Icha-icha Tactics: Taktik Ditinggal Isteri

Disclaimer: Naruto ©Masashi Kishimoto

Chapter 10: Taktik biar Cepat Ketemu Suami

Happy Reading

Hari ketujuh setelah sarapan di pantai yang disebutkan Sakura, para isteri memutuskan untuk pulang ke Konoha sebelum para suami dan anak-anak membuat kekacauan semakin parah. Mereka naik perahu kecil untuk transit ke Kirigakure karena rutenya lebih dekat.

"Akhirnya ya kita bisa pulang. Kira-kira rumah hancur gak ya?" Kata Ino

"Semoga saja tidak. Kan kita harus percaya sama suami-suami kita.." kata Hinata.

"Ngomong-ngomong ya, kita ini kan transit dulu ke Kirigakure tuh. Katanya nih ya, katanya, Godaime Mizukage itu punya hubungan spesial lho sama Rokudaime Hokage. Lebih dari sekedar teman politik..." kata Temari

"Oh ya?!" Ino yang mendengar gosip dari Temari telinganya gatal ingin mendengar.

"Ah, mungkin saja Godaime Mizukage-sama itu sedang menyambut Kakashi-sensei saat kunjungan ke Kirigakure.." kata Sakura

"Hey bu Sakura, masak kamu gak tahu? Kan Rokudaime Hokage itu orang terdekatmu lho. Harusnya kalau skandal dari orang terdekat itu kamu langsung cepet tanggap. Ini kok malah aku orang luar yang dari Suna yang paling cepet tahu.." kata Temari

"Lho tahu darimana? Gaara? Kankurou? Baki-san? Shikamaru?" Tanya Ino

"Haduhh bu Ino, informasi dari orang terdekat itu lama banget nyampenya. Aku ini baca di internet lho. Di sosial media..." kata Temari

"Eh tapi kan informasi dari internet dan sosial media kan belum tentu benar. Lagian tidak mungkin lah seorang Kage berbuat seperti itu. Bisa jadi masalah besar lho antar desa..." kata Hinata

"Iya sih. Memang Godaime Mizukage-sama memang cantik dan seksi. Tapi dengan uang pensiunannya gak mungkin lah dia sampe melakukan hal seperti itu.." Ino menambahkan

"Hey bu Ino, bu Hinata. Kalau gak percaya, ini lho buktinya.." Temari mengeluarkan ponselnya dan menunjukkannya ke ibu-ibu

"Hmm.. lihat ini ibu-ibu Konoha. Kelihatan lho dari fotonya, statusnya kalau Godaime Mizukage itu ternyata perempuan gak bener..." Kata Temari.

"Hii.. iya. Ih jadi perempuan kok murahan banget gitu lho ibu-ibu..." Ino gregetan sehabis lihat foto yang ditunjukkan Temari. Ibu-ibu setuju dengan Ino

"Eh iya lho bu Temari, aku baru inget lho, aku pernah lihat Orochimaru jalan-jalan mesra sama Godaime Mizukage di Mall. Terus besoknya, dia nemenin Daimyo Konoha yang katanya punya 7 istri itu ke pemandian air panas. Ih.. jangan-jangan ada apa-apa itu.." Karui menambahkan

"Nah itu dia ibu-ibu, makanya punya suami itu kudu dijaga. Suami-suami kita ini kan deket banget sama petinggi-petinggi desa. Takutnya ya, suami-suami kita itu malah kecantol trus lupa istrinya siapa..." Temari sinis.

"Lagian ya, ibu-ibu, apa wajar hanya dengan mengandalkan uang pensiunan Mizukage, barang-barang bermerek dan mahal itu mampu kebeli dalam waktu singkat? Enggak kan?! Dari situ aja udah ketahuan kok kalau dia itu kerjanya gak bener. Ada sampingan lain..." Kata Temari. Ibu-ibu mengangguk.

"Tapi kan Kakashi-sensei kan belum menikah. Jadi wajar dong kalau dia menjalin hubungan dengan Mizukage?" Tanya Sakura

"Lho ya gak wajarlah, bu Sakura. Lagian ya, kasihan lho Kakashi-sensei kalau pacaran sama Mei Terumi-sama. Sering diselingkuhi bolak balik lho. Kan nona Mizukage itu jajannya sama om-om.." jawab Temari

Tiba-tiba, Hinata mabuk laut hingga muntah. Ditambah lagi, ibu-ibu Konoha ini juga harus bersembunyi dari tim patroli Kirigakure karena kalau mau masuk Kirigakure, harus membawa surat misi atau surat kunjungan. Nah, ibu-ibu Konoha ini tidak punya surat kunjungan atau surat misi. Jadilah ibu-ibu ini bersembunyi sambil menyembuhkan Hinata.

