Seharian ini Haechan sangatlah bosan. Akhir pekan di mana ia dan Mark selalu menghabiskan waktu bersama, terpaksa direnggut oleh kabar sialan dari teman sang kekasih yang memaksa menyelesaikan pekerjaan di penghujung pekan di bulan Agustus. Lebih menyebalkannya lagi, kabar itu memerintahkan Mark untuk menginap di hutan belantara selama dua malam. Sekarang barulah delapan jam sejak kepergian Mark bersama Jeno dan Jaemin. Tetapi Haechan sudah merasa bosan setengah hidup.
Karena semua tugas kuliah untuk pekan depan sudah terselesaikan dengan baik, Haechan bingung hendak melakukan apa. Menonton film di Netflip terdengar menyenangkan, tapi Haechan enggan. Tidak ada Mark di sisi yang selalu menemani Haechan ketika bosan. Pun berselancar di SNS juga telah ia lakukan sejak sekian jam yang lalu, sehingga kini Haechan lelah. Ia merasa perlu mendinginkan kepala atau mencuci mata dengan mengunjungi tempat-tempat menakjubkan. Selagi hari masih siang, Haechan kembali meneror Renjun yang tak kunjung menjawab panggilan teleponnya. Entah apa yang kawannya itu lakukan, sejak tadi pagi panggilan Haechan belumlah pernah dijawab. Maka Haechan terpaksa beralih pada kawan sepermainannya yang lain, Doyoung. Kawan sekaligus alumnus universitas tempat Haechan berkuliah itu biasanya masih tetap sibuk di akhir pekan sebab profesinya sebagai dokter. Tetapi untuk kali ini Haechan tetap mencoba menghubunginya, siapa tahu Doyoung sedang senggang.
Begitu Doyoung menjawab panggilan, Haechan segera mengajak yang lebih tua untuk bertemu di kafe langganan mereka saat itu juga. Tetapi karena Doyoung masih memiliki shift kerja selama dua jam ke depan, Haechan menyetujui tawaran Doyoung untuk bertemu pada waktu sore. Tepat ketika panggilan keduanya berakhir, Renjun tanpa diduga menghubungi Haechan balik.
"HUANG RENJUN SIALAN!!!" Haechan tidak bisa untuk tidak mengumpati teman beda fakultasnya itu. Sudah berpuluh kali ia menghubungi Renjun sejak pagi, dan kini si kecil Renjun tengah menampilkan wajah bantal khas orang bangun tidur. Haechan yang masih tidak tahu penyebab Renjun baru bangun dari hibernasinya, hanya bisa memasang wajah garang.
"Apa-apaan kau! Menganggu tidur panjangku! Sial!" Balas Renjun tidak mau kalah. Lelaki itu masih dalam posisi merebahkan diri dan memejamkan mata.
"Hei, hei! Bangunlah, sialan! Ayam sudah berkokok sejak berjam-jam yang lalu dan matahari sudah sangat tinggi! Dasar pemalas!" Ujar Haechan mengomeli temannya.
Renjun berdecak kesal. Haechan tidak tahu saja jika Renjun menghabiskan waktu semalam suntuk guna menyelesaikan lukisan yang dipesan oleh seseorang. Tidak seperti Haechan yang menghabiskan malam Minggu untuk bergumul di atas kasur bersama Mark. Tetapi pengecualian untuk tadi malam, sebab keduanya sibuk menyelesaikan tugas.
Panggilan video itu diakhiri sepihak oleh Renjun. Membuat Haechan geram dengan tingkah yang biasa dilakukan lelaki itu. Tetapi setelahnya Renjun mengirimkan pesan bahwa ia akan bersiap dan setuju untuk bertemu dengan Haechan di kafe yang telah ditentukan. Haechan merasa lega, sebab kesendirian membuatnya mati rasa. Lelaki yang berada di tingkat tiga perguruan tinggi itu sangat benci sendiri. Ia menyukai keberadaan orang lain, karena dengan itu semua terasa lebih ringan. Jika sendiri, Haechan pastilah hanya akan tidur atau bergelut dengan gawai. Dan karena kebosanan terhadap gawai sudah melanda, maka ia benar-benar butuh sosok manusia untuk diajak bicara.
"Asal kau tahu saja! Dia sering mengabaikanku setelah pulang ke apartemen! Alasannya lelah, lelah, lelah! Dia pikir hanya dia manusia di dunia ini yang kelelahan? Sampai-sampai tidak mau memelukku atau bahkan menyentuh tanganku! Brengsek sialan itu benar-benar!" Haechan tak henti-hentinya menceritakan hal buruk tentang Mark yang ia rasakan semenjak kekasihnya itu bekerja selama satu pekan. Sebagai mahasiswa tingkat akhir yang dalam perjalanan menyusun tugas akhir, Mark sudah tidak memiliki jadwal tatap muka dalam kelas. Sehingga ia memanfaatkan itu untuk bekerja sampingan selagi menyusun skripsi. Tetapi pekerjaan itu dipandang Haechan sebagai hal yang membuat hubungan keduanya tak lagi intim sebab Mark yang terus-terusan tidur atau begadang jika sampai apartemen. Lelaki itu bahkan belum menyentuh file proposal tugas akhir yang seharusnya dikerjakan dalam waktu dekat. Ia hanya peduli tentang pekerjaan yang katanya cukup menghasilkan uang. Padahal menurut Haechan, tidak sama sekali.
