Inspired by: Criminal Minds

Attack on Titan Fanfiction

Cover Image merupakan gambar saya sendiri, meskipun gambarnya jelek, tidak boleh mengambil tanpa seijin saya.

Original Story only created by Hajime Isayama, I only borrowed his characters. No commercial purpose, entertain only.

Title: The Profiler

Free Them

Genre: Action, Crime, Drama, Adventure

Rated: M

THIS IS FLASHBACK STORY ABOUT 2 YEARS AGO

Characters:

BAU Team (Unit Analisa Perilaku): Levi Ackerman as a chief, Erd Ginn, Gunther Schultz, Auruo Bossard, Petra Ral, Nifa, Moses Braun, and Hange Zoe Ph.D as a technical analyst.

Hostage Rescue Team (Tim Pembebasan Sandera): Moblit Berner as a chief, Connie Springer, Marco Bodt, Jean Kirschtein, dr. Sasha Blouse, Historia Reiss, and Armin Arlert Ph.D as a technical analyst.

Erwin Smith, OC

Summary: Orang-orang yang sedang bersantai menikmati sarapan pagi di restoran La Querencia, Tijuana, perbatasan AS-Mexico, yang biasa dikunjungi para traveler dan imigran sebagai tempat peristirahatan sementara, tiba-tiba dikejutkan oleh beberapa orang bersenjata yang menyandera mereka.

Warning: Mengandung adegan kekerasan dan kata-kata kasar!

Beberapa nama tempat, jalan, posisi, dll hanya berdasarkan imajinasi/fiktif alias suka-suka, bukan berdasarkan kenyataan, tapi ada juga yang sesuai fakta. Dan banyak OC.

Situasi Tijuana yang sebenarnya tidak seburuk dari cerita ini, justru tempat itu harus kalian catat sebagai destinasi liburan lho!

Enjoy the Story!


Part 1

3 orang sahabat dari jaman perang dunia (maksudnya pertama kali masuk akademi FBI) sedang menikmati masa liburan mereka yang masih seminggu lagi. Petra, Nifa, dan Hanji, mereka bertiga memutuskan untuk pergi ke Pulau Maldives, pulau yang dikenal sebagai surga dunia dan banyak dikunjungi oleh para traveler dunia. Saat itu mereka sedang menelusuri jembatan sepanjang 10 km di tengah laut dengan beberapa bangunan penginapan terbuat dari kayu di pinggir jembatan sembari melihat-lihat pemandangan laut indah nan eksotis berwarna biru dengan kilauan cahaya matahari yang menyinari langit pagi itu dan saat itu air laut sedang tenang, sedikit mengeluarkan suara deburan ombak pendek setelah sebelumnya mereka bertiga menikmati air kelapa muda di tepi pantai yang tidak begitu ramai karena mereka mengambil cuti saat tidak musim liburan. Serasa pantai hanya milik mereka bertiga.

"So, Petra, kau dan Levi marahan lagi?" tanya Nifa.

"Oh, come on Nifa. Don't talk about it more. Lebih baik bicara tentang Gelgar atau siapa gitu" balas Petra dengan nada memelas.

"Gelgar? Gelgar yang dari tim Mike itu ya?!" tanya Hanji yang tiba-tiba penasaran.

"What? Gelgar?! Si rambut Elvis Presley itu?!" tanya Nifa.

"Jadi kau tidak pernah berkomunikasi denganya lagi ya Nifa?" tanya Petra.

"Ehm…kami jarang bertemu. Lagi pula, Gelgar itu orangnya arogan, narsis, dan suka berkata-kata manis, sepertinya dia itu playboy" kata Nifa sambil mengerutkan alisnya plus mengerucutkan bibirnya.

Petra dan Hanji hanya mengangguk-anggukkan kepalanya dan menatap Nifa dengan membentuk huruf O pada mulut masing-masing, karena kalau seorang wanita yang sedang tertarik dengan pria, arah pembicaraanya ya seperti Nifa.

"Apa?" Nifa membalas tatapan Hanji dan Petra seiring dengan langkah mereka yang juga terhenti.

"Hey, Gelgar itu sniper terbaik yang pernah kutahu lho" sambung Hanji.

"Terus kenapa?" tanya Nifa lagi. Mereka bertiga kembali melanjutkan acara jalan kaki yang sempat berhenti.

"Tidak mungkin kau tidak menyukainya Nifa!" kata Hanji lagi memanas-manasi Nifa.

"Gelgar arogan, berarti sama dengan Levi dong" sambung Hanji lagi sambil menatap Petra.

"Haaah?! Levi itu lebih dari arogan, tak terhingga dan sangat menyebalkan. Manusia paling tidak peka di dunia, ya dia itu!" balas Petra.

"Hahahahahah….inilah kata-kata dari orang yang tidak mau mengakui perasaan cintanya. Kalian berdua sama saja!" kata Hanji sembari menunjuk-nunjuk Petra dan Nifa dengan tatapan mengoloknya.

"Kau bicara seperti itu seolah-olah kau berani berterus terang saja! Aku tahu rahasiamu lho Hanji!" kata Petra.

"Eh?! Memang Hanji punya rahasia apa Petra?" tanya Nifa penasaran.

"Sejak kapan aku punya rahasia?!" kata Hanji sambil melebarkan kedua tanganya dan menaikkan bahunya, berjalan mendahului Petra dan Nifa.

"Ooh…..Pak Keith Sadis, anda terlalu tampan ketika memegang pistol dan mengejar para kriminal" kata Petra sambil menyilangkan kedua telapak tanganya di depan dadanya layaknya sedang berdoa dengan mata berbinar-binar mempraktekkan kejadian di masa lampau yang dilakukan Hanji ketika itu. Hanji shock seketika dan langsung menghentikan langkah kakinya yang memakai sepatu jenis oxfords berwarna cokelat tua. Ia mendatangi Petra dan mencengkram pelan kedua lengan Petra yang memakai dress off shoulder berwarna biru muda berhiaskan dedaunan cokelat selutut dan menggoyang-goyangkan tubuh Petra.

"Petra! Dari mana kau tahu? Siapa yang berani menyebar fitnah kejam seperti itu?" tanya Hanji dengan mata mengerikan sekaligus depresi. Petra tertawa kecil.

"Tidak ada. Aku melihat dengan mata kepalaku sendiri. Saat si Keith itu habis menangani kasus perampokan 1 keluarga bersama timnya" kata Petra.

