Icha-icha Tactics: Taktik Ditinggal Isteri

Disclaimer: Naruto ©Masashi Kishimoto

Chapter 7: Taktik Memahami Puterimu (Sasuke×Sakura×Sarada)

.

.

.

.

Happy Reading

Tidak seperti pasangan lainnya, di keluarga ini, masalah dimulai begitu Sakura pergi. Sasuke merasa bahwa dia sedang memainkan peran Sakura yang bertugas untuk mencukupi gizinya dan putrinya.

Dan disinilah Sasuke sekarang. Di dapur, memecahkan telur menggunakan pedang Kusanagi dan mengocok telur menggunakan kunai. Setelah semuanya siap..

.

.

"Amaterasu!" Sasuke merapalkan jutsunya dan sukses, api hitam membara membakar kompor...

.

.

.

.

"PAPA! KAU BENAR-BENAR MENYEBALKAN! KENAPA MASAK HARUS PAKAI KUNAI, SHURIKEN, PEDANG, LALU PAKAI AMATERASU UNTUK MENYALAKAN KOMPOR?! TERUS KALAU TERBAKAR, KITA MAU TINGGAL DIMANA?! SHANNAROO!" Sarada muncul sambil marah-marah.

"Diamlah Sarada! Papa sedang menyiapkan makanan lezat dan bergizi untuk kita berdua.."

"TAPI PAPA HANYA MEMASAK TELOR CEPLOK SHANNAROOO! KITA PESAN DELIVERY SAJA! TOH, KOMPORNYA SUDAH TIDAK BISA DIPAKAI..." Sarada mengeluarkan ponselnya lalu memesan makanan lewat delivery. Hari pertama pun berakhir dengan bencana.

.

.

.

.

.

Di hari kedua, setelah sarapan (kompornya sudah selesai diperbaiki), Sasuke bersantai di ruang tengah sambil membaca gulungan misi dan minum teh. Kelihatannya sempurnya. Tapi, seperti kata Itachi, 'Terkadang realita yang kau hadapi saat ini adalah ilusi...', nyatanya hari yang menurut Sasuke sempurna, malah muncul masalah seperti ini...

.

.

.

.

.

.

"PAPAAAAAAAA!" Sarada menjerit dan menangis keras dari kamar mandi

"Ada apa, Sarada?" Sasuke melesat menuju kamar mandi dengan Sharingan dan Rinnegan menyala.

.

.

.

"Papa, ce...ce...celanaku ber..berda..ra..a..ah..dan perutku sakit sekali...hiks..." Sarada menangis sesenggukan.

"Ganti celanamu dulu, habis gini kita langsung ke dokter.." Sasuke panik tapi masih bisa mempertahankan wajah kalem dan tenangnya.

Setelah Sarada berganti pakaian, tangisan Sarada masih belum berhenti. Sarada masih menangis walaupun sudah tidak menjerit seperti tadi.

"Gimana? Masih ada yang sakit?" Sarada mengangguk

Tanpa babibubebo Sasuke langsung membopong Sarada menuju rumah sakit Konoha. Sesampainya disana, Sasuke tidak perlu bertanya ke resepsionis dimana ruangannya Tsunade. Sering babak belur sampai di opname di rumah sakit ketika pulang sehabis menjalankan misi membuat Sasuke hapal seluruh ruangan di rumah sakit ini.

.

.

"Tsunade, tolong Sarada! Sarada diserang Dewa-dewi Ootsutsuki dalam genjutsu... Tadi pagi dia baik-baik saja. Tidak lama kemudian, dia menangis dan menjerit dengan keras. Saat aku kesana, celananya berdarah dan perutnya sakit sekali..." Sasuke sedikit panik tapi masih bisa mempertahankan ekspresi Cool-nya.

Setelah diperiksa Tsunade, dan Sarada ditanyai ini dan itu...

.

.

.

.

Tsunade menggebrak meja (lagi) *untung tidak hancur*

.

.

"DASAR UCHIHA IDIOT! Ini bukan Serangan Ootsutsuki! Putrimu itu mengalami menstruasi pertamanya..." Tsunade menghela napasnya, "Makanya jadi ayah itu sering-seringlah pulang. Semua-semua dibilang karena ulah Ootsutsuki. Ya gini ini, kalau kelamaan berurusan dengan mereka tanpa ingat rumah.."

Sasuke hanya bisa terdiam saja. Dia juga kadang ada rasa menyesal karena kurang memperhatikan perkembangan puterinya.