.

.

.

.

"Maaf semuanya. Aku terus menggunakan Byakugan untuk berjaga-jaga kalau ada musuh atau tim patroli Kirigakure. Jadi aku kecapekan..." Kata Hinata

"Tidak apa-apa Hinata..." Kata Sakura sambil mengalirkan jutsu medisnya.

"Eh ngomong-ngomong ya ibu-ibu soal muntah, dua minggu lalu, aku habis nemenin Gaara rapat Kage sampai malam. Terus aku pulang sama Gaara dan Kankurou. Ketemu Godaime Mizukage lagi muntah-muntah di dekat taman Senju. Trus Gaara sapa dia, eh malah cuma dilihatin trus ditinggal pergi. Apa itu coba kalau bukan untuk menyembunyikan muntah hamil?" Temari membuka pembicaraan.

"Lho emangnya muntah hamil sama muntah masuk angin itu beda ya?" Tanya Hinata yang baru sembuh dari mabuk laut

"Ya jelas beda Nyonya Uzumaki. Anda kan sudah hamil dua kali, pasti ngerti kan bedanya muntah hamil sama muntah masuk angin. Ya gak bu Sakura?" Kata Temari

Sakura belum sempat menjawab sudah dipotong duluan sama Karui, "Eh iya lho bu Temari, aku dulu waktu hamil Chouchou itu ya muntahnya gimana ya? Kayak muntah gak ada isi gitu.."

"Nah kan apa aku bilang? Muntahnya jelas beda ibu-ibu..." Cibir Temari

"Lho, seharusnya kalau hamil kan perutnya kelihatan banget. Itu lho perutnya Godaime Mizukage tetap rata, tidak ada perubahan.." kata Sakura

"Yaelah Nyonya Uchiha, anda kan kepala Ninja Medis, pasti ngerti lah cara menyembunyikan kehamilan. Lagian jaman sekarang itu ya, anak-anak muda itu pada pinter kok menyembunyikan kehamilan.." Temari sinis

"Duh aku kok kebelet buang air besar ya? Pak, ini masih lama ya? Aku kebelet Buang Air Besar nih?" Teriak Ino

"Ini lho bu Ino, aku bawa batu. Coba dipegang-pegang dulu siapa tahu kebeletnya hilang.." Karui memberikan batu kerikil kepada Ino

"Aih, batumu gak mempan. Pak, kita berhenti dulu!" Teriak Ino. Seketika pria pendayung perahu itu memberhentikan perahunya di tengah-tengah laut.

"Mari bu, bisa buang hajat disini..." Kata pria itu

"Lho? Kok kita disuruh buang air di tengah-tengah laut? Gak mau! Nanti kalau ada Sanbi nongol gimana?! Takut aku! " Ino sewot. Akhirnya, perjalanan dilanjutkan dan ternyata hanya memakan waktu tiga menit untuk sampai ke Kirigakure.

"Ayo ibu-ibu Konoha yang mau ke toilet cepetan. Habis itu kita naik lagi menuju perbatasan Konoha. Gak boleh lama-lama, nanti ketahuan sama tim Patroli Kirigakure.." kata Temari turun duluan. Beberapa ibu-ibu turun dari perahu menuju toilet.

.

.

.

Sambil menunggu ibu-ibu yang lain di toilet, Temari dan Sakura sudah selesai terlebih dahulu...

"Pak, bapak ini dari desa Yugakure ya?" Tanya Sakura basa-basi

"Saya sekeluarga tinggal di Konoha cuma saya ke Yugakure dan Kirigakure untuk bekerja. Anak dan istri di rumah.." kata pria itu. Temari dan Sakura hanya ber-oh ria.

"Ini pak, dari ibu-ibu buat tambah-tambah..." Temari mengeluarkan amplop dari tasnya

"Lho sudah bu. Kan sudah dibayar di depan.."

"Pak, jangan diterima itu pak. Gak berkah. Itu supaya bapak memilih Shikamaru-san untuk maju jadi Hokage berikutnya.." kata Sakura. Ketika pria pendayung perahu itu mau mengembalikan amplopnya...

