidak mengenai satupun agen federal. Sesampainya di gedung tempat si sniper membidik, Mike dkk tidak menemukanya. Mereka lalu berpencar menelusuri seluruh lantai di gedung itu. Seorang pria langsung berlari terburu-buru ketakutan membawa tas Holster panjang seperti tas khusus untuk menyimpan senapan, karena melihat para agen FBI bersiaga dengan pistolnya.
"FBI! Please, stop!" teriak Nanaba. Nanaba langsung mengejarnya diikuti Henning dan Lynne di belakangnya.
Mereka berkejar-kejaran sekitar 1 km, untuk ukuran seorang agen FBI jarak 1 km berlari masih sangat biasa. Sehingga Henning yang larinya paling kencang pun berhasil meringkus pria itu, ia mendorongnya hingga pria itu terjatuh, lalu menahan tanganya ke belakang dan menodongkan pistolnya ke kepala pria itu. Nanaba dan Lynne pun juga mengarahkan 9mm nya pada pria itu sambil menggeledahnya.
"Serahkan senjatamu!" teriak Nanaba.
"Apa-apaan ini! Aku tidak membawa senjata!" kata pria itu. Lynne lalu membongkar isi tasnya, yang ternyata adalah peralatan gambar.
"Aku ini seorang arsitek! Tolong jangan tangkap aku!" kata pria itu.
"Kalau kau seorang arsitek, kenapa kau lari setelah melihat kami?" tanya Lynne.
"A...aku...menggambar gedung yang akan dijadikan tempat porstitusi!" katanya.
"Baiklah! Ikut aku!" kata Henning dan langsung memborgol pria itu dan membawanya ke kepolisian Chicago untuk diinterogasi.
Beberapa detik kemudian...
Mike dan Petra berada di lantai yang berbeda. Mereka tidak menemukan orang yang mencurigakan sama sekali.
"Gelgar! Apa kau menemukanya?" tanya Petra dari headset HT yang menempel di telinganya.
"Dia sudah pergi!" jawab Gelgar singkat. Mike juga mendengarnya. Ia terlihat kecewa.
"Damn it!" Mike mengumpat.
"Si brengsek Zeke benar-benar mempermainkan kita!" lanjut Mike.
[Keesokan harinya, Kantor Federal, Illinois]
Tim Levi telah tiba di Chicago dengan membawa barang-barang untuk keperluan penyelidikan dan beberapa buah pakaian di dalam koper kecil, mereka langsung memasuki markastim Mike berada. Levi hanya membawa Eren dan Erd bersamanya, karena Nifa, Auruo, dan Gunther sedang menjalani training di Quantico, Virginia. Terlihat Mike, Petra, Nanaba, Gelgar, Lynne, dan Henning sudah menunggu mereka di dalam ruangan.
"Hai Lev, bagaimana kabarmu?" Mike memeluk Levi sambil menjabat tanganya, Levi membalasnya.
"Fine!" jawab Levi singkat.
"Hai Erd!" sapa Lynne.
"Hai, lama tak berjumpa. Padahal dulu kau sering mengajakku ngopi bareng" kata Erd sambil memeluk Lynne. Mereka 1 angkatan di akademi FBI dulu.
Tim Levi dan timMike saling berpelukan satu sama lain secara bergantian. Eren menatap Mike dan Nanaba dengan wajah penuh keragu-raguan, karena sebelumnya ia telah diberitahu tentang orang yang bernama Zeke Jaeger. Setelah selesai saling sapa, yang terakhir Levi menghampiri Petra, mereka saling menatap sejenak, dan Levi langsung memeluknya.
"Forgive me for not calling you very long time" kata Levi sembari memeluk Petra.
"No problem" jawab Petra singkat.
Tak lama kemudian...
Tim Levi dan tim Mike saling berargumen sekaligus menginterogasi Eren, yang sebelumnya Mike sudah menceritakan secara lantang dan jelas mengenai kronologi kasus ini. Eren menceritakan tentang ayahnya yang pernah menikah sebanyak 2x. Ia sama sekali tidak mengenal Zeke Jaeger, dan meyakini bahwa Zeke adalah anak pertama ayahnya dari istri yang pertama. Ayahnya, Grisha Jaeger pernah sesekali menceritakan bahwa Eren mempunyai seorang kakak laki-laki yang seorang tentara, namun tidak menceritakanya secara detail. Ia menyatakan bahwa ia sama sekali tidak terlibat dengan penembakan yang dilakukan Zeke, bahkan bertemu dengan Zeke pun tidak pernah. Mike dan Nanaba merasa lega akan hal ini, namun tetap saja Zeke memiliki nama belakang yang sama dengan Grisha dan Eren. Mengingat Zeke memiliki kelainan kepribadian ganda, bisa saja sewaktu-waktu salah satu dari mereka menjadi korban penembakan selanjutnya.