"Ini aku cuma kasih obat pereda nyeri aja. Sarada-chan, selamat kamu sudah jadi anak remaja. Jaga diri baik-baik ya.." Tsunade menuliskan resep lalu menyerahkannya ke Sasuke.

"Terima kasih, Godaime-sama.." ujar Sarada. Lalu duo ayah anak Uchiha itu pulang ke rumah.

Untungnya Sakura masih punya sisa pembalut di lemari, jadi masih bisa tertolong. Untuk makan siang dan malam, masih bisa teratasi. Karena pulang dari rumah sakit, mereka makan di Ichiraku Ramen. Lalu malamnya, mereka memesan makanan delivery.

.

.

.

.

.

Hari ketiga, setelah Sarapan, Sasuke menghabiskan waktu dengan bersih-bersih rumah. Kadang dia berpikir kenapa Sakura dan Sarada tidak kelelahan membersihkan apartemen yang dipenuhi dengan barang-barang besar dan berat? Kadang pernah suatu kali saat Sakura atau Sarada sedang menyapu ruang tengah ketika Sasuke sedang duduk di sofa membaca gulungan misi atau sedang tidur siang, tiba-tiba sofa yang dia duduki atau tempat tidur yang dia tiduri diangkat tinggi-tinggi sama Sakura atau Sarada menggunakan satu tangan (dan Sasuke masih ada diatasnya) sehingga mereka bisa membersihkan kotoran dengan leluasa menggunakan tangan yang satunya lagi. Sedangkan dia? Menyapu dengan satu tangan, menggeser barang-barang berat dengan satu tangan, belum lagi membersihkan kamar, membersihkan dapur, mencuci baju menggunakan tangan satu-satunya yang dia punya dan itu sukses membuat Sasuke mengalami kelelahan luar biasa. Kadang Sasuke berpikir, Sakura dan Sarada itu dapat tenaga darimana atau chakra darimana untuk mengerjakan semua pekerjaan rumah tangga tersebut? Dan itupun mereka masih ada waktu untuk tampil cantik, berlatih, mengobati pasien, dan bertarung dengan sekuat tenaga seolah chakra mereka masih terisi penuh.

Bersih-bersih apartemen yang sempit saja sudah memakan waktu dari pagi hingga siang jam 2.

'Untung Sakura pergi liburannya saat rumahnya yang di kompleks Uchiha itu masih dalam proses renovasi..' batin Sasuke.

Bisa dibayangkan sendiri kalau Sakura pergi liburan disaat mereka masih tinggal di rumah besar yang ada di kompleks Uchiha, mau jadi apa tangannya Sasuke yang tinggal satu itu?

Sasuke mengistirahatkan tubuhnya yang pegal semua sehabis bersih-bersih rumah. Baru saja dia duduk santai...

.

"Papa, aku bocor. Belikan aku pembalut..." Kata Sarada.

.

Sasuke kaget. 'Masak laki-laki harus beli pembalut? Mau ditaruh mana harga dirinya yang terlalu tinggi itu? Apalagi kalau dilihat Naruto kalau dia membeli pembalut, runtuh hingga rata dengan tanah harga dirinya yang tinggi selangiiit itu...'

"Memangnya pembalutnya Sakura sudah habis?" Sarada mengangguk.

Sasuke memutar otak bagaimana caranya dia bisa pergi membeli pembalut tanpa ketahuan siapapun. Tidak mungkin menyuruh Sarada keluar Apartemen untuk beli sendiri. Saat ini, Sarada sedang dalam keadaan tidak bisa keluar kemanapun.

"Tunggu disini.." Sasuke keluar dari Apartemen.

.

.

.

Dan kini, seorang wanita berambut hitam panjang terurai, poni panjang hingga menutupi mata kirinya, tubuhnya proporsional dengan payudara berukuran B-cup, memakai dress mini ketat lengan panjang berwarna biru tua, dan sepatu wedges hitam dengan hak setinggi 5cm sedang berjalan menuju KonohaMart..

'Aku tidak menyangka kalau menyalin Oiroke no Jutsu-nya Naruto bakal berguna untuk situasi seperti ini..' batin Sasuke dalam hati.

Sepanjang perjalanan menuju KonohaMart, banyak orang-orang yang melihatnya, mengira kalau Sasuke versi cewek mirip dengan para model brand pakaian dalam 'Icha-icha Secret'.

