Inspired by: Criminal Minds

Attack on Titan Fanfiction

Cover Image merupakan gambar saya sendiri, meskipun gambarnya jelek, tidak boleh mengambil tanpa seijin saya.

Original Story only created by Hajime Isayama, I only borrowed his characters. No commercial purpose, entertain only.

Title: The Profiler

Free Them

Genre: Action, Crime, Drama, Adventure

Rated: M

THIS IS FLASHBACK STORY ABOUT 2 YEARS AGO

Additional Character: Ymir

Warning: Mengandung adegan kekerasan dan kata-kata kasar.

Enjoy the Story!


Part 2

Orang bertopeng yang diperkirakan wanita itu menembakkan pistolnya ke arah langit-langit, namun cukup mengejutkan para sandera di sekitarnya terutama wanita dan anak-anak yang histeris. Mendengar keinginan si penjahat Marco Bodt selaku tim negosiator ikut berbicara melalui telepon yang tersambung ke dalam restoran dan Jean ikut membantunya membuat kata-kata agar tidak salah berucap.

"Can't you speak in English?" Marco bertanya pada si penjahat. Namun si penjahat sepertinya tidak mengerti. Beruntung Marco bisa berbahasa Spanyol dan Moses pun ikut membantu menerjemahkan karena ia juga piawai berbahasa Spanyol.

"Bien, soy Marco quien te hablaba (Oke, saya Marco yang tadi berbicara dengan kalian)"

"Kalau boleh tahu, kenapa kau menginginkan Historia masuk?"

Si penjahat wanita itu langsung membuka topengnya dan terlihat wajahnya yang tirus itu dengan bintik-bintik di pipinya. Historia terlihat kaget, menandakan bahwa ia mengenal wanita itu.

"Ymir!" katanya.

"Ye…Ymir?" tanya Marco heran.

Mendengar nama dari si penjahat, Hanji dan Armin langsung bekerja keras dengan layar Apple masing-masing.

"Kau mengenalnya, Historia?" sambung Sasha yang berada di sebelah Marco bersama Jean dan Moses. Sementara tim Levi selain Moses bersama Moblit dan Connie sibuk memperhatikan layar CCTV sambil berdebat.

"Dia itu ma…mantan pacarku!" kata Historia.

Jean hampir pingsan mendengarnya.

"What? Ka…kau le…les—" kata Jean dan Sasha langsung memukul Jean dengan sikutnya hingga Jean kesakitan. Marco tidak menghiraukan mereka berdua dan kembali bertanya pada Ymir lewat telepon yang sedari tadi ia pegang.

"So, kau mengenal Historia, itu artinya kau bisa berbahasa Inggris?!" tanya Marco.

"Yes, aku bisa bahasa Inggris!"

Hanji menemukan data bahwa Ymir adalah anggota dari kartel Castillo, kartel asal Mexico yang menyelundupkan kokain dalam jumlah besar hingga seluruh dunia. Dan merupakan warga negara Amerika. Ymir pernah masuk penjara 6 bulan lalu tapi dia berhasil melarikan diri.

"Aku ingin Historia masuk kemari, bisakah kalian cepat sedikit!" kata Ymir dengan nada yang meninggi.

"Dan tanpa senjata tentunya!" lanjut Ymir.

Historia memakai seragam lengkap dan jaket anti peluru tanpa pistol ataupun senjata. Moblit menginjinkan anggotanya itu untuk masuk dengan catatan Connie berada diluar mengawalnya masuk, bersama tim SWAT yang sudah menggitari restoran sedari tadi dengan senapan masing-masing. Wartawan diminta untuk meninggalkan lokasi, dan hanya menstanby kan kamera mereka agar tetap bisa menyampaikan kondisi terkini kepada masyarakat ataupun keluarga para sandera sehingga keadaan di luar bersih dari warga sipil

"Levi, kenapa kita tidak masuk saja ke dalam?" tanya Auruo.

"Di dalam masih banyak sandera. Kalau kita masuk sama saja kita membunuh mereka. Kita harus memikirkan caranya agar para sandera bisa keluar dari restoran dan restoran harus benar-benar steril dari warga sipil" jawab Levi.

"Bagaimana kalau kita melakukan pertukaran antara Historia dengan para sandera? Setidaknya wanita dan anak-anak terlebih dahulu" kata Petra yang mendekati Marco.

Negosiasi pun berlanjut…

"Kalau kau ingin Historia masuk, aku minta kalian untuk membiarkan para sandera keluar! Ladies and kids first!"

[Sementara itu, di dalam restoran]

"Hey Ymir, kenapa kau hanya memikirkan keinginanmu sendiri? Bagaimana dengan tujuan awal kita? Te olvidaste? (Apa kau lupa?)"

"Kenapa kalian bergantung padaku? Daritadi yang berbicara dengan mereka kan hanya aku!" balas Ymir. Mereka melakukan perdebatan kecil. Dan akhirnya salah seorang dari rekan Ymir mengambil gagang telepon yang sedari tadi dipegang Ymir.

"Tidak semudah itu agent! Sama saja kami merugikan diri sendiri! Kalian hanya mengirim 1 orang sementara kami membebaskan beberapa orang! Eso no es justo! (Itu tidak adil!)"

"Baiklah Guillermo! Bagaimana jika kalian membebaskan uno rehén?! (satu sandera?!)" kata Marco dari telepon.

Rekan Ymir yang ternyata bernama Guillermo itu pun terkejut karena ternyata para agents mengetahui namanya.

"Como saben mi nombre? (Bagaimana mereka tahu namaku?)" Guillermo mengalihkan wajahnya ke teman-temanya sembari memegang gagang telepon.

Levi dkk mengetahui nama mereka masing-masing berkat Hanji dan Armin yang berhasil meretas ponsel para penyandera, diantaranya Guillermo, Santiago Rodriguez, Gabriel Dylan, dan Christopher Diego, kecuali Ymir yang telah mereka ketahui identitasnya karena Historia. Hanya Ymir satu-satunya yang merupakan anggota kartel narkoba.

