By : LabosQ (twitter) / labosq (wattpad)
Prompt : Pandora
Notes : Romance, drama, harsh words
Happy Reading!
.
.
.
.
.
.
.
.
Welcome to My Life
.
Min Yoongi, seorang pria berkulit putih pucat. Berlatar belakang keluarga baik-baik yang berkehidupan sederhana. Dua puluh dua tahun usianya. Kesehariannya bekerja di salah satu perusahaan ternama, menjabat Manager Pemasaran di sana. Tidak ada yang menarik di dirinya.
Ribuan kali Yoongi berpikir keras jika tidak ada yang menarik dari apa yang ia miliki. Bahkan kekasih saja tidak punya. Ia juga menebak di kehidupan sebelumnya ia manusia sok tau yang tidak sengaja membuka kotak pandora yang berisi kesialan. Sebab hampir enam bulan ini hidup terganggu. Merasa tidak aman ketika anak sulung dari bosnya—yang baru saja kembali dari London dan kini pria itu menjabat sebagai Direktur Keuangan—sedang terang-terangan mendekati dirinya.
Park Jimin namanya, yang dari lima menit lalu tidak berhenti menatapnya penuh minat.
"Aku tidak tau makanan kesukaanmu apa. Jadi ku pesan saja semuanya." Jimin menyandarkan punggungnya ke kursi. Seringaian terbit di bibirnya melihat Yoongi merengut sebal.
"Aku tidak lapar." Yoongi mendudukan diri di kursi kebesarannya. Mencoba abai pada tumpukan makanan yang memenuhi meja kerjanya.
Ia melirik ke luar ruangan, melihat beberapa pegawai berbisik-bisik dengan sorot mata ke arahnya dan Jimin. Tentu saja menjadi tontonan yang menarik. Ruangannya bertembok kaca bening, terlihat jelas apa saja yang dilakukannya di sana, termasuk Jimin si Direktur Keuangan baru yang membuat heboh kantor. Alasannya ada dua, ketampanan dan usaha kerasnya meluluhkan hati seorang Min Yoongi.
"Tidak peduli." Jimin mengendikan bahunya. "semua makanan ini harus habis. Jika tidak," ia mencondongkan tubuh, mendekati Yoongi. "kau yang akan ku makan."
Tanpa sadar Yoongi meneguk ludah.
"Oke." Jimin tidak akan berhenti maka Yoongi yang menyerah. Mengambil sepotong pizza, memakannya dalam satu gigitan besar. Mengunyah keras-keras. "puas?"
Jimin tergelak tawa. Menumpu dagu dengan tangan di atas meja. "Jangan galak. Nanti ku cium."
"Sehari saja. Jangan buat keributan di kantor. Ini jam kerja kau harus bisa bersikap profesional." Yoongi bersungut-sungut sambil tetap menghabiskan pizzanya. Ia melewatkan makan siang tadi lalu dengan sigap Jimin memesankan banyak makanan untuknya. Padahal tidak makan siang satu kali tidak akan membuatnya tiba-tiba mati.
"Aku profesional. Tujuanku di sini sedang memastikan pegawainya makan dengan teratur."
"Oke. Terima kasih banyak, Park." Menyeka mulut dengan tisu. Yoongi memaksakan satu senyuman. "sekarang kau bisa kembali ke ruanganmu."
"Aku belum selesai." Jimin bangkit beranjak, berjalan mendekati Yoongi lalu berhenti berdiri di belakangnya. Menundukan kepala, berbisik di samping telinga kanan. "malam ini temani aku mendatangi sebuah acara amal."
Jujur saja Yoongi meremang. Hembusan hangat di lehernya ditambah suara Jimin yang sengaja direndahkan mampu menghantarkan sensasi asing. Yoongi tetap membalas meski agak menahan nafas. "Maaf. Tidak bisa."
"Aku tidak butuh persetujuanmu. Lagipula ayah senang sekali tadi saat kubilang kau akan datang ke sana menemaniku."
Ini yang Yoongi benci. Jimin menggunakan ayahnya untuk membuat ia mau dan menurut. Licik. Pria itu mudah mengontrol dirinya.
"Ku jemput kau nanti malam." Ucap Jimin bersamaan ia menyodorkan satu goodie bag berlogo mahal lalu angkat kaki pergi begitu saja.
Park Jimin dan segala kuasanya. Si anak konglomerat yang sering kali bersikap seenaknya. Berpikir apapun mudah ia dapatkan terkecuali Yoongi. Mungkin rasa tertantang seolah adrenalinnya diuji membuat Jimin gencar mendekatinya. Itu yang dipikirkan Yoongi tentang Jimin.
