By: LabosQ (wattpad) / labosq (twitter)
Prompt : Pizza
Notes : Romance, angst, drama, harsh words
Happy Reading!
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Love Yourself
.
Menopang dagu di atas meja kasir. Sorot matanya menatap kosong ke layar monitor. Entah keberapa kalinya Yoongi menghela nafas. Bosan. Ditambah keadaan di luar sedang terik-teriknya. Matahari tidak tanggung-tanggung menyorotkan sinar panasnya di siang hari ini. Cocok sekali untuk tidur siang.
"Antarkan ke rumah sakit Siloam."
Seokjin menaruh tiga kotak pizza berukuran besar di samping Yoongi yang menatap jengah bosnya tersebut.
"Apa bisa ditunda sore? Di luar panas sekali." Yoongi melirik ke jendela. Bibirnya melengkung. Sedih sekali harus mengantarkan pesanan di cuaca ekstrem seperti ini. Tidak bagus untuk kesehatan kulitnya.
"Aaw!"
Pekikan Yoongi membuat beberapa pelanggan yang sedang menikmati hidangan menoleh padanya. Seokjin baru saja menyabetkan serbet ke lengan atas Yoongi, alisnya menukik.
"Jangan merengek seperti anak perawan. Cepat antarkan."
Dengan tenaga yang tersisa Yoongi beranjak dari kursi. Sebelum Seokjin merubah diri menjadi anaconda dan menelan habis dirinya, Yoongi memilih segera pergi sembari menjinjing tiga kardus di tangannya. Tidak lupa ia mengacungkan ibu jari pada Seokjin "Oke, bos."
Menyipitkan mata yang sudah sipit ke langit, Yoongi menghela nafas panjang lagi. Memasukkan kotak kardus isi pizza tadi ke delivery box yang menempel di jok belakang motor. Merapikan jaket dan mengencangkan helm sebelum menyalakan mesin motor lalu melaju membelah jalanan.
Beruntungnya jalanan sedang tidak macet. Hanya sekali berhenti saat lampu merah jika sudah berubah menjadi lampu hijau baru Yoongi menekan gas untuk melaju kembali. Tentu saja ia tetap patuh pada rambu lalu lintas. Hingga sekitar sepuluh menit ia akhirnya sampai, jarak restoran dengan rumah sakit tersebut tidak terlalu jauh juga.
"Pizza!"
Ucapnya begitu saat seorang wanita yang berada di meja resepsionis tersenyum padanya. Mengambil alih tiga kotak kardus itu lalu memberikan beberapa lembar uang pada Yoongi.
"Oh, ya. Dimana toilet terdekat?" Yoongi agak meringis. Tapi ia sudah tidak bisa lagi menahan rasa ingin kencing.
"Toilet untuk tamu sedang rusak di lantai ini. Kau bisa ke lantai dua, ada di ujung kanan." Jawaban wanita membuat Yoongi mengangguk dan menggumamkan terima kasih sebelum melesat pergi.
Lorong rumah sakit memang selalu sepi. Jika ramai juga tidak bagus karena berarti banyak orang yang sakit. Memang benar sehat itu mahal. Yoongi jadi berpikir kapan terakhir kali ia berolahraga, kapan terakhir kali ia makan makanan yang sehat selain olahan daging dan lemak juga minuman soda. Sepertinya ia harus kembali menjaga pola hidup sehat dibalik kesibukan kuliah juga kerjanya.
Setelah menyelesaikan urusannya di toilet Yoongi tidak segera pergi. Ia berjalan-jalan di koridor lantai dua. Memperhatikan apa yang menarik untuk dilihat. Penasaran.
Pada salah satu ruangan VIP, Yoongi menghentikan langkahnya. Kebetulan pintu ruangan itu tidak tertutup rapat, matanya melihat sekilas apa yang ada di dalam. Membelalak terkejut sampai tidak sadar ia meraih knop pintu dan membukanya lebar untuk masuk ke dalam.
"Waah."
Mulut Yoongi terbuka lebar. Untung saja air liur tidak menetes dari sana. Yoongi terdiam di tempat, memandang takjub apa yang dilihatnya.
"Apa ini—pameran seni?"