Mendengar celotehan tak berujung itu, Renjun hanya bisa diam sembari menikmati matcha-nya. Percuma saja menanggapi, jika Haechan belum menyatakan selesai, maka mulutnya akan terus berkicau tanpa kenal lelah. Renjun yang sudah mengetahui itu hanya tinggal menunggu untuk membalas dengan omelan yang tak kalah panjang.
"Dan sekarang lihat? Dia bahkan berani-beraninya meninggalkanku selama dua malam! Dia pikir aku bisa hidup tanpanya? Bisa bangun tanpanya? Bisa makan, mandi, dan buang air tanpanya? Dia tau sendiri aku sudah terbiasa hidup bersamanya selama tiga tahun ini! Dengar, Renjun! Tiga tahun kami tinggal bersama! Bahkan hubungan kami akan mencapai usia enam dalam hitungan hari!!!" Masih menggebu, Haechan bahkan secara tak sadar telah menggebrak meja. Meski tidak menimbulkan suara debuman kencang, tapi cukup membuat Renjun terperanjat kaget.
"Oke. Aku selesai." Haechan menyeruput milkshake-nya setelah merasa tenggorokannya kering.
Renjun menjauhkan gelas di hadapan. Bersiap untuk menjadi problem solver atas masalah 'rumah tangga' sahabatnya itu. "Jadi, kau sudah mengeluh padanya?" Renjun mengawali dengan interogasi. Ia harus tahu terlebih dahulu apa yang telah keduanya lalui sebelun memberikan pemecahan masalah.
Haechan mengangguk, lalu menjauhkan sedotan. "Aku berkali-kali mengomel padanya, bahkan merengek. Tapi dia selalu bilang, semua ini demi uang. Dia ingin mandiri karena sebentar lagi masa beasiswanya akan habis."
"Lalu? Bagaimana tanggapannya?" Lanjut Renjun.
Haechan merengut, "Dia hanya minta maaf."
"Tanpa menjanjikan apapun?" Renjun mengulik, dibalas dengan anggukan mantap dari Haechan.
Respon Haechan itu membuat Renjun tak lagi berucap, sebab dirinya tengah berpikir. Seorang laki-laki yang tidak menjanjikan apapun cukup terlihat tidak serius dalam sebuah hubungan. Tetapi jika dilihat dari sudut pandang lain, menjanjikan sesuatu tanpa menepati justru sangatlah kurang ajar. Renjun pikir, Mark tidak menjanjikan apapun sebab dirinya belum mampu melakukannya.
"Jadi, apa kau sudah punya rencana?" Masih terus bertanya, sebenarnya Renjun juga bingung harus memecahkan masalah ini dengan bagaimana. Sebab yang ia lihat, dalam hubungan kedua sahabatnya itu, Haechan sangatlah terlihat menyukai Mark dan bergantung padanya. Sedangkan Mark masihlah ingin mengejar keinginannya untuk melakukan hal yang disukainya. Pun menghasilkan uang untuk mereka. Tetapi Mark belum memberikan Haechan pengertian, dan Haechan juga belum beradaptasi dengan kebiasaan baru Mark. Maka di sini, tentu saja, keduanya yang harus sama-sama membenahi diri.
"Tunggu, apa pekerjaan Mark?" Renjun lalu menyadari satu hal. Sejak tadi Haechan hanya berceloteh tanpa menyebut hal apa yang sebenarnya tengah dikerjakan oleh kekasihnya itu sampai-sampai kelelahan dan mengabaikan dirinya.
Ditanya seperti itu membuat Haechan kembali berceloteh panjang. Ia menceritakan kronologi bagaimana Mark mendapatkan pekerjaan yang di mata Haechan sangatlah aneh dan tidak menarik. Ini semua karena Jaemin dan Jeno yang mengajak mereka bepergian. Mereka berempat mengadakan kamping beberapa pekan yang lalu di bukit kota sebelah. Tidak terlalu jauh, sebab terletak di perbatasan. Haechan yang sebenarnya baik-baik saja dengan kegiatan itu hanya menaruh atensi secukupnya. Berbeda dengan Mark yang rupanya terlihat sangat bersemangat hingga menyusuri hutan dan bukit seorang diri. Membuat ketiganya benar-benar khawatir saat Mark tak kunjung kembali ke tenda selama delapan jam. Saat itu Haechan bahkan telah berpikir yang tidak-tidak karena terlalu khawatir.
