Maaf semuanya yang sudah menunggu sangat lama. Sebenarnya TnS ini sudah update lebih dulu sampai Chapter 9 ini di Wattpad (karena saya fokus update-nya disana :' ) Mungkin kedepannya bisa pantengin Wattpad saya karena disitu juga ada revisi pada beberapa chapternya. Tinggal tulis di pencarian Tsuna no Seishin (Remake).
Kalaupun tidak punya Wattpad akan saya usahakan revisian yang sudah saya kerjakan dipindahkan kesini. Jadi, ditunggu ya.
-TnS-
Tsuna tengah tertidur pulas diatas kasur empuk berselimut tebal ketika mendengar teriakan. Suara tersebut menusuk kepala seperti bom, nyaring dan menakutkan seolah-olah terjadi di sini dan saat ini juga.
Selepas suara, datanglah penglihatan, merah, warna merah. Air berwarna merah darah di bawah kakinya. Menyelubungi benaknya, menggusur semua pikiran lain, kenangan lain yang telah ia alami. Ketika penglihatan itu akhirnya lenyap, ketakutannya pun sirna digantikan dengan rasa panik.
Tsuna mendadak duduk tegak di atas kasur, penglihatan itu beserta rasa kantuk tersapu bersih.
"Hey, kau baik-baik saja?" Pertanyaan yang terlontar dari mulut temannya membuatnya terlonjak kaget.
Dia mendongak dan menyeka keringat yang mengucur deras dari keningnya. Tangannya berada di dada, menarik nafas dan mengembuskannya beberapa kali sampai kepanikan yang ia rasakan hilang.
Kasur yang ditidurinya menjadi berat dan sebuah tangan mengusap bahunya. "Ini, minumlah." Ujar temannya.
Tsuna membuka mata yang tidak sadar tertutup. Gelas berisikan teh hangat berada begitu dekat dengan wajahnya. Menggumamkan kata terima kasih, dia menangkup gelas itu dengan kedua tangannya dan menyesapnya pelan-pelan.
"Mimpi buruk?"
"Begitulah." Jawab Tsuna. Meletakkan gelasnya di atas meja, di samping kasurnya. Mendesah pelan.
"Ingin bercerita?"
"Ah, tidak." Tsuna memaksakan seulas senyum. "Tidak apa-apa. Hanya mimpi bodoh."
Untuk sesaat Hollan hanya memandanginya, mengamatinya seakan mencari sesuatu. Akhirnya dia mengangguk pelan. Terdengar keraguan pada suaranya. "Baiklah kalau begitu."
Hollan berdiri, mengambil gelasnya dan akan beranjak pergi saat dia mengingat sesuatu. "Pemilik rumah ini ingin kita ikut makan siang dengannya. Tidak ada pengecualian kecuali ingin diseret dari kamar itu yang dia katakan." Mencoba menirukan suara nenek tua.
Tsuna tertawa pelan, "Baiklah. Aku akan turun setelah mandi."
Saat akhirnya hanya dirinya saja berada di dalam kamar, Tsuna menyibakkan selimut dan turun dari kasur. Dia berjongkok, membuka sleting tas untuk mengambil baju dan segera bergegas ke kamar mandi.
Dua puluh menit berselang Tsuna sudah menuruni tangga. Bau masakan yang lezat memaksanya untuk segera menuju tempat makan.
Berbagai macam makanan telah disajikan diatas meja. Temannya telah duduk dengan manis diatas kursi, air liur terlihat menetes keluar dari ujung mulutnya yang cepat-cepat dia seka dengan lengan baju.
Bahkan anak serigala yang dia bawa telah duduk disebelah kaki kursi temannya. Tengah memakan daging mentah di atas piring.
Tsuna duduk di sebelah temannya, bersiul pelan. "Aku belum pernah melihat begitu banyak ragam makanan di atas meja seperti ini. Nenek itu membuatnya untuk kita?"
"Iya dan tidak," Hollan memainkan garpuhnya, menusuk-nusuk ujung tepi piring. "Tadinya seperti itu, tetapi dia mendapat kabar jika saudarinya yang berada di Amerika akan berkunjung sore ini."
"Ah."
"Sebaiknya kita makan sekarang." Lanjutnya dengan nada tidak sabar. Menyambar semua makanan yang ada di atas meja. Mengoles selai daging keatas roti, ditumpuk dengan keju diatasnya, sedikit baluran saos dan ditutup dengan roti lagi, membentuk roti lapis. Dalam satu suapan dia memasukan semuanya ke dalam mulut.