"Hiiihh, ya ampun! Eh bu Sakura, kalau ngomong dijaga ya! Udah pak terima aja! Saya ikhlas seikhlas-ikhlasnya lahir dan batin. Ini murni tulus dari hati lho pak.." Temari mendorong amplopnya

"Hei bu Temari, daripada Shikamaru yang jadi Hokage selanjutnya, mending suamiku aja. Suamiku tuh ya, kalau kerja itu cekatan banget. Cak cek cak cek gitu... Toh ya, kalau suami saya jadi Hokage, bapak bakal dapat fasilitas kesehatan dan pendidikan gratis tis tis tis.. trus kalau opname, langsung masuk kamar kelas VIP dan ditangani oleh Ninja Medis yang berpengalaman di bidangnya sampe tuntas. Udah gitu, BLT turun setiap bulan dengan tepat sasaran.." Sakura membetulkan rambutnya

"Lagian, kalau suami saya jadi Hokage, anda kan gak perlu kerja jauh-jauh. Lapangan kerja terbuka luas di Konoha. Kalau urusan keamanan dan kenyamanan desa pak, jangan remehkan Uchiha. Begitu kelihatan ada orang mencurigakan mau berbuat jahat, sebelum menyentuh gerbang Konoha langsung di Amaterasu. Ada kerusuhan di dalam desa, langsung di genjutsu biar pada tobat semua." Sakura melanjutkan pembicaraannya

"Eh Nyonya Uchiha, anda kan harusnya sadar suami anda itu Mantan Ninja Buronan kelas Internasional. Pak, anda mau punya Hokage bekas Ninja Buronan kelas Kakap? Mending bapaknya Shikadai aja yang jadi Hokage selanjutnya. Bersih, jujur, adil, kerja nyata, kerja cerdas, amanah pula..." Temari mengebaskan kipas kecilnya.

"Eh, jaga mulutnya ya bu! Suami saya itu sudah tobat. Sekarang dia sudah banyak membantu Konoha lho..." Sakura sewot.

"Eh tapi kasihan lho bu Hinata itu, suaminya sibuk jadi Hokage, anak sama Bijuu hampir keteteran di rumah. Suaminya juga nyaris keteteran di kantor. Trus udah gitu Naruto itu agak mesum, gak bisa diem kalau lihat cewek secantik model Icha-icha Secret lewat. Kan kasihan bu Hinata..." Sakura mengalihkan pembicaraan

"Eh iya lho.. udah waktunya itu ganti Hokage. Mending bapaknya Shikadai aja yang jadi Hokage. Bapaknya Shikadai itu kan orangnya bisa multitasking, kerjanya kerja nyata, kerja cerdas, bersih, jujur, dan amanah lho..." kata Temari

"Enak aja! Ya suamiku lah yang lebih pantas! Keamanan desa terjamin, fasilitas kesehatan dan pendidikan gratis, dapat BLT setiap bulan tanpa putus, tunjangan Veteran Shinobi diberikan tepat sasaran, lapangan kerja terbuka luas.." Sakura tidak mau kalah

"Lho emang beneran Nara-sama dan Uchiha-sama mau mencalonkan diri jadi Hokage selanjutnya?" Tanya bapak itu

"Belum sih sebenernya. Cuman ya, saya tuh seneng kalau suami saya mencalonkan diri jadi Hokage, trus anda-anda semua ini jadi tim suksesnya Shikamaru gitu..." Temari memamerkan cincin nikahnya yang harganya tergolong mahal.

"Hiiihh.. jangan mimpi! Saya ya juga seneng kok kalau Temari dan bapak ini jadi tim suksesnya Sasuke-kun untuk maju jadi Hokage selanjutnya..." Sakura juga tak mau kalah memamerkan sepasang gelang peraknya yang harganya juga tak kalah mahal dari cincin nikahnya Temari.

"Tapi ya ibu-ibu, seandainya kalau Godaime Mizukage datang ke Konoha trus tiba-tiba dia dipilih menjabat jadi Hokage selanjutnya gimana ya?" Tanya bapak pendayung perahu itu.

"Ih.. amit-amit! Jangan lah pak! Nanti keselamatan suami-suami kita terancam! Gini ya pak, idealnya sih seorang Hokage itu yang sudah menikah dan sudah berkeluarga. Atur istri aja sukses apalagi atur negara. Iya gak bu Sakura?" Kata Temari

"Lho buktinya Hokage kedua, Hokage kelima, Hokage Keenam itu masih single kok saat menjabat. Tapi mereka sukses lho.." kata Sakura

"Itu beda bu Sakura. Buktinya waktu Hokage kedua menjabat, katanya klan Uchiha makin ngelunjak gara-gara diasingkan dari desa. Trus waktu Tsunade-sama menjabat, Akatsuki gak bisa diberesin. Harus perang dunia dulu baru bisa beres. Waktu Kakashi-sensei menjabat, banyak aja kasus teroris sampai Kakashinya sendiri keteteran." Kata Temari panjang kali lebar sama dengan luas.

