By : Shinkinas (dengan nama yang sama di twitter, wattpad dan ffn)
Prompt : Lemon
Rated: M, Crossdressing
Happy reading!
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
He's—ugh !
.
Jimin mematikan rokok lalu menatap Taehyung dengan tajam. Ucapan atau tepatnya permintaan Taehyung barusan membuat Jimin menajamkan pendengaran serta tatapannya pada Taehyung. "Tidak mau."
Mendengar jawab singkat Jimin membuat Taehyung mendesah frustasi lalu mencoba mendekat pada sosok sahabatnya yang tengah berkunjung di kantornya sejak setengah jam yang lalu. "Jim, serius, Go Minho tiba-tiba kecelakaan—photographer nya sudah datang dua puluh menit yang lalu."
"Lalu?"
"Lalu seperti yang kukatakan, hari ini tidak berjalan lancar—sama sekali tidak."
"Jadi aku sia-sia datang kemari?" Niat awal memang hanya mengunjungi Taehyung dan sekedar mengobrol dengan menyesap beberapa gelas minuman. Bukan justru menjadi seseorang yang kini Taehyung jadikan sebagai 'calon malaikat penolongnya'.
Taehyung melirik jam pada pergelangan tangannya lalu menatap pada Vina, sekretarisnya yang berada di sebelah meja kerja Taehyung. Menatap Taehyung dengan gugup. "Serius Jimin, susah mencari pengganti Minho saat ini terlebih—kau tahu sendiri aku bekerjasama dengan Jeon Jungkook. Aku membayar mahal dirinya untuk sekali pemotretan dan tidak mudah menggaet Jungkook asal kau tahu. Jika batal aku rugi besar."
"Ya kenapa aku?" Nada Jimin meninggi, jelas sekali jika pria itu menolak keras permintaan Taehyung.
"Jim, mencari model pria untuk pemotretan pakaian wanita itu tidak mudah. Terlebih, aku sudah melakukan kontrak dengan Min Yoongi, dia model pasangan Minho. Dan—tubuhnya kecil, maksudku seukuran dirimu. Tidak mudah menemukan pria yang memiliki tubuh yang lebih kecil dari Yoongi atau setidaknya setara—untuk hari ini."
Jimin hanya terdiam menatap Taehyung.
"Dan kalau boleh jujur, tubuhmu Jim—sintal juga dan wajahmu itu cantik." Cicit Taehyung mengatami seluruh tubuh Jimin.
"Keparat selama ini kau nafsu denganku ?"
Taehyung menggeleng panik lalu mendesah panjang. "Mana mungkin. Doyan saja tidak." Mata Jimin masih menyipit tak minat. Lalu terdengar suara decakan dari mulut Taehyung. "Oke, Chae Yorin untukmu malam ini, juga.." rasanya begitu berat bagi Taehyung untuk melanjutkan kalimatnya. "Action figuranku, untukmu." Jimin menaikkan alis, sebuah figuran limited edition yang selama ini Jimin dan Taehyung perebutkan dan berhasil Taehyung dapatkan, akan jadi miliknya?
Jimin berdeham mengosongkan tenggorokannya lalu menatap Taehyung. "Kenapa tidak Yoongi- Yoongi itu saja yang jadi model wanitanya?"
"Sudah perjanjian dia jadi model pakaian prianya. Bagaimana deal?"
Jimin sempat terdiam lalu mengangkat kedua alisnya. "Deal." Vina, sekretaris Taehyung ikut bernafas lega medengar jawaban Jimin dan segera mengangguk ketika Taehyung menatapnya.
"Ikut Vina Jim. Jadilah cantik hari ini, sebentar saja?" Taehyung mengedipkan sebelah matanya menggoda Jimin lalu tertawa ketika mendengar suara dengusan Jimin dan segera ikut melangkah menemui Jungkook untuk sedikit menjeda waktu menunggu Jimin melakukan make up.
.
.
.
Min Yoongi duduk sembari memainkan ponselnya, sudah lewat dari satu jam dari jam awal perjanjian pemotretan. Dan Yoongi pun tak dapat, tak dapat menyalahkan siapapun saat ia tahu Minho; partner kerjanya mengalami kecelakaan dan tidak dapat melakukan pemotretan. Ia tahu bagaimana stress nya Taehyung, yang harus mencari pengganti Minho.
