"Baek lo tau om Chanyeol kan?" Luhan yang lagi sibuk mainin hapenya sambil tiduran di ranjang besar milik pria cantik itu bertanya kearah temannya.

"Huh? Aku gatau tuh." Jawab Baekhyun sambil menggeleng, dia menatap sekilas kearah Luhan sebelum akhirnya kembali sibuk dengan laptopnya.

"Yang kemarin makan siang bareng om Sehun juga."

Ah Baekhyun ingat sekarang, dua pria tinggi menjulang yang kemarin mentraktir Baehyun dan juga Luhan makan siang di restoran bawah apartemen mereka. Seingat Baekhyun salah satunya adalah pacar Luhan, tapi Baekhyun tidak tahu siapa nama pacar Luhan.

"Oh pacar kamu?" Tanya Baekhyun lagi.

"Yang putih kaya vampir itu om Sehun Baek, kalau yang badannya gede terus caplang kupingnya itu om Chanyeol. Ngomong-ngomong om Sehun bukan pacar juga sih, yah tapi bisa dibilang pacar lah."

Baekhyun menatap kearah Luhan, kali ini dia mencoba fokus kearah temannya itu. Tidak sopan jika menghiraukan orang yang sedang berbicara.

"Maksudnya apa aku gak ngerti loh."

"Dia papa gula gue, dih kenapa jadi ngomongin om Sehun kan gue lagi mau ngebahas om Chanyeol."

"Papa gula tuh apasih?" Baekhyun heran, lumayan sering dia mendengar mahasiswa di kelasnya yang sering membahas tentang papa gula. Irene kawan baiknya saja pernah beberapa kali membahasnya.

"Baek Baek polos juga gak usah terlalu berlebihan kaliii."

"Ya kan aku gatau Luhan, dikampung mana ada istilah papa gula. Adanya juragan, pak bos, pak RT, pak lurah. Aku gak pernah denger istilah papa gula."

Baekhyun serius, dia adalah anak rantau. Sudah dua tahun Baekhyun merantau, Irene dan dirinya adalah teman satu kampung dan juga satu SMA dulu. Mereka berjanji untuk merantau di ibu kota dan mendapatkan kampus ternama. Dan akhirnya mereka bertemu dengan Luhan yang adalah senior satu fakultasnya.

"Pokoknya intinya papa gula itu yang bakalan ngebiayain seluruh kebutuhan lo deh."

"Berarti om Sehun calon suami kamu dong?"

Baekhyun benar kan? Dikampungnya hal-hal semacam mengobrol berdua saja sudah di jadikan bahan omongan. Makanya itulah mengapa Irene tidak tahan dan mengajak Baekhyun ke Jakarta. Irene sering membantunya, karena keluarga Irene adalah juragan di kampungnya.

"Ya enggak gitu juga Baekhyun. Pokoknya intinya kita cuma have fun aja sama hubungan ini, istilahnya sih simbiosis mutualisme. Om Sehun butuh perhatian dan gue butuh dompet berjalan."

Kota metropolitan memang beda, di awal-awal Baekhyun datang pasti dia akan shock saat mendengar hal semacam ini, namun karena sudah menyesuaikan diri Baekhyun mulai mengerti. Itu adalah kehidupan Luhan, dan Baekhyun tidak boleh menilai seseorang itu buruk hanya dari jalan yang di ambil oleh orang tersebut. Ayahnya sering berkata seperti itu.

"Terus kenapa kamu ngomongin om Chanyeol?" Baekhyun membuka obrolan baru, bingung karena harus merespon soal pembahasan sebelumnya.

"Tuh kan gue sampe lupa, untung lo ingetin lagi. Om Chanyeol bilang sama om Sehun katanya dia suka sama lo, menurut lo gimana?"

"Om Chanyeol suka sama aku?"

"Iya dia bilang dia suka sama lo. Jadi menurut lo gimana Baek?"

"Ya gak gimana-gimana, rasa suka itu kan bisa dirasain siapapun. Semua orang punya hak."

"Emangnya lo gak suka om Chanyeol? Lo liat kan gimana hidup gue selama jadi baby boy nya om Sehun, nah gue contohnya."

"Tapi aku udah janji sama ayah gak akan bikin masalah apapun. Aku datang ke Jakarta kan buat cari ilmu, ayah gak mungkin seneng denger kabar aku malah asik-asik pacaran padahal dia kerja banting tulang di kampung buat biaya sekolah aku."

