Icha-icha Tactics: Taktik Ditinggal Isteri

Disclaimer: Naruto ©Masashi Kishimoto

Chapter 5: Taktik Multitasking (Sai×Ino×Inojin)

Happy Reading

Selepas kepergian Ino, Sai melangkah dengan gontai menuju rumah. 'Hmmm.. hari ini Ino bilang kalau tokonya tutup dulu..' Pikir Sai. Sama seperti pasangan sebelumnya, Sai dan Inojin juga hanya bisa bertahan sampai sarapan.

Untuk makan siang dan makan malam, Sai hanya mengandalkan persediaan makanan instan yang biasa dia bawa saat misi-misi ANBU, seperti: Ramen Cup, makanan kaleng, dan Nasi siap saji. Dengan ini, masalah hari pertama sudah terpecahkan.

.

.

.

Di hari kedua, Sai dan Inojin membuka tokonya seperti biasa. Beruntung bagi mereka berdua dari pagi buka sampai toko tutup tidak ada pembeli sama sekali alias sepi. Untuk sarapan sampai makan malam pun mereka hanya membeli makan di Kaminari Burger. Dan yang lebih spesial lagi, Sai hanya melatih tim 25 sebentar lalu patroli 3 jam saja. Dengan ini, hari kedua sukses dijalani tanpa ada masalah.

.

.

.

Hari ketiga, Sai dan Inojin bangun seperti biasa. Tugasnya hanya bersih-bersih toko. Lalu sarapan, makan siang, dan makan malam seperti biasa dengan menu instan. Toko buka seperti biasa walau hanya satu dua orang pembeli datang untuk membeli bunga hingga tutup. Sesekali, Sai pergi untuk tugas patroli dan melatih tim 25. Hari ketiga sukses tanpa ada masalah yang berarti.

'Tuh kan, Ino cantik, apa kubilang? Jangan remehkan ANBU. Hanya multitasking seperti ini saja urusan gampang. Lihat? Aku menyelesaikannya dengan baik...' batin Sai bangga.

.

.

.

Masalah muncul di hari keempat. Sai bangun pukul 5 pagi seperti yang biasa Ino lakukan. Setelah bersih-bersih diri, Sai memutuskan untuk membersihkan rumah dan toko seperti yang biasa Ino lakukan setiap pagi, lalu mencuci baju. Tanpa sadar, jam sudah menunjukkan pukul 08.00. Artinya, jam segitu toko bunga Yamanaka sudah harus buka. Tampak orang banyak berkumpul di depan pintu toko sambil menggedor-gedor pintu...

"Mana sih? Katanya jam segini buka. Ayo dong buka! Kami juga punya pekerjaan lain." Sahut orang-orang di luar toko.

"Iya ini! Mana yang punya toko ini? WHOEYYY! AYO BUKA TOKONYA! KAMI MAU BELI INI!" sahut yang lain.

.

Sementara di dalam toko, Sai dengan santai dan perasaan tak berdosanya mengintip pintu luar lalu memeriksa jam...

"Ya ampun, udah jam 8! Aduuhh.. mana belum siapin sarapan..." Sai menepuk jidat, "Oh iya, bangunin Inojin!" Lalu Sai melesat ke lantai atas, menyibakkan selimut Inojin dengan paksa supaya Inojin cepat bangun. Persetan Inojin marah-marah yang penting dia cepat bangun sehingga dia bisa membantu Sai menjaga toko.

Kadang Sai tidak habis pikir, bagaimana cara Ino menyelesaikan rutinitas pagi dengan tugas yang sangaaaaaaaaat banyak mulai dari bangun jam 5 pagi; bersih-bersih diri; bersih-bersih rumah dan toko; menyiapkan menu sarapan yang enak, lengkap, sehat, dan bergizi; membangunkannya dan Inojin; sarapan bersama; mencuci baju dan semuanya selesai sebelum pukul 08.00? Dan dengan tugas sebanyak itu, dia masih bisa bersolek dan tampil cantik dan semuanya itu selesai sebelum pukul 08.00? Sai saja bangun di jam yang sama, tidak sempat menyiapkan sarapan untuk dirinya dan Inojin. Bahkan untuk menghangatkan makanan instan ke microwave saja sudah tidak ada waktu. Dan saat ini Sai sudah mengalami kelelahan luar biasa. 'Mending disuruh gantiin Sasuke buat berantem sendirian melawan 10 Ekor Bijuu dan seluruh dewa-dewi Ootsutsuki yang bersemayam di atas bulan daripada ngerjain pekerjaan beginian. Begini aja sudah menguras chakra sangat banyak...' kata Sai dalam hati.