"Apaah? Jadi Hanji menyukai Pak Sadis? Ya ampun Hanji, ternyata seleramu yang wajahnya mengerikan begitu ya" sambung Nifa dengan raut wajah heran.

"Diam kau Nifa! Ayo katakan Petra!" Hanji menatap Nifa sejenak dan melanjutkan pecakapan seriusnya dengan Petra. Nifa mengangkat kedua tanganya seolah berkata "Hei jangan marah Hanji!"

"Astaga. Hanji apa kau tidak sadar, semua juga tahu kok. Pokoknya semua yang ada ditempat itu waktu itu. Aku, Erd, Gunther, Moses, dan Auruo. Kecuali Nifa, karena dia sedang cuti ke Texas"

Hanji melepaskan cengkraman pelanya pada lengan Petra secara perlahan, lalu menepok jidatnya. Wajahnya masih terlihat depresi.

"Hey Hanji, kau jangan depresi begitu, lagi pula Pak Sadis itu agen yang hebat lho. Semua orang menghormatinya" kata Nifa.

"Kecuali Levi!" sambung Petra dengan santai.

"Ehm…yeah! Orang itu memang unik, entah siapa yang dihormatinya" kata Nifa lagi.

Mereka bertiga melanjutkan langkah masing-masing, dan kali ini mereka terlihat kompak berjalan.

"Oke, aku memang pernah menyukai Keith Sadis. Tapi tidak untuk sekarang" kata Hanji akhirnya berkata jujur.

"Hahahaha…memangnya kenapa kau tidak suka lagi padanya? Apa karena wajahnya yang menyeramkan dan tanpa ekspresi itu?" tanya Nifa pada Hanji.

"Entah kenapa aku jadi tertarik sama pria yang bernama Moblit itu"

"Moblit dari tim HRT?" tanya Petra.

"Yeah"

"Waitwait…Moblit itu masih muda lho, dia dibawahku. Jadi sekarang kau beralih jadi menyukai brondong ya Hanji?" tanya Petra lagi.

"Oh Moblit. Bukankah dia team leader?!" tanya Nifa.

Hanji tertawa sendiri dengan wajah memerah dan kedua telapak tangan di dada seperti biasanya saat ia merasa kagum terhadap seseorang. Petra dan Nifa yang berjalan di sisi kiri dan kanan Hanji, saling bertatap mata satu sama lain dengan wajah konyol.

Sepertinya Hanji kumat.

"Aku heran, kenapa harus 1 tim dengan Levi. Apa kalian tahu, sejak kami 1 tim, hubungan kami jadi terlihat aneh. Menjalin hubungan dengan rekan 1 tim, rasanya aneh bukan. Lebih baik aku dimasukkan ke tim lain saja!" Petra membuka pembicaraan baru secara tiba-tiba agar Hanji tersadar dari angan-anganya.

"Petra, kau harusnya bangga bisa masuk ke tim Levi. Rumor yang beredar, orang-orang yang bisa masuk ke tim Levi hanyalah orang-orang pilihan yang kemampuanya diatas rata-rata!" Hanji tersadar dan langsung membalas perkataan Petra.

"Kemampuan diatas rata-rata dalam hal apa nih?" tanya Petra.

Hanji menghela nafas sejenak.

"Dari segi kemampuan bela diri, menggunakan senjata, dan strategi. Tim Levi terkenal dengan itu dan bisa mengambil keputusan terbaik disaat terdesak bahkan saat nyawa terancam sekalipun" kata Hanji.

Nifa yang mendengar perkataan Hanji menjadi ge'er seketika lalu ia mengibaskan rambut pendeknya dan bersenandung pelan, tanda bahwa dia bangga. Petra melihatnya dengan tatapan seolah-olah yang dilakukan Nifa itu menyebalkan.

"Kau ini kenapa Nifa?!" Petra nyeletuk sambil menggeleng-gelengkan kepalanya sembari menghela nafas. Intinya dia kecewa, Erwin memasukkanya ke tim Levi. Nifa dan Hanji hanya senyum-senyum melihat kawanya yang ngambek dengan team leadernya sendiri, karena kalau mereka berdua sedang bertengkar, keduanya terlihat seperti anak SMA.

Mereka bertiga tetap melakukan acara jalan santai hingga 2 jam lamanya sambil membicarakan hal-hal diluar pekerjaan hingga matahari tepat diatas kepala mereka. Nifa yang memakai tank top putih dengan celana pendek jeans pun mulai kepanasan.

"Bagaimana kalau kita kembali ke hotel? Mataharinya mulai terik nih" tanya Nifa. Petra dan Hanji pun setuju.


[Kantor Dinas Kependudukan, New York]

Erd sedang mengurus dokumen kepindahanya dari Las Vegas yang belum selesai sejak setahun yang lalu bersama Gunther yang menemaninya. Ini pertama kalinya ia dipindah tugas ke tim BAU setelah sebelumnya ia berada di divisi kejahatan dunia maya. Erwin Smith sengaja memanggilnya untuk bergabung karena melihat rekam jejaknya yang cemerlang, pemegang sabuk hitam Brazilian Jujutsu, dan kemampuan analisis yang tajam. Erd membawa serta tunanganya untuk ikut bersamanya tinggal di New York. Banyak yang iri padanya termasuk Petra, karena hubungan Erd dengan tunangannya selalu mesra, romantis bahkan mereka tidak segan-segan memamerkan kemesraan di depan umum. Hanji memiliki panggilan sayang untuk Erd, si tampan. Yeah karena memang dia tampan dan simpatik.

"Si tua itu masih saja menelponku" kata Erd sembari berjalan keluar gedung bersamaan dengan Gunther di sebelahnya.

"Dia bilang apa?" tanya Gunther.

"Dia bilang, pikirkan sekali lagi Erd. Kembalilah ke timku!"

"Hanya itu?"

"Yup"

"Lalu kau jawab apa? Kau tidak ada niatan untuk meninggalkan kami kan Erd?"

"Tentu tidak Gunther. Aku suka tempat ini, aku suka kalian, semua layaknya keluarga bagiku" Erd dan Gunther berjalan menuju mobil Suburban hitam di parkiran mobil.

Mereka juga sedang memasuki masa cuti, dan masa cuti ini dimanfaatkan Erd untuk mengurus semua administrasi mengenai dirinya yang masih mengambang layaknya perahu yang diam di tengah laut tanpa ada yang mengendalikan.