"Marco, sebaiknya anak kecil itu dulu saja yang keluar. Ia harus mendapatkan bimbingan psikologi setelah ini" kata Sasha pada Marco sambil menunjuk seorang anak kecil dari layar CCTV yang wajahnya gemetaran dan mengeluarkan air mata terus menerus. Akhirnya Ymir dkk pun setuju dengan pertukaran itu, Historia dengan si anak kecil yang dimaksud Sasha.

Historia mulai memasuki restoran dengan perlahan bersama Connie yang mengawalnya, tapi Connie tidak ikut masuk, karena jika ia masuk para penyandera mengancam akan membunuh 1 orang. Historia masuk sambil mengangkat kedua tanganya, dan Santiago menggeledahnya untuk memastikan bahwa Historia tidak membawa senjata ataupun granat. Dan si anak kecil langsung dikawal menuju tim medis dan Sasha.

"Ymir tolong jangan lakukan hal bodoh seperti ini, please!" kata Historia yang terkenal berparas cantik dengan perkataan lembutnya itu.

"Itu karena kau membohongiku bahwa ternyata kau FBI dan menjebloskanku ke penjara!"

"Aku minta maaf. Itu sudah menjadi tugasku!"

"Jadi selama ini kau tidak benar-benar cinta padaku? Kau hanya memanfaatkanku agar kau bisa naik pangkat?" Ymir dan Historia saling memicing.

Secara mengejutkan tiba-tiba Guillermo menembak Historia dan mengenai dada atas sebelah kanan yang dekat dengan bahu kanan. Historia terjatuh, dan Ymir langsung mendekatinya. Beruntung Guillermo sengaja tidak menembak organ penting Historia sehingga ia tidak tewas.

"Historia! Kau tidak apa-apa? Guillermo kenapa kau menembaknya? Brengsek kau!" kata Ymir dengan kekesalanya terhadap Guillermo.

"Itu karena aku muak dengan urusan pribadi kalian!" ucap Guillermo.

Sementara itu tim Levi dan Moblit….

Mereka menampakkan wajah terkejut bukan kepalang melihat Historia yang terkena tembakan.

"Kita harus masuk!" Connie berbicara dengan emosi sambil berjalan cepat untuk menuju ke dalam restoran namun Moblit menggengam lenganya untuk mencegahnya.

"Jangan! Kalau kau sampai melakukanya, semua akan sia-sia"

Levi berkonsentrasi memperhatikan setiap sudut yang ada di dalam restoran lewat layar CCTV itu. Tak lupa ia juga memperhatikan posisi penyandera, sandera, pintu keluar, dan senjata yang dibawa para penyandera. Marco menelpon ke dalam restoran lagi.

"Guillermo, kau menyalahi kesepakatan kita—"

"Eso es porque maldito Ymir es egoísta! (Itu karena Ymir sialan itu egois!)"

"Escuchame agents! (Dengar agents!) Aku ingin kalian membebaskan rekan-rekanku yang sedang ditahan di penjara federal! Bahkan diantara mereka ada seorang ibu yang berpisah dengan anaknya!" lanjut Guillermo.

"Yang kedua, aku ingin sejumlah uang 1 juta US Dollar agar kami semua bisa kembali lagi ke Mexico City, nuestra ciudad natal (kampung halaman kami)"

"Kami bisa menurutinya asalkan kalian bebaskan dulu para rehén (sandera)!" kata Marco.

Disaat mereka masih melakukan perdebatan….

Hanji dan Armin tidak menemukan catatan kejahatan dari para penyandera kecuali Ymir seorang. Tim Levi berkesimpulan bahwa mereka adalah sekelompok imigran gelap yang ingin menyebrangi perbatasan, namun karena kendala ekonomi mereka mengambil cara yang singkat tanpa harus ketahuan pihak otoritas. Beberapa dari imigran gelap itu ketahuan oleh polisi penjaga perbatasan dan akhirnya dijebloskan ke dalam penjara federal.

"Berarti orang-orang ini masih memiliki rasa kemanusiaan. Mereka bukan benar-benar penjahat!" kata Gunther.

"Menurutku the only one bad guy is Ymir!" tambah Nifa.

"Or girl!" celetuk Auruo.

"So, kenapa Ymir bergabung dengan mereka? Apa hanya untuk mencapai tujuan pribadinya bertemu Historia?" Erd berpendapat.

"Kurasa Ymir punya tujuan lain" Petra ikut mengungkapkan teorinya.

"Tapi apa?" tanya Moses.

"Itu yang harus kita cari tahu" sambung Levi singkat.

Guillermo dkk menyetujui negosiasi untuk mengeluarkan para sandera dari dalam restoran dengan syarat ia harus melihat rekan-rekanya di penjara untuk mengetahui bahwa mereka baik-baik saja beserta uang 1 juta US Dollar yang harus sudah tersedia di lokasi dan berada di tanganya. Polisi federal Tijuana ditugaskan untuk mengambil uang dari bank sesuai yang diminta Guillermo dkk dan juga pergi ke penjara federal bersama Hanji yang juga ikut untuk menyetting jaringan agar terhubung dengan layar di TKP.

"Kami sudah menyuruh rekan kami untuk menjalankan perintahmu Guillermo, dan sekarang kami ingin rekan kami dari tim medis masuk untuk mengobati luka Historia!" kata Marco.

"Marco, katakan padanya jika ia berulah lagi, keinginanya batal seketika!" Jean menginstruksi lewat bisikan di telinga Marco.

"Oh, si (Oh, ya). Jika kau berani menembak tim medis kami ataupun berbuat ulah, keinginanmu dan teman-temanmu akan langsung kami batalkan!" kata Marco menekankan kata-katanya agar terdengar jelas di telinga Guillermo.

"Baik. Kami cukup sportif dalam hal ini. Por favor entra! (Silahkan masuk!)" kata Guillermo.

Salah seorang tim medis seorang dokter bernama Russell mulai memasuki restoran dikawal oleh salah seorang dari HRT. Ia menuju tempat Historia terkapar di pangkuan Ymir dengan peluru yang masih menancap di dekat bahu kananya. Wajahnya terlihat kesakitan namun Ymir terus menenangkanya. Russell melakukan operasi kecil untuk mengeluarkan peluru berukuran 9x19 mm yang berasal dari pistol Glock 17.

