Naruto owned by and belongs to Masashi Kishimoto.

I didn't owned any of the characters below.

Pair: Kakashi H. x Sakura H.

WARNING: OOC, typos, AU.


Epiphany

Epiphany; a moment when you suddenly feel that you understand, or suddenly become conscious of, something that is very important to you.


Tokyo, Jepang

Musim semi di Jepang menjadi salah satu yang paling indah di belahan dunia manapun. Bunga-bunga Sakura yang bermekaran dengan indah tentu menjadi daya tarik tersendiri bagi para warga lokal Jepang maupun wisatawan yang berniat untuk berkunjung ke negeri Sakura tersebut.

Tokyo menjadi salah satu ibukota di dunia dengan lalu lintas masyarakatnya yang sangat sibuk. Tidak terkecuali yang dialami oleh dua orang perempuan dengan masing-masing warna rambut yang mencolok yang sedang bersantai ria dari segala kesibukkan mereka di sebuah café yang berada di tengah-tengah Shibuya.

Kedua perempuan berumur 24 tahun itu sedang melepas rindu disela-sela kesibukkan pekerjaan mereka. Yamanaka Ino yang merupakan seorang Marketing Executive disebuah brand pakaian ternama di Jepang, sementara Haruno Sakura merupakan seorang Dokter yang baru saja menjalani sumpah dokternya, dan berencana akan mengambil sekolah spesialisnya sesegera mungkin setelah dia menyelesaikan koasnya.

Ino menyelipkan helaian rambut pirang platina panjangnya ke belakang telinganya. Menatap sahabat sedari kecilnya itu dengan pandangan kasihan. Sakura pasti lelah dengan profesinya. Tetapi gadis itu kelewat mencintai dan bersemangat dengan profesinya, jadi, semelelahkan apapun itu, Sakura tetap menjalaninya dengan sepenuh hati. "Aku terkadang lelah sendiri melihatmu, tahu."

Sakura yang sedari tadi fokus dengan ponselnya mendongak ke arah Ino. "Kenapa?"

"Kau tidak lelah dengan pekerjaanmu ya?"

Sakura menghembuskan nafas. "Kau selalu bertanya itu setiap kali kita bertemu."

"Aku hanya penasaran."

"Dan aku selalu memberikan jawaban yang sama, Ino. Jawaban ku tidak akan berubah. Lagipula aku juga harusnya bertanya mengenai hal itu padamu, kau baru saja kembali dari Paris setelah fashion week, kan? Bagaimana Paris?"

Ino terkekeh. "Sama saja seperti tahun-tahun sebelumnya. Hanya saja fashion week di Paris memang selalu menguras tenaga. Aku tidak bisa membayangkan jika aku menjadi salah satu model di runway. Harus pergi dari satu show ke show lainnya dalam waktu singkat. Mengurus satu pertunjukkan saja aku sudah ingin pingsan, huh."

Sakura mengulum senyum kecil. Sahabatnya ini terlewat ekspresif, ditanya satu hal saja bisa di jawab dengan sangat panjang. "Tidak berjalan-jalan dulu?"

Ino memutar bola matanya. "Bisa duduk dan makan dengan tenang saja merupakan hal yang sangat beruntung untuk aku dapatkan, tahu. Tidak bisa aku mengharapkan lebih dari itu. Lagipula, saat musim panas nanti aku akan mengambil cuti selama seminggu. Sasuke mengajak ku berlibur ke Aruba!" Ino berbicara dengan bola mata yang berbinar senang, dia mengatupkan kedua telapak tangannya menjadi satu dan tersenyum lebar tidak henti.

"Wow, menyenangkan sekali berlibur ke Aruba." Sakura mengaduk-aduk lemon tea nya dengan bosan. Membayangkan sahabatnya yang akan menikmati liburan saat musim panas membuat kepalanya pening seketika. Dia juga ingin berlibur!

"Iya, kan?! Lagipula aku tidak berkata apa-apa padanya, dan tiba-tiba saja dua hari yang lalu, sebelum dia berangkat ke Seoul, dia berkata kalau kami akan berlibur ke Aruba. Berdua saja! Astaga, terkadang dia benar-benar di luar dugaan!"

