By: Chaniethor (wp) / ScrambleggA (twt) / Scramblegg_ (ffn) / (ig)
Prompt : Pandora
Trigger Warning : Trauma, Angst, MCD. Rate : PG 13.
Happy reading!
.
.
.
.
.
.
.
.
.
BAMBOO TALK
.
"Masih ada kutukan terakhir yang terperangkap di sana."
.
Desau angin menari diantara desir yang mengalun dari pohon-pohon bambu yang berjajar rapi. Pohon-pohon bambu yang rimbun berbaris seperti dinding alam, merumpun dengan menyisakan barisan tengah tersisa sebagai jalan setapak yang layak dilalui. Park Jimin menatap sekitar. Ketika pandangannya berjumpa dengan rumah besar dengan arsitektur tradisional, langkah kakinya berhenti.
Jimin mengerjap, agaknya menyadari bahwa ia datang dari halaman belakang. Pintu depan rumah ini tampak jauh. Muka rumah yang ia temui langsung menghadap ke taman belakang. Jimin hapal dengan tipe bangunan tradisional ini. Ia pernah mempelajarinya beberapa kali di bangku sekolah tinggi.
Jimin mengitarkan pandangan. Sebuah kolam kecil berhiaskan teratai dan pancuran air dari bambu tidak jauh dari hadapannya. Ikan-ikan koi tampak berenang tanpa mempedulikannya. Akan tetapi, Jimin tetap tidak tenang rasanya. Bagaimana jika ia dikira pencuri karena masuk dari pintu belakang? Lagipula, kenapa juga halaman belakang ini tidak dipagar? Sebelum Jimin mengetahui alasannya, langkah kakinya sudah mencapai teras halaman.
Pintu-pintu ruangan sebagian tertutup. Sebagian yang lain terbuka. Jimin yakin rumah ini ada penghuninya. Terdapat meja kecil menghadap kolam dengan sebuah teko dan cangkir-cangkir yang masih rapi di tempatnya.
Jimin menoleh, mencari penghuni rumah. Entah mengapa, kerongkongannya mengering rasanya. Teko itu sepertinya juga ada isinya. Jimin hanya menduga, sebab ia belum menyentuhnya. Jimin sungkan, sebab ia belum izin pemiliknya.
Akan tetapi, Jimin tidak menemukan siapa-siapa. Tidak ada orang di sana. Jimin sudah mencari ke seluruh ruangan. Hasilnya tetap sama. Padahal dahaga sudah meneriakinya. Terpaksa, Jimin meminta minum pada pintu yang terbuka sebelum menuang secangkir air dari dalam teko untuknya.
Jimin kemudian berterima kasih pada kolam di hadapannya. Ia sungguh merasa tidak nyaman sebab berada di rumah seseorang tanpa bertemu tuan rumahnya. Jimin hanya memotivasi diri untuk memaklumi diri sendiri. Ia kepalang dahaga.
Tuk... Tuk...
Suara permainan dari bambu yang dipasang di sekitar air mancur mengetuk beberapa kali. Suara itu mengisi halaman rumah tradisional yang sepi. Ikan-ikan di kolam tidak bisa bernyanyi. Mereka hanya mahir berenang ke sana-ke mari. Mereka tidak peduli terik di kala embusan angin sejuk yang sedang terjadi. Terik ini membuat Jimin merasa enggan pergi.
Jimin masih duduk di halaman, menumpang berlindung dari terik siang hari. Angin sejuk membuatnya semakin enggan berdiri. Halaman ini rasanya nyaman sekali. Ia perhatikan detail interior dan pola arsitekturnya. Ia juga perkirakan bahan-bahan pembuat lantai, dinding, dan atapnya. Rasanya tidak ada yang begitu berbeda dari yang pernah ia pelajari, namun rumah ini seperti spesial sekali.
Belum selesai ia terpesona pada desain bangunan rumah ini, sudut mata Jimin tiba-tiba menangkap siluet dari jalan setapak yang tadi ia lewati. Jimin lekas berdiri, bersiap menyambut ketika siluet itu semakin dekat. Ia sudah bersiap menjelaskan alasan mampir sebentar ke rumah ini.