Setengah jam kemudian….

Polisi federal yang ditugaskan untuk mengambil uang dan mengunjungi penjara federal akhirnya tiba di TKP. Marco meminta ijin pada Guillermo dkk agar mereka dibiarkan masuk bersama HRT untuk mengawal para sandera. Dan akhirnya mereka diijinkan masuk berjumlah 2 orang polisi federal dan seluruh tim HRT, Moblit, Marco dan Jean dengan HK416 nya; Sasha dengan M1911 serta Connie yang memakai sniper rifle MSG90 tanpa Historia yang sedang beristirahat akibat terluka. Salah seorang dari police officer membawa sejumlah uang di dalam koper, dan seorang lagi membawa tablet berukuran 10,5 inci yang telah terhubung dengan para imigran Mexico yang ditahan di penjara. Mereka mengadakan pertukaran dengan Guillermo dkk, lalu para sandera dibiarkan keluar dan dikawal oleh HRT dengan senjata lengkap. Tim Levi ikut masuk ke dalam restoran dengan senjata masing-masing yang telah mereka persiapkan sebelumnya, kecuali Auruo dan Moses yang memakai 9mm sebagai secondary weapon.

"Moblit! Kita akan menyergap mereka semua!" Jean berbicara dengan Moblit di sebelahnya.

"Tidak. Tunggu sebentar!" Moblit menahan Jean dengan tangan kirinya.

Momen mengharukan terjadi. Salah seorang dari imigran berjumlah 12 orang itu, adalah seorang wanita bersama anaknya yang tak lain adalah istri dan anak dari Guillermo. Dan 10 orang lainya merupakan kerabat dari Santiago, Gabriel dan Christopher. Mereka saling berbicara kerinduan masing-masing sambil mengeluarkan air mata, karena sudah tidak bertemu kurang lebih 3 bulan. Wajah masing-masing orang dari tim Levi dan Moblit pun berubah menjadi iba pada mereka, seolah mereka sedang menonton drama pertunjukkan yang menyedihkan.

Para sandera akhirnya berhasil dikeluarkan dan masuk ke dalam bis dengan dikawal beberapa orang dari SWAT untuk diantar ke rumah masing-masing. Ymir yang masih berada di dalam restoran, ditahan oleh Connie. Tim HRT tetap bersiaga di berbagai pintu dan sudut yang ada di dalam restoran agar setelahnya mereka bisa menahan Guillermo dkk.

Namun drama pertunjukan itu tidak berlangsung lama, karena mereka tiba-tiba diberitahu lewat HT masing-masing akan hal mengejutkan. Connie terkejut karena Ymir langsung berlari keluar dan tidak sempat menembak akibat suara HT di telinganya.

"Sergio mengaktifkan granat di tanganya! Semuanya keluar!" kata Armin yang sedari tadi standby di mobil multimedia dan melihat layar CCTV versi MHD lewat laptopnya. Sergio adalah salah 1 polisi federal yang membawa koper berisi uang. Tanganya yang ia sembunyikan di belakang tubuhnya tak sengaja terekam CCTV, sehingga Armin dapat melihatnya.

"Blarrr!"

"Duarrr!"

Restoran hancur seketika dan terbakar terutama bagian timur dan barat yang terparah. Beruntung seluruh tim Levi dan HRT selamat dari ledakan karena berhasil keluar tepat waktu. Hanji dan Armin yang sedari tadi sibuk dengan layar Applenya pun langsung berlari bersama tim medis menuju luar restoran yang sudah hancur itu.

Petra yang jatuh tersungkur akibat berlari dan melompat keluar restoran bersama Levi dan yang lainya, memaksa dirinya untuk berdiri, kembali berlari ke dalam restoran yang penuh api dan reruntuhan bangunan untuk menyelamatkan Guillermo dkk.

"Kau tidak boleh ke dalam Petra!" Levi menahan tubuh Petra dengan kedua tanganya.

"Aku ingin menyelamatkan Guil—" Petra memberontak, tapi Levi tetap memeluknya dari belakang dengan sekuat tenaga.

"Mereka sudah tewas! Semuanya!"

Petra mengurungkan niatnya karena perkataan Levi barusan, nafasnya tersengal-sengal, dengan raut wajah yang teramat sangat kecewa hingga matanya memerah dan mengeluarkan sedikit bulir dari kedua matanya.

"Uhuk…uhuk…" Nifa terbatuk akibat asap ledakan sambil memegangi telinganya yang berdengung. Ia perlahan berdiri dan terlihat sedikit kebingungan.

"Kau tidak apa-apa Nifa?" tanya Erd yang tepat berada di sebelahnya.

"Ye…yes"

Auruo dan Gunther yang berada di sebelah utara berlari untuk mencari yang lain.

"Aku belum menemukan Moses!" Auruo berbicara melalui HT di telinganya.

"Aku juga belum menemukan Connie dan Sasha!" kata Jean ikut berbicara lewat headsetnya.

"Mereka ada di dapur, sisi selatan!" balas Moblit lewat headset HT nya.

Moses, Connie dan Sasha bersembunyi di dapur restoran yang letaknya berada di sisi selatan, satu-satunya tempat yang hanya hancur sedikit. Mereka menengkurapkan diri di balik meja dapur yang panjang dipenuhi api dan asap kebakaran karena ledakan dari granat jenis TNT itu. Mereka selamat dengan kondisi tubuh penuh kotoran dan debu serta sedikit luka ringan di wajah. Moblit dan Marco yang paling dekat dengan selatan, menyusul mereka ke dapur dan membantu mereka untuk keluar.

Beberapa menit kemudian seluruh polisi federal yang dari awal penyanderaan hingga selesai berada di restoran, secara mengejutkan mengeluarkan senjata sub machine gun mereka dan menembaki setiap orang dari tim Levi dan tim HRT, tanpa tim SWAT yang sudah pergi seluruhnya mengawal para sandera untuk pulang. Tidak diketahui berapa jumlah polisi federal tersebut.

