Icha-Icha Tactics: Taktik Ditinggal Isteri

Disclaimer: Naruto ©Masashi Kishimoto
Chapter 8: Taktik Tidak Menggembel (Naruto×Hinata×Boruto×Himawari)

.

.

.

Happy Reading

Baru saja ditinggal Hinata pergi, Naruto sudah punya masalah baru yang pastinya lebih besar dari keluarga-keluarga lain. Lihat saja...

.

.

"Hinata-chan sudah pergi. Hidupku sengsara bagai di Neraka. Ditambah lagi ada Rakun Bodoh dan Bau yang cuma bisa diam di dalam ketel teh..." Kurama mendrama di dalam tubuh Naruto

"Apa katamu, Rubah sialan bau tanah? Aku tinggal di rumah ini karena disuruh Gaara ya! Kalau Hinata-chan pergi, siapa yang mau memanjakanku dan membelaku?! Aku ini kecil, lemah dan tak berdaya. Hanya Hinata-chan yang menyayangiku. Sekarang Hinata-chan pergi. Aku mah bisa apa? Aku mah apa?" Shukaku juga tak mau kalah mendrama.

'Oy..oy.. kalian berdua kan juga Bijuu bau tanah. Kalian lho sudah ada sejak Mbah mbah mbah mbah ku...' batin Naruto makin nelangsa.

"Onii-chan, Hima kangen mama.." ini krucil satu ini baru sedetik ditinggal mamanya, sudah kangen. Boruto hanya mengelus Himawari dengan kasih sayang.

.

Sedangkan Naruto karena daritadi nama Hinata disebut-sebut, Naruto yang awalnya bersemangat dan optimis bahwa dia bisa melakukan semuanya malah jadi begini...

.

"Hinata-chan...aku..benar...benar...menggembel...ttebayo...pulanglah..." Naruto pundung di pos jaga gerbang.

"Nah lihat perbuatanmu, Rubah bau tanah! Naruto stress karena ulahmu!" Shukaku mengejek.

"Apa katamu? Rubah bau tanah?! Kau yang lebih bau tanah daripada aku!" Kurama yang di tubuh Naruto tidak terima dirinya diejek bau tanah.

"Hoy..hoy...Shukaku sudahlah.. kita harus bisa. Kita harus buat Kaa-chan bangga.." kata Boruto. Naruto berbaring meringkuk di dekat pos jaga gerbang lagi..

"Hinata-chan...oh Hinata-chan... Liburannya masih lama ya?"

.

Naruto akhirnya memutuskan untuk membawa anak-anak dan Shukaku ke kantor Hokage. Hitung-hitung bekerja sambil mengawasi dan mengurus anak dan Bijuu. Pekerjaan di kantor juga tidak terlalu banyak. Akhirnya Naruto memutuskan untuk memulai rapat Bijuu..

"Yosh! Ayo para Bijuu berkumpul! Kita mau rapat dulu." Kata Naruto di alam Bijuu.

"Tidak mau rapat kalau tidak disuruh Hinata-chan! Udah gitu mana rapat Bijuu tidak disiapkan konsumsi lagi..." Kurama merajuk. Karena menyebut nama Hinata lagi, sukses Naruto tergeletak di lantai dengan tidak elitnya...

.
"Hinata-chan...oh Hinata-chan... Liburannya masih lama ya?"

"Tou-chan, ayo bangun! Nanti kalau dilihat orang, kita akan jadi bahan tertawaan.." kata Boruto.

"Tidak mau bangun kalau tidak dibangunkan Hinata-chan..." Naruto merajuk dan masih dalam posisi tergeletak dengan tidak elitnya.

"Papa, ayo papa bangun! Kurama-chan, Shukaku, tolong bantu papa!" Himawari merasa kasihan melihat papanya dalam kondisi seperti ini.

"Tidak mau membantu Naruto kalau tidak disuruh Hinata-chan..." Sahut kedua Bijuu bersamaan.

