Disclaimer: Parody Royal Scandal, chara Kuroko no Basket
Warning! Shounen-ai meski slight doang. Maybe typo dan kayaknya Akashi super OOC!
C/N: author lupa cara bikin cerita.
Akashi pov
"Sebaiknya kamu berhenti,"ujar Akashi pada Kuroko, salah satu baron yang dikenalnya saat bekerja menjadi bartender di sebuah klub. Kuroko, lelaki berambut cyan itu tersenyum tipis.
"Kebahagiaan harus diperjuangkan. Aku percaya bahwa aku bisa memberinya kebahagiaan," jawabnya. Akashi menatap lelaki di depannya yang sedikit muram. Mungkin dia juga sebenarnya tahu bahwa dirinya hanya dimanfaatkan oleh orang yang dicintainya. Tapi apa yang bisa Akashi lakukan? Kuroko hanyalah salah satu pelanggan di tempatnya bekerja. Mungkin Kuroko termasuk bagian dari sedikit orang yang membohongi diri sendiri dengan mengatakan bahwa itu sebenarnya adalah cinta. Cinta dan kebahagiaan bukanlah sesuatu yang termasuk dalam kehidupan Akashi. Lalu bagaimana dia bisa menghakimi orang yang memperjuangkan kebahagiaannya sendiri?
"Aku rasa kebahagian itu memang hal yang penting!"sahut Kise. Lelaki berambut pirang yang bekerja sebagai salah satu penyanyi di club. Dia adalah diva di club. Kebahagiaan baginya adalah kehidupaannya. Karena berkat orang-orang yang menyukainya, kehidupannya bisa lebih baik dibandingkan sebelumnya.
"Kise, jangan mengatakan sesuatu yang bagimu benar pada orang lain. Terlebih kalau hal itu tidak baik untuknya." sahut Midorima. Lelaki berambut hijau dan berkacamata itu adalah manager dari club. Dia, Akashi, dan Kise adalah anak yang dibesarkan oleh pemilik club. Bagi Midorima yang terpenting adalah uang. Karena dengan uang, club dan mereka bisa bertahan hidup. Terlebih karena Midorima merasa sangat berhutang budi pada pemilik club.
"Nee, apa kita bisa menyelidiki lelaki bernama Aomine ini?" tanya Kise pada kedua teman masa kecilnya itu.
"Apa kamu sangat kurang kerjaan sehingga harus mengurusi hidup orang lain?" tanya Midorima kesal.
"Tapi kita kan harus memastikan bahwa lelaki ini memang benar-benar menyukai Kuroko, bukan hanya memanfaatkannya. Akh!" Kise yang keceplosan langsung menoleh pada Kuroko yang menundukkan wajah.
"Emm, tidak apa-apa. Aku akan pergi dulu. Sampai jumpa," pamit Kuroko kemudian berjalan keluar dari club.
"Apa aku salah?" Tanya Kise yang merasa sedikit bersalah.
"Lebih baik kita tidak mencampuri urusan mereka," jawab Akashi.
"Meskipun kita menghalanginya, apa menurutmu Kuroko akan menuruti apa yang kita katakan?" Tanya Midorima. Kise memayunkan bibirnya.
"Hah, semoga saja Aomine ini benar-benar seperti yang dipercayai Kuroko."harapnya.
Kuroko pov
"Aomine, aku pulang,"ujar Kuroko saat memasuki rumah yang dibelinya untuk Aomine. Dia baru saja membelikan lelaki berambut biru itu sebuah mansion kecil untuk dia bekerja. Aomine berniat bekerja untuk para noble. Karena itulah setidaknya dia harus memiliki rumah sekaligus kantor yang besar untuk sedikitnya menampung sedikit noble yang melakukan party di rumahnya. Setidaknya itulah alasannya yang membuat Kuroko membelikannya rumah. Hal yang sangat membuat ketiga orang yang dikenalnya di club sedikit kesal.
"Selamat datang Kuroko. Terima kasih atas kerja kerasnya." sambut Aomine dengan senyum lebar. Mood Kuroko langsung membaik. Meskipun semua orang mengatakan Aomine hanya memanfaatkannya, dia yakin bahwa mereka semua salah! Saat pertama mereka bertemu Aomine bahkan tidak tahu bahwa dia adalah noble.
"Aomine, bagaimana pekerjaanmu?" tanya Kuroko penasaran.
"Besok malam ini aku akan pergi ke salah satu pesta atas undangan salah satu noble. Kuroko, apa kamu mau ikut bersamaku?" tanyanya. Kuroko menggelengkan kepala.
"Tidak, aku harus mengurus sesuatu di luar kota lusa. Aku takut kalau menghadiri pesta, aku tidak bisa bangun," ujarnya.
"Begitu. Emm Kuroko, apa aku bisa meminta sesuatu lagi?" tanyanya ragu.
"Apa? kamu bisa mengatakannya."
"Aku ingin meminjam jas darimu. Itu pun kalau boleh." Kuroko tersenyum. Ukuran tubuh mereka tidak sama. Bagaimana mungkin dia bisa meminjamkan bajunya pada Aomine. Tapi dia tahu bahwa Aomine tidak ingin membuatnya mengeluarkan uang lebih banyak lagi.