[Rumah Sakit Jiwa, Poughkeepsie]

Auruo pergi mengunjungi ayah kandungnya yang menderita schizophrenia di RSJ Land, Poughkeepsie, hal yang sebenarnya tidak rutin ia lakukan. Sudah 2 tahun ia tidak mengunjungi ayahnya yang sekarang terlihat semakin tidak terurus. Ayah yang sebenarnya ia benci karena sering menyiksanya ketika ia kecil, namun sebagai anak yang berbakti Auruo tidak mengesampingkan kewajibannya.

Auruo duduk berhadapan dengan ayahnya yang dibatasi sekat kaca tebal anti gores, sekat yang berguna untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan jikalau pasien tiba-tiba mengamuk tak karuan. Ia berbicara melalui telepon yang telah disediakan, yeah RSJ ini hampir seperti penjara kalau bisa dibilang.

"Halo ayah. Apa kabar?" sapaan Auruo sebagai kalimat pembuka untuk ayahnya. Ayahnya terkejut karena ternyata anaknya masih ingat dirinya.

"Auruo! Kau sudah sukses ya sekarang, huh?! Memakai setelan kemeja Gucci seperti itu, ternyata aku telah sukses mendidikmu" Auruo menatap tatapan ayahnya yang tidak benar-benar memuji.

"Jujur saja ini bukan karena didikanmu yah. Ini adalah hasil perjuanganku sendiri" Auruo tidak menyesal mengungkapkan perkataan sebenarnya dari lubuk hatinya.

"Begitu ya?! Apa kau tau kalau aku jarang menyiksamu waktu itu, mungkin saat ini kau hanya menjadi sampah masyarakat yang tidak berguna!"

"Tapi faktanya sekarang, malah kau yang jadi sampah!"

Terdiam sejenak….

"Jika ayah bisa mendidikku dan menyayangiku dengan sepenuh hati, aku tidak akan sukses sendirian—" perkataan Auruo terputus.

"Dasar anak kurang ajar kau Auruo! Aku bisa saja memukulimu sekarang dan melemparmu dengan air keras! Fuck, shit, damn it, bla..bla…" keadaan jadi tegang seketika. Ayah Auruo menjadi naik pitam dan berdiri dari tempat duduknya. Ayah Auruo memukuli kaca pembatas yang tidak bisa pecah itu berkali-kali, lalu penjaga mendengar keributan tiba-tiba itu, dan sang penjaga langsung menahan tubuh ayah Auruo lalu menariknya ke dalam.

Sementara itu Auruo berdiri dari tempat duduknya pula dan hanya melihat ayahnya yang ditarik penjaga dengan tatapan datar.


Hanya Moses Braun yang memanfaatkan masa cutinya untuk mencari ilmu. Ia mengikuti training penembak runduk dan bahasa pemrograman. Ia memang satu-satunya di tim Levi yang hobi belajar hal-hal baru. Selain itu ia juga menguasai beberapa bahasa, salah satunya bahasa Perancis, dan beberapa kali diminta untuk bergabung menjadi Interpol. Moses pun selalu menolaknya ketika petinggi Interpol menelponnya, sama seperti Erd, tempat ia sekarang dan orang-orang di timnya adalah keluarga baginya, ia enggan untuk melepas semuanya.

[Kediaman Erwin Smith]

Malam sabtu tepatnya pukul 7 malam, Erwin mengundang para petinggi di FBI termasuk para team leader dari setiap divisi yang ada di New York, dan Levi adalah salah satu undanganya. Jujur saja Levi paling membenci pesta, karena pada akhirnya mereka akan bersentuhan dengan alkohol sampai tak sadarkan diri, dan Levi tidak menyukai hal itu, ia anti alkohol kecuali saat stress itupun tidak sampai mabuk. Erwin mengadakan pesta untuk merayakan keberhasilan dari FBI New York dalam memecahkan kasus dengan waktu yang singkat selama 10 tahun terakhir.

Levi berdiri bersama para team leader yang lain berbincang-bincang sembari menikmati pesta diiringi alunan musik piano dari Mozart dan permainan terompet dari Kenny G. Ada yang berdansa di dance floor, ada yang meminum wine sambil berdiri di dekat kolam renang, dan ada pula yang duduk di meja khusus tamu menikmati hidangan dessert yang telah disediakan.

Seorang wanita yang akhir-akhir ini menjadi perbincangan di kantor federal karena wajah dan tubuhnya semakin cantik dan sexy terlihat baru memasuki kediaman Erwin Smith. Ia mencari-cari sebuah perkumpulan penikmat pesta yang sekiranya cocok untuknya. Dan ia memutuskan untuk bergabung dengan para team leader.

"Hei…hei…lihat. Si sexy Maria Marcedes menuju kesini!" kata seorang team leader dari divisi anti teroris. Kakinya yang jenjang bak model papan atas memakai gaun silver berjalan mendekati para team leader. Yang megherankan, ia langsung menyapa sang team leader dari BAU team, Levi Ackerman.

"Hai. Kau Levi ya?" sapa wanita yang biasa dipanggil Maria itu bikin iri yang lain.

"Ehm…yes!" jawab Levi singkat yang membuat team leader yang lain sedikit emosi karena jawaban yang sangat singkat, datar dan terkesan cuek itu.

"Apa kau ingat aku Levi? Aku Maria dari divisi sains dan teknologi, aku seorang analis peluru yang waktu itu kau mintai tolong untuk menganalisa senjata pelaku incaranmu" wanita itu semangat memperkenalkan dirinya pada Levi.

Levi mencoba mengingat-ingat beberapa saat, karena ia jenis orang yang tidak gampang mengingat wajah orang lain bahkan namanya.

"Oh, yes, yes. Tentu saja aku ingat" dengan sedikit senyuman di bibirnya setelah bersusah payah membuka ingatanya kembali.

Suasana di sekitar Levi mendadak ramai dengan berbagai perkataan yang terlontar seperti "Kok bisa sih dia hanya tertarik dengan si pendek itu", "Agent Ackerman?! Jangan coba-coba mencari masalah denganya, lebih baik kita diam" dan bla…bla…bla…

Dasar agen tak berguna! Bisanya hanya bergosip!

Maria mengambil segelas wine dari pramusaji yang berkeliling untuk mengantarkan wine kepada para tamu yang baru datang dan mengajak ngobrol Levi.

"Bagaimana kalau kapan-kapan kita dinner?"

Levi yang sedari tadi tidak terlalu menghiraukan keberadaan Maria di dekatnya pun menjawab singkat.