Keesokan harinya...
Levi dan Eren pergi ke Career Center US Army untuk menginterogasi orang yang bernama Eren Kroeger. Mereka pergi persama 2 perwakilan dari Polisi Militer, bernama Marco dan Pieck. Gedung Career Center itu terlihat minimalis dan megah dengan jumlah lantai sekitar 30. Levi dkk masuk dengan menunjukkan badge masing-masing sebagai bukti bahwa mereka adalah badan penegak hukum yang memiliki wewenang investigasi (termasuk militer) dan memakai badge "visitor". Seorang penjaga mengantar mereka ke lantai tempat ruangan Eren Kroeger berada.
[Sesampainya di ruangan Kroeger]
Mereka duduk berhadap-hadapan, kecuali Marco dan Pieck yang tetap berdiri tepat di belakang Levi dan Eren yang duduk berhadapan dengan Kroeger.
"Jadi tuan-tuan, apakah ada yang bisa saya bantu?" tanya Kroeger.
Levi meletakkan foto Zeke Jaeger yang menggunakan penyamaran sebagai Paul Mccarthy dan menunjukanya pada Kroeger.
"Kau kenal dia?" tanya Levi dengan wajah datarnya.
"Yes, dia Paul Maccarthy. Kami sudah lama menjadi rekan bisnis"
Levi lalu menunjukkan foto wajah Zeke yang asli.
"Bagaimana dengan yang ini? Apa kau mengenalnya juga?"
Kroeger terlihat berkonsentrasi melihat foto itu...
"Tidak. Aku tidak kenal! Siapa dia?" kata Kroeger. Levi menjejerkan kedua foto itu.
"Asal kau tahu, 2 foto ini adalah orang yang sama. Namanya bukan Paul Mccarthy tapi Zeke Jaeger. Yang sebelah kanan ini wajah aslinya" kata Levi. Kroeger terkejut.
"Kami menemukan catatan Ripple atas nama Paul Mccarthy a.k.a Zeke, bahwa transaksi terakhirnya sebesar 5,000 US Dollar ditujukan padamu. Jadi...ada bisnis apa kau denganya?"
Diam sejenak...
"Begini ya Agent Ackerman, Ripple itu dapat digunakan untuk transaksi apapun, bebas, bahkan seluruh orang di dunia sudah menggunakanya karena mudah. Bahkan jika jumlah uang yang ada di Ripple sudah melebihi target, kita dapat menjualnya ke orang lain. Lagipula Ripple itu kan—"
"Kalau itu aku sudah tahu. Tak bisakah kau langsung menjelaskan pada intinya, bisnis apa yang sedang kau jalani?" Levi langsung memotong pembicaraan.
Hening sejenak...
"Tidak seburuk yang kau pikirkan Agent Ackerman. Aku hanya menjual kelebihan uang kepada sesama pengguna Ripple di internet. Kebetulan Paul Maccarthy ini sering bertransaksi online, karena dia orang yang sangat sibuk dan suka berpindah-pindah. Dia adalah pengusaha retail online"
"Bukan bisnis senjata illegal kan?!" Eren langsung menyaut.
"Apa maksudmu Agent Jaeger?! Bisnis senjata illegal, apa itu? Aku tidak mengerti" jawab Kroeger sambil tersenyum sinis.
"Zeke Jaeger sudah menembak 6 orang dari jarak jauh dengan menggunakan CheyTac M200. Senapan ini hanya dipakai angkatan laut, dan untuk memperolehnya pun tidak sembarangan, karena hanya orang-orang militer yang boleh membeli senjata ini dan harus langsung ke pabrik pembuatanya! Itupun tidak mudah, karena pembeli juga harus melalui beberapa perizinan ketat, dll" kata Eren dengan lantang.
"Sebentar! Ngomong-ngomong nama belakang kalian kok sama?!" kata Kroeger seperti menyindir. Eren dan Levi hanya terdiam tak berkata apa-apa.
"Agent Jaeger, apa Zeke ini saudaramu?!"
"Memangnya kalau iya kenapa?!" kata Levi.
"Wow, kurasa dalam hal ini kaulah yang harus merasa was-was Agent Jaeger. Si Erwin Smith bisa saja mencopot gelar Special Agent mu, karena kau terkait dengan kriminal. Yah, walaupun hanya sekedar nama belakang!"
Eren terdiam...
"Hei pak tua, kau tidak tau apa-apa mengenai Agent Jaeger! Kupastikan si alis tebal itu tidak akan mencopot gelar Special Agent, siapapun itu khususnya tim ku!" kata Levi.
"Asal anda tau Tuan Kroeger, aku tidak merasa takut sedikitpun jika gelarku dicopot. Yang aku inginkan saat ini adalah menangkap Zeke beserta orang-orang yang bekerja sama denganya. Oh maaf, atau membunuhnya!" kata Eren dengan tatapan tajam. Levi menoleh ke arahnya tanda bahwa ia sedikit kaget dengan perkataan Eren yang tiba-tiba.