Tapi bagaimanapun Yoongi tetap mengikuti semua permainan Jimin. Tinggal menunggu saja sampai pria itu bosan lalu ia akan kembali bebas.
Ketukan di pintu flat kecilnya membuat Yoongi berlari kecil. Membukanya lebar hingga menemukan Jimin berdiri dengan tuxedo hitam legam. Pria itu menata rambutnya ke atas, memperlihatkan dahi. Menambahkan kesan dewasa sekaligus sexy.
"Aku memang tampan. Terpesona yaa?"
Perkataan Jimin seolah menyadarkan kembali Yoongi. Telinganya merah, merasa ketahuan diam-diam mengagumi paras Jimin.
"Jadi berangkat atau tidak?" Ketus Yoongi. Mengalihkan pandangan kemanapun agar menghilangkan rasa malunya.
Jimin hanya terkekeh menanggapi. Ia menyelipkan anak rambut di belakang telinga Yoongi yang tercekat dibuatnya. "Kau manis hari ini."
Senyuman tulus, pujian yang jujur membuat Yoongi mematung beberapa detik. Wajahnya memanas. Menilik lagi tuxedo navy bermerek terkenal yang harganya bukan main. Bahkan Yoongi harus mengumpulkan gajinya sekitar sepuluh bulan atau setahun dulu baru bisa membelinya.
Tidak terhitung, ini kesekian kalinya Jimin memberi ia berbagai macam barang dengan harga selangit dan Yoongi lelah untuk menolak. Ia pernah mengembalikan tepat di hadapan Jimin dan besoknya ia mendapatkan kurir menumpukan barang-barang di depan flatnya. Pelakunya Park Jimin. Pria itu mengirimkan lagi, berkali-kali lipat dari apa yang Yoongi tolak.
Memilih terpaksa menerima dan menjadi koleksi di rumah saja. Yoongi merasa bukan dirinya yang menggunakan pakaian mahal, perhiasan langka, atau apapun yang bisa membuat orang iri. Begitu juga di tempat yang ia jejaki sekarang.
Kumpulan manusia berdompet tebal yang tanpa takut bangkrut mengeluarkan jutaan atau bahkan milyaran uang untuk disumbangkan. Entah karena kelewat baik hati ingin membantu sesama atau sekaligus ingin memamerkan dirinya senang membuang-buang uang.
"Min Yoongi, lama tidak melihatmu. Selalu sibuk dengan pekerjaan?" Park Kyun So, tersenyum melihat salah satu pegawai terbaiknya menghadiri acara ini. Tepat seperti yang anaknya ucapkan kemarin. "apa Jimin merepotkanmu?"
Membalas dengan lengkungan manis di bibir, berpura-pura menikmati. "Senang bertemu denganmu, Pak. Tentu saja tidak, Jimin banyak membantuku karena pekerjaanku hampir sepenuhnya berhubungan dengannya." Tidak bohong, Jimin memang sangat diandalkan. Perfeksionis dalam bekerja. Kemampuannya mengurus perusahaan pantas diacungi jempol, Yoongi mengakui hal tersebut. Meski jika diluar pekerjaan Jimin akan menggoda ia habis-habisan sebab ingin mendapatkan hatinya.
Yoongi meneliti berbagai kudapan ringan yang disediakan di sana. Beraneka warna dan terlihat rasanya juga enak namun tidak membuat Yoongi tertarik.
"Kau ingin makan yang lain?"
Menengok cepat, agak terkejut Jimin berada di sampingnya. Entah kapan pria itu datang seingatnya ia melihat Jimin sedang berbincang dengan teman konglomeratnya yang lain.
"Tidak. Aku malah ingin segera pulang. Kapan selesainya?"
Jimin menggenggam satu tangan Yoongi menariknya pelan. Cengiran terlihat di wajah. "Ya sudah, ayo pulang."
Di bawa Yoongi ke arah parkiran, masih dengan keduanya berpegangan tangan. Yoongi mencoba melepaskan namun Jimin malah mengeratkannya. Ia tidak ingin memikirkan apapun lagi, cukup mengikuti Jimin yang akan mengantarnya pulang dan selesai.
"Kita akan mampir untuk makan malam. Aku lihat kau tidak makan apapun di sana."
Yoongi melotot tidak terima. Padahal ia sudah ingin bermesraan dengan kasur hangatnya tapi Jimin malah sengaja memperlama waktu. Saat mobil yang dinaiki memasuki pelataran sebuah restoran mewah Yoongi membuka suara.
"Aku tidak mau makan di sini."
Sontak Jimin menginjak rem. Menatap sepenuhnya pada Yoongi.
"Ramen." Yoongi membalas tatapan Jimin. "ingin makan ramen."
