Icha-icha Tactics: Taktik Ditinggal Isteri
Disclaimer: Naruto ©Masashi Kishimoto
Chapter 9: Istirahat? Tidak Semudah itu Fergusso
Happy Reading
Liburan para isteri berlangsung sangat menyenangkan. Fasilitas, promo, dan harga yang ditawarkan sangat sesuai dengan kebutuhan para isteri. Lihat saja sekarang, para isteri sedang menikmati pijatan punggung setelah mandi bunga.
"Ah.. nyamannya... Pijatannya enak, kolamnya bersih dan aman dari pria hidung belang, bunganya segar dan wangi, pemandangannya bagus. Pokoknya recommended banget deh..." Ino menikmati pijatan punggung.
"Ngomong-ngomong, setelah tahu tempatnya aku baru ingat kalau aku dan Sasuke-kun pernah kesini setelah menikah dan aku belum hamil Sarada. Pemandian ini belum ada. Dan kalau menempuh beberapa 6 kilometer ke arah tenggara, disitu ada pusat oleh-oleh lho.. Terus, kalau kita naik perahu 30 menit dari sini, kita bisa sampai ke desa kecil dekat Kirigakure. Disana ada pantai yang masih bersih dan belum terjamah orang. Pas banget pokoknya untuk bulan madu..." Sakura menjelaskan panjang kali lebar sama dengan luas.
"Hei jidat, kenapa baru bilang sekarang? Huh, enak sekali kau punya suami suka jalan-jalan ke tempat jauh.. Sai walaupun ANBU misinya tidak pernah sampai ke tempat-tempat yang kau sebutkan itu." Ino iri
"Hey Pig, IQmu itu berapa hah? Aku dan Sasuke-kun tidak hanya bulan madu, tapi sedang menjalankan misi!" Sahut Sakura tidak terima
"Ah, mendengar ceritanya Sakura aku jadi ingin menambah liburan dan ingin kesana. Kapan lagi kita bisa kesana? Mumpung suami-suami kita ngasih jatah liburan. Kita perpanjang aja liburannya. Toh juga suami-suami kita sudah pada jago mengurus rumah tangga dan mengurus anak.." kata Temari
"Ya sudah, kita tambah aja liburannya jadi seminggu. Total kita meninggalkan suami dan anak jadi 2 minggu. Gitu aja kok susah..." Kata Karui
Hinata yang sedari tadi terdiam ketika mendengar teman-temannya ingin menambah liburan awalnya sangat senang sekali. Namun, terlintas di pikirannya tentang keadaan suami, anak-anaknya, dan dua ekor Bijuu yang di rumah, timbul kekhawatiran dalam benak Hinata...
"A..a..a..ano, apa tidak apa-apa kita menambah liburan? Kita sudah meninggalkan suami dan anak-anak terlalu lama. Aku jadi khawatir keadaan Naruto-kun, anak-anak, Shukaku, dan Kurama. Apa mereka baik-baik saja? Rasanya aku ingin pulang sekarang sebelum mereka membuat kekacauan yang lebih parah.."
"Hmmmm... Iya ya. Gimana ya Sasuke-kun dan Sarada-chan di rumah? Jangan-jangan makin lebih dingin dari Kutub Utara..." Kata Sakura
"Ah iya ya... Tokoku rugi berapa milyar ya? Kuharap Sai tidak melewatkan jam makan Inojin-kun..." Ino mulai panik
"Dua Babi Guling itu gimana keadaannya? Mau pulang sekarang tapi kita belum beli oleh-oleh. Apa kita pulang dengan tangan kosong saja? Ini kan hari keenam." Kata Karui.
"IBU-IBU KONOHA, KALIAN MAU PULANG SEKARANG TANPA BELI OLEH-OLEH?! HARAM HUKUMNYA! KITA KE TEMPAT YANG DIBILANG SAKURA DULU BARU KITA PULANG!" Temari naik darah.
"Semuanya, sepertinya begitu kita pulang, tugas kita akan menambah 100 kali lipat deh.. aku punya firasat buruk kalau begitu kita pulang, pekerjaan rumah tangga kita belum sepenuhnya beres terus suami dan anak kita sudah tepar duluan..." Hinata cemas. Ibu-ibu mulai panik
"Shannaroo! Kita ini ibu-ibu Konoha yang selalu ada tenaga entah datangnya darimana. Pekerjaan seperti itu tidak akan menguras chakra kita." Sakura menenangkan. Ibu-ibu mengangguk setuju.
"Iya. Tidak ada kata istirahat dalam liburan. Yosh! Manfaatkan hari terakhir kita tanpa penyesalan, ibu-ibu Konoha!" Kata Ino dengan semangat.
