By: LabosQ (twitter) / labosq (wattpad)
Prompt : Darkness
Notes : Angst, romance (18+), drama
Happy reading!
.
.
.
.
.
.
.
.
.
"You were the moon all this time. And he was always there for you to make you shine."
"Was he the sun?"
"No. He was the darkness."
-Kazekirion
.
Dinginnya angin malam terasa menusuk sampai ke tulang. Mengeratkan kemeja putih kebesaran yang membalut tubuh telanjangnya. Sekilas bercak kemerahan terlihat di selangka dan paha dalam. Menandakan panasnya kegiatan pembuatan tanda tersebut beberapa jam lalu. Jujur saja titik vitalnya masih terasa ngilu sebab digempur habis-habisan.
Ia menikmatinya. Selalu menikmatinya. Saat berbaring pasrah dengan setiap sudut sensitifnya diberi rangsangan. Perut mengejan dan ujung kelamin memerah meminta disentuh. Kecupan selembut kupu-kupu di tubuh bagian bawah namun kasar juga liar jika sudah melumat bibir tipisnya.
Ia menyukainya. Selalu menyukainya. Memulai dengan pemanasan yang memabukan juga membuat frustasi secara bersamaan sebelum fokus pada inti kegiatan yang mampu menghilangkan akal. Desahan, geraman rendah, ditambah derit ranjang yang ikut meramaikan betapa panas keduanya untuk sekadar mencari kepuasan semata.
"Sedang menghitung bintang?"
Yoongi menengok. Mendapati pria bertelanjang dada menyandar di bingkai pintu. Rambut hitam legamnya teracak-bekas pelampiasan jari tangan Yoongi-tapi menambah kadar sexy saat dilihat.
"Maaf. Pasti terbangun karena aku." Yoongi menyandarkan pinggang di besi teralis balkon. Tersenyum sembari memeluk tubuhnya sendiri. Dinginnya jam sebelas malam terasa di kulitnya.
Jimin ikut berdiri di sebelahnya. Mendongak ke atas. Memandang taburan kelap kelip di langit. Sangat cerah, bintang-bintang dan si bulan sabit terlihat jelas oleh mata. Tapi menurut Yoongi pria di sampingnya lebih menarik. Pria itu seolah punya galaksi tersendiri yang mana Yoongi ingin masuk ke dalamnya.
"Apa arti cinta bagimu, Jimin?"
Pertanyaan random tapi sejujurnya ia penasaran. Jimin sangat misteri bagi Yoongi. Banyak yang disembunyikan dari senyuman hangat, perkataan lembut, juga tingkahnya yang terkadang manja. Yoongi tidak bisa membacanya sebab pria itu sangat sulit dijangkau. Terlebih ia hanya bagian terkecil dalam hidup Jimin.
"Aku bahkan tidak tau cinta itu apa, Yoon." Jimin mengendikan bahunya acuh. Terlihat tidak peduli. Yoongi bisa menebaknya. Pria itu hanya memikirkan kesejahteraannya hidup di dunia juga memikirkan cara bagaimana uang terus bertumpuk di rekeningnya. Berasal dari keluarga kaya raya membuat Jimin terbiasa dengan ambisi.
"Menurutmu apa itu cinta?"
Kini pertanyaannya dibalik. Yoongi yang tidak siap, terdiam lama. Pertanyaannya tadi seakan-akan menjadi boomerang. Bergeming sesaat untuk menyusun kata-kata.
"Mungkin tentang apa yang kurasakan saat bersama seseorang." Ucap Yoongi ragu. Sebenarnya ia juga tidak paham bagaimana mengartikan cinta itu.
Jimin tertarik. Memusatkan perhatiannya pada Yoongi. "Contohnya?"
Pandangan Yoongi beralih pada langit. Dahinya berkerut dalam. "Contohnya saat kau bersama seseorang disaat bersamaan kau merasakan nyaman. Seperti dilindungi. Atau merasa diberi kasih sayang berlimpah sampai tidak sadar saat itu kau menyerahkan segalanya. Juga kau rela menukar apapun agar dia tetap disisimu. Tidak mau dia pergi." Yoongi menatap Jimin lama. Menenggelamkan diri beberapa detik dalam galaksi tersembunyi di mata Jimin. "dan jika dia pergi lalu tidak kembali, kau akan merasa kehilangan. Seperti ada yang kosong."
Jimin menyugar rambutnya lagi sembari menahan senyum, sebelum kembali membalas tatapan Yoongi. "Kau sepertinya lebih berpengalaman dariku."
Karena aku merasakan hal itu jika bersamamu, Jimin.
Yoongi sadar seberapa pengecutnya ia. Membiarkan kalimatnya tertelan kembali. Menyimpan dalam dada tidak mau siapapun tau.