Kedua matanya menjalar ke salah satu tembok yang dipenuhi kanvas. Banyak lukisan dengan objek macam-macam seperti pemandangan, hewan, bahkan wajah seseorang.
Berniat mengambil salah satu kanvas untuk dilihat lebih dekat, sebelum satu suara menghentikan gerakannya.
"Aku tidak akan menyentuhnya, jika aku jadi kau."
Sontak Yoongi membalikkan badannya. Mendapati seorang pria berdiri di depan pintu yang kini tertutup rapat. Menatap Yoongi bingung.
"Ada perlu apa?" Ucapnya lagi seolah sedang menyadarkan Yoongi yang terdiam kaku beberapa saat.
"Maaf, maaf." Yoongi membungkukkan tubuhnya berkali. "aku bukan orang jahat, bukan alien dari planet lain atau apapun. Aku mengantarkan pizza tadi." Ia mengangkat kartu pengenal yang menggantung di lehernya. Seokjin membuatkan kartu tersebut untuk seluruh pegawai yang bekerja di restorannya.
"Tadi pintunya tidak tertutup rapat. Aku hanya lihat-lihat lukisannya saja. Tidak mencuri apapun juga. Serius." Mencoba menyakinkan dengan mengacungkan telunjuk dan jari tengah.
Pria tadi terlihat berpikir lalu berjalan mendekat untuk menjulurkan tangannya menarik kartu pengenal yang digantung di leher Yoongi. Membaca setiap huruf yang ada di sana. Yoongi agak menjauhkan kepalanya sebab posisi mereka sangat dekat.
"Min Yoongi?"
"Ya?"
Gelengan yang Yoongi dapat saat pria tadi menyebutkan namanya seakan hanya mengetes pendengaran saja sebelum berjalan melewatinya. Mendudukan diri di atas ranjang.
"Park Jimin." Pria itu tersenyum ke arah Yoongi yang masih terdiam di tempat. "namaku Park Jimin, Yoon."
"Oh, iya." Yoongi menggaruk kepalanya. "kau pasien?"
"Apa aku terlihat seperti dokter?" Jimin menjawabnya dengan pertanyaan lagi membuat Yoongi menepuk kening sendiri. Sudah terlihat jelas pakaian khas pasien yang digunakan Jimin, ia malah bertanya kembali.
"Lukisanmu bagus."
Yoongi mengalihkan pandangannya ke beberapa mahakarya di sana. Menunjuk satu. "Itu pemandangan di sungai han bukan? Waah, hebat sekali." Kedua alis Yoongi bertautan. "seperti foto tapi ternyata lukisan."
Jimin tidak bisa menahan senyumnya. Memperhatikan Yoongi berjalan ke sana kemari, sesekali bergumam takjub dengan apa yang dilihatnya. Ia juga memuji dan bertanya apakah Jimin pelukis terkenal? Apa lukisannya sudah terjual? Dan sampai berapa milyar untuk harga satunya?
"Hanya hobi. Tidak kujual juga. Aku melukis jika aku ingin saja."
Mulut Yoongi kembali menganga. Bertepuk tangan sembari menggelengkan kepala. "Hanya hobi tapi sudah sebagus ini." Ia meneliti lagi mahakarya Jimin yang dipajang di satu sisi tembok. Ada sekitar sembilan lukisan di sana. "kenapa tidak dijual? Menurutku ini pantas untuk mendapatkan harga tinggi."
"Aku ingin melihatnya selalu." Jawaban Jimin bernada lirih. Sekilas sedih ada di matanya. Yoongi menyadari hal itu. Namun dengan cepat Jimin merubah ekspresinya menjadi angkuh. "Hasil karyaku masih banyak di rumah tapi tidak bisa ku taruh di sini semuanya. Terlalu banyak."
"Memangnya kau tidak pernah pulang ke rumah?" Yoongi bertanya agak hati-hati. Takut salah berkata. Dan ia malah mendapat jawaban yang tidak diduga.
"Aku lupa rasanya pulang ke rumah." Jimin menyandarkan punggung di kepala ranjang. Raut wajahnya jenaka berbanding terbalik dengan apa yang dikatakan. "terakhir kalinya mungkin sekitar dua tahun yang lalu. Sekarang ruangan ini rumahku."