"Okay. Tentu saja" sebenarnya Levi sendiri juga bingung kenapa dia tidak menolak ajakan wanita di sampingnya itu, karena saat ini hubungan cintanya juga tidak berstatus dan disisi lain ia menghargai Maria.

Agent Levi Ackerman, ini yang aku suka darimu. Kau tidak seperti laki-laki lain yang sering menggodaku.

Maria tersenyum sendiri membayangkan hal-hal yang menjadi ciri khas seorang Levi Ackerman. Levi sebenarnya sedikit risih dengan keberadaan wanita itu. Dan pesta akhirnya tetap berlanjut hingga larut malam.

Tepat jam 12 malam Levi memutuskan untuk menyudahi acara yang menurutnya tidak penting ini. Ia kemudian pamit pulang kepada semua orang-orang yang tadi mengobrol denganya termasuk sang empunya rumah. Berkali-kali Erwin melarangnya untuk pulang, namun Levi menolaknya dengan hormat.

Ia menuju mobil Rover merah, mobil pribadi Levi karena saat ini ia sedang diluar dinas, yang ia parkir tepat di depan rumah Erwin, mengenakan sabuk pengaman, dan menyalakanya hingga meninggalkan pelataran parkir dengan perlahan. Saat sampai di luar perumahan dekat jalan raya yang terlihat sepi, tanpa sengaja Levi melihat Maria yang berdiri di pinggir jalan yang sepertinya sedang menunggu seseorang. Levi menghentikan mobilnya dan berhenti tepat di depan Maria. Dan sebenarnya ini hanya akal-akalan Maria.

"Maria, kau sedang apa?" Levi menyapanya duluan.

"Aku sedang menunggu taxi, tapi tidak ada yang lewat"

"Kau tidak bawa mobil?"

"Tidak. Mobilku sedang di bengkel. Aku kesini naik taxi" dan ini 100% bohong. Karena Maria memang sengaja melakukanya agar Levi mengantarnya pulang.

Levi melihat sebuah mobil sedan Camaro terparkir di sebelah rumah paling ujung yang letaknya di pinggir jalan dan ia yakin rumah itu kosong tidak ada penghuninya. Mobil itu sedikit tertutup pohon dan dedaunan yang menjalar di rumah kosong itu, so hanya mata yang jeli saja yang dapat melihatnya. Kebetulan Levi mengetahui bahwa Maria berbohong, namun dia tetap mengantarnya pulang. Ia berdoa dalam hati semoga mobil Camaro itu besok hilang tanpa jejak.

"Naiklah ke mobilku! Akan kuantar kau pulang"

Maria bersorak dalam hati, rencananya berhasil.

Sepanjang perjalanan menuju rumah Maria, Levi tidak banyak bicara, tapi Maria lah yang selalu bertanya mengenai kehidupan pribadi Levi, mulai dari dia tinggal dimana, dia sudah punya pacar atau belum, dia suka makan apa, minum apa, dan banyak hal lainya. Levi hanya menjawabnya singkat kecuali yang bagian dia sudah punya pacar atau belum, ia tidak menjawabnya sama sekali dan tetap fokus menyetir. Mengetahui hal itu, Maria langsung mengalihkan ke pembicaraan lain. Hingga akhirnya sampai di depan rumah Maria, rumah minimalis dengan tanaman hias yang indah, berkat hobinya yang suka bercocok tanam.

Maria tetap duduk di kursi penumpang berharap agar Levi membukakanya pintu dan mempersilahkanya keluar. Sekali lagi Levi mengetahui rencana Maria, dan dengan berat hati ia keluar dari mobil dan membukakan pintu mobil untuk Maria.

"Mampirlah sebentar Levi"

"Sepertinya lain kali saja. Aku masih banyak pekerjaan" kata Levi sambil melihat jam tangan.

"What? Bukankah kalian sedang memasuki masa cuti?!"

"Cuti atau kerja, semuanya sama bagiku"

"Ayolah Levi, please. Mampirlah ke rumahku, sebentar saja" Maria menatap Levi dengan tatapan memohon dan Levi akhirnya luluh.

Levi memasuki kediaman Maria bahkan dalamnya pun terlihat rapi dan bersih, ternyata wanita ini cukup hebat dalam hal kebersihan. Levi langsung duduk di sofa berwarna cokelat di ruang tamu setelah Maria mempersilahkanya duduk, dan Maria pergi ke dapur untuk membuatkanya teh hitam. Rencana Maria tidak hanya yang tadi, tapi ia melanjutkanya dengan memberikan obat bius jenis GHB ke teh hitam yang ia buat untuk Levi. Entah kenapa ia begitu agresif terhadap Levi.

Setelah Maria selesai membuatnya, ia langsung menyajikannya pada Levi, lalu pergi ke dapur lagi untuk mengambil cemilan. Dan saat kembali ke ruang tamu lagi dan duduk di sebelah Levi:

"Kau benar-benar ingin menjebakku ya Maria!"

"Ma…maksudmu apa Levi?"

"Kau sudah membohongiku 3x"

"Yang pertama, kau membawa mobil Camaro saat ke rumah Erwin kan yang kau parkir di rumah kosong pinggir jalan" Levi melanjutkan.

"Yang kedua, kau memasukkan obat bius ke tehku. Sebenarnya apa maumu? Kau mau memperkosaku atau apa?" tentu saja sebagai seorang penikmat teh hitam sejati pasti tahu bagaimana aromanya yang original. Dan jika baunya berbeda, berarti sudah ada campuran di dalamnya.

Maria hanya terdiam…

"Dan yang ketiga…

Maria deg-degan seketika…

"Kau seorang transgender ya?!" Maria jadi terkejut bukan kepalang.

"Ba…bagaimana kau tahu?"

Levi hanya menunjukkan lehernya, tepatnya jakunya.

"Dan dadamu itu bentuknya terlalu bulat seperti diisi silicon di dalamnya. Itu tidak wajar!"

"Ka…kau pernah melihat dada wanita ya Levi hingga tahu bentuk detailnya?"

"Pernah. Milik Petra!"

"Petra?! Agent Ral maksudmu?!"

Levi langsung berdiri dari sofa empuk milik Maria tanpa menghiraukan pertanyaan Maria, menaruh cangkir teh hitam yang sedari tadi ia pegang tanpa ia minum, dan bergegas pergi. Maria mengejarnya dan berhasil menggapai tangan kiri Levi.