Tentu saja membuat tim Levi dan tim HRT kalang kabut lalu berlarian untuk mencari perlindungan. Levi yang sedari tadi membawa M4 Customnya bersembunyi di balik humvee milik HRT bersama Petra yang menggenggam M45C dan Erd yang menyiagakan P90nya. Ia membidik salah satu officer.

"Jrat!" tembakan tepat di urat nadi leher dan tewas seketika.

Levi kembali membidik.

"Jrat!" ikut tewas bersama rekanya dengan sekali tembakan di kepala.

Petra memisahkan diri dari Levi dan Erd. Dan menemukan Sergio, officer yang membuat ulah dengan granat TNT nya. Sergio menembaki mobil GMC yang terparkir 2 meter di sebelah humvee tempat Petra berlindung dengan sub machine gunnya. Petra lalu berdiri menampakkan dirinya dan langsung menembakki Sergio tanpa ampun hingga senjatanya terjatuh. Petra lalu mendekati tubuh Sergio yang belum mati untuk menatapnya sejenak lalu menembak kepalanya 2x hingga tewas.

Erd ikut memisahkan dirinya dari Levi menuju ke semak-semak, dan menemukan seorang officer lalu menembaknya berkali-kali dengan P90 nya. Ia berbalik dan menemukan seorang officer lagi, yang tentu saja tidak luput dari tembakan P90 mautnya itu.

2 orang polisi federal berlari menuju mobil multimedia untuk memberi kejutan pada Hanji dan Armin yang ada di dalamnya. Tapi malah 2 polisi itu yang mendapat kejutan mematikan dari Hanji yang tidak segan-segan langsung menembakkan MP5 nya sehingga 2 polisi itu tewas seketika.

"Sial! Senapanku tertinggal di dalam!" kata Connie yang sendirian berlindung di balik dinding dapur restoran yang masih utuh sebagian. Ia lalu mengeluarkan senjata cadanganya M1911 dan menemukan 2 orang polisi federal. Lalu menembaknnya dengan hanya 2x tembakan tepat di kepala. Tidak diragukan lagi kemampuan dari seorang sniper dari tim khusus sepertinya.

Sasha berjalan perlahan di dekat semak-semak dan sesekali bersembunyi lalu menembak, beradu pistol dengan seorang polisi federal yang juga menggunakan handgun. Selang beberapa menit setelah adu tembak yang seru itu, akhirnya sang polisi tewas dengan tembakan 2x tepat di kedua matanya hingga tembus ke belakang kepalanya.

"Dimana Historia?!" kata Jean bersama Marco menuju mobil milik tim medis yang semuanya telah tewas tertembak. Mereka masing-masing berhasil menembak seorang polisi federal dengan HK416 yang mengerikan itu.

Nifa dan Auruo saling membelakangi untuk menembak buruan mereka masing-masing. Nifa dengan MP5nya yang membuat tubuh korbanya berlubang banyak akibat peluru hingga tewas dan Auruo dengan pistol biasanya 9mm dengan 2x tembakan tepat di jantung si korban, atau lebih tepatnya musuh mereka dari kepolisian federal yang berkhianat.

Adegan baku tembak itu diakhiri oleh Moses dan Gunther, hingga orang-orang dari kepolisian federal tak tersisa seorangpun.

Tim Levi dan tim Moblit akhirnya berkumpul di sekitar mobil multimedia setelah memastikan keadaan benar-benar aman. Beberapa menit kemudian tim Fire Rescue Tijuana datang untuk memadamkan api di restoran yang sudah tak berbentuk itu.

"Guys, aku sedang melakukan pengejaran terhadap Ymir dan Juan. Mereka membawa kabur Historia!" Moblit menelpon ponsel Armin dan sengaja ia loudspeaker.


Armin melacak keberadaan Moblit lewat ponsel yang dipakainya barusan untuk menghubungi Armin. Moblit berada di sekitar jalan La Quiero, dan hal itu membuat anggota timnya Marco, Jean, Connie dan Sasha pergi menyusulnya dengan mobil GMC.

Sementara itu Levi dkk….

"Hanji, bisakah kau mencari tentang apa saja mengenai kartel Castillo?" tanya Levi.

"Oke, itu akan membutuhkan waktu yang agak lama. Armin bantu aku!"

"No prob" jawab Armin singkat.

Mereka saling mengeluarkan argumen dan berdebat satu sama lain. Kesimpulan akhir yang tim Levi dapatkan adalah selain urusan pribadinya dengan Historia, Ymir bersama geng yang disebut Castillo itu mempunyai misi balas dendam. Entah terhadap para agents ataupun terhadap orang-orang Mexico yang tak lain adalah Guillermo dkk. Levi dkk mencurigai bahwa beberapa oknum dari kepolisian federal Tijuana bekerja sama dengan kartel Castillo dalam penyelundupan kokain ataupun misi balas dendam itu.

Kurang lebih setengah jam Hanji dan Armin mendapatkan kata-kata mengejutkan dari layar Apple yang mereka baca.

"Guys, beberapa kelompok imigran Mexico yang merupakan kelompok pemberontak dahulu pernah melakukan pembunuhan 1 keluarga yang terdiri dari 4 orang anak, seorang istri, dan 2 orang saudara kandung. Pembunuhan itu terjadi di daerah kota baru, San Diego" jelas Hanji sambil membaca layarnya.

"Yeah, mereka memang mengincar para orang Amerika yang saat itu banyak menguasai dunia bisnis di wilayah Mexico City hingga berani berbuat semena-mena terhadap penduduknya, bahkan banyak yang tewas akibat kebrutalan para pebisnis Amerika" Armin menambahkan.

"Yang lebih mengejutkan lagi…"

Hanji menghela nafas sejenak…

"Ternyata 1 keluarga yang dibunuh itu adalah keluarga dari Rod Reiss, yang tak lain adalah ayah kandung dari Historia Reiss. Ketua dari kartel Castillo! Historia adalah satu-satunya anak biologisnya yang masih hidup karena ia lahir bukan dari istri yang sah" lanjut Hanji.

Tim Levi terkejut mendengarnya.