Yoongi tidak berkata apa-apa lagi. Ada sesuatu yang mencubit hatinya saat mendengar perkataan Jimin. Banyak pertanyaan yang ingin ia tanyakan. Entah itu rasa simpati, peduli, atau hanya penasaran.
Suara pintu yang terbuka mengalihkan perhatian keduanya. Seorang perawat masuk dan langsung mengarahkan tatapan menilai pada Yoongi.
"Dia temanku. Aku yang menyuruhnya ke sini." Ucap Jimin membuat wanita itu berjalan menghampirinya.
"Padahal aku menyuruhmu istirahat. Bukannya membawa teman dan mengobrol." Sahut perawat tersebut yang Jimin balas dengan cengiran.
Yoongi memperhatikan dalam diam ketika keduanya berbicara hal yang tidak ia mengerti. Merasa tidak ada kepentingan di sana Yoongi memilih beranjak pergi. Lagipula ini sudah cukup lama, harusnya ia kembali ke restoran setelah mengantarkan pesanan.
"Hei, Yoongi!"
Belum sempat menutup rapat pintu, Jimin memanggilnya dari dalam. Otomatis ia melebarkan kembali pintu tersebut.
"Bisa kau datang lagi besok?"
Yoongi langsung berpikir. Mengingat apa saja kegiatannya besok. "Sepertinya tidak bisa. Selesai bekerja aku harus kuliah. Hari liburku bukan besok."
Mendengar jawaban Yoongi membuat Jimin tertawa garing. Mengibaskan tangannya seolah menyuruh Yoongi pergi. "Oke. Senang bertemu denganmu, Min Yoongi."
Butuh beberapa detik untuk Yoongi berkata kembali. Entah kenapa ia ingin mengucapkannya begitu saja. "Mungkin malamnya. Sekitar jam sembilan?"
Senyum terbit di wajah Jimin, berbeda dengan perawat yang dari tadi diam mendengarkan keduanya berbicara.
"Jam malam waktunya kau tidur."
"Ayolah, sebentar saja. Aku kan tidak akan macam-macam. Aku anak baik." Jimin terus merengek. Hingga akhirnya wanita itu menyerah dengan banyak pesan yang dilontarkan.
"Oke. Siap." Jimin memberikan salam hormat pada si perawat sebelum mengalihkan pandangan ke arah Yoongi yang masih terdiam di pintu.
"Sampai bertemu besok malam, Yoongi."
Yoongi tidak bisa menahan senyum. Gusinya ikut terlihat jelas. Mengangguk paham lalu menutup pintu. Sepanjang jalan ia seperti orang gila karena senyum tidak luntur di bibirnya. Aneh sekali ia merasa senang karena sadar sedang ditunggu seseorang.
Tidak peduli gigi kering. Tidak peduli Seokjin yang kini menatapnya takut. Pria itu bahkan sedang menebak-nebak setan macam apa yang bisa merasuki Yoongi hingga membuatnya tersenyum malu-malu. Selama ini ia berpikir Yoongi lebih seram dari apapun. Setan saja takut padanya.
"Kau siapa?" Seokjin mengguncangkan kedua bahu Yoongi. Meniup wajahnya berkali-kali sambil berucap, "siapapun kau, cepat keluar dari tubuh temanku." Kepala Yoongi dipukul dengan telapak tangannya. "cepat keluar, setan keparat."
"Aaw! Ini aku Min Yoongi, Seokjin."
Secara refleks Seokjin melangkah mundur. Menutup mulut dengan tangan. Berbisik sambil gemetar. "Kau tau namaku?"
.
.
.
.
.
Rupanya pada keesokan harinya Seokjin tidak bisa melupakan hal yang terjadi kemarin. Dimana Yoongi secara terang-terangan mengumbar gigi serta gusi merah mudanya. Selama mengenalnya lebih dari sepuluh tahun, Seokjin yakin Yoongi termasuk orang yang irit senyum. Sepanjang pria itu bekerja, diam-diam ia memperhatikannya dan tentu saja Yoongi menyadari hal itu.
"Aku tidak kerasukan, Kim."
Seokjin yang ketahuan segera membantah, berlagak tidak mengerti. "Aku tidak bilang apa-apa, Min."
