"Huh?"
'Apa yang terjadi?'
Hal yang terakhir ku ingat, aku langsung tertidur saat sampai dirumah karena kelelahan bekerja lembur.
'Apa ini?'
Aku melihat kedua tanganku yang berbeda
'Tidak mungkin!'
Aku menyentuh baju yang ku kenakan hingga wajahku dan saat itu juga aku mengerti satu hal.
'Ini kan!'
Sebelumnya aku tertidur dengan nyenyak di kasurku dan saat aku terbangun aku berada di tengah hutan dengan penampilan yang aku sendiri tak bisa percaya
'Aku berada di tubuh Minato dari kartun Naruto?!'
Berusaha menyakinkan perasaanku, aku berlari secepat mungkin mencari sungai dan sesampainya aku di sungai barulah aku menyadari jika ini kenyataan.
Kartun Naruto
Kartu yang sangat populer pada saat aku masih anak-anak walaupun tak sedikit dari teman kerjaku yang berujung memarahiku karena menyebut siaran itu sebagai kartun, tapi dimana bedanya dengan kartun?
'Tunggu, tenangkan dirimu. Pertama, aku harus mencari tahu dimana aku sekarang'
Saat ini aku mulai merasa tidak nyaman ketika melihat pantulan diriku yang sama persis dengan sosok Minato itu.
'Pakaian ini pun membuatku merasa seperti kosplayer aneh'
Baju kaos biru lengan panjang di lapisi Body Vest yang nampaknya Bullet Proof walaupun seingatku aku tidak pernah melihat satu ADEGAN pun yang melibatkan senjata api.
'Sebaiknya aku menyingkirkan ini'
Yang kubicarakan adalah jubah putih yang sangat menggangu langkah kakiku.
Sesaat aku melepaskan jubah itu, aku melihat tulisan kanji jepang yang sangat jelas sekali ku ingat apa maknanya.
'Mungkin ini bagian dari mimpi atau semacamnya'
Aku berjalan menjauh dari jubah yang ku buang serta mencari arah ke pedesaan atau pemukiman terdekat.
"Bagaimana bisa aku berakhir di dalam acara kartun yang dulu ku tonton. Jika ini bagian dari cerita-cerita fiksi soal Reinkarnasi, aku tidak ingat kalau aku terkena tabrak ataupun mati karena hal-hal aneh"
Sejauh yang kutahu dari siaran-siaran kartun maupun Novel-Novel yang kubaca, Protagonis umumnya di kirim ke dunia lain karena alasan tertentu dan tidak sedikit dengan alasan yang sangat aneh.
Aku, Andika Pratama. Umurku 33 tahun, Alumni dari Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Gadjah Mada. Saat lulus aku langsung di angkat sebagai Leader dalam meneliti partikel serta muatan atom.
Dan sekarang aku berada di antah-berantah dengan kondisi yang aku sendiri pun tak mengerti.
"Bahkan gugus sabuk galaksi pun berbeda dari Bima Sakti planet bumi"
Gumamku ketika melihat langit malam
Bukan sabuk galaksi, lebih tepatnya apa yang kulihat adalah kumpulan Awan Nebula yang berwarna merah terang di angkasa.
Apa mungkin?
'Nah, mustahil kalau itu benar'
Aku membatah sejenak mengenai asumsi keberadaanku berdasarkan Nebula yang ada di angkasa.
'Sudah berapa lama aku berjalan?'
Pikirku ketika merasa jika aku sudah cukup jauh berjalan kaki.
'Cahaya di balik bukit? Mungkinkah'
Aku mempercepat langkah kakiku menuju bukit itu.
Saat aku sampai di puncak bukit, dihadapanku adalah pemandangan yang membuatku merinding sekaligus lega di saat yang sama.
"T...Tidak mungkin"
Dinding melingkar melindungi desa serta cahaya terang menyinari setiap jalanan tempat itu serta apa yang jauh lebih membuatku terdiam dalam shock adalah
Diatas bukit aku berdiri saat ini,
Ada 4 wajah yang terukir yang mirip seperti Gunung Rushmore, Amerika Serikat.
'Ini... Mustahil...'
Aku benar-benar berada di dunia Kartun itu
"Ah... Terlalu banyak hal yang terjadi hari ini"
Pikirku sambil menatap langit malam di atas bukit ini.
'Mungkin sebaiknya aku mencari informasi mengenai validasi lokasi ini'
Aku berjalan turun ke area pemukiman warga. Sama seperti acara kartun itu, warga di desa ini tampak seperti penduduk jepang pada abad 1900an dengan level teknologi pasca perang dunia 2 atau lebih tepatnya di tahun 50an era Perang Korea.
Listrik nampaknya di distribusikan dengan baik walaupun aku sedikit mempertanyakan bagaimana cara mereka memproduksi energi listrik.
Sejauh yang ku tahu, dalam serial kartun Naruto tidak pernah ada penjelasan mengenai teknologi atau bagaimana caranya desa ini memperoleh energi.
"Ah, Hokage-sama! Selamat Malam"
Aku mendengar seseorang memanggil tapi siapa yang di panggilnya. Saat aku berbalik badan, aku melihat seorang laki-laki paruh baya dengan pakaian sama anehnya (menurutku) dengan yang ku pakai.