"Damn—" Gunther mengumpat santai.

"So, Ymir sebenarnya bukan melarikan diri, tapi dibebaskan oleh polisi federal yang bekerja sama dengan Castillo" kata Erd.

"Kalau menurutku polisi federal yang sebelumnya cari masalah dengan kita, adalah anggota dari kartel Castillo itu sendiri. Penegak hukum yang ikut andil dalam bisnis narkoba, itu bukan hal yang tabu lagi!" kata Petra dengan analisisnya.

"Lalu menjebloskan para imigran dari Mexico City itu ke penjara" sambung Nifa.

"Dan Ymir ditugaskan secara khusus oleh Rod Reiss untuk menculik Historia, karena hanya Historia satu-satunya pewaris bisnis ayahnya" kata Moses.

"Yeah, mungkin setelah diculik ia diminta membuat pilihan ingin tetap bergabung dengan FBI atau menjalankan bisnis haram keluarganya!" Auruo ikut mengeluarkan pendapatnya.

Tak lama kemudian Moblit menelpon Armin kembali.

"Armin aku kehilangan jejak mereka!" suara yang terdengar tergesa-gesa dari speaker ponsel Apple milik Armin yang telah diloudspeaker

Sementara itu Levi duduk di kursi tepat di depan layar PC Apple yang menyala dari beberapa jam lalu. Ia kembali merewind rekaman CCTV saat penyanderaan berlangsung, terutama di bagian saat Ymir terekam kamera. Terlihat Ymir menggunakan kaos cokelat tua bertuliskan "Colina Muerta" yang artinya "Bukit Mati" dalam bahasa Spanyol. Levi menaruh jari jemari diantara bibirnya sambil berpikir mengenai kata-kata yang tidak terdengar asing baginya.

"Hei mata empat! Coba kau cari apa itu Colina Muerta!" Levi menyuruh Hanji yang berada di sebelahnya untuk melakukan apa yang ia suruh.

"Co…lina….Mu….er…ta!" Hanji mengejanya sambil mengutak-tik laptopnya.

"Itu nama daerah perbukitan dekat dengan pagar pembatas (Baja California). Tepat diatas bukit terdapat sebuah rumah kosong terbuat dari kayu yang cukup besar sekitar 24x8 meter. 5 tahun yang lalu pernah menjadi tempat pembantaian para imigran dari Mexico" jelas Hanji.

"Ah…tambahan lagi guys! Ibu Historia bernama gadis Ana Paula, warga negara Mexico"

"Ymir akan membawa Historia kesana untuk dieksekusi! Aku yakin Historia tidak akan mau melanjutkan bisnis ayahnya!" kata Gunther.

"Historia sangat mendedikasikan dirinya untuk FBI. Cita-citanya dari kecil masuk ke tim paling elit yaitu HRT" Armin menambahkan.

"Tunggu apalagi, ayo kita susul mereka!" kata Auruo.

"Tidak usah! Serahkan saja pada tim Moblit, aku yakin mereka bisa membereskan para orang brengsek Castillo itu!" balas Levi.

"Halo Moblit…bla…bla…" Moses menghubungi Moblit untuk memberi tahu kemana ia harus menyusul Ymir. Sedangkan Armin memberi tahu Jean dkk.


Tim Moblit yang terdiri dari Jean, Connie, Marco, dan Sasha menemui kendala saat di dalam perjalanan. Mereka diikuti oleh orang-orang dari kartel Castillo menggunakan mobil Ford Everest hitam yang membawa senjata, dan terdengar suara tembakan yang memekakan telinga mereka semua. Orang-orang Castillo itu menembaki mobil GMC yang ditumpangi tim Moblit dan cukup membuat mobil sedikit oleng. Terjadi baku tembak yang lumayan sengit antara tim Moblit dengan mobil Everest di belakangnya.

Connie yang menyetting senapan MSG90 nya langsung mencondongkan badanya sedikit dan membidik orang yang berada di kursi penumpang sebelah kanan mobil Everest itu.

"Jean, arahkan setirmu ke kanan sedikit!" perintah Connie pada Jean yang menyetir mobil. Bidikan Connie tepat ke orang itu lalu ia menekan pelatuknya.

"Jrat!" hanya sekali tembakan tepat di kepalanya, orang itu tewas. Kaca mobil di depanya berlubang dengan cipratan darah. Orang yang sudah dieksekusi Connie itu lalu dibuang begitu saja oleh rekan di sebelahnya yang sedang menyetir.

Tak hanya sampai situ, saat mobil Jean dkk naik ke atas perbukitan dengan jurang yang lumayan tinggi di sekelilingnya, 2 orang di belakangnya lagi menembak kembali dengan sub machine gun masing-masing hingga kaca belakang mobil mereka pecah. Jean dkk menundukkan kepalanya, namun tak lama kemudian mobil Everest hitam itu berjalan tepat di samping kanan mobil GMC sambil menembakki Jean dkk. Marco dan Sasha yang berada di kabin belakang menyiagakan senjatanya. Marco yang duduk disebelah kanan perlahan memunculkan kepalanya dan mencondongkan HK416 nya lalu balas menembaki orang-orang di dalam mobil Everest termasuk ban depan yang tak luput dari tembakan Marco, ia tepat mengenai supir hingga mobil Everest itu oleng ditambah lagi Sasha yang menembak fuel tank mobil itu berkali-kali hingga terbakar.

"Jean, tancap gas!" teriak Sasha. Jean langsung menaikkan kecepatan mobilnya menjauhi mobil Everest para orang Castillo yang langsung meledak dan jatuh ke jurang itu. Dipastikan seluruh orang di dalamnya tewas seketika.

Moblit telah sampai ke sebuah rumah yang berada di perbukitan Colina Muerta. Ia menyiagakan pistol 9mm yang ia genggam sambil berjalan perlahan, sesekali ia mencondongkan pistolnya ke sudut yang mencurigakan, tapi ternyata hasilnya nihil.

[Sementara itu di dalam rumah]

"Halo Historia" seorang pria paruh baya dengan postur yang sangat pendek dan body tambun menyapa Historia yang baru saja muncul di hadapanya. Tanganya diikat ke belakang dikawal oleh Ymir untuk menghadap sang ayah.