Tapi Yoongi tak pernah menyangka jika sosok pengganti Minho begitu cantik, dan begitu indah. Ketika sosok itu masuk menggunakan pakaian wanita dengan celana panjang yang longgar dan kaos berwarna merah dengan lobang diarea leher—Yoongi yakin itu adalah sosok pria tercantik yang pernah ia lihat. Bagaimana pria itu berjalan, mengobrol dan tertawa, semua terlihat begitu indah.
"Park Jimin." Suaranya terdengar lembut dan dalam sekaligus. Yoongi tak habis pikir, kenapa tidak sedari awal Taehyung memperkejakan Jimin sebagai modelnya—Jimin amat sangat indah. "Mohon kerjasamanya, Yoongi-ssi?"
Seolah tersihir dengan pancaran manis Park Jimin, Yoongi hanya dapat mengangguk kaku dan mulai melangkah mengikuti Jimin menuju boot pemotretan. Mata Jimin begitu indah terlebih, make up yang membalut wajah Jimin menambah kesan batapa manisnya Park Jimin dengan sesuatu yang nampak berkilau dibawah mata Jimin. Yoongi tak yakin, tapi sepertinya tak semua orang dapat menempatkan benda itu dibawah mata mereka—bagi Yoongi, Jimin amat sangat cocok dan pantas.
"Sekalipun ini pertemuan pertama kalian, aku ingin chemistry yang terjalin layaknya sepasang kekasih yang seperti seorang teman. Sosok yang begitu enak kau ajak berbicara dan bermain. Tertawa lepas bersama pasangan namun tetap tidak melunturkan kedekatan. Ini untuk pakaian ini, dan tiap pakaian akan memiliki perbedaan gaya dan intensitas. Bagaimana?"
Jimin dan Yoongi mengangguk mendengarkan arahan dari Jungkook. Dengan posisi pertama Jimin yang duduk disofa dan Yoongi yang berada di sandaran sofa, duduk mengalungkan tangannya pada Jimin. Pikir Yoongi, orang-orang yang tidak mengerti tentang jenis pemotretan ini pasti akan mengira bahwa Jimin seorang wanita.
Bergandengan tangan, kepala Jimin yang menyender pada pundaknya, saling menatap lalu tertawa, melakukan pose layaknya pasangan—menusuk pipi Jimin (terasa begitu lembut dan kenyal), tangan Jimin yang mencoba mengacak rambutnya, Yoongi yang melakukan backhug lalu tertawa bersama. Jimin cukup menyenangkan.
Lalu setiap pakaian berganti, keintiman mereka semakin terasa. Tapi seperti ada sesuatu yang lain yang dirasakan Yoongi. Ketika mereka saling berhadapan dan Jimin menatapnya begitu dalam, menempatkan tangannya pada pipi kiri Yoongi. Tatapan itu membuatnya berdebar. Lalu ketika tangan Jimin menyelinap dipunggungnya, berada dibalik kaos dan tertutup jaket, mengelus pinggulnya sensual—rasanya membuat Yoongi menahan nafas.
Atau ketika Jimin memeluknya dari belakang, dengan dagu bersandar dibahunya, lalu memiringkan kepala, seperti bibir yang tengah menyentuh lehernya, Yoongi dapat merasakan hembusan nafas hangat Jimin dan sukses membuat tubuhnya meremang bingung.
Ada saat dimana tangan mereka saling merangkul dipinggang, lalu Jimin meremas pinggulnya begitu lembut. Perutnya terasa tergelitik, dan membuat Yoongi justru merapatkan tubuhnya pada Jimin. Lalu Jungkook menyuruh agar Yoongi memangku Jimin, wajah mereka begitu dekat, bahkan hidung Jimin menempel pada hidungnya. Yoongi merasakan Jimin mengelus leher dan pipinya, badannya terasa panas dan kaku sekaligus.
Ada sesuatu lain yang membuat Yoongi tak mengerti akan dirinya dan Jimin.
.
.
Setelah melakukan sesi panas dengan Yorin—wanita yang Taehyung menangkan dari balap mobil, wanita terseksi di club xx yang biasa Taehyung dan Jimin datangi dan wanita yang sulit ditiduri siapapun itu—Jimin berjalan mendekat pada Taehyung yang tertawa dengan, tunggu?
Jeon Jungkook?