Tetapi Mark kembali dengan selamat. Membawa serta beberapa orang yang tidak dikenal oleh ketiganya. Lalu mulai bercerita dengan semangat sambil menepuk Haechan yang memukuli dada Mark dalam dekapan. Haechan terlanjur khawatir, tetapi objek yang dikhawatirkan itu malah berceloteh panjang. Tentang penemuan fosil binatang zaman pra-sejarah yang banyak terpendam di bukit itu. Mark ternyata bertemu lima orang pencari fosil yang telah terjun di bidang itu selama lima tahun. Tak main-main, kelompok mereka ternyata telah menemukan kurang lebih seribu rangka fosil dan telah didata oleh petugas museum setempat. Atas penemuan-penemuan itu, mereka mendapat timbal balik berupa uanh dengan jumlah yang berbeda tergantung rangka yang ditemukan. Ternyata cerita itu membuat Mark semakin tertarik dan memutuskan bergabung dengan mereka, begitu pula dengan Jeno dan Jaemin. Mereka pikir itu adalah petualangan yang menyenangkan.
Tetapi bagi Haechan, kegiatan itu sungguh tidak menyenangkan. Kekuatan fisik pastinya akan diuji selama pencarian fosil, dan Haechan sangat tak menyukai itu. Mendaki bukit saja lelahnya minta ampun, apalagi sampai menggali-gali tanah untuk sesuatu yang tidak pasti. Sungguh sangat menyusahkan. Namun Haechan tidak bisa melarang Mark untuk pergi, karena saking semangatnya, Mark justru lupa berpamitan pada Haechan. Membuat Haechan merajuk satelah itu. Tetapi Mark sudah hafal. Mendiamkan Haechan yang tengah merajuk pastilah akan membuat masalah selesai, sebab lelaki itu mana tahan untuk puasa bicara barang semenitpun. Lalu hari itu selesai begitu saja, dengan Mark yang masih melanjutkan pekerjaan aneh itu pada besok dan besoknya lagi. Terus seperti itu.
"Jadi, begitu. Kenapa kau baru cerita padaku??" Ujar Renjun kesal. Akhir-akhir ini mereka memang jarang bertemu karena kesibukan Renjun. Tetapi setidaknya, ia masih beberapa kali mengirim pesan pada Haechan. Menyebalkannya, Haechan tidak menanggapi, apalagi menceritakan hal tadi.
Haechan hanya meringis dan beralasan lebih seru menceritakannya secara langsung tanpa kendala ruang dan jaringan. Lalu ia kembali fokus pada Renjun yang terlihat berpikir keras.
"Apa dia tidak menggunakan ponsel untuk menghubungimu? Menanyakan apapun selayaknya orang pacaran?" Selidik Renjun lagi, mencoba mencari celah untuk dimanfaatkan sebagai pemecah masalah.
Haechan menggeleng. "Dia bilang terlalu sibuk. Tapi, aku selalu melihat kegiatannya di story SNS dan juga video perjalanannya di Yourtube. Ah, gara-gara itu juga dia sering begadang untuk mengedit video."
"Dia tidak menggunakan jasa Jaemin? Benar-benar lelakimu itu! Seperti punya banyak waktu saja!" Tanpa sadar, Renjun ikut menggebrak meja. Merasakan betapa anehnya seorang Mark yang seolah lupa jika sudah memiliki kekasih haus belaian seperti Haechan.
"Tunggu, dia membuat story dan video? Ya sudah! Masalah selesai! Setidaknya dia sudah memperlihatkan kegiatannya!" Renjun jengah. Lelah juga bercakap bersama Haechan untuk mencari penyelesaian masalah. Tapi pada akhirnya, Haechan justru membeberkan poin pentingnya di ujung percakapan.
Haechan mencebik kesal atas ucapan Renjun yang tidak membuat dadanya lapang. Lalu tiba-tiba, bersama kedatangan Doyoung yang duduk di sebelah Renjun, Haechan menjentikkan jari.
"Aku punya ide!!!" Ucapan keras itu membuat Doyoung kaget. Lelaki itu bahkan baru mendudukkan pantat dan Haechan sudah meninggikan suara? Sungguh mengagetkan.
"Kita ikuti saja dia! Dengan begitu aku bisa tahu seberapa lelah dia di sana!"
Haechan memasang muka masam sejak Mark berkata akan pergi lagi di akhir pekan ini. Selama hari biasa pun, Haechan hanya bertemu Mark saat bangun tidur dan beranjak tidur sebab kekasihnya tetaplah sibuk dengan pekerjaan tak resmi itu. Haechan menghela napas panjang. Menjalani hari tanpa Mark sebenarnya bisa ia lakukan, tetapi Haechan merasa tidak bisa menoleransi alasan bekerja di akhir pekan di mana seharusnya mereka habiskan untuk beristirahat. Haechan amatlah tahu bagaimana perubahan tubuh Mark setelah ikut dalam pencarian fosil selama dua pekan terakhir. Kantung mata yang terlihat buruk, berat badan menurun, lebam karena pegal di beberapa bagian tubuh, telah Haechan saksikan. Menempel koyo dan memberi pijatan juga Haechan lakukan setiap hari, tetapi Mark masihlah menggunakan diri seperti tanpa henti. Haechan khawatir Mark akan jatuh sakit suatu hari.