"Eh iya lho.. apalagi kalau yang jadi Hokagenya Mei Terumi-sama. Duh.. ancur Konoha lama-lama..." Sakura menambahkan. Tak lama kemudian, Hinata, Ino, dan Karui selesai dari toilet.

"Ya sudah pak, kita ke perbatasan Konoha ya pak..." Kata Temari.

"Ayo ibu-ibu naik lagi..." Teriak Sakura

.

.

.

.

.

"Eh, tumben bu Temari diam. Apa jangan-jangan uang yang di kasih ke tukang perahu itu gak berkah ya? Atau informasi tentang Godaime Mizukage itu gak bener?" Cibir Sakura

"Eh enak aja! Uang amplopan itu gak ada hubungannya sama informasi itu." Sahut Temari.

"Seharian ya, Nyonya Nara ini nggosipin Godaime Mizukage terus. Kayak gak punya topik lain..." Cibir Sakura

"Lho?! Aku ini nggak nggosipin Godaime Mizukage lho. Aku ini cuma memberikan informasi yang sangat berguna supaya ibu-ibu Konoha ini waspada dari wanita perusak rumah tangga orang. Bener gak ibu-ibu?" Ibu-ibu lain mengangguk

"Hey bu Temari, jangan mudah percaya dengan informasi yang belum tentu kebenarannya. Itu namanya fitnah.." Sakura tidak mau kalah

"Eh tolong ya bu Uchiha, itu informasi itu jelas lho. Ada fotonya, ada akun sosmednya, statusnya ada yang paling terbaru. Kurang benar apa coba?! Makanya kalau punya hp jangan cuma dipake untuk mejeng sama belanja online doang. Pakailah juga untuk mencari informasi yang berguna.." Temari sewot.

"Tapi ya kalau menyebar berita tanpa bukti itu ya namanya fitnah Nyonya Nara!" Sakura tidak terima

"Sekarang ya, bu Karui aku mau tanya: Kalau misalnya menyebarkan informasi yang sudah ada buktinya demi keselamatan kita bersama, apa itu namanya fitnah? Apa aku ini salah? Enggak kan?" Tanya Temari

"Nggak kok." Kata Karui

"Justru berita seperti itu harus makin digemborkan bu Temari. Supaya kita sebagai isteri meningkatkan pengawasan pada suami." Ino menyemangati Temari

"Tuh, pinter itu bu Ino. Nah kan, nyonya Uchiha, yang saya bilang ini bukan fitnah lho. Informasinya jelas banget. Foto, status, video story, sosmednya dia. Bisa lho dilacak kebenarannya. Ya gak bu Ino? Anda kan mengerti cara membedakan informasi asli dan palsu via digital kan?" Ino menangguk

"Nyonya Nara, hati-hati lho fitnah itu lebih kejam daripada pembunuhan." Sahut Sakura

"Oh iya, anda kan muridnya Rokudaime Hokage. Makanya anda membela dia.." Temari sinis

"Sekarang ya saya tanya: Kalau misalnya Shikamaru digosipin gak bener, apa anda tidak marah?"

"Heh?! Ngapain bawa-bawa suami saya?! Bapaknya Shikadai itu kalau cari uang bersih dan halal. Kerjanya nyata, cerdas, bersih, jujur, dan amanah. Saya sebagai istrinya tahu kok. Mentang-mentang suami anda itu seringnya jalan-jalan bertemu dengan Ninja Buronan, trus jangan-jangan suami anda itu diam-diam sekongkolan sama Ninja Buronan biar bisa balik jadi ninja buronan lagi?!" Temari sewot

"Eh bu, punya mulut dijaga ya! Kalau otak anda gak korslet, suami saya itu misinya nyari dewa-dewi Ootsutsuki yang besemayam di Bulan lho..." Sakura sewot.

Tanpa mereka sadari, ibu-ibu bersembunyi dari tim patroli Konoha karena untuk masuk melewati perbatasan itu, mereka harus ada surat misi atau surat kunjungan. Sedangkan ibu-ibu ini tidak punya surat sama sekali. Temari dan Sakura terus berdebat meskipun sudah di kode ibu-ibu lain untuk bersmebunyi. Tiba-tiba perahunya berhenti di tengah-tengah air karena dicegat tim patroli Konoha...

.

.

"Aduhhhh kok pake acara berhenti lagi sih?! Pak, ini kenapa kok berhenti?!" Temari sewot.

"Tuh kan, gara-gara Temari kasih uang amplopan gak berkah plus terus nggosipin Godaime Mizukage-sama perahu ini jadi kena tilang petugas patroli.." cibir Sakura

.