Tiba-tiba sekumpulan orang memakai jaket anti peluru lengkap berjumlah sekitar 5 orang masuk ke ruangan Kroeger dan menembaki seluruh isi ruangan secara membabi buta. Levi dan Eren langsung berlindung di meja dan sofa yang letaknya tidak jauh dari mereka. Saat penembakan berlangsung, seseorang melemparkan asap hitam, sehingga pandangan di sekitar menjadi kabur total, tak terlihat sama sekali. Akuarium besar yang ada di dekat sofa pun tak luput dari tembakan, sehingga menjadi hancur berantakan, dan lantai menjadi basah tak karuan. Eren Kroeger dikawal oleh 3 orang di antaranya menuju keluar ruangan, ia berhasil melarikan diri. Diikuti oleh 2 orang lainya, yang langsung meninggalkan tempat itu sambil terus menembaki 1 ruangan tersebut. Levi mengeluarkan pistolnya, namun karena keadaan gelap tak terlihat, ia tidak bisa menembak. Begitu juga dengan Eren.
Beberapa menit kemudian...
Sangat disayangkan, Marco dan Pieck tewas terkena peluru jenis sub machine gun yang ditembakkan kelima orang tersebut, yang merupakan anak buah dari Eren Kroeger. Levi terkejut melihat mereka tewas, dan langsung mendekati tubuh mereka yang sudah tidak bernafas.
"Marco! Pieck!" teriak Levi sambil memegang urat nadi di leher mereka.
"Sial! Mereka sudah tewas!" kata Levi terbata-bata. Dadanya sangat sesak, dan berulang kali batuk.
Eren bersembunyi di balik sofa di belakang tempat mereka duduk berbincang dengan Kroeger sebelumnya.
"Bos! Anda tidak apa-apa?" teriak Eren.
"Pieck! Marco! Dimana kalian?"
"Mereka sudah tewas!" Levi berteriak dari bawah meja. Eren mendengarnya dan terkejut bukan kepalang. Tanpa Levi dan Eren ketahui ternyata Kroeger sudah meletakkan sebuah bom C4 di bawah meja yang sebentar lagi akan meledak. Levi melihatnya, dan kebetulan asap hitam sudah mulai memudar, sehingga pandangan berangsur-angsur membaik.
"Eren! Cepat keluar dari tempat ini! Ada C4 disini!" Levi dan Eren langsung berlari keluar dan...
"Duaarrr!"
"Blaaarrr!"
Alhasil bom meledak, dan 1 ruangan pun hancur berkeping-keping. Bahkan dinding-dinding di luar juga hancur, menandakan bahwa dahsyat sekali ledakan dari bom jenis C4 ini, walaupun tidak separah bom nuklir yang mengerikan itu. Beruntung Levi dan Eren berhasil keluar dan tidak tewas. Eren hanya menderita luka ringan, sementara Levi dahinya terkena serpihan kaca, dan ia tak sadarkan diri sebab ternyata asap hitam yang dilemparkan salah satu anak buah Kroeger berasal dari karbon monoksida. Dan Levi terlalu banyak menghirupnya, karena Levi memiliki riwayat alergi debu dan asap. Alarm di seluruh lantai gedung berbunyi, shower pendeteksi asap menyemburkan air, dan orang-orang berlarian dengan panik. Suasana gedung US Army saat itu benar-benar kacau, tim Fire Rescue dan tim medis bergerak cepat.
Petra terlihat panik berjalan menelusuri lorong rumah sakit, diikuti oleh seluruh tim Mike. Mereka hampir sampai di depan kamar observasi tempat Levi terbaring, dan terlihat Erd sedang menunggu bersama Eren yang sedang duduk, karena untuk sementara dokter melarang pengunjung untuk masuk sebelum dipindahkan ke kamar tetap.
"Bagaimana keadaan Levi, Erd? Oh my God!" tanya Petra sambil terisak. Ia memegang lengan Erd. Dan Erd menenangkanya.
"Petra, tenanglah! Dia tidak apa-apa! Jangan panik!" kata Erd.
Petra melihat Levi terbaring tak berdaya dengan masker oksigen menutupi hidung dan mulutnya, beserta infus yang menempel di tangan kirinya serta perban putih berukuran besar menempel di dahi kirinya, dari balik kaca jendela luar kamar observasi. Petra menutup mulutnya dengan kedua tanganya, air matanya jatuh membasahi pipinya.
"Dia terlalu banyak menghirup CO, akibat asap hitam dan bom C4 yang meledak! Tapi dia kuat, dokter saja sampai heran karena Levi alergi asap dan ditemukan kadar CO di dalam darahnya diatas 5%" kata Erd. Mendengar itu lantas air mata Petra semakin deras. Lynne yang melihatnya langsung merangkul Petra.