Jimin menjulurkan satu tangan untuk mengusak gemas kepala Yoongi. Tertawa pelan, senang rasanya saat Yoongi memutuskan sesuatu yang diinginkan karena selama ini pria itu hanya menurut, mengikuti apapun maunya. Jimin malah selalu berharap Yoongi bisa mengutarakan apa saja selain penolakan yang selalu ia ucapkan.
"Oke." Memutar kemudi, keluar dari pelataran tersebut. "aku tau restoran ramen yang—"
"Aku ingin yang di dekat flat." Yoongi menukas. Tidak menatap Jimin sama sekali.
Jimin mengerutkan dahi. Tapi segera abai, ia mengendikan bahunya. "Baiklah. Terserah."
Seingat Jimin di sekitar flat Yoongi tidak ada tempat yang menyajikan ramen dan benar saja Yoongi mengajaknya ke sebuah minimarket dua puluh empat jam. Membeli dua cup ramen yang langsung diseduh, juga mengambil satu cup kimchi berukuran kecil.
Lagi-lagi Jimin tergelak tawa. Menatap tidak percaya Yoongi yang sedang sibuk mengaduk dua ramen tadi secara bergantian. Membelah sumpit lalu menggeser ke ujung meja, tepat di depannya.
Jimin menyugar rambut ke belakang. Menyandarkan punggung di kursi yang disediakan minimarket. Menoleh ke samping, melihat jalan besar tempat melintas kendaraan, ia bahkan bisa menghirup asap dari knalpot.
"Yoongi, aku bisa mengajakmu ke tempat—"
"Hari ini aku yang traktir." Menukas lagi. Kembali menyibukan diri mengunyah ramen dan sawi pedas bersamaan.
Jimin terdiam lama hingga Yoongi menyadari tidak ada pergerakan dari lawan bicaranya. Ia mendongak.
"Kenapa? Tidak suka? Atau tidak bisa makan di tepi jalan seperti ini karena bisa membuatmu alergi, Tuan muda?"
Sarkas Yoongi dibalas decihan remeh dari Jimin. Pria itu menarik cup ramen di hadapannya, mengambil mie banyak-banyak di sumpit sebelum memasukkannya ke dalam mulut. Mengunyah sembari menatap Yoongi.
"Aku tidak suka makan di restoran bintang lima. Tidak cocok di lidah. Aku tidak suka datang ke pesta mewah karena manusia-manusia yang ada di sana bukan kalanganku. Aku lebih suka memakai pakaian lokal berharga murah daripada jas mahal yang bahkan harganya sama dengan gajiku satu tahun. Aku tidak suka perhiasan mahal karena akan tidak cocok jika kupakai."
Yoongi tertawa sinis sebelum menambahkan kalimat, "Selamat datang di hidupku, Park Jimin."
Seringaian tampak di wajah Jimin. "Kau sedang mendikte agar aku lebih mengerti dirimu begitu?"
"Bukan. Tapi agar kau sadar jika aku adalah kebalikannya dirimu."
Jimin mendengus. Mengalihkan pandangannya. Yoongi memang tidak tanggung-tanggung dalam menciptakan jarak untuk dirinya. Selalu saja menjunjung tinggi perbedaan ibarat langit dan bumi padahal Jimin sama sekali tidak peduli. Ia sepenuhnya memiliki rasa tulus dan serius.
"Bosan mendengarmu menolakku lagi." Jimin menghela nafas panjang. Kedua tangannya terlipat rapi di meja. Menatap Yoongi sendu. "aku bisa memberikanmu apa saja. Aku bisa menjanjikan dunia untukmu. Apa yang membuatmu sulit membuka hati?"
"Aku juga bosan mendengar kau mengagung-agungkan kekayaan. Memberiku barang-barang yang tidak ku inginkan sama sekali. Percuma, untuk apa? Uangmu hanya tumpukan kertas." Yoongi bangkit berdiri, derit kursi yang bergeser terdengar agak nyaring.
"Uangmu tidak bisa membeli segalanya." Yoongi menunjuk dirinya sendiri. Menatap Jimin sengit seolah memberi peringatan. "termasuk aku."
.
.
.
.
.
Sudah sekitar tiga hari dari pertemuan terakhir dengan Jimin. Dimana ia pergi begitu saja meninggalkan Jimin dengan kalimat-kalimat sarkasnya. Agak kasar sebenarnya tapi mau bagaimana lagi jika tidak ia lakukan Jimin akan semakin gencar mendekatinya.