"Tou-chan ayo kita ke Ichiraku yuk.. kita makan dulu. Kalau sudah makan, pasti Kaa-chan pulang.." bujuk Boruto. Akhirnya Naruto bangkit dengan semangat dan pergi makan di kedai Ichiraku. Tenang saja, makan malam juga di Ichiraku. Jadi hari pertama keluarga Uzumaki, juga berakhir dengan bencana sama seperti keluarga sebelumnya.

.

.

.

.

.

Hari kedua, keluarga Uzumaki heboh bahkan lebih heboh daripada kehebohan Perang Dunia Shinobi IV atau Serangan Ootsutsuki. Masalahnya, Naruto bangun kesiangan. Karena bangun kesiangan, harus pergi bekerja sambil membawa dua anak kecil dan dua ekor Bijuu, Naruto hanya membangunkan kedua anaknya secara kasar. Alhasil, kedua krucil kebanggan Naruto rewel dan susah dibujuk. Akhirnya, Naruto menyiapkan secara asal kebutuhan anak-anak. Lumayan, anak-anak bisa mandi di kantor Hokage. Jadilah Naruto membopong dua anak yang salah satunya menangis rewel, yang satu terus menghadiahi pria nomor satu di Konoha dengan ujaran 'Kuso Oyaji', dan pertengkaran antar Bijuu. Untuk sarapan, mereka terpaksa sarapan ramen cup di kantor Hokage.

.

Di kantor, Naruto bekerja seperti biasa. Jadi anak-anak pergi makan siang di Kaminari Burger. Sebenarnya hari ini ada rapat, tapi diundur esok harinya karena Naruto dan Shikamaru tidak sempat menyiapkan apapun.

.

Sebagai Kage yang baik, Gaara memilih untuk datang H-1 rapat Kage. Karena datang lebih awal, Gaara menyempatkan diri untuk menengok Naruto. Alangkah terkejutnya dia ketika menemukan pemandangan ini di ruangan Hokage...

.

Naruto yang tergeletak tertelungkup di lantai dengan tidak elitnya...

"Naruto! Naruto! Ada apa?" Gaara panik.

"Aku menggembel-ttebayo..." Naruto loyo. Gaara melihat sekeliling, tidak ada tanda-tanda serangan musuh atau kudeta.

"Ayo berdiri dulu, Naruto.." Gaara membantu Naruto berdiri. Agak kesulitan karena Naruto lebih tinggi dari Gaara dan lebih berat dari Gaara.

"Tidak mau-ttebayo..."

"Trus maunya apa?" Gaara mulai kehabisan stok sabar. 'Untung teman sendiri. Kalau bukan, sudah ku kubur hidup-hidup pakai Sabaku Kyuu...' batin Gaara

"Maunya Hinata-chan..." Naruto merengek

'Inilah alasan aku tidak mau menikah selain karena tidak punya biaya...' batin Gaara miris.

.

.

*BRAKKK...*

"Naruto, ada apa ini?!" Iruka panik diikuti Boruto, Himawari, dan Hiashi Hyuuga

"Ada apa menantuku? Ayo bangun! Seorang Hokage tidak boleh terlihat seperti ini. Apalagi disini ada Kazekage Suna..." Hiashi membantu Naruto berdiri dan mendudukkannya di kursi Hokage.

"Aku menggembel ditinggal Hinata-chan, dattebayo..." Naruto loyo. Hiashi dan Iruka tidak perlu bertanya lagi karena sebelumnya, mereka sempat bertemu dua bocil bermata Sapphire di lantai bawah. Boruto menceritakan semuanya sepanjang perjalanan menuju lantai atas.

"Naruto, Shukakunya biar aku bawa saja ya..." Gaara menawarkan diri.

"Aku tidak mau ikut Gaara kalau tidak disuruh Hinata-chan!" Shukaku merajuk.

.

.

"Naruto, anak-anak titip di aku saja.." Hiashi menawarkan diri

"Oh, tidak semudah itu Fergusso! Anda kan sudah sering merasakan bahagianya mengurus Boruto dan Himawari. Tolong gantian sama yang jomblo abadi!" Sahut Iruka

"Anda kan masih kerja. Kasihan kalau Boruto dan Himawari ditinggal sendirian di kos-kosan. Ngalah sama pensiunan!" Hiashi tidak mau kalah.