Tsuna memilih untuk mengambil pasta fettuccine dan bola-bola daging yang dilumuri dengan saos tomat merah. Dagingnya lumer dimulut. Hmm.. sungguh lezat.
Piring kecil berisi salad hijau diletakkan di sampingnya, memghiraukan protesnya. "Kita harus makan sebanyak-banyaknya, memastikan rasa lapar tidak kita rasakan untuk dua hari ke depan nanti," ujarnya di sela-sela kunyahan. "menghemat pengeluaran agar dapat bertahan hidup adalah yang paling penting untuk saat ini."
Berat hati sungguh Tsuna menerima makanan hijau tersebut. Dia tidak suka sayuran, mengingatkannya akan rumput dan sapi. Dan dia bukan sapi!
Mereka makan dalam diam sembari menonton berita di televisi tentang demo yang terjadi saat ini. Polisi berseragam lengkap beserta tameng ditangan mereka agar terlindung dari lemparan batu dan beling. Kamera yang menyoroti sang reporter bergerak memperlihatkan salah satu mobil polisi dan beberapa mobil penduduk habis terbakar oleh amukan massa.
"Apakah kita harus khawatir?" Tanya Tsuna diantara gigitan.
"Haruskah? Masalah kita saja sudah banyak," Gerutu anak blasteran itu, tangannya menopang dagu dengan dengkul berada diatas meja. Sorotan matanya menatap Tsuna sekilas sebelum beralih lagi ke makanannya, menusuk daging dengan garpuhnya dan memasukannya kemulut. "setelah ini ada yang ingin kamu lakukan terlebih dahulu sebelum melanjutkan perjalanan kita?"
Tsuna menggaruk-garuk kepalanya. "Sepertinya tidak. Kau ingin menemui seseorang atau melakukan sesuatu?"
"Tidak," jawab temannya, "aku hanya ingin memastikan saja."
"Oke." Jawaban singkat memutuskan percakapan mereka berdua.
Setelah selesai makan, mereka berdua membagi tugas dan Tsuna mendapat bagian untuk cuci piring sementara Hollan merapihkan kembali meja dan bangku.
Berada lagi didalam kamar, mereka merapihkan semua perlengkapan mereka. Merapihkan tempat tidur. Dan, mengambil sekaleng permen kaki sebagai tanda perpisahan. (Itu alasan Hollan yang dia berikan padaku.)
Dikarenakan nenek tua itu belum juga pulang, Hollan meninggalkan secarik kertas berisi perpisahan dan ucapan terima kasih yang ditaruhnya diatas meja makan dengan dibawahnya menyebutkan nama asli mereka berdua.
-TnS-
Setelah berunding cukup lama selama diperjalanan akhirnya mereka memutuskan untuk melanjutkan menuju pusat Roma menggunakan Terravision Bus, salah satu layanan bus menuju pusat Roma. (Seharusnya terminal ini berada dekat dengan Bandara Leonardo da Vinci, tapi yaudahlah ya) Biaya paling murah dibandikan menggunakan transportasi lain. Itu yang Tsuna lihat pada Google saat mereka berdiri ditengah-tengah jalan. Menghiraungkan sepasang mata menatap mereka dengan ekspresi jengkel karena menghalangi jalan mereka.
Bis non-stop ini beroperasi setiap 30 menit dengan waktu tempuh 30-60 menit untuk sampai tujuan. Tsuna, memesan dua tiket melalui via online dan tanpa menunggu lama pihak transportasi mengirim bukti tiket melalui Email-nya.
Selama perjalanan mereka mengamati pemandangan Roma. Mengambil beberapa foto pemandangan indah menyajikan bangunan arsitektur klasik bergaya Romawi.
Bus mereka berhenti didepan salah satu simbol kota Roma, yaitu Koloseum, amfiteater terbesar yang pernah dibangun di Kekaisaran Romawi.
Hollan menarik tangannya mendekati bangunan bersejarah tersebut, "Kita harus berfoto disini!" Sahutnya. (Di wattpad, saya menampilkan gambar)
Dia meminta salah satu turis yang berada
disana untuk memoto mereka berdua.
Mereka mengunjungi beberapa bangunan bersejarah lainnya. Mengurangi rasa khawatir tentang orang-orang berbahaya yang tengah memburu mereka.