Biasanya kalau hari terakhir liburan, capeknya mulai terasa dan memanfaatkan sisa liburan dengan istirahat. Tapi sepertinya ibu-ibu ini tidak bisa istirahat disaat hari terakhir liburan...
.
.
.
.
.
Di malam hari kelima ini, para suami sudah berada di ambang batasnya. Naruto yang tepar sehabis dihantam Jyuuken oleh putrinya sendiri, Sasuke yang badannya terasa remuk sampai ke tulang-tulang, Shikamaru yang tepar setelah dibabui oleh Sabaku bersaudara, Sai yang lelah tubuh dan jiwa menghadapi hujan komplain dari pembeli, dan Chouji yang mulai mengalami masalah pencernaan karena makan makanan yang kurang layak.
.
.
Grup chat para suami...
Naruto: Aku tak tahan lagi, dattebayo.. *tear* aku dan Kurama benar-benar menggembel sekarang... *tear* *sad*
Shikamaru: Sepertinya kita salah menjadwal rapat Kage. Aku jadi Cinderella di rumahku sendiri ..
Sai: Ada yang tahu gak cara cepat menangani komplain pembeli? Aku lelah...
Chouji: Ada yang tahu gak obat sakit perut yang lebih mujarab?
Shikamaru: Kemana si Uchiha? Kok gak nongol?
Sai: Mungkin dia bisa mengatasi semuanya deh...
Shikamaru: Wah hebat dia...
Naruto: APA?! DIA LEBIH HEBAT DARI AKU?! DEMI DEWA! TIDAK SEMUDAH ITU TAPASYA!
.
.
.
.
Namun kenyataannya, Sasuke sedang dalam keadaan tidak bisa membuka ponselnya sekarang. Badannya serasa pegal dan remuk hingga ke tulang. Kepalanya sangat pusing hingga tak mampu membuka mata. Makanya dia tidak bisa respon di grup chat suami...
.
.
.
.
Hari keenam, di keluarga Nara, duo Sabaku yang menyusahkan Shikamaru pulang ke Suna. 'Akhirnya aku merdeka dari penjajahan...' batin Shikamaru.
Kembali lagi, menurut kata Pain 'Realita itu kejam...' nyatanya penjajahan Shikamaru tidak berhenti sampai Gaara dan Kankurou...
"SHIKAMARU! KAMU INI GIMANA? NGURUS RUMAH GAK BECUS! LIHAT ITU HALAMAN DEPAN DAN BELAKANGMU KAYAK KUBURAN AJA. KUBURAN KONOHA AJA MASIH LEBIH LAYAK DARIPADA HALAMANMU. CEPAT BERSIHKAN!" Tetua klan Nara yang lewat di depan rumah Shikamaru meneriaki Shikamaru karena tidak membersihkan halaman.
"Ck.. mendokusai! Istirahat dulu.." sahut Shikamaru sambil merokok
"Kalau kamu masih ada tenaga untuk merokok, berarti kamu juga masih ada tenaga untuk membersihkan halaman. Cepat bersihkan! Malu-maluin keluarga Nara aja..."
Sepertinya tidak mudah untuk mengambil jatah istirahat bagi seorang Nara Shikamaru.
.
.
.
Beruntung, Chouji sudah mulai mahir memasak meskipun hanya masak telur ceplok. Mulesnya Chouchou juga benar-benar pulih. Akhirnya mereka memutuskan untuk membersihkan rumah..
Baru aja selesai membersihkan ruang tamu, perut mereka keroncongan lagi. Masak lagi, makan lagi...
Setelah terisi, mereka memutuskan untuk bersih-bersih kamar. Setelah bersih-bersih kamar, perut keroncongan lagi. Masak lagi, makan lagi...
Setelah makan, waktunya membersihkan kamar mandi. Setelah semua selesai, masak lagi, makan lagi. Sepertinya untuk duo Babi Guling ini juga tidak ada waktu untuk istirahat...
.
.
.
"Whoey! Bisa kerja gak sih?! Masak bunga dukacita kayak bunga kelulusan?"
"Aduhh kok jelek banget sih potongannya? Bunganya bangus lho padahal.."
"Hey, mana pesanan saya!? Saya udah antri dari toko buka dan belum dilayani..."
"Tou-chan, delivery makanannya sudah sampai mana?" Inojin bertanya sambil menyerahkab pesanan ke pelanggan yang sudah antri daritadi
"Sebentar ya..sebentar.. Ano Inojin, deliverynya dicancel karena kehabisan stock. Tolong bantu pesankan yang lain ya..." Kata Sai. Inojin mengangguk.