Jimin berdiri mematung dari tempatnya, Taehyung dan Jungkook berada di lantai dansa, di mana tubuh mereka saling bergerak sesuai irama musik, dan Jungkook yang terus tertawa dengan sebelah tangan pada pundak Taehyung dan kedua tangan Taehyung yang memeluk Jungkook. Jimin terkekeh hambar, lagi-lagi Taehyung menemukan mangsa baru.
Niat awal ingin mendekati Taehyung dan memamerkan bagaimana hebatnya gerumulan panasnya dengan Yorin, berakhir dengan Jimin yang hanya mendekati bar dan tertawa memamerkan pada temannya yang lain yang juga iri, bagaimana sesungguhnya kehebatan Chae Yoorin.
Seminggu kemudian Taehyung mengiriminya soft file fotonya bersama Yoongi dan meledeknya. Sial, pria itu yang memohon-mohon padanya tapi juga Taehyung yang menggodanya. Jimin, menjadi teringat akan Min Yoongi. Tubuhnya wangi, kurus, kulitnya begitu lembut, matanya kecil menggemaskan. Bagi Jimin Taehyung itu bodoh, seharusnya Taehyung memperkejakan Yoongi menjadi model pakaian wanita, karena demi Tuhan, sekalipun dengan balutan pria, Yoongi sangat cantik.
Dan Jimin tak pernah mengerti sebuah takdir—ketika hari ini ia mengingat Min Yoongi, hari ini pun ia kembali menatap wajah putih pucat pria itu. Min Yoongi tengah menatapnya, menatapnya dengan raut bingung, menatapnya tanpa berkedip dan menatapnya seolah Yoongi ingin mendekat.
Jadi Jimin yang memutuskan untuk datang.
"Min Yoongi-ssi?" Dua orang teman Yoongi menoleh berbarengan, terkesiap menatap sosok Park Jimin, berdiri menjulang di samping meja. "Benar kan?" Terlebih pria itu mengenal Yoongi, mata yang semula menatap Jimin kini beralih pada Yoongi.
"Ya. Bertemu lagi, Jimin-ssi?"
Yoongi merasakan otot-ototnya terasa kaku ketika tiba-tiba Jimin tersenyum padanya. Ia bahkan tak sadar bahwa dirinya sudah menahan nafas sedari tadi. Yoongi ingin berpaling, Yoongi ingin memutus kontak mata mereka, Yoongi ingin pergi, namun yang ia lakukan justru menatap lebih dalam pada manik Park Jimin.
"Apa aku mengganggu obrolan kalian?" Kedua teman Yoongi terus menatap Yoongi yang justru mengatupkan bibir tanpa mengatakan apapun.
"Tidak. Kami bahkan hendak pulang, Yoongi, bagaimana, mau pulang tidak?" Mendengar suara salah satu temannya seolah membuat Yoongi tersadar dan tak lagi menatap Jimin. Tiba-tiba ia menarik nafas dengan dalam lalu menggeleng.
Dan kenapa justru dirinya menggeleng?
"Kalau begitu kami duluan?—eum, kami duluan, Jimin-ssi?" Jimin tersenyum mengangguk, membiarkan kedua teman Yoongi pergi lalu menunduk menatap Yoongi yang masih terduduk. Ia menatap pada sekitar lalu tanpa aba-aba menarik tangan Yoongi.
"Katanya tidak mau pulang? Ingin kemana?"
Yoongi tak mengatakan apapun, ia terus menatap pada pergelangan tangannya yang digenggam oleh Jimin dan jalannya yang sedikit terseok. Wangi Jimin begitu menyeruak, langkahnya begitu lebar, dari samping, Yoongi terus memperhatikan Jimin.
Rambutnya ternyata pendek hitam dan lebat, terbelah menampilkan jidat, bibirnya tebal berwarna merah alami, matanya kecil namun tak selembut ketika mereka melakukan pemotretan dulu, dan lagi, tangannya begitu kuat namun terkesan lembut.
"Yoongi-ssi?"
"Ah ya?"
"Mau kemana?"
"T-tidak tahu kau yang menyeretku?"
Jimin menghentikan langkah, sedikit menyerong agar dapat menatap Yoongi. Tinggi mereka hampir sama, maka ia dapat dengan jelas menatap pada kedua manik Jimin. Begitu jernih, begitu bening dan begitu tajam namun menenangkan.