Berada dijalanan mengelilingi kota selama satu setengah jam akhirnya mereka beristirahat di bangku taman dekat dengan kedatangan bis mereka tadi. Hawa yang sejuk membuat tenaga mereka tak begitu terkuras habis, keringat basah hanya terlihat sedikit pada baju mereka.
Intuisi Tsuna muncul secara tiba-tiba, jantungnya berdegup kencang, memperingati dia jika bahaya berada dekat dengan mereka.
Dia segera berdiri dengan cepat, memandang sekelilingnya. Turis semakin banyak berdatangan, menyulitkannya untuk mengetahui sumber datangnya intuisinya. "Hollan, kita harus pergi dari sini." Hardiknya.
Hollan berkedip mengalihkan pandangannya dari ponsel, tanda tanya terdengar dari jelas dari perkataannya. "Tapi kita baru saja duduk."
Tsuna menggeleng kepala, memberikan kode pada temannya untuk mengikutinya. Masih dalam tanda tanya Hollan mengikutinya.
Mereka berjalan dengan kecepatan sedang (itu yang Tsuna lakukan sementara Hollan hanya mengikuti langkahnya.) Ke jalanan yang lebih sepi dari pengunjung dan bersembunyi dari balik gang sempit.
"Ada apa?" Akhirnya Hollan memberanikan diri untuk bertanya.
"Intuisiku tiba-tiba muncul. Sepertinya mereka berada disini."
"Bagaimana mereka dapat menemukan kita dengan cepat?!" Geram Hollan, memeriksa keadaan. Matanya mencoba menangkap kelompok orang berjas ataupun pakaian yang mencolok dari kerumunan orang.
Dia mengumpat keras, menarik tangan Tsuna untuk berjalan lebih dalam kedalam gang. Dia tak lagi mempedulikan Google Maps untuk mengetahui tujuan yang akan dituju oleh mereka, kali ini hanya kaki beserta instingnya lah yang menjadi petunjuk mereka.
Kanan, lurus, keluar dari gang, melewati sekelompok band jalanan, berbelok masuk gang yang lainnya disebrang, keluar dari gang.
"Hollan, masuk kesana." Tsuna memberhentikan laju mereka dan menunjuk pada perpustakaan besar. (Seharusnya ada gambarnya juga untuk perpustakaan)
Karena tak punya pilihan lain, mereka memasuki perpustakaan tersebut. Suara gesekan biola terdengar saat mereka masuk. Ternyata didalamnya lebih besar dari dugaan mereka, untuk seorang kutu buku tempat ini bisa dikatakan surga dunia untuk mereka. Terdapat tiga lantai, dibagian bawah meja panjang dengan beberqpa kursi berjejer rapi. Lantai dua dan lantai tiga dipenuhi dengan rak-rak besar dan panjang. Berbagai macam buku berjejer rapi memenuhi rak tersebut.
Hollan mengisi buku kehadiran dengan nama palsu sementara Tsuna sudah duduk paling ujung. Ditempat banyaknya pengunjung yang duduk dengan tenang, menghiraukan keberadaannya. Dia memeluk erat tasnya, merasakan gerakan yang terjadi didalamnya, menandakan jika anak serigala tersebut merasakan kecemasan mereka
Membuka sletingnya agak lebar, dia memasukan tangannya kedalam tas, memberikan usapan lembut pada kepala Sergei.
Sebuah buku berukuran sedang diletakkan dihadapannya dan Hollan duduk disampingnya. Dia juga telah mengambil buku mengenai seputar Italia. "Bagaimana mereka bisa tahu keberadaan kita?" Pertanyaan itu terucap kembali.
"Aku tidak tahu," jawab Tsuna jujur, membaca judul bukunya. 'Cara menjadi badan intelligence yang hebat.' Ya, bukan buku yang tepat untuknya. Dia membalikkan buku itu dengan tangan satunya. "apa mungkin mereka melacak kita lewat ponsel?"
"Tidak, kecuali kamu pernah memberikan mereka akun email-mu, memberikan nomer Imei ataupun pernah memasuki satu situs yang menampilkan email kita."
"Oh.. tidak kalau begitu."
Dengan pikiran dipenuhi dengan tanda tanya, mereka mencoba cari tahu penyebab bocornya keberadaan mereka.