"Levi, kalau aku wanita tulen, apa kau akan jatuh cinta padaku?"

Levi menatapnya sejenak.

"Tidak, Maria. Aku minta maaf"

"Tapi kenapa? Apa hatimu sudah diisi wanita lain?" tanya Maria penasaran.

Levi terdiam sejenak…

"Yes"

"Siapa dia? Apakah Agent Ral?"

"Kurasa kau sudah tahu jawabanya"

Levi memasuki Rover merahnya dan pergi meninggalkan Maria. Sementara itu Maria hanya meratapi kepergian sang BAU team leader yang terkenal dengan omongan sarkastiknya itu. Sangat susah memang menipu orang yang mempunyai rekam jejak sempurna sebagai agen federal seperti Levi.


[Tijuana, Perbatasan AS-Mexico, 3 hari setelahnya]

Restorant La Querencia pagi itu terlihat ramai didatangi para pengunjung yang kebanyakan adalah para imigran Mexico yang ingin menyebrangi perbatasan untuk menuju San Diego, AS. Restoran ini memang khusus menyediakan makanan ala Amerika Latin dan tidak pernah sepi pengunjung. Ada imigran yang datang bersama anak dan istri mereka sambil menikmati sup penis sapi, ada juga yang datang sendirian menikmati tacos ataupun sekedar menikmati makanan pencuci mulut. Namun suasana pagi yang tenang itu tidak berlangsung lama karena secara tiba-tiba mereka dikejutkan oleh beberapa orang memakai topeng dan membawa senjata.

"Jangan ada yang bergerak kalau tidak mau mati!"

Seorang penjahat menembak mati satu orang pengunjung karena ia berusaha melawan. Pengunjung yang lain langsung histeris.

"Siapa yang ingin bernasib seperti dia, huh?!" kata salah 1 penjahat sambil berteriak.

Suara tangisan bayi yang sangat keras mengganggu telinga si penjahat.

"Bisakah kau menyuruhnya diam!" sambil mengarahkan pistol ke arah ibu dari bayi tersebut.

Para penjahat berjumlah sekitar 5 orang, 1 diantaranya seorang wanita. Mereka menjadikan para pengunjung restoran sebagai sandera dan menunggu agar pihak penegak hukum beserta wartawan meliput kejadian ini, sehingga mereka bisa mengungkapkan keinginan mereka.

1 jam kemudian….

Berita di TV dan media sosial telah ramai dengan headline penyanderaan yang tejadi di restoran La Querencia. Semua wartawan berlomba-lomba memberitakan kejadian terkini mengenai penyanderaan ini. Hingga sampailah ke telinga sang Director Erwin Smith di New York.

[Meeting Room, Kantor Federal, New York]

Tim Levi sudah berkumpul di luar ruangan untuk menunggu kepastian dari sang team leader yang sedang bersitegang berdebat dengan para petinggi FBI berjumlah 3 orang salah satunya Erwin Smith.

"Kami tidak mempunyai yurisdiksi untuk menangani kasus ini!" kata Levi dengan nada yang mulai meninggi.

"Levi, anggap saja kau dan timmu bertindak sebagai relawan!" kata salah satu petinggi.

"Relawan kau bilang?! Kau meremehkan timku atau bagaimana?! Ini daerah perbatasan dimana beberapa kartel menguasai tempat ini! Tim HRT dan penjaga perbatasan yang lebih berhak untuk menanganinya!"

"Oke, kalau begitu bagaimana kalau kau mengutus sekurang-kurangnya 2 orang dari anggota timmu kesana? Bukan sebagai relawan tapi sebagai Special Agent yang kami beri wewenang penuh atas kasus penyanderaan ini" tanya salah 1 petinggi lagi.

"Kau ini gila apa! Aku tidak mau mempertaruhkan nyawa dari anggota timku! Apa kau tahu, bahkan dalam 1 mobil pun itu adalah sekumpulan gangster bersenjata yang bisa saja tiba-tiba menembak polisi atau penegak hukum lain yang lewat! Di Tijuana tidak dapat dibedakan mana orang baik dan mana orang jahat!"

Erwin Smith membuka pembicaraan….

"Levi, timmu adalah yang terbaik dan menjadi andalan bagi kami. Bahkan kita semua masih tidak tahu siapa para penjahat ini, dan asal mereka atau nama kartel yang mereka ikuti atau dari pihak mana mereka. Kita memerlukan analisis dari tim BAU. Dan hanya timmu yang bisa menangani ini"

Levi terdiam sejenak…

"Maksudmu kau ingin mengorbankan timku?"

"Bukan. Bukan itu Levi"

Sementara itu di luar meeting room, Erd, Gunther, Auruo, Moses, Petra dan Nifa hanya pasrah dan terkadang mereka berdiri berjalan mondar mandir, lalu duduk lagi. Tak satupun dari mereka mengobrol satu sama lain, bahkan mereka sudah lupa pengalaman liburan masing-masing.

"Aku mengandalkan timmu, karena kemampuan timmu dalam hal bertarung dan menggunakan senjata serta analisis yang tepat terutama dalam mengambil keputusan disaat nyawa menjadi taruhanya"

"Kami akan membekali timmu dengan perlengkapan senjata yang canggih dan akan terus mengawasimu dari jauh. Kami akan memberitahu jika ada oknum kartel atau pihak penentang otoritas yang mengincar timmu saat dalam perjalanan" lanjut Erwin Smith.

"Please Levi" Erwin memohon dengan sangat pada Levi. Mereka saling memicing satu sama lain.

Dengan berat hati Levi akhirnya menyetujuinya karena di dalam hatinya ada rasa kemanusiaan tulus untuk menolong para sandera dan sudah menjadi kewajibanya untuk menangani kasus bahkan yang berbahaya sekalipun. Ini pilihanya menjadi seorang agen FBI dan ia siap untuk menanggung segala konsekwensinya. Yang penting ia bisa menyelamatkan orang sebanyak mungkin dan menghancurkan para penjahat.

Levi keluar dari meeting room, dan semua anggota timnya berdiri menanti jawaban dari sang team leader.

"Kita akan berangkat ke Tijuana dengan helicopter milik SWAT. Dan akan bertemu dengan tim HRT disana"

Wajah mereka menjadi horror seketika disertai keringat dingin mengucur dari kening masing-masing sambil berjalan mengikuti Levi yang akan menuju ruang persiapan. Sebab mereka tahu bagaimana tingkat kriminalitas yang ada di Amerika Latin terutama daerah perbatasan yang terbilang sangat tinggi. Bahkan kemampuan seorang penyidik harus setara dengan pasukan khusus militer jika ingin menginjakkan kaki kesana.