"Hyung, benar tidak bisa skip dulu hari ini? Kau perlu istirahat." Haechan memandang dengan tatapan memohon pada Mark yang tengah memakai kaos. Setahu Haechan, lelaki itu bahkan hanya tidur selama tiga jam. Dan untuk ke sekian kali, Haechan juga mengorbankan pagi harinya untuk memasak sarapan agar Mark mau mengisi perut.
Mark menggeleng. Masih sibuk merapikan barang-barangnya. "Hari ini semua temuan akan dihargai, Haechan. Setelah mendapat angka, ketua tim berjanji langsung memberikan imbalan itu pada kita. Bahkan dia menggunakan uang pribadi karena tidak mau kami menunggu uang dari petugas museum yang memakan waktu beberapa hari." Jelasnya.
Haechan semakin merengut setelah mendengarkan penjelasan itu. Ternyata Mark memanglah mementingkan uang yang masih belum diketahui nominalnya. "Kalau masalah uang, hyung bisa—"
"Tidak. Uang milikmu akan tetap menjadi milikmu. Aku akan mencari uangku sendiri." Belum sempat Haechan melengkapi ucapannya, Mark telah menjeda dengan nada yang cukup dingin di telinga Haechan. Akhir-akhir ini, Haechan menyadari betapa sensitifnya Mark saat membahas masalah uang di antara keduanya. Hal itu terjadi karena di masa sulit yang pernah melanda, Mark bertahan hidup dengan bergantung sepenuhnya pada Haechan. Pun setelah keadaan kembali seperti semula, Mark berusaha keras memberikan seluruh harta miliknya pada Haechan. Tetapi Haechan menolak dan berakhir dengan Mark yang mendiamkannya. Lalu seterusnya, kehidupan di apartemen itu ditunjang dengan uang Mark sepenuhnya.
Haechan hanya bisa tersenyum miris saat Mark pamit setelah mengecup keningnya. Lelaki itu bahkan tidak menanyakan bagaimana Haechan akan menjalani harinya nanti. Maka dengan cepat, Haechan menghubungi dua teman yang sering ia repotkan. Memerintahkan mereka untuk bersiap menjalankan rencana yang disusun pekan lalu.
Berkat live location yang dikirimkan Jaemin, tiga pemuda itu mulai menyusuri bukit. Berbekal ransel pada masing-masing pundak, mereka mendaki jalan setapak yang kini mulai menanjak. Dipimpin oleh Doyoung yang masih senantiasa melihat pada penunjuk arah di ponsel, Haechan dan Renjun mengekor di belakang. Untung saja jaringan di bukit itu masihlah bagus. Jika tidak, mereka mungkin akan terus berputar-putar pada arah yang tak mengarah.
"Doyoung hyung, berhenti sebentar. Aku lelah." Haechan menekuk lututnya saat dirasa napasnya mulai tersengal-sengal. Mendaki bukit seperti ini memanglah bukan gayanya. Ia tidak sekuat dua orang yang membersamainya, sehingga baru menanjak sedikit, dirinya sudah mengeluh kelelahan.
"Dasar lemah! Bagaimana bisa kau membuat Mark puas dengan kekuatan yang tidak seberapa ini?" Suara Renjun membuat Haechan menoleh dan memberi tatapan tidak suka.
"Tutup mulutmu, Huang!" Ujarnya. Melihat itu, Doyoung menyuruh Haechan untuk duduk di batu besar yang ada di dekat mereka dan membuka botol minum untuk Haechan. Setelah kedua yang lebih muda tutup mulut usai percakapan tak bermutu, Doyoung kembali memimpin jalan menuju tempat Mark dan tim pencari fosil itu berada.
Penunjuk jalan pada maps memperlihatkan waktu tempuh sepuluh menit dari titik di mana tiga sekawan berada menuju tempat Mark. Jarak yang tidak terlalu jauh sebenarnya, tetapi Haechan cepat sekali merasa lelah. Jika saja Renjun dan Doyoung tidak terus berceloteh, mungkin Haechan akan berhenti untuk mengambil istirahat. Berkat ocehan dua orang itu, ternyata perjalanan terasa lebih cepat.
Mereka bertiga mencuri pandang pada sekelompok orang yang tengah bergelut dengan tanah. Berdasarkan informasi dari Jaemin, hari itu tim pencari fosil tetap melanjutkan penggalian untuk dibawa ke museum, menyusul hasil-hasil pekan lalu. Bedanya, ada banyak rangka temuan mereka yang sudah selesai dibersihkan dan dirawat, sehingga bisa ditentukan nominal apresiasi bagi si penemu.
"Hyung!" Setelah berjalan mengendap-endap, Haechan menepuk kedua bahu Mark yang tengah berjongkok. Hal itu membuat Renjun dan Doyoung menyadari bahwa Haechan telah keluar dari tempat persembunyian mereka. Sungguh kesadaran yang lambat.