Perasaan yang mengerikan menggrogotinya. Bodoh, sangat bodoh. Seharusnya aku menyadarinya. Tsuna merogoh saku jaketnya dan meraih chip kecil. Cahaya merah masih berkedip seakan mencibir kebodohannya, secara insting membuang chip tersebut kebawah kolong meja dan menginjaknya. Dia meneguk ludah disaat merasakan tenggorokannya menjadi kering. "Hollan sepertinya aku tahu penyebabnya."
Hollan memandanginya, matanya menyipit. "Apa yang.."
Perkataannya terhenti saat pintu perpustakaan terbuka dan menampakkan mimpi buruk terbesar mereka. Keduanya saling bertatapan dan secepat kilat mereka beranjak dari tempat duduk dan segera berjalan menjauh.
Tsuna menggendong tasnya didepan.
"Jalan dengan normal ke lantai 2." Kata Hollan.
"Mereka bisa mengenali kita!" Desisnya.
"Dan, kita tidak punya pilihan lain. Jalan keluar satu-satunya hanya pintu kita masuk tadi." Timpal Hollan kesal.
Berada dilantai dua, mereka dapat melihat Arcobaleno dengan jelas namun dari jarak yang aman. Keberadaan mereka diatas sangatlah rawan diketahui, jadinya tidak yakin jika mereka dapat melarikan diri tanpa adanya cek-cok.
Reborn tengah berbicara pada penjaga perempuan perpustakaan itu. Wajahnya yang menawan membuat penjaga malang itu terlihat merona. Dia tak dapat mendengar percakapan mereka berdua tetapi sudah dipastikan jika Reborn mencoba mencari informasi tentang mereka dengan sedikit menggodanya. Sementara, anggotanya yang lainnya-
"Tsuna, bawa senjata?" Suara temannya mengalihkan pandangannya. Dia mengangguk kearah Hollan, menarik pisau lipatnya. "Bagus, pakai itu. Mereka mengetahui keberadaan kita."
Dan benar saja, seorang perempuan dan pria berambut pirang berjalan menuju lantai dua.
"Kita harus berbalik?!" Reborn telah bersender pada meja penjaga memandangi mereka berdua dengan tatapan datar.
"Ada anggota lainnya dibelakang." Ucap Hollan, tasnya digendong didepan, tengah merogoh sesuatu.
"Nyali kalian tak dapat kupungkiri," Puji pria berambut pirang, "nekat masuk pesawat secara illegal dan mengorbankan teman kalian di bandara." Menggelengkan kepalanya, ditangan terdapat senjata revolver.
Tsuna meraih lengan Hollan saat melihat temannya tengah meredam amarah. Badannya gemetar. Bukan karena takut melainkan sebaliknya.
"Hollan, jangan gegabah," Pinta Tsuna. Dia menengok kebelakang, melihat dua orang Arcobaleno telah berada dekat dengan mereka, "kita harus pergi dari sini bagaimana pun juga."
"Sebaiknya kalian menyerah." Perempuan itu berkata dan keempat orang yang mengepung mereka berdua berlari mendekat.
Hollan mendengus kencang, dengan cepat tangan satunya yang masih berada didalam tas dikeluarkannya. Sebuah kantong familiar diletakkan ditangannya Tsuna. Mereka berdua saling pandang untuk sekilas, "berpencar. Kita akan bertemu lagi ditempat bis tadi."
Tak ada waktu untuk protes Tsuna mengikuti perintah temannya. Dia berbalik arah memunggungi temannya, meraih ikatan pada kantong, meraup segenggam abu dari smoke bomb. Dia melemparkan abu tersebut tepat kearah muka kedua Arcobaleno tersebut.
Percikan abu yang panas tak dapat mereka hindari, bahkan setelah dapat mereka prediksi dan menghalaunya dengan lengan mereka. Umpatan terdengar dari keduanya diikuti dengan yang lain dari arah Hollan.
Tsuna melesat pergi, menghindari tangan yang hendak meraihnya walau sebuah buku mengenai belakang kepalanya dengan keras. Tangga yang menuju kebawah tak jauh dibandingkan dengan Hollan yang harus memutari setengah dari tempat tersebut. Dia berpegangan pada pinggir tangga saat dia melompati setiap dua anak tangga. Terdengar suara pistol dan intusisinya menjerit, secara spontan dia menjatuhkan dirinya tepat saat sebuah peluru hampir mengenainya.
Tak dapat menghalau jatuhnya dari tangga, dia terguling kebawah menghantam lantai dengan kencang. Tasnya terlepas dari gendongan membuat anak serigala itu merangkak keluar. Dia menggigit tas yang terlepas tadi dan mendekatinya, berdiri membelakangi badannya yang masih tergeletak dilantai.