Sementara itu...
"Eren! Kau tidak apa-apa?" tanya Mike yang langsung duduk di sebelahnya. Terdapat luka memar di tangan Eren, karena tanganya menghantam lantai akibat menghindari bom.
"Yeah! Aku baik-baik saja!" jawab Eren singkat. Marah, kesal, dendam, kecewa itulah yang dirasakan Eren saat ini. Semuanya kacau, terutama karena kriminal yang menjadi buronanya kali ini membawa nama keluarganya. Keluarga Pieck dan Marco, polisi militer yang tewas, mendapatkan santunan sepantasnya dan sebuah penghargaan.
Mike mengumpulkan seluruh tim di sebuah ruangan Coffee Time di rumah sakit. Beberapa tim elit dari kepolisian Chicago berjaga di depan ruangan termasuk di ruangan tempat Levi dirawat, dengan maksud untuk mengatasi jikalau ada kejadian yang tidak diinginkan. Misi saat ini yaitu menangkap Zeke dan Kroeger. Mike dan tim harus memutar-mutar otaknya untuk menemukan keberadaan 2 orang buronan tersebut. Wanted poster dengan wajah mereka berdua tersebar di seluruh kota di Amerika, dan FBI akan memberikan reward yang lumayan jika ada orang yang menemukan mereka.
Malam harinya...
Levi sudah dipindahkan di kamar tetap, cukup besar, terdapat sofa dan tempat tidur penunggu di dalamnya. Masker oksigen sudah dilepas, hanya tinggal perban dan infus. Petra duduk tepat di sebelah Levi sambil memegang tanganya, ia tertidur pulas karena kelelahan. Tak lama kemudian Levi membuka kedua matanya secara perlahan, memperhatikan sejenak sekelilingnya dan melihat Petra yang tidur memegang tanganya. Ia menggerakkan tangan yang tergenggam itu sehingga Petra terbangun.
"Honey, kau sudah sadar?" kata Petra yang kemudian memeluk Levi.
"Jadi dari tadi kau menungguiku disini?"
"Yeah, oh ada Eren juga. Erd juga ada di luar"
"Hai bos!" sapa Eren yang duduk di sofa di dalam kamar.
Levi langsung beranjak duduk dan ingin mencabut infus yang menancap di tanganya.
"Lev, kau mau apa?" tanya Petra
"Mencabut infusku"
Petra menahan tangan kanan Levi.
"Apa-apaan kau ini! Kau itu belum pulih 100%, jangan dicabut, mengerti!" kata Petra.
"Aku tidak bisa diam di tempat bodoh ini, Petra. Si brengsek 2 orang itu akan kucari mereka sampai ketemu!" Levi berusaha menarik tangan kananya dari genggaman Petra. Alhasil mereka tarik-tarikan.
"Tidak boleh!"
"Lepaskan tanganku Petra!"
"Aku bilang tidak boleh ya tidak boleh. Dasar bodoh!"
"Kau yang bodoh!"
"Kau yang bodoh. Dasar keras kepala!"
Mereka terus berdebat, dan Eren hanya menyaksikan mereka dengan raut wajah kebingungan dan tidak tahu harus berbuat apa. Hanya Petra satu-satunya yang bisa membuat Levi kehilangan karakter aslinya yang super dingin dan super datar.
"Ehm...Nona Petra, bos, alangkah baiknya kalau—"
"Diam kau!" Levi dan Petra berteriak bersamaan. Dan perdebatan mereka terus berlanjut hingga akhirnya Erd masuk ke kamar.
"Lev, ada tamu special dari jauh!" kata Erd sambil mempersilahkan seorang wanita berambut hitam yang lebih tinggi dari Levi.
"Oh gosh! Tamatlah riwayatku!" kata Levi.
"Mikasa!" Petra terkejut senang, dan langsung memeluknya.
"Petra! Bagaimana kabarmu? Kau terlihat semakin cantik saja!"
"Really? Kau juga...hahaha"
Mikasa Ackerman, dia adalah adik Levi satu-satunya yang baru saja datang dari Berlin, Jerman. Setelah mendengar kalau Levi masuk rumah sakit, lantas Mikasa langsung berangkat ke Amerika, karena ia sangat mengkhawatirkan keadaan Levi, takut kalau terjadi hal-hal yang tidak diinginkan pada Levi. Hanya Levi satu-satunya yang ia punya saat ini, karena kedua orang tua mereka sudah lama meninggal. Mikasa adalah seorang polisi di Berlin atau Bundespolizei/BPOL, dan kebetulan saat ini ia sedang bebas dari kasus.
"Hai pendek! Bagaimana keadaanmu?" Mikasa langsung menghampiri Levi.