Sakura meringis kecil melihat Ino yang sangat bersemangat dengan rencana liburan bersama kekasihnya, Uchiha Sasuke, yang telah dia kencani selama 2 tahun lamanya, terbilang sejak mereka lulus dari kuliah mereka. Terkadang melihat Ino membuat Sakura iri. Penampilan Ino sangat menarik bagi para kaum adam, dan membuat hampir sebagian dari kaum hawa yang melihatnya berdecak iri, sebagian lagi menatap dengan kagum sesosok Ino. Terlebih kalau melihat gadis itu sedang berjalan dengan kekasihnya yang super tampan itu dengan tangan Sasuke yang merangkul pinggang Ino dengan posesif, semua mata selalu memandang mereka dengan pandangan iri.

Sakura bukannya iri dengan penampilan Ino. Tapi dia iri dengan kisah asmara Ino yang selalu terbilang mulus. Ino merupakan primadona sejak mereka masih sekolah, dan jejeran para mantan Ino juga merupakan para laki-laki dengan paras yang tidak bisa dibilang biasa saja. Seperti Sabaku Gaara yang merupakan salah satu mantan Ino saat mereka kuliah dulu, pemuda itu adalah pemuda yang sangat tampan dan mampu membuat para gadis bertekuk lutut di hadapannya.

Sementara Sakura? kisah percintaannya tidak bisa dibilang mulus. Dirinya sebenarnya sangat kagum dengan sosok kakak sepupu Ino sejak masa perkuliahan dulu, Uzumaki Naruto. Tapi cintanya tidak terbalas karena pemuda itu terlalu tidak peka terhadap perasaan perempuan dan sekarang dia sedang menempuh Pendidikan Master Politik dan Hubungan Internasionalnya di Inggris.

"Kenapa sih? Kau galau dengan perjalanan kisah cintamu ya?"

Sakura tersentak. Dia tidak sadar kalau sedari tadi dia melamun. Melihat Ino, Ino sedang tersenyum jahil kepadanya.

"Oke, aku akan meramalmu kalau hari ini kau pasti akan bertemu calon kekasihmu!"

Sakura menaikkan sebelah alisnya, sejak kapan sahabatnya ini bisa meramal?

"Ino, jangan mengada-ngada. Kau bukan cenayang!"

"Percaya saja pada ku, kenapa sih? Aku jamin!" Ino tertawa dengan perkataannya sendiri. Sakura menggeleng-geleng lelah melihatnya. Meski terlahir dengan paras yang sangat menawan dan terlahir dari keluarga yang cukup terpandang di Tokyo, terkadang hal itu tidak dibarengi dengan tingkah Ino yang seringkali tidak bertingkah dengan anggun. Seperti saat ini, saat dia menertawai perkataannya sendiri dengan berlebihan, yang menurut Sakura tidak ada lucunya sama sekali.

"Ya, ya, ya, terserah kau saja. Sudahlah kita harus kembali ke pekerjaan kita, waktu istirahat kita sudah akan habis, tahu." Sakura bangkit dari duduknya disusul oleh Ino.

"Kau yang bayar ya. Aku tunggu di mobil." Tanpa persetujuan Sakura dan Sakura yang belum sempat mengeluarkan sepatah katapun, Ino langsung melesat begitu saja keluar dari café. Sakura menggerutu kesal tetapi tetap berjalan menuju kasir untuk membayar pesanannya dengan Ino.

"Dasar pirang menyebalkan. Suka sekali bertindak seenaknya saja!"

Sang penjaga Kasir yang melihat raut muka Sakura yang sedang kesal, mengurungkan niatnya untuk sekedar berbasa-basi dengan Sakura sebelum gadis itu membayar. Bisa-bisa nanti dia disemprot seperti minggu lalu saat dia disemprot oleh seorang pelanggan yang sedang kesal.

"Meja nomor 6."

"Semua menjadi 1.500 yen." Sakura mengeluarkan dompetnya lalu menyerahkan kartu debitnya pada sang kasir. Setelah menerimanya, Kasir tersebutpun melakukan transaksi dengan kartu Sakura.

Si Kasir mengernyit begitu melihat kartu Sakura tidak dapat melakukan transaksinya. "Maaf, Nona, tetapi di sini tertulis kalau kartu mu tidak dapat melakukan transaksi. Apa ada kartu lainnya?"