Mark terkejut bukan main saat mendengar suara khas kekasihnya. Ia tidak habis pikir, bagaimana bisa Haechan berada di tempat itu?
"Haechan? Kenapa kau ada di sini?" Mark buru-buru berdiri saat melihat sosok Haechan yang nyata. Untuk sebab yang tidak diketahui, Mark merasa gugup dan terkejut dalam satu waktu saat memandang Haechan.
Belum sempat Haechan menjawab, Renjun dan Doyoung sudah menyusul keduanya. Dua orang itu menceritakan alasan keberadaan mereka dengan penjelasan yang tentunya dibuat-buat. Mereka tidak ingin Mark tahu jikalau Haechanlah penyebab keduanya berada di tempat itu.
Tiga orang yang muncul tanpa diundang itu kemudian ikut serta dalam kegiatan pencarian setelah berkenalan dengan ketua dan anggota tim lainnya. Haechan tentunya memanfaatkan kegiatan ini dengan terus menempel pada Mark yang akhir-akhir ini jarang dijumpainya. Dengan sekop yang berada di genggaman, ia mulai menggali tanah bersama Mark.
"Katakan padaku." Mark buka mulut ketika Haechan tengah tenggelam dalam dunianya sendiri. Pemuda itu lantas memberikan atensinya pada Mark dengan menoleh dan memberikan tatapan tanya.
"Alasan sesungguhnya kau berada di sini." Mark yang sepenuhnya memandang Haechan membuat yang dipandang kini melepas sekop dan sarung tangan yang membungkus tangan. Haechan memutar tubuh hanya untuk memandang Mark yang masih berjongkok, sama seperti dirinya. Ia tangkup kedua sisi wajah Mark dengan tangannya yang masih bersih dari tanah sebab dilindungi sarung tangan. Haechan menatap wajah kelelahan Mark dengan lekat. Memberikan raut wajah semanis mungkin yang bisa ia tampilkan hanya kepada Mark.
"Hyung tidak merindukanku?" Haechan bertanya, masih dengan air muka paling manis yang pernah ia buat.
Mark melepas kedua tangan Haechan dari wajahnya. Ia merasa cukup kecewa karena Haechan sejak tadi tidak memberikan alasan rasional tentang keberadaannya di tempat itu. Awalnya Mark khawatir terjadi suatu hal sehingga mengharuskan Haechan menyusul dirinya di bukit. Tetapi setelah bertanya dan mendapat jawaban seperti itu, Mark berubah menjadi kesal.
"Pulanglah. Istirahat di kamarmu. Besok kau harus kuliah." Mark berdiri meninggalkan tempat galian itu menuju tempat lain. Menyisakan Haechan yang menekuk muka setelah mendapatkan perlakuan tidak ada manis-manisnya itu. Tidak terima atas perilaku itu, Haechan menyusul Mark. Masih berusaha mencari atensi dari kekasihnya.
"Hyung!" Haechan berjalan mengikuti Mark. Tetapi mendadak berhenti saat Mark tiba-tiba tertawa lepas bersama seorang perempuan dari tim. Dua orang itu berdiri berhadapan, di mana perempuan yang tadi memperkenalkan diri sebagai arkeolog muda bernama Kim Doyeon itu tengah memperlihatkan sebuah rangka fosil yang bagi Haechan tidak ada lucunya sama sekali. Bahkan perempuan itu juga tertawa sambil menepuk pundak Mark. Pundak di mana Haechan sering menempatkan kepala di sana saat lelah.
Melihat hal manis itu, Haechan sontak memanas. Ingin meledak saat itu juga. Tapi yang bisa ia lakukan selanjutnya adalah kabur, sebab hatinya tidak lagi kuat melihat interaksi itu. Padahal inginnya tadi melabrak perempuan itu dan berkata tentang siapa dirinya bagi Mark. Entahlah, Haechan merasa sakit saat melihat Mark yang terasa semakin berbeda sejak terobsesi mencari fosil-fosil sialan itu. Kerja kerasnya untuk mendaki bukit itu sia-sia saat mendapati Mark yang seolah berselingkuh di depan mata. Mengabaikan teriakan Renjun dan Doyoung, Haechan mengemas ransel dan pergi dari tempat itu. Berbekal maps, dan rasa sesak di dada yang membara, Haechan menuruni bukit dengan air mata yang tanpa permisi, luruh begitu saja.
Terhitung sudah hari kelima sejak Haechan memutuskan menetap di rumah orang tuanya karena kejadian dramatis di bukit tempo hari. Sebut saja berlebihan, karena memang penyebab sakit hatinya juga lebih dari biasanya. Sebab biasanya, ia dan Mark hanyalah berselisih karena perbedaan pendapat. Tidak pernah selama enam tahun hubungan mereka, ada orang lain yang menjadi penyebab rasa sesak di dada Haechan. Bahkan saat kedua orang tua Mark menolak terang-terangan hubungan keduanya, Haechan justru memantapkan diri untuk meyakinkan mereka tanpa ada rasa sakit hati. Dan sekarang, munculnya hambatan baru dalam hubungan mereka membuat Haechan merajuk—bahkan memblokir nomor Mark.
