Disclaimer: Haikyuu! adalah karangan Furudate Haruichi. Author tidak mengambil keuntungan materiil.

Warning: oneshot drabble, Oikawa x Iwaizumi, slight Matsukawa x Hanamaki

.

.

Menghitung Bintang dan Pasir

by Fei Mei

.


.

Iwaizumi mendecak sebal. Telepon pintarnya berdering untuk ketiga kalinya, dan nama yang tertera di layar masih tetap sama: Oikawa Tooru. Tampaknya si Setter tidak jera setelah telepon pertamanya diabaikan, serta telepon keduanya malah ditolak sang kekasih. Kalau sedang menganggur, Iwaizumi mau saja mengangkat telepon itu sambil menebak bahwa palingan Oikawa hanya mengajak omong random malam-malam. Masalahnya, saat ini sang Ace tim voli putra SMA Aoba Johsai itu sedang belajar demi lulus ulangan remedial matematika besok!

Tunggu, tunggu, Iwaizumi Hajime bukannya tidak pandai matematika, ya, nilainya di atas rata-rata untuk semua pelajaran. Tetapi khusus ulangan matematika yang terakhir itu, ia tidak bisa belajar dengan benar gara-gara Oikawa tidak mau melepas pelukannya sampai matahari terbit. Sialan banget memang Kusokawa satu itu.

Menghela, Iwaizumi menyerah dan menerima panggilan telepon itu ketika Oikawa meneleponnya yang keempat. Karena, yah, kalau sudah berkali-kali mencoba telepon, mungkin memang ini sesuatu yang penting, kan? Dan lagi kalau tidak diangkat sama sekali, yang ada dia bakal menelepon terus.

"Apaan sih, telepon malem-malem!?" tembak Iwaizumi langsung begitu mengangkatnya.

"Lama amat angkatnya, Iwa-chan" dengus Oikawa dari seberang.

"Aku lagi belajar buat remed besok, tahu!"

"Remed—oh, iya, besok. Ehm, sori deh, tapi aku mau ngomong sesuatu yang penting … "

"Gak bisa besok?"

"Hmmm … gimana, ya … ?" Oikawa terdengar ragu. Detik itu Iwaizumi berpikir bahwa kali ini pacarnya menelepon bukan untuk mengobrol random.

"Yaudah, ada apa?"

"Iwaizumi—"

Pemilik nama itu tersedak. Oikawa hampir tidak pernah menyebut namanya dengan benar. Mampus, ada apa, nih?

"—Hubungan kita ini—"

Nah loh.

"Bagaikan menghitung bintang di langit dan pasir di pantai."

Yaelah ternyata gombal. "Apaan, maksudnya romantis, gitu?" Tapi setelah Iwaizumi berkata seperti itu, ia tersadar bahwa dirinya tidak pernah melakukan hal romantis terhadap pacarnya, jadi mungkin tebakannya untuk gombalan Oikawa itu salah.

"Bukan, bukan," jawab Oikawa. "Itu berarti, hubungan kita ini sia-sia."

" … hah?"

"Maaf—"

"—Kamu mau kita putus, gitu?"

"Bukan gitu—"

"—Kamu tahu walau aku sering marahin kamu, ngejek kamu, tapi sebenernya aku sayang kamu, tahu, kan?"

"Iwa—"

"—Dari kemarin-kemarin bahkan hari ini pun hubungan kita baik-baik aja, brengsek, ngapain kamu tiba-tiba ngomong hubungan kita sia-sia, hah!?"

"Uhm—"

"—Aku masih sayang banget sama kamu, kenapa kamu malah minta putus!? Siapa yang berani ngambil kamu dari aku, hah? Jawab!"

" "

Sedetik, dua detik, tidak ada jawaban dari seberang. Iwaizumi yang agak terengah karena emosi itu dikagetkan oleh suara orang lain selain Oikawa di telepon itu.

"Sori, Iwaizumi, tadi Oikawa cuman isengin kamu."

Butuh setidaknya tiga detik bagi Iwaizumi untuk sadar siapa pemilik suara itu. " … Matsukawa?"

"Ada aku juga!" Kali ini suara Hanamaki. "Kami sedang main 'jujur atau berani', dan Oikawa milih 'berani'. Matsukawa kasih tantangan untuk Oikawa ngomong begitu ke kamu!"

" … "

"Tapi kami gak nyangka efeknya bagus banget, ini Oikawa kayak terharu gitu denger kamu bilang sayang sama dia," lanjut Matsukawa diselingi kekehan.

" … Oikawa—woi, balikin hapenya ke dia, mana orangnya!?" bentak Iwaizumi. Wajahnya merah padam dan telinganya panas. Ia sendiri tidak paham, entah saat ini ia merasa sebal kena dikerjai atau karena ia seperti menyatakan perasannya pada Oikawa tapi ketahuan Matsu-Hana.

"I—Iwa-chan, maaf tadi—tapi aku sayang kamu juga, kok—"

"—Trashykawa, kamu tahu kenapa aku bisa sampai dapat nilai merah saat ulangan matematika terakhir kali, kan?"

"Uhm, iya, maaf—"

"—kalau nilai remedku merah juga, kita putus."

"IWA-CHAAA~NN!"

.


.

Selesai

.


.

A/N: Ini lebih panjang dari rencana Fei, tapi memang semua dialog yang ada di dict ini sesuai dengan rencana. Awalnya mau bikin KageHina, tapi lagi-lagi banting setir. Tadinya malah mau bikin dari sudut pandang Oikawa, malah, tapi Fei malah kesulitan untuk tulis bagian perasaan Oikawa ketika Iwaizumi marah.

Review?