"Kau ini tidak ada kerjaan ya di Berlin?!" tanya Levi sarkastik seperti biasanya.
"Apakah salah kalau seorang adik menjenguk kakaknya yang sedang sakit?!"
Mikasa lalu melihat Eren yang sedang berdiri bengong memperhatikan keluarga kecil itu sedikit berdebat. Mikasa menghampirinya, dan memperhatikan Eren dari bawah ke atas. Karena mereka tidak pernah saling bertemu sebelumnya, dan Eren baru bergabung dengan timLevi selama 1 tahun.
"Jadi kau yang membuat kakakku seperti ini?!" tanya Mikasa dengan tatapan tajamnya pada Eren.
"Mikasa!" Levi memanggil namanya lantang.
Hening sejenak...
"Ehm...yeah, maafkan aku nona! Aku janji akan menebusnya setelah ini!" jawab Eren dengan raut wajah murung menandakan bahwa ia harus bertanggung jawab atas semuanya akibat ulah keluarganya, padahal tidak sama sekali.
Beberapa menit kemudian, tim Mike datang bersamaan membawa beberapa cemilan, buah-buahan, dan vodka. Petra memperkenalkan Mikasa pada tim Mike, dan mereka langsung akrab. Levi bersikeras ingin meminum vodka karena ia sedikit stress tapi Petra melarangnya. Semalaman mereka semua berkumpul di rumah sakit dan melupakan kasus rumit yang sebenarnya masih menghantui mereka.
Keesokan harinya...
Levi sudah diperbolehkan pulang setelah melalui perdebatan yang panjang dengan dokter yang merawatnya. Dan Mikasa akan menginap di apartemen Petra, ia mengambil cuti selama 2 minggu kedepan.
12 hari penyelidikan...
Seseorang yang mengaku namanya Michael Golden, menelepon ke kediaman kantor federal Illinois, bahwa ia melihat seorang pria yang wajah dan postur tubuhnya sesuai dengan ciri-ciri Zeke Jaeger. Golden melihatnya di sebuah bar bernama Barm Bar, yang letaknya sangat terpencil di ujung Chicago. Golden juga menjelaskan bahwa Zeke sangat sering menghabiskan waktunya di bar itu, dan hanya berkunjung diatas jam 10 malam. Mendengar hal itu, Darius Zackley selaku director FBI Illinois, Chicago, mengutus Levi, Mike, Erd, Petra, dan Nanaba untuk melakukan penyamaran ke Barm Bar, dan diharapkan dari penyamaran tersebut, dapat pula diketahui keberadaan Eren Kroeger. Sementara sisanya Eren, Gelgar, Lynne, dan Henning, mereka bersiaga dari kejauhan di luar Barm Bar, karena dikhawatirkan selain mengenal Eren, Zeke sudah mengenali wajah Gelgar, Henning dan Lynne sebagai agen FBI.
13 hari penyelidikan...
[Barm Bar, Little Village, Chicago]
Suasana bar malam itu ramai seiring dengan alunan music DJ yang terus bergulir. Pengunjung berdatangan silih berganti, dan para bartender tidak henti-hentinya meracik minuman. Levi memakai setelan kemeja berwarna merah tua long sleeves dan lenganya ia gulung seperti biasanya, serta celana jeans Levi's hitam berharga 150 US Dollar. Tak lupa sepatu bermerk Sketcher hitam melekat pada kakinya. Ia duduk di salah satu kursi bar dan memesan vodka mojito yaitu campuran antara Absolut Vodka dengan jus lemon, daun mint, sirup lemon dan tidak lupa soda.
"Hei Mike, sebaiknya kau tidak mabuk! Karena kalau kau sampai mabuk, kita selesai!" kata Levi berbicara dari headset kecil yang berbentuk seperti earplug di telinganya.
Mike yang sedang bersantai di kursi bundar pengunjung memakai jaket kulit cokelat dengan shirt hitam di dalamnya serta celana jeans biru tua dan sepatu kulit cokelat sesuai warna jaketnya ditemani oleh beberapa wanita penghibur berpakaian super mini dan seorang pria gila yang asyik menggoda para wanita, menjawabnya:
"Bukankah kau yang harus waspada Lev, aku perhatikan kau sudah meminum 2 sloki vodka, dan memesan segelas mojito. Sementara aku baru meminum 1 sloki Jack D!" Ia memperhatikan keadaan di sekelilingnya.
Erd yang berdiri menyenderkan tubuhnya pada meja bar dekat DJ yang sedang bermain, memilih minuman anggur dengan kadar alcohol sangat kecil dan berharga tidak mahal, namun tidak menghilangkan kenikmatan yang dirasakan, Budweiser.
"Dan kau Erd, kenapa kau malah memesan anggur? Seharusnya kau meminum Sambuca atau Glenlivet, tantanganya lebih terlihat!" tanya Mike.