"Justru karena itu bukannya lo jadi bisa bantuin ayah lo, dengan lo jadi baby gula nya om Chanyeol semua kebutuhan dan biaya kuliah lo dia yang bakal tanggung Baek, kapan lagi lo dapet tangkapan besar kaya om Chanyeol?"

"Gapapa Luhan, aku tahu kamu perduli sama aku. Tapi aku masih bisa kok bantu ayah. Kamu tahu sendiri aku sering bantu mahasiswa lain, uangnya lumayan kok."

"Dasar keras kepala, masak gih Baek laper gue adu bacot sama lo! Padahal belom lima menit!!"

"Kamu mau makan apa?"

"Nasi goreng aja, eh tapi lo capek gak? Kalo capek biar delivery aja deh."

"Gak baik makan-makanan cepat saji terus. Nanti kamu penyakitan. Udah biar aku buatin nasi goreng."

"Thankyouuu Baekhyun."

"Jadi maksudnya papa gulanya Luhan punya temen dan temennya itu naksir sama lo Baek?" Tanya Irene pelan, mereka sedang berada di kantin saat ini dan Irene baru saja menyelesaikan makanan yang dipesannya.

Baekhyun mengangguk sambil mengaduk bakso miliknya. Irene adalah sahabat sejak kecilnya. Mereka satu kampung dan yang mengajak Baekhyun kuliah di Jakarta adalah Irene.

"Sayang banget di tolak, kalau gue jadi lo sih udah gue terima."

"Tapi kan aku udah janji sama ayah gak akan nakal-nakal selama disini."

"Padahal bener kata Luhan, si om Chanyeol-Chanyeol itu tangkapan besar buat orang kaya lo."

"Irene.."

"Jujur sama gue emang apa yang lo permasalahin selain alesan lo soal janji gamau nakal ke ayah lo?"

"Eum.. hubungan kaya gitu kan hal tabu Rene."

"Hubungan kaya gimana?"

"Itu.." Baekhyun menunduk malu, pipinya merona karena memikirkan sesuatu.

"Itu apa?"

"Ugh, cowok sama cowok. Itu kan hal tabu Irene."

"Ya ampun Baek, terus menurut lo ayah lo mikir lo bakalan ngidupin seorang wanita yang akan menjadi istri lo gitu dimasa depan?"

"Ih kamu ngomongnya pelan-pelan!!"

"Heh lo inget kan, waktu SMP sampe SMA lulus aja dia gak pernah gak ngijinin gue tidur sekasur sama lo!"

"Itu kan karena kita temen."

"Itu karena dia tau lo gak punya napsu sama cewek! Hadeh, udah makan-makan jangan sampe gue cubit pipi lo saking emosinya!"

Emangnya salah ya kalau ayahnya ngijinin dia sama Irene selama bertahun-tahun tidur sekamar bareng. Bukannya kalau teman pasti di bolehin?

"Lo pernah mimpi basah kan?" Tiba-tiba saja Irene bertanya.

Baekhyun yang mendengar pertanyaan tersebut sampai melotot dibuatnya.

"Kamu ngomongnya jangan frontal gitu dong! Maluuuu."

Cih, dasar bocah. Irene menggeleng.

"Serius Baek, lo pernah mimpi basah kan?"

"Eung, aku pernah kok."

"Siapa yang lo mimpiin? Gue?"

Baekhyun menggeleng kencang, sampai-sampai rambut halusnya bergerak sesuai arah gerakan kepala itu.

"Aku mimpi.. sama kak Minho."

"Whaaaat?!"

"Ih Irene!! Jangan teriak ahh."

"Serius sama Minho? Minho mantan gue waktu SMA?"

Baekhyun mengangguk pipinya sudah Semerah tomat saat ini. Mengapa juga mereka jadi membahas soal mimpi basahnya.

"Nah berarti lo udah tau siapa jati diri lo kan Baek."

"Pokoknya aku gak mau jadi baby gulanya om Chanyeol. Aku kan juga mau punya pacar cewek."

Irene tertawa pelan, membiarkan sahabatnya itu berangan-angan.

"Soal praktek yang di bahas anak-anak di kelas, lo yakin gamau gabung sama kelompok gue aja?"

Baekhyun menggeleng, kalau dia bergabung dengan kelompok Irene bukan hal yang tidak mungkin jika gadis cantik itu yang akan mengeluarkan seluruh uangnya untuk dirinya dan juga Baekhyun. Baekhyun tidak mau membebani Irene.