"Siapa kau?" tanya Historia.

"Wajar kau tidak mengenalku! Karena dari kau lahir aku tidak pernah ada di sampingmu"

Wajah Historia terlihat bingung dengan perkataan pria tambun itu.

"Aku adalah ayahmu. Namaku Rod Reiss" Rod lalu memeluk Historia dengan lembut seolah-olah ia sangat merindukan anaknya itu. Historia hanya membisu tanpa sepatah katapun karena ia masih tidak mengerti dengan semua yang terjadi.

"Aku ingin membuat perjanjian denganmu Historia"

"Aku ingin kau melanjutkan bisnis besarku yang bernama Castillo! Bisnis yang akan membuatmu beserta tujuh turunanmu terbebas dari jeratan kemiskinan!"


Seseorang menahan tubuh Moblit dan menjatuhkan pistolnya. Moblit memukul wajah orang itu yang ternyata adalah Juan, salah seorang polisi federal yang membawakan Guillermo dkk sebuah tablet 10,5 inci agar mereka bisa melihat kerabat mereka di penjara federal. Perkelahian tak terelakkan, saat Juan ingin mengeluarkan pistolnya Moblit langsung menendang tanganya hingga pistolnya pun ikut terjatuh. Mereka saling mendorong, memukul dan menendang. Moblit berhasil memukul perut Juan hingga ia tersungkur tepat di sebelah pistol milik Moblit. Juan mengambil pistol itu dan mencondongkan ke arah Moblit, namun sebelum ia sempat menekan pelatuknya, Jean menembaknya dengan pistol 9mm tepat mengenai jantungnya hingga tewas.

"Moblit, kau tidak apa-apa?" tanya Connie sembari menaruh tanganya di bahu Moblit. Tim Moblit akhirnya tiba tepat waktu.

"Yeah, good timing teman-teman!" balas Moblit dengan nafas yang sedikit tersengal.

Sementara itu Historia….

"Jangan harap! Aku tidak mau menjalankan bisnis harammu itu! Tempatku adalah di HRT!" Historia berteriak hingga suaranya menggema ke seluruh ruangan di rumah itu.

Moblit dkk tiba di tempat Historia dan ayahnya berdebat. Mereka mencondongkan handgun mereka ke arah Rod Reiss dan Ymir. Rod Reiss langsung mengeluarkan sebilah pisau dan menahan Historia dengan pisau yang hampir menusuk lehernya.

"Drop your weapon, Mr. Rod Reiss!" Moblit menginstruksikan Rod untuk menjatuhkan pisaunya dengan segera sambil tetap menyiagakan handgunya bersiap untuk menembak jika Rod membuat masalah.

"Jatuhkan pistolmu Ymir!" Jean pun menyuruh Ymir untuk menjatuhkan pistol yang ia condongkan sesaat setelah tim Moblit datang.

"Or we will shoot you!" sambung Sasha yang mengarahkan pistolnya ke Ymir.

"Oke…oke…" Ymir secara perlahan menuruti perkataan Jean dan Sasha untuk menaruh pistolnya di lantai.

"Kalian tidak usah ikut campur! Enyahlah kalian! Atau aku potong leher anak ini!" kata Rod sambil tetap memegang pisaunya dengan tangan yang gemetaran.

"Mr. Rod, Historia adalah anakmu. Tidak mungkin kau tega membunuhnya kan?!" kata Marco berusaha membujuk Rod.

"Dia terlahir dari rahim kotor seorang Mexico yang sudah membunuh keluargaku terdahulu!"

"Aku tahu perasaanmu tuan. Kita bisa membicarakan hal ini baik-baik dan menyelesaikanya secara damai. Historia tidak bersalah, bahkan ia lahir bukan karena keinginanya sendiri" sambung Marco.

Rod masih tetap menatap mereka satu persatu dengan tetap menahan Historia tanpa menjauhkan pisaunya dari leher anaknya itu. Historia hanya mengeluarkan bulir air mata, wajahnya terlihat pasrah akibat ulah ayahnya. Rod bertingkah nekat, ia lalu menjalankan pisaunya dengan tujuan menggorok leher Historia, tapi tindakanya itu justru membawanya kepada kematian, karena sebelum ia sempat melakukanya, Connie yang sudah bersiaga sedari tadi menembak dari jendela samping dengan senapan MSG90 nya dan tepat mengenai kepala Rod Reiss sebelah kiri.

"Jrat!" peluru yang dilesatkan Connie menembus kepala Rod Reiss dan ia tewas seketika dengan hanya sekali tembakan tepat tanpa melukai Historia yang ada di dekatnya.

Ymir mereka borgol dan dijebloskan kembali ke penjara federal.

CASE CLOSED


Tim Levi berjabat tangan dengan tim Moblit karena kerja sama penuh drama mereka yang berakhir dengan sukses. Levi menjabat tangan kiri Moblit, karena ia menyembunyikan tangan kananya yang terluka akibat granat TNT. Mereka lalu memisahkan diri masing-masing.

Levi berjalan dengan menggenggam tangan kananya yang mengeluarkan darah terus menerus hingga menetes menimbulkan tanda di tanah berumput yang ia lewati. Petra tak sengaja melihatnya dengan wajah penuh kekhawatiran yang teramat sangat.

Levi duduk di dekat mobil tim medis, dengan keadaan orang yang lalu lalang membereskan para mayat dengan tandu yang mereka bawa. Ia perlahan membuka telapak tangan kananya lalu menarik lengan bajunya untuk menutupi lukanya sekaligus mengelap darahnya.

"Shit!" ia mengumpat pelan karena menahan sakit yang sebenarnya dari awal tidak ia rasakan sama sekali.

Namun tak lama kemudian, Petra mendatanginya dengan membawa kotak P3K beserta baskom berisi air dan duduk di sebelah kananya.

"Tanganmu kenapa?" Petra mengambil telapak tangan kanan Levi.

"Hanya ulah serpihan kaca"

"Kalau tidak diobati ini akan infeksi!" kata Petra sambil mencuci bersih tangan Levi yang terluka di dalam baskom.