"Hari ini sepulang kuliah aku akan ke rumah sakit."
"Ya Tuhan, kau benar sakit ya?" Seokjin yang sedang menghitung uang di mesin kasir segera menghentikannya. Berlari kecil menghampiri Yoongi yang sedang memotong-motong paprika untuk topping pizza.
Dengan gesit Seokjin meletakan punggung tangan di kening Yoongi karena terlalu khawatir ia membuat kepala Yoongi agak terdorong ke belakang.
"Aku sehat." Yoongi menepuk tangan bosnya yang bertengger di keningnya. "kemarin aku bertemu seseorang saat mengantarkan pesanan. Kami mengobrol singkat dan yaa, hari ini aku akan ke sana lagi. Dia memintanya."
Barulah Seokjin menyadari hal aneh yang terjadi kemarin. "Pantas saja, kau lama sekali kembali ke sini setelah mengantar. Aku sempat berpikir kau mungkin tertukar dengan mayat di rumah sakit." Seokjin mendudukan diri di kursi yang berhadapan dengan Yoongi. Raut wajahnya menggoda Yoongi, "Jadi alasanmu senyum-senyum seperti kerasukan kemarin karena bertemu seseorang? Kau jatuh cinta pandangan pertama ya?"
"Tidak jatuh cinta." Yoongi membantah. Telinganya merah. Seokjin tergelak tawa.
"Ya, terserah." Masih penasaran Seokjin mencondongkan tubuhnya. "Jadi pria mana yang kau taksir? Seorang dokter? Perawat? Sekuriti rumah sakit?"
"Dia pasien di sana."
Jawaban Yoongi membuat Seokjin terkesiap. Menatap Yoongi yang kedua matanya menyorot sedih.
"Dia sakit. Aku tidak tau sakit apa. Yang pasti dia sudah di sana sekitar dua tahun."
Seokjin mendeham sebelum bangkit berdiri. "Sebelum kau ke sana. Bawakan beberapa potong kue untuknya."
Yoongi mendongak. Mengerutkan dahi. Selain pizza, Seokjin juga menjual kue-kue manis.
"Sampaikan saja salam dariku. Kim Seokjin, temannya Min Yoongi."
.
.
.
.
Persis yang dijanjikan kemarin siang. Dimana Jimin memintanya untuk datang kembali, Yoongi kini sedang di dalam bus. Menuju ke sana. Tangannya menjinjing tas karton berisi beberapa potong kue yang Seokjin berikan. Lucunya Yoongi bahkan membolos kelas terakhir. Ingin lebih cepat saja datang ke sana.
Menghela nafas sesaat sebelum mengetuk pintu. Debaran jantungnya menggila ketika mendengar suara langkah kaki dan seseorang yang meraih knop pintu.
"Hei, Yoongi. Lebih cepat dari dugaanku."
"Kelas dibubarkan lebih cepat." Bohong Yoongi sembari melangkah ke dalam, mengikuti Jimin.
Ia melihat beberapa kertas sketsa tersebar di atas ranjang dan Jimin terburu-buru membereskannya.
"Hari ini aku akan melukismu." Ujar Jimin seakan meminta persetujuan dari Yoongi.
"Ah, oke." Yoongi melepaskan mantel dan tas punggungnya. "duduk di sini?" Menunjuk satu kursi yang tidak jauh dari tempatnya berdiri.
Jimin terkekeh pelan. Duduk di atas kasur. "Tidak usah terburu-buru. Kau juga baru saja datang."
Merasa terlalu bersemangat Yoongi mengalihkan rasa malunya dengan menyodorkan kue yang ia bawa. Juga ikut mendudukan diri di ranjang—berhadapan dengan Jimin.
"Dari temanku, Kim Seokjin. Sekaligus bos di tempatku bekerja. Tidak masalah kan jika kau memakan adonan tepung?"
Terlihat sangat antusias, Jimin mengambilnya segera. Ia tidak menjawab pertanyaan Yoongi malah langsung mengigit salah satu kue. Bergumam dengan mata berbinar.
"Enak sekali." Ia menunjukan salah satu adonan tepung matang yang bertopping cokelat. "aku suka ini. Sampaikan terima kasihku padanya ya."