Haechan berjalan tanpa ragu untuk kemudian memencet beberapa tombol agar pintu terbuka. Sudah habis rasa sabar untuk menunggu Mark datang padanya, sehingga kini Haechan menginjakkan kaki kembali di apartemen mereka. Hal yang pertama kali menyita perhatian Haechan adalah payung kuning dengan posisi terjatuh dan sepatu berantakan di rak. Haechan ingat, ia yang menjadi penyebab tidak teraturnya benda itu tempo hari akibat terburu-buru saat menyusul Mark di bukit bersama Renjun dan Doyoung.
Mengabaikan keadaan di depan pintu, Haechan segera menuju kamar. Meskipun tidak menjamin Mark berada di dalamnya, Haechan tetap berharap akan eksistensi kekasihnya itu. Tetapi harapan hanyalah harapan. Mark tidak ada di sana. Haechan lantas menyusuri seisi apartemen sambil meneriakkan nama Mark, dan hasilnya hening. Tidak ada siapapun selain Haechan yang berada di apartemen. Menggeram kesal, Haechan memutuskan menghubungi Jaemin. Ia masih belum membuka blokir nomor Mark untuk alasan yang tidak diketahui, dan lebih memilih bertanya pada teman tentang keberadaan Mark.
Beruntungnya, Jaemin dengan cepat menjawab panggilan Haechan. Namun jawaban yang ia dapat dari Jaemin membuat hatinya kembali sakit secara tiba-tiba. Mark belum pernah pulang ke apartemen sejak lima hari yang lalu. Hari di mana fosil-fosil temuan mendapatkan harga, ketua tim menyuruh anggota mereka untuk menginap di rumah terdekat dari wilayah itu untuk analisis fosil lebih lanjut. Dan rumah itu adalah kediaman milik anggota arkeolog muda, Kim Doyeon.
Panggilan terputus setelah Haechan mengucapkan terimakasih dengan suara yang bergetar. Hal itu membuat Jaemin terperangah dan langsung menatap tajam ke arah Mark yang masih fokus pada temuan di hadapan.
"Mark hyung." Jaemin yang sejak tadi diekori oleh Jeno memutuskan mendekati Mark yang masih bergelut dengan banyak tulang sejak lima jam yang lalu.
Hanya menjawab dengan dengungan, Mark memberi tanda agar Jaemin meneruskan maksudnya.
"Aku baru saja mendapat panggilan dari Haechan. Dia menanyakan keberadaanmu." Ucap Jaemin.
Tanpa menoleh, Mark berucap, "Lalu? Dia baik-baik saja, kan?"
Jaemin menghela napas panjang. Tangannya menahan kepalan tangan Jeno yang seolah-olah akan meninju kepala Mark dari samping. "Sampai kapan hyung akan terus seperti ini? Kami memang tidak berhak ikut campur dalam hubungan kalian. Tapi, Haechan adalah temanku. Melihatnya sakit hati seperti itu, membuatku ingin menendangmu agar berlutut dan meminta maaf padanya."
Mark melepas kaca mata dan berhenti sejenak dari kegiatannya demi memandang dua adik tingkat yang telah ia kenal sejak sekolah. "Aku tidak bersalah. Dia salah paham dan terlalu manja. Aku hanya ingin mengajarinya untuk bersabar menungguku."
Penjelasan itu sontak membuat dua orang di hadapan Mark terperangah. Jeno akhirnya buka mulut. "Tapi semua ini terjadi sebab hyung tidak memberikan pengertian pada Haechan tentang pekerjaan ini. Hyung selalu lelah dan mengabaikannya, bukan? Itu sebabnya Haechan mencari perhatian kekasihnya."
Mark tidak menanggapi ucapan Jeno dan memilih mengerjakan kembali pembersihan tulang dari tanah untuk selanjutnya disatukan dengan potongan lain. Tentang Haechan, sebenarnya Mark telah berulang kali menghubungi kekasihnya itu, tapi tidak ada hasil sebab Haechan memblokir nomornya. Maka, Mark memutuskan menunggu hingga pekerjaan ini selesai, lalu pulang dan membujuk Haechan. Ia bahkan tidak tahu jika Haechan pulang ke rumah orang tuanya.
"Hyung masih tetap berada di sini dan membiarkan si bodoh itu menangis sendirian? Baik, jangan salahkan kami jika dia tidak mau bangun dari tidurnya." Kalimat terakhir yang Jaemin ucapkan bukanlah ancaman semata, sebab hal itu adalah fakta yang pernah ada. Haechan pernah tidur hampir dua puluh empat jam beberapa tahun yang lalu karena Mark mengingkari janji untuk menggendong Haechan mengelilingi taman sekolah. Itu adalah salah satu cara merajuk Haechan yang membuat semua orang khawatir.
Tetapi ucapan Jaemin juga tidak membuat Mark beranjak. Membuat Jeno benar-benar ingin menendang kakak tingkatnya yang berkepala sekeras batu zaman purba.