"Kau terus menatapku, tidak lelah?"
Satu yang tiba-tiba lolos dari mulut Yoongi membuat dirinya ikut mematung. "Saat bertemu kau sangat cantik Jimin-ssi, kenapa sekarang, kau nampak berbeda, aku memandangmu, sebagai pria."
.
.
.
Yoongi tak pernah menyangka ia akan melakukannya sampai sejauh ini; ia baru mengenal Jimin, ia bahkan baru mengobrol panjang dengan Jimin—tapi kini dirinya membawa Jimin masuk ke dalam rumahnya dan saling bertukar saliva?
Setelah Yoongi mengatakan hari semakin mendung dan ia memilih pulang, Jimin mengantarnya. Benar saja, ketika mereka sampai, hujan datang mengguyur begitu deras. Membuat Yoongi menyarankan agar atapnya dapat memayungi Jimin untuk beberapa saat sampai hujan mereda.
Dan Jimin menyetujuinya.
Namun ia tak pernah berfikir, ketika pintu ditutup, lalu Jimin menariknya ke dalam ciuman tiba-tiba, Yoongi membalasnya.
Yoongi merasa hanyut, kakinya melemah tanpa ia sadari, membuat Jimin melingkarkan tangan pada pinggang lalu membawanya ke sofa panjang berwarna putih milik Yoongi. Mendudukan Yoongi di atas pangkuannya dan masih mengalungkan sebelah tangannya pada pinggang Yoongi.
"Hey Yoongi-ssi."
"H-mm?"
Jimin menjauhkan wajahnya, tangannya terangkat naik mengelus bibir basah Yoongi lalu menatap Yoongi penuh. "Kau ingin sampai sini—atau lebih jauh lagi?"
Jimin memang tidak mengatakan secara spesifik dan mungkin jika bukan dalam keadaan seperti ini ia tak akan mengerti perkataan Jimin. Namun Yoongi amat sangat paham. Untuk sesaat Yoongi terdiam, merasakan jemari Jimin mengelus pipinya lembut.
"Kau?" Justru Yoongi balik bertanya membuat Jimin mengangkat kedua alisnya. "Ingin.. lanjut?"
Jimin mengangkat kedua bahunya santai. "Terserahmu. Kalau aku jelas, mau. Tapi aku tak ingin memaksa. Ngomong-ngomong, bulu matamu sangat indah, Yoongi-ssi."
"Kau tengah menggodaku?" Jimin terkekeh, sedikit menunduk membuat Yoongi dapat merasakan langsung rambut Jimin yang mengenai wajahnya. Kekehan itu—berbeda jauh dari apa yang pernah ia dengar saat pemotretan.
Oh tunggu—Jimin berbeda jauh dari saat mereka pertama kali bertemu. Yoongi mengerjapkan mata ketika ia menyadari bagaimana Jimin saat ini yang tengah memangkunya.
"A-aku punya pelumas dan kondom."
Untuk kedua kalinya Yoongi terjatuh pada pesona Jimin, kini pada Jimin yang lain, Jimin yang terlihat berbeda, Jimin yang terlihat bahkan bisa meremukkannya saat ini juga.
"Okay." Jimin tersenyum manis lalu mengecup sudut bibirnya. "Ingin di sini atau kamar?"
"Kamar? Sofa terlalu sempit."
"Baiklah kau tunjukkan di mana kamarmu—" Yoongi terkesiap ketika tanpa aba-aba Jimin justru menempatkan kedua tangan pada pantatnya lalu berjalan dengan menggendong Yoongi. Jimin yang terlihat kecil, Jimin yang terlihat lembut nyatanya bahkan dapat mengangkat Yoongi dari posisi duduk?
Dan entah apa yang mendorong Yoongi, tangannya menangkup pipi Jimin lalu memagut bibir tebal pria yang tengah menggendongnya. Menyalurkan kembali percikan-percikan api panas yang sempat teredam. Dengan Jimin yang menggendongnya, bercumbu panas lalu Yoongi membuka pintu tanpa menolehkan kepala ke belakang, membuat Yoongi merasa tersipu.
"Untuk hal seperti ini—mari kita hilangkan keformalan kita, bagaimana Yoongi?"