"Entahlah! Hanya ingin yang sesederhana mungkin" jawab Erd singkat. Erd sangat santai malam itu. Ia hanya memakai t shirt putih bergambar tengkorak dan celana jeans hitam serta sepatu boot hitam. Nanaba yang sedang meracik minuman, ilmu yang pernah ia dapatkan ketika kuliah yang bekerja paruh waktu menjadi seorang bartender, itu pun ikut berbicara:
"Well, well, well...Dasar pria! Selalu merasa bahwa dirinya yang terkuat!" kata Nanaba yang memakai kemeja putih dengan vest hitam dan rok mini, setelan pramutamu.
Kemana Petra! Aku belum melihatnya dari tadi!
Levi mencari-cari sosok wanita berambut pirang jahe itu sedari tadi. Matanya tidak henti-hentinya memperhatikan seluruh isi bar itu.
"Hmm...sepertinya satu orang belum berbicara dari tadi!" kata Erd.
"Petra? Oh, dia sedang merapikan rambutnya di toilet. Kupastikan semua pria-pria yang ada di bar malam ini akan berlomba-lomba untuk mendekatinya! Jadi, kau jangan cemburu ya Levi!" kata Nanaba.
"Tch!" jawab Levi singkat.
Beberapa menit kemudian...
Seorang wanita yang dari tadi menjadi bahan pembicaraan rekan-rekanya berjalan menuruni tangga lantai 2, memakai mini dress merah maroon sepaha berbahan satin mahal, dengan hiasan berlian di dadanya dan terlihat lenganya yang putih mulus, dipadu dengan high heel cream berhiaskan batik. Rambutnya diikat kelabang dengan pita berwarna hitam ke belakang, poni sampingnya tetap diurai, terlihat menawan. Semua mata pria-pria yang ada di bar itu memperhatikanya, termasuk Levi. Levi yang melihat tangga mengurungkan niatnya untuk mengalihkan pandanganya. Ia tetap melihat ke arah tangga, tepatnya pada wanita yang sedang berjalan menuruninya.
"Oh itu dia gadis kita!" kata Erd.
"Hei Erd, apa kau yakin dia masih gadis?!" kata Nanaba.
"Wajahnya masih seimut gadis" sambung Erd.
"Coba lihat pria terkuat di FBI itu! Dia sedang berkonsentrasi...hahaha" kata Mike yang melihat Levi tidak berkedip sedikit pun.
"Levi! Sebaiknya kau jangan terlalu banyak minum vodka!" kata Petra dengan suara keras berbicara lewat headsetnya, mengagetkan Levi dkk. Levi tersenyum tipis sembari menghela nafasnya.
"Hei, baby! Kenapa kau berdandan seperti itu?" tanya Levi datar.
Petra terdiam sejenak...
"Ehm...me...memangnya kenapa? Ka...kau...tidak suka ya?" tanya Petra penuh rasa takut.
"Iya, aku tidak suka!" jawab Levi singkat. Mike, Erd, dan Nanaba sedikit kaget mendengarnya.
"Aku tidak suka, karena semua laki-laki di tempat ini melirikmu! I hate it so much, you know!" kata Levi. Mengindikasikan bahwa Petra memang terlihat menawan sekali malam ini. Petra berdiri di dekat tangga dan melihat ke arah Levi yang sedang duduk di kursi meja bar. Ia mendekatkan kedua tanganya di depan sambil memasang wajah melas.
"I'm sorry honey! Apakah kau ingin aku ganti baju dan membongkar make up ku?" tanya Petra.
"Tidak usah!"
Diam sejenak...
"Tapi kau harus membayarnya setelah ini!"
"Only two of us!" Levi berbicara dengan bahasa isyarat dari kejauhan agar rekan-rekanya yang lain tidak mendengarnya. Dan Petra mengerti maksudnya. Ia agak ngeri melihatnya, tapi juga senang.
1 jam kemudian, pukul 23.00 malam...
Seorang pria bertinggi badan 180 cm memakai kemeja biru muda dan celana jeans biru tua masuk ke bar. Pertama-tama memperhatikan seluruh isi bar, dan mencari kursi bar yang kosong. Seorang pramutamu menyambutnya dengan ramah. Ia langsung menuju kursi yang hanya berjarak 2 kursi dari tempat Levi yang sedang duduk menikmati mojito.
"Here we go now! Target kita sudah datang!" kata Nanaba.
Pria itu, ah tepatnya Zeke Jaeger, memesan Jim Beam dan kebetulan Nanaba yang melayaninya. Petra langsung duduk di kursi tepat di sebelah Zeke yang jaraknya sekitar 1 meter.
"Lakukan tugasmu, Petra! Kami akan mengawasimu!" kata Mike dari headsetnya.