"Hah? Masa sih? Kartu ku baik-baik saj.." Sakura menepuk dahinya. Karena kecerobohannya kemarin dengan melupakan pin atmnya, dia mencoba pin atm yang dia ingat dan berakhir salah sampai ketiga kalinya hingga kartunya terblokir. Dan dia belum sempat mengurusnya kembali ke Bank. Ingin melakukan transaksi dengan kartu debitnya yang satunya akan percuma saja, dia sudah memindahkan semua saldonya itu pada kartu debitnya yang terblokir. Dan dia tidak memiliki sebuah kartu kredit karena akan membuatnya sangat impulsif terhadap pengeluarannya. "Aku akan pergi ke temanku sebentar untuk meminjam kartunya, tunggu sebentar ya."

Belum Sakura melangkahkan selangkah pun kakinya, seseorang menarik lengannya dengan cepat. Sakura menoleh dan mendapati seorang pria, yang terlihat berumur dipertengahan 30 tahun, tengah menarik lengannya dengan tangan kekarnya itu. Dia menyunggingkan senyum kecilnya. "Aku saja yang bayarkan." Pria itu memberikan kartu kreditnya pada sang Kasir. "Sekalian bayar pesananku di meja nomor 10."

Sakura terkaget dengan tindakan pria itu. "Eh, tunggu! Tuan jangan begitu, biar aku menghampiri teman ku terlebih dahulu dan aku akan mengganti uangmu."

"Santai saja. Anggap saja hari ini ada seorang asing yang berbaik hati mentraktir mu dan teman mu." Pria itu tersenyum pada Sakura. Membuat Sakura semakin tidak enak hati.

"Kalau begitu boleh aku meminta nomor rekening mu untuk menggantinya? Aku sedang tidak membawa uang tunai. Ku mohon, aku akan sangat tidak tenang jika aku tidak menggantinya." Sakura mengatupkan kedua telapak tangannya, menggigit bibir bawahnya dengan gugup. Pria di hadapannya ini sangat tinggi, mungkin sekitar 180 cm atau lebih, sementara tinggi badannya yang bahkan tidak mencapai 170cm jadi terlihat begitu kecil di hadapan pria itu.

Pria itu menerima kartu kreditnya dari sang penjaga Kasir lalu tersenyum mengucapkan terima kasihnya dan kembali beralih pada Sakura yang masih menatapnya dengan penuh harap.

"Santai saja. Aku tidak menerima pembayaran kembali atas traktiranku." Pria dengan setelan ala pekerja kantoran itu megancingkan jasnya dan berjalan menuju keluar café. Sakura mengikuti jalannya pria itu.

"Aku serius."

"Aku juga serius, Nona."

Sakura melihat Ino yang sudah berada di dalam mobil sedannya. Pria yang ada di hadapannya itu benar-benar tidak berniat untuk memberikan Sakura sedikitpun info mengenai dirinya. Dia sudah sibuk dengan ponselnya. "Baiklah, terima kasih banyak kalau begitu. Semoga harimu menyenangkan, Tuan."

Pria itu mengangguk, rambutnya yang berwarna perak dengan gaya mencuat ke atas ikut bergoyang seiring dengan anggukan kepalanya. "Tidak masalah. Semoga harimu menyenangkan juga, Nona merah muda."

Sakura mengerucutkan bibirnya. Pria itu sedang menggoda warna rambutnya ya? Sial!

"Sakura kau mau sampai kapan di situ?! Ayo masuk! Aku akan terlambat sampai kantor nanti!" teriakan Ino dari dalam mobilnya menyadarkan Sakura. Sakura langsung membalikkan badannya dan masuk ke dalam mobil Ino. Sakura sempat melirik sebentar pada Pria itu sebelum masuk ke dalam mobil Ino, ternyata Pria itu sedang berbicara dengan seseorang melalui ponselnya.

Ino berdecak lalu menggeleng-gelengkan kepalanya. "Aku tahu dia tampan. Tapi jangan terus-terusan kau pandang seperti itu, loh."

"Siapa?"

"Pria berambut perak tadi. Ku tebak, dia melakukan sesuatu untuk mu?" Ino mulai menjalankan mobilnya menuju kepadatan lalu lintas kota Tokyo.

Sakura berdecak jengkel. "Iya! Dia menolongku yang tidak bisa membayar pesanan kita karena aku yang lupa kalau kartu debitku baru saja terblokir kemarin, dan kartu ku yang satunya lagi baru saja aku kosongkan juga serta aku yang tidak memiliki kartu kredit dan sedang tidak memegang uang tunai sepeserpun. Dan itu semua terjadi karena seseorang yang mengaku kalau dirinya adalah sahabatku bertindak seenaknya saja dengan langsung pergi meninggalkan ku sendirian dan membuatku seperti orang bodoh di depan kasir!" Sakura berteriak kesal. "Jadi ya, Ino. Pria itu baru saja membayar pesanan kita berdua di café."