Dengan kepalanya yang berdenyut menyakitkan, sepertinya mengeluarkan darah, Tsuna berdiri dengan sekuat tenaga, berusaha untuk menghiraukan rasa sakit pada sekujur tubuhnya.
"Ayo, Sergei." Ucapnya serak.
"Sebaiknya menyerah saja." Suara baritone terdengar mengarah kepadanya, langkah kaki semakin mendekati dirinya. Suaranya terdengar sangat jelas padahal jeritan para pengunjung begitu kencang. Aku tidak menyadari jika didalam sini sudah kacau.
"Hati-hati Reborn, anak ini membawa smoke bomb." Salah satu Arcobaleno berkata.
Tsuna memegangi kepalanya, mendongak menatap hitman itu, melayangkan kekesalannya kepada orang didepannya. Tangan kirinya menggenggam erat pegangan pada pegangan tangga. Kedua kaki yang masih gemetar menjadikannya sulit untuk berdiri tegak.
Sergei menggeram, masih kecil pun gigi taringnya sudah terlihat tajam dan runcing.
"Cute." Balas Reborn, menyeringai. Pistol yang dipegangnya diacungkan kearah Sergei. "Ikut denganku sekarang secara baik-baik atau aku tidak akan segan-segan menarik pelatuk ini." Ancaman yang tidak dibuat-buat terdengar dari mulut sang hitman.
Tsuna menunduk lemas saat menyadari sebuah tangan memegang erat pundaknya. "Aku tahu,"
Reborn tetap diam tak bergerak mendekat. Ditatapnya tajam kearah anak nakal didepannya ini dengan curiga.
"Lackey, jangan lengah."
"Ya, aku tau- Ah!" Tsuna menusuk paha Lackey? tak memberikan kesempatan untuk menjawab. Saat berat pada pundaknya menghilang, Tsuna meraih kantong yang lepas dari genggamannya dan segara melempar kearah Reborn.
"Melakukan hal yang sama adalah kecerobohan besar." Sahut Reborn menepis kantong tersebet.
Tsuna mengambil pematik, membuka tutupnya membuat api kecil keluar dari dalam. "Aku tahu. Karena itu aku memakai cara kedua." Jawabnya singkat, melempar pematik rokok itu ke kantong.
Bomb kecil terjadi didalam perpustakaan menimbulkan alarm kebakaran berbunyi nyaring.
Tsuna berlari menjauh saat tangan meraih lengannya menariknya balik dengan paksa. Dia mencoba untuk menyerang, melayangkan tinju, menendang bahkan mencoba untuk menggigit tangan yang memegangnya tetapi tak ada satupun yang mempan.
"Berhenti melawan Tsu- son of a bitch!" Umpat Reborn, merasakan gigi tajam menusuk kakinya.
Tsuna cepat-cepat berlari, disusul dengan Sergei dibelakangnya. Dia hendak memutari ruangan disaat melihat sebuah pintu kecil terbuka. Lajunya dipercepat, tak mempedulikan suara raungan marah terdengar dari dalam.
Tsuna dan Sergei berlari tak lihat arah. Dipikirannya hanya dapat lolos dari kejaran mereka. Dia bahkan selagi berlari menyempatkan diri untuk memeriksa bajunya jika saja ada chip yang tertanam dibajunya seperti tadi.
Tak kuasa menahan rasa letih dan kepala yang tak berhenti berdenyut akhirnya dia me-istirahatkan diri dibangku depan sebuah cafe kecil. Dia mengambil tasnya dari gigitan Sergei, tak lupa memberikan kata terima kasih dan belaian pada kepalanya. Untung saja botol minum disamping tas tidak ikutan jatuh.
Tsuna menegakkan beberapa liter. Dinginnya air membasahi kerongkongannya yang kering.
Setelahnya, tak lupa ia juga memberikan air tersebut kepada Sergei dengan didekatkannya ke moncong.
Mereka tidak perlu khawatir akan dehidrasi setelah ini karena, sepanjang jalan yang Tsuna telah lewati dia dapat menemukan satu atau dua pengisian ulang air minum gratis.
"Ayo, kita tidak bisa diam terlalu lama disini dan segera menemui Hollan." Ucapnya, kembali berjalan.
Sungguh enggan untuknya beranjak dari tempat duduk. Kepalanya yang tak berhenti berdenyut menjadikan sulit untuknya untuk fokus.
