Your Turn by maccchiato
.
Naruto (c) Masashi Kishimoto
.
WARNING: major character death
.
Rate: Teen (T)
.
.
.
Adakah disana kau rindu padaku,
.
meski kita kini ada di dunia berbeda?
.
Bila masih mungkin waktu ku putar,
.
'kan kutunggu dirimu..
.
.
.
Lebih banyak berdiam di dalam kamar dari biasanya sangatlah bukan dirinya. Dia yang sudah diketahui oleh banyak orang bahwa dia melindungi desa dari bayang-bayang dengan berpergian seorang diri, kali ini dia memutuskan untuk mengurung diri dalam kamar.
Sasuke betul-betul tidak mengindahkan sahabatnya—Naruto yang sudah mulai khawatir dengan keadaannya. Tidak pernah Naruto melihat sahabatnya hingga seperti ini. Naruto bertanya-tanya, apa yang Sasuke lakukan di kamarnya? Naruto sangat khawatir bahwa Sasuke akan melakukan hal-hal yang tidak diinginkan. Naruto hanya takut kejadian lama akan terulang kembali.
Lima hari Sasuke habiskan untuk meratapi hidupnya yang ternyata jauh lebih kacau dari yang ia bayangkan. Tak pernah lintas dalam pikirannya bahwa ia akan kehilangan kembali salah satu orang yang sangat ia cintai melebihi dunia ini.
Perasaan itu kembali menyeruak dalam dirinya. Marah, kesal, sedih, kecewa, semua bercampur aduk dalam hatinya yang sebentar lagi akan meledak hingga berkeping-keping.
Sesekali, ia melihat sisi kasur di sebelahnya yang kosong. Tangan kanannya yang tatkala mengusap sisi itu, barangkali manusia yang ia rindukan akan kembali. Namun naasnya, sosok yang dia harap tidak kembali sama sekali. Sasuke tidak pernah berpikir sekalipun kalau wanita itu yang akan pergi duluan untuk meninggalkannya. Sasuke justru sering berpikiran bahwa dia lah yang akan menjadi orang pertama meninggalkan keluarganya, karena dia yang sering mempertaruhkan nyawa bagi keluarganya ketika berhadapan dengan musuh.
Kedatangan Sakura sangat tidak disangka-sangka pada saat itu. Alih-alih mengalahkan sang musuh, Sakura justru disambut dengan perangkap dengan tidak ada satupun yang menyadari hal itu. Bahkan shinobi terkuat di desa saja tidak melihat perangkap yang sudah terpatri dengan rapih oleh musuh.
Melihat istrinya yang tertikam oleh sebilah pedang tajam yang runcing oleh mata kepala Sasuke sendiri membuat kedua kakinya berdiri lemas. Kedua mata legamnya memanas dengan hebat dan suaranya tercekat dalam tenggorokannya. Prinsip yang selalu Sasuke pegang dengan teguh—seorang shinobi tidak boleh melibatkan perasaan dalam misi, akhirnya ia langgar untuk pertama kalinya.
Dengan mengerahkan seluruh kekuatan dirinya dan Naruto beserta Boruto, singkat cerita akhirnya mereka bisa mengalahkan musuh yang sudah mengganggu ketentraman desa sejak dulu. Desa kembali menjadi mengembalikan kedamaian yang sudah direnggut namun harga yang dibayar sangatlah tidak adil bagi Sasuke.
Tangan kanan Sasuke memangku kepala Sakura dengan perlahan di atas pahanya. Ia masih tidak menyangka bahwa istrinya akan pergi secepat itu. Jujur, dalam hati Sasuke sangat marah pada Sakura. Berani sekali dia melanggar janji-janji yang sudah dibuat bersama? Janji-janji kecil yang baginya sangat berkesan, seperti akan selalu bersama hingga menua dan timbul kerutan pada ujung kedua mata, selalu berada di sisinya apapun hal yang terjadi, selalu mengingatkannya barangkali ia melakukan kesalahan yang tidak ia sadari, selalu memasakkan sup tomat kesukaannya ketika ia pulang.
