Hari ini lagi-lagi hujan mengguyur tanpa ampun, beruntung Izumo tidak melupakan payungnya hari ini, selain itu ia juga perlu mengembalikan payung yang dipinjamkan padanya, dan entah kebetulan apa yang tengah didapatinya, setelah Izumo berbelok menuju koridor lain, ia mendapati Yukio yang berjalan beberapa langkah didepannya.
"Okumura-sensei!" seruan Izumo tidak hanya menghentikan Yukio, tapi juga menarik perhatian beberapa orang yang tengah berlalu lalang di koridor sekolah, namun Izumo tidak memerdulikan hal itu, ia segera menghampiri Yukio dan memberikan payung pemuda itu yang dipinjamkan oleh Rin padanya, "Aku berniat mengembalikan lebih awal, tapi Okumura-sensei jarang masuk kelas regular, dan aku lupa membawa ini waktu kelas exorcist."
"Tidak masalah, sebenarnya ini juga bukan payungku, tapi payung Shura-san."
Selanjutnya keduanya saling berdiam diri, mendapati situasi akward, Izumo mengambil inisiatif untuk berjalan lebih dulu, mendapati mereka berjalan searah, Yukio mengikuti langkah gadis itu.
"Ah, Rin pasti sedang berlatih pedang dengan Kirigakure-sensei sekarang." Izumo berucap tanpa sadar, beruntung suaranya cukup lirih, tapi dengan Yukio yang berada di sampingnya, izumo tidak yakin jika pemuda itu tidak mendengarnya barusan.
"Kamiki-san cukup dekat dengan nii-san, ya." Yukio menampakkan senyum signaturenya, namun bukan itu yang menjadi fokus Izumo, melainkan perkataan Yukio yang mengejutkan Izumo sesaat, "Kau sampai tahu kalau nii-san ada Latihan dengan Shura-san hari ini."
"Aah…"
"Terlebih semenjak kalian terjebak hujan hari itu." Izumo tidak tahu jika Yukio memperhatikan mereka, ah, tentu saja Yukio memperhatikan kakaknya. Izumo semula berpikir jika pemuda itu cuek pada kakaknya, ternyata memang tidak boleh menilai seseorang dari luarnya saja. Dan lagi, ia jadi lupa alasan apa yang akan dirinya utarakan untuk mengelak perkataan Yukio.
"Kamiki-san, kau suka hujan ya?"
"Rin juga bertanya hal sama," Izumo tidak bisa menyembunyikan senyumnya lagi, "aku jadi tidak meragukan lagi kalau kalian benar-benar kembar."
"Kami berdua kembar fraternal, jadi jangan heran kalau tidak mirip." Yukio membenarkan letak kacamatanya, lalu sebelum pembicaraan mereka beralih ke topik lain, Yukio segera menyinggung pertanyaannya lagi, "Ah, bukankah di nama Kamiki-san ada kanji hujannya?"
"sebelumnya aku tidak pernah terpikirkan hal itu." Jika dipikir kembali, nama Izumo terdiri dari dua kanji, dan untuk menulis kanji awan, ada kanji hujan yang berada di bawah kanji matahari, kalau bukan Yukio yang tiba-tiba mengatakannya, mungkin Izumo tidak pernah menyadari hal ini, sesaat Izumo mencuri pandang pada guyuran hujan diluar sana, masih begitu deras, dan sepertinya tidak ada tanda-tanda untuk berhenti.
"Di namaku juga ada." Dan Izumo menyadari jika suara Yukio sedikit berubah, biasanya suara pemuda itu terdengar antara tegas dan ramah, namun kali ini segelintir kesepian bisa Izumo dengar dari suarnya.
"Mungkin nii-san tidak akan pernah cerita pada Kamiki-san, tapi di hari pemakaman ayah kami, saat itu hujan turun deras." Namun, bukan itu saja, Yukio teringat hari dimana ia bertanya pada Shiro mengapa Mephisto membiarkan dua anak satan untuk tetap hidup, Yukio tidak ingin mengingatnya, tapi memori itu selalu muncul lagi dan lagi, terlebih setiap hujan turun seperti saat ini.
"Kupikir hujan akan membuat nii-san tidak nyaman, tapi ternyata aku hanya terlalu overthink." Dan ternyata hanya dirinya saja yang terganggu dengan hujan, Rin tidak membenci hujan seperti dirinya, kakaknya itu justru sebaliknya, sayangnya Yukio tidak memiliki cukup keberanian untuk menyuarakan hal itu.
a/n : jadi ini kepikiran waktu iseng nulis nama Yukio sama Izumo pake kanji di laptop, dan tahunya emang di kanji yuki sama kumo ada kanji ame nya, dan terciptalah fanfic ini. Sungguh receh sekali, tapi seengaknya ini jadi pelepas penat di sela kesibukan kuliah, Ah, sebenernya besok ada UTS, tapi sama sekali nggak bisa belajar kalo ini belum kutulis, lagipula beberapa menit lagi chapter 126 bakal keluar di mangaplus.