.

.

"Bapak ini kan sudah tahu peraturannya kalau perahu nelayan tidak boleh memasuki kawasan ini. Hanya perahu yang sudah mengantongi surat kunjungan atau surat misi saja yang boleh lewat. Dan ibu-ibu ini kan juga tidak punya surat misi atau surat kunjungan. Jadi dengan terpaksa anda saya tilang ya..." Kata Aoba selaku petugas Patroli Konoha.

"Aoba-san, kita ini mau pulang ke Konoha habis liburan. Kita ini pengen cepet ketemu suami dan anak sebelum mereka bikin kekacauan yang lebih parah karena ditinggal istri terlalu lama. Tolong empatinya dipakai ya pak..." Sahut Temari

"Ini keadaan darurat lho, Aoba-san. Kita ini mau cepet-cepet pengen ketemu suami dan anak.." sahut Sakura

"Iya pak, tolong empatinya dipakai!" Sahut Karui diikuti ibu-ibu lain.

"Apa mau saya teleponkan suami saya yang ANBU bintang lima dijejer, hah?!" Sahut Ino

"Gak usah. Mending suami saya aja yang penasihat Hokage." Sahut Temari

"Gak usah bu Temari. Mending telepon suaminya bu Sakura aja. Biar langsung disusul pake Rinnegan, terus sekalian di amaterasu ini bapak petugasnya. Atau telepon pak Nanadaime Hokage biar dia kesini bawa katak Kuchiyose sekampung plus bawa dua ekor Bijuu kesini. Biar cepet diberesin ini bapak petugasnya..." Sahut Karui. Aoba begidik ngeri. Sakura dan Hinata mengangguk.

"Tidak bisa ibu-ibu. Peraturan tetap peraturan.." Aoba mencoba tenang

"Pokonya kami mau lewat pak! Titik. Kami mau cepat-cepat menemui suami dan anak-anak supaya kita bisa tahu keadaan suami dan anak-anak kita. Apa perlu saya telepon Naruto-kun supaya diijinkan untuk lewat disini?!" Hinata yang sedari tadi diam saja akhirnya teriak juga plus memasang Byakugannya.

"Iya bu Hinata. Cepetan ditelepon Baka-Naruto. Biar dia cepet kesini..." Sahut Sakura

"Pak, tolong dipake empatinya ya pak! Pokoknya kami pengen lewat biar cepet sampe rumah terus cepet ketemu suami dan anak. Titik! Tolong empatinya dipakai pak! Empatinya dipakai pak!" Teriak Karui diikuti ibu-ibu yang lain

"Aduuhhh geregetan aku! Ayo ibu-ibu turun! Kita keluarkan kekuatan kita! Heran, petugas patrolinya ini kok ribet aja. Pengen kulempar ke Suna dia ini biar dikubur hidup-hidup sama Gaara.." Temari turun dari perahu dan mengeluarkan kipas besarnya diikuti ibu-ibu yang lain untuk melancarkan jutsu andalannya masing-masing..

"Eh sudah bu, tenang bu, sabar bu..." Aoba panik karena dia tahu ibu-ibu Konoha ini lebih kuat dari dia. Akhirnya, Aoba terpaksa membiarkan perahu yang membawa ibu-ibu Konoha melewati perbatasan tanpa surat ijin.

.

.

.

"Dadah Aoba-san..." Sahut ibu-ibu yang lain lalu pergi jauh meninggalkan Aoba yang babak belur di belakang.

.

.

"Lain kali kalau ada perahu atau kendaraan apapun yang membawa grup ibu-ibu Konoha, kasih lewat aja, gak usah ditilang walaupun mereka gak punya surat ijin atau surat kunjungan atau surat misi. Untung kamu gak amblas jadi bubur gara-gara mereka..." Kata Raidou yang baru datang sepeninggal ibu-ibu Konoha. Aoba mengangguk lemas.

.

.

.

.

.

Tidak lama kemudian, sampailah ibu-ibu di Konoha. Mereka sudah tidak sabar untuk bertemu suami dan anak mereka. Kira-kira gimana ya reaksi para suami dan anak-anak saat menyambut kepulangan mereka? Kita lihat di chapter berikutnya.

Trus gosipnya ibu-ibu ini kira-kira benar atau hoax ya? Percayalah tidak ada yang tahu. Bahkan Author aja gak tahu kebenarannya. Silahkan ditebak sendiri kebenarannya.

The End/To be Continued?

Author's Note:

Terinspirasi dari film pendek 'Tilik'.

Monggo di review