Yoongi mengangguk. Menatap Jimin yang masih asik mengunyah. Merasa diperhatikan Jimin meringis malu.
"Ada beberapa pantangan makanan yang tidak bisa ku makan. Tapi untuk kue atau roti masih diperbolehkan." Jelas Jimin setelah menelan kunyahannya. Menaruh sisanya di atas nakas. Menatap sepenuhnya ke arah Yoongi.
"Tanyakan saja."
Kedua mata Yoongi agak melebar. Entah bagaimana Jimin bisa membaca pikirannya. "Aku ingin kau yang bercerita. Tidak mau bertanya hal yang tidak mau kau jawab."
Jimin mengangguk. Menatap Yoongi si sosok manusia yang sangat menarik. Membuatnya susah mengalihkan tatapan. "Kelainan jantung. Sudah seperti ini dari lahir." Jimin menekuk kedua kakinya, bersila. Pikirannya menerawang. "dari kecil homeschooling. Pergi kemana-mana dengan bantuan kursi roda padahal aku bisa berjalan, agar tidak cepat lelah katanya. Dua tahun yang lalu aku melangsungkan operasi, tapi gagal karena komplikasi. Untung saja nyawaku masih tertolong. Semenjak itu orang tuaku meminta rawat inap. Dan seperti yang ku katakan kemarin, terhitung sudah dua tahun aku berada di rumah sakit ini."
Ikut menekuk kakinya, Yoongi menopang dagu di atas lutut. Ingin mendengar cerita lebih banyak. Keduanya saling bertatapan. Beberapa detik dilingkupi keheningan sampai Yoongi mengerjap sadar jika dari tadi ia hanya diam.
"Sudah?"
Jimin terkekeh. "Itu sudah inti ceritanya. Sekarang giliranmu."
Menggeleng tidak yakin. "Tidak ada yang menarik."
"Jangan curang. Cepat ceritakan tentangmu." Jimin melipat tangannya di depan dada. Alisnya menukik.
"Oke." Yoongi menghela nafas sebelum memulai. "aku bekerja paruh waktu di restoran temanku. Juga aku kuliah di kampus swasta." Melirik langit-langit ruangan. Bingung apalagi yang harus diceritakan karena hidupnya lebih banyak berputar saat ia bekerja dan kuliah saja.
"Kau mengambil jurusan apa?" Jimin inisiatif bertanya.
"Jurusan seni musik."
Jimin bertepuk tangan heboh. Terkagum-kagum. Persis seperti yang Yoongi lakukan kemarin. "Waah. Hebat. Apa alasannya memilih seni musik? Sudah semester berapa?"
"Dari dulu cita-citaku ingin menjadi seorang produser. Meski harus menunda satu tahun karena kesulitan biaya. Tapi apapun ku lakukan demi bisa berkuliah. Beruntungnya keluargaku mendukung. Tahun ini semester empat."
Jimin menatap Yoongi lekat. Menilik wajah penuh rasa haru sekaligus bahagia itu. Dalam hatinya ia mencelus iri. "Kau seniorku berarti? Aku mahasiswa baru. Baru semester satu."
Yoongi mengernyit. Agak terkejut mendengar. "Berapa umurmu?"
Berpikir beberapa saat sebelum menjawab. "Sembilan belas."
Yoongi tergelak tawa. Menyadari pria di hadapannya hampir seumuran dengan adik kembarnya. "Ku kira kita sama. Aku dua puluh dua tahun."
Bibir Jimin membulat. Mengangguk kepala. "Harus ku panggil kakak?"
Sontak Yoongi menggerakkan kedua tangannya. Menolak halus. "Tidak usah. Panggil namaku saja tidak apa-apa." Ia sering memanggil yang lebih tua dengan nama juga. Contoh cara ia memanggil bosnya.
"Oh, ya. Kau mengambil jurusan apa, mahasiswa baru?"
Untuk pertanyaan ini Jimin agak terdiam sesaat sebelum menjawab. "Bisnis. Sekaligus belajar untuk meneruskan bisnis keluarga."
"Bukan pilihanmu ya? Orang tua yang menyuruh?"