"Baiklah kalau itu keputusan hyung. Jaemin, ayo kita pulang dan beritahu Haechan jika kekasihnya sudah berselingkuh." Jeno menarik tangan Jaemin agar berjalan menuju ketua tim untuk meminta izin. Tetapi suara gebrakan meja membuat langkah keduanya terhenti.
Itu berasal dari meja di hadapan Mark. Ia membenturkan kedua tangan pada permukaan meja sebab tidak terima dengan perkataan Jeno. "Kalian, cukup! Cukup berkata tentang omong kosong itu! Kalian tidak tahu apapun!!" Mark berucap di hadapan Jaemin dan Jeno dengan muka marah. Ekspresi yang pernah ia berikan pada pasangan itu saat keduanya mengajak Haechan pergi kegay club satu tahun yang lalu.
Jaemin mendengus, bersiap mengeluarkan segala keluh kesahnya. "Benar! Kami tidak tahu apapun! Kami tidak tahu seberapa besar dia menyayangi dan mencintaimu, hyung! Kami tidak tahu seperti apa dia merawat dan menjagamu! Kami juga tidak tahu seberapa banyak rasa sakit yang dia terima hanya untuk memperjuangkan hubungan kalian di hadapan orang tuamu! Kami tidak tahu karena Haechan terlalu jujur dan naif! Yang dia tahu selama ini hanya cara supaya kau tidak bosan dengannya. Haechan bahkan tidak pernah melirik perempuan ataupun laki-laki lain di saat kau bahkan melakukannya! Kurang apa lagi dia? Kau mau melepaskannya? Lakukan! Dia berhak mendapatkan yang lebih baik dari dirimu!"
Usai menyelesaikan kalimat tanpa jeda itu, Jaemin pergi dari ruangan dengan diekori Jeno. Beberapa anggota di sana bahkan ikut terperangah akibat ucapan Jaemin yang cukup keras.
"Mark, ada apa?" Pemilik rumah mendekati Mark yang masih termenung akibat ucapan Jaemin. Perempuan itu hendak menepuk bahu Mark, tetapi ia menghindar dan meminta maaf. Seolah tersadarkan oleh perkataan Jaemin, Mark segera mengemasi barangnya dan pamit pada ketua tim. Ia menghentikan taksi begitu sampai di jalan raya. Satu-satunya tujuan saat itu adalah apartemen di Seoul. Tempat untuknya kembali sebab Haechan pasti akan menunggunya di sana. Bodohnya Mark sempat melupakan eksistensi kekasih manisnya itu karena euforia berlebih pada fosil yang tiba-tiba muncul begitu saja. Padahal mereka hanyalah tulang mati, tidak seperti Haechan yang hidup dan mampu memberinya kebahagiaan tiada henti.
Rencananya, setelah menutup panggilan dengan Jaemin, Haechan akan kembali ke rumah atau pergi ke studio. Tetapi rasa sesak di dada mendorong air matanya tumpah ruah begitu saja. Haechan benar-benar menangis sendirian seperti dugaan Jaemin. Sambil memeluk guling dan merebahkan diri di atas ranjangnya dan Mark, Haechan tersedu-sedu dalam hening. Berbagai rentetan kisah selama menjalani hubungan dengan Mark tiba-tiba terputar begitu saja di kepalanya. Membuat Haechan tidak henti mengumpati lelaki yang teramat membuatnya gila.
Setelah lelah mengeluarkan air mata, Haechan memutuskan tidur untuk waktu yang tidak ditentukan. Bila perlu, ia bersedia menjadi putri tidur yang menunggu pangerannya datang. Karena Haechan juga tidak tahu kapan Mark akan pulang ke naungan itu.
"Haechan!" Teriakan terdengar setelah pintu kamar terbuka. Tetapi Haechan tidak bisa mendengar sebab ia telah sepenuhnya terlelap. Melihat Haechan yang meringkuk, Mark bersyukur bisa menjumpai Haechan setelah berhari-hari tidak mengetahui kabar apapun tentang kekasihnya.
Mark melempar asal ransel dan jaket, lalu menaiki ranjang dan memeluk Haechan yang berada di hadapan. Pergerakan ranjang saat Mark menaiki busa itu rupanya tidak cukup membuat tidur Haechan terganggu. Mark sudah maklum akan hal ini karena ia tahu betul Haechan sangatlah susah untuk dibangunkan saat tidur.
"Haechan, aku pulang!" Mark menepuk pelan kedua pipi Haechan. Lalu Mark menyadari bulu mata kekasihnya itu terlihat sedikit basah. Maka Mark segera menyeka dan menyesali semua perbuatan yang membuat Haechan menangis karenanya. Ia kecup kedua mata cantik itu, lalu beralih pada kening, hidung, pipi, dan bibir agar Haechan terganggu. Tetapi hasilnya sama, Haechan belum bangun. Mengikuti kebiasaan, Mark meraup dan menyesap bibir Haechan cukup lama agar kekasihnya itu benar-benar terjaga.