"Kusarankan kalian bawalah senjata terbaik yang kalian punya dan sediakan 9mm beberapa buah sebagai pistol cadangan!"

Hanji yang berada di ruang persiapan pun wajahnya menjadi bingung dan ikut-ikutan tegang.

"Aku yakin kalian pasti bisa! Aku akan membantu kalian semua dari—"

"Kau juga ikut, mata empat!"

"What?"

"Kau sudah boleh menggunakan senjata bukan?! Gunakan sub machine gun ini!" kata Levi sambil melempar sebuah MP5 ke tangan Hanji yang ia dapatkan dari loker senjata.

Masing-masing dari tim Levi memiliki loker sendiri, yang isinya adalah senjata pribadi dan perlengkapan untuk melakukan penyergapan. Levi mengeluarkan senjata rifle andalanya M4 Custom, senjata yang efektif digunakan untuk pertempuran jarak dekat. Ia menyettingnya berbalik menghadap tempat duduk panjang di antara loker-loker, dimana rekan-rekanya sedang sibuk mempersiapkan dirinya masing-masing.

"Wow…wow…wow…jangan arahkan senjata mahal itu ke arahku" kata Hanji yang duduk di sebelah Erd mencairkan suasana. Erd yang sibuk menyetting P90 nya hanya menatap Levi sejenak lalu melanjutkan kegiatanya lagi.

Nifa dan Gunther tetap mengandalkan MP5 yang terbilang mematikan itu. Auruo dan Moses mengandalkan handgun jenis Nighthawk 1911. Tetapi sang team leader:

"Apa kalian berdua yakin akan menggunakan itu?"

Auruo dan Moses terdiam, menantikan lanjutan dari perkataan Levi barusan.

"Akan banyak warga sipil disana, dan jenis peluru 1911 itu mudah menembus objek. Di sisi lain kalian akan membuang banyak waktu hanya untuk mengisi peluru, sedangkan kita akan berhadapan dengan orang-orang bersenjata yang akan menembaki kita secara membabi buta. Ciri khas gangster Amerika Latin!"

Akhirnya Auruo dan Moses secara kompak mengganti senjata mereka dengan M16 jenis assault rifle yang mampu mengeluarkan 600 peluru/menit.

"Itu lebih baik! Tapi sebaiknya saat penyergapan ke TKP, gunakan secondary weapon" kata Levi.

Petra yang tak kalah sibuknya mempersiapkan shotgun jenis Benelli M4 nya, senjata favoritnya yang selalu ia gunakan saat mengejar buronan teroris. Bahkan ia khusus mengikuti pelatihan menembak dengan shotgun itu selama 2 tahun. Dan disaat kesibukanya menyetting senjata pribadinya itu pun, ia tidak luput dari perhatian sang team leader. Levi langsung mendekatinya dan mengambil shotgunnya.

"Kau itu mau berburu hewan ya?! Senjata ini terlalu berat untuk digunakan di medan tempur jarak dekat, apalagi kau itu wanita. Kau akan tertembak duluan sebelum kau menembakkan shotgun bodohmu ini!"

"Kau bilang sendiri kan tadi, gunakan senjata terbaik kalian! Dan ini adalah senjata terbaikku!" balas Petra tidak mau kalah. Ia berusaha mengambil kembali shotgunnya tapi Levi selalu menjauhkanya dengan tangan kananya.

"Kembalikan Lev!"

"No way! Ganti yang lain!"

"Aku sudah mempunyai sertifikat training dengan menggunakan shotgun ini, kau tahu, aku berlatih selama 2 tahun. Dan kau tahu sendiri kan selama aku memakainya aku tidak pernah gagal!"

"Aku tidak peduli! Pakailah senjata yang lebih ringan!" Levi kembali ke lokernya dan mencarikan senjata yang pantas dipakai oleh Petra.

Petra hanya memperhatikan sang team leader dengan mengacak pinggangnya dan wajah yang sangat kesal serta mulutnya yang sedikit menganga akibat kejengkelan yang tertahankan. Sementara itu Erd dkk hanya senyum-senyum, lumayan hiburan anak SMA sebelum berperang kata mereka dalam hati.

"Gunakan handgun M45C ini!" Levi mendatangi Petra dan memberikan handgun mematikan itu ke tangan Petra.

"Aku ini bukan tentara sepertimu!"

"Kau bisa menggunakanya kan?! Bukankah kau pernah memakainya saat kita memburu teroris yang melakukan penembakkan di Brooklyn! Correct me if I'm wrong!"

Petra menatap Levi sejenak, dan akhirnya ia menyetujuinya untuk memakai handgun M45C yang biasa digunakan Navy Seal itu, senjata teringan yang pernah ada namun menimbulkan dampak yang luar biasa.

1 jam kemudian, setelah semua persiapan telah selesai….

Levi mengadakan meeting singkat dengan anggota timnya untuk memberikan beberapa instruksi dan pembagian tugas saat tiba di Tijuana serta posisi masing-masing sesuai senjata yang mereka gunakan. Tak lupa sang team leader juga menyuruh anggotanya untuk memakai kaos lengan panjang yang menyerap keringat dan jaket anti peluru tingkat IIA.

"Kuperingatkan pada kalian semua, tempat yang akan kita tuju ini terdapat banyak kartel narkoba yang tidak dapat kita duga. Terkadang 1 keluarga pun yang kita sangka orang baik-baik ternyata adalah anggota dari kartel. Dan jangan heran jika di pinggir jalan kalian melihat kepala orang yang sudah mati dipajang bahkan terkadang dengan tubuh mayat yang sudah termutilasi yang dilakukan pihak separatisme"

"Apa mungkin para penyandera ini termasuk pihak separatisme?" kata Erd.

"Kalau menurutku lebih ke perkumpulan pemberontak. Mereka mungkin menentang sistem pemerintahan atau menginginkan sesuatu yang ditolak pemerintah" sambung Petra.

"Yeah, karena mereka sengaja menunggu agar seluruh dunia mengetahuinya. Seandainya mereka dari pihak separatisme mungkin mereka tidak akan sesabar itu dan pastinya akan membuat kekacauan dimana-mana" kata Moses menambahkan.