Dengan lembut, tangannya yang bergetar dengan hebat membelai wajah Sakura, menyelipkan helaian rambut ke belakang telinga dan menatapnya dengan penuh lekat. Bahkan dalam keadaan beginipun, istrinya masih terlihat elok. Bibir mungilnya yang sudah pucat pasi, kedua mata emerald yang tertutupi oleh dua buah kelopak mata yang lentik. Ingin rasanya Sasuke melakukan edo tensei untuk menghidupkan kembali kekasih hatinya itu.
Sasuke terbelalak bukan main ketika ia melihat tangan Sakura yang terkulai lemas bergerak menuju arah Sasuke—lebih tepatnya pada dahinya. Telunjuk dan jari tengah Sakura mengetuk dahi sang suami dengan lemah, dan memasang senyum baginya untuk terakhir kalinya.
Sampai bertemu nanti, suamiku.
Kembali, tangan itu terjatuh sebelum sepasang bibir Sasuke terpisah untuk meminta istrinya terus hidup bersamanya. Pada akhirnya, Sakura sudah pergi meninggalkannya di saat itu juga. Andai Sasuke bisa memutar waktu, maka ia akan melakukan apapun untuk melindungi Sakura, meskipun harus mengorbankan nyawanya sendiri.
Sasuke menggigit bibir bawahnya dengan keras mengingat kembali serpihan kenangan yang membuat luka pada hatinya kembali menganga. Tanpa ia sadari, genangan air mata itu kembali membasahi kedua pipinya dengan deras. Ia menundukkan kepalanya dalam dan membiarkan aliran sungai itu mengalir dengan deras, berharap dapat mengeluarkan semua rasa sakit yang ia derita.
Perih, hatinya seakan diserbu oleh banyak jutsu hingga rasa sakit itu menjalar ke sekujur tubuhnya. Mau dia menggenggam dada kirinya seerat apapun, rasa perih itu enggan untuk pergi.
Sakura memang menjengkelkan. Sejak pertama kali bertemu hingga saat ini, dia sangat mengjengkelkan.
Ia begitu menjengkelkan karena gambaran tentang dirinya tidak bisa Sasuke hilangkan dari kepala jeniusnya.
Ia begitu menjengkelkan karena selalu menghalangi jalan Sasuke untuk balas dendam kepada kakaknya.
Ia begitu menjengkelkan karena ia tidak pernah menyerah untuk membawa Sasuke kembali dari kegelapan yang begitu kelam nan dalam.
Ia begitu menjengkelkan karena telah mencintai Sasuke tanpa syarat dan menerima dirinya apa adanya atas segala dosa yang telah ia lakukan kepada banyak orang.
Tiada lagi seseorang yang bisa Sasuke jadikan sebagai tumpuan dalam hidup. Tiada lagi seseorang yang selalu mendekap dirinya dengan penuh kehangatan ketika ia pulang. Tiada lagi seseorang yang selalu menjadi telinga baginya. Tiada lagi seseorang yang bisa ia sentuh untuk menghabiskan kerinduan yang menyesakkan dada. Tiada lagi seseorang yang seperti dia.
Rasanya, air mata ini tidak akan pernah habis ketika mengingat kembali tentang pujaan hatinya. Apakah Sakura di sana sudah tenang dalam kedamaian? Apakah Sakura di sana merindukan keluarga kecilnya? Batin ini begitu tersiksa, meraung-raung namanya dengan harap-harap dapat membawanya kembali namun sekali lagi, yang dipanggil tak kunjung datang.
"Papa, aku sudah menyiapkan makan malam."
Ketukan pintu dan sahutan dari Sarada tak ia hiraukan. Perasaan bersalah itu kembali memenuhi Sasuke karena tidak bisa menjaga Sakura dengan baik. Ia tidak tahu bagaimana harus menghadapi anaknya. Ia takut Sarada akan membencinya dan akan kembali kehilangan orang yang ia sayangi sepenuh hati.
"Kumohon, Papa. Papa tidak bisa begitu terus. Mama akan mengomel dari alam sana kalau Papa tidak menjaga kesehatan dengan baik."