Yoongi menggigit bibir bawahnya lalu mengangguk kecil. Menyeret tubuhnya untuk membawakan Jimin kondom dan pelumas. Ketika ia hanya duduk dan setengah berbaring, menyaksikan Jimin yang dengan gerakan perlahan membuka baju, sontak membuat pipi Yoongi memanas.
"J-jimin, terlihat berbeda."
"Berbeda bagaimana?"
"Seperti yang kukatakan tadi—kau terlihat sangat maskulin saat ini."
Jimin justru tertawa dan membuang kaos hitamnya. "Aku memang seperti ini. Kenapa? Apa jantungmu berdebar karena penampilanku saat ini?" Tanpa diduga Yoongi justru mengangguk lugu.
Bagaimana tidak? Jimin yang berdiri di depannya, tubuh atasnya terekspos sempurna, perutnya yang terbentuk dan dadanya yang bidang, total membuat Yoongi merasa gugup. Ia dapat melihat bagaimana lengan-lengan itu terlihat begitu kekar, rahang yang tercetak tajam dan mata yang memandangnya penuh gairah.
"Bagian mana yang kau sukai?"
"Y-ya?"
Ada kekehan kecil keluar dari mulut Jimin. "Aku sedari tadi membiarkanmu menatap tubuhku. Jadi katakan, bagian mana yang kau sukai."
Yoongi menelan ludahnya kaku, mulutnya terbuka hendak mengucapkan sesuatu sebelum Jimin tiba-tiba memajukan tubuh dan mengukung Yoongi. "Jawab dengan sentuhanmu. Sentuh bagian mana yang kau suka, Yoongi."
Dengan tangan gemetar Yoongi mengelus pelan area bawah leher Jimin lalu bergerak sensual pada bahu Jimin. Membuat Jimin mendesis lirih dan memejamkan matanya sejenak. "Ciumlah, nikmati sesukamu." Yoongi tak mungkin menyia-nyiakannya, mulutnya bergerilya dengan agresif mencium leher bawah Jimin.
Tubuh Jimin terasa panas, wangi Jimin tercium kuat membuat sesuatu di bawah miliknya terasa begitu sesak. "Kau.. ternyata sepenurut dan seagresif ini hm?" Yoongi memundurkan wajah lalu menunduk malu. "Aku menyukainya."
Yoongi tak dapat menjawab, ia hanya menggigit bibir bawahnya saat Jimin yang terus menatapnya kini tengah membuka kancing celana jeansnya. Bahkan Jimin tak memerlukan dua tangan untuk membuka celana Yoongi, tangan kirinya sibuk melepas celananya dan tangan kanannya berperan menopang tubuh Jimin.
Yoongi berani bersumpah Jimin sangat sexy saat ini.
"Jimin?"
"Ya?"
Yoongi harus meraup nafas dalam ketika Jimin dengan luwesnya memompa miliknya yang sudah berdiri tegak menjulang. Kedua kakinya yang polos saling bergesekan saat Yoongi merasa begitu geli, begitu nikmat dan begitu mabuk karena tangan Jimin.
"Sepertinya hujan tidak akan reda."
Jimin menarik sudut bibirnya tersenyum lalu mengangguk. "Kalau begitu aku akan bertahan disini lama."
Ini bukan sesuatu baru bagi Yoongi, tapi rasanya ini sebuah pengalaman lain untuknya. Rasanya begitu berbeda, panasnya begitu berbeda, gairahnya begitu berbeda.
Terlebih ketika Jimin tanpa belas kasih memompa miliknya dengan begitu cepat sembari mencumbu rakus bibirnya, tangannya melingkar pada leher Jimin dengan kuat, mendekatkan tubuh Jimin padanya. Membuatnya terasa begitu lemah—terlebih ketika sesuatu darinya keluar namun bibirnya masih tertahan dalam cumbuan Jimin. Yoongi mendesah tepat di depan mulut Jimin.
Masih dengan pakaian atasnya, Jimin menarik Yoongi untuk menungging lalu melepas celana yang sedari tadi masih bertengger manis di tubuh Jimin. Rasanya Yoongi semakin begitu mendamba kala ia berhasil membuat Jimin mendesahkan namanya ketika ia mengulum milik Jimin penuh.
Yoongi menyukai ketika ia merasakan kerasnya milik Jimin di dalam mulutnya dan Jimin yang meremas kencang kedua bongkahan pantatnya, menamparnya sesekali lalu mengelusnya dengan kasar. Yoongi selalu menyukai apa yang Jimin berikan padanya.