"Kukira kau sudah bertindak apatis denganku"

Petra selesai dengan kegiatan mencucinya, lalu mengeringkan dan mengoleskan salep antibiotik ke tangan Levi, serta membungkusnya dengan perban. Mereka yang duduk bersebelahan saling bertatap mata.

"Kau itu rekanku. Kau terluka, sudah pasti aku khawatir"

"Rekan ya?!" Levi mengangguk-anggukan kepalanya dan mengalihkan pandanganya ke depan. Petra menjadi serba salah dengan perkataanya, sejujurnya ia sangat bingung.

"Dengar Levi, aku tidak mengerti kenapa hubungan kita jadi seperti ini. Mungkin ini karena ulahku atau kau—"

"Yeah, mungkin ulahmu atau ulahku—" Levi mengcopy perkataan Petra.

"Yeah, dan kita 1 tim. Tidak mungkin sesama rekan 1 tim menjalin hubungan—"

"Yeah, sesama rekan 1 tim tidak mungkin ada hubungan serius—" Levi kembali mengcopy perkataan Petra, seolah-olah mereka sedang memperdebatkan sesuatu yang tidak jelas apa topiknya. Petra menghentikan perkataanya sejenak dan menghadapkan wajah Levi kembali menatapnya dengan menyentuh pipi kirinya.

"Levi! Aku ingin kita break sementara! Untuk bahan instrospeksi diri masing-masing" kata Petra dengan sedikit terbata karena ia ragu dengan perkataanya sendiri.

Backsound on: Brett Young – In Case You Didn't Know

I can't count the times…

I almost said what's on my mind…

But I didn't…

"Yeah, kurasa itu yang terbaik!" Levi menjawab singkat dengan raut wajah tak acuhnya.

Jujur Levi! Bukan itu jawaban yang ingin kudengar darimu!

Just the other day…

I wrote down all the things I'd say…

But I couldn't…

I just couldn't…

Baby I know that you've been wondering…

Mmm, so here goes nothing…

Petra menarik wajah Levi untuk mendekatinya, dan memberikan kecupan singkat di pipi kananya. Mereka saling bertatap mata sejenak, lalu Petra beranjak berdiri untuk pergi meninggalkan Levi yang masih tetap duduk dengan ekspresi wajah yang tidak berubah, tetap tenang dan datar.

In case you didn't know…

Baby I'm crazy bout you…

And I would be lying if I said…

That I could live this life without you…

Even though I don't tell you all the time…

You had my heart a long long time ago…

In case you didn't know…

Petra berjalan perlahan meninggalkan sang pujaan hatinya di belakang dengan bulir air mata yang juga keluar dari kedua matanya seiring dengan langkah kakinya. Ia berharap Levi menyusulnya atau minimal memanggil namanya, tapi harapan itu ternyata hanya angan-angan baginya.

The way you look tonight…

That second glass of wine…

That did it, mmm…

Levi memperhatikan punggung Petra dari belakang yang mulai menjauhinya, hanya sebentar, lalu ia mengalihkan pandanganya ke atas langit yang mendung dengan rintikan air hujan yang baru saja turun disertai bau tanah basah yang menenangkan jiwa.

There was something 'bout that kiss…

Girl it did me in…

Got me thinking…

I'm thinking…

"Hai Moblit!" Hanji menghampiri Moblit yang sedang berbincang dengan beberapa teman dari kepolisian Tijuana.

"Oh, hai Hanji"

"Moblit, bagaimana kalau kapan-kapan kita ngopi bareng?" entah kenapa Hanji memberanikan dirinya untuk to the point mengungkapkan kata-kata barusan. Dengan kedua telapak tangan di depan dadanya seperti biasa, dan mata tajam serta pipi merona yang justru membuat Moblit sedikit bergidik ngeri melihatnya.

"O…oh…te…tentu saja Hanji! Hubungi aku jika kau memerlukan teman untuk ngopi" kata Moblit.

All of the things that I've been feeling…

Mmm, it's time you hear em…

Tak lama kemudian setelah Moblit selesai berbincang dengan Hanji, Historia datang mendekatinya.

"Moblit! Kurasa aku perlu cuti" katanya.

"Oh, tentu saja Historia, cutilah yang lama, dan nikmati liburanmu" balas sang team leader.

In case you didn't know…

Baby I'm crazy bout you…

And I would be lying if I said…

That I could live this life without you…

Even though I don't tell you all the time…

You had my heart a long long time ago…

In case you didn't know…

Sementara itu ditengah gerimisnya hujan, Jean, Marco, Connie dan Sasha menikmati Budweiser dengan Gunther, Erd, Auruo, dan Moses yang dibawakan tim SWAT untuk mereka.

2 hari setelahnya….

You've got all of me…

I belong to you…

Yeah, you're my everything…

Sang Director Erwin Smith memberitahukan Levi dkk bahwa saat ini bisnis dari kartel Castillo sedang dibekukan, dan mereka tidak akan berbuat ulah dalam waktu dekat ini. Walaupun si pemimpin Rod Reiss telah tewas, masih ada beberapa mafia-mafia kecil yang beroperasi tersebar di seluruh dunia.

[Gedung Federal Plaza, New York]

Nifa yang berada di lantai 30 gedung federal plaza sedang menanti lift untuk berhenti. Kebetulan jam istirahat, ia memutuskan untuk mampir ke restoran Jepang di sebelah gedung. Namun setelah lift berhenti dan pintunya terbuka, keluar seorang pria yang rambutnya seperti sang legendaris Elvis Presley.

"Nifa! Hai" Gelgar menyapa Nifa yang berada di hadapanya, hal itu membuat Nifa mengurungkan niatnya untuk menggunakan lift.

"Ha…hai…" dengan gugup Nifa membalas sapaan Gelgar yang ramah itu.

"Kau mau makan siang?"

"Yeah"

"Bagaimana kalau kita makan siang di Lotus Café?" tanya Gelgar yang membuat wajah Nifa sedikit merona, membuatnya gemas.

"Okay. Boleh!"