"SAI! AKU TUNGGU KAMU GAK DATANG-DATANG. KAMU UDAH BOLOS BERAPA HARI HAH?!" Sahut Izumo marah-marah di telepon.
"SAI! MANA KAMU? KITA ADA BARANG BUKTI BARU KASUS PENYALAHGUNAAN OBAT-OBATAN DAN NINJUTSU TERLARANG..." Ibiki marah-marah di ponselnya Sai yang satunya.
"Sai-sensei, kita kapan kumpulnya. Katanya kita mau bahas misi untuk lusa.." kata Houki di ponselnya Inojin.
"Ya ampun kenapa pekerjaan terus berdatangan tapi nona Cantik belum datang-datang juga?" Sepertinya Sai juga tidak ada waktu untuk istirahat.
.
.
.
"Naruto, aku menggembel..." Kata Kurama
"Aku lebih menggembel, dattebayo..." Naruto tidak mau kalah.
"Tidak boleh Hima! Tidak boleh membawa sembarangan Bijuu kemana-mana..." Teriak Boruto di kamar.
"Hima tidak mau pisah dari Shukaku!" Teriak Himawari
"Aku tidak mau kemanapun kalau tidak disuruh Hinata-chan!" Teriak Shukaku
'Berantem lagi...' batin Naruto. Naruto cepat-cepat pergi ke sumber suara sebelum mereka membuat kekacauan lebih parah.
"Whoey, sudah tidak boleh berkelahi!" Naruto melerai duo krucil kebanggaannya.
"Whoey, Rakun Bodoh bin Bau Tanah! Hinata-chan itu Ratunya Konoha, bukan Ratunya Suna. Kau suruh Gaara cari isteri biar bisa buat dimanja-manja!" Kurama tidak terima perhatian Hinata untuknya terbagi-bagi.
.
.
*DUKKK...*
Sepertinya pak Nanadaime Hokage juga tidak mendapatkan jatah istirahatnya.
'Dan terjadi lagi... Kisah lampau yang terulang kembali... Ku menggembel lagi...' batin Kurama dan Naruto yang lagi-lagi tepar karena dihantam Jyuuken oleh Himawari.
.
.
.
Kalau para suami bilang Sasuke itu berhasil menyelesaikan tugasnya dengan baik, itu adalah salah besar. Nyatanya, pekerjaan Sasuke belum selesai semua. Sarada juga membantu. Tapi tetap saja bekerja dengan satu tangan membuatnya kelelahan setengah mati..
"Papa, kalau capek istirahat saja. Biar aku yang mengerjakan sisanya.." kata Sarada. Sasuke mengiyakan
"Papa, nanti malam aku dan Mitsuki-kun mau pergi ke Kaminari Burger untuk membahas misi berdua minggu depan. Makan malamnya sudah aku masakin kok..." Kata Sarada.
Sepertinya Sasuke juga dapat misi memata-matai putrinya. Sudah capek hingga badan remuk sampai ke tulang-tulang, kepala masih pusing dan terasa berat sampai susah untuk membuka mata, mau istirahat tapi tidak bisa karena dia mau mengawasi putrinya plus meng-Amaterasu bocah siluman ular itu. Doakan saja semoga dia masih kuat...
.
.
.
.
Di lain tempat, para isteri sudah sampai ke tempat yang dimaksudkan Sakura. Mereka membeli beberapa oleh-oleh dan bermain di pantai.
"Bagus bangeett... Aku ingin mengajak Naruto-kun dan anak-anak kesini..." Kata Hinata
"Iya. Huh, kenapa liburannya cepat berakhir ya? Padahal aku masih kepengen liburan. Mana tempatnya bagus banget lagi.." sesal Ino
"Hey Ino, inget suami, anak, toko. Nanti kan kita bisa kesini lagi..." Sahut Temari.
"Kira-kira nih, kalau kita pulang trus kerjaan di rumah gak beres, anak gak keurus, enaknya kita apain ya suami kita?" Tanya Karui
"Hhhhh... Mau bagaimana lagi? Pengen aku terbangin ke Suna tapi kasihan Naruto nanti kerjaannya dia keteteran. Paling rumah gak beres hanya 20% kok.." kata Temari menghela napas mencoba untuk optimis.
"Iya. Percaya saja sama suami-suami kita.." kata Hinata
"Kapan-kapan kita kesini yuk ngajak anak kita. Suami di rumah aja.." kata Sakura. Ibu-ibu setuju banget dengan usul ini..
.
.
.
.
.
Kira-kira pas para isteri pulang, gimana jadinya ya rumah? Beres atau enggak? Kita lihat saja...
The End/To be Continued?