Siluet itu semakin dekat. Bayangannya semakin jelas. Seseorang dengan rambut jagung kecoklatan berjalan mendekat. Sebuah kain luaran bermotif tradisional tampak membalut kemeja kuning mustard yang senada dengan warna motifnya. Seseorang dengan kaki kecil, dengan raut wajah antara lelah, malas, dan dingin. Seseorang itu membalas tatapan Jimin, pun mendekat menghampiri.
Seseorang itu menyapa, lantas bertanya pada Jimin sebelum Jimin berhasil membalas sapaannya. Jimin hanya bisa mengerjap setelah mendengar pertanyaannya. "Apa aku boleh mampir sebentar? Aku habis dari perjalanan jauh."
"Y-ya?" Jimin tidak tahu bagaimana harus menjawabnya. Seseorang di hadapannya hanya sibuk melihat ke sekitar kolam dan teras tempatnya berada.
"Namaku Min Yoongi. Aku baru dari perjalanan agak jauh. Bisakah kamu mengizinkanku masuk? Aku tidak akan lama," ucapnya. Dia berdeham, menunjukkan kalau sesuatu tidak nyaman di sekitar tenggorokkannya. "Aku sangat haus."
Jimin sangat bingung. Apa orang ini mengira bahwa dia tuan rumahnya? Kata-kata tanya itu tak terlepas sama sekali dari ujung lidahnya. Tanpa sadar pun Jimin hanya mengangguk dan membiarkannya ikut bergabung dari kegiatan 'bersinggah'nya. Jimin dalam hati meminta maaf pada rumah yang ada di belakangnya. Seseorang tadi haus sama sepertinya tadi. Jimin rasa pemilik rumah pasti akan mengizinkannya juga.
Satu cangkir lagi pun terbuka. Jimin ikut bergabung di sebelah Yoongi, seseorang tadi, yang tengah menuang air minum dari tekonya sendiri. Jimin diam-diam mengamati, apakah Yoongi bukan orang sini? Kalau ia orang sini, ia pasti mengenali wajah pemilik rumah tradisional ini. Sudut mata Jimin menangkap bahwa pakaiannya begitu fancy untuk dikenakan seorang pengelana. Lagi-lagi, ujung lidah Jimin menelan kata tanya. Jimin baru menyadari, penampilannya sendiri juga tidak jauh berbeda. Ia juga mengenakan pakaian yang tidak serasi dengan stereotype kehidupan pengelana.
Jimin mengenakan setelan hitam formal dengan kancing terbuka. Jas hitamnya menyelimuti kemeja putih tulang sederhana. Jimin tidak memperhatikannya sebelumnya. Ia juga tidak mengerti mengapa ia mengenakannya. Mengapa juga ia harus memikirkan gaya berpakaian mereka, ia tidak mengerti hingga Yoongi membuyarkan lamunannya.
"Hei," panggilnya. Jimin menoleh, membalas Yoongi yang ternyata hanya menatap langit cerah di atas sana. Mungkin menyadari bahwa Jimin membalasnya, Yoongi kembali berbicara.
"Kamu pernah dengar soal kotak berisi kutukan yang dibawa anak dewa untuk menghukum si pencuri api?" tanyanya. Ia masih serius menatap langit di atas pelataran beberapa saat sebelum menoleh pada Jimin.
Jika dibandingkan dengan jelaga, iris matanya sama hitam. Namun demikian, begitu bersinar seperti permata. Mungkin lebih tepat disamakan dengan permata hitam. Hanya saja, Jimin belum pernah melihatnya seumur hidupnya—mungkin? Lekuk bulat sederhana yang melurus pada ukiran puncak hidungnya membuat Jimin teringat pada hewan peliharaan sepupunya. Seekor kucing, hanya saja Yoongi tidak memiliki kumis di wajahnya. Hanya mirip saja. Bentuk wajah Yoongi masih sesempurna wajah manusia. Dingin, tampan, dan manis. Cukup menarik untuk dipandang cukup lama.