"Dengar-dengar tim mu baru saja menangani kasus di Tijuana?!"

"Oh, Gelgar. Jangan membicarakanya. Itu pengalaman yang sangat mengerikan"

Mereka mengobrol di dalam lift selagi menunggu lift itu sampai di lantai tujuan mereka berdua.

In case you didn't know…

I'm crazy 'bout you…

Petra yang memakai kemeja kerja cream dengan hiasan bunga-bunga merah dan celana Thai silk hitam disertai sepatu ankle boots terlihat sedang menunggu lift di lantai 20 untuk turun ke lantai 4.

I would be lying if I said…

That I could live this life without you…

Tanpa dugaanya ia bertemu dengan seseorang yang menjadi incaran banyak lelaki karena kecantikan dan keseksian body nya yang tak tertandingi. Wanita itu atau lebih tepatnya setengah wanita, keluar dari lift tempat Petra menunggu.

"Agent Ral!" ia menyapa Petra yang masuk ke lift sesaat setelah lift itu berhenti dan berdiri di sebelahnya. Petra membalasnya dengan senyuman.

"Oh, hai Maria!" balas Petra.

Maria memperhatikan Petra dari atas ke bawah secara diam-diam. Mulai dari wajahnya, dadanya, perutnya, kakinya, tanpa sedikitpun yang terlewatkan, sembari menunggu lift berhenti di lantai 4. Kebetulan tujuan mereka sama.

"Dadamu besar juga Agent Ral" kata Maria yang tiba-tiba itu mengejutkan Petra. Kemudian Petra ikut menundukkan kepalanya, melihat bagian tubuh yang dikatakan Maria barusan.

"Body mu juga langsing dan berisi!" sambung Maria. Petra masih terlihat bingung dengan orang di sebelahnya itu.

"Ahahaha…bodymu masih jauh lebih baik dariku Maria. Kau tinggi seperti model, langsing, cantik, dan well—"

"Seminggu yang lalu aku berkencan dengan team leadermu"

What?

"Oya, dia menyatakan cintanya kemarin, tapi aku menolaknya"

Petra merasa seolah wajahnya ditampar oleh beribu-ribu tangan setelah mendengar perkataan Maria barusan. Lift akhirnya berhenti di lantai 4 dan mereka berdua keluar bersamaan.

"Apaaa? Kau berkencan dengan Levi? Dan Levi bilang ia mencintaimu?" Petra masih tidak percaya dan menanyakanya sekali lagi dengan wajah yang mulai memerah akibat kemarahanya

"Yeah, memangnya kenapa?"

"Beraninya kau!" Petra mencekik leher Maria dan mendorong tubuhnya menempel dinding. Tetapi sebenarnya Petra tidak benar-benar mencekik, lebih tepatnya ia hanya mendorong tubuh Maria.

"Kau jangan bohong…dasar waria gila!"

"Le…lep…lepaskan aku…aa…agent…Ra…Ral! Dari mana ka…kau tahu?" Maria membalas mencekik leher Petra.

"A…aku…su…sudah lama me…mengetahuinya…bodoh!" kata Petra dengan terbata.

Beberapa orang hanya diam memperhatikan Petra dan Maria yang sedang berkelahi karena bingung apa yang harus mereka lakukan. Tak lama kemudian suara baritone dengan tenang tapi keras menyebut nama salah satu dari mereka.

"Petra!" dan tentu saja Petra sangat mengenal suara yang kata para cewek sangat keren itu.

"Hentikan Petra!" ia melerai mereka berdua dan berbicara dengan Maria yang memegangi lehernya tak terkecuali Petra.

"Maria, kau tidak apa-apa?" tanya Levi padanya penuh kekhawatiran yang sebenarnya hanya pura-pura. Petra menganga karena hanya Maria yang ditanya, sedangkan ia tidak. Hal itu membuatnya semakin emosi dan beranjak pergi dari tempat itu namun Levi menarik tangan kananya. Petra menggoyang-goyangkan tanganya agar Levi melepaskanya, tapi nyatanya genggamanya semakin kuat.

"Tidak apa-apa Levi. Kurasa si harimau satu itu harus dimasukkan ke kandangnya"

"Maafkan aku!" kali ini Petra dibuat tambah emosi karena Levi bisa meminta maaf pada Maria, hal yang jarang Petra jumpai.

"No prob. Aku pergi dulu, dan terima kasih Levi"

Setelah Maria pergi, Levi menarik Petra dan mengajaknya ke tempat yang agak sepi untuk berbicara denganya. Semua orang yang ada disekitarnya melihat keanehan mereka.

"Kenapa kau malah mengajakku kesini Levi? Kenapa kau tidak mengajak pacar barumu itu saja!"

"Karena menurutku kau yang membuat masalah!"

"Apa kau bilang? Justru dia yang membuat masalah karena dia bilang dia habis berkencan denganmu!"

"Memangnya kenapa? Kau cemburu?"

"Cemburu, huh?! Dia itu waria, kau sekarang beralih jadi menyukai transgender ya?!"

"Dari mana kau tahu kalau dia transgender?"

"Ya ampun Levi, bahunya lebar, kakinya terlalu jenjang untuk ukuran seorang wanita, lehernya timbul artinya dia mempunyai jakun, lalu dadanya itu—"

"Lalu kenapa hal itu menjadi sangat penting bagimu?"

Petra terdiam mendengar pertanyaan Levi, ia menjadi salah tingkah.

"Sudahlah Levi! Lebih baik kita tidak usah bertemu lagi!" Petra sedikit membentak Levi dan beranjak pergi, namun kali ini Levi membiarkanya.

"Okay Petra. Do whatever you want!" kata-kata terakhir Levi dan ia juga ikut pergi berlawanan dengan Petra. Petra kembali mengeluarkan bulir air mata dan menghapusnya berkali-kali. Dan hal itu menjadi moment penutup penyebab mereka tidak saling menyapa selama 1 tahun lamanya.

Even though I don't tell you all the time…

You had my heart a long long time ago…

Yeah, You had my heart a long long time ago…hmm

In case you didn't know, know, know…

In case you didn't know…

Backsound off.

END