Team Levi dan Mike sengaja menugaskan Petra untuk menarik perhatian Zeke. Mereka yakin Zeke akan tertarik untuk mendekati Petra, dan kemudian akan mengajaknya berbicara. Dari situlah Petra pelan-pelan mengorek semua informasi tersembunyi dari Zeke.
Petra memesan Jack D honey kepada Nanaba yang sebenarnya ia kenal, namun mereka berpura-pura seperti baru bertemu satu sama lain. Tak lama kemudian, rencana tim pun berhasil. Zeke mulai memperhatikan Petra dan lalu memulai pembicaraan sembari meminum setengah cairan Jack D honey yang ada di slokinya.
Oh, ternyata dia pria normal! Brengsek!
"Hai, nona!" sapa Zeke padanya. Petra membalasnya dengan senyuman.
Zeke lalu menggeser kursinya mendekati Petra, dan kali ini kursi mereka hanya berjarak beberapa senti. Petra menyeruput Jack D nya lagi.
"Sepertinya kau suka yang manis ya?" tanya Zeke.
Petra membersihkan cairan yang tertinggal di samping bibirnya.
"Ehm...tidak juga. Terkadang aku juga minum vodka" jawab Petra tertawa kecil.
"Aku Zeke, kau?"
"Sandra!" Petra menyebutkan nama samaranya.
"Sandra! Nama yang indah. Sepertinya aku baru pertama kali melihatmu di sini?!"
"Yeah...aku baru saja tiba dari San Fransisco 3 jam yang lalu. Jetlag! Jadi aku memutuskan untuk minum sebentar"
"Oh. Lalu, dimana pacarmu? Apa dia di toilet?"
"Ah, aku kesini sendirian. Dan aku belum punya pacar" jawab Petra sambil tersenyum.
"Oh, really?! Aku sangat tidak percaya kalau wanita secantik dirimu belum punya pacar. Bahkan aku perhatikan dari tadi, banyak pria yang mencuri-curi pandang padamu. Pasti seleramu sangat tinggi dalam memilih pria, bukankah begitu Sandra?!"
Pembicaraan mereka semakin intens dan semakin akrab satu sama lain.
1 jam kemudian...
"Hahaha...jadi apa yang kau lakukan pada pria itu Sandra?"
"Aku menendangnya dari kamar apartemenku, tepatnya dari lantai 30"
"Apa kau serius?"
"Yeah. Aku serius! Apa aku terlihat bercanda?!"
Zeke terkejut dengan pernyataan Petra. Menendang dari apartemen lantai 30, bukankah itu sama saja Sandra a.k.a Petra membunuh pria itu.
"Dan polisi menyatakan bahwa ia bunuh diri. Kasus ditutup! Selesai!"
"Jadi kau pernah membunuh seseorang?! Wow, itu luar biasa sekali! Berapa orang yang sudah kau bunuh?"
"Yeah, hanya dia seorang. Tidak ada yang lain! Serious!"
"Lalu, bagaimana denganmu Zeke? Entah mengapa aku perhatikan kau seperti punya banyak masalah dengan banyak orang?"
Petra secara sengaja menjatuhkan sendok cake yang ia pesan beberapa menit yang lalu, kemudian ia turun dari kursi dan menggenggam kedua tangan Zeke. Tanpa Zeke ketahui, Petra telah menaruh sebuah penyadap di kemeja lengan kirinya. Dan Petra mengambil sendok yang terjatuh. Petra tersenyum sambil mengucapkan kata maaf pada Zeke.
"Well, yeah. Aku akan jujur padamu Sandra!"
"Aku sudah membunuh 6 orang! Dan semuanya aku tembak dari jarak 1 km!"
Petra terkejut bukan kepalang (dalam hatinya sebenarnya tidak). Karena ia sudah mengetahui hal itu. Petra memelankan suaranya dan ia berhasil membuat Zeke sangat percaya padanya. Namun ia akan tetap waspada karena Zeke memiliki kepribadian ganda yang bisa membahayakan dirinya sewaktu-waktu.
"What? Ka...kau seorang sniper?"
"Yeah! Dulu aku sempat menjadi seorang angkatan laut, sebelum akhirnya 2 orang brengsek yang memegang jabatan saat itu memberhentikanku!"
Henning, Eren, dan Lynne mendengarkan dari laptop Apple yang mereka letakkan di dalam Suburban hitam, yang terhubung dengan penyadap yang sudah dipasang Petra di lengan kiri Zeke. Gelgar berada di langit-langit bar yang tembus ke dalam, bersiaga dengan M110 (Knight's Armament), membidik Zeke yang tengah duduk santai berbincang dengan Petra, untuk menembaknya jika tiba-tiba Zeke bertindak hal-hal yang membahayakan Petra atau orang-orang di sekitarnya.