Ino tertawa kencang, mengabaikan kejengkelan Sakura terhadap dirinya. "Tapi bukankah harusnya kau bersyukur? Kau jadi bertemu dengan seseorang yang tampan. Benarkan, kata ku. Kau akan bertemu dengan calon kekasih mu hari ini."

Sakura memutar bola matanya. "Dasar gila. Terkadang aku heran mengapa Sasuke yang dingin dan tidak banyak bicara itu bisa tahan menjalin hubungan denganmu yang super cerewet dan suka seenaknya."

"Oh, Sayang. Kau sedang membicarakan dirimu sendiri ya?" Ino tertawa mengejek. Memang banyak yang bilang kalau sifat mereka berdua cenderung mirip, sama-sama cerewet, hanya saja Sakura tidak seperti Ino yang terkadang suka bersikap seenaknya. "Lagipula, Sasuke tidak banyak bicara kalau sedang berada di hadapan umum saja. Dia begitu hebat kalau urusan ranjang."

Sakura membelalakkan bola matanya. "Apa hubungannya tidak banyak bicara dengan hebat kalau di ranjang, Yamanaka?!" Sakura berteriak frustasi, yang hanya dibalas tawa kencang oleh Ino.


Hari sudah menunjukkan pukul 8 malam. Sakura sudah membereskan barang-barang yang dia bawa ke Rumah Sakit dan bersiap-siap untuk pulang. Sakura melangkah dengan gontai karena lelah, menyapa seadanya pada para Dokter senior maupun Perawat yang berpapasan dengannya. Dirinya sudah terlewat lelah karena hari ini dan tidak berniat untuk berbasa-basi barang sedikitpun dengan para rekan kerjanya.

Sakura mendongak ketika sudah berada di luar Rumah Sakit. Langit sudah gelap, tidak banyak bintang yang bertaburan, hanya bulan yang nampak menyinari bumi pada malam hari. Sakura sudah akan melangkah ke stasiun terdekat, lalu dia mengingat dia tidak memegang uang tunai sepeserpun dan masih membawa kartunya yang terblokir. Sakura mengetuk-ngetuk dahinya dengan jengkel. Kenapa dia sial sekali hari ini?!

Hari ini dia bisa berangkat dan ke café dengan selamat tanpa mengeluarkan uang barang sepeserpun karena Ino yang mengantar dan menjemputnya sedari pagi. Sakura tidak seperti Ino yang memiliki mobil pribadi. Orang tuanya lebih memilih tidak membeli mobil, karena moda transportasi publik di Jepang yang sangat memadai dan mudah. Lagipula akan memakan biaya yang sangat mahal untuk memiliki sebuah mobil di Jepang, dirinya hanya terlahir dari keluarga yang biasa-biasa saja, tidak kekurangan namun juga tidak berlebihan. Berbeda dengan Ino yang lahir dari keluarga yang cukup terpandang di Jepang, Ayahnya merupakan salah seorang politisi terkemuka dengan bisnis resort yang tersebar di beberapa Perfektur di Jepang, serta kepemilikan beberapa saham di perusahaan besar di Jepang. Tentu pundi-pundi uang keluarga Ino berbeda dengan pundi-pundi uang keluarga Sakura.

Dirinya berniat mengambil ponselnya untuk menelpon Ino untuk menjemput lalu mengantarnya pulang, namun baru ingin memencet tombol panggil di ponselnya, sebuah suara bariton mengagetkannya.

"Oh, kau seorang Dokter?"

Sakura menoleh. Sesosok Pria yang dia temui di café tadi sedang menatapnya dengan pandangan heran. Sakura membelalakkan matanya. Kebetulan macam apalagi ini? Kenapa Pria ini selalu datang disaat-saat sialnya?

"Maaf. Kau berbicara pada ku?"

Dia tertawa. "Tentu saja. Hanya ada kita berdua di sini. Lagipula aku tidak akan bertanya secara random pada seseorang yang tidak ku kenal yang ku temui di lobby Rumah Sakit."

Sakura terkekeh canggung. "Ah iya, aku Dokter, heheh." Setelahnya dirinya langsung merutuki kekehan canggung yang keluar dari mulutnya. Dasar bodoh!