Tubuhnya sudah basah bahkan ia belum melakukan permainan inti—Yoongi sudah membara dari awal permainan. Menggigit bibirnya sensual ketika kedua jari Jimin memporak-porandakan lubangnya yang ketat. Memijit lubangnya hingga membuat Yoongi yang duduk dipangkuannya selalu bergerak gelisah.
Pakainnya sudah tanggal tanpa sisa, menjambak rambut Jimin begitu kencang sekaligus mendorong kuat kepala pria itu agar terus mengulum dada kirinya. "Ngh—Jimin, k-kau." Yoongi tak dapat menyelesaikan kalimatnya. Karena kini Jimin menggigit lalu menjilat memutar pada pucuk dadanya, membuatnya mendongak menahan nafas.
Yoongi menyukai ketika Jimin mencumbu dalam kedua dadanya namun masih bermain begitu luwes dengan kedua pantatnya—Jimin begitu handal memanjakannya. Ia menyukai ketika seluruh tubuhnya terjamah oleh tangan panas Jimin.
"Yoon, bagaimana bisa secantik ini hm? Berbaringlah untukku."
Yoongi menurut, bahkan membuka kedua kakinya lebar-lebar. Dengan tangan yang sibuk memasang kondom dan menuang pelumas, mata Jimin tak pernah lepas dari Yoongi. Bagaimana pria kecil itu berbaring dengan lemah, tubuh putihnya terbalut tanda yang ia bubuhkan dengan apik, matanya yang sayu dan bibirnya yang terbuka meraup nafas.
"Bagaimana bisa kau terlihat lugu dan bergairah sekaligus? Kau begitu pintar menggodaku juga membuatku begitu luluh."
Kedua tangan Yoongi mencengkram erat bantal yang menyangga kepalanya, mengerang penuh nikmat ketika Jimin masuk memenuhinya. Entah berapa kali Yoongi mendesahkan nama Jimin dengan kotor. Tangannya tak tinggal diam, menyisakan beberapa bekas cakaran pada punggung Jimin.
Jimin sangat menyukai Yoongi duduk dan bermain di atasnya, matanya terpejam penuh nikmat, tubuhnya naik—turun dengan cepat dan bibirnya yang terbuka mendesahkan namanya. Atau saat Yoongi juga memasukkan dua jari ke dalam mulut ketika menungganginya. Lelehan saliva pada tangan Yoongi urat Jimin mengencang.
Min Yoongi sangat indah.
.
.
Apa yang Jimin ucapkan benar, Jimin berteduh begitu lama di bawah atap rumah Yoongi. Kini pria itu tengah terlelap dengan damai sembari merengkuh tubuhnya. Permainan mereka begitu hebat dan Yoongi yakin ia tak akan pernah menyesali ini.
Pagi hari dengan posisi yang sama, keadaan ranjang yang masih sama berantaknya juga dengan tubuh yang masih menempel lekat, Yoongi membuka matanya perlahan. Pemandangan pertama yang ia lihat adalah bibir dan hidung Jimin, nafas hangatnya menerpa wajahnya.
Dengan perlahan Yoongi menarik diri, menjauhkan tubuhnya dari dekapan Jimin. Rasanya ia sudah mematahkan beberapa tulangnya bahkan ketika ia berdiri di depan cermin besarnya, ia dapat melihat bagaimana kedua bokongnya yang memerah, penuh bekas tamparan. Kedua dadanya yang juga memerah, juga beberapa tanda merah dan ungu yang melingkupi seluruh tubuhnya—baik di leher, dada, perut bahkan pinggulnya.
Yoongi merona menyaksikan tubuh polosnya saat ini. kepalanya menoleh pada Jimin yang masih tertidur. Pria yang masih berada dalam alam mimpi itu telah menghancurkan tubuhnya dalam artian lain— ia menyerahkan tubuhnya suka rela.
Setelah memakai kaos putih besarnya dan memakai celana pendek asal dan telah menyegarkan kembali tubuhnya, Yoongi berkutat pada meja dapurnya. Berniat membuat sarapan dan dua cangkir kopi untuk dirinya dan Jimin.