Begitu toko Yamanaka dibuka, puluhan pembeli memasuki toko sehingga toko itu terlihat penuh sesak pembeli. Bukannya langsung antri dengan tertib, tapi para pembeli itu menomorsatukan komplain ketimbang bunga yang akan mereka beli.

"Kok lama sih pak buka tokonya? Ngapain aja?!" Sahut salah seorang pembeli dan hanya dibalas dengan kata 'Maaf' oleh Sai dan Inojin.

Mereka cukup kesulitan dalam melayani pembeli yang sangat banyak, membungkus bunga hingga rapi, memilihkan bunga ke pembeli yang bingung mau beli bunga apa, bahkan mereka sempat salah kasih uang kembalian. Sejauh ini, tidak ada pelanggan yang meminta untuk dibuatkan buket bunga untuk acara khusus. Tanpa terasa, jam sudah menunjukkan pukul 11 siang. Sudah tidak ada pembeli yang datang ke toko bunga Yamanaka.

"Hhhh... Leganya. Tou-san, aku belum sarapan dan perutku sakit melilit sekarang. Tou-san kan tahu kalau aku tidak boleh melewatkan jam makan karena aku punya sakit lambung." kata Inojin memegangi perutnya.

"Ya udah, Tou-san ambilkan obat dan menghangatkan bubur instan dulu ya.." sahut Sai lalu melesat menyiapkan kebutuhan Inojin dan makan siang.

Setelah menyiapkan kebutuhan Inojin dan makan siang (seperti biasa makanannya makanan instan lagi), Sai mengecek ponselnya...

'50 panggilan tak terjawab dari Ibiki Morino? Ngapain dia tiba-tiba telepon?' pikir Sai. Tiba-tiba ponselnya bergetar lagi... 'Ibiki-san lagi..' Lalu Sai mengangkat telepon.

.

.

"SAI! KEMANA AJA KAMU?! DARITADI DITELEPON TIDAK DIANGKAT-ANGKAT.." Ibiki marah-marah di telepon.

"Eh, maaf. Ada apa ya anda telepon saya berkali-kali?" Tanya Sai dengan ekpresi tanpa dosanya.

"KITA ADA TERSANGKA BARU DARI KASUS PENJUALAN OBAT-OBATAN TERLARANG DAN NINJUTSU TERLARANG... AYO CEPET KESINI! KAMU HARUS MENGINTEROGASI DIA! KAMU MAU BIKIN TERSANGKA KITA MENUNGGU LALU KABUR, HAH?! AKU HABIS INI ADA MISI.. MANA INO?!"

"Maaf, Ino pergi ke luar desa dan aku gantikan Ino jaga toko. I...i..iya habis ini saya langsung kesana." Kata Sai lalu menutup teleponnya.

"Maaf ya Inojin, Tou-san harus pergi ke kantor Intelejensi. Ada tersangka baru kasus penjualan obat-obatan terlarang dan ninjutsu terlarang yang harus Tou-san interogasi. Tenang saja, tidak sampai satu jam kok.." Sai mulai melepas celemek tokonya dan mulai bersiap-siap.

"Halah.. paling cepet selesai interogasinya 9 jam lagi..." Cibir Inojin.

.

.

Ketika Sai mau meninggalkan toko, datanglah seorang pembeli...

"Ano, apa tokonya masih buka?" Kata orang pertama.

"Masih? Ada yang bisa kami bantu?" Tanya Inojin.

"Tolong buatkan buket bunga untuk saya.."