Jimin tersenyum. Pertanyaan Yoongi tepat pada target. "Aku anak tunggal. Orang tuaku punya harapan yang besar padaku. Meski sebenarnya mereka sudah kecewa karena anaknya pesakitan."
Helaan nafas yang berat Jimin hembuskan. Rasa sakit yang tidak kasat mata menyergap batinnya. Memaksakan satu senyuman palsu.
"Aku iri padamu, Yoon. Bisa memilih apapun tanpa paksaan. Bisa bekerja mencari uang, bukan berdiam diri menghabiskan uang. Bisa pergi kemanapun, tanpa kursi roda tanpa harus tiba-tiba kambuh di tengah jalan. Meski aku punya sengajanya tapi aku tidak bebas bahkan selalu merepotkan. Kau beruntung."
Yoongi melihatnya. Kesedihan mendalam yang dirasakan Jimin yang dikubur dalam senyuman. Dikubur dalam lukisan penuh warna warni. Seakan bersikap semua baik-baik saja. Padahal menahan rasa sakit juga tekanan karena banyak hal yang tidak berjalan sesuai inginnya.
"Jangan berkata begitu seolah kau sedang sekarat saja."
"Aku memang sedang sekarat. Hidupku bergantung pada berhasil atau tidaknya operasi—"
"Kau akan baik-baik saja. Ku pastikan itu." Yoongi menukas. Entah kenapa ia tidak suka kalimat yang baru Jimin ucapkan. Ia mengambil satu lembar kertas sketsa lalu disodorkan pada Jimin. "sekarang lukis aku. Seperti yang kau bilang sebelumnya."
Jimin mengambilnya. Sudut bibirnya terangkat. Menggoreskan cat minyak pada kertas sambil sesekali menatap Yoongi dan gambar yang ia buat secara bergantian.
"Lusa aku akan operasi lagi." Gerak tangannya tidak berhenti. "aku pasti sembuh. Dan orang pertama yang akan ku kunjungi adalah kau."
"Akan ku tunggu, Jimin." Yoongi menjawab sembari mengepalkan erat kedua tangan. Dalam hati ia berharap penuh.
"Aku mau mencoba untuk mengantarkan pizza, tapi karena aku tidak bisa mengendarai motor," Jimin menunjuk Yoongi dengan kuasnya. "kau harus memboncengiku."
"Jangan manja. Nanti ku ajarkan cara mengendarai motor."
Jimin tergelak tawa. Hampir saja asal mencoret. "Oke. Ajarkan aku nanti."
Yoongi melirik kertas yang Jimin pegang, ingin tau hasilnya namun Jimin segera menghalanginya.
"Aku kehabisan cat. Lukisanmu belum selesai."
Yoongi mendelik tidak suka. Hampir merebut paksa kertas dari tangan Jimin. "Ya sudah seadanya saja."
"Jangan. Jika lukisan seseorang belum selesai itu tidak boleh dilihat oleh siapapun." Jimin mengangkat tinggi-tinggi hasil karyanya. Tidak boleh dijangkau Yoongi.
"Mana ada begitu?"
"Tentu ada. Itu filosofi seorang pelukis." Jimin menjawab asal. "maka dari itu kau harus ke sini besok. Untuk menyelesaikannya."
Mendengus kesal sembari merotasikan matanya jengah. Padahal Yoongi sudah penasaran seperti apa lukisan dirinya. Dalam hati Yoongi berpikir sepertinya Jimin masih pelukis amatir dan bisa jadi lukisan yang dilihatnya adalah karya orang lain.
"Baiklah. Besok aku tidak ada kelas. Sepulang bekerja aku akan langsung ke sini. Siapkan catmu yang banyak. Aku ingin dilukis dari kepala sampai kaki."
Jimin kembali tertawa mendengar Yoongi bersungut-sungut karena kecewa.
Cukup lama Yoongi berada di sana, ia tidak sadar kalau malam sudah larut. Berniat segera pulang takut tidak bisa masuk ke rumah sebab dikunci oleh ibunya. Terlebih ia tidak bilang lebih dulu jika sehabis kuliah tidak langsung pulang ke rumah. Ibunya memang menganggap ia seakan masih anak kecil.
"Lebih baik kau tidur sekarang."