'Apa dia berbicara padaku?'
'oh!'
Aku baru sadar jika saat ini aku sedang berada di tubuh sosok pria bernama Minato.
'Mengikuti Timeline, berarti saat ini aku adalah pemimpin desa ini'
"...T... Tidak ada... A...Aku hanya mengitari udara basah"
'Aaahhhh! Malah ngomong ngawur! Kebiasaan orang Indonesia!!!'
Aku mengutuk kebodohanku sendiri yang menjawab seperti itu.
"Ahahaha... Anda pasti sangat lelah ya, Hokage-sama, sampai melawak seperti itu"
Beruntung laki-laki itu menganggap bicaranya adalah lelucon.
"B...Baiklah, jika begitu Saya permisi"
"Uhm! Otsukaresama!"
Aku berjalan dan semakin menambah kecepatan berjalan ku menjauh dari keramaian.
'Ahh! Beruntung aku bisa bahasa Jepang!'
'Padahal niatku aku mau bilang kalau aku keliling mau cari udara segar!'
Walaupun kaku, tapi aku masih cukup aktif dalam berbahasa asing. Normalnya aku tidak begitu suka berbahasa asing karena bagiku itu merepotkan, itu sebabnya setiap ada konferensi Internasional di Den Haag, Belanda aku tidak pernah mau ikut bahkan jika itu artinya aku di pecat sekalipun.
"... Tapi yang benar saja, apa aku harus terus mempertahankan sikapku seperti ini selamanya"
'Tidak! Aku akan mencari cara untuk kembali ke duniaku'
Perjalanan aku teruskan ke sebuah gedung yang cukup ku kenal sebagai pusat administrasi desa ini.
Seperti yang ku duga, saat aku sampai tempat ini memang merupakan Desa Konohagakure no Sato dan saat ini aku menjabat sebagai Pemimpin ke 4 desa ini.
'Jika menggunakan timeline dari serialisasi aslinya, setidaknya dalam waktu dekat akan terjadi penyerangan skala besar yang memicu konflik internal serta gerakan radikal. Apa aku harus menggunakan pengetahuanku untuk dunia ini?'
'heh... Aku pun ragu kalau dunia ini benar-benar eksis'
Maksudku, ayolah. Apa mungkin ada yang bisa percaya jika seseorang selain aku terjebak di dunia kartun yang kau tonton itu adalah dunia yang nyata.
Sudah jelas orang lain akan menganggapmu sebagai orang gila.
'Saat ini yang terpenting adalah, bertahan hidup dulu dan ikuti bagaimana alur ini'
Aku duduk di kursi menatap kearah tumpukan dokumen yang berisikan beragam permasalahan desa serta urusan yang berkaitan dengan administrasi ataupun finansial.
'Hah... Kurasa Author seri kartun ini tidak pernah mempertimbangkan mengenai betapa kacaunya dunia ini jika semua urusan administrasi di arahkan ke satu orang'
'Apa dia benci terhadap demokrasi atau apa?'
satu malam di dunia ini kumulai dengan mengarsipkan beberapa dokumen yang menurutku tidak penting serta memilah mana yang paling perlu di duluankan.
Aku membagikan ke dalam beberapa kategori khusus seperti, Militer, Pertanian, Penatatan dan Pekerjaan Sipil, Konstruksi dan Pemeliharaan, Perhutanan dan Wilayah, Administrasi dan Anggaran serta membentuk sebuah unit khusus yaitu Supervisor setiap sektor.
'Apa-apaan ini?'
Aku melihat jumlah anggaran yang sangat ganjil yaitu hampir 50 persen anggaran dialihkan ke sektor pelatihan Chuunin dan Jounin.
'Jika aku tidak salah, di timeline Naruto terdapat ujian Chuunin yang dimana sekumpulan bocah di suruh bertarung sampai mati'
'oke, Aku mengerti sekarang. Dunia ini sudah busuk sampai ke akarnya'
"Chuunin Rekrut di coret"
Untuk apa desa ini menghabiskan separuh anggarannya hanya untuk melatih sekumpulan remaja untuk jadi pasukan militer?
Dan apa-apaan ini?
Anggaran untuk pertanian hanya 5 persen
Anggaran pendidikan 10 persen
Anggaran Pembangunan 2.3 persen
'Haaaaah (mendesah panjang) Besok aku mungkin akan marah-marah pada mereka'
Sekarang aku mulai mengerti perasaan Gubernur di kota Jakarta dulu yang selalu menghabiskan waktunya marah-marah di depan bawahannya.
"ini akan menjadi waktu yang sangat panjang untukku"
Aku bergumam sambil menatap bulan yang bersinar terang
'Baiklah Author pencipta ide dunia ini yang baik sekaligus menyebalkan. Akan ku buat kau menyesali perbuatanmu karena membuat desa ini sangat menyedihkan'
Aku mungkin tidak paham soal birokrasi maupun politik, namun dengan pengetahuanku di bidang teknologi aku yakin dalam waktu dekat dunia ini akan berubah sepenuhnya.