Levi tetap waspada memperhatikan Petra dan Zeke yang sedang asyik mengobrol, walaupun ia terlihat tenang dan datar seperti biasanya, ia berusaha sekuat tenaga untuk melakukanya padahal ia sudah merasa terbakar dari tadi, kalau boleh dibilang Zeke pun juga harus waspada terhadap Levi, karena bisa saja Levi tiba-tiba menghabisinya ditempat. Tapi sepertinya Zeke tidak menyadari bahwa ada pria yang duduk berjarak 3 meter yang mengawasinya. Bahkan seorang sniper hebat membidiknya sedari tadi.
"Lalu...kenapa kau berani mengaku padaku, Zeke?! Apa kau tidak takut jika aku melaporkanmu pada pihak berwajib?" tanya Petra.
"Oh, come on Sandra. Aku pun juga bisa melaporkanmu, bukan?! Kita sama-sama pembunuh!"
Petra mengangguk, ia terdiam sejenak...
"Kalau boleh tau, kenapa kau membunuh mereka semua?"
Zeke tersenyum, seperti tiada penyesalan di benaknya.
"Entahlah. Aku hanya bosan! Kecuali orang pertama dan yang terakhir yang aku tembak, mereka berdua sudah membuat masalah denganku. Yang lainya, aku hanya iseng! Sekaligus untuk menggertak para agen federal bodoh yang tidak mampu menangkapku!"
Diam sejenak...
"Huh! Bodoh sekali mereka itu!"
"Dan buruknya lagi aku punya seorang adik yang bekerja sebagai agen federal! Yeah, walaupun aku belum pernah bertemu denganya"
Sejujurnya kaulah yang bodoh! Dasar lemah! Seandainya kau membunuh dengan mengajak mereka berkelahi terlebih dahulu! Nyalimu pasti tidak ada, Zeke Jaeger!
"Yeah! Aku juga benci agen FBI! Polisi, CIA, Interpol, DEA, dan semacamnya!" kata Petra sambil memainkan poni sampingnya dengan jari telunjuknya.
"Hmm...siapa orang pertama yang kau bunuh?" tanya Petra lagi.
"Dia hanya pelatih sniperku dulu saat aku masih di US Marines!"
"Lalu...yang terakhir?"
"Dia hanyalah businessman brengsek yang mengambil alih tender yang harusnya aku dapatkan!"
"Dan adikmu? Apa akhirnya kau bertemu denganya?"
Zeke terdiam...
"Atau, jangan-jangan kau tidak berani menampakkan wajahmu di depanya atas semua ulahmu?!"
Zeke terlihat bingung. Entah mengapa penyakitnya sepertinya mulai kambuh. Kebencian di dalam hatinya tiba-tiba muncul begitu saja, mungkin akibat pengaruh alkohol yang ia minum.
"Zeke! Apa kau baik-baik saja?"
"Yeah, aku tidak apa-apa!" tanpa menatap Petra. Ia terlihat melihat ke bawah sambil kebingungan. Namun Petra tetap melemparkan banyak pertanyaan.
"Jenis senapan apa yang kau pakai untuk membunuh?"
"CheyTac M200!"
"Darimana kau mendapatkanya?"
"Seorang colonel US Army yang tinggal di High Voltage Island!
"Siapa nama colonel itu?"
"Eren Kroeger!"
Tak lama kemudian...
"Sandra! Entah kenapa pertanyaanmu seperti sedang menginterogasi seseorang! Jujur saja aku jadi sangat membencimu dan arah pembicaraan kita! Dan kebetulan saat ini aku sedang ingin membunuh seseorang!"
Tiba-tiba Zeke mengeluarkan sebilah pisau dari sakunya. Namun sebelum ia menyerang Petra, Levi sudah meletakkan tanganya pada leher Zeke sebelah kanan, dengan sebuah pisau yang hampir menusuknya.
"Kalau aku jadi kau, aku tidak akan melakukanya, brengsek!" kata Levi dengan wajah datarnya yang membuat Zeke terpaku sedikit takut.
"Kyaaaaaaaa...tolooooooooong!" seorang wanita berteriak histeris tepat berdiri di dekat meja bar tempat Zeke duduk, karena melihat Levi seperti ingin memotong leher Zeke. Hal ini membuat Levi kurang berkonsentrasi, sehingga Zeke memanfaatkan keadaan itu. Ia langsung menahan tangan Levi yang memegang pisau dan menjatuhkanya. Zeke langsung berbalik, mengarahkan pisaunya pada Levi yang sekarang hanya memakai tangan kosong. Levi menghindarinya, dan berulang kali Zeke mengayunkan pisaunya untuk mengenai Levi, tapi tak satupun berhasil mengenainya. Perkelahian pun berlanjut. Petra yang melihat perkelahian antara Levi dan Zeke pun terlihat panik, lantas ia berdiri dari kursinya.
TO BE CONTINUED