Mungkinkah setelah ini Jimin akan pergi? Atau pria itu mau sekedar duduk dan menyesap kopi panasnya atau jika Yoongi ingin lebih, ia ingin Jimin dapat duduk lebih lama dan saling bertukar obrolan pagi dengannya.
"Kau sedang apa?" Yoongi terlonjak kaget, berbalik badan dan mendapati Jimin yang duduk di kursi makan—tanpa mengenakan kaos.
"Ah, membuat sarapan. Kau mau?" Jimin hanya mengangguk asal lalu sibuk dengan ponselnya. "Eum.. kopi?" Jimin kembali mengangguk tanpa menatapnya.
Yoongi memilih berbalik badan dan berhadapan pada kompornya lagi. Jimin kembali terlihat berbeda. Apa setiap harinya Jimin akan berbeda? Atau.. mungkin kenangan semalam tidak ada artinya bagi Jimin?
Dengan diam Yoongi menyajikan sarapan dan secangkir kopi untuk Jimin. Pria itu hanya mengucapkan terima kasih dengan pelan, lalu sibuk memakan sarapannya dan menghabiskan kopi tanpa mengajak Yoongi mengobrol.
Yoongi bahkan tak berani menatap Jimin—ia tak ingin berharap lebih.
"A-aku akan mencuci piring."
"Biar aku saja." Jimin mencekal tangan Yoongi, mematikan ponselnya lalu berdiri membawa piringnya beserta piring Yoongi. Yoongi memilih berdiri di samping Jimin, bertugas mengeringkan piring, sedikit melirik pada tubuh Jimin. Ia sempat menyentuhnya semalam.
"Eum.. masih gerimis." Jimin hanya mengangguk. Dadanya berdenyut nyeri—benar, seharusnya Yoongi tak meninggalkan apapun pada kenangan semalam. "Kau mau langsung pulang?"
"Masih gerimis."
Yoongi menoleh cepat. Ia tak menyangka Jimin akan menjawab seperti itu. "M-mau mandi? Aku ada sikat gigi dan handuk kering."
"Oh ada lemon. Boleh aku memakannya?" Jimin tak mengindahkan pertanyaannya, perhatiannya justru tertuju pada lemon yang tergeletak tak jauh darinya. "Aku lebih suka dimakan secara langsung, kau suka lemon?" Yoongi hanya menggeleng kecil.
Oke, dadanya benar-benar terasa sakit tapi ia tak mengerti alasan pastinya. Yoongi seharusnya memang tak mengharapkan apapun. Ia membiarkan Jimin dengan lemonnya dan memilih menunduk meredakan rasa sakit di seluruh tubuh termasuk hatinya.
"Kau benar-benar tidak mau?"
"Oh tid—" Jimin tiba-tiba menarik pinggulnya mendekat lalu mencumbu bibirnya. Meninggalkan bekas rasa lemon pada mulut Yoongi.
Jimin terkekeh. "Bagaimana rasanya?"
Pipi Yoongi merona. "M-masam." Dan Jimin tertawa hingga kepalanya mendongak.
"Mau mencobanya lagi?" Anggukan Yoongi membuat Jimin kembali menyatukan kembali bibir mereka, menjadikan pagi mereka yang dingin karena rintikan hujan terasa lebih hangat. Yoongi tidak menyukai lemon—namun ketika ia mencicipinya dari mulut Jimin, Yoongi menyukainya. Rasa asam yang semula membuatnya bergidik, justru mampu membuatnya terasa begitu segar dan ingin merasakan lebih.
Jika Jimin menyukai lemon—maka Yoongi menyukai Jimin yang menyukai lemon.
"Ayo mandi."
"Ayo?"
"Kau tadi bilang mandi kan?"
"Y-ya.. akan kusiapkan—"
"Mandi bersama, aku perlu seseorang untuk menggosok punggungku, Yoongi." Jimin mengedipkan sebelah matanya lalu mengecup sudut bibir Yoongi.
Yoongi pikir tidak ada yang berubah, nyatanya sesuatu terasa berbeda. Kini ia tengah terbaring dan Jimin yang menyender pada dadanya, menghabiskan pagi menonton serial drama paginya, saling berbagi cemilan rasa kentang dan tak lupa saling bertukar saliva hingga Yoongi tak dapat menghitung berapa kali mereka berciuman pagi ini.