"Tapi pasti lebih irit kan kalau gabung sama grup gue?"

"Aku udah janji sama Bobby bakalan segrup sama dia, ada beberapa materi yang dia gak ngerti. Tadi dia bilang mau bayarin aku kalau aku ajarin materi itu."

Irene mengangguk, kagum pada kegigihan Baekhyun sahabatnya itu. Sejak kecil pria itu banyak sekali mendapatkan cobaan, ditinggal ibunya saat masih sangat kecil. Hanya diurus oleh ayahnya, Baekhyun kecil bahkan berjualan gorengan keliling kampung untuk membantu ayahnya juga adiknya yang saat itu menginjak kelas satu SD.

Saat ini pria itu mencari uang saku lebih dengan cara membantu teman-temannya, kadang mengerjakan beberapa proyek teman-temannya. Beberapa kali memberikan materi kepada para wanita yang mengagumi sikap sopan pria itu.

"Baekhyun~" panggil Taeyeon salah satu senior di fakultasnya yang mengagumi Baekhyun. Gadis mungil yang Irene sangat benci karena tingkah sok gadis itu dihadapan Baekhyun.

"Kak Taeyeon." balas Baekhyun yang langsung meletakkan sendok dan juga garpu yang sedang di pegangnya.

"Lanjutin aja makannya."

Baekhyun menggeleng, merasa tidak enak. Tidak sopan, kak Taeyeon bahkan menghampirinya lebih dulu.

"Aku bisa makan nanti, kakak ada perlu? Ada yang bisa ku bantu?"

Irene mendecak, inilah yang sering membuat Irene marah kepada Baekhyun. Pria itu selalu mementingkan orang lain lebih dahulu daripada dirinya sendiri.

"Kamu masih ada kelas?" Tanya Taeyeon, gadis itu bahkan tidak menatap dan menyapa Irene. Aku kamu, Irene bahkan ingin muntah mendengarnya dari mulut gadis menyebalkan ini.

"Ah ya, kelas ku selesai jam 2 nanti kak."

"Bisa kamu temenin aku pergi beli kado buat papa?"

"Tapi hari ini aku ada jadwal tugas kelompok kak. Kalau besok gimana?"

"Gapapa Baekhyun, papa ulang tahun masih dua hari lagi kok jadi kita bisa pergi beli kadonya besok."

"Kalau gitu besok aku bakalan temenin kakak cari kado, maaf ya kak merusak rencana kakak hari ini. Besok kakak gak punya rencana lain kan?"

"Gapapa, aku suka besok. Besok aku tunggu ya Baekhyun. Ah ya sampai lupa, aku udah beberapa kali coba chat kamu tapi kayaknya kamu lagi gak pegang hape."

"Batrenya low." Baekhyun berkata setelah sebelumnya mengecek hape miliknya.

"Aku pergi ya Baekhyun~"

Baekhyun mengangguk sambil tersenyum. Setelah memastikan seniornya itu sudah meninggalkan mereka Baekhyun kembali memegang sendok dan garpu miliknya.

"Lain kali, gimana kalau kita makannya di atap aja?" Usul pria mungil itu tiba-tiba sambil menatap kearah Irene.

"Kenapa?" Tanya gadis itu heran.

"Makanan punya ku selalu dingin, kenapa pas istirahat kaya gini pun aku gak bisa makan dengan santai ya?"

"Loh bukannya lo seneng disamperin cewek cantik kaya kakak senior kita itu?"

"Aku gak suka dia!"

Irene tersenyum manis, menepuk bahu sahabatnya pelan. "Kalau gitu biar besok gue masakin lo bekel, biar kita makannya di taman belakang aja, disana sepi jadi gak akan ada yang ganggu lo waktu makan."

"Maaf ya, kesannya aku kaya gak menghargai makanan yang udah kamu beliin. Padahal aku udah matiin hape ku biar gak di ganggu, tapi ternyata malah disamperin."

"Besok beneran mau nemenin si cewek bar-bar itu?"

"Tadi kamu panggil dia cantik, terus sekarang bar-bar. Pilih salah satu dong buat dijadiin bahan panggilan."

"Yaudah kalo gitu nenek sihir."

"Cantik-cantik mulut kamu kasar ya."

"Udah cepetan abisin, bentar lagi kelas kita dimulai."