"Kabarnya kotak itu pernah dibuka," ucapnya. Jimin terhenyak, sekenanya bertanya.
"Lalu?" tanya Jimin.
"Tentu saja," jawab Yoongi. Cangkir kecil yang sedari tadi dalam kuasanya ia letakkan. Tangannya kemudian bergerak menggambarkan jalan ceritanya. "Kutukannya seketika tersebar, tapi tidak semua. Masih ada kutukan terakhir yang terperangkap di sana."
Bibir manis merah muda yang tipis membuat Jimin secara sadar begitu tertarik. Gaya bicara Yoongi begitu khas. Dengan bibir tipis yang menghiasinya, Jimin tidak kuasa berpaling dari sana. Terlebih, di sela-sela cara bicaranya, barisan gigi-gigi kecil menyapa di tengah terik sang surya.
"Menurutmu, apa isi kutukan terakhirnya?" tanyanya. Jimin mengerutkan kening, menebak beberapa kemungkinan. Kematian? Kehampaan? Kemarahan? Kemiskinan? Dan beberapa hal lain Jimin ucapkan. Namun demikian, semua itu hanya Yoongi balas dengan gelengan. Senyum manis di wajahnya tidak luput dari pengamatan.
Koi-koi di kolam mulai berkeliling di bawah pancuran. Mungkin mereka menduga dua manusia yang duduk di pelataran hanya mengabaikan. Tarian cantik bawah air mereka tidak diperhatikan. Yoongi diam, masih melontarkan tanya. Jimin masih sibuk menebak jawaban. Diantara percakapan mereka terdapat angin sejuk yang mengalir. Sejuk yang membuka lembar demi lembar sebuah tabir bersama dedaunan yang berdesik.
Puas menatap Jimin yang mulai frustasi, Yoongi melepas tawa yang terakhir. Kemudian, dari mulutnya ia lontarkan satu kata yang merupakan sebuah jawaban. Ketika mendengarnya, hati Jimin seketika berdesir. Sebuah desir yang entah terasa asing dan tidak bisa ia kenali. Jimin juga tidak kenal mengapa ia berdesir.
"Park Jimin." Panggil Yoongi.
Panggilan itu seketika mengembalikan gravitasinya. Menyadari ia masih duduk di pelataran sana dan disaksikan Koi-koi dan barisan pohon bambu yang menari, Jimin menoleh pada Yoongi yang baru saja menyebut nama. Jimin seketika bagai terpusat pada aroma bunga di tengah-tengah padang ilalang. Aroma yang begitu wangi sehingga membuat penciumannya menajam padanya saja. Tidak lagi menghiraukan sejuk angin menyapu rerumputan. Hanya pada aroma itu saja. Jimin mendapati Yoongi mengubah raut wajahnya.
Apa ada yang salah dengan kutukan yang terakhir? Jimin mulanya bertanya pada benaknya. Tidak ada yang tahu isi kabar yang angin bawa. Tidak pula Jimin tahu mengapa raut wajah Yoongi berubah sedemikian rupa. Menjadi lebih familiar, lebih akrab. Jimin seperti pernah melihatnya—entah di mana.
"Kalau misal kamu sekarang memegang kotak yang dicuri itu, apa kamu bersedia melepas kutukan yang terakhir?" tanya Yoongi.
Sudut mata Jimin menangkap permata hitam itu tampak semakin berkaca-kaca. Lekuk khas ukir wajahnya pun tertuai merah yang entah dari mana. Jimin merasakan gusar mulai mengembus di sela-sela hatinya. Senyum manisnya semakin sayu terasa.
"Jimin," panggil Yoongi lagi. Gusar hati yang menyapa bermain cerdik di antara teriknya sang surya. Ketukan permainan bambu pancuran air jauh lebih lambat dari degup jantungnya. Koi-koi dalam kolam membawa tabir lama, ketika senyum yang sama memintanya pergi dari genggamannya.