Jimin sudah bersiap di tempat tidurnya. Masih tersenyum ke arah Yoongi yang berada di ambang pintu.
"Iya, aku tau." Jimin melambaikan tangan. "Sampai bertemu besok, Yoongi."
Yoongi hanya membalas dengan acungan ibu jari sebelum menutup pintu.
Di sepanjang perjalanan pulang Yoongi terus memikirkan kejadian di rumah sakit tadi. Perasaan bercampur aduk. Ia jadi sulit mengekspresikannya. Tapi satu yang pasti ia sangat berharap Jimin berhasil untuk operasinya lusa. Tujuan datang lagi sekaligus untuk menyemangati Jimin juga.
Keesokan harinya, tepat di hari Sabtu dimana restoran fast food menjadi salah satu tempat yang ramai dikunjungi. Untuk kali ini Seokjin sedang berbaik hati buktinya dari setengah jam yang lalu ia sudah menyuruh Yoongi untuk pergi.
"Pegawaiku banyak. Jangan merasa kau paling dibutuhkan di sini. Sudah cepat, pergi ke pria itu sana."
Yoongi menganga tidak percaya. Seokjin benar-benar sedang mengusirnya. Sebelumnya ia memang menceritakan semua yang terjadi kemarin pada Seokjin.
"Oke. Aku pergi sekarang." Yoongi menyambar tas punggungnya. Tidak lupa ia mengambil tiga kue kering berselai cokelat. Menunjukannya pada Seokjin. "Aku ambil ini. Jimin suka."
Seokjin melirik sekilas. Menjawab dengan mendeham juga kibasan tangan, menyuruh Yoongi segera pergi.
Untuk kedepannya Yoongi berpikir rumah sakit adalah salah satu tempat yang akan sering ia kunjungi. Bertemu Park Jimin tentu saja alasannya. Pria dengan banyak senyum dan humor bobroknya—sering menertawakan berbagai macam hal random, banyak diantaranya tidak lucu.
Sudah ketiga kalinya datang membuat Yoongi hafal dengan deretan ruangan, melangkahkan kaki ke lantai dua dengan membawa kue kesukaan Jimin sesekali bersenandung. Wajahnya ceria. Dalam hati ia akan menagih habis-habisan Jimin untuk melukisnya lagi—jika bisa, pria itu kan sedang sakit, ia tidak bisa memaksa. Yoongi bahkan sengaja mengenakan pakaian yang lebih berwarna cerah hari ini.
Belum sempat mengetuk, pintu kamar yang dituju sudah terbuka. Dua orang yang saling berhadapan agak terkejut lalu tersenyum canggung.
"Min Yoongi?"
Yoongi mengangguk. Membungkukkan tubuhnya memberi salam saat seorang perawat menyebut namanya. Sekilas ia melihat hal yang asing di dalam—wanita itu tidak menutup pintunya.
"Untukmu." Perawat itu menyodorkan kotak berukuran sedang berwarna abu pada Yoongi yang mengernyit namun tetap menerimanya.
"Dari siapa?" Yoongi meneliti setiap sentinya. Tidak terselip nama pengirim.
"Park Jimin."
Mendongak cepat. Mengerutkan kening seakan berpikir. Kenapa Jimin tidak memberikannya langsung terlebih keduanya memang berjanji untuk bertemu.
Wanita di hadapannya menyadari kebingungan Yoongi kini tersenyum. Entah kenapa Yoongi tidak menyukai hal itu.
"Jadwal operasinya dimajukan tadi pagi sebab keadaannya semakin memburuk."
Yoongi meneguk ludah. Ada yang aneh. Kamar tempat Jimin yang sekilas ia lihat tadi sudah kosong seakan baru saja dibersihkan.
"Operasinya berjalan lancar. Tapi tidak lama kemudian tubuh Jimin bereaksi menolak." Mengusap lengan atas Yoongi. Menenangkannya. "dia tidak selamat."
Genggaman Yoongi mengerat pada bingkisan yang di pegangnya. Juga pada tas karton berisi kue yang sengaja ia bawa. Melihat beberapa orang keluar masuk dari ruangan tersebut membawa barang-barang salah satunya lukisan-lukisan yang tadinya dipajang di dalam.