Kali ini, Sarada memohon berkali-kali kepada Papa nya untuk keluar kamar dan mengisi perutnya yang sudah kosong total beberapa hari. Sasuke tidak peduli apakah dia kelaparan atau tidak, yang ada di benaknya saat ini hanyalah Sakura. Dengan sedikit berat hati, akhirnya ia melangkahkan kedua kakinya dan memutar kenop pintu sambil menghapus jejak air mata yang membasuhi pipinya. Terlihat kondisi Sarada yang tak jauh berbeda Sasuke—kedua mata yang membengkak, surai rambut yang tidak rapih seperti biasanya, aura kesedihan yang sangat pekat di sekelilingnya.
Kedua netra legam Sasuke tidak sanggup untuk menatap putri kecilnya, takut-takut ia akan disalahkan atas kematian Mama nya yang ia pedulikan. Sebelum dia membiarkan kata-kata yang tajam itu lolos dari sepasang bibir Sarada, dengan cepat Sasuke berjongkok dan memeluk Sarada begitu erat.
"Maafkan aku." Suara Sasuke yang serak dan bergetar itu akhirnya keluar dari tenggorokannya. Ia tidak tahu apakah gumamnya itu terdengar atau tidak. "Maafkan aku tidak bisa menjaga Sakura dengan baik. Kau bisa—"
"Itu bukan salahmu, Papa." Kalimat itu Sarada potong agar Sasuke berhenti untuk menyalahkan dirinya sendiri. "Aku mohon Papa berhenti untuk menyalahkan diri sendiri. Mama akan bersedih melihat kondisi Papa yang seperti ini." Suara Sarada nyaris hilang ketika mencapai kalimat akhir, disusul oleh tangis sesegukan yang kembali memecahkan suasana.
Tiada yang memilukan bagi Sasuke selain mendengar tangis dari orang yang dia sayangi sepenuh hati. Ia mengeratkan pelukannya, harap-harap dapat menenangkan putri semata wayangnya. Sasuke tidak peduli meskipun dia harus memeluk beberapa lama, asalkan Sarada dapat berhenti untuk merasa sedih. Sungguh menyayat hati melihat kondisi keluarganya yang sekarang diterpa oleh kepedihan yang mendalam. "Aku menyayangimu, Papa. Aku mohon jangan tinggalkan aku."
Hati Sasuke bergetar dengan hebat mendengar kalimat yang baru saja dilontarkan oleh Sarada. Getaran itu membuat Sasuke kembali ingin mengeluarkan air mata, namun saat ini ia harus terlihat tegar. Ia tidak mau menambah kesedihan lagi kepada sang anak. Akhirnya dengan sekuat tenaga menahan isakan yang akan keluar lagi, Sasuke mengatakan sesuatu yang ia harap dapat mengurangi kepedihan pada hati Sarada untuk saat ini seraya mengelus kepalanya.
"Aku berjanji untuk selalu bersamamu, Sarada."
.
.
.
Biarlah kusimpan sampai nanti aku 'kan ada di sana
.
Tenanglah dirimu dalam kedamaian
.
Ingatlah cintaku kau tak terlihat lagi,
.
namun cintamu abadi
.
.
.
—
Halo! Ini pertama kalinya aku bikin oneshot yang sok-sok galau dan angst padahal mah enggak hiks.. aku juga gatau ya kenapa tiba-tiba kepikiran buat bikin yang begini, padahal kan udah jelas yang bakal d-word nya siapa (TAPI SEMOGA AJA SIH ENGGA YA ASTAGA MY HEART CAN'T TAKE IT KALO EMANG IYA T_T) cuma gatau aku suka aja ngebayangin orang galau gitu, apalagi yang tipe-tipe tsundere.
Dan iya, ini juga sedikit terinspirasi dari lagu hayooo lagu siapa? You sing you lose! XD
Okidi jangan lupa buat review nya ya teman-teman! Oh iya, aku juga ada satu fanfic on-going aku hehehe monggo dicek ya. Jangan lupa buat review juga. Semoga kalian bisa sukaaa!