"Jimin, lepaskanlah," ucapnya. Permata hitamnya berkaca-kaca. Jimin yang gusar beranjak tanpa kata. Tubuhnya bergerak cepat seolah tak rela setetes air mata terjatuh dari sana. Melihatnya demikian, senyum manis yang berubah rasa itu tertawa pelan tanpa suara. Hela napasnya berujar bahwa Jimin masih sama. Begitu penyayang, begitu perhatian. Sama.
Gemercik pancuran pada kolam itu beradu pada sayup-sayup isak dan hela napas. Tiap alunan menyibakkan satu lembar cerita. Dalam kebingungan yang melanda bersama rasa hati yang tak nyaman, Jimin menerima lembaran cerita yang tak perlu dibaca. Antara ia, hutan bambu, dan Yoongi yang sama.
"Kamu sudah menyimpannya terlalu lama," ucap Yoongi. Lelehan air mata di kedua pipi sudah hilang sebab Jimin usapi. Senyum manis itu berusaha berbuah lagi. "Hanya satu ini yang tersisa. Kamu sudah terlalu lama bersamanya. Sekarang, lepaskan saja."
Angin sejuk kembali berkelana. Desik dedaunan kembali bernyanyi bersama. Perlahan, untaian kata keluar dari senyum manisnya. "Bukankah menyusahkan terus berjalan membawa kotak tua yang menyebalkan?" tanyanya.
Jimin mengerjap, seketika ingin menolak dengan seluruh napasnya. Namun demikian, ia masih tidak mengerti mengapa. Ia hanya butuh untuk menolak, itu saja. Ia bahkan tidak mengerti untuk sekian alasan yang ia ucapkan. Nanti mereka kasihan karena harus menerima kutukan. Dewa itu hanya murka pada si pencuri. Tidak seharusnya yang lain menerima imbasnya. Bahkan alam hanya menyaksikan cerita mereka.
Namun demikian, Yoongi balas menggeleng padanya. Jemari indah pada balutan putih susu yang cerah itu naik untuk menangkup mereka—kedua pipi Jimin yang sembab tanpa disadarinya. Jemari-jemari yang menawan, namun menyejukkan. Terik di sekitar mereka laksana tidak pernah usai. Tidak peduli kebimbangan apa yang tengah menari di bawah atap pelataran rumah bergaya tradisional.
Hela napas Yoongi terdengar seperti Koi yang ingin mendaki puncak bambu pada pancuran kolamnya. Terdengar putus asa, namun senyumnya tidak sirna. "Kamu bukan pandora," ucapnya.
Bukan tugasnya untuk hidup membawa kutukan pada dunia. Bukan juga kewajibannya membawa kotak utusan dewa. Bukan pandora—dan Yoongi ingin Jimin melepaskan sisa kutukannya. Melalui senyum manisnya, Yoongi sampaikan keseriusan pada permintaannya. Jimin bisa membaca, namun terik hatinya enggan tenggelam sebelum senja.
"Tidak mau lupa—uh," kilah Jimin kesekian kalinya. Kedua tangannya merengkuh Yoongi, sementara hatinya memeluk kotak sang dewa. "Hanya ini yang tersisa, tidak mau—"
"Masih ada hatimu, Jimin," sahut Yoongi. Sejenak ia berujar sebelum menahan bibirnya yang gemetar lagi. "Jika kutukan terakhir itu lepas, hatimu tidak akan pergi."
Koi-koi yang menari mengerti jika terik siang hari ini tidak membawa ketenangan yang abadi. Kehidupan bawah air hanya bisa meraba getaran dari perdebatan dibalut isakan yang tengah terjadi antara Jimin dan Yoongi. Tidak peduli seberapa rumit perdebatan mereka, koi-koi ini hanya pilih berenang lagi.
Namun demikian, desik hutan bambu yang terbangun karena mereka mulai merasa tidak nyaman. Lembar demi lembar yang semula terbuka perlahan kini tersibak dengan cepat. Serangkaian kilatan tentang mereka mengalir bersama air mata yang berlinang. Tentang mereka, hutan bambu, dan musim dingin.
"Yoongi," panggil Jimin, nadanya terdengar frustasi. "Yoongi, kamu—"
"Aku tidak akan kembali," sahut Yoongi. Kalimat Jimin seketika tertiup terik mentari. "Karena aku tidak pernah pergi."