"Kita tidak bisa berspekulasi dari sekarang sebelum tiba di lokasi. Kemungkinan akan ada negosiasi terlebih dahulu" Levi ikut berbicara.

"Wow, apa kita juga yang akan bernegosiasi dengan mereka?" tanya Auruo.

"Kita tidak dirancang untuk itu. Tim HRT yang akan melakukanya. Tugas kita untuk mengungkap siapa jati diri mereka yang sebenarnya dan apa tujuanya!" jawab Levi.

"Jangan segan-segan untuk menembak jika kalian menemukan orang mencurigakan saat menuju TKP! Erwin beserta anak buahnya akan memandu kita lewat HT!"

"Berhati-hatilah, karena kita juga akan melewati warga sipil! Jangan sampai kalian salah sasaran!"

"Roger!" jawab mereka serentak.

"Ayo berangkat!" kata sang team leader memakai kaos biru dongker dengan jaket anti peluru ala military berwarna hitam berjalan cepat meninggalkan ruang persiapan diikuti anggota timnya. Beberapa menit kemudian Levi menghentikan langkahnya untuk menunggu Petra melewatinya dan berkata:

"Petra! Kau tidak boleh jauh-jauh lebih dari 2 langkah dariku!" kata Levi singkat dan ia langsung melanjutkan langkahnya kembali dan kali ini ia berjalan lebih cepat. Sedangkan Petra berhenti sejenak sekaligus dibuat bengong dengan perkataan sang team leader sebelumnya dan ia pun tetap berjalan mengikutinya.

Apakah aku selemah itu?


Tim Levi telah sampai di Bandar Udara Tijuana, dan mereka dijemput dengan GMC Yukon berwarna hitam 2 buah yang telah disediakan Erwin di bandara, mobil SUV sekelas Chevrolet Suburban yang biasa mereka gunakan saat bertugas. Mereka sengaja tidak menggunakan atribut yang bertuliskan FBI sebagai antisipasi agar tidak menimbulkan kecurigaan dari orang-orang di sekitar terutama oknum-oknum yang menentang pihak otoritas dan kebal hukum.

Masing-masing memakai HT yang sudah terhubung ke kantor pusat di New York. Operator memantau dari kejauhan kemana saja mereka harus berjalan menelusuri kota dengan bantuan teknologi canggih, dan butuh waktu setengah jam untuk sampai ke TKP. Keadaan jalan raya saat itu ramai lancar dengan suhu kota sekitar 18oC. Levi dan timnya cukup menikmati perjalanan mereka sembari melenggang pandangan ke trotoar yang ramai oleh orang-orang lalu lalang. Ada perkumpulan anak-anak punk yang sedang nongkrong, ada juga perkumpulan anak muda bertato sedang minum-minum dan memegang sebuah bungkus plastik kecil yang entah apa isinya, juga ada seorang pemuda yang dipukuli oleh beberapa orang pemuda lainnya, pemandangan yang tidak mengherankan di Tijuana, tepatnya dekat dengan tembok pembatas. Erd yang menyetir mobil pertama membuka kaca mata hitam yang ia pakai sedari tadi karena terkejut tiba-tiba mobil mereka melintasi fly over dimana tepat dibawah jembatan ada 5 mayat tanpa kepala dan sehelai benang pun, digantung begitu saja layaknya daging hewan dengan beberapa orang yang hanya melihatnya tanpa melakukan apapun. Hanji yang satu mobil dengan Erd, Levi dan Petra pun menutup mulutnya yang menganga tanpa mengalihkan pandanganya ke hal yang mengerikan itu. Petra memilih untuk tidak melihatnya, dan Levi yang duduk di sebelah Erd hanya cuek seolah tidak terjadi apa-apa.

Nifa yang berada di mobil belakang bersama Gunther yang menyetir, Auruo dan Moses hanya ber "Oh my God" ria dengan detak jantung yang lebih cepat dari sebelumnya.

"Tenanglah Nifa! Kau harus tetap waspada!" kata Gunther yang duduk di kursi supir, dan Nifa di sebelahnya, berusaha menenangkanya.

"Kenapa mereka diam saja?!" tanya Auruo sedikit kesal.

"Itulah tindakan brutal dari mafia separatisme yang sedang berselisih, sebagai peringatan saingan mereka. Orang-orang yang tidak terlibat tidak berani ikut campur, karena jika mereka ikut campur sama saja menyerahkan nyawa secara cuma-cuma" kata Moses.

Mereka tetap melanjutkan perjalanan, hingga beberapa menit kemudian mereka berpapasan dengan mobil Ford Fiesta berwarna hitam yang di dalamnya berisi 5 orang. Wajah mereka penuh tato dan terlihat brutal, sepertinya mereka berasal dari kelompok tertentu. Orang-orang itu terus memperhatikan kedua mobil GMC yang Levi dkk tumpangi. Levi menyuruh teman-temanya untuk mensiagakan senjata mereka masing-masing. Levi yang duduk di kursi penumpang sebelah kanan, menyuruh Erd untuk minggir sedikit dan membuka kaca mobilnya setengah untuk membidik dengan M4 Customnya ke arah Fiesta hitam itu. Sedangkan Erd mempersiapkan P90nya sambil menyetir, Petra menggenggam M45C nya sedari tadi kecuali Hanji yang bingung harus melakukan apa karena ia tidak terbiasa bekerja di lapangan menggunakan pistol, ia lebih sering berkutat dengan layar Applenya.

"Aku akan melindungimu Hanji!" kata Petra yang duduk di sebelah Hanji. Hanji mengangguk-anggukkan kepalanya.

Sedangkan Nifa dkk sudah bersiaga dengan sub machine gun mereka masing-masing.

Keadaan jalan raya sedang banyak kendaraan, dan ketika sampai diperempatan jalan mobil Levi dkk belok ke arah timur yang sepi, dan Fiesta hitam itu langsung mencegat mereka. Hanya selang beberapa detik muncul Fiesta hitam lagi yang juga berisi 5 orang. Mereka yang berada di mobil Fiesta kedua turun dari mobil dengan membawa sub machine gun menembaki mobil Levi dkk. Levi dkk tunduk dan secara perlahan keluar dari mobil dengan senjata yang sudah mereka bawa sedari tadi, sementara Hanji tetap di dalam mobil.

Pada akhirnya terjadi baku tembak antara Levi dan timnya dengan para orang-orang Fiesta hitam itu.