"Untuk acara khusus atau bagaimana?" Tanya Sai

"Begini, saya ingin dibuatkan buket bunga. Saya ingin melamar kekasih saya. Saya akan mengambilnya pukul 3 sore."

"Atas nama?" Sai mencatat pesanannya di buku catatan pesanan.

"Takeshi"

"Baik Takeshi-san. Jam 3 ya diambil.." Takeshi mengangguk seraya menyerahkan uangnya.

"Terima kasih.." lalu Takeshi meninggalkan toko.

.

Ketika Sai sedang bersiap-siap, tidak lama kemudian, datanglah pengunjung lain...

"Permisi, saya minta tolong dibuatkan bunga kematian. Ayahnya pacarku meninggal soalnya..." Kata si pembeli

"Baik. Atas nama siapa? Mau diambil jam berapa?" Tanya Inojin sambil menulis catatan pesanan.

"Takashi. Saya akan mengambilnya jam 3. Apa bisa?"

"Bisa, Takashi-san.." kata Sai. Orang itu menyerahkan uangnya, "Baiklah. Terima kasih. Saya akan kesini jam 3.." lalu orang itu meninggalkan toko.

.

.

"Tou-san, kita harus bisa. Kalau ini gagal dan Kaa-san tahu, aku bisa disuruh latihan Shintenshin no Jutsu 12 jam tanpa istirahat. Tou-san tahu kan kalau aku tidak suka latihan jutsu itu?" Kata Inojin memelas.

Kini, duo ayah anak bertubuh tipis kayak triplek dan berkulit putih pucat ini sedang berkutat dengan bunga, kertas, pita, dan gunting. Yang benar saja, mereka harus merangkai beberapa bunga Lily putih dan beberapa bunga mawar jingga, dan bunga-bunga lainnya hingga membentuk buket 'I am with You' sebagai buket dukacita. Tidak hanya itu, mereka juga berkutat dengan 2 Lili Merah Muda, 12 Mawar Merah, dan 3 Carnation Spray Merah Muda untuk membentuk buket 'Walk with Me', buket untuk melamar kekasih. Dalam proses pengerjaannya, banyak sekali bahan yang terbuang percuma. Tanpa sadar, mereka sudah menghabiskan waktu sekitar dua jam untuk membuat dua buket bunga.

"Ya ampun, aku ingin tahu bagaimana caranya Ino bisa menyelesaikan 10 buket bunga dalam waktu satu jam setengah? Aku dan Inojin saja dua buket bunga dalam waktu dua jam. Mana hasilnya jelek lagi.." Sai menghela napas lalu melihat ke jam dinding, "ASTAGA! Tugasnya Ibiki-san. Aku terlambat! Inojin, Tou-san berangkat dulu ya. Jam 3 Tou-san pulang..." Sai melesat ke kantor divisi Intelejensi.

Di perjalanan, Sai berpikir bagaimana caranya Ino menyeimbangkan semua kegiatan padat ini dan masih ada waktu untuk berdandan, shopping, nongkrong, mengajarkan Inojin pelajaran atau ninjutsu?

Beruntunglah interogasi hanya berlangsung sampai jam 2.55 sehingga Sai masih ada waktu untuk pulang ke rumah.

Sesaimpainya di rumah, alangkah terkejutnya Sai karena puluhan pembeli masih berdatangan. 'Hari ini ada acara apa ya, kok bisa orang-orang pada beli bunga?' pikir Sai.

"Tou-san, bantu aku! Maagku sakit karena efek telat makan dan aku harus menangani pelanggan yang datang dan telepon untuk memesan bunga..." Rengek Inojin.

"Yosh! Inojin, istirahatlah! Biar Tou-san yang menggantikanmu.." Sai menggantikan Inojin yang pergi ke kamar untuk beristirahat.

.

Benar saja, selama Sai bekerja sendirian Sai sering melakukan kesalahan, seperti: Salah kasih bunga, salah kasih kembalian, banyak bunga yang rusak saat dirangkai, menerima komplain sana-sini. Sedangkan Sai? Hanya membungkuk-bungkuk sambil minta maaf.