Tidak ingin mengambil resiko, dia memasukan kembali Sergei ke dalam tasnya dan memutuskan untuk mengambil jalur agak jauh dari jalur yang tadi dia lalui dengan sesekali menanyakan arah kepada pejalan kaki untuk menuju bangunan Collosum.
.
.
.
.
.
.
Tak terasa matahari telah terbenam tetapi temannya tak kunjung datang juga. Bahkan bis terakhir untuk mereka telah pergi. Ingin menanyakan keberadaannya pun susah karena tak satupun dari mereka mengganti provider. Perasaan tidak enak menggrogotinya. Intuisinya sedari tadi menjerit, tetapi dengan kepala yang tak kunjung usai berdenyut menjadikannya sulit untuk mengetahui jika sebenarnya rasa pusing itu dikarenakan oleh intuisi yang terlalu kuat atau akibat benturan tadi.
Ponselnya berbunyi dengan nyaring mengagetkan dirinya. Dia merogoh ponselnya, mendapati nomor tidak dikenal tertera pada layar.
Dengan jantung yang masih berdegup kencang, Tsuna memencet tombol jawab dan mendekatkan ponselnya ke telinga.
"Halo?"
"Ah," Suara yang ia harapkan tidak ia dengar untuk waktu yang lama, "senang akhirnya bisa meneleponmu. Temanmu ini sulit untuk bekerja sama kau tahu. Keras kepala sepertimu."
Seakan bumi berhenti berputar dan hilangnya grafitasi, kepala Tsuna seakan terasa sangat berat. Wajahnya menjadi pucat. Sepucat kertas. Telinganya berdenging, tak dapat lagi mendengarkan perkataan orang yang masih berbicara dengannya.
"... Ak ingin temanmu ini bernasib sama bukankah begitu?"
"Dimana Hollan?"
"Hmm? Jadi itu namanya?"
Rasa takut tergantikan dengan amarah. Tsuna menggeram, "Dimana Hollan? Aku bersumpah jika terjadi sesuatu dengannya-"
Terdengar suara tawa berat dari sebrang. Tsuna dapat merasakan jika Reborn tengah tersenyum lebar. "Bagaimana kalau kau kesini dan cari tahu sendiri bagaimana keadaan sahabat tercintamu ini?"
"Sudah kukirim koordinat melalui email. Semoga kamu mempelajarinya sebelumnya. Dan, Jangan coba-coba meminta bantuan, Tsunayoshi. Aku bisa melacakmu melalui ponsel sahabatmu ini. Sampai jumpa lagi, Tsunayoshi."
Jaringan pun terputus secara sepihak. Tsuna mencengkram botol minumnya begitu erat hingga kepalannya menjadi putih, giginya bergemelatuk saling beradu. Dia menundukkan kepalanya, nafasnya terdengar berat, badannya gemetar.
Tak disangka Tsuna tertawa begitu kencang sampai membuat badannya ikut berguncang. Dia tertawa dan tertawa hingga perutnya menjadi sakit.
"Bodoh. Kamu sudah mengetahui akan hal ini, bukankah begitu Hollan?" Ucapnya disela-sela tawanya.
"Kita akan bertemu lagi ditempat bis tadi, bull shit!" Tsuna melempar tempat minum yang ia pegang hingga pecah menghantam aspal. "Mencoba menjadi superhero lagi bukankah begitu, brengsek."
Tsuna menatap ponselnya yang menandakan jika saat ini sudah menunjukkan pukul delapan malam. Dia segera meraih tasnya yang berada di sebelah kursi dan menyelempangnya lagi ke punggung.
"Kita akan menyelamatkan teman bodoh kita ini, Ser." Tsuna berkata kepada anak serigala itu yang sedari tadi menatapnya dari jarak yang agak jauh. Mata birunya terlihat penuh dengan tekad.
.
.
.
.
.
Seperempat menit kemudian, Tsuna duduk di sebuah tempat makanan cepat saji di Kota Roma, tak jauh dari dia duduk tadi. Dia memesan coke float dan ayam crispy untuk Sergei.
Menggunakan jaringan Wi-fi yang disediakan oleh restaurant ini, Tsuna membuka email.
Hanya tertera no. Koordinasi. Tidak ada pesan lain seperti perkiraannya.
45.464244,9.191943.
To be continue
Ada yang tau titik kordinasi apa ini?