Detik-detik selanjutnya Yoongi maupun Jimin tidak kembali bersuara. Memberikan keheningan yang lama. Posisi berganti dimana Jimin menarik Yoongi dalam dekapan, memeluknya erat dari belakang. Sesekali mencium puncak kepalanya.
Yoongi merasa hangat. Senyum tidak luntur di wajahnya.
Keduanya menghabiskan waktu sekitar satu jam balkon. Yoongi yang menyadari lebih dulu malam sudah larut. Sejujurnya ia ingin menghentikan waktu, agar tetap seperti ini. Tetap bersama Jimin.
Tapi sadar dimana ia hanya sementara. Tidak bisa bersikap seolah-olah pria itu adalah miliknya. Mereka memang sering berbagi kehangatan di ranjang, bercerita panjang lebar tentang apa saja, atau saling menghubungi jika merasa bosan, hanya sebatas itu saja. Tidak lebih sama sekali.
Seharusnya hubungan mereka bukan sesuatu yang harus mengaitkan hati. Sekadar logika saja sudah cukup. Yoongi menyadari ada yang salah pada dirinya. Selama satu tahun lebih mengenal Jimin, ia jelas hafal perlakuan lembut pria itu padanya hanya membalas pelayanannya saja. Bukan cinta. Park Jimin tidak punya hal seperti itu dalam hidupnya.
Yoongi sadar ia salah. Menaruh hati pada seseorang yang buta akan perasaan. Maka memilih diam, membekap segalanya agar terlihat baik-baik saja padahal jika ditilik lebih jauh hidupnya sangat menyedihkan. Rusak sejak beberapa tahun yang lalu.
Bersama Jimin, ia mendapatkan hal lebih selain materi. Meski hanya sesaat Yoongi merasakan bagaimana diperlakukan seolah ia makhluk yang mudah remuk. Begitu lembut dan hati-hati.
"Aku harus pulang."
Yoongi segera beranjak. Semakin lama di sana semakin kuat keinginan bertahan. Ia harus membuang jauh-jauh perasaannya.
"Di hampir jam dua belas malam? Serius, Yoongi?"
Jimin menatap tidak percaya. Memperhatikan Yoongi memungut kembali pakaian yang semalam ia lepaskan dengan paksa. Sesekali terlihat meringis saat berjalan membuat Jimin merasa tidak enak karena ia terlalu kasar.
"Akan ku antar." Jimin mengambil baju lengan panjang di lemarinya. Memakainya dengan cepat lalu sibuk mencari kunci mobil sebelum Yoongi menghentikannya.
"Tidak perlu. Aku masih bisa mengendarai." Yoongi menolak halus. Mengancingkan kemeja flanelnya sebelum menyampir tas di punggung. "jangan melihatku seperti itu." Protesnya saat Jimin menatap tidak suka.
"Oke." Jimin menyerah. Yoongi itu keras kepala. Dipaksa seperti apapun pasti akan menolak. Ia juga tidak bisa mengambil keputusan sendiri. "pastikan dirimu selamat sampai rumah."
Yoongi membalas tersenyum. Mengambil ponsel di atas nakas. Sebelumnya keluar dari apartemen Jimin, ia kembali berkata.
"Maaf, Jimin. Sepertinya lusa aku tidak bisa datang."
Kedua alis Jimin menukik. Mendekat pada Yoongi, meletakan satu tangan di tengkuk. Menariknya mendekat. Hidung keduanya hampir bersentuhan. "Kenapa? Kau tau itu hanya sebatas menyatukan bisnis. Datang saja, Yoon."
Yoongi perlahan melangkah mundur. Sengaja menciptakan jarak. Tersenyum pada Jimin. Ia mendeham sebelum berkata. "Ada janji. Seseorang sudah memintaku menemaninya seharian. Selama aku dibayar mahal tidak mungkin ku tolak."
Sebenarnya tidak ada. Hanya alasan saja. Yoongi ingin menyadarkan kembali dirinya jika Park Jimin tidak pernah bisa ia jangkau. Sebagaimanapun ia berusaha tetap saja tidak akan pernah bisa. Pria itu terlalu terjauh, tidak bisa tercela oleh tangan kotornya dan Yoongi sama sekali tidak pantas untuk berharap lebih.
"Apa aku bisa menghubungimu setelahnya?" Jimin mengambil mantel tebal miliknya, lalu menyampirkan pada pundak Yoongi seakan memastikannya tidak kedinginan saat mengendarai.
Yoongi menatap sendu wajah Jimin yang hanya berjarak beberapa senti. Memaksakan satu senyuman getir. "Tentu saja."
Genggamannya pada ponsel mengerat. Debaran jantungnya bergemuruh kencang. Setiap tarikan nafas terasa sakit. Kembali lagi ia sadar dimana tempatnya.
"Semoga pernikahanmu dilancarkan, Jimin."
.
.
.
END