Butuh dua menit untuk Yoongi sadar jika ia masih menginjak bumi. Pikirannya berkecamuk. Melangkahkan kaki cepat sebab sesak rasanya berlama-lama di sana. Melarikan diri ke sebuah halte sepi, langit terlihat mendung. Siap menumpahkan air. Seperti menggambarkan semesta ikut berduka.
Menunduk menatap kotak yang katanya dari Jimin. Tidak berani membuka isinya karena ia merasa mengiyakan jika Jimin memang sudah tiada. Meski Yoongi sadar itu benar terjadi. Singkatnya pertemuan mereka, sedikitnya momen tapi Yoongi mendapatkan banyak hal yang tersirat dari percakapan-percakapan kemarin.
Memang benar seperti yang dikatakan Jimin. Ia termasuk salah satu orang yang beruntung di dunia ini. Keluarga sederhananya masih beranggota lengkap juga merasa dilingkupi kasih sayang yang cukup. Ia bisa beraktivitas di luar ruangan tanpa masalah. Semua berjalan pada tempatnya. Yoongi tidak menyadari sama sekali jika banyak orang terhalang tembok tinggi hingga tidak bisa menikmati dunia sepenuhnya.
Yoongi mendapatkan dirinya kembali ke restoran pizza yang cukup terkenal di kotanya. Berdiri di depan pintu masuk yang berbahan kaca tebal, tidak berekspresi apapun hanya mengedip sesekali dan menghela nafas. Ada rasa kosong di sudut hatinya.
Bertahan di tempatnya sekitar beberapa menit sebelum Seokjin—yang sedang berbicara dengan temannya—menengok. Terkejut melihat Yoongi berada di luar. Belum ada satu jam dari perginya tapi kenapa Yoongi kembali lagi ke sini.
Ada yang tidak beres. Seokjin menghampirinya. Ia bahkan agak berlari kecil. "Ada apa?" Langkahnya terhenti saat Yoongi berjalan ke arahnya. "Yoon—"
Kalimat Seokjin terpotong ketika Yoongi menubruknya cepat. Menarik dalam pelukan erat. Tubuhnya agak gemetar. Langit hanya mendung kelabu sebab hujannya ada di mata seorang Min Yoongi. Tangisnya pecah dalam dekapan Seokjin. Terisak sangat sedih mengeluarkan semua gumpalan pilu dalam hatinya. Lirihan suara terdengar.
"Park Jimin.."
.
Hei, Min Yoongi.
Ini aku Park Jimin, yang katamu si pelukis hebat. Aku menyesal tidak meminta nomor ponselmu kemarin, jadi terpaksa menulis surat. Jangan salah fokus dengan jeleknya tulisan tanganku yaa haha.
.
Oh ya, sekitar setengah jam lagi aku akan operasi, ya dimajukan jadi hari ini karena tubuhku kondisinya menurun. Sebelum itu ada yang ingin ku katakan.
.
Min Yoongi si calon produser hebat.
Ku harap beberapa tahun ke depan cita-citamu tercapai. Hal terkeren di dunia ini adalah saat apa yang kau semogakan telah berhasil dikabulkan. Aku tau kau bisa.
.
Min Yoongi si kurir pizza tercepat.
Ajakanmu tentang mengajariku mengendarai motor sayang sekali tidak bisa kita lakukan. Padahal aku ingin sekali berkeliling kota, untuk pertama kalinya. Bersamamu juga.
.
Terima kasih banyak sudah menjadi teman bicaraku meski hanya hitungan jam haha.
Terima kasih juga sudah menjadi model lukisanku. Maaf kemarin aku berbohong. Lukisan wajahmu sebenarnya sudah selesai. Iya, sekadar alasan saja. Agar kau bisa datang lagi ke sini.
.
Lucunya aku pernah berharap kita bisa saling bertemu. Tanpa alasan apapun.
.
Aku juga berharap kau tidak pernah menerima surat ini. Tapi jika nyatanya kita tidak bisa bertemu lagi, simpan saja surat dan lukisan ini sebagai bukti seorang Park Jimin pernah ada di dunia.
.
Min Yoongi, aku senang mengenalmu.
Sampai bertemu di lain waktu.
.
PJM
END