"Hmmp—apa aku sedang bermimpi?" Gelengan kepala dan ucapan dari bibir Haechan membuag Mark tersenyum. Ia memandang mata sayu Haechan dan ikut menggeleng.
"Ah, aku rindu ciuman Mark hyung." Nampaknya Haechan masih belum sadar akan kenyataan bahwa Mark bukanlah bagian dari mimpinya. Tetapi Mark tetap mewujudkan ucapan itu dan memagut bibir Haechan ke dalam ciuman lembut nan menggairahkan. Ciuman itu sarat akan kerinduan dan penyesalan. Mark mengeratkan pelukannya pada tubuh Haechan saat kekasihnya itu mendorong dadanya. Mark masih belum mau mengakhiri perjumpaan bibir mereka.
Ketika kaki Haechan menendang betis milik Mark, pagutan mereka terpisah. "Hyung?" Tanya Haechan saat sadar bahwa ia tidak sedang bermimpi.
Akibat jarak yang tercipta itu, Mark kembali merengkuh Haechan ke dalam pelukannya. Ia mengusap penuh kasih rambut halus milik Haechan seraya merapalkan kata maaf berulang kali.
"Hyung benar sudah kembali? Aku akan berterima kasih pada Jaemin setelah ini!" Setelah mendongak untuk memandang Mark, Haechan kembali menyembunyikan wajah di pelukan Mark yang terasa hangat. Hal itu membuat Mark tertawa renyah dan menepuk pantat Haechan.
"Aku mencintaimu, hyung!" Haechan berucap setelah keheningan mengisi kehangatan siang itu.
Mark yang masih menyiapkan kata dibuat terperangah, tetapi langsung membalas pernyataan itu. "Aku lebih mencintaimu, Haechan!
"Aku tahu kata maaf tidaklah cukup menebus semua kesalahanku. Jadi, aku akan berhenti dari pekerjaan itu dan fokus padamu." Mark akhirnya mengeluarkan kata-kata yang sejak tadi berada dalam otaknya.
Haechan tertawa. "Sungguh? Kalau begitu, mulai sekarang kita hidup dengan uang ayah dan ibuku?" Mark hanya bisa mengangguk. Ia akan membiarkan hal ini terjadi selagi ia mencari pekerjaan pengganti untuk menghasilkan uang. Sebab setelah hubungan keduanya mendapat lampu hijau dari orang tua Mark, ia tidak lagi ditunjang secara finansial oleh orang tuanya sebagai bentuk hukuman dan cobaan untuknya. Maka Mark hanya bisa mengadu nasib dengan mengikuti seleksi beasiswa dari instansi pemerintahan karena tidak ingin bergantung sepenuhnya pada Haechan. Beruntung ia bisa mendapat beasiswa itu hingga tahun terakhirnya berkuliah.
"Lalu sekarang, hyung hanya perlu fokus mengerjakan tugas akhir! Wisuda, dan bekerja! Hyung harus mencari pekerjaan di perusahaan atau menjadi penerus Paman! Aku akan mencari perempuan lain jika hyung masih berniat menjadi penggali tanah!"
Seiring dengan ucapan Haechan, pelukan Mark makin mengerat. Keduanya tertawa setelah Haechan menyelesaikan kalimatnya.
"Kau bisa pegang kata-kataku, Haechan." Ucap Mark yang tidak bisa berhenti mengelus rambut Haechan. "Tapi sebelum itu, mari tuntaskan hormon kita yang saling merindu." Mark mengangkat tubuhnya untuk mengungkung Haechan yang berada di bawah. Menyajikan raut muka dominan yang sangat terasa.
"Tunggu!" Sedikit lagi bibir keduanya kembali bertemu. Tetapi Haechan menghentikan itu dengan menempelkan jari telunjuk pada bibir Mark.
"Doyeon dan hyung..." Haechan memberikan wajah memelas dan hanya sanggup berkata sampai di sana. Mendapat gelengan dari Mark, Haechan merasa penasaran untuk penjelasan dari kekasihnya itu.
"Dia hanyalah debu yang menghalangi mataku saat melihat berlian indah sepertimu. Kau tidak akan pernah tergantikan, Haechan." Setelah mengatakan kalimat semacam itu yang jarang terucap dari mulut Mark, ia mengecup kening Haechan lama. Lalu mulai menjalankan aksinya yang tertunda selama beberapa pekan akibat terlalu fokus pada pekerjaan yang sebenarnya memang tidak menghasilkan uang banyak.
Haechan merasa rasa sesak dan sakit yang ia rasakan kini telah tersapu seiring dengan kecupan Mark pada dadanya. Ia bahagia sebab sebanyak dan sesulit apapun rintangan menghadang dalam hubungan mereka, Mark tidaklah pernah lupa untuk selalu kembali pada Haechan dan memperbaiki semuanya.
Haechan berharap, ini semua akan selalu seperti itu. Selamanya. Hingga, hanya mautlah yang berani memisahkan mereka. ]
.
.
.
.
.
.
.
END
Published on: 22-08-20