"Levi! Arah jam 12!" suara dari headset HT yang Levi gunakan. Levi yang sedari tadi bersembunyi di samping mobil berdiri perlahan dan menembak 1 orang dengan senapan mahalnya itu.

"Jrat!" tepat mengenai kepala.

"Erd, sebelah kirimu!" kali ini headset yang dikenakan Erd. Ia langsung memunculkan dirinya dan menembaki 1 orang dengan P90 nya berkali-kali.

"Dor…dor…dor…." tepat mengenai organ-organ penting si penjahat.

Nifa dan Gunther berhasil menembak masing-masing 1 orang dengan MP5 nya, hingga tubuh si penjahat dihujani tembakan dan tewas seketika.

Auruo dan Moses mendatangi Fiesta hitam yang pertama dan menyuruh semuanya untuk turun dari mobil. Si penjahat berjumlah 5 orang itu sedikit ketakutan karena mengetahui 4 orang rekan mereka telah tewas. Salah seorang dari mereka membawa handgun Glock 17 terlihat bingung antara mau menembak Auruo dan Moses atau tidak.

"Suelta tu arma! (Jatuhkan senjatamu!)" teriak Moses.

"Usted policía? (Kalian polisi ya?)" tanyanya.

"Cepat jatuhkan senjatamu, dan kalian semua berbaliklah ke mobil!" kata Moses lagi tanpa menjawab pertanyaan si penjahat. Namun si pemegang pistol berubah pikiran dan langsung mengarahkan senjatanya ke arah Moses, namun berhasil dicegah Auruo karena ia berhasil menembak orang itu dengan M16 nya yang menyebabkan kehebohan itu. Rekan-rekannya yang lain langsung mengambil pistol mereka di dalam mobil namun berhasil Moses habisi semua dengan M16 mematikanya itu.

"Dor…dor…dor…." dan kelimanya tewas seketika tanpa ampun karena ulah Auruo dan Moses.

Seorang lagi bersembunyi di sekitar mobil yang ditumpangi Levi, Erd, Petra dan Hanji. Petra yang sedari tadi mencari-cari orang tersebut mendapatkan instruksi mengejutkan dari headset HTnya.

"Petra! Orang itu mengarahkan senjatanya ke arah Hanji!"

Petra yang berjarak beberapa senti dari mobil langsung berlari menuju mobil lalu menemukan orang itu dari balik kaca mobil dan menyuruh Hanji untuk merunduk, lalu menembak si penjahat itu berkali-kali dengan M45C nya yang super ringan itu hingga kaca mobil pecah dan tepat mengenai tubuh si penjahat. Si penjahat tewas seketika dengan bersimbah darah.

Levi dan timnya mengoreksi keadaan untuk memastikan semuanya sudah benar-benar aman, lalu mereka kembali melanjutkan perjalanan.

"Shit! Kita sangat membuang banyak waktu!" kata Levi dengan kesal.

Diketahui orang-orang yang tadi menembaki mereka berasal dari kelompok separatisme yang ingin memperjuangkan kedaulatan sendiri dengan menghabisi para polisi tanpa terkecuali, karena musuh mereka adalah polisi, tentara dan sekutunya atau mafia lain yang menjadi pesaingnya.


[TKP, Restoran La Querencia]

Dengan keadaan mobil yang sudah tak karuan, mereka akhirnya tiba di lokasi penyanderaan. Di lokasi sudah ada tim HRT dan tim SWAT beserta kepolisian federal Tijuana. Kabar terkini, sandera yang tewas hanya 1 orang, dan sisanya sekitar 20 orang beserta para kru restoran masih hidup dengan kondisi psikis yang kurang baik.

Saat ini sedang berlangsung proses negosiasi yang dilakukan tim HRT, namun para penyandera tidak mau menyebutkan keinginan mereka sebelum semua pihak yang berwenang berkumpul. Dan tim BAU adalah yang paling ditunggu dan paling terakhir tiba di lokasi.

Semua yang melihat keadaan mobil tim Levi yang berlubang dan kaca yang pecah berlari mendekati mereka termasuk tim medis, untuk menanyakan keadaan mereka yang ternyata baik-baik saja.

"Levi!" seorang pria berambut pirang menyapa Levi dan timnya dengan ramah.

"Moblit!" mereka bersalaman lalu berpelukan. Hanji yang sedari tadi menampakkan wajah kagum seketika langsung disenggol bahunya oleh Petra agar ia tersadar dari lamunanya yang tidak pas dilakukan sekarang itu.

Levi dan Moblit langsung berjalan cepat menuju mobil multimedia yang di dalamnya sudah terdapat layar CCTV untuk memantau keadaan di dalam restoran. Tim Moblit mendatangi mobil, berjalan perlahan, mereka berjumlah 6 orang dengan seragam lengkap, dan tim Levi memperhatikan mereka satu persatu dari kejauhan.

Setelah mereka memperkenalkan diri masing-masing, mereka langsung berkumpul bersama untuk menyusun strategi.

"Armin, kau bisa membantuku?" tanya Hanji yang duduk bersebelahan dengan pria bernama Armin Arlert dari HRT sembari membuka layar Applenya.

"Tentu saja Hanji. Kita akan membuat kejutan untuk mereka" balas Armin, yang memiliki kesamaan dengan Hanji dengan meraih Ph.D di usia 23 tahun. Mereka berencana untuk meretas seluruh alat komunikasi yang ada di dalam restoran.

Negosiasi pun dilanjutkan karena para orang-orang yang ditakuti kriminal sudah lengkap berkumpul dengan salah seorang bernama Marco Bodt dari HRT sebagai negosiator utama beserta Jean Kirschtein sebagai negosiator pendamping, dan dr. Sasha Blouse seorang ahli psikologi. Mereka bertiga tergabung sebagai tim negosiator di HRT, karena keintelektualan mereka dalam berkomunikasi. Tim HRT juga memiliki seorang penembak runduk bernama Conny Springer, yang terkenal cerdas dalam setiap aksinya walaupun umurnya terbilang masih muda, 25 tahun. Ia pernah menempuh pendidikan US Air Force.

Tiba-tiba dari dalam restoran terdengar suara tembakan yang cukup keras, dan tentu saja mengagetkan tim BAU dan tim HRT yang melihatnya dari layar di dalam mobil.

"Aku ingin wanita yang bernama Historia Reiss itu untuk masuk kesini!" kata salah seorang bertopeng yang kemungkinan wanita berperawakan tinggi.

Darimana dia tahu namaku?

TO BE CONTINUED