Yoongi ingin Jimin tinggal lebih lama namun sore itu Jimin harus pulang dengan alasan banyaknya beberapa berkas yang harus Jimin urus sebelum meeting esok hari. "Kau akan ke kantor Taehyung besok?" Yoongi mengangguk sembari melangkah mengantar Jimin. "Selesai jam berapa?"
"Empat mungkin."
"Okay. Jam empat tunggu aku, aku akan menjemputmu. Berikan nomormu padaku."
.
.
.
Tadi salah satu karyawan di kantor Taehyung memberinya majalah di mana terdapat foto wajahnya bersama Jimin di beberapa halaman. Bibirnya tanpa sadar tertarik dan tersenyum, dirinya yang tengah berdiri sementara Jimin duduk di sebelahnya dengan kaki yang terbalut high heels juga rambut panjangnya yang jatuh melebihi bahu.
Jimin terlihat begitu lembut, terlihat begitu menggemaskan—namun kejadian malam itu membuat Yoongi tiba-tiba mengerjapkan mata dan menggeleng kuat.
Jimin sangat berbeda.
Ia ingat bagaimana Jimin mengunci kedua tangannya di atas kepala, ia ingat bagaimana Jimin membuat kedua bokongnya merah, ia ingat bagaimana lidah Jimin begitu jahil memainkan tubuhnya.
Tidak ada kelembutan malam itu.
Tapi Jimin memang lembut. Dadanya berdetak kencang ketika mengingat saat mereka mandi, Jimin merangkul lembut pinggul dan menggosokkan busa pada tubuhnya. Ia juga ingat bagaimana Jimin yang terus mengecupi lehernya ketika mereka menonton film bersama.
Dan sapaan lembut lewat pesan yang Jimin kirimkan tiap malam atau panggilan telepon di pagi hari.
"Aku harus pulang, Heesu-ssi."
"Ya, kau boleh pulang Yoongi-ssi. Terima kasih atas kerja kerasnya, selamat beristirahat."
Yoongi mengangkat wajah lalu menyimpan ponsel pada tas hitamnya. "Ya. Terima kasih." Dengan sedikit terburu, Yoongi menekan tombol lift dengan kencang dan mengetukkan ujung sepatunya cepat.
Jimin di sana, berdiri menyender pada mobil, mengenakan jas berwarna hitam dengan kemeja putih dan tengah memainkan ponsel. Yoongi memilih berdiri beberapa saat untuk menikmati pemandangan ini.
Jimin sangat tampan, bahkan rasanya Yoongi dapat bertahan lama dengan posisi seperti ini untuk menatap Jimin.
"Kau akan terus berdiri di sana, sayang?"
Yoongi terkekeh lalu berlari menghampiri Jimin. "Ada sesuatu yang penting?"
Jimin menggeleng, mengantongi ponsel lalu menarik Yoongi mendekat. "Mencoba menghubungi Taehyung. Dia di ruangannya?"
"Aku tidak tahu. Aku jarang bertemu langsung dengannya." Jimin mengangguk lalu mengecup pipinya lembut. "Jimin, majalahnya sudah keluar."
"Bagaimana hasilnya?"
"Hasilnya sangat bagus. Kau juga terlihat cantik."
Jimin kembali mengecup pipi Yoongi. "Aku juga ingin melihatmu berpakaian seperti itu." Jemarinya mengelesu punggung Yoongi seduktif. "Meski sebenarnya tanpa mengenakan apapun kau justru terlihat begitu cantik."
Pipi Yoongi memerah. "Aku tidak bohong. Kau benar-benar indah, bahkan saat kau memasak, kau sangat indah. Saat kau mencicipi lemon dari mulutku lalu mengerutkan hidung, kau sangat menggemaskan Yoongi." Yoongi mencoba mengalihkan pemandangannya dari wajah Jimin. "Tapi bagaimana jika kau memasak tanpa mengenakan pakaian hm? Itu akan ter—"
"Jimin ! Ini masih di area kantor."
"Tapi janji dulu kau memasak tanpa mengenakan pakaian."
"Apa-apaan itu? Tidak mau."
"Aku akan menggagahimu saat kau mengaduk kare, bagaimana?" Bagaimana mungkin Yoongi justru terasa panas saat ini? "Diam artinya iya. Oke cantik, kita pulang dan masak kare."
Dan bagaimana mungkin Yoongi dapat menolaknya?
.
End