Sesampainya disana, Sasuke membeli beberapa barang termasuk pembalutnya Sarada. Untung saja, kasir tidak mencurigainya. Hanya mengira kalau dia mirip seorang model brand pakaian dalam 'Icha-icha Secret' yang sedang naik daun.

.

.

Di perjalanan pulang...

.

.

"Eh, bukannya dia itu Sazuko Uchida-chan, model Icha-icha Secret yang terkenal itu?" Tanya Naruto

"Kyaaa... Sazuko Uchida-chan. Model terkenal untuk brand pakaian dalam Icha-icha Secret. Boleh minta foto bareng? Aku ini fans beratmu lhoo..."

.

.

Apes banget nasib Sasuke di hari ketiga ini. Gurunya yang kelewat mesum dan Hokage Oranye Bodoh ini mengira kalau dia adalah model brand pakaian dalam itu. Ditambah lagi, mereka menatapnya dengan mata berbinar-binar seolah-olah sedang menemukan 'Oasis di tengah-tengah Gurun Pasir Suna'.

"Cih.. aku tidak mau berfoto dengan pria tua berhidung belang. Pulang sana! Kalian kan sudah punya isteri..." Seketika itu Sasuke melesat pulang ke rumahnya. Dengan ini hari ketiga pun berakhir dengan bencana...

'Awas aja kalau Sakura pulang. Beraninya dia mencorat-coret harga diri seorang Uchiha..!' Sasuke geram dalam hati.

.

.

.

.

Hari keempat, jam 10.00 pagi, Sasuke mendapati puterinya sedang bermain boneka sendirian di kamarnya. Sasuke mengintip. Tampak Sarada memegang boneka mini Sarada dan Mitsuki.

.

.

"Mitsuki-kun..." Sarada bermonolog.

"I Love You..." Sarada menyatukan boneka mini Sarada dan mini Mitsuki sehingga mereka berciuman.

.

.

*BRAKKK...*

"Tidak boleh gadis kecil papa menyatakan cinta pada laki-laki apalagi kalau laki-lakinya adalah anak siluman ular tua yang tidak sadar umur. Laki-laki itu harus tahan dibakar Amaterasu dulu sebelum mendapatkan puteriku!" Sasuke membanting pintu kamar Sarada dan menunjukkan boneka mini Sasuke.

"Papa...!" Sarada kaget

"Sarada tidak boleh mencintai laki-laki lain selain papa! Selamanya Uchiha Sarada adalah gadis kecil papa..."

"Papa, kau menyebalkan.." cibir Sarada.

'Sakura, apa yang kau ajarkan pada bayi kecil dan mungil kita?!' batin Sasuke makin geram

.

.

.

.

.

Siang hari...

.

.

"Sudah kuduga Chouchou, keluar bersama dia itu sulit. Papaku lagi di rumah dan dia tidak mengijinkanku keluar dengannya.." Sarada menelpon Chouchou. Sasuke menguping..

"Nah itu dia Chouchou, aku takut Mitsuki-kun terkena Amaterasu papaku. Makanya aku sedang mencari cara agar malam ini aku bisa jalan sama dia..."

"Apa? Mencari hotel?! Itu bukan strategi yang bagus. Kau mesum, Chouchou.. aku tidak mungkin melakukan hal itu. Kita hanya kencan biasa. Keluar makan lalu pulang. Tidak lebih. Lagipula hubunganku dan Mitsuki-kun hanya sebatas teman..."

Sasuke mulai panas. Hotel? Mereka mau kencan di hotel? Sasuke sudah memasang Sharingan-nya..

"Aku tahu dia mencintaiku. Itu terlihat sekali di ekspresinya. Tapi dia belum berani menyatakannya padaku. Selain itu, kalau misi, perlakuan dia padaku sangaaaaaattttt manis dan romantis.. tidak seperti Baka Boruto." Cepat-cepat Sarada menyambung, "Tapi aku dan Boruto hanya sebatas kakak-adik saja tidak lebih. Perasaanku hanya untuk Mitsuki seorang. Ya sudah, aku tutup dulu ya. Cepat sembuh..." Sarada mematikan ponselnya.

"Malam ini kamu tidak boleh keluar kemana-mana. Titik!" Sukses, Sasuke dihadiahi ujaran 'Menyebalkan' oleh Sarada.

.

.

Malam harinya, Mitsuki datang ke rumah Sarada...

.

.

*Tok..tok..tok..

Sarada membukakan pintu..

"Mitsuki-kun.." Sarada memekik kegirangan. Sasuke mengintip dari jauh.