"Baru selesai dari shift-mu?"

Sakura langsung mengutuk Pria di hadapannya ini. Kenapa dia tidak berniat untuk pergi setelah secara tiba-tiba bertanya kepadanya?! "Iya, baru selesai. Apa yang kau lakukan di sini?"

"Menjemput teman ku."

"Ah, begitu." Sakura mengangguk-anggukkan kepalanya. Dirinya ingin memencet tombol panggil lagi untuk menelfon Ino, namun dia mengurungkan niatnya karena tidak mungkin dia mengatakan kalau dia sedang tidak memegang uang tunai di hadapan Pria ini meskipun dia berbicara dengan Ino. Bagaimana kalau Pria itu berbaik hati lagi meminjamkan uang tunai kepadanya untuk pulang? Sakura sangat tidak ingin hal seperti itu terjadi.

"Kakashi?"

"Sakura?"

Keduanya menoleh secara bersamaan. Terlihat seorang wanita dengan rambut coklatnya yang panjang dengan iris mata hijaunya tengah menatap mereka berdua dengan pandangan bingung. Pandangan bingung lainnya dilemparkan oleh seorang pemuda seumuran Sakura dengan rambut coklatnya yang acak-acakkan dan iris mata hitamnya.

"Halo, Mei!"

"Kiba?!"

Pemuda yang bernama Kiba itu berjalan menghampiri Sakura. "Kenapa kau belum pulang?"

Sakura terkejut dengan pertanyaan itu. Mendadak dirinya menjadi gelagapan dan bingung akan menjawab apa. "Eum, eh, itu, ak–, aku sedang menunggu Ino!" Sakura memasang senyum lebarnya. "Ya, aku sedang menunggu Ino!"

Kiba menaikkan sebelah alisnya dengan heran. "Bukankah kau sendiri yang mengatakan tadi sore kalau Ino ada acara dengan keluarganya malam ini?"

Senyum lebar yang terpatri di wajah Sakura langsung memudar begitu mendengar ucapan temannya sejak kuliah itu. Iya dia baru ingat kalau tadi Ino bercerita kalau malam ini dia akan ada makan malam dengan keluarga Nara.

"Kau tidak bisa pulang karena lupa memegang uang tunai, ya?"

Skakmat!

Kata-kata Kiba barusan menyambarnya bagi petir besar saat hujan deras yang siap menyambar apapun yang dia inginkan. Dia lupa kalau dia sempat menceritakan masalah di café tadi ke Kiba. Dirinya memang sangat akrab dengan Kiba sedari kuliah, karena mereka berdua yang sama-sama memiliki sifat banyak bicara. Jadi tidak aneh jika Sakura banyak bertukar cerita dengan Kiba.

"Kenapa begitu? Tumben sekali, Sakura."

Sesosok wanita yang tadi sempat dipanggil oleh Pria di hadapannya dengan nama Mei memandang Sakura dengan heran. Mei Terumi. Dokter spesialis anak yang dia kenal karena sempat beberapa kali membantu sang Dokter. Mei menyukai Sakura yang cekatan dan gesit dengan pekerjaannya.

"Kartu atmnya ke blokir karena dengan cerobohnya dia lupa dengan pin–, aw!"

Sakura menginjak kaki Kiba dengan kencang. Mulut temannya ini terkadang harus disumpal agar tidak membongkar cerita-cerita memalukkan Sakura.

"Tapi tenang saja, Sensei! Kiba akan mengantarku pulang, iya kan, Kiba?" Sakura tersenyum manis ke arah Kiba yang masih memegangi kakinya yang sempat dia injak dan menggerutu dengan kesal.

"Baiklah. Berhati-hatilah kalian berdua. Kalau begitu aku pamit terlebih dahulu, ayo Kakashi!"

Pria yang akhirnya Sakura ketahui bernama Kakashi itu menampilkan senyum kecilnya kepada mereka berdua dan melambai pelan setelah ditarik dengan tidak manusiawinya oleh Mei Terumi.

"Apa-apaan?!" Kiba melayangkan protesnya.

"Kau yang apa-apaan! Jangan membongkar cerita memalukkan ku seenaknya di depan Mei-Sensei dong!"

Kiba memutar bola matanya kesal. "Ya sudah tunggu di sini. Aku akan mengambil mobil ku terlebih dahulu lalu mengantarmu pulang."