Jemari Yoongi masih setia menangkupnya di kedua pipi. Tidak peduli, bahwa isakan Jimin terdengar lebih pilu lagi. Senyum manisnya masih terpatri. Tidak peduli, seberapa berat Jimin menahan penyesalan yang ada di bibir. Yoongi setia mendengarkan. Seperti permainan bambu pancuran air yang setia mengetuk pelataran ketika airnya terpenuhi. Yoongi juga setia menyahuti setiap ucapan yang Jimin lontarkan.
"Seharusnya aku tidak pergi," gumam Jimin.
"Aku memaksamu pergi," sahut Yoongi.
"Seharusnya aku menolak pergi," gumam Jimin lagi.
"Sudah jelas, aku tidak akan biarkan itu terjadi," sahut Yoongi. Jimin menggeram pelan. Ribuan memori menusuknya seperti ribuan jarum. Rasa sakit yang ia terima hanya terhantar pada genggaman tangannya sendiri sembari memeluk Yoongi. "Sudah seharusnya aku pergi sendiri."
"Yoongi!" Jimin berteriak kali ini. Sesak hatinya tak bisa ia bendung lagi. Di hadapannya, Yoongi hanya tersenyum. Seperti tengah mencoba memaklumi. Jimin yang melihatnya demikian seperti tertiup angin sejuk yang masih berlari ke sana-ke mari. Bersama lembaran yang tersibak dalam memori, embusannya bercerita soal badai di suatu hari. Soal hutan bambu yang sepi. Soal pelataran tanpa ikan koi.
Desik dedaunan bermain harmoni. Kecupan singkat bertandang sebelum pergi. Koi-koi yang berenang mengikuti ketukan pada permainan air mancur mulai ikut bernyanyi. Senyum manis yang ia rindukan berujar kesekian kali.
Jangan tanyakan 'mengapa' lagi.
Jangan ucapkan 'seandainya', 'seharusnya', maupun 'jika saja'.
Sajak mereka yang berima masih merengkuh Jimin yang terisak padanya. Dengan hati yang masih memeluk kotak kutukannya, sebuah perpisahan ia terima. Sekali lagi, Yoongi merengkuhnya sembari merapal pesan terakhirnya. Sebuah pesan yang juga menjadi mantra untuk membuka kotak yang dilindungi hatinya.
"Ini sudah terlalu lama. Kamu harus membukanya. Kamu harus membiarkannya pergi," ujarnya. Nyanyian itu masih belum berhenti. "Kamu harus percaya, hatimu tidak akan pergi jika kamu melepaskannya."
"Sayangku... meskipun kamu menua, atau bertemu cerita baru—hatimu akan selalu bersamamu," ucapnya lagi. Sesak hatinya semakin menjadi.
Koi-koi di kolam mencapai klimaks nada cinta. Angin sejuk di tengah terik sang surya memetik melodinya. Harmoni seketika mengiringi Yoongi dan sajak terakhirnya. "Bersama hatimu juga, aku selalu bersamamu karena aku akan selamanya di sana. Di hatimu."
Jimin, aku mencintaimu.
Embusan angin melantunkan nada terakhir dengan sempurna. Daun-daun pohon buluh di hutan itu riuh kembali dengan desiknya. Seolah, mereka haturkan tepukan tangan meriah di penghujung opera. Bersama teriknya sang surya, koi-koi dalam kolam juga mengakhiri gerakannya sembari menarik aliran terakhir pada pancuran airnya. Oleh karenanya, tidak ada ketukan lagi yang bermain dari bilih bambunya. Tidak ada lagi pelataran yang sama.
Mantranya sudah diterima. Kotak itu kembali dibuka. Kutukan terakhir yang tersisa di sana pun menyerang alam dan pasukannya. Hutan bambu, dan segala memorinya.
.
-Bamboo TALK-
.