"Tidak Ani! Kalau Boruto dan Himawari dititipkan di kediaman Hyuuga, mereka akan dipaksa makan masakan Hanabi yang rasanya bahkan masih lebih enak rasa kotoran Bijuu!"

"Cukup Roma! Kalau itu masalahnya, klan Hyuuga punya 20 orang pembantu yang siap memasak makanan enak, lezat, dan bergizi untuk Boruto dan Himawari. Akan kupastikan Hanabi tidak ikut campur dalam pembuatan makanan mereka..."

Seketika Iruka punya ide, "Hmm.. atau begini saja, Boruto dan Himawari akan kubawa ke Konoha Day Care. Konoha Akademi memiliki Konoha Day Care yang berfungsi sebagai tempat penitipan anak yang buka dari jam 07.00-16.00. Jadi Orang tua yang bekerja atau sedang menjalankan misi bisa menitipkan anaknya disitu. Disana banyak permainan yang bisa dimainkan anak-anak, teman-teman yang baik dan sebaya dengan mereka, pengajar yang ramah, dan aktivitas yang seru sekaligus mendidik sehingga mereka tidak bosan dan mendapatkan ilmu baru. Selain itu, aku juga bisa mengawasi mereka.."

"Kalau otakmu tidak korslet, Naruto tidak hanya menitipkan anak, tapi juga Bijuu lho.. Bijuu! Kau mau keselamatan anak-anak terancam?!"

"Sekarang Bijuu sudah ramah terhadap manusia, kalau otakmu belum balik dari zaman Madara..." Sahut Iruka

Tanpa mereka sadari, Gaara ngacir dari kantor Hokage menuju rumah Shikamaru setelah gagal membujuk Shukaku agar ikut bersamanya, "Untung aku tidak menikah..." Gaara mengelus dada.

"Demi Dewa! Cukup Tapasya! Aku tidak menerima bantahan! Boruto dan Himawari tetap dititipkan di rumah Hyuuga!"

"Tidak! Aku tidak mau anak-anak keracunan masakan Hanabi! Lagian disana juga tidak ada sesuatu yang bisa dimainkan anak-anak..."

"Jangan melawan orang tua! Kamu mau kena azab kesambar petir, trus mayatmu kecemplung mesin molen, trus kuburanmu disambar meteor, hah?!" Sahut Hiashi karena merasa rumahnya diejek.

"Kumenangis... Membayangkan.. betapa kejamnya dirimu atas diriku..." Iruka mendrama.

.

.

'Sudah kuduga mereka ini keracunan sinetron Sunagakure-ttebasa..' cibir Boruto dalam hati

"Oy.. hentikan-ttebayo!" kata Naruto pelan.

"Onii-chan.." cicit Himawari memeluk Shukaku dan Boruto

.

.

"OEYY... HENTIKAN-TTEBAYO! INI RUANGAN HOKAGE! KALAU MAU RIBUT DILUAR AJA SANA!" Naruto sudah tidak tahan dengan keributan antara ayah angkatnya dan mertuanya.

"Begini saja, biar adil, 2 hari di rumah Otou-sama, 2 hari di rumah Iruka-sensei. Shukaku ditaruh di rumahku aja Gimana?"

"Tidak mau Tou-chan! Masakan bibi Hanabi tidak enak-ttebasa!" Sahut Boruto cepat.

"Hima tidak mau berpisah dengan Shuka-ku, papa..." Himawari rewel. Keadaan makin susah di kendalikan.
'Hinata-chan.. oh Hinata-chan... Pulanglah-ttebayo... Liburannya masih lama ya?' batin Naruto nelangsa. Dengan ini hari kedua pun selesai dengan rusuh.

.

.

.

.

.

Hari ketiga sesuai rencana, Naruto menitipkan kedua anaknya di mertuanya. Shukaku ikut Naruto karena di rapat nanti, Shukaku hadir sebagai saksi atas kasus penyerangan Ootsutsuki di Sunagakure. Persetan dengan anak-anak yang rewel karena tidak rela dititipkan di rumah kakeknya. Bahkan Naruto belum membersihkan rumah, mencuci piring, mencuci baju, dan pekerjaannya Naruto juga belum selesai.