"Halo Sarada, halo paman Sasuke." Sarada mempersilahkan Mitsuki masuk.

"Paman Sasuke, ini bagus untuk kesehatan anda. Orangtuaku membuatkannya khusus untuk anda. Di bilang kalau aku ke rumah Sarada, aku harus membawakan ini untuk anda dan untuk bibi Sakura.." Mitsuki menyerahkan bungkusan berisi jus tomat 5 botol sedang dan paperbag 'Daifuku Strawberries' ke Sarada.

"Mamaku sedang pergi. Dan papaku tidak suka makanan manis. Bagaimana kalau kita memakannya sama-sama?" Kata Sarada. Mitsuki mengangguk.

"Tapi tetap kalian tidak boleh keluar kemana-mana. Ini sudah malam. Banyak penjahat dan orang mesum yang berkeliaran.." sahut Sasuke sinis lalu membawa 5 botol jus Tomat itu ke ruang tengah. Sekalian menguping pembicaraan dua sejoli di bawah umur.

.

.

"Mitsuki-kun, seharusnya kamu tidak usah repot-repot membawa semua ini." Tegur Sarada

"Tidak apa-apa. Dulu aku pernah dipinjami buku berwarna hijau tosca oleh Rokudaime. Di buku itu tertulis kalau kau mau kerumah anak perempuan, kau harus membawa sesuatu untuk orang tuanya. Untungnya orang tuaku membantuku menyiapkan segala sesuatunya sebelum aku kesini. Urusan uang tidak apa-apa... Kita kan sering menjalankan misi.." kata Mitsuki.

Keduanya mengobrol seputar misi, Boruto, hingga topik-topik lain. Ketika tanpa sadar jarak mereka mulai memendek...

*Jleb..*jleb...

Chidori Senbonnya Sasuke menancap di nyamuk yang berkeliaran di ruang tamu.

"Entah kenapa di rumah ini banyak nyamuk. Seharusnya aku beli obat nyamuk tadi.." sahut Sasuke. Seketika mereka mulai sedikit menjauh.

"Entah kenapa kamu semakin manis Sarada..." Mitsuki membuka obrolan. Sukses, pipi Sarada memerah seperti kepiting rebus.

*Jleb...*jleb...

Chidori Senbon Sasuke kembali mengenai nyamuk yang berkeliaran di ruang tamu.

"Ck.. kenapa nyamuknya tambah banyak ya?" Sahut Sasuke pura-pura tidak tahu.

Lama-kelamaan, mereka berdua juga sadar diri...

"Sarada, sepertinya ini sudah malam. Aku pulang dulu ya, selamat malam. Paman Sasuke saya pamit dulu.." Mitsuki pamit pulang. Ketika Sarada mengantarnya di depan pintu...

"Sarada, kalau kamu tidur, percayalah, aku sedang mengucapkan selamat tidur ke kamu. Tapi gak kedengaran.." kata Mitsuki. Sarada merona.

"Baiklah aku pamit dulu. Jangan merindukanku ya..." Kata Mitsuki.

"Kenapa?"

"Karena rindu itu berat. Kamu tidak akan kuat. Biar aku aja... Jaa ne.." lalu Mitsuki pulang.

.

.

.

*CKLEKKK...

.

.

.

"Papa dengar semuanya! Dasar Ular Tua Gak Sadar Umur! Kau harus menunggu selamanya kalau ingin berbesan denganku!" Sasuke mendengus.

"Papa menyebalkan!"

'Sakura, pulanglah... Biar kuberi kau pelajaran..' Sasuke makin geram sendiri...

.

.

.

.

.

Hari kelima, entah kenapa tubuh Sasuke rasanya remuk sampai ke tulang-tulang. Pekerjaan rumah tangga mulai dari masak, bersih-bersih, dan mencuci baju sukses membuatnya kelelahan luar biasa. Ditambah lagi insiden semalam yang membuatnya sesak luar biasa. Sarada juga banyak membantu, tapi tetap saja Sasuke masih merasakan kelelahan luar biasa...

.

.

'Ya ampun, tubuhku remuk... Sakura pulanglah. Aku sudah tumbang sekarang... Itachi tertawa di alam sana begitu melihat ini...' batin Sasuke makin nelangsa.

'Mama, pulanglah. Papa makin menyebalkan..' batin Sarada.

The End/To be Continued?

Author's Note:

Sorry telat karena Author kena Sariawan sampe pusing banget. Tapi ini sudah berangsur-angsur pulih kok..

Monggo di read and review...