"Kalau begitu ayo kita pergi ke boutique. Kalau kamu memakai setelan yang dipinjam makan kredibilitasmu mungkin akan berkurang," ajak Kuroko. Aomine sudah mengatakan padanya sebelumnya. Aomine harus menunjukkan kredibilitasnya pada para noble, baru mereka akan percaya padanya. Karena itulah Kuroko akan melakukan segalanya agar bisnis Aomine bisa berhasil.
"Terima kasih Kuroko. Aku mencintaimu," ucap Aomine bahagia yang langsung memeluk Kuroko dengan erat.
"Aku juga mencintaimu," balas Kuroko sambil membalas pelukan dari Aomine, tanpa menyadari bahwa warna mata Aomine sekejap berubah warna.
Midorima pov
"Owner apa ibu meninggalkanku disini?" tanya Midorima kecil pada pemilik club. Dia telah menunggu ibunya menjemput dirinya selama hampir seminggu. Ibunya bilang, dia akan datang menjemputnya, tapi beliau tidak pernah datang.
"Midorima, apa kamu mau tinggal disini?" tanya owner club pada anak lelaki yang masih duduk depan bar saat semua orang telah pulang pagi itu.
"Apa ayah membunuh ibu?"tanyanya. Lelaki yang ditanyainya itu terdiam. Meskipun masih kecil Midorima tahu bahwa ayahnya selalu memukuli ibunya. Saat ayahnya pergi, ibunya selalu pergi ke club dan minum-minum sampai mabuk. Tapi ibunya tidak pernah sekalipun mengajaknya untuk pergi ke club. Karena itu saat pertama kali ibunya mengajaknya ke club Midorima menyadari sesuatu.
"Mungkin sebaiknya kamu membaca ini,"ujar Owner sambil mengambil sebuah Koran dan menyerahkannya. Midorima membaca headline news dan terdiam.
"Yo Midorima, apa kamu melamunkan sesuatu lagi?" tanya lelaki berambut hitam yang masuk ke ruangan tanpa mengetuk pintu.
"Takao, aku sudah bilang sebelumnya untuk mengetuk pintu" ujar Midorima kesal. Takao tersenyum dan duduk di depan Midorima dengan santai.
"Hei, aku sudah dengar dari Kise. Apa kamu ingin aku melakukan sesuatu?" tanya Takao. Midorima memincingkan mata dan menghela nafas.
"Jangan melakukan sesuatu yang berbahaya."suruhnya. Kali Takao Takao tersenyum lebar.
"Aku tidak menyangka, orang yang pernah menyuruhku membunuh seseorang mengatakan hal seperti itu."
"Aku tidak pernah menyuruhmu melakukannya."
"Tapi hanya aku yang bisa melakukannya. Ah, tapi karena kamu yang mengagalkannya, jadi hal itu tidak terjadi." Midorima memandang lelaki di depannya itu dan menghela nafas lagi.
"Takao, aku sudah pernah bilang padamu bahwa aku tidak bisa memberimu apa yang kamu inginkan."
"Aku tidak pernah bilang, aku ingin kamu memberikannya. Apa aku tidak bisa hanya melihatmu?" Midorima terdiam. Dia tahu bahwa hanya Takao yang berada di sisinya saat bahkan Akashi menghempaskannya dulu. Tapi apa yang diinginkan Takao darinya adalah sesuatu yang dia sendiri tidak yakin memilikinya.
"Lakukan apa yang kamu inginkan."
"Tentu saja. Jadi apa kamu ingin aku melakukan sesuatu pada lelaki bernama Aomine ini?"
Akashi pov
"Emm, ano Akashi apa ada yang bisa aku bantu lagi?" tanya lelaki berambut coklat yang juga merupakan salah satu waiter di club.
"Kouki, kamu sebaiknya bertanya pada Midorima," suruh Akashi. Lelaki itu terdiam. Dia bisa melihat bahwa Kouki sedikit takut padanya. Sejak pertama kali mereka bertemu, Kouki selalu terlihat ketakutan. Dia tidak mengerti kenapa lelaki itu selalu saja mengajaknya bicara. Apa dia dipaksa oleh waiter yang lain hanya karena Kouki terakhir di rekrut?
"A...aku... aku hanya...emm... Akashi apa kamu membenciku?" tanyanya sedikit gemetar. Akashi menghela nafas. Seharusnya dia yang harusnya menanyakan hal itu pada yang lain. Kise bahkan sempat bertanya padanya apa yang membuat Kouki selalu gemetar di depannya.
"Kouki, kamu pasti tahu kenapa yang lain menjauhiku. Apa kamu di bully oleh yang lain?"tanyanya.
"Tidak! Tidak, sama sekali tidak! Aku... aku hanya ingin bicara dengan Akashi!" Akashi menatap lelaki bermata coklat yang sedikit membesar karena kaget itu. Meskipun Kouki membantahnya, Akashi tahu bahwa dia tidak bisa mempercayainya.
"Tidak ada yang perlu kita bicarakan. Dan aku tidak membencimu. Aku hanya tidak suka berbicara dengan orang lain."
"Tapi... tapi kamu dengan Midorima dan Kise..."
"Karena mereka sama sepertiku. Kami mempunyai kutukan yang sama."
"Kutukan?"" Akashi mengenggam sesuatu yang ada di balik kemeja yang sedang dikenakannya.
"Kutukan untuk kehilangan sesuatu."
Ps: author yang sudah tidak bisa menulis lagi QAQ