Naruto tidak habis pikir bagaimana cara Hinata menyelesaikan itu semua? Kalau anak-anak dan dua ekor Bijuu ini berantem, bagaimana cara Hinata melerainya? Bagi Naruto, itu masih menjadi misteri hingga kini...

Sepulang rapat, Naruto menemani Gaara ke Ichiraku. Di tengah perjalanan, Naruto melihat anak-anaknya sedang dipalak oleh sekelompok shinobi preman bertubuh besar dan kelihatannya Boruto juga kewalahan menangani musuh tersebut.

"Kurama, ayo bantu aku! Kita tolong anak-anak..." Naruto membentuk segel

"Tidak mau kalau bukan Hinata-chan yang nyuruh.." Kurama tidur lagi.

"Hinata-chan..oh Hinata-chan... masih lama ya liburannya?" Naruto pundung lagi di pojokan

"Shukaku, ayo kita tolong Naruto. Naruto sudah baik sama kita..." Gaara membentuk segel untuk membuat Shukaku kembali ke wujud aslinya

"Tidak mau kalau bukan Hinata-chan yang nyuruh.." Shukaku ikut-ikutan.

Gaara heran, 'Entah apa yang merasukimu? Hingga kau tega mengkhianatiku yang dulu mencintaimu...' batin Gaara nelangsa karena Shukaku tidak menurut padanya

"Baiklah.. Sabaku Kyuu!" Tanpa babibubebo Gaara mengubur hidup-hidup preman-preman tersebut menggunakan jutsu pasir.

Setelah makan ramen, Gaara memutuskan untuk pulang ke rumah Shikamaru. Jadi Naruto kembali ke kantor sendirian. Beruntung di perjalanan, dia berpapasan dengan Kakashi.

Tiba-tiba, bagai menemukan Oasis di Gurun Pasir Suna, Naruto dan Kakashi berpapasan dengan model untuk brand pakaian dalam 'Icha-icha Secret'. Bodohnya lagi, mereka tidak tahu kalau itu adalah Sasuke versi Oiroke no Jutsu (liat di chapter sebelumnya)..

.

.

.

.

.

Hari keempat anak-anak dan seekor Bijuu dititipkan di PMI (Pondok Mertua Indah). Beruntung sejak kemarin hingga sekarang, tidak ada campur tangan Hanabi dalam pembuatan makanan mereka karena Hanabi sedang ada misi panjang...

"Aku lelah-ttebayo... Hinata-chan dapat tenaga darimana untuk membersihkan rumah sebesar ini?" Naruto baru saja menghilangkan Kage Bunshinnya setelah bersih-bersih rumah. Untuk makanannya, dari sarapan hingga makan malam, Naruto dan anak-anak makan di Ichiraku ramen.

.

.

.

.

.

Hari kelima, masalah makin menjadi...

"Tidak! Hima akan membawa Shukaku. Titik!" Himawari menarik lengan kiri Shukaku

"Tidak boleh Hima! Kita ini mau ke Konoha Daycare. Nanti anak-anak pada takut lho .." Boruto menarik lengan kanan Shukaku

"Aku tidak mau kemana-mana kalau tidak disuruh Hinata-chan!" Teriak Shukaku

"Whoey! Rakun Bau Tanah! Hinata-chan itu punyaku! Kamu itu cuma numpang. Tahu diri dong!" Kurama yang ditubuh Naruto tidak terima

"Whoey.. sudah jangan berkelahi.." kata Naruto.

.

.

*DUKKKK...*

Seketika Naruto, Boruto, Shukaku, dan Kurama di perut Naruto dihantam Jyuuken-nya Himawari. Namun, karena Himawari belum bisa mengontrol chakra dengan baik, Himawari langsung pingsan karena kelelahan...

.

.
"Hinata-chan... Tolong aku-ttebayo..." Kata Naruto tertatih

.

.
Sepertinya ini tidak akan mudah bagi pak Hokage kita sampai para isteri pulang...

The End/To be Continued?