Menepi di desa, mengambil proyek sederhana dengan bekal ilmu arsitekturnya menjadi topik obrolan antara Jimin dan Namjoon dengan ponsel sebagai perantara. Namjoon adalah kakak sepupunya yang tinggal di Seoul, saudara yang selama ini menemaninya. Ia yang mengusulkan desa ini ketika Jimin mengusulkan rencana untuk hidup di desa.
"Ah? Kak Seokjin akan mampir ke sini dalam waktu dekat? Proyek ilmiah? Memangnya dia tidak menginap di hotel dengan timnya?" seruan Jimin diselingi tawa. "Hemat? Ckck, bukannya malah boros ya? Aku di sini tidak punya kendaraan."
Namjoon di seberang panggilannya seketika berseru juga. Ia heran mengapa Jimin meninggalkan kendaraannya dan memilih hidup begitu sederhana. Namjoon tahu Jimin menyukai alam, tapi tidak sejauh yang ia kira hingga memilih tinggal di desa dan meninggalkan kendaraan pribadinya. Jimin beralasan ingin lebih banyak berjalan seperti Namjoon dan kesehariannya. Ia berujar dengan sedikit canda. Namun demikian, Namjoon justru menyeriusinya.
"Apa kamu masih ingin mendaki ke sana?" tanya Namjoon di seberang panggilannya.
Langkah kaki Jimin melamban seketika. Embusan angin membasuh lembut kulit wajahnya. Bersamanya, bayang-bayang hutan bambu dan kolam Koi menghampirinya meski sejenak saja. Sejenak setelahnya, suara seekor hewan berbulu menariknya ke dunia nyata.
Jimin melangkah dengan cepat. Seorang pria paruh baya yang tengah mengusapi hewan itu Jimin sapa. Balasan ramah pun segera ia terima. Di seberang panggilan, Namjoon kebingungan dan beberapa kali memanggil nama.
"Halo, dokter. Itu kucing siapa?" Pria itu kemudian menoleh pada seekor kucing kecil dalam genggamannya. Usianya sekitar 1 bulan. Induknya tidak bertuan, dan baru saja meninggal karena penyakit penyerta. Jimin mendengar ceritanya hanya diam dengan ekspresi yang tidak terbaca.
"Kalau begitu, apakah saya boleh mengadopsinya?" Jimin mendengar bunyi meow kecil dari anak kucing yang kini dalam genggamannya. Bulunya putih, lebat. Matanya kehijauan. Kakinya tampak kecil. Pria tadi mengatakan kemungkinan jenis campuran dengan munchkin berkaki pendek. "Ah, tapi saya tidak punya peralatannya."
Mendengar pertanyaan Jimin, dokter tersebut kemudian menawarkan beberapa hal yang Jimin perlukan jika ingin mengadopsi anak kucing yang tengah ia usap. Jimin menimbang beberapa hal, kemudian membeli beberapa perlengkapan. Dokter itu meminjamkan Jimin sebuah tas untuk membawa si anak kucing pulang. Jimin berterima kasih dan lekas berjalan pulang.
"Jimin?" Suara di seberang panggilan mengagetkannya. Jimin baru saja sampai rumah dan baru ingat bahwa panggilan teleponnya belum diakhiri. "Apa aku tidak salah dengar? Kamu mau pelihara anak kucing?"
Jimin tertawa, "Haha, iyaa.."
Namjoon di seberang panggilan berdecak menyahutinya. "Aku tidak yakin Kak Seokjin dan adik-adikmu akan menyukainya. Oh, mau kamu namai siapa?"
Pertanyaan itu tidak lekas Jimin jawab. Tangannya sibuk mengusapi anak kucing yang tengah memulai bonding dengannya. Jimin hanya tersenyum sembari menghela napasnya. Ia sudah memberikan tempat kecil untuk tempat tinggal anak kucingnya. Ia juga sudah merapikan litter box beserta pasir ajaibnya. Ia sudah mengisi mangkuk makanan dengan makanan kucing yang baru dibelinya.
"Um.. Suga. Namanya Suga," jawab Jimin. Hela napas kini terdengar dari sudut panggilannya. Entah apa yang Namjoon pikirkan, Jimin hanya tersenyum mendengarnya. Namun demikian, sebelum Namjoon bisa mengucapkan kalimat berikutnya, Jimin terlebih dahulu menyela.