"Nah, gitu dong." Mendengar ucapan riang Sakura membuat Kiba mendengus kesal. Temannya yang satu itu terkadang senang sekali merepoti dirinya.


"Kau mengenal Sakura?"

Kakashi yang sedang menyetir dengan santai sambil mengetuk-ngetukkan jari jemarinya di stir mobil langsung menoleh pada kursi penumpang di sampingnya, tempat Mei Terumi duduk.

"Oh, namanya Sakura?"

Mei yang sedari tadi sibuk dengan ponselnya seketika memandang Kakashi dengan heran. "Ku kira kau mengenalnya karena sempat bercakap-cakap dengannya. Tapi ternyata kau saja tidak mengetahui namanya."

"Aku tidak mengenalnya. Hanya kebetulan seorang gadis yang ku tolong siang tadi karena tidak bisa membayar di café tempat dia makan bersama temannya."

Mei mendengus. "Baik sekali kau."

"Aku memang selalu baik."

Keduanya lalu terdiam. Tidak ada percakapan yang dibuka selama beberapa menit. Mereka berdua merupakan teman dekat semasa kuliah yang sayangnya sampai di umur mereka yang berada di pertengahan kepala tiga, masih betah untuk sama-sama melajang. Orang-orang yang tidak mengenal mereka dengan dekat terkadang sering kali menyalah artikan hubungan mereka sebagai sepasang suami isteri karena mereka suka bertengkar kecil pada hal sepele di depan umum. Meski pada kenyataannya mereka hanyalah sepasang sahabat yang masih akrab sampai sekarang. Kakashi sudah menganggap Mei sebagai adik perempuannya, karena wanita itu tidak memiliki siapa-siapa lagi di dunia ini. Berbeda dengan Kakashi yang masih memiliki Ayahnya.

"Pertama kali aku melihat Sakura, aku seperti melihat seseorang yang begitu mirip dengannya."

Kakashi terdiam. Tau kemana arah dari pembicaraan ini akan mengalir. Tapi dia memutuskan untuk tetap menutup mulutnya.

"Dia sedikit mirip dengan Nohara, bukan begitu?"

Pegangan Kakashi pada stir mobilnya semakin mengerat. Berusaha mengatur emosinya setiap kali nama sahabatnya disebut. Kakashi menutup kedua matanya sejenak, lalu kembali fokus pada jalanan di depannya. Apartemen tempat Mei tinggal akan sampai sebentar lagi, setelah itu dia bisa langsung pulang ke Apartemennya untuk beristirahat dan memulai kegiatannya besok lagi.

Setelah sampai di lobby gedung Apartemen Mei tinggal, Kakashi langsung menghentikan mobilnya. Dia menghela nafasnya dengan berat.

"Rin tidak mirip dengan siapapun."

Mei terdiam. Tangan kanannya terulur untuk mengusap bahu kiri Kakashi dengan perlahan. Mencoba merilekskan otot pria itu. "Aku tahu. Maafkan aku atas perkataanku tadi."

Kakashi menoleh, menatap sosok wanita yang sudah dia anggap sebagai saudara kandungnya. "Tidak masalah."

Mei tersenyum kecil, lalu mendekat ke arah Kakashi, memeluk pria itu singkat dan mendaratkan sebuah kecupan di pipi Kakashi. "Berhati-hatilah. Terima kasih sudah mau mengantar ku pulang."

"Itu sudah tugasku." Mei tersenyum, lalu keluar dari mobil Kakashi dan melambaikan tangannya. "Selamat beristirahat, Mei."

"Kau juga, Hatake."


a/n: i know its bad that i upload a new one when i havent finish the previous one... tapi tangan ini gatel sekali ingin mengetik ide cerita ini dan menguploadnya... oiya untuk l'amour sepertinya akan sedikit lama part 10nya, ada sedikit kendala dalam otak ku, yakni lagi stuck! (pusing deh huhh) tapi semoga kalian bisa nikmati cerita ini. Dan gak kayak l'amour yang aku memang plan itu bakal jadi cerita yang panjang, aku gak berencana buat cerita ini sepanjang l'amour. Mungkin less than 10 chapters cerita ini udah selesai, dan aku juga belum tau mau selesain yang mana terlebih dulu karena ya nulisnya ketika idenya ada aja wkwkwk

enjoy! dan terima kasih jika dari kalian ada yang sempat untuk review, follow dan fav cerita ini, it means a lot for me:)