Setelah itu keduanya tidak saling bertemu lagi sebab ia mendengar kabar jika si Direktur Keuangan sedang sakit. Mengetukkan pena di meja, Yoongi berpikir keras. Bagaimana jika selama ini Jimin punya penyakit kritis lalu mendekati Yoongi hanya sekadar ingin merasakan bahagia di dunia sebelum nyawa berakhir.
Ia ingin bertanya banyak tapi Seokjin malah meledek habis-habis. Contohnya tadi siang,
"Sekarang orangnya tidak ada kau cari, dari kemarin saat pria itu menempeli mu malah kau usir. Karma masih berlaku sepertinya."
Fokusnya terpecah Senin siang ini. Diperparah saat adiknya menghubungi, memberitahu kalau ayahnya sakit keras. Dengan cepat Yoongi memesan tiket untuk pulang ke kampung halamannya, ia juga sudah memberikan surat cuti karena berpikir akan lama di sana.
Yoongi memang termasuk si penggila kerja. Jarang menghubungi keluarga sekadar menanyakan kabar, maka di sepanjang jalan rasa khawatir berputar di kepala. Ketika sampai di kampung halamannya Yoongi tidak segan-segan menerobos masuk ke rumah. Ingin melihat ayahnya.
Tapi yang ia dapatkan adalah adiknya yang asik bermain game console, ibunya menata makanan di meja makan sesekali bersenandung riang, dan ini yang paling tidak Yoongi mengerti. Ayahnya yang sedang sakit keras sedang memberi pakan untuk ikan di akuarium sambil menggenggam secangkir kopi.
"Apa-apaan?!"
Semua orang yang ada di sana memusatkan perhatiannya pada Yoongi.
"Kau bilang ayah sedang sakit?!" Yoongi menghampiri adiknya lalu menjitak keras kepalanya.
"Ayah memang akan sakit parah jika anak sulungnya tidak pernah pulang." Kepala keluarga Min itu yang menjawabnya. Belum Yoongi melancarkan protesannya kembali sosok familiar muncul dari arah dapur.
"Kau sudah datang? Padahal aku berniat menjemputmu."
Rahang Yoongi seakan jatuh ke lantai. Membelalakan sempurna kedua bola matanya ketika mendapati Park Jimin tersenyum seraya membawa piring berisi potongan buah.
"Kau tidak pernah cerita tentang Jimin. Untung saja dia banyak bercerita tentang kalian." Kini ibunya menjawil dagu Yoongi. Menggoda.
"Apa juga yang harus ku ceritakan?!" Yoongi mendelik kesal. Menunjuk dirinya dan Jimin secara bergantian. "tidak ada cerita antara aku dan dia."
Setelah mengatakannya Yoongi menarik Jimin. Untuk saja Jimin sudah menaruh piring buah yang dipegangnya tadi. Pria itu diam saja sembari mengikuti Yoongi yang menyeretnya keluar.
"Apa yang kau lakukan di sini, sialan?"
Hidung Yoongi kembang kempis. Kesal. Merasa dipermainkan.
Jimin menjentikan jari di dahinya. "Tidak sopan. Aku masih atasanmu di kantor dan ayahku adalah bosmu."
Persetan dengan semuanya. Yoongi menginginkan jawaban detik ini juga.
"Untuk apa datang ke sini?"
"Apa lagi jika bukan meminta izin untuk menikahimu." Jimin menyahut santai berbeda dengan Yoongi yang jantungnya hampir merosot ke lantai.
"Seserius itu aku, Yoongi." Jimin menyelipkan rambut di belakang telinga. Mengusap pipinya sekilas. "kau salah sangka. Selama ini aku bukan memamerkan uang apalagi merendahkanmu seolah aku ingin belimu tapi sedang menunjukan jika kau pantas mendapatkan lebih. Begitu caranya memperlakukan seseorang yang ku anggap istimewa."
Jimin menghela nafas panjang. Mengusap tengkuk belakangnya. "Mungkin caraku salah. Aku ke sini juga ingin meminta maaf. Tapi menyukaimu selama lima tahun ini membuatku ingin lebih. Menginginkanmu sepenuhnya. Ah, ya, kau pasti lupa kapan pertama kali kita bertemu. Yang pasti aku memang egois, harus mendapatkan apa yang ku inginkan. Tenang saja, aku tidak memaksa tapi tetap berusaha membuat kau menyukaiku juga."
Yoongi mematung. Susah payah menelan ludah. Apa yang Jimin utarakan membuat sekujur tubuhnya meremang.
"Orang kantor memberitahuku jika kau mencariku dan terlihat khawatir saat mereka bilang aku tidak masuk kerja karena sakit." Jimin merendahkan tubuh, berbisik di samping telinga Yoongi,
"I got you, Sweet. Selamat datang di hidupku, Park Yoongi."
.
.
.
END