"Aku tidak ada rencana mendaki lagi," ucapnya. Jimin tersenyum pada Suga yang kini bermain dengan makanannya. "Aku akan menyerahkan sisanya pada kalian. Soal Yoongi—"
Suga berseru meow ketika Jimin mengangkatnya tinggi. Jimin membawanya kepangkuan, berniat mengusapi. Mulanya Suga menolak, namun lama-lama ia nikmati. Jimin menarik napasnya lagi.
"Aku sudah melepasnya pergi," ucapnya.
Kim Namjoon di seberang panggilan terdiam seribu bahasa. Bayangan lima tahun ke belakang melintas seperti sinema dalam layar televisi. Tidak terlewat hari dimana Jimin terjatuh dalam keputusasaan yang membuat siapapun enggan meninggalkannya pergi. Tidak lupa juga ketika Jimin tidak terkendali sebab penyesalan mengajak Yoongi—yang belum pernah mendaki untuk pergi. Meskipun tidak ada yang menyalahkan sama sekali, sebab mereka tahu persiapan yang Jimin lakukan serta latihan yang dia berikan pada Yoongi.
Yoongi adalah kekasih yang amat Jimin cintai. Lima tahun yang lalu, ia hilang dalam badai saat sedang mendaki. Jimin sempat hilang juga, namun lekas ditemukan di sore hari. Sementara itu, Yoongi masih belum ditemukan sampai saat ini. Para pencari, teman, keluarga, termasuk Namjoon sendiri sudah pasrah setelah menyadari di lokasi tersebut ada sekawanan hewan liar yang kebetulan sedang bermigrasi. Apalagi fisik Yoongi lebih lemah dari Jimin. Hanya saja, mereka semua tidak pernah sampai hati mengutarakan kemungkinan ini pada Jimin yang kian hari kian tidak terkendali.
Tangisan anak kucing sayup-sayup menyadarkan Namjoon bahwa Jimin benar-benar mengatakan akan melepaskan Yoongi. Sudut hatinya sempat gusar jika sesuatu akan terjadi. Namun kemudian, Jimin bicara bahwa dia benar-benar sudah merelakannya pergi.
"Makanya aku pindah ke sini," ucap Jimin. Tangisan Suga sudah berhenti. Jimin mengusapi dan membuatnya tenang lagi.
Jimin ingin memulai hidupnya kembali. Menikmati hari di desa, sembari melakukan apapun yang ia bisa. Jimin juga mengatakan akan membangun kuil kecil untuk Yoongi.
"Bagiku, Yoongi akan abadi di hati," gumamnya. Seolah mendengar helaan napas Namjoon yang mengkhawatirkan sesuatu terjadi jika ia sendiri, Suga mengeong pelan. Ia mengajak bermain lagi. Jimin tertawa, lantas mengerti.
"Lagipula, sekarang ada Suga di sini," ucapnya lagi. Sayup-sayup Jimin seperti mendengar desik daun pohon buluh lagi. Desik yang ini benar-benar menenangkan sekali. Seperti dalam mimpi yang terakhir kali.
"Ah, aku juga mau bangun kolam ikan Koi." Namjoon lekas menyahut, membuat Jimin tertawa lepas sekali. Mereka bisa-bisa habis dimakan Suga nanti!
Angin sejuk berembus kembali. Di antara dedaunan rimbun pedesaan, menyapa rumah nyaman yang Jimin huni. Embusannya kini membawa sajak baru lagi. Sajak dengan Suga sebagai teman baru Jimin secara resmi.
Tahun ini, Jimin bukan pandora lagi. Kotaknya sudah hilang. Seluruh kutukan telah ia lepaskan. Termasuk kutukan terakhir yang membuatnya tenggelam dalam kesedihan selama ini. Kutukan terakhir yang dulunya tersisa dalam kotak dan belum dilepas ke alam.
Kutukan terakhir itu dikenal dengan nama Harapan.
.
-Selesai-