*KRIIIINGGG...*

"Halo?"

.

.

.

"SAI! ! ! KEMANA AJA KAMU?! INI UDAH JAMNYA KAMU PATROLI LHO!" Izumo menelpon sambil marah-marah.

"I..i..iya maaf, n..nan..nanti aku kesana.." Sai belum menutup teleponnya karena Izumo masih menjelaskan detail patroli.

'Ya ampun, kenapa hari ini aku banyak dimarahin ya?' batin Sai nelangsa.

.

.

"Permisi, saya mau mengambil buket bunga saya.." kata Takashi.

Sai menjepitkan telepon menggunakan sikunya seraya menyerahkan buket bunga 'Walk with Me', "Ini bunganya, Takashi-san.."

"Bagus. Terima kasih.." Sai mengangguk.

.

"Permisi, saya mau mengambil buket bunga saya.." Takeshi datang tak lama kemudian.

Karena Sai masih menelepon, Sai menyerahkan buket bunga kematian ke Takeshi.

"Terima kasih.." Sai mengangguk. Pada akhirnya Sai ijin absen dari tugas patroli karena kecapekan dan merawat Inojin yang sedang sakit lambung.

.

.

.

Hari kelima adalah hari tersialnya Sai. Memang sih, Inojin sudah tidak sakit maag lagi. Sai melakukan tugasnya seperti yang biasa dilakukan Ino sebelum toko buka. Beruntung Sai masih bisa menyiapkan sarapan pagi. Kali ini, sarapannya hanya telur ceplok. Masalahnya, begitu toko buka, Takashi dan Takeshi melabrak toko bunga Yamanaka..

.

"Anda ini bisa kerja gak sih? Anda mendoakan pacar saya mati ya? Anda memberikan bunga kematian untuk pacar saya dan hari ini, pacar saya gugur saat menjalankan misi! Tolong ganti rugi?!" Sahut Takeshi.

"Anda mendoakan saya putus dengan pacar saya ya? Gara-gara saya kasih bunga itu ke pacar saya, pacar saya langsung mengira kalau saya ingin melamar mamanya! Saya mau ganti rugi!" Sahut Takashi.

'Ya ampun, dampaknya sampai seperti ini ya?' batin Sai.

"Maafkan saya Takeshi-san. Saya rasa kematian dan kehidupan itu sudah ada yang mengatur. Jadi, anda harus bisa merelakan kepergian pacar anda. Pacar anda pasti akan sedih kalau anda seperti ini. Saya doakan semoga anda punya pacar baru..." kata Sai dengan ekspresi tanpa dosa.

"Dan untuk Takashi-san, jodoh itu sudah ada yang mengatur. Jadi mungkin saja jodoh anda adalah mamanya kekasih anda. Jadi, sebaiknya anda menerima jodoh itu dengan lapang dada dan dengan tangan terbuka..." Sai melanjutkan perkataannya. "Lagipula nama kalian berdua agak mirip, jadi saya minta maaf kalau bunganya tertukar..." Sai membungkuk 90 derajat. "Sekali lagi saya minta maaf..." Sai membayar uang ganti rugi ke Takashi dan Takeshi.

"Lain kali jangan seperti ini lagi! Kami permisi!" Takashi dan Takeshi meninggalkan toko bunga Yamanaka...

.

.

.

.

.

'Ino cantik, kapan pulangnya? Aku lelah. Lebih baik aku disuruh bertarung melawan 10 ekor Bijuu dan Dewa-Dewi Ootsutsuki yang bersemayam di atas Bulan daripada harus seperti ini. Apanya yang ANBU? Misiku saja sebagai ANBU tidak sampai menguras chakra berlebih seperti ini. Mana aku bolos tugas patroli dua hari, dimarah-marahin Ibiki-san, belum sempat mengerjakan tugasnya Hokage-sama, belum revisi laporan misi minggu lalu. Kenapa kok hari-hari ini aku dimarah-marahin terus?' batin Sai benar-benar nelangsa.

The End/To be Continued?